Luncurkan 22 buku, PPG Ajak Guru Produktif Menulis

Ada yang lain dari yudisium Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMM pada Rabu (10/3) lalu. Selain mengukuhkan para wisudawan, gelaran yudisium tersebut juga dimeriahkan dengan agenda launching 22 buku. Semua karya tersebut merupakan karangan dari para mahasiswa PPG yang diambil sumpah. Sebanyak 22 buku tersebut merupakan hasil dari program menulis yang diadakan oleh Prodi PPG. Saat diwawancara, Arina Restian S.Pd., M.Pd., selaku penanggung jawab menjelaskan bahwa program ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melengkapi kemampuan para wisudawan, utamanya dalam hal menulis. Ia merasa sudah seyogyanya setiap pengajar profesional dapat menulis dengan baik hingga mampu mencetuskan sebuah karya. “Tidak banyak pendidik yang memiliki skill ini. Padahal menulis merupakan hal yang penting bagi mereka,” terangnya lebih lanjut. Arina mengaku bahwa inisiatif program tersebut berawal dari idenya yang ingin agar guru profesional juga bisa menelurkan karya. Apalagi melihat bahwa ia juga sudah menulis dan menerbitkan beberapa buku. Hingga akhirnya program tersebut dapat berjalan dengan baik. “Saya ingin mengajak dan mendorong seluruh elemen pengajar profesional agar mampu menulis dan menjadi contoh bagi anak-anak didiknya,” ungkapnya. Sebanyak 22 buku yang ada memiliki berbagai tema yang sudah ditentukan. Ada yang  berisi tentang pengembangan media pembelejaran. Adapula yang membahas terkait penguatan karakter serta pendidikan karakter di Indonesia. Meski begitu, ia akui komitmen menulis menjadi kendala dalam penyusunan buku-buku tersebut.  “Tentu saja semua agenda menemui kendala. Begitupun dengan penyusunan karya-karya ini. Namun jika kita memiliki komitmen yang kuat, kendala-kendala yang ada akan lebih mudah dihadapi,” akunya saat ditemui. Sementara itu, salah satu penulis dari buku tersebut Nanang Fauzi menyampaikan bahwa program ini bisa menjadi nilai positif, khususnya bagi para wisudawan. Ia juga menemui berbagai kendala saat mulai menulis buku. Salah satunya adalah masalah referensi. “Saat itu karya yang saya tulis membutuhkan satu referensi penting. Namun sangat susah untuk mendapatkannya. Akhirnya saya mencari alternatif lain. Selain agar tulisan saya selesai, juga untuk menghindari rasa malas yang sering mampir,” ceritanya. Ditanya ihwal harapan, Nanang ingin agar buku-buku yang sudah dilaunching dapat memberikan manfaat lebih bagi para pembaca. Khususnya bagi para pengajar yang ada. Usai dibaca, ide-ide yang tersemat di buku juga bisa diadopsi dan diterapkan dalam proses belajar-mengajar. Selain itu ia juga berharap karya tersebut mampu menjadi pelecut agar para pendidik lebih bersemangat dalam menulis dan menerbitkan buku. (haq/wil)

