Aksi Maharesigana UMM Tangani Gempa Bumi Malang Selatan

Gempa yang terjadi beberapa hari lalu menyisakan berbagai  dampak memilukan. Sejumlah bangunan dan rumah roboh di beberapa daerah. Mengetahui hal itu, aksi tanggap diperlihatkan oleh Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM. Mereka berangkat menuju lokasi terdampak gempa yang berada di Malang, tepatnya di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Malang pada Selasa (13/4). Alya Dinia Asyfiqi Masykur, ketua Maharesigana UMM menjelaskan bahwa keberangkatan mereka merupakan hasil koordinasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Malang. Selain Maharesigana, adapula tim medis dari Fakultas Kedokteran UMM serta tim Rumah Sakit Aisyiyah. “Kami semua berada di bawah koordinasi MDMC Kabupaten Malang. Demi membantu sesama, kami saling bahu-membahu sebagai bentuk bantuan kemanusiaan,” tegasnya. Lebih lanjut, Alya menjelaskan bahwa Maharesigana telah mendirikan Pos Koordinasi yang berpusat di kampus UMM. Tepatnya di Pusat Studi Kewilayahan, Kependudukan, dan Penanggulangan Bencana (Puska-PB) UMM. Kemudian mereka segera melakukan asesmen untuk menemukan daerah yang paling terdampak gempa bumi yang telah terjadi. Akhirnya, Maharesigana mendirikan Posko Layanan yang berada di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit. “Ada dua posko layanan yang kami sediakan. Keduanya adalah posko kesehatan dan posko psikososial yang diharapkan bisa membantu warga sekitar,” jelas mahasiswa Pendidikan Agama Islam tersebut. Alya kembali menambahkan, Maharesigana rencananya akan berada di sana selama satu minggu penuh. Meski begitu, jika masih dibutuhkan mereka siap untuk berlanjut dan memberikan manfaat. “Dalam dunia penanggulangan bencana, satu tim harusnya berada di lokasi selama dua minggu. Namun, karena pandemi masih belum membaik, kami akan berganti tim satu minggu sekali. Rencananya akan ada posko lanjutan di daerah-daerah lain” terangnya. Menurut keterangan Alya, ada dua RT yang sangat terdampak di Desa Pamotan, yakni di RT 3 yang dihuni oleh 22 Keluarga. Sembilan rumah di antaranya roboh dna lainnya mengalami retakan. Adapula RT 4 yang terdiri dari 19 Keluarga. Dua belas di antaranya rusak parah serta sisanya mengalami kerusakan ringan. “Melihat realita itu, kami jadi tergerak untuk terus menebar manfaat dan kebaikan. Sesuai dengan moto kami yakni Bergerak untuk Kemanusiaan, maka membantu masyarakat sekitar adalah sebuah kebahagiaan,” terang mahasiswa asli Batu itu. Terakhir, ia berharap agar bantuan dan posko yang sudah didirikan bisa membantu para warga yang terdampak. Tidak hanya dari segi fisik saja, namun juga dari aspek psikologis. “Semoga dengan hadirnya kami, mereka bisa menerima kenyataan dan segera bangkit agar bisa hidup seperti sedia kala,” pungkas Alya. (wil)

