Dorong Masyarakat Mandiri, Dosen UMM Kembangkan Edu Wisata dan Pengolahan Limbah Kertas

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti memberi kontribusi. Melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) mereka berusaha meningkatkan kualitas desa binaan. Di Kabupaten Malang, tepatnya di Desa Jambesari, Kecamatan Poncokusumo salah satu Tim Pengabdian PPDM UMM mengembangkan Edu Wisata Embung Pintar dan Pengolahan Limbah Kertas. Tim pengabdian ini beranggotakan Ir. Muhammad Irfan, M.T., Ir. Ali Mokhtar, M.T., IPM. ASEAN. Eng., dan Okta Pringga Pakpahan, S.P., M. Agr. Melihat adanya dua peluang tersebut, tiga dosen ini merencanakan Edu Wisata Embung Pintar berbasis lingkungan. Edu wisata yang menjadikan budidaya ikan tawar seperti ikan nila, lele, dan mujair sebagai paket utama bagi para wisatawan yang datang. Selain itu, di lokasi ini para wisatawan juga bisa menikmati suasana alam dalam paket outbound dan memancing ikan secara langsung dari embung. Kedepannya, di pemancingan ini akan diadakan lomba memancing secara rutin dan disediakan gazebo sekitar embung yang dilengkapi Wi-fi. “Edu Wisata Embung Pintar ini juga akan difasilitasi dengan gazebo apung dan gazebo pinggir embung yang dilengkapi Wi-fi. Nantinya pengunjung diminta untuk membeli voucher agar bisa tersambung ke Wi-Fi yang sudah disediakan,” jelas Irfan. Tidak hanya mengembangkan di bidang wisata, tiga dosen ini juga mengambil peran untuk peningkatan home industri pengolahan limbah kertas. Melihat permasalahan pada pengolahan limbah kertas ini, mereka berinisiatif memodifikasi alat pengolahan yang lebih canggih dan aman digunakan. Harapannya, setelah alat pengolahan limbah kertas termodifikasi, hasil produksi jadi lebih banyak, rapi, dan aman. Selain itu juga untuk menekan angka kecelakaan saat proses produksi. “Awalnya alat produksi masih manual dan beresiko melukai. Kami berinisiatif memodifikasi alat pengolahan tersebut. Nantinya, alat ini dapat menghasilkan produk yang rapi, bagus dan juga aman digunakan,” ujar dosen Teknik Elektro itu. Irfan sendiri berharap dengan adanya Edu Wisata Embung Pintar ini dapat memberikan tambahan pemasukan bagi masyarakat setempat. “Harapannya, Edu Wisata Embung Pintar dan Home Industri Pengolahan Limbah kertas ini dapat mendorong masyarakat Jambesari untuk semakin mandiri. Selain itu juga meningkatkan aspek ekonomi warga setempat,” pungkas Irfan di akhir sesi wawancara. (haq/wil)