UMM Raih Persentase Tinggi Kelulusan Pendidikan Profesi Guru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengadakan yudisium dan pengambilan sumpah profesi guru periode ke lima. Acara ini diselenggarakan pada Rabu (10/03) secara luring di Aula BAU UMM dan secara daring pada kanal Zoom serta Youtube FKIP UMM. Pada yudisium kali ini, prodi Pendidikan Profesi Guru (PPG) mengukuhkan 524 wisudawan dengan 39 wisudawan hadir secara luring di UMM. Rektor UMM, Dr. Fauzan M.Pd., mengatakan para wisudawan pasti akan menghadapi banyak permasalahan karena seorang pendidik bertugas membentuk manusia. Namun yang dibentuk bukan hanya fisik, melainkan kepribadian seseorang. Karena hal tersebut, menjadi seorang guru memerlukan suatu komitmen yang kuat. “Saya ingin menekankan bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa. Panggilan ini juga memerlukan suatu komitmen yang kuat karena profesi pendidik selalu berhubungan dengan wilayah psikologis,” ungkap Fauzan. Ia juga mendoakan seluruh peserta yang mengambil sumpah saat itu mampu menjadi guru idola. Baik oleh para murid maupun rekan seprofesi ketika bekerja nanti. “Ciri guru idola adalah seluruh ekosistem menyambutnya dengan gembira. Lingkungan di mana ia berada juga menjadi nyaman. Orang tersebut terus mengayomi dan teguh dalam pendirian. Jika ia keluar dari lingkungan tersebut, ia akan ditangisi. Ini merupakan ciri guru yang baik,” tambahnya. Sementara itu, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes. mengatakan bahwa persentase kelulusan prodi PPG UMM menempati peringkat ketujuh terbaik se-Indonesia. “Persentase kelulusan PPG di Indonesia adalah 52% sementara persentase kelulusan PPG UMM mencapai 70%. Ini semua berkat kerja keras dan sinergi yang baik antara para wisudawan dan tenaga pendidik,” kata Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tersebut. Poncojari kembali mengungkapkan keikutsertaan para wisudawan sebagai guru profesional akan menjadi berkah tersendiri. Tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi bangsa. Ini juga merupakan salah satu upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan mencetak guru yang baik. “Saya berpesan agar para wisudawan dapat menerapkan lima belas poin kebaikan ini ketika nanti mulai mengabdi di dunia pendidikan. Lima belas hal ini meliputi doa, Ikhtiar, tawakal, meningkatkan keterampilan komunikasi, menerapkan critical thinking, kreativitas, dan kolaborasi. Kita juga harus bersikap adaptif, unik, dan interaktif. Terakhir, kita harus bekerja keras, cerdas, mawas, ikhlas, dan tuntas,” pesan Poncojari. (syi/wil)

Setahun Kiprah Maharesigana, Menebar Manfaat Selama Pandemi

Maret menjadi bulan peringatan kasus pertama COVID-19 hadir di Indonesia. Seluruh elemen, mulai dari pemerintah hingga masyarakat turut serta berjibaku menghadapi pandemi ini. Tidak terkecuali Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), Universitas Muhammadiyah Malang. Saat awal-awal COVID-19 muncul, Maharesigana bergerak cepat dengan membuka call center. Hal itu bertujuan untuk mengakomodir semua pertanyaan dari seluruh Indonesia. Layanan tersebut dilangsungkan atas kerja sama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan RS UMM.  “Sampai detik ini, sudah ada satu juta lebih orang yang mengakses. Setahun lalu, dalam satu hari kami bisa mengangkat telepon dan membalas WA sekitar 100-200 panggilan. Tantangannya luar biasa sekali saat itu,” kenang Ketua Maharesigana UMM, Rindya Fery Indrawan. Selain call center, tim Maharesigana UMM juga ikut membantu di rumah sakit meski tidak semua relawan berasal dari kalangan medis. Mereka turut berkontribusi pada proses screening hingga suplai konsumsi bagi tenaga medis di pos-pos rumah sakit yang kewalahan. “Itu tantangan di awal melakukan penanganan Covid-19. Setelah itu, kami juga turut membantu Kecamatan Dau untuk melakukan edukasi, razia masker juga pembagian sembako kepada orang-orang yang terdampak pandemi. Selain itu juga melakukan penggalangan dana,” tambah Indra. Tidak hanya itu, Maharesigana UMM juga membuat program Maharesigana Peduli Pendidikan (MPP). Program pendampingan bagi anak-anak kurang mampu yang dilakukan oleh para relawan dari seluruh Indonesia.  Ada yang berlokasi di Bangka Belitung, Lampung, Ambon, Jember, Flores dan beberapa kota lainnya. Para relawan bertugas untuk membantu akses internet, memberikan wawasan teknologi, serta mengajari anak-anak dalam belajar. “Kami sangat prihatin kepada anak-anak yang tidak memiliki akses internet dan ponsel pintar. Ada juga beberapa anak yang orang tuanya hanya tamatan SD bahkan tidak sekolah sama sekali. Hal itu membuat para orang tua tidak dapat mendampingi anaknya dalam bersekolah.Karena itu kami mencoba meringankan beban dengan menghadirkan program MPP sebagai bentuk dukungan untuk membantu Kemendikbud dengan program pembelajaran jarak jauh,” ujar lulusan Magister Agribisnis tersebut. Setahun berlalu, hingga hari ini Maharesigana UMM masih bekerjasama dengan UMM dan RS UMM untuk melakukan mitigasi COVID-19. Kegiatan yang dilakukan meliputi screening pengunjung RS, Poli Pinere, pemusaran jenazah hingga membantu menguburkan jenazah. Tidak hanya untuk masyarakat luas, Magaresigana juga berkontribusi  besar bagi sivitas akademika kampus. Pembina Maharesigana UMM, Zakarija Achmat menyampaikan bahwa membersamai Maharesina setahun ini adalah hal terbaik yang dia alami.  Kerja keras yang dilakukan timnya mampu menekan angka penularan Covid-19 di wilayah UMM. “Hal yang paling berkesan dalam usaha kami satu tahun belakangan tentu saja angka kasus covid yang prosentasenya relatif kecil. Kalau dilihat dari jumlah yang terkonfirmasi juga kecil, bahkan tidak sampai lima persen,” pungkasnya. (sil/wil)

