Dosen UMM Terbitkan Buku Tips Menulis di Jurnal

Banyak orang yang memiliki keinginan untuk membuat karya ilmiah berupa jurnal. Namun tak sedikit pula yang tidak tahu cara untuk memulainya. Berangkat dari hal itu, Sholahuddin Al-Fatih, SH., MH., dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhirnya menyusun buku panduan penulisan jurnal. Adapun buku tersebut berjudul “Menulis Artikel Karya Ilmiah Hukum di Jurnal Nasional dan Internasional Berprestasi”. Saat ditemui, Fatih, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa buku tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama Dr. H. Ahmad Siboy. SH., MH. dosen  Universitas Islam Malang (Unisma). Adapun karya tersebut telah di terbitkan pada bulan Maret lalu melalui Inteligensia Media. Fatih kembali bercerita bahwa pengalamannya menjadi pengelolah dan reviewer jurnal membuatnya paham akan kesulitan orang-orang baru yang ingin mengirimkan jurnal.Tidak jarang, sebagian kalangan akademisi juga belum mengetahui alur penulisannya dengan baik. “Animo masyarakat dalam menulis jurnal sebenarnya besar, namun mereka tidak tahu bagaimana langkah-langkahnya. Mulai penulisan sampai jurnal itu diterbitkan. Akhirnya saya mengajak Pak Ahmad yang juga pengelola jurnal untuk berkolaborasi membuat buku,” kata dosen kelahiran Gresik ini. Buku yang memiliki halaman sebanyak 120 ini secara umum membahas tips dan trik terkait penulisan jurnal dari awal hingga terbit. Dalam prosesnya, Fatih dan Ahmad melakukan pembagian tugas yang spesifik. Di samping itu, buku yang mereka tulis ini menjadi salah satu langkah untuk mengubah persepsi masyarakat tentang Mumammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama (NU) yang tidak akur. “Secara mazhab beragama saya dan Ahmad mungkin berbeda, namun hal tersebut tak membuat kami berbeda di bidang kepenulisan. Dalam penulisan buku ini kami memiliki tugas masing-masing. Kalau Ahmad berfokus pada mengumpulkan lampiran-lampiran dan distribusi, fokus saya lebih ke tips dan trik,” kata dosen yang hobi menulis tersebut. Fatih kembali menuturkan bahwa nantinya ketika muncul cetakan baru, dirinya dan Ahmad akan memperbarui isi buku. Hal ini dilakukan karena sistem dalam jurnal selalu berubah-ubah. Ia juga mengatakan bahwa pihak penerbit akan melangsungkan agenda bedah buku serta workshop dalam waktu dekat. “Saya sangat berharap buku ini bisa membantu para pembaca untuk mulai menulis jurnal. Selain itu dapat menjadi pemacu lahirnya karya-karya ilmiah lain yang berkualitas. Untuk kedepannya, saya tentu berharap kolaborasi antara Muhammadiyah dan NU bisa terus terjalin dengan baik dalam segala aspek,” tandasnya. (syi/wil)