Kuliah Tak Halangi Mahasiswa ini jadi Bagian Relawan Maharesigana

Banyak orang telah terjun menjadi relawan dalam penanganan pandemi Covid-19. Tidak hanya dari kalangan orang dewasa saja, para mahasiswa dan pelajar pun turut membantu dengan menjadi relawan bencana. Pun dengan Arief Nur Rahman, salah satu mahasiswa yang tergerak hatinya untuk menjadi relawan bencana di garis depan dalam pencegahan dan penanganan Covid-19. Mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sudah tertarik untuk terjun menjadi relawan sejak dirinya mengisi formulir pendaftaran masuk kampus. Arief bercerita bahwa ia mengetahui komunitas Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM setelah melihat postingan Instagram salah satu senior yang dikenalnya. Keinginan untuk membantu sesama sudah lama tumbuh sejak ia masih kecil. Melihat kakek dan neneknya yang bekerja sebagai dokter serta perawat membuat Arief juga ingin terjun di bidang yang sama. Namun takdir memberikan jalan yang berbeda, hingga akhirnya Arief mengambil bidang lain ketika berkuliah. “Cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi seorang dokter. Sayangnya, karena beberapa hal cita-cita tersebut tidak dapat saya raih. Untungnya, saya menemukan jalan lain untuk tetap membantu sesama yaitu dengan menjadi relawan bencana,” ungkap mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Ini merupakan kali pertama Arief menjadi relawan bencana. Terpisah jauh dari keluarga di Gresik dan menjadi relawan di saat pandemi tentu membuat orang tuanya khawatir. Meski demikian, Arief berhasil meyakinkan mereka bahwa dirinya bisa menjaga diri dengan baik. “Awalnya tidak diperbolehkan untuk menjadi relawan dan pergi ke Malang. Apalagi di situasi pandemi seperti saat ini. Namun, berkat penjelasan yang baik terutama terkait pengamanan protokol kesehatan, akhirnya mereka malah mendukung saya untuk berjuang di jalan kemanusiaan,” ujar anak tunggal tersebut. Saat sesi wawancara, Arief sempat mengenang beberapa kegiatan relawan yang telah ia lakukan selama setahun belakangan. Salah satu kegiatan yang masih segar di ingatannya adalah memberikan bantuan psikososial kepada para penyitas bencana di Desa Ngentos Kabupaten Nganjuk. “Dalam satu tim yang diterjunkan ke Ngentos, hanya saya yang tidak berasal dari jurusan psikologi. Meski begitu, saya sama sekali tidak gugup maupun bingung. Mungkin ini adalah hasil dari pelatihan intensif yang saya ikuti di Maharesigana,” kenang Arief Sekarang, Arief sedang sibuk menyiapkan proyek kemanusiaan yang lain. Tapi tetap memperhatikan pendidikan yang sedang ia jalani.  Ia berharap bisa terus berproses agar bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi masyarakat luas. “Kalau dibilang capek ya pasti iya. Namun saya sangat senang dan tertarik pada bidang ini, jadi kedepannya saya masih akan terus menjadi relawan,” pungkasnya. (syi/wil)

Bentuk Karakter Mahasiswa Tangguh, FPP Gelar Diklat Bela Negara

Demi membentuk mahasiswa yang tangguh dan siap menghadapi tantangan zaman, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Diklat Bela Negara bagi mahasiswa baru di Dodikjur Rindam V Brawijaya, Malang. Agenda yang berlangsung selama sepuluh hari tersebut resmi ditutup oleh Drs. H. Wakidi, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM pada Jumat (19/3). Tidak hanya upacara penutupan, pada akhir agenda para peserta juga menampilkan ragam defile sebagai bukti telah berjuang selama diklat. Dalam amanatnya, Wakidi menuturkan bahwa Diklat Bela Negara berusaha membentuk para peserta untuk memiliki karakter yang tangguh. Selain itu juga mampu menjadi patriot pejuang pangan yang bisa menghadapi tantangan zaman, bebas dari Narkoba, dan saling bekerja sama. “Semua hal yang didapat dari pelatihan ini nantinya akan bermuara pada satu, yakni kebermanfaatan bagi NKRI,” tambahnya. Wakidi juga mengingatkan para peserta bahwa UMM kini telah menjadi perguruan tinggi Islam nomor satu terbaik di dunia. Maka sudah seyogyanya para mahasiswa untuk selalu berdisiplin, menjaga perilaku, berinovasi serta mengemban amanah dengan sebaik mungkin. “Jangan lupakan pesan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada pembukaan Student Day lalu. Siapkan self planning sejak dini. Selalu berusaha memiliki kemampuan critical thinking, creative, communication dan confidence,” tegasnya. Ia juga berharap agar semua yang mahasiswa dapat dari diklat ini mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga bisa menjadi bekal menyelesaikan studi serta menjadi bekal hidup untuk memberikan solusi masalah kebangsaan. Ditemui di kesempatan yang sama,  Dr. Ir. David Hermawan, M.P., IPM. Selaku Dekan FPP UMM menjelaskan bahwa mental yang tangguh sangat dibutuhkan di era yang cepat berubah seperti sekarang. Kemudian dilengkapi dengan bekal spritual agar tidak terjembab di keburukan seperti Narkoba dan pergaulan bebas. “Cerdas dan tangguh saja tidak cukup, perlu adanya peningkatan akhlaqul karimah dari pribadi masing-masing mahasiswa baru,” terang Dosen asal Garut tersebut. David, panggilan akrabnya, juga mengungkapkan bahwa agenda diklat Bela Negara ini berangkat dari filosofi salat tahajjud. Ketika yang lain berdiam diri dan tidur di tengah pandemi, mahasiswa baru FPP bangun dan mengikuti diklat Bela Negara selama sepuluh hari. “Kegiatan ini kami selenggarakan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Jadi tidak mengorbankan keamanan dan kesehatan teman-teman mahasiswa baru dan semua pihak yang terlibat,” pungkas dosen yang menyukai olahraga tenis tersebut. Usai upacara penutupan, para tamu diarahkan untuk menyaksikan ragam defile yang sudah disiapkan. Setiap kelompok dari mahasiswa baru menampilkan gerakan dan yel-yel yang sudah didapat selama berlatih di Dodikjur Rindam V Brawijaya. Bentuk defile tersebut menjadi bukti bahwa mereka mampu bekerja sama dengan baik serta bersatu demi kebaikan bersama. (wil)