HI UMM Kaji Kondisi Kerja Sama Internasional bersama Duta Besar Indonesia untuk Thailand

Dalam agenda tersebut, Dr. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor UMM mengatakan bahwa ini adalah kesempatan yang bagus bagi para mahasiswa dan peserta webinar. Mereka tentu bisa menambah berbagai khazanah pengetahuan akan dunia luar, khususnya Thailand. “Mudah-mudahan kesempatan ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Selain menambah khazanah pengetahuan tentang luar negeri khususnya Thailand, juga bisa menjadi langkah awal untuk melebarkan mimpi dan rencana ke negara tetangga,” tandasnya menambahkan. Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar RI untuk Kerajaan Thailand, Rachmat Budiman, S.H., mengatakan bahwa Indonesia –Thailand sudah membangun bekerjasama di bidang politik, hukum, dan keamanan. Beberapa program yang telah diadakan seperti Parliamentarian Friendship Group (TIPG), latihan militer bersama, dan repatriasi orang utan sejak tahun 2007-2020. “Dengan beberapa program kerja sama yang telah dijalin antara Indonesia-Thailand, diharapkan kedepannya dapat meningkatkan potensi masing-masing negara. Misalnya saja bisa memacu peningkatan ekspor dan investasi dari kedua belah pihak,” ujar Rachmat. Rachmat tidak menampik bahwa pandemi Covid-19 juga turut mengubah kebijakan-kebijakan kerja sama yang ada. Pertemuan yang biasa digelar secara luring mau tidak mau harus dilakukan secara daring. Meski demikian, komunikasi keduanya masih terus berlanjut berkat teknologi yang semakin maju. Ia juga mendorong agar ada peningkatan kerja sama antara Indonesia dan Thailand dalam aspek pendidikan guna menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global. “Kerja sama dalam bidang pendidikan memang begitu penting. Hal itu karena kita bisa menciptakan SDM yang unggul. Saya juga sangat berterimakasih pada UMM karena sudah menjadi salah satu pihak yang turun tangan dalam membentuk SDM yang baik. Mudah-mudahan kita dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan kedua negara tersebut,” Jelas perwakilan UNESCAP Indonesia itu. (syi/wil)