Mobil KaCa Hibur Anak-Anak Korban Gempa Malang Selatan

Gempa yang terjadi di Malang Selatan beberapa waktu lalu masih menyisakan pilu. Bantuan demi bantuan juga terus mengalir demi kemanusiaan. Melihat hal itu, Mobil KaCa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga mengambil peran dan berangkat menuju lokasi pada Kamis (15/4). Salah satunya ke Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Malang. Agenda hiburan bagi anak-anak dengan bercerita  kisah dan bermain ini merupakan bagian dari rangkaian program UMM Ramadan Berbagi. Anak-anak yang datang terlihat antusias saat Mobil KaCa datang. Beberapa terlihat sibuk memilih buku. Sementara lainnya asyik melihat satu dua tayangan di layar. Usai membaca buku, mereka juga diajak untuk mengikuti kisah Momo dan Jojo. Tidak ketinggalan permainan-permainan seperti Rangku Alu, Hulahup serta memindahkan bola dengan tali juga membuat mereka asyik. “Tentu kami berharap hiburan yang kami sediakan bisa membuat anak-anak kembali ceria seperti biasanya,” ungkap Nurul Hamidah, salah satu Tim Mobil KaCa UMM. Di kesempatan yang sama, Sugeng Isdianto selaku Ketua RT 04 RW 04 Desa Pamotan menjelaskan bahwa usai gempa, anak-anak terlihat murung dan sedih. Tidak jarang mereka menangis dan bingung akan situasi yang terjadi. Untungnya banyak bantuan datang dan menghibur. Isdianto juga merasa senang saat melihat anak-anak kembali ceria dan bahagia saat Mobil KaCa datang. “Bahagia rasanya melihat mereka kembali ketawa-ketawa. Semoga bisa segera membaik dan beraktifitas seperti sedia kala,” harapnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sinta Oktavia, salah satu orang tua. Ia mengungkapkan bahwa anak-anak masih trauma dengan bencana gempa yang terjadi. Mereka mudah panik dan menangis. Meski begitu, ia sangat senang ketika tim bantuan dari berbagai pihak datang dan menghibur mereka. “Kegiatan-kegiatan seperti ini penting sekali bagi anak-anak. Terutama mereka yang berusia di bawah 5 tahun. Berbagai hiburan yang ada juga bisa membantu melupakan memori-memori buruk yang dialami beberapa waktu lalu. Semoga mereka bisa kembali ceria,” harap Sinta. (wil)

Bahas Masalah Ketenagakerjaan, UMM Hadirkan Direktur Eksekutif Program Prakerja

Aspek ketenagakerjaan di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah. Melihat hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bahas tuntas mengenai program kartu prakerja dan tantangan kerja di masyarakat dalam agenda kuliah tamu. Acara yang diselenggarakan pada Jumat (09/04) ini dihadiri langsung oleh Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana (PMO) Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari Ph.D. Dalam agenda itu pula dilaksanakan penandatanganan kerja sama antara keduanya. Terbatasnya lapangan pekerjaan dan skill gap adalah masalah utama ketenagakerjaan di Indonesia. Denni menjelaskan bahwa bonus demografi Indonesia akan berakhir pada tahun 2030, namun tenaga kerja di Indonesia belum mengalami peningkatan kualitas. Ia menuturkan menurut data BPS 2019 dari 135 juta angkatan kerja di Indonesia, 90% belum pernah mengikuti pelatihan bersertifikat. Di sisi lain, sebanyak 22% anak muda Indonesia tidak sedang bekerja, menempuh pendidikan, maupun menjalani pelatihan. “Kebanyakan dari mereka tidak melakukan apa-apa. Karena itu, pemerintah turun tangan untuk mengatasi kegagalan pasar dengan membuat program kartu prakerja agar bonus demografi tidak sia-sia,” ujar Denni. Lebih lanjut Denni menjelaskan bahwa program ini tidak hanya menyasar masyarakat yang belum bekerja, tetapi yang sudah mendapat pekerjaan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan skill dan produktivitas para pekerja di Indonesia. “Banyak yang mengeluh produktivitas para pekerja di Indonesia kurang begitu baik. Hal ini terjadi karena pekerja dan pengusaha kurang peduli terhadap pentingnya pelatihan untuk meningkatkan kemampuan. Dengan pelatihan yang diadakan oleh prakerja, masyarakat bisa berinvestasi dengan meningkatkan keterampilan. Ketika kemampuan meningkat maka produktivitas, gaji, dan jabatan pun akan turut meningkat,” jelas Denni Selain kuliah tamu, pada acara ini juga diselenggarakan penandatanganan perjanjian kerja sama antara manajemen pelaksana program kartu prakerja dengan UMM. Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., mengatakan bahwa UMM nantinya akan terlibat dalam memantau pelatihan program prakerja secara daring. “Indonesia memiliki banyak masalah terkait ketenagakerjaan, salah satunya adalah keterampilan para pekerja. Prakerja hadir dengan visi untuk membangun kompetensi masyarakat Indonesia agar dapat bersaing. Melihat terobosan baik tersebut, UMM tentu mendukung pemerintah dalam pelaksanaan program kartu ini,” pungkasnya. (syi/wil)

