UMM Hadirkan Founder Samator Group di Wisuda, Bagikan 7 Kunci Sukses

Gelaran wisuda Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) kembali dilangsungkan pada Selasa (4/6) di Dome UMM. Kali ini Founder Samator Group, Ir. Arief Harsono, MM. M.Pd.B didapuk untuk menceritakan kisah suksesnya di hadapan para wisudawan yang hadir. Adapun wisuda ini digelar secara luring dengan mematuhi protokol kesehatan dengan ketat. Menyampaikan sambutan, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM memberi selamat kepada wisudawan yang akan segera dikukuhkan. Ia berharap agar ilmu dan pengalaman yang didapat bisa bermanfaat dan berkah bagi masyarakat. Selain itu juga menjadi bekal menghadapi masa depan yang semakin tidak menentu. Fauzan juga berpesan agar para wisudawan tidak mudah puas dengan ilmu dan pengalaman yang dipunya. Selalu berkembang agar mampu menjawab tantangan zaman. “Tidak ada pilihan lain kecuali dengan menanamkan mindset yang fleksibel. Semoga bisa menjadi awal dari kesuksesan saudara-saudara,” ungkapnya. Sementara itu, Arief, panggilan akrabnya memulai kisah sukses dengan menceritakan masa mudanya. Ia bercerita bahwa pabrik pertama yang ia dirikan bergerak di bidang gas, tepatnya gas asetilen. Pabrik itu ia dirikan pada tahun 1975 berlokasi di Gresik. “Berawal dari satu pabrik, kini sudah ada 150 cabang yang tersebar di 30 provinsi di Indonesia. Tidak hanya di satu bidang saja, tapi merambah ke berbagai bidang dan produk,” ceritanya. Lebih lanjut, Arief menjelaskan bahwa hasil yang ia nikmati sekarang bukanlah keberuntungan semata. Perjalanan bisnisnya tidak semulus yang dibayangkan. Bahkan tidak ada modal yang ia terima dari orang tuanya. “Pada waktu itu saya memilih bekerja dulu dan meminta untuk diperbolehkan pergi ke tempat yang tidak ada keluarga dekat. Hal itu sebagai bukti bahwa saya bisa bertahan hidup tanpa bantuan keluarga,” ungkapnya. Pada agenda wisuda tersebut, Arief juga sempat memberikan wejangan berupa tujuh kunci kesuksesan. Hal pertama adalah menentukan tujuan. Menurutnya, tanpa tujuan kita tidak akan bisa bergerak ke arah yang benar serta tidak bisa menentukan keputusan yang tepat. Adapula kunci yang kedua yakni kesempatan. Ia mengatakan bahwa kepekaan adalah modal utama dalam mendapatkan kesempatan. action. Menurutnya, percuma bisa menemukan berbagai kesempatan jika tidak ada hal yang dilakukan. “Tidak akan ada hasil yang bisa didapat jika tidak ada action yang diambil. Dulu, ketika saya tahu ada kesempatan di bidang gas, saya langsung menyusun strategi. Mulai dari apa saja yang dibutuhkan, siapa saja yang bisa diajak menjadi partner hingga menentukan gaya manajemen yang cocok,” tuturnya. Adapula hal lain yang diperlukan untuk sukses menjalan bisnis yakni kepercayaan diri. Ia mengungkapkan bahwa masa muda tanpa ada sokongan harta dan pengalaman adalah hal yang menyeramkan. Namun semua itu ia terjang demi mencapai tujuan yang telah ia tentukan. Kegigihan juga menjadi hal krusial dalam hidup. “Banyak orang yang tidak mampu menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai. Maka kegigihan harus kita tanamkan sejak dini,” tegasnya. Kunci keenam dan ketujuh yakni koneksi dan kontribusi. Koneksi tidak hanya menyangkut hal bisnis saja, namun juga menjadi esensi dalam menjalani hidup sebagai makhluk sosial. Menurut Arief, hal yang tidak boleh dilupakan adalah kontirbusi, baik bagi masyarakat maupun lingkungan. “Sekali lagi saya tekankan bahwa sukses bukanlah suatu kebetulan. Kesuksesan adalah buah dari usaha, kerja keras, doa, dan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa,” pungkas Arief di akhir kisahnya. (wil)
Mobil Kaca dan Bioling UMM Edukasi Masyarakat Probolinggo

