Dosen UMM Kembangkan Wisata Jamu di Malang

Ada yang menarik dari Desa Karangrejo Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang. Berbeda dengan desa pada umumnya, lokasi ini kini menjadi desa wisata sentra jamu dengan berbagai macam olahan makanan. Hal itu tidak lepas dari sumbangsih tim Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) mereka mengembangkan desa ini menjadi Desa Wisata Jamu sealam 2019-2021. Ketua tim Dosen UMM, Dra. Thathit Manon Andini, M.Hum menjelaskan bahwa semua agenda ini berawal dari program Desa Potensial di tahun 2015. Kemudian terpilihlah Desa Karangrejo sebagai lokasi pengembangan. Ia dan beberapa dosen lainnya juga sempat memaparkan potensi pengembangan jamu dan pangan kreatif sebagai produk unggulan. Terakhir, pada 2021 ini mereka juga telah menjelaskan pada masyarakat agar desa Karangrejo bisa ditingkatkan menjadi desa wisata. Dalam perjalanannya, desa wisata ini tidak lepas dari kendala dan masalah. Salah satunya adalah alat-alat yang digunakan masih tergolong tradisional. Hal itu membuat proses produksi memakan waktu yang cukup lama. Selain itu juga tidak bisa menghasilkan produk yang melimpah, baik produksi jamu maupun keripik. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris ini kembali menuturkan bahwa pihaknya berinisiatif untuk membuat dan memberikan alat pengering Spiner yang digunakan dalam produksi keripik. “Alat pengering tenaga surya yang berkapasitas 5 kilo ini dapat memperlancar produksi dan memperbanyak hasilnya,” ujar Thathit. Di samping itu, produksi jamu yang sebelumnya masih menggunakan penumbuk, kini telah ditingkatkan dengan blender. Aspek pengemasan juga tidak lepas dari pembaharuan. Botol polos yang biasa dipakai kini telah dihiasi dengan beberapa stiker untuk menarik pembeli. Dosen yang juga menjadi Kepala Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (LP3A) ini menjelaskan inovasi lain yang tidak kalah menarik. Jamu yang biasanya hanya berbentuk cair, sekarang sudah dibuat yang berupa serbuk. Jamu serbuk ini diyakini bisa bertahan lebih lama ketimbang yang cair. Usai PPDM berjalan dengan baik, pihak desa akhirnya membentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Karangrejo. Langkah ini dilakukan agar agenda pemberdayaan masyarakat bisa tertata rapi. Sleai itu juga sebagai bentuk usaha agar desa dapat lebih mandiri dan juga ekonomi meningkat. “Semoga Desa Wisata ini bisa mendapat dukungan dari pemerintah, baik daerah maupun pusat. Para akademisi juga diharapkan bisa memberikan inovasi lain dalam pengembangan Desa manapun,”pungkasnya di akhir sesi wawancara. (haq/wil)
Kontribusi Lawan Tifus, Dosen Kaji Vaksin Oral

Tifus atau demam tifoid masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia bahkan dunia. Melihat hal tersebut tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terbitkan karya berupa book chapter Internasional berjudul In-Silico Approach in the Development of Salmonella Epitope Vaccine. Book chapter ini telah diterbitkan oleh IntechOpen pada Februari lalu. Dalam buku tersebut Dr. apt. Hidajah Rachmawati, Sp. FRS apt. bersama dua anggota lainnya Raditya Weka, M. Farm. dan apt. Firasti A.N.Sumadi, M. Biotech membahas tentang vaksin oral untuk mengobati penyakit tifus. Firasti berkata bahwa dalam pembuatan vaksin ada beberapa metode yang dapat dipilih. Dalam pengembangan vaksin ini kami memilih untuk menggunakan vaksin peptida berbasis protein. Mereka memilih vaksin peptida berbasis protein karena dianggap lebih aman. Vaksin tersebut juga tidak menggunakan