Mahasiswa PBA Raih Juara Satu Lomba Ghina’ Araby

Hobi menyanyi Bahasa Arab sejak lulus Sekolah Menegah Atas (SMA), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih berbagai kejuaraan Ghina’ Araby tingkat nasional. Terbaru, Zaky Anwar meraih juara satu lomba Ghina’ Araby pada kompetisi Hammasah’ Arabiyah Festival (HARFEST). Kompetisi ini diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) pada 26-31 Maret. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) ini mengaku sangat menyukai lagu-lagu berbahasa arab karena liriknya yang mengandung pesan yang mendalam. Zaky berkata pada perlombaan ini, dirinya juga ingin menyampaikan pesan mendalam kepada para pendengar. Karena hal tersebut, ia kahirnya memilih lagu Mauju’ Qolbi untuk diperlombakan. “Lagu ini mengandung arti tersendiri bagi saya. Lagu ini memiliki pesan bahwa manusia bisa saja saling menyakiti satu sama lain. Maka dari itu, yang bisa kita andalkan di dunia ini hanyalah Allah SWT dan diri kita sendiri. Jadi kita harus mencintai dan menguatkan diri kita sendiri,” ujar mahasiswa asal Malang tersebut. Zaky menambahkan meskipun ini bukan kali pertamanya mengikuti perlombaan Ghina’ Araby, tetapi selalu ada kesulitan di setiap perlombaan. Pada perlombaan ini Zaky membutuhkan usaha lebih di banding sebelum-sebelumnya. Dirinya harus belajar secara otodidak untuk mengambil dan mengedit video. “Pandemi membuat sistem perlombaan berubah. Para peserta harus mengirimkan karya video kepada panitia. Jadi saya mau tidak mau harus belajar sendiri bagaimana teknik kamera, pencahayaan, audio, dan edit video. Belum lagi saya harus bersaing dengan video-video yang lebih profesional,” ucap Zaky. Meski begitu, ia bersyukur kerja kerasnya terbayar dengan raihan juara. Anak terakhir dari dua bersaudara ini berharap bisa terus berinovasi dan membanggakan kembali nama kampus di masa depan. “Semoga ke depannya saya bisa memberikan yang lebih baik lagi. Tentu saja dengan usaha dan kerjka keras yang tak pernah putus,” tandasnya. (syi/wil)

Tampilkan Tari Jaripah, Mahasiswa UMM Sabet Juara Tari Tingkat Nasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi tingkat nasional. Kali ini giliran mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang berhasil memenangkanjuara 1 Lomba Tari Tradisional Tingkat Nasional dalam perhelatan acara PGSD Berkarya VI yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Dalam lomba tersebut, PGSD UMM mengutus empat mahasiswanya yaitu Tara Narendra Kirana, Venina Aurelya, Tri Tunggal Dewi, dan Nadya Felia Faranida yang tergabung dalam satu tim. Tara Narendra, salah satu anggota tim dalam lomba tari menjelaskan lika-liku perjalanan timnya dalam meraih juara. Mulai dari proses latihan menari yang hanya dilakukan sepuluh hari sebelum perlombaan hingga pemilihan tari yang akan ditampilkan. Dia menambahkan, karena tari yang dipilih adalah Tari Jaripah yang berasal dari Banyuwangi, mereka mau tidak mau harus belajar dari awal. Tari ini dipilih karena sendiri cenderung lincah dan memiliki aksen barong. “Kenapa kami memilih Tari Jaripah ini, karena tarian ini dalam gerakan cenderung lincah dan memiliki aksen barong. Ciri khas dari daerah Banyuwangi,” ujar Tara. Dia juga menceritakan hambatan-hambatan yang mereka temui. Penyesuaian jadwal antar anggota hingga kesulitan dalam membpelajari gerakan. Sempat terkendala dengan penyesuaian jadwal antar personil karena memiliki jadwal kuliah yang berbeda-beda. “Karena perlombaan tari ini menggunakan sistem online, maka usai latihan kami harus take dan edit video agar bisa dilombakan,” kisah mahasiswi PGSD UMM ini. Banyak dukungan yang telah diperoleh tim ini untuk mendapatkan juara, utamanya dari Prodi PGSD. Selain itu saran dan support dari teman, dosen, dan keluarga memiliki peran penting dalam raihan mereka kali ini. Hal itu memotivasi mereka untuk terus berlatih dan menampilkan yang terbaik. Mahasiswa kelahiran Banyuwangi ini berharap agar juara yang telah didapat bisa menjadi langkah awal mereka dalam memenangkan perlombaan yang lainnya. “Tentu kami ingin bisa mengikuti perlombaan lainnya. Menyiapkan diri dengan berlatih keras, memilih tari, dan berdoa sekuat tenaga. Saya juga ingin agar teman-teman lain bisa termotivasi dengan raihan kami,” pungkasnya. (haq/wil)