Kajian Ramadan UMM Bahas Misi Pencerahan Kemanusian

Agenda rutin tahunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali digelar. Sama seperti tahun lalu, UMM melangsungkan kajian Ramadan bagi seluruh karyawan dan dosen. Agenda ini digelar secara luring bertempat di Dome serta daring melalui kanal Youtube UMM pada Selasa (20/4). Adapun Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah didapuk sebagai pemateri dan menjelaskan terkait Muhammadiyah dan Misi Pencerahan Kemanusiaan. Mengawali sambutan, Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menerangkan bahwa tema kajian merupakan bentuk semangat dari jargon UMM “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”.  Selain itu juga untuk mempertegas fungsi kehidupan kampus bagi kemaslahatan masyarakat. “Tema ini juga menjadi salah satu langkah menegakkan kembali bahwa hidup haruslah mencerahkan, baik secara personal maupun institusional,” terangnya. Fauzan kembali melanjutkan bahwa tema yang diusung berangkat dari salah satu ayat Al-Quran yang mengajak untuk mengeluarkan dan mengentaskan diri dari kegelapan menuju ke arah yang lebih cerah. “Tentu saja saya berharap agar tema ini tidak hanya menjadi tema kajian pada hari ini saja. Tapi juga bisa menjadi tema kehidupan bapak dan ibu sekalian,” pesannya. Dalam kesempatan yang sama, Haedar, panggilan akarabnya memulai paparan kajian dengan memberi selamat kepada UMM. Hal itu tidak lepas dari capaian UMM yang ditetapkan menjadi Top Islamic University di dunia. “Ini adalah hasil dan bukti kerja keras yang mencerahkan dari seluruh keluarga besar UMM,” ungkapnya. Haedar juga menerangkan bahwa kata “pencerahan” sudah dipopulerkan sejak tahun 2000-an. Kata ini dinisbahkan pada pergerakan Muhammadiyah generasi awal, utamanya saat Ahmad Dahlan baru saja mendirikan organisasi Muhammadiyah. Selain itu juga menjadi mata rantai penghubung kepada risalah Rasulullah SAW. Adapun kata pencerahan atau tanwir dalam bahasa arab diambil dari kata nur. Ia kembali menjelaskan bahwa dalam kamus Munjid, nur memiliki tiga arti. Pertama, nur diartikan sebagai cahaya yang menerangi. Kemudian juga bisa dipahami sebagai naara atau api dan panas. Istilah ketiga merujuk ke kata arr’yu yang berarti akal pikiran. Haedar juga sempat menyebut  salah satu contoh gerakan pencerahan yang terjadi di masa lalu. Rasulullah lahir dan hadir di tengah sistem masyarakat jahiliyan dan bodoh. Kemudian Islam hadir dan mencerahkan dengan ajaran-ajarannya. Dalam tempo 23 tahun, Islam mampu mengubah bangsa arab yang dulunya dikenal dengan kejahiliyahannya menjadi pemegang kunci peradaban kemajuan umat manusia. “Bahkan bisa bertahan hingga kurang lebih 7 abad lamanya,” tegasnya. Di tengah paparan, ia juga sempat mengutip perkataan pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Manusia dalam beragama harus memiliki lima hal. Dimulai dengan perlunya wajibnya beragama. Kemudian, kutipan Ahmad Dahlan juga menjelaskan bahwa pada mulany agama itu bercahaya, namun lama kelamaan berubah menjadi suram karena manusia yang salah menggunakannya. Ketiga, manusia juga harus menuntut dari syarat yang sah dan pikiran yang suci. “Mencari tambahan pengetahuan juga menjadi aspek penting. Hingga yang terakhir yaitu menjalankan pengetahuan yang utama,” tuturnya. Tak lupa, Haedar juga memberi pesan pencerahan bagi para peserta yang hadir. Menurutnya, pikiran yang mencerahkan haruslah dimiliki setiap insan. Hal itu bisa menjadi kekuatan utama, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat secara luas. Selain itu, gerakan pecnerahan harus terwujud dalam gerakan keilmuan. Tidak hanya diwakili oleh banyaknya perguruan tinggi, tapi juga tingkat keilmuan yang hadir di tengah masyarakat. Lebih lanjut, Ketua Umum PP. Muhammadiyah ini juga menekankan bahwa gerakan ini harus melahirkan gerakan yang moderat dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Warga Muhammadiyah harus membawa kemaslahatan bagi umat. Bukan malah sebaliknya, memberikan masalah yang tak kunjung usai. “Pencerahan yang dilakukan seyogyanya juga melahirkan rahmatan lilalamin, rahmat bagi alam semesta,” pungkasnya di akhir materi. Adapun agenda ini merupakan rangkaian panjang kegiatan Ramadan UMM. Selain kajian tematik, akan ada tadarus Ramadan, baitul arqam hingga safari ramadan. Di samping itu, adapula gelaran dialog lintas generasi, bakti sosial, hingga kajian ramadan mahasiswa. Rangkaian tersebut akan dilangsungkan hingga 30 hari ke depan. (*)