Kembali melanjutkan roadshow, Mobil KaCa dan Bioling Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir di tengah masyarakat, tepatnya di salah satu Panti Asuhan di Probolinggo. Bergerak dengan semangat menebar literasi melalui tayangan edukatif, UMM bersama Pemerintah Kota Probolinggo melangsungkan acara nonton bareng film ”Dua Ulama” bersama masyarakat sekitar pada Jumat (2/4). Selain itu juga memberikan edukasi menyenangkan bagi anak-anak melalui outbond dan kegiatan English for Young Learner pada siang harinya. Membuka agenda nonton bareng, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Probolinggo menyampaikan bahwa acara ini adalah salah satu wadah dalam menebar manfaat serta kebaikan bagi umat. Tidak sebatas di satu organisasi saja, tapi juga untuk seluruh lapisan masyarakat yang ada. ”Semoga saja ini bisa menjadi awal dari jalan panjang kemanfaatan bagi sesama. Khususnya dalam kehidupan beragama dan berketuhanan tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lainnya,” jelasnya melanjutkan. Sekaligus dalam rangka memperingati hari Film Nasional ke-100, UMM juga terus berkomitmen untuk menjelma menjadi instansi pendidikan yang hadir di berbagai kegiatan. Salah satunya dengan menyediakan tayangan-tayangan bermutu yang memberikan nilai positif. ”Peringatan hari film ini tentunya bisa menjadi inspirasi untuk kita semua dalam memulai dan meneruskan perjuangan dua ulama ini. Selalu menjadi sumber kebaikan di setiap jejak langkah dan perjalanan hidupnya,” ungkap Walikota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin. Walikota yang menjabat sejak tahun 2019 itu menyatakan bahwa keberadaan film sebagai sarana edukasi harus terus dilakukan. Melalui instansi pendidikan, ia berharap akan ada berbagai film yang bisa membawa angin segar bagi seluruh lapisan masyarakat. Menyapa masyarakat secara langsung, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM tanpa ragu mengamini harapan tersebut. Ia mengatakan bahwa agenda nonton bareng yang sudah berjalan beberapa lama ini juga sejalan dengan semangat UMM untuk berbagi ke penjuru negeri dengan berbagai aktivitas. ”UMM mengemban amanah besar untuk menjadi pionir dalam memberikan edukasi di tengah masyarakat. Semangat itu berangkat dari slogan kami, yakni dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” pungkasnya. Sebelumnya, roadshow tersebut diawali dengan kegiatan outbound yang diikuti oleh seluruh penghuni panti. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah belajar bahasa Inggris bersama. Ghianina Pertiwi, peserta agenda English for Young Learners, mengatakan bahwa ia merasa gembira bisa belajar bahasa Inggris dengan menyanyi. “Sudah lama kami tidak masuk sekolah karena pandemi. Senang sekali rasanya bisa bisa bermain lagi. Ada bonus hadiah juga dari kakak-kakak,” ujar siswa kelas enam SD ini. Rangkaian acara nonton bareng ditutup dengan penandatanganan plakat Gerakan Bersama Mendukung Film Edukasi yang Berkualitas oleh Walikota Probolinggo, Rektor UMM, Lembaga Sensor Film RI serta Ketua PDM Kota Probolinggo, (wil)
Beri Bekal Para Sarjana, Wisuda UMM Hadirkan Head of Human Capital PT Charoen Pokphand

Gelaran wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali dilangsungkan pada Sabtu (3/4). Sama seperti periode sebelumnya, wisuda kali ini dilaksanakan secara daring dan luring dengan protokol kesehatan yang ketat. Kali ini giliran Ir. Syafri Afriansyah, MBA selaku Head of Human Capital for Poultry Business PT Charoen Pokphand Indonesia yang didapuk untuk memberi success story. Mengawali wisuda, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM mengatakan bahwa ilmu dan pengalaman yang mahasiswa dapatkan ketika kuliah bisa menerangi kehidupan masyarakat. Mampu membangun keindahan dan kedamaian bagi sesama. Ia juga menuturkan