Vaksinasi Tahap Pertama bagi Dosen dan Karyawan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak cepat dalam penanganan pandemi Covid-19. Salah satunya dengan mengajukan agenda vaksinasi bagi dosen dan karyawan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Gayung bersambut, pada 4-6 Maret lalu UMM telah melangsungkan vaksinasi tahap pertama dengan memberikan 300 vaksin bagi dosen dan karyawan. Agenda tersebut dilangsungkan di Universitas Muhammadiyah Malang Medical Centre. Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., Kepala Bagian Kepegawaian UMM menjelaskan bahwa sebenarnya pemegang otoritas program vaksinasi adalah pemerintah. Meski begitu, UMM mengajukan vaksin untuk dosen dan karyawan melalui jalur Dinas Kesehatan Kota Malang. Ada sekitar 300 vaksin yang sudah diterima, 240 di antaranya telah digunakan pada tiga hari pertama pelaksanaan. “Mengingat hanya ada 300 vaksin, maka pimpinan universitas harus mengambil keputusan siapa yang didahulukan,” lanjutnya. Ia kembali mengatakan bahwa pimpinan universitas didahulukan karena harus mengawal jalannya organisasi. Kemudian dilanjutkan pemberian vaksin kepada pimpinan fakultas serta para staf di bidang 1, 2, 3, dan 4. “Di samping itu, para staf admin di lingkup fakultas juga didahulukan. Pasalnya, mereka juga memberikan pelayanan langsung kepada mahasiswa. Insyaallah akan ada 300 vaksin lagi dalam beberapa hari ke depan. Peruntukannya bagi sekretaris prodi, kepala laboratorium, dosen senior dan juga satpam,” ungkapnya. Senada dengan Zakarija, dr. Thontowi Djauhari, NS., M.Kes., juga mengatakan bahwa UMM berinisiatif untuk mengajukan program vaksinasi. Ada dua tahapan dalam memberikan vaksinasi. Jarak antara kedua tahap tersebut sekitar 14 sampai dengan 15 hari. “Sampai saat ini kita belum menemukan efek samping yang  berbahaya. Beberapa merasa mengantuk dan lapar. Ada juga beberapa yang mengeluh pusing,” imbuh ketua Satgas COVID-19 UMM tersebut. Dokter Rumah Sakit (RS) UMM tersebut juga menyebutkan kendala yang dihadapi. Salah satunya kurang akuratnya informasi yang diperoleh masyarakat, sehingga banyak asumsi-asumsi yang salah terkait vaksinasi. Ia juga berharap agar vaksinasi yang dilakukan dapat memimalisir penularan Covid-19 di kemudian hari. Meski ia akui bahwa vaksin SINOVAC ini tingkat efikasinya belum terlalu tinggi, yakni sekitar 65%. Sementara itu, Dr. Hj. Nurul Zuriah, M.Si selaku Kepala Divisi Penelitian DPPM UMM membagikan pengalamannya saat menerima vaksin. Awalnya, para peserta harus melalui proses screening terlebih dahulu sebelum dilakukan vaksinasi. “Kami ditanya-tanya terkait penyakit komorbid, apakah pernah asma, jantung atau bahkan paru-paru. Tentu saja saya berharap vaksinasi ini bisa meningkatkan kinerja karena membuat kami merasa aman dan nyaman. Mduah-mudahan penademi bisa segera berlalu,” harapnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Dimas Prasetyo, S.Pd., staf Internastional Relation Office (IRO). Ia mengatakan bahwa rasanya tidak jauh berbeda dengan suntikan biasa. Ia juga menganggap bahwa vaksinasi ini adalah bentuk ikhtiar untuk terus menjaga kesehatan. “Mungkin nanti setelah 14 hari, kami akan menerima tahap vaksinasi yang kedua,” pungkasnya. (sil/wil)