organisme utuh, sehingga kemungkinan sifatnya akan menimbulkan respon imun lebih baik atau imunogenik. Alasan lain mereka bertiga menggunakan metode itu karena peptida yang digunakan adalah epitop sel B. “Epitop sel B adalah suatu bagian mikro organisme yang menempel pada antibodi di tubuh. Mikro organisme tersebut bisa menimbulkan antibodi spesifik terhadap penyakit tersebut,” lanjut dosen kelahiran malang tersebut. Firasti kembali menerangkan bahwa keunggulan lain dari metode ini adalah pendekatan untuk menemukan epitop dari bakteri salmonella typhi. Hal itu mereka lakukan berdasarkan in silico atau permodelan komputer. Harapannya hal ini akan menjadi terobosan di masa pandemi. “Pada masa pandemi seperti ini penelitian menggunakan lab basah terkendala banyak hal, seperti reagen yang sulit dan tatap muka yang terbatas. Dengan in silico permodelan lab, kita bisa melakukannya dengan menggunakan lab kering melalui web dan software untuk mencari kandidat vaksin. Hal ini akan memudahkan proses penelitian,” lanjut Firasti saat diwawancara. Di sisi lain, Hidajah mengatakan bahwa tingkat efikasi vaksin tifus di Indonesia masih rendah. Oleh karenanya mereka bertiga berinisiatif mengembangkan vaksin tifus yang memiliki tingkat efikasi yang tinggi. Namun penelitian ini masih bersifat pre-klinis. Diharapkan kedepannya vaksin ini bisa di uji-klinis ke manusia dan menjadi terobosan yang bagus. “Saya berharap vaksin ini dapat didistribusikan ke masyarakat. Tentu saja dengan pengujian yang lebih lanjut. Selain itu, dengan menciptakan variasi vaksin dengan efikasi yang tinggi akan mengurangi kasus penyakit tifus di Indonesia,” pungkasnya. (syi/wil)
Bahas Prophetic Parenting, PSIF Beri Enam Metode Mendidik Anak

Pendidikan pertama bagi seorang anak adalah dari keluarga, utamanya orang tua. Maka dari itu parenting menjadi ilmu penting untuk mendidik dan mengasuh seorang anak. Berangkat dari pemahaman itu, Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kajian rutin dengan membahas tema “Prophetic Parenting, Mendidik Anak di Era 4.0”. Agenda yang mengundang Dr. Nurul Zuriah, M.Si. sebagai pemateri tersebut dilangsungkan pada Sabtu (20/3) melalui platform Zoom dan kanal Youtube. Dalam penjelasannya, Nurul mengatakan bahwa parenting adalah model atau sistem pengasuhan anak yang dilakukan oleh orang tua. Sedangkan istilah prophetic dijelaskan sebagai sifat kenabian yang dimiliki oleh Nabi. Jika digabungkan, prophetic parenting bisa dipahami model pengasuhan anak versi Rasulullah SAW. Metode ini adalah sebuah model pendidikan anak yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga menjadikan Nabi sebagai suri tauladan bagi anak. “Kepribadian Rasulullah akan menjadi contoh yang ideal bagi tumbuh kembang anak. Mereka akan mengikuti segala hal baik yang Rasulullah ajarkan dan lakukan,” jelasnya lebih lanjut. Ketua Divisi Penelitian Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) UMM ini melanjutkan bahwa pendidikan anak harus sesuai dengan zamannya. Melihat banyak digitalisasi di berbagai sektor, maka orang tau harus menyesuaikan diri dengan tetap memegang teguh kebaikan. “Sekarang adalah zaman digital, di mana hampir semua informasi dan kebutuhan bisa dengan mudah didapatkan melalui gawai ataupun alat elektronik lain. Nah, tinggal bagaimana para ayah dan ibu bisa memanfaatkannya dengan sekreatif mungkin,” tutur Dosen FKIP UMM tersebut. Selain memanfaatkan teknologi, Nurul juga menyebutkan pesan Rasullah terkait metode dalam mendidik anak. Ada enam cara yang bisa dilakukan