Alumni UMM Langganan Beasiswa Luar Negeri Sejak Mahasiswa

Berawal dari menonton banyak film asing saat kecil, Hesti Miranda mulai bermimpi untuk pergi ke luar negeri. Sayangnya, cita-cita itu terhalang banyak kendala. Berbagai penolakan dari program pertukaran pelajar dialami Alumni Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Meski dihadapkan pada kegagalan, mimpi Hesti untuk ke luar negeri tidak pernah padam. Bahkan keinginanya semakin kuat ketika mengetahui UMM memiliki banyak program beasiswa internasional. Ia pun aktif di berbagai organisasi yang menunjang salah satunya International Language Forum. “Di tahun 2016 ketika saya mengikuti beberapa program ILF, saya mendapat kesempatan untuk menjajal pertukaran pelajar ke China selama empat bulan. Di tahun yang sama, saya juga berkesempatan untuk mengikuti magang internasional di Thailand,” lanjut Hesti, Kamis (25/02). Keberungan tersebut membuat anak tengah dari tiga bersaudara ini semakin ketagihan. Semangatnya menjadi lebih besar untuk mencoba berbagai program inernasional laninnya. Berpengalaman dua kali mengikuti program di luar negeri, jalan mulus tak lantas hadir di depan mata Hesti. Ia masih harus berjuang setelah menerima kenyataan ditolak tujuh kali pada program beasiswa Erasmus Mundus. Tak surut langkah, hal ini justru menjadikannya semakin giat mencari peluang studi di luar negeri. “Karena saya berasal dari desa, saya mempunyai prinsip bahwa saya harus terus berkembang.Pergi ke luar negeri merupakan salah satu cara bagi saya untuk mempelajari hal baru dan mengembangkan diri.Jadi setiap ditolak, saya selalu berusaha memperbaiki curriculum vitae (CV) dan motivation letter. Bahkan sebelum sidang skripsi pun saya masih menyempatkan diri untuk mendaftar beasiswa Erasmus mundus ke Spayol,” katanya. Awalnya Hesti tidak menyangka akan lolos Erasmus Mundus. Selain karena sudah banyak menerima penolakan, di tahun 2018 tersebut dirinya juga akan segera wisuda. Beasiswa Erasmus mundus tidak akan berlaku ketika pendaftar telah dikukuhkan oleh pihak kampus sebagai wisudawan. Siapa sangka, keberuntungan kali ini memihak padanya. Waktu wisuda Hesti diundur. Orang tuanya tidak dapat datang sesuai jadwal awal yang telah ditentukan. Hal ini bertepatan dengan pengumuman penerimaan Erasmus Mundus dan ia pun dapat mengikuti program beasiswa ke Spayol mulai Agustus 2018-Februari 2019. Hesti mengaku sangat bersyukur telah memilih UMM dan mengikuti berbagai program beasiswa luar negeri yang telah disediakan oleh kampus. Meneruskan mimpinya, saat ini Hesti sedang melanjutkan studi S2 di National Dong Hwa University (NDHU) Taiwan. “Berbagai pengalaman beasiswa dan magang yang saya dapatkan ketika berkuliah di UMM sangat membantu studi S2 di Taiwan. Jika masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi S3, saya berharap bisa pergi belajar ke tempat yang lebih jauh lagi,” pungkasnya. (syi/sil)
Maharesigana, Tangani Psikososial Pengungsi Banjir dan Longsor Nganjuk

Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk 14 Februari lalu tidak hanya membawa kerugian materi bagi para korban. Secara psikologi, baik anak-anak maupun orang dewasa juga mengalami dampak dari bencana tersebut. Melihat hal ini, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membentuk dua tim yang diberangkatkan secara bergantian dalam dua gelombang. Satu tim saat ini telah berada di desa tersebut sejak Sabtu (20/02) dan memberikan dukungan psikososial bagi para penyintas. “Setiap tim terdiri dari 5 mahasiswa dari berbagai fakultas. Fokus mereka pada kegiatan psikososial baik untuk dewasa maupun anak-anak,”kata Rindya Fery Indrawan, Ketua Maharesigana UMM, Selasa (23/02). Setelah melakukan assessment selama 3 hari di tempat pengungsian, Koordinator Tim Psikososial Kelompok I, Ahmad Hendra Purwanto mengungkapkan bahwa para pengungsi saat ini menyampaikan banyak keluhan, baik secara fisik maupun kondisi psikologi. Mulai dari ketakutan, rasa khawatir, gelisah bahkan rasa bersalah yang sangat dalam. “Ada seorang nenek yang terus menyesali keputusannya membiarkan cucunya pulang ke rumah orang tuanya. Si nenek bilang, seandainya saja ia menahan si cucu, mungkin hingga kini cucunya masih hidup. Tidak terkubur longsor bersama ayah ibunya,” ujar Hendra. Kondisi sejenis ini yang kemudian menjadi fokus tim untuk melakukan Psychological First Aid (PFA) atau tindakan humanis dan mendukung dalam membantu seseorang yang menderita dan membutuhkan bantuan akibat bencana alam atau krisis. “Tujuannya menghindari kondisi psikologis yang lebih buruk lagi. Jadi menenangkan, memberikan rasa aman dan nyaman. Kalau kebutuhan fisik sudah tercukupi dari pemerintah daerah yang sangat tanggap,” tambah Hendra. Tidak hanya bagi orang dewasa, tim Maharesigana UMM juga fokus pada anak-anak yang juga mengalami tantangan tersendiri. Mereka didera rasa bosan dan juga keinginan yang kuat untuk dapat beraktivitas seperti biasa, padahal keadaan masih belum memungkinkan. “Layanan dukungan psikososial untuk anak-anak kami berikan dengan membuat jadwal untuk mereka agar tidak jenuh. Jika sebelumnya banyak komunitas atau lembaga lain terus mengajak bermain, kini waktunya kami atur. Kasihan kalau diajak bermain terus anak-anak juga akan lelah dan itu tidak baik untuk imun mereka, apalagi di masa pandemi seperti ini,” tambahnya. Hendra lalu menguraikan, penjadwalan dilakukan meliputi kegiatan senam di pagi hari, assasment, istirahat, dan mengaji. Ragam ini penting agar anak-anak tidak merasa jenuh. “Baik pengungsi dan tim harus mendapat istirahat yang cukup, sehingga kondisi tubuh tetap terjaga. Selain itu, kondisi fisik dan spiritual juga tetap harus diperhatikan. Untuk ibu-ibu akan didatangkan ustadzah untuk mengajar mengaji,” ujarnya. Zakarija Achmat S.Psi., M. Si. selaku pembina Maharesigana UMM menyampaikan, pihaknya mempersiapkan dengan baik untuk pemberangkatan para relawan. Selain mendapat pembekalan dari Laboratorium Psikologi Terapan Psikososial UMM tentang bantuan psikologis awal, kesehatan para relawan juga menjadi fokus. “Kita kirimkan 10 relawan. Lima orang seminggu, nanti ditarik, diganti tim yang lain karena masih dalam situasi seperti ini. Itu pun harus melalui protokol. Begitu sampai langsung rapid test, swab antigen. Jangan sampai kedatangan para relawan justru menimbulkan cluster baru, ” urainya. Zakarija melanjutkan, UMM berharap keberadaan para relawan Maharesigana UMM di sana dapat meringankan beban para korban banjir dan tanah longsor. Utamanya dalam sisi psikologis baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. “Semoga ini dapat meringankan beban, minimal beban psikologisnya karena memang relawan kita pendekatannya pendekatan psikososial. Misalnya karena para orang dewasa fokus untuk mengembalikan keadaan pada sistuasi normal, anak-anak kemudian menjadi tidak terlalu terperhatikan termasuk dalam pendidikan. Teman-teman relawan akan membantu proses pendidikan ini tetap berjalan. Bukan berati menggantikan guru, tapi lebih secara umum. Contohnya seperti story telling,” pungkasnya. (sil)
UMM Tempati Posisi Keempat Pendanaan Proposal Pengabdian Terbanyak Kemenristek/BRIN

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus aktif melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kali ini UMM kembali berprestasi dengan berhasil menempati posisi keempat dari sepuluh perguruan tinggi nasional yang mendapatkan pendanaan proposal pengabdian terbanyak se-Indonesia. Rangking ini dirilis oleh Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (Kemenristek/BRIN) pada Selasa (23/02). Kemenristek/ BRIN sendiri telah menggelontorkan Rp54,8 miliar untuk mendanai riset Pengabdian Masyarakat Perguruan Tinggi pada tahun anggaran 2021. Berada di urutan ke 4 setelah Universitas Bosowa, Universitas Udayana dan Universitas Tadulako, UMM mendapatkan pendanaan sebesar Rp.977.900.000. Kepala Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) UMM, Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si mengatakan bahwa ini merupakan capaian yang luar biasa di situasi yang sulit saat ini. “Pada masa pandemi seperti ini, Kemenristek/BRIN mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi kuota pendanaan proposal pengabdian masyarakat. Namun UMM berhasil mendapat kepercayaan dan menempati posisi keempat pendanaan terbanyak. Hal ini merupakan suatu kebanggaan,” ujar dosen FKIP tersebut Rabu, (24/02) Yus berkata selain menempati posisi keempat pendanaan terbanyak, salah satu program pengabdian masyarakat milik UMM juga masuk ke daftar pengabdian masyarakat unggulan versi Kemenristek/BRIN. “Salah satu dari program pengabdian masyarakat UMM masuk ke daftar lima pengabdian masyarakat unggulan Kemenristek/BRIN. Pengabdian tersebut