Kansa dan Rana, Mahasiswa UMM yang Lulus dengan Tugas Akhir Karya

Kini tugas akhir karya jadi salah satu opsi yang bisa dipilih mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk lulus sebagai sarjana. Hal ini pula yang dipilih Kansa Rhana Hafizshyah dan Rana Atikah untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah mereka. Kedua mahasiswa bimbingan Radityo Widiatmojo, M.Si ini menggelar pameran foto esai di Namu koffie. Pameran ini berlangsung dari tanggal 15 hingga 31 Maret mendatang. Dalam pagelaran ini, kedua mahasiswa tersebut mengambil tema yang berbeda. Kansa memilih personal proyek tentang penyakit stroke yang diderita sang ayah. Pemilihan tema tersebut didasarkan pada keinginan Kansa untuk mengedukasi masyarakat mengenai bahaya peyakit stroke. “Saya ingin menunjukan pada masyarakat apa saja yang dialami pasien penyakit stroke dan bahayanya. Foto-foto ini nantinya juga akan menjadi memoar buat ayah. Kalau nantinya ayah sudah tutup usia, saya bisa membuka jendela ini lagi buat mengenang,” ujar mahasiswi asal Malang tersebut. Kansa memajang 35 foto dalam pameran ini. Dirinya berkata bahwa sesi pemotretan telah dilakukannya sejak bulan Januari. Dalam prosesnya kansa melalui beberapa kesulitan, salah satunya adalah penyusunan narasi dalam foto. “Risetnya sendiri telah saya lakukan sejak lama. Namun saya mulai memfoto sejak bulan Januari. Saya juga menggunakan beberapa foto lama untuk membangun narasi. Hal yang paling sulit adalah ketika merangkai narasi dari masing-masing foto dan menarik benang merah,” ungkap Kansa. Sementara itu, Rana mengambil tema portrait perempuan pejuang pandemi dengan memotret ibu-ibu penjual sayur keliling dan rumahan. Ia ingin menyampaikan pada masyarakat bahwa tidak hanya tenaga kesehatan saja yang menjadi garda terdepan di masa pandemi. Para ibu penjual sayur juga memiliki peran penting untuk menjadi penyalur antara petani ke masyarakat. “Banyak garda terdepan yang sebenarnya juga berjasa bagi masyarakat. Satu diantaranya yaitu para ibu penjual sayur ini,” kata anak pertama dari empat bersaudara tersebut. Pada pameran tersebut Rana menampilkan 20 hasil karya fotografi. Karya-karya itu ia hasilkan setelah melakukan pendekatan pada para penjual sayur. Ia membutuhkan waktu tiga bulan untuk memotret. Sedangkanuntuk persiapan pameran, Rana dan Kansa membutuhkan waktu selama satu minggu. “Saya mengambil gambar saat mereka sedang berjualan. Jadinya harus menunggu pengunjung sepi untuk bisa melakukan sesi foto. Para ibu penjual juga masih takut atau malu dengan kamera, jadi beberapa foto yang dihasilkan tidak bisa terlihat natural,” ujar Rana. Radityo Widiatmojo, M.Si mengaku sangat senang dan terharu atas pelaksanaan pameran tersebut. Hal ini megingatkannya akan pameran-pameran yang telah dilakukannya dulu. Dukungan dari para mahasiswa lain terhadap pameran ini juga sangat bagus. “Berkarya itu tidak mudah, butuh perjuangan dan usaha yang tidak kecil. Karya yang didasari oleh riset seperti ini pasti akan menghasilkan sesuatu yang bagus pula. Saya juga merasa senang atas dukungan mahasiswa lain terhadap pameran ini. Semoga kedepannya dapat menjadi lebih baik lagi,” pungkasnya di akhir sesi wawaancara. (syi/wil)