bahwa wisudawan akan menghadapi kondisi yang dinamis dan susah ditebak. Maka dari itu diperlukan berbagai mindset agar bisa bertahan. Salah satunya kemampuan beradaptasi yang baik. “Tidak ada opsi lain yang bisa dipilih. Mau tidak mau kita harus selalu memperbarui pengetahuan dan pengalaman. Selalu berusaha menjadi problem solver dan mengambil peran dalam perubahan baik,” tegasnya. Sementara itu, Syafri memulai success story speech-nya dengan kisah seorang profesor dan tukang perahu. Ia menceritakan bagaimana sang profesor tersebut selalu bertanya kepada tukang perahu tentang geografi, geologi dan biologi. Tentu saja tukang perahu sama sekali tidak mengetahuinya. Terlebih lagi sang profesor berkata bahwa tukang perahu telah menyia-nyiakan sebagian besar hidupnya. Hingga akhirnya di penghujung sungai perahu terguling dan membuat keduanya jatuh. Tukang perahu bertanya apakah profesor bisa berenang. Jika tidak, maka ia telah menyianyiakan hidupnya. “Kisah ini ingin memberi tahu kita bahwa softskill dan hardskill harus berjalan beriringan agar kita mampu mencapai kesuksesan,” terangnya lebih lanjut. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ada banyak pilihan usai menyelesaikan studi. Pawa wisudawan bisa memilih menjadi pegawai negeri, swasta, berwirausaha maupun yang lainnya. Meksi begitu perlu diketahui bahwa ancaman pengangguran masih mengintai. Menurut data statistik 2019, ada kenaikan pengangguran dari para sarjana, apalagi di tengah pandemi seperti saat ini. Ada sekitar 2,8 juta pekerja yang terdampak dengan adanya Covid-19. Maka para sarjana perlu menyiapkan berbagai skill agar bisa bertahan di tengah era disrupsi. Logika berpikir yang baik adalah salah satunya. Adapula kerativitas dan problem solving yang nantinya bisa menopang para wisudawan. “Menurut survey yang saya temukan, ada kemampuan lain yang harus dimiliki. Beberapa di antaranya work ethic, collaboration, good communication, social responsibility, critical thinking serta problem solving,” tambah Syafri. Ia juga berpesan kepada wisudawan bahwa dunia kerja masa depan sangatlah kompetitif. Tidak akan ada yang akan membayar kita hanya karna memiliki ijazah. Tidak ada alasan juga untuk tidak mengetahui perkembangan zaman. Terakhir, ia juga mengatakan bahwa kompetisi dalam dunia kerja tidak hanya terbatas di tempat kita tinggal. Dalam kesempatan yang sama, sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Drs. H. Wakidi menuturkan agar para wisudawan bisa menjaga nama baik almamater. Apalagi setelah ditetapkannya UMM sebagai kampus Islam terbaik di dunia. “Selalu jaga nama baik kampus dengan ketakwaan pada Tuhan, pandai bersyukur, berbakti kepada orang tua dan memiliki akhlaqul karimah,” harapnya kepada wisudawan. (wil)
UMM Kembangkan RS Darurat Penanganan Covid-19

Telah lama memiliki Rumah Sakit, kini UMM ditunjuk untuk mengembangkan RS darurat penanganan Covid-19 yang berlokasi tidak jauh dari RS UMM. Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi. M.M. diundang untuk meletakkan batu pertama pembangunan RS tersebut pada Senin (5/4). Hadir pula Wakil Bupati, Kapolres Malang, Komandan Kodim 0818 Malang-Batu serta beberapa undangan lainnya. Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM menyampaikan ucapan terima kasih kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kemenkes yang sudah membantu untuk merealisasikan pembangunan RS Covid tersebut. Begitupun dengan dukungan dari Bupati beserta jajaran, Rumah Sakit UMM, WIKA dan Yodya Karya. “Pembangunan RS ini menjadi tekad kami agar Malang, Indonesia serta dunia bisa segera bebas dari Covid-19,” harapnya dalam sambutan. Dalam kesempatan yang sama, Drs. H. M Sanusi, M.M. selaku Bupati Malang mengapresiasi UMM berkat usahanya yang