oleh para ornag tua. Pertama adalah teladan dan meneladani. Adapula metode pembiasaan kepada anak. Mereka dibiasakan untuk melakukan hal-hal baik di setiap hari. Kemudian memberikan nasehat-nasehat kepada anak agar tetap di jalan yang benar. Lebih lanjut, Nurul meneybutkan metode yang keempat, yakni perhatian. Anak tentu harus diperhatikan dengan semaksimal mungkin. Nantinya, perhatian tesebut akan memudahkan mereka dalam menjalankan kebiasaan baik. Cara yang kelima adalah hukuman yang harus digunakan di waktu yang tepat. “Orang tua juga jangan menghukum dengan perasaan marah. Selalu lemah lembut agar anak tidak tertekan dan bisa menyadari kesalahannya,” tambah Nurul. Kemudian metode terakhir adalah memberikan kisah-kisah. Dalam paparannya, Nurul menuturkan bahwa metode kisah ini punya peran penting karena anak-anak memerlukan cerita-cerita teladan yang menginspirasi mereka. “Enam metode yang sudah disebutkan merupakan anjuran dari Rasulullah. InsyaAllah para orang tua akan diberi kemudahan dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya dengan menggunakan cara-cara ini,” pungkasnya memberikan penjelasan. (haq/wil)
Permudah Literasi Hukum, Dosen UMM Ciptakan Aplikasi Maduhukum

Masih banyak masyarakat yang tersandung kasus hukum karena kurangnya literasi mengenai hukum. Berawal dari permasalahan tersebut, tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan aplikasi bernama Maduhukum, akronim dari masyarakat peduli hukum. Tim ini terdiri dari yaitu Nur Putri Hidayah, S.H., M.H., dan Galih W. Wicaksono, S.Kom., M.Cs., serta satu programmer profesional yaitu Muhammad Andi Al-rizki, S.Kom. Saat diwawancara, Putri mengatakan bahwa aplikasi ini diciptakan sebagai sarana memperluas literasi masyarakat mengenai hukum. Melalui fitur-fitur yang ditawarkan, aplikasi ini dapat memberikan pengetahuan secara cepat dan akurat. Aplikasi ini juga sebagai sarana advokasi berbasis digital. “Data dalam aplikasi ini telah terjamin akurat karena berasal dari undang-undang, artikel ilmiah, serta putusan-putusan hakim. Selain itu aplikasi ini juga menghubungkan masyarakat kepada para pakar hukum sehingga masyarakat dapat berkonsultasi terkait permasalahan yang dialami,” kata dosen Fakultas Hukum (FH) tersebut. Putri menjelaskan lebih jauh mengenai cara penggunaan aplikasi Maduhukum ini. Pertama, masyarakat harus mendaftarkan diri terlebih dahulu. Selanjutnya masyarakat mengikuti atau membuat kelompok dalam aplikasi Maduhukum. Setelah itu masyarakat bisa mengakses informasi yang telah disediakan maupun berkonsultasi kepada pakar hukum di dalam kelompok tersebut. “Seperti yang kita tahu, adat istiadat di Indonesia sangat beraneka ragam. Oleh karenanya pembagian masyarakat dalam kelompok-kelompok tertentu akan membuat informasi yang diberikan menjadi tepat sasaran. Sampai sekarang sudah ada delapan kelompok yang terbentuk di Maduhukum. Untuk pakar yang telah bergabung sudah ada tujuh orang,” ujar Putri. Aplikasi ini merupakan produk penelitian yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) UMM. Maduhukum bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat melalui google play store. Di akhir sesi, Putri berharap aplikasi ini bisa membantu permasalahan yang ada di masyarakat sekaligus memberikan literasi tentang hukum. “Jika masyarakat mengetahui hukum dengan baik maka secara alami masyarakat akan menghindari hal-hal yang melanggar hukum. Saya berharap kedepannya aplikasi ini akan terus berkembang dan digunakan oleh masyarakat luas,” kata dosen kelahiran Banjarmasin