Wisuda UMM Hadirkan Founder Berkah Finteck Syariah

Rangkaian wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali digelar. Kali ini mereka mengundang Dr. Dian Berkah, S.HI., M.HI. selaku Komisaris PT Berkah Finteck Syariah pada Sabtu (10/4) berlokasi di Dome. Ia merupakan salah satu alumni Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, UMM. Selain itu juga menjadi angkatan pertama Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) yang diselenggarakan oleh UMM. Pada gelaran wisuda itu pula, UMM dan PT Berkah Finteck Syariah melaksanakan penandatanganan MoU kerja sama keduanya. Mengawali sambutan, Dr. Fauzan, M.Pd menuturkan bahwa menjadi alumni UMM harus memiliki ciri. Apalagi UMM kini menyandang gelar sebagai kampus Islam terbaik di dunia. “Konsekuensi logis yang muncul adalah para alumninya harus memberikan manfaat bagi masyarakat dan mampu meyakinkan mereka bahwa saudara-suadara mampu,” tegasnya. Fauzan juga berpesan agar para wisudawan tidak berhenti membaca. Tidak hanya membaca literatur saja, namun juga membaca situasi dan dinamika yang belakangan semakin tidak menentu. Salah satu solusinya adalah dengan memiliki mindset yang fleksibel. Sehingga para wisudawan dapat beradaptasi dan mampu menjawab tantangan zaman. Pada kesempatan yang sama, Dian mengawali kisah suksesnya dengan potongan-potongan cerita ketika ia berkuliah di UMM. Ia mengenang bagaimana ia bisa menjadi angkatan pertama PPUT UMM. “Saat itu, ada sekitar 200 peserta yang mendaftar dan hanya dipilih beberapa orang saja. Salah satunya adalah saya. Alhamdulillah bisa menempuh S1 di UMM tanpa biaya,” katanya. Dian bercerita bahwa ia dibesarkan oleh orang tua yang tidak berpendidikan tinggi. Meski begitu, gairahnya untuk belajar tidak pernah padam. Hingga akhirnya mampu meraih gelar doktor pada tahun 2020 lalu. Pria yang juga menjadi Dewan Syariah Nasional ini kembali mengisahkan proses belajarnya saat di UMM. Mulai dari kesulitan mencari tempat tinggal hingga mendapatkan kesempatan untuk menjadi trainer serta pendamping di P2KK UMM. “Program PPUT yang saya jalani hanya menyediakan tempat tinggal selama 2 tahun saja. Mengingat saya kekurangan biaya, akhirnya saya meminta untuk bisa tinggal di asrama sembari menjadi pembina angkatan kedua. Alhamdulliah diperbolehkan,” ceritanya. Selain itu, Dian juga memberikan wejangan bagi wisudawan yang hadir. Ia mengutip surat Ibrahim ayat 7 yang menerangkan terkait bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Menurutnya, jika kita bersyukur atas apa yang sudah diberikan, maka akan ada nikmat lain yang segera datang. “Misalnya saja, jika kita bersyukur atas kesempatan untuk belajar di SMP, kemungkinan besar kita juga akan diberikan kesempatan untuk belajar di jenjang selanjutnya,” terangnya. Ia kembali memberikan kunci meraih kesuksesan yang telah ia lakukan. Pertama, memanfaatkan kedekatan dengan Allah. Ia mengaku tidak pernah meninggalkan wudhu dan selalu menjaga kesucian. Selain itu juga berbakti kepada orang tua serta menghormati para guru dan dosen yang telah memberikan ilmu. “Jika mampu menjalankan ketiganya, insyaAllah jalan panjang sauda-saudara akan dimudahkan,” pungkasnya. (wil)