Mahasiswa Ciptakan Alat Pengukur Warna Garam

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti untuk terus berinovasi. Kali ini, inovasi datang dari mahasiswa Teknik Elektro, Hasrullah, yang menciptakan alat pengukur tingkat warna putih pada garam industri. Alat ini dinamai Instrumen Tingkat Warna Putih Garam Industri. Hasrul, sapaannya, berkata bawa ide untuk membuat alat ini ia peroleh ketika dirinya sedang magang. Hasrul melihat bahwa penerapan teknologi untuk mengontrol kualitas warna putih pada garam masih kurang maksimal. “Kontrol kualitas warna putih pada garam menjadi salah satu hal yang penting, meski perbedaan warna putih pada garam tipis, tetapi hal itu bisa menyebabkan perbedaan persepsi di masyarakat,” kata mahasiswa kelahiran Makassar tersebut. Hasrul membuat alat ini dengan didampingi oleh manager dan pembimbing lapangan dari PT .Garam Camplong-Madura serta dosen UMM. Alat tersebur bekerja dengan cara memanfaatkan intensitas pantulan dari garam. Semakin putih garam, semakin baik pula pantulannya. “Alat ini diciptakan dengan berbasis Arduino. Cara kerja alat ini tinggal ditempelkan pada garam lalu nantinya informasi mengenai tingkat putih pada garam akan ditampilkan pada layar Liquid Crystal Display (LCD). Saya membagi tingkat warna putih menjadi lima yaitu premium, putih super, putih, rejected, dan hold,” kata anak pertama dari dua bersaudara ini. Sekarang alat ini telah digunakan oleh PT .Garam Camplong-Madura untuk mengukur warna pada garam produksinya. Hasrul juga mendapatkan penghargaan The Most Innovated Intern dari PT. Garam (Persero) pada 2 November 2020. “Alat ini masih perlu beberapa peningkatan terutama di bagian pembacaan tingkatan warna. Untuk kedepannya, saya ingin mempatenkan alat ini. Saya berharap nantinya alat ini tidak hanya digunakan pada garam saja, tetapi juga pada beras, gula, dan lainnya,” tandasnya. (syi/wil)

Fight the Virus, Mahasiswa UMM Ciptakan Game Edukasi

Dalam beberapa kesempatan, pandemi juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk melahirkan ide-ide kreatif dan inovatif. Salah satunya menciptakan game edukasi yang mengangkat tema pandemi. Fight the Virus merupakan game edukasi garapan lima mahasiswa Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menghadirkan karakter pendekar Tapak Suci sebagai representatif dari Muhammadiyah. “Kami membuat game ini karena akan mengikuti lomba. Kemudian, karena tema yang diusung pada acara ini adalah pandemi dan harus memasukkan unsur Muhammadiyah maka kami memilih Tapak Suci,” terang Rosi Andreyna. Bersama Luthfi Ramadhani, Indah Ardhia Cahyani, Event Rifqi Pratiwi dan Ilham Ardiansyah, Rosi tergabung dalam satu kelompok bernama “Berfaedah”. Karakter dalam permainan ini harus melewati labirin dan rintangan berupa Virus Corona. Poin permainan akan terus bertambah apabila karakter dalam game ini menemukan masker dan hand sanitizer di labirin. Seperti game pada umumnya, permainan ini juga memiliki sistem level di mana semakin naik level semakin sulit untuk mengalahkan lawan. “Permainan ini pada intinya ya harus melawan Virus Corona dan pendekar Tapak Suci harus melawan virus tersebut dengan dibekali masker dan hand sanitizer yang diperoleh dari labirin,” lanjut Rosi. Diceritakan oleh Rosi, ia dan keempat kawannya tidak mengalami kendala yang berarti selama proses pembuatan game ini. Sampai pada proses perlombaan, Fight the Virus berhasil masuk lima besar pada Kompetisi Asosiasi Program Studi Informatika (APSI) yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Makassar pada Februari lalu. (haq/adr)