Taekwondo UMM Borong Medali di Kompetisi Internasional

Nama Universitas Muhammadiyah malang (UMM) kembali harum. Kali ini giliran tim Taekwondo yang berhasil memborong juara di Kejuaran Online Indonesia International Biho President Cup 2021. Delegasi UMM berhasil menyabet satu medali emas, satu perak, dan lima medali perunggu di berbagai kategori dalam lomba yang dilaksanakan oleh Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia Sumatera Utara. Adapun kompetisi yang dilaksanakan secara daring pada 7,10 dan 11 tersebut diikuti sebanyak 1.568 atlet yang berasal dari 13 negara. Sintia Rahmah, salah satu atlet UMM yang meraih emas menuturkan bahwa pandemi yang datang awal tahun lalu membuat latihan dan kompetisi yang tersedia berubah. Dulu, kebanyakan lomba taekwondo dilaksanakan secara luring. Namun, belakangan harus beralih format menjadi daring. Hal itu juga membuat Sintia yang biasa mengikuti lomba berbasis pertarungan harus membiasakan diri berlatih di aspek seni. Ia mengaku tidak mudah untuk mengubah gaya taekwondonya. “Saya biasa melakukan kyourugi atau pertarungan. Saat diminta mengikuti lomba berbasis poomsae atau kesenian, saya mau tidak mau harus menyesuaikan diri agar mampu tampil maksimal,” jelasnya. Ditanya ihwal kesulitan yang dihadapi, ia mengatakan bahwa mencari jadwal latihan di sela-sela kuliah daring cukup menyulitkannya. Apalagi ada beberapa anggota tim yang tidak berada di Malang saat itu. “Ada satu anggota yang tidak bisa berlatih di Malang. Jadi mau tidak mau, ia datang saat pengambilan video saja agar bisa turut ikut dalam lomba,” terang anak kedua dari tiga bersaudara itu. Meski begitu, mahasiswa Ilmu Hukum itu merasa bersyukur karena kompetisi internasional itu berdekatan dengan agenda ujian kenaikan sabuk Taekwondo. Jadi mereka bisa berlatih bersama agar bisa lulus sekaligus menyiapkan diri dalam perlombaan international tersebut. Sementara itu, Fira Eka Permatasari, atlet Taekwondo UMM yang meraih perunggu mengungkapkan bahwa ia tidak menyangka bisa menjadi salah satu yang meraih medali. Menurutnya, semua kemenangan yang diraih merupakan hasil dari kerja keras dan doa yang tak pernah putus. “Dengan kemenangan ini, saya berharap agar teman-teman lain mampu berprestasi di berbagai kejuaraan. Meski kebanyakan masih dilaksanakan secara online, namun itu juga bagian dari prestasi demi mengharumkan nama UMM,” terang mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab tersebut. Selain Sintia yang mendapat emas dan Fira dengan raihan perunggunya, Taekwondo UMM juga telah memenangkan beberapa medali lain. Ada Nisrina Hannabil Aqilla yang menyabet perak. Sementara Galih Pradipta Rahmandani, Abdul Aziz Sabillah, Adinda Sefira Nabila, serta Ichan Aulia sukses menyumbang perunggu. (wil)