Lebih Akrab dengan Calon Mahasiswa lewat UMMTalks

Sebagai upaya menyesuaikan tren digital seperti saat ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka banyak peluang untuk memperkenalan program-program kampus. Utamanya melalui media digital. Salah satunya adalah melalui agenda UMMTalks yang disiarkan secara langsung melalui akun resmi Instagram @ummcampus. Program Live Instagram yang berlangsung sejak tahun 2019 ini telah mengundang banyak narasumber untuk berbagi ilmu pengetahuan dan kisah prestasi. Jika sebelumnya agenda ini difokuskan untuk membahas isu-isu terkini, di awal tahun 2021, UMMTalks mengusung ide-ide baru dengan menghadirkan siswa-siswi SMA dan SMK dari seluruh Indonesia untuk berbagi inspirasi prestasi mereka. Dikemas dalam acara bertajuk “UMMTalks goes to School”, hingga saat ini sudah akan ada berbagai sekolah yang siap bergabung. Diungkapkan oleh Muhammad Ridlo Akmal, ia merasa sangat antusias dan sempat canggung karena harus melakukan siaran langsung di akun resmi Kampus Putih. “Awalnya canggung karena belum pernah diundang acara seperti ini. Apalagi saya harus bicara di depan para penonton yang tentu saja emngikuti akun instagram @ummcampus ini,” terang siswa SMA Bunga Bangsa Samarinda tersebut. Pada episode pertama, agenda ini menghadirkan dua orang siswa dari SMA Bunga Bangsa Samarinda, mereka adalah Muhammad Ridlo Akmal dan Aryathama Raditya Agung. Kedua siswa ini berbagi cerita tentang proses prestasi mereka sekaligus sharing tentang dunia kampus dengan narasumber yang hadir. “Memang belum punya kepastian akan kuliah ambil jurusan apa. Namun setelah bergabung di acara ini, paling tidak saya bisa memahami bagaimana dunia perguruan tinggi itu,” papar Arya. Selain memberikan gambaran tentang lingkungan belajar di universitas, melalui agenda ini UMM juga memberikan pengetahuan dasar tentang program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Terutama kepada para siswa-siswi kelas XII yang akan segera lulus dan mengenyam pendidikan tinggi. Abdul Nasyik Hidayat, salah satu siswa yang pada Jumat (12/3) hadir sebagai narasumber, mengutarakan rasa senangnya bisa bergabung dalam agenda ini. Apalagi setelah mengetahui peluang-peluang program apa saja yang akan ditemui saat masuk perguruan tinggi nantinya. “Hari ini saya jadi tahu ada banyak peluang yang bisa diambil di jurusan saya ini. Saya berharap bisa melanjutkan pendidikan di kampus UMM dengan berbagai fasilitas beasiswanya,” pungkas siswa jurusan Multimedia SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi ini. (adr/wil)