Dekatkan Peluang Kerja, FPP UMM Gelar Kuliah Industri Profesional Unggas

Cetak para profesional di bidang peternakan unggas, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan kuliah industri profesional unggas pada Kamis (04/03). Bekerjasama dengan   PT. Jatinom Indah Agri, acara diselenggarakan di Aula BAU UMM. Peserta kelas profesional ini adalah mahasiswa yang telah diseleksi sesuai nilai, serta minat dan bakatnya. Pada kesempatan ini CEO PT. Jatinom Indah Agri Drs Hidayaturrahman MM., mengatakan melalui acara ini para mahasiswa dapat melihat secara nyata bagaimana industri unggas itu berjalan. “Kami ingin membantu para mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman di industri secara nyata. Selain itu, kami juga berharap mahasiswa bisa memberikan kritik dan masukan pada PT. Jatinom Indah Agri. Jadi kita sama-sama bisa belajar untuk kedepanya,” ujar Dayat. Dayat berkata bahwa setelah mendapat kelas teori, mahasiswa akan mulai magang di  PT. Jatinom Indah Agri selama enam bulan. Ketika magang nanti, para mahasiswa akan ditempatkan di bidang-bidang yang sesuai dengan keahlian mereka. “Empat puluh mahasiswa ini nantinya akan saya tempatkan di bidang yang berbeda. Ada yang bagian manajemen ada yang di lapangan dan bidang lainnya. Pembagian itu berdasarkan keahlian masing-masing,” katanya. Di sisi lain, Dr. Ir. Abdul Malik, MP., mengatakan bahwa selain mendapat pengalaman, mahasiswa akan mendapat sertifikat resmi dari PT. Jatinom Indah Agri. Hal ini akan menambah nilai plus mahasiswa di mata perusahaan. “Selain manfaat tersebut, PT. Jatinom Indah Agri juga menyiapkan beasiswa kepada 10 mahasiswa terbaik yang mengikuti kelas profesi ini. Lowongan pekerjaan di PT. Jatinom Indah Agri juga terbuka lebar untuk para mahasiswa,” kata Malik. Malik berkata dalam rangka memberikan pengalaman yang nyata pada para mahasiswa, UMM juga telah bekerjasama dengan tiga perusahaan lain. Harapannya para mahasiswa bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. “Ini merupakan suatu program yang sangat prospektif terkait dengan masa depan anak-anak di bidang kerja. Semoga bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin, sehingga dapat mahasiswa dapat mengambil kemanfaatan dari mitra kita,” tandasnya. (syi/sil)

Alumni UMM Dirikan PERIISAI, Wadah Akademisi Hasilkan Karya Publikasi

Menulis, meneliti, mengabdi, dan mengajar adalah sederet rangkaian tugas dari seorang dosen. Banyak hal yang harus dipersiapkan dan diperhitungkan untuk bisa menjalankan semuanya secara seimbang. Itulah pesan yang disampaikan oleh Hastowohadi alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses menjadi akademisi yang “seimbang”. “Dosen saat ini seolah dikejar-kejar target untuk menerbitkan artikelnya di jurnal internasional terindeks Scopus padahal dosen juga punya banyak agenda lainnya yang harus dikerjakan secara seimbang,” jelas Hastowo. Pria yang lahir di Desa Cluring, Banyuwangi ini besar di keluarga pendidik. Ibunya berprofesi sebagai guru TK dan ayahnya seorang PNS guru SD dan SMP yang kemudian menjadi pengawas. Karir keduanya kemudian menjadi pemantik semangat bagi Hastowo untuk menekuni profesi yang sama. “Ayah dan Ibu saya berprofesi sebagai pendidik. Kurang lebih, profesi orang tua saya ini memberikan suntikan semangat pada saya untuk menekuni hal yang sama,” terang dosen Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi ini. Sebelum resmi mendapatkan ijazah pendidikan magisternya, Hastowo telah resmi menjadi dosen di kampus tempat ia mengajar saat ini. Dituturkan olehnya, di awal menjadi dosen ia menyadari betul bahwa ia masih awam dalam dunia riset dan publikasi. Padahal, dua hal itu adalah nyawa dari profesinya. “Sebelum lulus S2 sudah jadi dosen, tapi pengetahuan saya tentang riset dan publikasi sangat minim,” tuturnya. Sadar akan kondisi tersebut, Hastowo giat belajar dari satu seminar ke seminar lainnya. Tidak jarang, ia harus berhutang pada teman demi bisa mengikuti seminar tentang riset dan publikasi. “Pernah, saya nekat berangkat dengan sepeda motor sendirian ke Solo untuk ikut konferensi, padahal belum bayar. Alhamdulillah di detik akhir ada teman yang minjami,” jelas pria yang memulai karir sebagai guru SMK ini. Tidak disangka semangatnya mengikuti berbagai seminar membawanya berkenalan dengan Prof. Handoyo Puji Widodo, dosen King Abdulaziz University, Jeddah, Saudi Arabia yang mematahkan kegusarannya akan sulitnya melakukan publikasi ilmiah. “Tak hanya mengajari bagaimana menjadi peneliti dan penulis yang andal, Prof. Handoyo benar-benar menekankan bagaimana menerbitkan artikel Scopus tak berbayar. Dalam bahasa beliau, ini Scopus Syariah. Publikasi artikel Scopus yang tidak berbayar,” tambahnya. Tak hanya aktif mengajar, Hastowo bersama ketiga koleganya Sandy Ferdiansyah, Rahman, dan Inayatul Mukaromah juga mendirikan “Komunitas Menulis Banyuwangi” pada tahun 2017. Berdirinya komunitas yang mewadahi para dosen-peneliti, akademisi, dan praktisi untuk saling belajar dan menghasilkan karya nyata di publikasi riset dan buku ini juga tidak lepas dari peran dan tangan dingin Prof Handoyo. Terus bertumbuh, di awal tahun 2021 komunitas ini berganti nama Perkumpulan Peneliti dan Penulis Ilmu Sosial Indonesia (PERIISAI) dengan Hastowo sebagai direkturnya. Komunitas yang telah berbadan hukum ini telah memiliki 300 anggota aktif. “Jujur saya tidak menyangka akan ditunjuk sebagai direktur. Namun, atas dukungan dari sesama founder dan juga Prof. Handoyo, saya memberanikan diri untuk melaksanakan amanah itu,” tandasnya. (*/adr/sil)