berfokus pada pengembangan budidaya ikan berbasis penerapan media solar cell,” kata Yus. Meskipun telah berhasil memperoleh pencapaian yang luar biasa, Yus menyampaikan bahwa DPPM UMM tidak berhenti untuk terus berinovasi dan melakukan perbaikan kualitas. Pihaknya akan lebih masif lagi dalam mendampingi proposal-proposal pengabdian masyarakat. “Pada bulan Maret, kami akan melakukan roadshow ke fakultas-fakultas dalam rangka sosialisasi syarat-syarat proposal dari Kemenristek/BRIN serta membahas topik-topik apa saja yang bisa dilakukan pada masa pandemi. Selain itu juga akan dilakukan pendampingan terhadap proposal yang telah dibuat oleh dosen-dosen. Kami juga menghadirkan enam reviewers nasional untuk meninjau kualitas proposal,” lanjut dosen kelahiran Jombang tersebut. Melalui berbagai upaya tersebut Yus berharap, kedepannya semakin banyak proposal hasil penelitian dari para dosen yang bisa diajukan ke pendanaan eksternal dengan kualitas yang lebih baik. Terlebih lagi, pengabdian ini didukung oleh tim ahli yang solid dari dari seluruh fakultas, mulai dari keteknikan, pertanian, peternakan perikanan, pendidikan, sosial dan tim ahli yang lain. “Saya berharap dengan berbagai usaha pendampingan yang telah kita lakukan, kualitas proposal UMM semakin meningkat dan semakin banyak proposal yang lolos pendanaan,” pungkasnya. (syi/sil)
UMM Mantapkan Langkah ke Jajaran Kampus Islam Dunia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menoreh prestasi internasional yang membanggakan. Kampus putih ini menduduki posisi pertama sebagai universitas Islam terbaik dunia pada 2021 Top Islamic Universities versi UniRank (17/02). Disusul berikutnya Iran University of Science and Technology di posisi kedua dan Cairo University di posisi ketiga. Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si menyampaikan capaian ini menjadi langkah mantap UMM untuk meraih rekognisi secara internasional sebagai giat mewujudkan visi UMM 2030. “Tentu ini akan menjadi pemicu, menjadi trigger dan energi positif bagi sivitas akademika UMM untuk terus meningkatkan capaian-capaian internasional. Kita memang telah mematok visi UMM pada 2030, ingin UMM mendapatkan international recognition, pengakuan internasional dari berbagai lembaga pemeringkat, baik sertifikasi maupun akreditasi,” ujarnya Kamis, (18/02). Lebih lanjut Syamsul menyampaikan, saat ini beberapa program studi (Prodi) di UMM juga telah meraih sertifikasi dan akreditasi internasional, diantaranya Prodi Manajemen, Peternakan, Pendidikan Biologi (sertifikasi Asean University Network Quality Assurance) dan Teknik Industri (akreditasi Indonesian Accreditation Board for Engineering Education). Sementara itu, beberapa Prodi lain juga tengah dalam proses internasionalisasi. “Jadi akan banyak Prodi yang terakreditasi secara internasional. Ini sebagai penanda kalau kita akan terekognisi, sehingga dosen-dosen dengan mudah bisa berjejaring dan para alumni bisa diakui di level ASEAN, maupun internasional dan tentu saja nasional,” tambahnya. Senada dengan Syamsul, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd. menyampaikan terimakasihnya kepada sivitas akademika yang semangatnya tidak pernah redup dalam berkarya dan menjadikan UMM lebih baik dari hari ke hari. “Terimakasih kepada semua civitas akademika yang telah bekerja keras hingga UMM mampu terus berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional,” tandasnya. Adapun kriteria pemeringkatan 2021 Top Islamic Universities versi Unirank ini adalah diakreditasi oleh organisasi terkait pendidikan tinggi yang sesuai di negara yang bersangkutan, menawarkan setidaknya gelar sarjana empat tahun (sarjana) atau gelar pascasarjana (magister atau doktoral) serta melakukan perkuliahan terutama dalam format pendidikan tradisional, tatap muka dan non-jarak jauh. Berikut urutan sepuluh besar Universitas Islam terbaik Dunia 2021 versi Unirank, Universitas Muhammadiyah Malang (Indonesia), Iran University of Science and Technology (Iran), Cairo University (Mesir), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Indonesia), Umm Al-Qura University (Saudi Arabia), Shahid Beheshti University of Medical Sciences (Iran), Universiti Islam Antarabangsa (Malaysia), Universitas Muhammadiyah Surakarta (Indonesia), Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (Indonesia), dan Universitas Islam Indonesia.