Mantapkan Program Kedaireka, UMM Undang Ditjen Dikti

Mantapkan program Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta (Kedaireka), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan sosialisasi dan bimbingan teknis penyusunan proposal Kedaireka. Mengundang dua staf Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Ditjen Dikti), acara ini berlangsung melalui kanal Zoom pada Jumat (12/03). Kepala sub bagian tata usaha Setditjen Dikti, Didi Rustam, mengatakan ada delapan indikator kinerja utama yang akan dinilai Ditjen Dikti  untuk membiayai proposal dari perguruan tinggi. “Kedelapan Indikator tersebut telah ada di buku panduan. Namun di luar indikator tersebut kami juga menambahkan beberapa kriteria lain seperti partisipasi mahasiswa pada program yang diajukan, program yang disusun dapat menyelesaikan masalah di masyarakat. Kemudian yang terakhir partisipasi industri dalam program tersebut,” ujar Didi. Sementara itu koordinator tim kerja akselerasi reka cipta Ditjen Dikti, Achmad Adhitya, mengatakan bahwa ada beberapa perubahan terkait dengan pengajuan proposal ke Kedaireka. Perubahan ini dilakukan untuk mempersingkat alur birokrasi agar proposal dapat segera diajukan ke sistem Kedaireka. “Sebelumnya jika ingin mendaftarkan proposal ke Kedaireka perguruan tinggi harus melengkapi beberapa syarat seperti MoU dengan industri, lembar pengesahan dari kampus, bukti kontribusi industri dan beberapa syarat lain. Namun sekarang untuk mengajukan proposal hanya wajib menyertakan lembar identitas, surat pernyataan tidak melakukan studi lanjut, profil pengusul dan profil mitra. Setelah nanti proposal diterima dan akan didanai, pengusul baru melengkapi persyaratan lainnya,” ujar Adhitya. Di sisi lain Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM, Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si, menjelaskan bahwa pelaksanaan sosialisasi ini adalah tindak lanjut dari sosialisasi yang sudah dilakukan sebelumnya. “Kalau sebelumnya sosialisasi diadakan untuk kampus se-Malang Raya, sekarang sosialisasi di khususkan untuk para dosen UMM. Saya harap selain lebih mengerti mengenai sistem Kedaireka, kedepannya akan ada hasil hasil riset dari dosen yang bisa dihilirisasi,” pungkasnya. (syi/wil)