Dekatkan Peluang Kerja, FPP UMM Gelar Kuliah Industri Profesional Unggas

Cetak para profesional di bidang peternakan unggas, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adakan kuliah industri profesional unggas pada Kamis (04/03). Bekerjasama dengan   PT. Jatinom Indah Agri, acara diselenggarakan di Aula BAU UMM. Peserta kelas profesional ini adalah mahasiswa yang telah diseleksi sesuai nilai, serta minat dan bakatnya. Pada kesempatan ini CEO PT. Jatinom Indah Agri Drs Hidayaturrahman MM., mengatakan melalui acara ini para mahasiswa dapat melihat secara nyata bagaimana industri unggas itu berjalan. “Kami ingin membantu para mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman di industri secara nyata. Selain itu, kami juga berharap mahasiswa bisa memberikan kritik dan masukan pada PT. Jatinom Indah Agri. Jadi kita sama-sama bisa belajar untuk kedepanya,” ujar Dayat. Dayat berkata bahwa setelah mendapat kelas teori, mahasiswa akan mulai magang di  PT. Jatinom Indah Agri selama enam bulan. Ketika magang nanti, para mahasiswa akan ditempatkan di bidang-bidang yang sesuai dengan keahlian mereka. “Empat puluh mahasiswa ini nantinya akan saya tempatkan di bidang yang berbeda. Ada yang bagian manajemen ada yang di lapangan dan bidang lainnya. Pembagian itu berdasarkan keahlian masing-masing,” katanya. Di sisi lain, Dr. Ir. Abdul Malik, MP., mengatakan bahwa selain mendapat pengalaman, mahasiswa akan mendapat sertifikat resmi dari PT. Jatinom Indah Agri. Hal ini akan menambah nilai plus mahasiswa di mata perusahaan. “Selain manfaat tersebut, PT. Jatinom Indah Agri juga menyiapkan beasiswa kepada 10 mahasiswa terbaik yang mengikuti kelas profesi ini. Lowongan pekerjaan di PT. Jatinom Indah Agri juga terbuka lebar untuk para mahasiswa,” kata Malik. Malik berkata dalam rangka memberikan pengalaman yang nyata pada para mahasiswa, UMM juga telah bekerjasama dengan tiga perusahaan lain. Harapannya para mahasiswa bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. “Ini merupakan suatu program yang sangat prospektif terkait dengan masa depan anak-anak di bidang kerja. Semoga bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin, sehingga dapat mahasiswa dapat mengambil kemanfaatan dari mitra kita,” tandasnya. (syi/sil)