tersebut. Dikutip dari testimoni Maduhukum, Sekretaris Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Malang Raya, Naili Ariyani, S.H., menuturkan bahwa aplikasi ini sangat bermanfaat. Selain sebagai sarana edukasi, juga bisa membantu masyarakat untuk memecahkan permasalahan hukum. “Dibandingkan aplikasi sejenis lainnya, aplikasi ini jauh lebih intim karena berbasis komunitas. Semoga kerja sama dengan kantor bantuan hukum dapat segera terlaksana, agar hak konstitusi warga negara untuk mendapatkan bantuan hukum bisa berjalan dengan maksimal,” pungkasnya. (syi/wil)
Pengabdian Alumni di Ujung Negeri Lewat Pengajar Muda

Mengabdi setahun, menginspirasi seumur hidup adalah pijakan moto bagi Nurma Nita Aprilia. Lahir di Sumbawa, Nita adalah sapaan perempuan yang tinggal dan tumbuh di Kabupaten Jembrana, Bali ini. Mahasiswi lulusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) ini belajar dan berkembang melalui keaktifannya di organisasi pemuda internasional AIESEC UMM. Sejak tahun 2013, Nita telah akrab menyalurkan ketertarikannya pada dunia hubungan internasional dan globalisasi budaya. Menamatkan pendidikan sarjana di tahun 2017, ia melanjutkan aktvitas sosialnya di AIESEC Indonesia hingga 2019. Kemampuannya mengelola kegiatan, memimpin dan bekerja bersama relawan asing serta membangun hubungan dengan beragam individu menjadikannya dipercaya sebagai Project Coordinator untuk dua proyek sosial AIESEC Indonesia, yakni Wonderful Maluku 4.0 dan Wonderful Bangka Belitung 2.0. Kesempatan belajar yang telah Nita terima mengantarkannya untuk membagikan pengetahuan, pengalaman dan semangat belajarnya pada masyarakat di ujung negeri. Resmi menjadi salah satu dari 36 Pengajar Muda Angkatan XIX, mendorongnya untuk terlibat di berbagai kegiatan pengembangan masyarakat di Indonesia Mengajar. Menjadi Pengajar Muda, bagi Nita merupakan salah satu jalan untuk meresapi budaya negeri yang begitu beragam. “Aku bersyukur banget bisa gabung di program ini. Banyak hal yang aku pelajari mulai dari budaya di lingkungan tempatku tinggal sampai lingkungan secara luas,” ujar Nita. Nita bercerita bahwa awalnya ia tidak pernah mendengar tentang Indonesia Mengajar. Ia akhirnya memutuskan bergabung pada program yang digagas oleh Anies Baswedan ini berkat keinginan besarnya untuk membantu mengembangkan lingkungan sosialnya. Jika alumni program studi HI biasanya akan melanjutkan karir di bidang diplomasi, Nita lebih memilih jalan lain untuk mengembangkan diri di ranah Low Politics. Low Politics merupakan konsep politik yang dianggap tidak begitu vital namun memberikan dampak secara langsung pada kelompok masyarakat. Menurut Nita, menggerakan masyarakat untuk membangun negeri lewat langkah-langkah kecil adalah pendekatan terbaik. Utamanya dalam hal membangun kesatuan dan kerukunan. Lima belas bulan berlalu, Nita merasa ia terus terpantik untuk mengerjakan proyek sosial. Segala macam tantangan dan halang-rintang yang telah ia alami adalah pacuan untuk terus menginspirasi. “Merasa enjoy bukan berarti tanpa masalah dan kendala, ya. Banyak tantangan yang bisa memberikan motivasi untuk terus maju bersama orang-orang di desaku mengabdi,” pungkas Pengajar Muda yang ditempatkan di Desa Kuala Baru, Kabupaten Aceh Singkil ini. (adr/wil)
Berbekal Bahasa Inggris dan Korea, Mahasiswa Ini Belajar di Luar Negeri