Mahasiswa UMM Menangkan Penghargaan di Konferensi Internasional Berkat Isu Lingkungan

Angkat isu lingkungan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) harumkan nama kampus di kancah Internasional. Fadillah Ahmad Nur  berhasil meraih The Honorable Mention Project pada Konferensi Internasional Istanbul Youth Summit 2021. Konferensi tersebut berlangsung dari tanggal 22-25 Maret dan diikuti oleh 132 pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara. The Honorable Mention Project merupakan penghargaan penghormatan terhadap project yang membahas tentang isu terkini di dunia. Adil, sapaan akrabnya berkata bahwa pada acara tersebut ia dan tim membentuk social project bernama Action.id (climate change organization). “Seperti yang kita tahu, masalah tentang lingkungan telah menjadi isu global yang sulit teratasi. Karena hal itu, kami memberi solusi untuk membentuk sebuah organisasi yang bergerak di bidang lingkungan. Organisasi tersebut kami beri nama Action.id,” ujar mahasiswa Pendidikan Agama Islam tersebut. Lebih lanjut, Adil menjelaskan beberapa program yang ada di Action.id tersebut. Program unggulan dalam projek tersebut bernama Action Challenge. Program ini akan berisi lomba mengenai inovasi dan teknologi terbarukan untuk mengatasi masalah lingkungan dan perubahan iklim. “Selain program unggulan tersebut ada beberapa program lainnya seperti open volunteer untuk melakukan pelestarian alam, membuka donasi untuk membantu sosok-sosok inspiratif yang kurang terekspos. Selain itu juga membantu UMKM dalam menjual barang ramah lingkungan serta sesi sharing melalui webinar,” jelas mahasiswa asal Sumbawa tersebut. Adil berkata bahwa perjuangan untuk sampai di konferensi tersebut sangat luar biasa. Mulai dari  pendaftaran hingga mencari dan mendapatkan sponsor sendiri untuk berangkat ke Turki. “Ketika sampai di Turki, saya harus segera beradaptasi dengan iklim serta makanannya. Meskipun tidak mudah, tapi saya sangat bersyukur karena banyak orang yang mendukung saya, terutama orang tua dan keluarga,” kata anak pertama dari tiga bersaudara itu. Saat ini Adil telah kembali ke Malang setelah menjalani karantina selama dua minggu di Jakarta. Adil mengungkapkan bahwa dirinya akan fokus ke Non-Governmental Organization (NGO) bidang pendidikan yang dirintisnya di Nusa Tenggara Barat (NTB). “Pendidikan di NTB menempati peringkat kedua terbawah di seluruh provinsi di Indonesia. karena hal tersebut, saya dan teman-teman membentuk organisasi bernama Sasambo Youth Education (SYE). Saya harap dengan apa yang saya lakukan sekarang dapat meningkatkan kualitas pendidikan di NTB kedepannya,”  tandasnya. (syi/wil)