sangat responsif dalam penanganan pandemi. Tidak hanya dalam beberapa bulan ini saja tapi juga sejak pertama kali pandemi Covid-19 menyebar. “Banyak pihak yang mendukung dalam penanganan pandemi ini hingga akhirnya angka corona menurun. Data terakhir yang saya dapat hanya tinggal 60 dari 14.600 RT di Kabupaten Malang yang masih kuning. Sisanya sudah menjadi wilayah hijau,” terangnya. Sanusi juga berharap agar UMM bisa terus berkontribusi di semua bidang. Tidak hanya berhenti di usaha di penanganan covid saja. Tapi juga terus eksis dalam kepekaan kebutuhan masyarakat sekitar. Dalam acara peletakan batu pertama RS darurat tersebut, adapula laporan dari Kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur yang disampaikan oleh Reva Sastrodiningrat. Ia menjelaskan bahwa pengembangan RS ini merupakan upaya untuk menangani Covid-19, khususnya di wilayah Malang Raya. Apalagi melihat jumlah pasien Covid-19 di Indonesia yang mencapai 1.534.255 orang per tanggal 4 April. “Adapula sekitar 140.331 pasien positif yang ada di Jawa timur. Sejumlah 10.346 di antaranya berada di wilayah Malang Raya,” tuturnya lebih lanjut. Berdasarkan data tersebut, akhirnya beberapa rumah sakit ditunjuk untuk menjadi RS rujukan virus corona. Salah satunya adalah RS UMM. Adapun pengembangan rumah sakit darurat penanganan Covid-19 akan dilakukan di atas lahan seluas 8.000 meter persegi. Nantinya akan disediakan sejumlah 65 bed untuk ruang observasi serta delapan bed diperuntukkan sebagai ruang isolasi. Selain itu juga ada ruang screening dan fasilitas penunjang lainnya. Reva kembali menuturkan bahwa pembangunan RS darurat tersebut juga menjadi bagian dari program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyediakan RS khusus Covid-19. Sebelumnya, telah dibangun beberapa rumah sakit serupa yang berlokasi di Pulau Galang, RSUD dr. Soegiri Lamongan, RSUD Zainul Abidin Kota Banda Aceh dan beberapa tempat lainnya. Jangka waktu pembangunan RS darurat tersebut diharapkan bisa selesai dalam jangka waktu 45 hari. Adapun seumber pendanaan akan menggunakan dana siap pakai BNPB. “Harapannya pembangunan RS ini bisa terlaksana secara tepat, baik dari segi biaya, mutu serta tepat waktu 45 hari. Selain itu, semoga bisa segera dijalankan serta didukung dengan peralatan dan tenaga kesehatan yang memadai,” ungkapnya. Pada akhir laporan, Reva juga berharap agar pembangunan RS tersebut dapat senantiasa dipelihara dengan baik. Sekalipun nanti ketika pandemi sudah menurun dan berakhir. “InsyaAllah RS ini nantinya akan dijadikan sebagai RS penyakit infeksius di Kabupaten Malang ketika pandemi usai,” pungkasnya di akhir laporan. (wil)
Self Planning Kunci Sherly Raih Predikat Wisudawan Terbaik

Meraih Indek Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna di perkuliahan tidaklah mudah. Butuh perjuangan keras dan kedisiplinan yang tinggi. Begitupun yang dialami oleh Sherly Lola Zuraida. Berkat usahanya yang tdak pernah putus, ia dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode I tahun 2021. Saat ditemui, Sherly, panggilan akrabnya, bercerita bahwa semua berawal dari raihan Indeks Prestasinya (IP) di semester pertama. Ia tidak menyangka mampu mendapatkan angka yang tinggi di hasil perkuliahannya. “Saya sangat kaget waktu itu. Padahal saya hanya memiliki target yang penting bagus. Apalagi mengingat kemampuan saya yang masih kalah dengan yang lain,” kenangnya. Angka 4 tersebut akhirnya memacu Sherly untuk terus belajar dan berusaha agar bisa mempertahankan nilai semester satu. Semester demi semester ia lalui dengan begitu lancar. Ia menuturkan bahwa semua tak lepas dari dukungan dan doa orang tua. Ditanya ihwal cara belajar, anak sulung dari tiga bersaudara ini mengaku tidak ada yang istimewa. Tapi ada satu