Cita-cita untuk pergi ke luar negeri telah tumbuh di diri Muhammad Ilham sejak menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dirinya mulai tertarik untuk pergi ke luar negeri setelah menonton beberapa film dari negara lain seperti Korea dan Eropa. Pendidikan bahasa asing pun juga di tanamkan sang ayah sejak Ilham menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA). “Ketika saya SMA, ayah menekankan kepada saya untuk mempelajari dua bahasa asing dengan bahasa Inggris sebagai pilihan wajib. Selain les bahasa Inggris, saya juga mengambil les bahasa Korea saat itu,” kenang anak ketiga dari empat bersaudara tersebut. Menginjak bangku perkuliahan, Ilham melihat banyak kesempatan untuk pergi ke luar negeri. Ketika sedang mengikuti masa orientasi mahasiswa, Ilham mengetahui bahwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki banyak beasiswa mancanegara. Sejak saat, itu Ilham memantapkan hati untuk mendaftarkan diri di program-program tersebut. “Saat Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba), International Relations Office (IRO) UMM datang ke fakultas-fakultas untuk presentasi. Dari situ saya tahu berbagai beasiswa luar negeri yang ada di UMM. saya merasa ini kesempatan yang bagus bagi saya untuk pergi ke luar negeri,” kata mahasiswa Teknik Elektro tersebut. Perjalanan Ilham untuk memperoleh beasiswa tidaklah mudah. Banyak penolakan yang ia alami. Terhitung sudah lima kali dirinya tidak lolos beasiswa ke luar negeri. Namun hal tersebut tak membuatnya menyerah. Ilham sering bertanya pada senior-senior di IRO tentang tips lolos beasiswa. Ilham juga meningkatkan kualitas Curriculum Vitae (CV) dengan mengikuti organisasi dan lomba debat. “Saya mendaftar pertama kali itu waktu semester satu beasiswa student exhange ke Thailand. Namun gagal, mungkin karena CV saya belum bagus. Setelah itu saya ikut organisasi International Language Forum (ILF) dan lomba debat bahasa Inggris. Di jurusan saya sedikit yang bisa bahasa Inggris, jadi saya selalu diajukan untuk mengikuti perlombaan. Selain mengasah skill bahasa Inggris, hal ini juga meningkatkan kualitas CV saya,” ujar mahasiswa asal Sulawesi Tenggara itu. Berkat kegigihannya, Ilham berhasil mengikuti pertukaran mahasiswa ke Singapore Polytechnic selama satu bulan. Selain itu, pada Februari 2021 Ilham berangkat ke Portugal setelah mendapat beasiswa dari Erasmus+. “Saya mendaftar beasiswa ini sejak tahun 2020. Awalnya saya akan diberangkatkan saat bulan September 2020, tapi keberangkatan saya di undur karena pandemi. Beasiswa ini berat di awal, karena harus mengurus visa, tiket pesawat, dan lainya dengan uang sendiri di masa pandemi seperti ini. Namun Keluarga saya, terutama ayah sangat mendukung saya keputusan saya untuk berangkat ke Portugal. Baru setelah saya sampai di Portugal, semua uang trasnportasi diganti,” lanjut Ilham. Saat ini Ilham sedang menikmati masa-masa belajarnya di University of Minho Portugal. Di sela kegiatan belajar, Ilham juga fokus untuk mengerjakan skripsi yang sudah ada di depan mata. Kedepannya, ia juga ingin kembali belajar di luar negeri, khususnya untuk studi S2. “Setelah saya menyelesaikan sarjana di UMM, saya ingin daftar beasiswa S2 di program Erasmus Master,” pungkasnya. (syi/wil)
Melalui Kampus Mengajar, Mahasiswa Psikologi Baktikan Diri ke Penjuru Negeri