Kuliah Umum Era Disrupsi, Rentetan Student Day Yang Menginspirasi

Dalam rangka memotivasi dan memberi gambaran masa depan kepada mahasiswa baru, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan kuliah umum di rangkaian acara Student Day. Acara yang dilaksanakan pada Sabtu (3/4) ini menghadirkan tiga pemateri terkenal yaitu Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., President Director of PT. Pelindo Marine Service Umar, ST.,M.M., dan General Manajer PT. Agribisnis Global Grup Afan Afandia. Dalam paparannya, Mu’ti mengatakan bahwa saat ini masyarakat sedang berada di zaman disrupsi. Zaman di mana semua hal berubah dengan sangat cepat. Oleh karenanya Mu’ti membagikan beberapa saran agar para mahasiswa baru dapat memiliki jiwa kemajuan yang tinggi. “Di zaman disrupsi seperti ini, kerja keras dan kreativitas sangat diperlukan. Maka dari itu, perlu adanya pandangan positif di segala situasi. Pandangan positif akan memberikan kita energi untuk melalui masa yang buruk nan sulit. Selain itu kita harus menjadi orang yang memiliki pikiran yang terbuka. Jika kita memiliki pikiran yang terbuka akan mendorong diri untuk melakukan suatu perubahan yang baik ke depan,” ujar Abdul. Di sisi lain Umar mengatakan bahwa dalam menghadapi era 4.0 perlu adanya personal branding yang baik dari para mahasiswa. Personal brading yang baik akan menciptakan kesempatan-kesempatan yang bagus bagi mereka di dunia kerja nantinya. “Dalam membangun personal branding, ada beberapa hal yang harus kita lakukan. Beberapa di antaranya yakni mengasah skill, memperbanyak pengalaman, serta memperbaiki sikap kita pada orang sekitar. Personal branding tidaklah mudah, harus fokus dan konsisten ketika mengerjakan hal-hal itu,” jelas Umar. Sementara itu, ketua pelaksana kuliah umum Student Day, Sunardi, S.Kep.Ns., M.Kep, berkata bahwa acara ini diadakan agar para mahasiswa baru memiliki pandangan terkait dunia perkuliahan dan dunia kerja nantinya. “Dengan menghadirkan narasumber-narasumber yang hebat, kami berharap para mahasiswa baru menjadi termotivasi sehingga menjadi pemimpin yang kuat di masa yang akan datang,” pungkasnya. (syi/wil)

Giat Bantu Daerah Kekurangan Air, Markas Dakwah UMM Bangun Sumur

Pandemi bukan menjadi halangan dalam berdakwah dan menebar kebaikan. Begitupun yang dilakukan oleh Markaz Dakwah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini mereka memberikan bantuan berupa pembangunan sumur di daerah-daerah yang membutuhkan, terutama kampung yang susah akan air. Program bantuan sumur ini menjadi program baru dan mulai dilaksanakan dari bulan Februari tahun 2021. Jamal, S.HI., M.Sy selaku kepala Markaz Dakwah menjelaskan bahwa program ini awalnya adalah bantuan pembangunan masjid yang akhirnya diubah menjadi bantuan sumur karena pelbagai faktor. Beberapa di antaranya yakni pandemi Covid-19 yang tak kunjung membaik. Hal itu membuat jumlah dana program ini berkurang karena transfer uang antar negara dibatasi saat pandemi. “Program yang awalnya bantuan masjid diubah menjadi sumur karena melihat donatur program kami yang berasal dari Arab. Mereka sangat termotivasi membangun sumur karena sesuai dengan hadist Rasulullah bahwa shodaqoh terbaik adalah membangun masjid dan sumur,” jelas Jamal. Dia kembali menambahkan program bantuan sumur ini telah terealisasi di beberapa daerah yang membutuhkan. Banyuwangi, Lumajang, dan Probolinggo menjadi daerah yang mendapatkan bantuan sumur karena daerahnya yang relatif susah akan air. Program bantuan sumur ini juga dilengkapi dengan bor, pipa, keran dan mesin pompa air. “Kami memang berniat memberikan bantuan sumur ke daerah yang membutuhkan. Mengingat Malang yang memiliki air yang melimpah, jadi kami fokuskan ke daerah-daerah tersebut,” ungkap pria kelahiran Banyuwangi ini. Ia berharap bantuan sumur  kepada masyarakat yang membutuhkan ini dapat mengubah sterioptip masyarakat akan Muhammadiyah yang dinilai condong pada aspek akademik. Pandangan awal Muhammadiyah yang hanya fokus di pendidikan dapat berubah menjadi Muhammadiyaha yang juga memberikan bantuan serta manfaat bagi masyarakat sekitar. Selain itu, Jamal juga menuturkan bahwa para donatur sangat menyukai program tepat guna seperti masjid dan sumur. Terakhir, ia juga berharap program bantuan ini dapat mempermudah kehidupan manusia terutama kebutuhan akan air. Selain itu juga sebagai bentuk syiar Islam yang dilakukan oleh Muhammadiyah. “Semoga dengan adanya bantuan sumur ini masyarakat tidak lagi kesusahan dalam kebutuhan air dan juga menebar dakwah serta syiar Muhammadiyah,” pungkasnya. (haq/wil)