hal yang selalu ia lakukan setiap hari yakni membuat perencanaan. Ia selalu membuat jadwal serta daftar tugas yang harus ia selesaikan. “Bukankah perencanaan adalah awal dari kesuksesan? Saya sudah terbiasa melakukannya sejak kecil. Merencanakan kegiatan membuat saya tidak grusa-grusu dalam menjalani hari,” terang wisudawan jurusan manajemen itu. Selain membuat rencana, ia kembali menyampaikan kiat yang kedua yaitu menyempatkan belajar walau terpaksa. Menurutnya, memaksa diri untuk belajar adalah kunci. Mungkin di awal akan terasa berat tapi lama kelamaan akan berubah menjadi ringan. Tidak jarang ia malah menyukai kegiatan tersebut. Wisudawan yang bercita-cita untuk menjadi dosen itu membocorkan kiat belajarnya yang ketiga. Ia menuturkan bahwa berdiskusi adalah cara paling ampuh untuk belajar. Dalam perjalanan akademisnya, ia sering mengajak teman-temannya untuk bertukar pikiran terkait mata kuliah. Apalagi semenjak menjadi asisten laboratorium. “Iya, saya punya grup belajar sendiri. Biasanya kami bertemu dan mengobrol materi-materi perkuliahan. Sayangnya, semenjak Covid-19 intensitas pertemuan kami berkurang,” ungkapnya. Lebih lanjut, Sherly tidak menampik bahwa semua kemudahan yang ia peroleh adalah berkat doa kedua orang tuanya. Meski orang tua jarang menampakkan supportnya, namun ia yakin doa adalah faktor penting dalam capaiannya hingga kini. “Semoga raihan yang saya peroleh bisa semakin memacu teman-teman lain dalam belajar. Boleh saja sibuk kegiatan lainnya, tapi jangan pernah lupakan kewajiban sebagai mahasiswa untuk belajar. Alhamdulillah saya mendapatkan bonus bisa membanggakan ayah dan ibu,”pungkasnya di akhir sesi wawancara. (wil)
Raih Wisudawan Terbaik, Kepala BPTPH Kalteng Siap Berkontribusi

Lahir di tengah keluarga petani, membuat Baini ingin terjun ke dunia pertanian sejak kecil. Cita-cita pria kelahiran Barito Selatan tersebut ia wujudkan dengan mengenyam pendidikan sarjana di bidang pertanian. Tidak puas dengan gelar sarjana pertanian, Ia memutuskan untuk mengambil studi Magister Administrasi Publik. Hingga akhirnya, ia kini diwisuda sebagai doktor di wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan predikat wisudawan terbaik. Baini yang juga menjabat sebagai kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Tengah menceritakan bahwa proses studi doktoralnya tergolong lancar. Meski di tengah pandemi, seluruh informasi terkait pendidikan doktoralnya bisa diperoleh dengan mudah berkat adanya teknologi yang kian maju. “Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti. Selama kita menganggap pekerjaan itu ringan, Insyaallah akan diberikan kemudahan dalam prosesnya,” ungkap Baini. Dalam disertasinya, ia meneliti mengenai tindakan penyimpangan dalam distribusi pupuk, khususnya di Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau. Ia mengaku mendapat banyak keluhan dari petani karena harga pupuk yang melambung tinggi. Bahkan beberapa kali terjadi kelangkaan pupuk, padahal musim tanam sudah tiba. Lebih lanjut, anak ketiga dari lima bersaudara tersebut mencoba mencari tahu titik akar permasalahan terkait penyimpangan distribusi pupuk bersubsidi. Kemudian mencari solusi yang tepat agar persoalan yang sama tidak terjadi lagi di masa depan. Ia menyarankan kepada para petani untuk segera membentuk kelompok tani agar bisa memperoleh pupuk bersubsidi. Selain itu kerja sama antar instansi dalam bidang pertanian juga harus lebih diperkuat. Usai menyelesaikan studinya, Baini berharap seluruh ilmu dan pengalaman yang ia dapat selama belajar di UMM bisa memberikan dampak positif untuk masyarakat luas. Terutama bagi dunia pertanian di mana ia berkecimpung. “Semoga penelitian yang sudah saya selesaikan bisa mengurangi permasalahan yang ada, baik di