Bantu Warga Sapeken, Tiga Dosen Kenalkan Teknologi Tepat Guna

Demi menjalankan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi, tiga dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) lakukan pengabdian berupa Program Penerapan Teknologi Tepat Guna (PPTTG). Dr. Iin Hindun, M.Kes, Ir. Mulyono, MT. dan Husamah, S.Pd., M.Pd. menggaet warga di Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep dalam pelaksanaannya. Tiga dosen ini fokus mengatasi permasalahan pada kelompok Industri Rumah Tangga (IRT) dan juga kelompok nelayan. Agenda pengabdian itu mendorong IRT yang diberi nama Dapoer Emmak untuk lebih produktif dan menghasilkan lebih banyak produk makanan.  Selain itu, program ini juga menggaet kelompok nelayan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan yang sudah ada melalui teknologi tepat guna. Saat ditemui di kantornya, Iin Hindun menjelaskan bahwa kedua kelompok tersebut memiliki beberapa masalah. Salah satunya adalah tingkat kehigienisan pada produk olahan hasil laut yang dirasa kurang maksimal. Hal tersebut disebabkan karena alat yang kurang memadai. Selain itu alat yang digunakan juga tidak tahan lama dan cepat rusak. Sementara itu, kelompok nelayan merasa bahwa hasil tangkapannya kurang serta tidak tahan lama. Ketahanan bahan bakar juga menjadi masalah bagi nelayan setempat. “Melihat beberapa masalah ini, kami tergerak untuk memberikan peningkatan dan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang bisa menjadi solusi untuk IRT dan nelayan,” tegasnya menambahkan. Ketiga dosen UMM tersebut memberikan alat penyuir daging ikan untuk memudahkan proses pembuatan abon. Alat penyuir abon tersebut sekaligus menjadi jawaban untuk masalah produksi makanan yang tidak tahan lama. “Tingkat kebersihan produk juga meningkat seiring penggunaan alat ini. Produksi makanan yang dihasilkan kelompok Dapoer Emmakn jadi lebih higienis,” ungkap Iin. Di samping itu, mereka juga memberikan solusi akan ketahanan bahan bakar yang dialami oleh nelayan setempat. Energi Solar menjadi jawaban atas masalah tersebut. Dengan menggunakaan alat tersebut, nelayan bisa menghemat biaya bahan bakar. Selain itu juga menghilangkan rasa takut nelayan akan kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan. Tidak cukup sampai di situ, ketiganya juga memberikan pendingin ikan dalam perahu. Nantinya pendingin itu dapat membuat tangkapan para nelayan menjadi lebih awet dan tahan lama. “Bahan bakar berbasis solar cell ini menjadi inovasi tersendiri dalam memudahkan nelayan sapeken yang takut bakan bakarnya cepat habis. Sementara alat pendingini bisa memperlambat proses pembusukan ikan sehingga tangkapan jadi lebih tahan lama,” pungkas Iin Hindun di akhir sesi wawancara. (haq/wil)

UMM Gelar Kolokium Doktor, Bahas Solusi Produksi Pangan

Pertanian merupakan salah satu sektor penggerak roda perekonomian di Indonesia. Namun kecenderungan Indonesia untuk mengimport bahan pangan pokok dari luar negeri masih cukup tinggi. Melihat permasalahan tersebut, Kolokium Doktor Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membahas tuntas mengenai kondisi agribisnis di Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan pada Sabtu (13/03) melalui kanal Zoom dan Youtube Agribisnis UMM. Dalam keynote speechnya, Dr. Jangkung Handoyo Mulyo, M.Ec., mengatakan bahwa tingkat produksi bahan pangan pokok di Indonesia sangat rendah dari tahun ke tahun. Import bahan pangan pokok seperti beras, jagung, kedelai, gula, dan daging juga cukup tinggi di Indonesia. “Tahun 2019, produksi padi di Indonesia hanya bertumbuh 0,31% sementara produksi padi dunia bertumbuh 1,25%. Di produksi kedelai, Indonesia hanya bertumbuh 2,08% sementara produksi kedelai dunia mencapai 4,1%,” terang dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada tersebut. Lebih lanjut, Jangkung kembali menjelaskan bahwa index ketahanan pangan Indonesia masih lemah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Meskipun beberapa tahun ini mengalami peningkatan, Indonesia masih berada di kisaran peringkat tengah. “Pada Global Food Security Index 2019, ketahanan pangan Indonesia menempati posisi ke 62 dari 113 negara. Sementara Singapore menempati posisi pertama dalam daftar tersebut. Hal ini seharusnya memacu kita untuk meningkatkan akses dan ketersediaan pangan di Indonesia untuk kedepannya,” kata Jakung. Dalam gelaran kolokium tersebut hadir pula tiga pemateri ahli yakni Dr. Ir. Istis Baroh, M.P., Dr. Ir. Rahayu Relawati, M.M. serta  Dr. Ir. Bambang Yudi Ariadi, MM. Dalam materinya, Bambang mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki beberapa permasalahan di bidang agribisnis. Pertama, lemahnya keterkaitan antar masing-masing pelaku agribisnis. Kedua, masih menggunakan cara-cara konvensional dalam pengembangannya. Terakhir, jumlah petani kecil dengan lahan kurang dari satu hektar sangat dominan. “Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut diperlukan sinkronisasi antara pelaku agribisnis dari hulu sampai hilir. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga akan mendorong perkembangan agribisnis di Indonesia. Selain dapat memperbaiki perekonomian Indonesia, agribisnis yang baik juga akan membuka banyak lowongan pekerjaan di Indonesia,” ujar Dosen FPP tersebut dalam paparannya. Di lain kesempatan, Dr. Ir. David Hermawan, M.P., IPM. selaku Dekan FPP berharap bahwa acara kolokium doctor ini dapat menjadi penerang hati masyarakat. Selain itu juga bisa membuat pembangunan agribisnis nasional kita menjadi berdikari dan mandiri. “Semoga acara ini dapat menjadi pengubah dan penggerak agribisnis nasional. Paling tidak dapat mengurangi permasalahan-permasalahan  pangan di Indonesia,” tandasnya. (syi/wil)