Tim Dosen UMM Ajak Siswa Cintai Budaya Lewat Pelatihan Batik Shibori

Bertempat di SMA Negeri 2 Mejayan Kabupaten Madiun, tim dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan pelatihan batik shibori bagi para siswa. Mereka diajak untuk terjun langsung dalam pembuatan batik itu, mulai dari awal hingga akhir. Adapun agenda yang dilangsungkan pada Senin (5/4) ini juga diikuti dengan sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Saat ditemui, Drs. Tedjo Sasono, M.Pd selaku kepala SMA Negeri 2 Mejayan mengapresiasi adanya kegiatan yang UMM laksanakan. Menurutnya, kuliah di universitas negeri maupun di universitas swasta sama saja. Namun, hal yang perlu diperhatikan untuk studi lanjut adalah akreditasi program studi dan universitas. “UMM sebagai universitas swasta memiliki akreditasi yang bagus sehingga dapat menjadi  pilihan para siswa untuk melanjutkan kuliah,” Ujar Tedjo. Di sisi lain, Murtyas Galuh Danawati, S.Pd, M.Pd selaku ketua tim PMB PGSD UMM Wilayah Madiun mengatakan bahwa kegiatan ini ditujukan agar siswa kelas XII lebih mengenal UMM khususnya program studi PGSD. “Kegiatan sosialisasi akan memberikan gambaran masa depan tentang pilihan studi lanjut yang sesuai dengan bakat, minat, dan cita-cita para siswa,” kata Murtyas. Selain sosialisasi, tim dosen PGSD juga menggelar Pelatihan Batik Shibori berbasis Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) bagi Siswa SMA. PPK tersebut dapat dianalisis dari pewarnaan yang digunakan oleh siswa. Belinda Dewi Regina, S.Pd, M.Pd selaku pemateri mengatakan bahwa batik memiliki beragam jenis, salah satunya adalah batik shibori atau batik ikat. Pembuatan batik ini menggunakan pewarna remasol dan diakhiri dengan pemberian larutan waterglass. “Batik ini dipilih karena pembuatannya lebih mudah dan praktis untuk dilakukan oleh siswa. Saya berharap dengan adanya kegiatan ini bisa lebih menimbulkan rasa cinta kepada budaya daerah,” kata Belinda. Syahruni Miftaqun Nasyifa selaku peserta kegiatan sosialisasi PMB dan pelatihan batik shibori yang berasal dari SMAN 2 Mejayan mengatakan bahwa pelatihan batik shibori sangat menarik. Menurutnya, agenda seperti ini membaut siswa bisa berkreativitas mengembangkan seni membatik, dan dapat berkreasi. Utamanya dalam aspek mewarnai dan membuat pola. “Saya berterimakasih kepada dosen PGSD UMM sudah berkenan melaksanakan kegiatan ini sehingga kami mendapatkan wawasan, ilmu, dan pengetahuan baru. Saya juga dapat berkenalan dengan orang serta dosen baru. Ia berharap agar PGSD UMM bisa berkembang pesat dan semakin baik,” pungkasnya. (*)

Inovasi PLTAL Mahasiswa UMM Raih Juara Satu di Kompetisi Internasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali harumkan nama kampus di tingkat Internasional. Kali ini prestasi datang dari tim mahasiswa Teknik Mesin yang berhasil meraih juara satu kategori teknologi pada ajang Internasional Science Technology and Engineering Competition (ISTEC) 2021. Tim ini terdiri dari dua orang mahasiswa yaitu  Rifqi Alfareza Aryadi dan Evita Leninda Fahriza.  Adapun kompetisi ini diadakan secara daring (7/4) dan diikuti oleh peserta dari 20 negara. Pada perlombaan tersebut Rifqi dan Evita mengajukan inovasi teknologi pada bidang Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL), Alat ini mereka beri nama Sea Water Flow Power Plant. Pemilihan bidang PLTAL ini didasarkan pada tingginya potensi penggunaan PLTAL di Indonesia. Berbeda dari PLTAL lain, Rifqi berkata bahwa  pembangkit buatan timnya menggunakan turbin archimedes untuk mengubah energi kinetik menjadi energi listrik. “Disamping potensinya yang besar di Indonesia, PLTAL juga merupakan sumber energi yang tidak akan habis. Namun PLTAL yang sekarang memiliki beberapa kekurangan, terutama di arus laut yang lemah. Karena hal tersebut saya memilih turbin archimedes agar PLTAL tetap berfungsi meski berada di arus laut yang lemah,” ujar mahasiswa kelahiran Lampung tersebut. Rifqi mengungkapkan pengembangan Sea Water Flow Power Plant tidak mudah. Ada beberapa kendala yang dihadapi timnya ketika merancang alat PLTAL tersebut. Salah satu kendala yang dihadapi Rifqi dan Evita adalah penentuan rumus untuk mengubah energi kinetik menjadi listrik. “Selain masalah rumus, kami juga memiliki masalah pada bagian bentuk desain. Tim kami ingin membuat celah di bagian depan lebih besar dari pada bagian belakang. Hal ini kami lakukan agar air bisa masuk ke seluruh bagian depan turbin. Dengan bentuk desain yang seperti itu, kami sering melakukan pembaharuan terkait mekanisme kerjanya,” kata anak pertama dari dua bersaudara itu. Rifqi mengaku sangat bangga atas capaiannya di ISTEC 2021. Namun meski telah memperoleh juara, ia berharap kedepannya bisa mengembangkan teknologi ini. “Karena keperluan inovasi PLTAL ini untuk lomba, sampai sekarang ide ini masih berupa rancangan alat. Kedepannya saya sangat berharap alat ini bisa direalisasikan dan bisa membantu Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam mengembangkan energi terbarukan,” pungkasnya. (syi/wil)