wilayah saya maupun Indonesia secara umum. Saya juga siap berkontribusi dan memberikan inovasi demi kebaikan bersama,” terangnya lebih lanjut. Tak lupa, wisudawan doktor UMM tersebut juga berterimakasih kepada banyak pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan studinya. Utamanya adalah istri dan anaknya yang tidak pernah lelah mendukung dan memotivasinya. Di samping itu juga kepada Gubernur Kalimantan Tengah yang sudah memberikan beasiswa penelitian sehingga ia bisa menyelesaikan studinya dengan baik. “Terima kasih pula saya sampaikan pada Rektor UMM dan jajarannya. Selesainya disertasi saya tentu berkat bantuan dari berbagai pihak,” pungkasnya di akhir sesi wawancara. (wil)
Kegiatan Internasional UMM Antar Faraj Terbang ke Polandia

Tumbuh di lingkungan yang sederhana membuat Firdaus Faraj Ba-Gharib menjadi pribadi yang mandiri sejak kecil. Didikan sang ibu memacu Farah untuk terus berkompetisi, mengikuti perlombaan dan meraih berbagai prestasi. Mahasiswa akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini bercerita bahwa sejak kecil ibunya tidak pernah memberikan Faraj barang secara cuma-cuma. “Jadi konsepnya itu take and give. Dulu ketika Sekolah Dasar (SD) saya pernah minta buat dibeliin Crayon Titi yang isi 55 dan itu mahal sekali. Ibu saat itu bertanya apa yang bisa saya berikan ke ibu, jika ibu membelikan crayon itu. Lalu saya belajar mati-matian agar bisa memenangkan lomba menggambar setelah dibelikan Crayon Titi,” kenang Faraj. Hal tersebut terus berulang hingga Faraj menjadi mandiri dan terbiasa dengan berbagai perlombaan. Meskipun begitu, kadang usaha dan hasil yang Faraj dapatkan tidak setimpal. Faraj berkata bahwa masa transisi dari Sekolah Menengah Atas (SMA) ke bangku perkuliahan merupakan hal yang paling sulit. “Banyak hal yang tidak bisa saya capai pada saat itu, termasuk untuk berkuliah di jurusan psikologi. Namun saya tidak berlama-lama terpuruk dan mulai membiasakan diri dengan perkuliahan. Ternyata Allah SWT memberikan banyak kejutan setelah saya masuk akuntansi UMM,” kata mahasiswi kelahiran Bogor tersebut. Faraj mulai mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai organisasi dan perlombaan. Terhitung sudah enam organisasi yang diikutinya selama tiga tahun berkuliah di UMM. Saat terjun di International Relations Office (IRO) UMM, pengetahuan Faraj tentang luar negeri menjadi bertambah. Terutama mengenai beasiswa luar negeri. Berbeda dengan peserta lain, Faraj mendapat beasiswa Erasmus ke SGH Warsaw School of Economics polandia pada sekali percobaan. “Alhamdulillah saya langsung diterima ketika mendaftar beasiswa ini. Dari prinsip yang ibu saya tanamkan, saya jadi suka ikut lomba dan berorganisasi. Tanpa sadar Curriculum Vitae (CV) saya telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh Erasmus ketika saya mendaftar,” ujar Faraj. Sekarang Faraj sedang menikmati perkuliahannya di Polandia. Faraj mengungkapkan bahwa selain mengambil mata kuliah di Polandia, ia juga mengambil mata kuliah secara online di UMM pada semester ini. Meskipun banyak adaptasi yang harus dilakukan, ia menganggap bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk berkembang dan memperoleh pengalaman. “Sampai pada titik ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Banyak hal yang saya pelajari, terutama dalam hal mengatur prioritas di saat banyak kegiatan. Dukungan keluarga juga membuat saya terus terpacu untuk berkembang. Kedepannya saya berharap bisa mendapat kesempatan untuk belajar ke luar negeri lagi,” harapnya. (syi/wil)
Tekan Angka TBC-RO, RS UMM Jadi Rumah Sakit Rujukan