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti untuk melakukan pengabdian ke masyarakat. Kali ini, sebanyak 39 orang mahasiswa Fakultas Psikologi mengikuti program kampus mengajar angkatan satu tahun 2021. Mereka terpilih setelah melalui seleksi tingkat nasional di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Ditjen Dikti). Jumlah mahasiswa Fakultas Psikologi yang lolos seleksi ini juga menjadi yang terbanyak dibandingkan fakultas lain di UMM. Melalui program kampus mengajar, mahasiswa diberi kesempatan belajar dan mengembangkan diri dengan berkolaborasi bersama guru. Baik dalam proses pembelajaran, mengembangkan teknologi dalam belajar, serta administrasi sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Hasil dari kegiatan tersebut akan dikonversikan menjadi penilaian pada mata kuliah di program studi masing-masing sejumlah 12 Satuan Kredit Semester (SKS). Ditanya ihwal program tersebut, Kepala Program Studi Psikologi UMM, Susanti Prasetyaningrum, S.Psi., M.Psi., mengaku bersyukur dan menyambut baik pengumuman sejumlah mahasiswa yang lolos program kampus mengajar. Program itu juga menjadi salah satu agenda di dalam kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Alhamdulillah, mahasiswa kami banyak yang terpilih. Tentu ini tidak lepas dari proses seleksi dan pembekalan yang dilakukan oleh prodi terhadap mahasiswa. Secara teknis prodi juga harus menyeleksi mata kuliah apa saja yang semester genap (IV) ini diambil mahasiswa. Seleksi mata kuliah yang akan dikonversikan tidak hanya dilihat dari bobot SKS, tapi juga kesesuaian dengan program yang terkait,” ungkap Santi. Lebih lanjut, para mahasiswa yang mengikuti program Kampus Mengajar ini akan di kirim ke berbagai penjuru negeri. Firdausi Muhammad Akhmad merupakan satu dari 38 mahasiswa yang terpilih. Ia nantinya akan ditempatkan di SDN Kurungan Bassi, Mamuju, Sulawesi Barat. Daus menyadari bahwa tanggung jawab dan tantangan mengikuti kegiatan ini sebenarnya cukup berat, mengingat Ia berada pada daerah yang juga baru saja diguncang bencana gempa Januari lalu. Namun, dibalik perasaan getirnya Ia mengaku mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. “Meski demikian, saya tetap harus melaksanakannya dengan baik. Saya ingin kembali mengabdi ke tanah kelahiran saya, berbuat banyak dan melihat para penerus tanah Mamuju ini lebih baik”, pungkas Daus. Beberapa waktu lalu seluruh peserta kampus mengajar angkatan I tahun 2021 telah mendapatkan materi pembekalan lanjutan yang diberikan oleh Dirjen Dikti. Materi ini berkaitan tentang konsep pedagogi sekolah dasar, pembelajaran jarak jauh, strategi kreatif belajar luring dan daring. Khusus mahasiswa psikologi UMM, mereka tidak hanya sekedar mengajar tetapi juga mengaplikasikan metode dan teknik-teknik asesmen psikologi. Menganalisis permasalahan perilaku yang ada di sekolah dan mengaplikasikan teknik intervensi untuk perubahan perilaku. (*/syi/wil)
LC Gelar Kelulusan Program Bahasa Inggris

Lembaga Bahasa (LC) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar acara rutin tahunan yakni Gelar Kelulusan Foreign Language for Specific Purposes (GK FLSP) pada Sabtu (20/3). Diadakan di tengah pandemi Covid-19, perhelatan ini dikemas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya melibatkan ribuan mahasiswa, tahun ini hanya dihadiri oleh satu perwakilan kelas dari setiap jurusan yakni sekitar 160 mahasiswa. Selebihnya, mahasiswa dialihkan untuk mengikuti prosesi acara secara daring melalui kanal youtube UMM. Wakil rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., mengatakan bahwa program ini diselenggarakan untuk mendorong mahasiswa untuk senantiasa belajar. Selain itu Syamsul juga berkata bahasa inggris ke depannya akan sangat dibutuhkan oleh mahasiswa saat menghadapi dunia kerja. “Oleh karenanya, tetaplah belajar dan jadikan Bahasa Inggris menjadi suatu kebiasaan. Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, temukan gaya belajar yang paling sesuai dan menarik untuk belajar bahasa satu ini.” tutur Syamsul melanjutkan. Meskipun singkat, GK tahun ini terbilang menarik berkat konsep talk show yang diberikan. Mengangkat tema English: A Script to Scribe Your Future, talk show itu mengundang tiga tamu spesial yakni Rosalin I. Gusdian, Matthew Cant, dan Solahudin Al Ayubi. Rosalin mengatakan bahwa acara ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan bahasa asing, utamanya inggris. Isu-isu terkait pentingnya belajar Bahasa Inggris juga diangkat oleh Rosalin, salah satunya adalah beasiswa kuliah di luar negeri. “Jika ingin mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri, maka harus dipersiapkan dari sekarang. Disamping mencari kampus yang sesuai dengan passion, mempersiapkan skill bahasa inggris untuk memenuhi skor IELTS atau TOEFL juga sangat dibutuhkan,” terangnya lebih lanjut. Sementara itu, ketua pelaksana GK FLSP 2021 Moh. Kholilurrahman, mengatakan bahwa agenda ini dikemas dengan tujuan untuk habituasi dalam berbahasa Inggris. Mahasiswa dipacu untuk terus mengikuti lomba seperti writing competition, lomba poster, dan Focus Group Discussion (FGD). Lomba-lomba seperti itu diharapkan dapat menjadi bentuk aktualisasi mahasiswa dalam belajar Bahasa Inggris setelah menempuh FLSP selama 2 semester. “Berbagai lomba itu bertujuan untuk habituasi berbahasa Inggris bagi mahasiswa. Selain itu juga sebagai bentuk dukungan pada program internasionalisasi kampus yang sedang berlangsung saat ini,” tegasnya di akhir sesi wawancara. (*/syi/wil)
Sambut Bulan Suci Ramadan, Dosen UMM Terbitkan Buku

Ramadan tinggal menghitung hari. Meski situasi pandemi tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, tapi keberkahan bulan suci tetap sama. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyambut bulan penuh ampunan tersebut. Salah satunya dengan menerbitkan buku. Hal itu juga dilakukan oleh dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Rahmad Hakim. M.MA. Menyambut semarak bulan puasa, ia menulis buku berjudul “Multidimensi Ramadan, dari Ritual Menuju Spiritual”. Karya tersebut telah terbit Februari lalu. Saat dihubungi, Rahmad menerangkan bahwa buku itu berawal dari rasa takut yang dirasakan saat Ramadan lalu. Kasus Covid-19 yang makin meninggi, membuat bulan suci tidak bisa dijalani dengan semestinya. Ia juga merasa selama 30 kali melewati Ramadan, belum ada satu karyapun yang ia terbitkan. ”Akhirnya di bulan puasa tahun lalu, saya membuat resolusi satu hari artikel. Alhamdulillah terkumpul 30 tulisan dalam 30 hari. Isi tulisannya juga membahas mengenai Ramadan ini,” terangnya lebih lanjut. Dosen Ekonomi Syariah itu kembali mengungkapkan bahwa buku “Multidimensi Ramadhan dari Ritual Menuju Spiritual” membahas mengenai fenomena masyarakat yang hanya menjalankan ibadah saja. Mereka tidak sepenuhnya memahami makna dari Ramadan itu sendiri. Padahal bulan suci menjadi kesempatan emas untuk meraih pundi-pundi kebaikan. Lebih lanjut, multidimensi ritual meliputi sisi kesehatan, ekonomi dan sosial. Menurutnya, banyak orang yang semakin sehat dan bahkan sembuh saat menjalankan puasa. Imunitas tubuh juga meningkat seiring makin terbiasa berpuasa. Sementara dari aspek ekonomi dan sosial, ia melihat ekonomi makin stabil karena banyak orang yang berlomba-lomba saling berbagi. Dijelaskan oleh Rahmad, multidimensi ritual dapat menunjang masyarakat untuk menggapai multidimensi spiritual. Nantinya, lama kelamaan masyarakat mampu memahami makna Ramadan dan melaksanakan keberkahan