RSDC Bengkel Rinjani UMM Lahirkan Mekanik Andal dan Religius

Penyediaan pelatihan kerja menjadi salah satu aspek penting untuk menunjang kemampuan masyarakat. Hal itu pula yang menjadi landasan digelarnya Rinjani Skill Development Center (RSDC), salah satu program pelatihan kerja yang dilaksanakan oleh Bengkel Rinjani Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penutupan agenda yang bertemakan “RSDC sebagai Wahana dalam Mempersiapkan Mekanik Handal yang Terampil dan Religius” tersebut dilangsungkan pada Jumat (16/4) lalu. Eka Kadharpa Utama Dewayani, SE, MM selaku Direktur Utama Bengkel Rinjani mengungkapkan bahwa pada dasarnya RSDC merupakan sebuah lembaga pelatihan kerja dan lembaga sosial yang tidak dikomersilkan. Meski ada beberapa pengembangan dan kelas yang dikomersilkan, RSDC memiliki program tahunan yang menyasar kepada kaum dhuafa. Ia menambahkan bahwa para peserta dilatih dan dididik selama sepuluh bulan. Adapun kurikulum disesuaikan dengan perkembangan dunia otomotif. “Kurikulum akan sedikit dibedakan. Mereka yang alumni jurusan otomotif akan mendapat kurikulum yang disesuaikan dibandingkan dengan mereka yang bukan dari jurusan otomotif,” terangnya. Eka, panggilan akrabnya juga menandaskan bahwa nantinya program ini akan lebih menyasar mereka yang kurang mampu. Utamanya mereka yang berasal dari panti asuhan. Hal itu sesuai dengan pesan dan arahan langsung dari Dr. Fauzan, M.Pd., rektor UMM. Ada 12 peserta yang dikukuhkan dalam agenda tersebut. Sebelumnya RSDC juga mengirimkan tujuh peserta lain untuk mengikuti pelatihan kedua yang dilaksanakan di PT Denso Indonesia, Bogor. Nantinya mereka akan ditempatkan di seluruh cabang PT Denso Indonesia. Selain belajar mengenai otomotif, peserta juga diberi materi terkait ilmu sosial serta agama. Menurut Eka, ilmu yang didapat oleh peserta seyogyanya bisa kembali diajarkan ke masyarakat luas. “Jangan pelit ilmu. Selalu tebar manfaat di manapun saudara berada,” pesannya. Dalam kesempatan yang sama, Dr. Ahmad Juanda, AK., M.M., C.A selaku Kepala Biro Administrasi Keuangan, Kepegawaian dan Umum menerangkan hal yang sama. Menurutnya, ada alokasi khusus yang sudah UMM siapkan untuk program-prpgram yang tidak komersial, salah satunya RSDC. “Visi kami tentu adalah untuk memberikan bekal. Terlihat dari materi yang disampaikan, tidak hanya mengenai otomotif tapi juga keterampilan hidup. Semoga hal ini menjadi bagian dari amal yang sudah UMM usahakan,” terangnya. Di samping itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki , ST,. MT.  memberikan selamat kepada para peserta angkatan XIII 2020-2021. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa hal yang kurang dari dunia otomotif saat ini adalah kemampuan komunikasi. Jika memiliki kemampuan ini dengan baik, tentu akan menjadi modal utama para peserta dalam persaingan dunia kerja. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan bahwa keterampilan kolaborasi, kerja sama serta informasi juga menjadi hal penting yang perlu dipupuk lebih dalam. “Satu pondasi penting ketika terjun di bidang jasa adalah kepercayaan. Saudara harus menjadi orang yang jujur dan amanah ketika melayani pelanggan. Saya yakin para peserta dan alumni RSDC akan selalu bekerja dengan mengamalkan nilai-nilai kebenaran dan agama yang baik. Apalagi Jiwa pribadi Muhammadiyah juga sudah ditanamkan,” tandas Eki. (wil)