Kasus tingginya penyakit tuberkulosis membuat Indonesia bertengger di peringkat kedua dunia setelah India. Bahkan sebagian dari jumlah penderita yang tinggi tersebut telah mengalami resistensi obat (TBC-RO). Sayangnya, hanya sekitar 49 persen pasien saja yang sudah memulai pengobatan. Melihat hal itu, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bekerja sama dengan USAID Amerika menyusun program Mentari. Program ini bertujuan untukm membentuk jaringan rumah sakit rujukan layanan TBC-RO. Salah satu rumah sakit yang ditunjuk adalah RS Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ditemui di kantornya, dr. Thahrir Iskandar Sp.P. selaku dokter spesialis paru RS UMM menjelaskan bahwa penunjukan ini adalah hasil dari keberhasilan RS UMM dalam menyembuhkan pasien TBC. Proses penyembuhan tersebut tentu berkat kerja keras berbagai pihak. Selain itu, pemilihan ini memang langsung dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan juga USAID tanpa ada pengajuan. Thahrir melanjutkan, Program Mentari juga merupakan bentuk kontribusi Muhamamadiyah bagi bangsa dan negara. Seiring berjalannya program ini, Muhammadiyah berusaha sebaik mungkin untuk menekan dan menurunkan angka pengidap TBC di Indonesia. “Program penanggulangan TBC ini rencananya akan berjalan dari tahun 2020 hingga 2030. Harapannya selama 10 tahun tersebut penderita TBC bisa berkurang signifikan,” tuturnya. Doker Spesialis paru ini kembali menjelaskan bahwa TBC-RO ini berbeda dengan TBC pada umumnya. Penderita TBC-RO lebih kebal terhadap obat ketimbang yang biasa. Hal ini membuat obat yang diberikan tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Penanganannya juga lebih sulit dan kompleks ketimbang TBC pada umumnya. Pada akhir sesi wawancara, Thahrir berharap bahwa dengan adanya program Mentari, angka pengidap TBC yang melambugn tinggi bisa segera menurun. Utamanya angka pednerita TBC-RO. Ia juga ingin agar RS UMM bisa menjadi opsi masyarakat untuk berobat tanpa harus bergantung kepada RS Negeri. “Semoga ditunjuknya RS UMM sebagai salah satu RS Program Mentari bisa menambah opsi masyarakat dalam hal kesehatan. Khusunya bagi mereka yang ada di Malang,” pungkas Dokter RS UMM tersebut. (haq/wil)
Mahasiswa UMM Rancang Aplikasi Kesehatan Mental

Pandemi tak hanya berdampak pada kesehatan dan perekonomian, tetapi juga pada psikologis masyarakat. Melihat hal itu, Clara Demmy Dwi Anisha Imansari, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rancang aplikasi berbasis kesehatan mental bernama PAUT.ID. Prototipe aplikasi ini berhasil meraih juara satu pada lomba Inovasi Health Hackathon 2021 pada Minggu lalu (28/03). Tak sendiri, dalam proses pembuatannya Clara dibantu oleh empat anggota tim lainnya yang berasal dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Nusa Cendana (UNDANA), Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Clara berkata bahwa awalnya dia tidak sengaja menemukan pengumuman lomba ini di email pribadinya. “Saya iseng membuka email dan melihat tentang kompetisi ini. Untungnya, saya masih bisa mendaftar karena hari itu ternyata hari terakhir pendaftaran. Setelah mendaftar kami dikelompokkan menjadi 20 tim, dengan satu tim terdiri dari lima orang,” jelas mahasiswa asal malang tersebut. Dalam perlombaan tersebut, para peserta dituntut untuk membuat inovasi di bidang kesehatan masyarakat. Clara bercerita bahwa dirinya dan tim memutuskan untuk berinovasi di bidang kesehatan mental. Hal ini dipilih karena kesehatan mental dinilai penting di masa pandemi. Selain itu masyarakat Indonesia juga belum begitu akrab dengan hal ini. “Karena hal tersebut, kami mempunyai ide untuk menciptakan aplikasi di mana masyarakat dapat bercerita mengenai masalah mental yang sedang dihadapinya,” kata mahasiswa program studi farmasi tersebut. Clara menjelaskan beberapa fitur yang ada di aplikasi PAUT.ID ini. Pertama, ada fitur chating yang membuat