tertinggi. Beberapa di antaranya membaca Alquran serta mendapatkan lailatul Qadr. “Malam Lailatul Qadar bisa menambah umur hingga 1.000 bulan atau 86 tahun. Sejatinya, Umur rata-rata manusia hanya mencapai 60 tahun. Namun karena kita melakukan kebaikan, umur kita betambah dan mendapat keberkahan dari Allah SWT.” Terakhir, ia berharap agar buku ini mampu memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain. Utamanya terkait bulan Ramadan. “Semoga kita mampu melalui dua dimensi, dimensi ritual dan spritual dengan baik dan benar di Bulan Ramadan yang akan datang,” pungkasnya saat dihubungi. (haq/wil)
FPP UMM Tingkatkan Kurikulum Kelas Profesional Unggas dan Entrepreneur

Sejak tiga tahun lalu, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah memiliki Kelas Profesional Unggas dan Kelas Entrepreneur. Meski pelaksanaannya berjalan dengan baik, perlu peninjauan kurikulum secara rutin setiap tahun. Kegiatan tersebut telah di laksanakan pada Jumat (19/3) di Rayz Hotel dengan mengundang beberapa stakeholder diantaranya dari industri, seperti PT. Jatinom Indah Agri, PT. Charoen Pokphand, PT. Sanbe Farma, serta PT. Mensana internasional. Keempatnya dihadirkan untuk memberikan masukan-masukan positif. Selain itu juga turut mengevaluasi terkait sumber daya manusia baik dari pengajar maupun mahasiswa, sarana prasarana, model dan teknik pembelajaran, praktikum hingga materi skill yang diperlukan. Memberikan sambutan pada awal acara, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM berharap agar setiap jurusan yang ada dapat terus berkembang menjadi lebih baik. Ia juga ingin agar semua Program Studi (Prodi) di lingkungan FPP bisa memiliki kelas unggulan yang implementatif seperti kelas profesional unggas ini. “Kelas-kelas profesional seperti inilah yang nantinya memberikan bekal yang bagus untuk para mahasiswa ketika menyelesaikan studinya,” jelasnya lebih lanjut. Ditemui di kesempatan lain, Dr. Ir. Asmah Hidayati, MP. IPM., selaku Ketua Jurusan Peternakan UMM menerangkan bahwa perlu adanya inovasi baru di dua kurikulum kelas profesional. Selain itu, para mahasiswa juga harus menyiapkan diri agar bisa menjadi profesional dalam dunia unggas dan juga enterpreneur. “Pengalaman nyata tentu sangat diperlukan oleh mahasiswa. Kami juga ingin nantinya bersama para mitra bisa saling memberikan masukan sehingga bisa memberikan manfaat,” ungkap Asmah. Ia menambahkan bahwa agenda ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pelaksanaan magang, yang berujung pada uji kompetensi. Sekaligus sebagai penguatan Prodi Peternakan FPP UMM dalam merealisasikan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Asmah, panggilan akrabnya kembali mengungkapkan bahwa mitra yang dihadirkan nantinya akan bertindak sebagai pengajar dari industri. Bentuk kerja sama lain yang sudah dilakukan adalah pemberian praktek skill serta penyediaan tempat magang dengan fasilitas penuh. Para mahasiswa juga akan disediakan seluruh sumber daya belajar seperti kandang pembesaran, kandang produksi, pabrik pakan dan lainnya. Adapun agenda peninjauan kurikulum ini menghasilkan sederet perbaikan dan penambahan muatan proses belajar mengajar, skill, praktikum dan magang untuk Kelas Profesional Unggas. Sementara itu, ada beberapa evaluasi terkait kurikulum Kelas Entrepreneur. Nantinya akan ada peningkatan skill di bidang formulasi pakan ternak dan produksi ternak Ruminansia. Selain itu optimalisasi penggunaan Laboratorium Analisis dan laboratorium kendang juga diperlukan sebagai penunjang skill mahasiswa. (*/wil)