Student Day UMM, Pacu Prestasi di Tengah Pandemi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memacu mahasiswanya untuk berprestasi, sekalipun di situasi pandemi. Salah satu usahanya dengan menggelar Student Day pada Minggu lalu (14/3). Dalam agenda tersebut, sebagian besar peserta ikut secara daring di kediaman masing-masing. Sebagian yang lain juga hadir secara luring di Dome UMM dengan protokol kesehatan yang ketat. Kali ini, UMM menghadirkan Dr. Ary Ginanjar Agustian selaku CEO ESQ Leadership Center. Datang pula Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Membuka acara, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM menjelaskan bahwa Student Day merupakan program rutin yang sudah lama UMM lakukan. Salah satu dasar pelaksanaan agenda ini adalah bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi, baik potensi intelektual maupun minat dan bakat. “Bagi UMM, potensi mahasiswa yang heterogen dan kompleks tersebut harus dikembangkan dengan baik agar mampu berprestasi di tingkat regional, nasional bahkan juga internasional,” tandas Fauzan. Ia juga menerangkan bahwa hidup yang kita miliki harus menjadi hidup yang berperstasi, meskipun di tengah pandemi. Maka dari itu, UMM mengundang Ary Ginanjar untuk memberikan motivasi yang diharapkan bisa menjadi stimulan para mahasiswa baru. Fauzan ingin agar mahasiswa bisa segera memahami situasi yang ada kemudian melakukan hal yang dianggap strategis ke depannya. Dalam kesempatan yang sama, Ary Ginanjar menyampaikan bahwa umat manusia, khususnya para mahasiswa baru kini menghadapi Volatility, Complexity, Urcentainty dan Ambiguity (VUCA) era. Situasi yang mengalami perubahan sangat cepat dan cenderung tidak bisa ditebak. Perubahan-perubahan itulah yang harus segera ditangkap sehingga bisa beradaptasi dengan cepat. Menjawab persoalan VUCA era, Ary memberikan solusi dengan sebutan super agility. Ada lima super agility yang harus dimiliki oleh mahasiswa baru. Pertama adalah change agility, yakni mereka harus bisa beradaptasi dengan perubahan apapun. Ada juga yang dinamakan dengan mental agility. “Mahasiswa dituntut untuk bisa bertahan dalam kondisi apapun, bahkan di situasi yang berat,” tandasnya. Ary kemudian menjelaskan agility yang ketiga yaitu people agility yang mendorong mereka untuk dapat bekerja sama dengan siapapun. Tidak pandang perbedaan ras, budaya, agama, bahasa dan cara pandang. Tidak cukup sampai di situ, Ary juga mendorong mahasiswa untuk memiliki learning dan result agility. Mampu memehami hal baru dengan cepat dan tepat serta mampu berprestasi di keadaan apapun. Sementara itu, Menko PMK, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. memberi selamat kepada UMM atas capaiannya menjadi universitas islam terbaik di dunia versi UniRank. Meski begitu, ia berpesan agar UMM terus berbenah, berkembang serta berinovasi sekalipun sudah ditetapkan sebagai kampus Islam terbaik. Dalam sambutannya, Muhadjir juga meminta para mahasiswa UMM untuk menumbuhkan 4C. C yang pertama dalah critical thinking, kemudian creativity, commucnication skill dan confidence. “Meskipun hanya empat hal namun mungkin akan terasa berat. Kalau kalian mampu memenuhi keempatnya, insyaAllah rida Tuhan akan menyertai dalam segala usaha kalian. Selain itu juga mampu membantu kalian untuk merintis keberhasilan di UMM,” pungkasnya. (wil)