Kajian Ramadan UMM-PWM Jatim Undang Gubernur dan Ketum PP Muhammadiyah

Dalam rangka menyucikan hati dan meningkatkan iman di bulan suci Ramadan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur (Jatim) dan UMM adakan Kajian Ramadhan. Agenda tersebut membahas mengenai sikap dan tindakan setelah pandemi berakhir. Adapun kajian tersebut dilaksanakan pada Sabtu (17/04) melalui Zoom dan kanal Youtube UMM serta TVMu. Adapun acara ini mengundang Prof. Dr. Haedar Nashir , M.Si. selaku Ketum PP Muhammadiyah, dr Pandu Riono, dan Prof. Dr Abdul Mu’ti, M.Ed sebagai pemateri. Tak lupa, juga dihadiri oleh gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, untuk membuka acara dan memberi sambutan. Mereka didapuk untuk memberikan pandangan dan kajian akan langkah dan usaha yang bisa dilakukan di masa pandemi hingga usai. Dalam paparanya, Haedar mengatakan bahwa kehidupan saat pandemi dan usai pandemi harus senantiasa membangun sikap ramah lingkungan. Selain itu juga selalu mengeratkan solidaritas di masyarakat. Hal itu dilakukan tidak lain untuk kebaikan masyarakat bersama. “Dalam menghadapi pandemi dan pasca pandemi kita harus merekonstruksi kembali keimanan, ketakwaan, dan tauhid sesuai interkoneksi antara hablum minallah dan hablum minannas. Jika keduanya bisa dilaksanakan dengan baik, maka kehidupan akan bisa baik pula. Selain itu kita juga harus menumbuhkan sikap taawun agar dapat hidup bersama dalam keberagaman,” kata Haedar. Di sisi lain, Pandu menerangkan terkait keadaan pandemi yang sedang dihadapi. Menurutnya, pandemi di Indonesia akan sulit diatasi karena herd immunity yang sukar tercapai. Hal ini terjadi karena berbagai faktor seperti masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan dan virus Covid-19 yang terus bermutasi. “Namun kita bisa mengendalikan pandemi jika 40% penduduk Indonesia sudah di vaksinasi. Selain itu masyarakat juga harus lebih sadar akan pentingnya protokol kesehatan,” ujar ahli Epidemiologi UI itu. Selain dari sisi epidemiologi, kajian ini juga membahas langkah-langkah yang bisa diambil pemerintah setelah pandemi berakhir. Khofifah mengatakan ada tiga langkah yang akan di kembangkan pemerintah pasca pandemi seperti lapangan kerja, keterjangkauan akses digital, dan keamanan masyarakat. “Setelah berakhirnya pandemi kami akan memprioritaskan sektor ketenagakerjaan, percepatan digitalisasi pada sektor esensial, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Tidak berfokus pada kesehatan fisik saja, namun juga kesehatan psikologis,” terangnya lebih lanjut. Pada kesempatan itu pula, Khofifah juga menilai bahwa UMM telah banyak membantu dalam penangan pandemi di Jawa Timur. Salah satunya dengan memberikan berbagai solusi  dalam pengembangan sistem penanganan Covid-19 di rumah sakit. “Selain itu, RS UMM juga telah membantu dalam menyediakan APD dengan mengajak UMKM untuk memproduksinya saat awal pandemi,” pungkas Khofifah. (syi/wil)