Angkat Kisah Perjuangan Anak, Mahasiswa UMM Sabet Juara Satu Kompetisi Film Nasional

Setelah berhasil menyabet penghargaan di festival film pendek Indodax Short Film Festival pada 2020, Meraki Visual kembali mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di kancah nasional. Kali ini Meraki berhasil meraih juara satu dalam Yamaha Musik Short Movie Competition pada Selasa (30/03) dengan film berjudul Rekah. Film Rekah sendiri mengisahkan tentang perjuangan seorang anak yang ingin menyembuhkan ayahnya dari penyakit stroke ringan dengan menggunakan terapi musik. Sutradara film Rekah, Kiki Rahma Ardiansyah, berkata bahwa ide cerita tersebut diperoleh dari sang penulis naskah film Ardian Esa Ramadhan Wahyudy. “Awalnya kami satu tim berdiskusi untuk membuat cerita yang bertema musik. Lalu Ardian memiliki ide untuk menghadirkan perjuangan seorang anak yang awalnya tidak  berbakat di bidang musik, namun akhirnya belajar musik demi menyembuhkan sang ayah,” kata mahasiswa kelahiran Malang tersebut. Mahasiswa Ilmu Komunikasi tersebut bercerita pembuatan film Rekah memakan waktu satu bulan dari sebelum produksi hingga menjadi sebuah film. Namun untuk proses produksinya sendiri hanya memakan waktu satu hari. Meski begitu, ia dan tim menemui banyak kendala dalam proses pembuatannya. “Karena kami syutingnya hari Jumat, kami harus mulai dari pagi untuk menghemat waktu. Selain itu, film ini hanya terdiri dari dua scene dan masing-masing hanya mengambil satu shot saja. Kami juga harus mengambil gambar berulang kali karena objek susah difokuskan,” jelas anak terakhir dari dua bersaudara tersebut. Sementara itu, produser film Rekah, Udaimatun Nur Farahin menjelaskan banyak pihak yang membantu hingga mereka bisa memenangkan kompetisi tersebut. Peran sponsor sangat membantu untuk pendanaan di setiap divisi. “Pada awal Meraki baru terbentuk, kami menggunakan dana pribadi untuk membuat film. Namun sekarang sudah ada sponsor yang membantu kami. Sekarang, kami juga telah memiliki kas sendiri untuk kegiatan produksi film yang akan datang,” ujar Farah. Farah dan kru juga memiliki keinginan besar untuk membuat Meraki menjadi wadah bagi semua yang ingin belajar tentang film dan ingin mengembangkan bakatnya di dunia perfilman. “Kami berharap bisa menghasilkan karya-karya lainnya. Semoga dengan hadirnya Meraki dapat memacu lahirnya banyak film maker baru di Malang,” pungkas mahasiswa Ilkom UMM tersebut. Selain Kiki, Farah, dan Ardian, ada tujuh kru lainnya yang ikut membuat film Rekah yaitu M. Mizan Sya’ Roni, Dwi Cahyo Septoadi, Muhammad Ammar Nashshar Yusuf, Two Bagus Surya Saputra, Aldi Novandi Putra, Reyhan Rahmadhan, dan Izzuddin Febrianta. (syi/wil)