Muda Berkarya, Program Kolaborasi UMM-Shopee Ajak Mahasiswa Berbisnis Digital

Mengutip data Global Web Index, pada 2019 Indonesia menjadi negara dengan tingkat adopsi E-commerce tertinggi di dunia. Hampir 90 persen pengguna internet yang berusia 16 hingga 64 tahun pernah melakukan pembelian secara online. Melihat hal itu, Direktorat Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng Shopee dan menyelenggarakan program bisnis digital “Muda Berdaya”. Agenda yang dilangsungkan secara daring pada Rabu (10/3) itu mengundang beberapa pemateri dari Shopee untuk memberikan pelatihan. Mengawali pelatihan tersebut, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM menegaskan bahwa tanggung jawab perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada kegiatan transfer knowledge. Namun juga membekali mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan yang ditemui usai menyelesaikan studinya. “Salah satunya dengan membekali kemampuan berwirausaha, khususnya dalam pemasaran digital,” lanjutnya. Fauzan juga menjelaskan bahwa UMM terus berusaha membentuk suasana entrepreneurship yang kuat. Jika sudah terbentuk suasana wirausaha yang kuat, maka akan muncul dinamika yang mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang ada. “Skill ini bisa jadi modal hidup yang bermanfaat. Tidak terbatas pada teknis menjual dan mendapat penghasilan, namun labih kepada membentuk jiwa-jiwa entrepreneurship,” harap Fauzan. Dalam kesempatan yang sama, Monika Viany selaku perwakilan Shopee menjelaskan bahwa banyak program yang sudah disiapkan, utamanya di masa pandemi. Adapun program Muda Berdaya berawal dari agenda yang dilaksanakan pada 2019 lalu. Pada saat itu Shopee menyasar para siswa yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). “Melihat potensi anak muda yang menjajikan, pada tahun ini kami menjalankan program bagi para mahasiswa,” ungkap Monika. Ia juga berharap agar agenda ini bisa memacu motivasi mahasiswa dalam berwirausaha. Mampu merintis bisnis di usia muda dan berakhir sukses. Hingga pada tahapan selanjutnya bisa membantu mengembalikan perekonomian negara menjadi lebih baik. Ditemui di kesempatan lain,  Dr. Tulus Winarsunu, M.Si. selaku Direktur Direktorat Pendidikan Vokasi dan Pelatihan UMM menerangkan bahwa akan ada tiga tahap yang akan dilalui para peserta pelatihan. tahap pertama yakni pengenalan serta kontrak belajar. Dilanjutkan dengan agenda training beberapa hari kemudian. Terakhir, yakni tahap inkubasi selama tiga bulan. “Pada tahap inkubasi, para peserta akan didampingi langsung oleh pihak Shopee dalam merinstis bisnis di platform digital,” kata pria asal Banyuwangi tersebut. Anak kedua dari tujuh bersaudara itu juga melanjutkan bahwa antusiasme para mahasiswa sangat tinggi. Jatah 250 peserta langsung habis di hari pertama. Bahkan batch kedua yang akan dilaksanakan pada awal April juga sudah terisi penuh. “Semoga pelatihan ini bisa memberikan pengalaman lebih bagi mahasiswa. Tidak hanya bergelut di lembaga intra maupun ekstra saja. Materi yang disajikan juga dapat mendorong mereka untuk memulai usaha sejak dini dan sukses,” pungkas Tulus di akhir wawancara. (wil)