Mahasiswa Kembangkan Desa Wisata di Gunung Budeg Tulungagung

Ada yang berbeda dengan Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini PMM kelompok  70 gelombang 13 mengembangkan proyek Wisata Gunung Budeg yang berlokasi di Desa Tanggung, Kecamatan Campur Darat, Kabupaten Tulungagung. Adapun tim tersebut beranggotakan lima orang, yaitu Galuh Kusuma Wardhani, Dheayu Risma Setiawan, Laysha Nurraihan Purwanto, Kelvin Yoanda Nurfajri dan Putra Eka Rizky. Kegiatan tersebut berlangsung selama satu bulan yakni pada bulan Maret. Saat ditemui, Galuh Kusuma selaku perwakilan kelompok PMM menjelaskan bahwa mereka melihat adanya potensi yang bisa dikembangkan dari desa yang mereka tempati. Lokasi desa yang berseberangan dengan Gunung Budeg menjadi keuntungan tersendiri. Meski pada akhirnya rancangan desa wisata yang mereka ajukan masih baru akan digarap awal tahun 2022, namun sudah ada beberapa langkah yang diambil. Salah satunya adalah bekerja sama dengan pihak desa dalam membangun tempat parkir dan fasilitas umum. “Desain Wisata Gunung Budeg ini menjadi project utama kelompok kami. Adapun desa wisatanya sendiri akan dibangun pada tahun 2022. Kami juga  sudah mulai membangun beberapa hal untuk menunjang perkembangan rencana ini,” jelas Galuh. Dia juga menceritakan bahwa desain wisata yang mereka ajukan disambut baik oleh perangkat desa dan masyarakat. Sesekali adapula segelintir revisi yang diberikan oleh warga sekitar hingga akhirnya rampung dan matang. Meski rancangannya masih pada tahap desain, namun mereka akan terus memantau pembangunan desa wisata yang telah dicanangkan. Selain mengembangkan desain desa wisata, mereka juga menebar manfaat  selama sebulan di desa tersebut. Pembangunan taman dan penanaman bibit buah adalah program lain yang mereka lakukan. “Tidak hanya menyiapkan rencana desa wisata, kami juga bekerja sama dengan pihak desa dalam membangun taman di Desa Tanggung. Kami menanam banyak jenis bibit buah manga dan kelengkeng,” ujarnya. Mahasiswa Ilmu Komunikasi ini berharap rangkaian kegiatan PMM yang mereka langsungkan dapat bermanfaat bagi masyarakat Desa Tanggung. Ia bersama anggota tim juga akan terus memantau perkembangan pembangunan Desa Wisata Gunung Budeg yang sudah digagas. Di samping itu, Galuh juga berharap gagasan desa wisata ini juga bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. “Pastinya kami bersyukur dapat membantu dalam pengambangan desa. Semoga desa ini bisa terus berkembang dan menjadi ikon wisata baru Kabupaten Tulunggagung” pungkasnya. (haq/wil)