pengguna bisa saling berinteraksi secara daring. Kedua, ada fitur konsultasi bersama tenaga ahli di bidang psikologi. Terakhir adapula fitur modul yang memuat saran beberapa aktivitas yang bisa dilakukan selama pandemi. “Fitur-fitur tersebut kami rancang untuk memudahkan masyarakat bercerita terkait kesehatan mental, baik dengan pengguna lain maupun dengan ahli. Selain itu juga untuk menggiring pengguna melakukan hal-hal yang positif,” ujar anak terakhir dari dua bersaudara ini. Dibanding tim lain, tim Clara hanya membutuhkan waktu empat hari untuk menyusun proposal dan membuat prototipe aplikasi. Dalam proses pengerjaannya, tim ini dibagi menjadi dua tim kecil yaitu tim penyusun proposal dan tim penyusun desain serta prototipe. “Jika tim lain membutuhkan waktu dua minggu untuk mempersiapkan proposal, kami hanya membutuhkan waktu empat hari. Selain itu dari semua tim, hanya tim kami yang sampai membuat prototipe. Mungkin itu yang membuat kami mendapat nilai plus di mata juri,” lanjut Clara. Lomba ini merupakan lomba pertama yang Clara ikuti. Dirinya merasa senang dengan pencapaian yang diraihnya tersebut. “Kedepannya saya berharap dapat mengembangkan aplikasi ini. Selain itu saya ingin menginspirasi teman-teman lain bahwa pandemi bukanlah alasan untuk tidak berkarya dan mengembangkan potensi diri,” pungkasnya. (syi/wil)
Dewan Guru Besar Bahas Hilirisasi Inovasi bagi Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah menelurkan beragam inovasi dan rancangan produk yang dibuat oleh dosen maupun mahasiswa. Dalam rangka mendekatkan inovasi dan rancangan produk penelitian tersebut ke masyarakat, Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Mumammadiyah Malang (UMM) adakan lokakarya. Acara tersebut berlangsung di Ruang Sidang Rektor pada Selasa (30/03). Ketua DGB UMM, Prof. Dr. Wahyu Widodo, M.S., mengatakan fokus pembahasan pada lokakarya tersebut adalah bagaimana proses hilirisasi teknologi dan inovasi UMM dapat diterapkan ke masyarakat luas. Dalam lokakarya tersebut juga membahas mengenai kebijakan, strategi dari program hilirisasi ini. Sealin itu juga mengkaji teknis pelaksanaan agar bisa berjalan dengan semestinya. “Sebagai lembaga yang memberi saran kepada rektor, DGB UMM kini telah memfokuskan diri untuk membahas program hilirisasi. Lokakarya ini akan dilakukan selama sebulan ke depan. Salah satu alasannya adalah proses hilirisasi inovasi yang menurutnya kurang optimal. Padahal UMM memiliki segudang ide untuk berkontribusi bagi masyarakat,” ujar dosen kelahiran Trenggalek tersebut. Lebih lanjut, Wahyu kembali bercerita bahwa banyak inovasi yang bisa di hilirisasi ke masyarakat. Produk tersebut bisa berupa prototipe maupun rekayasa teknologi. Regulasi sistem juga bisa menjadi terobosan yang bagus sebagai bentuk pengabdian. Produk-produk tersebut tidak hanya dari pemikiran dosen saja, tapi juga bisa dari ide kreatif para mahasiswa. “Karena ada beragam inovasi dan produk penelitian tersebut, kami membagi tujuan hilirisasi menjadi dua yaitu komersial dan non komersial,” jelas Wahyu. Ia berharap setelah kebijakan-kebijakan terkait program hilirisasi ini selesai dibuat, akan semakin banyak inovasi yang yang diterapkan pada masyarakat. Wahyu juga berharap agar kebijakan ini nantinya akan berjalan secara berkelanjutan. Tidak hanya berhenti dan aktif saat program ini dimulai, tapi juga harus ada kegiatan lebih lanjut agar proses hilirisasi bisa berjalan dengan baik. “Kebijakan ini nantinya bisa semakin mendorong para akademisi di UMM untuk meningkatkan berbagai inovasi terbarukan. Tentu saja dengan aturana yang jelas dan terstruktur. Jadi masyarakat bisa menikmati hasilnya sehingga terciptalah masyarakat yang sejahtera,” pungkas Wahyu di akhir sesi wawancara. (syi/wil)