Ajak Mahasiswa Berbisnis Sejak Dini, UMM Undang Alumni Sukses

Tumbuhkan  semangat berwirausaha, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) undang dua owner bisnis pada kuliah umum Student Day. Acara ini diselenggarakan secara luring di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV dan daring melalui kanal Youtube UMM pada Sabtu (10/04). Adapun yamu yang dihadirkan adalah Friza Rahmawanta dan Indie Amami. Keduanya merupakan alumni UMM yang telah sukses mendirikan bisnis di usia muda. CV Sukoi merupakan bisnis yang bergerak di bidang budidaya ikan koi. Friza sebagai owner mengaku bahwa bisnis ini berawal dari salah satu tugas mata kuliah di UMM. Dari tugas tersebut Friza melihat peluang yang cukup besar di bidang budidaya ikan koi. “Awalnya dari tugas kuliah. Saya bersama tiga teman lainnya memulai budidaya ikan koi. Saya melihat bahwa penghasilan yang dihasilkan dari tugas itu cukup lumayan. Saat itu, teman-teman tidak mau melanjutkannya, tapi saya tetap menjalankan bisnis ini. Alhamdulillah bisa berlangsung sampai sekarang,” ujar Friza. Ia kembali berkata bahwa peluang dalam berbisnis ada di mana-mana. Para mahasiswa harus peka dan mecari potensi yang ada. “Pihak kampus sudah memberi banya fasilitas pada mahasiswa untuk berkarir dan berwirausaha. Sebut saja program PKM atau mungkin tugas kuliah seperti saya. Tinggal bagaimana mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut,” kata Friza. Di kesempatan yang sama, Indie memulai bisnisnya usai lulus dari UMM. Owner Tea and Bird Gallery ini mengungkapkan bahwa dirinya sangat ingin mendirikan bisnis sejak lama. Usaha pertama yang Indie bangun adalah Simple Production. Bisnis ini bergerak di bidang dekorasi kain untuk acara pernikahan. “Setelah lulus saya tidak mau bekerja di perusahaan, saya ingin membuat bisnis sendiri. Tekad itulah yang mebawa saya sampai di sini. Kebetulan suami saya juga orang yang mempunyai semangat wirausaha yang besar. Akhirnya kami mendirikan bisnis pertama kami yaitu Simple Production,” kata Indie. Setelah itu bisnis Indie mulai berkembang ke bidang lain seperti dekorasi mahar dan teh. Kemudian ia mengubah namanya menjadi Tea and Bird Galley. Indie memberi wejangan bahwa untuk melihat peluang, para mahasiswa harus sering berbincang dan berinteraksi dengan orang lain. “Ketika kuliah saya sering nongkrong sama teman-teman. Dari situ saya bisa melihat banyak peluang bisnis yang tidak disadari oleh orang lain. Selain itu relasi saya juga bertambah berkat kebiasaan saya mengobrol dengan orang-orang. Ketika kita melihat peluang, kita harus segera maju untuk memulai serta mengelolanya,” pesannya pada para peserta. (syi/wil)

Mahasiswa UMM Juara Internasional Berkat Teknologi Pemeliharaan Jembatan

Prihatin dengan pengelolaan jembatan di Indonesia, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ciptakan teknologi  pemeliharaan jembatan berbasis pengelolaan citra. Alat tersebut bernama Smart Cam Bridge. Teknologi ini dibuat oleh Alifia Oriana Prabaswara dalam rangka mengikuti perlombaan Internasional Science Technology and Engineering Competition (ISTEC) 2021. Adapun kompetisi yang diadakan secara daring tersebut diikuti oleh peserta dari 20 negara. Alifia mampu mengalahkan peserta lain dan menyabet juara kedua dalam kompetisi itu. Saat ditemui, Alifia mengungkapkan bahwa jembatan merupakan jalur yang krusial karena menghubungkan daerah satu dengan yang lain. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak jembatan, namun proses pemeliharaannya kurang maksimal. Oleh karenanya, Alifia menciptakan Smart Cam Bridge tersebut. “Teknologi Pemeliharaan jembatan melalui pengelolaan citra masih belum ada. Di luar negeri, teknologi pengelolaan citra baru digunakan pada bidang medis seperti pendeteksi kanker kulit. Padahal teknologi ini dapat digunakan secara cepat dan tepat pada bidang lain,” ujar mahasiswa asal Malang tersebut. Lebih lanjut, mahasiswa Jurusan Teknik Sipil ini menjelaskan bagaimana cara penggunaan teknologi ini. Pertama, pengguna harus memotret jembatan yang akan diulas. Selanjutnya foto dimasukan ke Matrix Laboratory (MATLAB) untuk diolah secara menyeluruh. Usai diolah, nantinya hasil akan segera didapat. “Untuk saat ini, Smart Cam Bridge hanya bisa digunakan pada jembatan baja saja. Kemarin saya melakukan uji coba dengan batang besi yang diberi beban. Informasi yang dihasilkan cukup membantu untuk mengetahui kondisi besi tersebut,” ungkap anak sulung tersebut. Alifia berharap, nantinya ia bisa bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk melakukan upaya preventif dalam pencegahan rusaknya jembatan. Apalagi tidak jarang, banyak jembatan yang tiba-tiba roboh dan mengganggu kegiatan warga sekitar. “Saya ingin alat ini terus dikembangkan dan diuji coba pada jembatan baja sungguhan. Saya juga berharap alat ini dapat digunakan untuk model jembatan yang lain namun dengan metode yang sama,” pungkasnya menerangkan. (syi/wil)