PSIF Kaji Pembentukan Manusia Dari Sisi Agama dan Medis

Membahas tentang proses penciptaan manusia memang selalu menarik. Dalam rangka mengkaji perpaduan proses penciptaan manusia secara agama dan medis, Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggerakan kajian bulanan berjudul Membaca Lebih Dekat Asal-muasal Manusia, Minggu (21/02). Hadir sebagai pemateri pada acara tersebut dokter RSU UMM dr. Thontowi Djauhari, NS., M.Kes. Tomi demikian sapaan akrabnya menjelaskan proses penciptaan manusia yang terdapat dalam Al Quran Surat Al-Mukminun Ayat 12-14. Ia menguraikan isi ayat tersebut yang memiliki arti Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati berupa tanah, kemudian saripati tersebut kami jadikan nutfah yang tersimpan di tempat kokoh. Lalu nutfah menjadi alaqoh dan menjadi mudghoh. Kemudian mudghoh tersebut menjadi tulang belulang. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. “Fase-fase tersebut sama seperti pembentukan manusia dalam medis. Dalam Bahasa arab alaqoh berarti lintah atau segumpal darah. Pada masa awal bentuk embrio itu seperti lintah. Pada masa perkembangan embrio gumpalan-gumpalan darah tersebut menyatu dan menjadi segumpal daging. Disinilah tahap mudghoh dimulai. Janin tersebut terus berkembang memiliki tulang dan daging. Lalu sampailah pada tahap sang ibu melahirkan,” urainya. Menyambung penjelasannya, Tomi kembali mengutip Al Quran Surat Al-Isra’ Ayat 36 Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. “Urutan ini unik dan penting karena sesuai dengan jalannya indra pada bayi. Ketika janin melewati masa mudghoh dan sampai pada fase fetal hal pertama yang terbentuk adalah telinga di mana bayi bisa mendengar. Lalu diikuti dengan terbentuknya mata yang akan berfungsi empat minggu setelah dilahirkan. Lalu, setelah bisa melihat bayi akan mulai memakai perasaannya untuk berfikir,” lanjut Tomi kembali menjabarkan kesesuaian antara apa yang terdapat pada Al Quran dengan ilmu secara medis. Di akhir, Tomi menutup materinya dengan Quran Surat At-Tin ayat 4 yang memiliki arti Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Berkaca dari ayat tersebut, Tommy menyampaikan bahwa melalui kedua sudut pandang dari sisi medis dan agama masyarakat dapat lebih mudah memahami dan saling bertukar informasi. “Saya berharap dengan perbedaan sudut pandang ini dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik,” tandasnya. (syi/sil)
Khawatir dengan Pendidikan Karakter, Mahasiswa Ciptakan Aplikasi Citra

Pendidikan karakter harus diajarkan kepada anak sejak dini. Namun sayangnya terpaan sinetron maupun tontonan lain yang tidak sesuai usia, banyak menghalangi bertumbuhnya karakter baik pada anak. Melihat hal tersebut mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan aplikasi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis cerita rakyat bernama Citra akronim dari Cerita Rakyat. Aplikasi ini diciptakan sebagai sarana pembentuk karakter pada anak usia 7-18 tahun. Tim peramu aplikasi ini terdiri dari tiga orang yaitu Nurliawati Dide, Syahrotul Latifah, dan Alvi Syauqie. Dide menceritakan bahwa ide pembuatan aplikasi ini berasal dari keresahannya terhadap tontonan anak yang tidak sesuai dengan usia anak-anak. “Ketidaksesuaian tontonan dan usia anak ini menyebabkan anak jadi mencontoh perilaku buruk. Perilaku-perilaku buruk tersebut berupa perundungan, pencurian, tawuran hingga malas belajar,” kata mahasiswa asal Maluku Tengah tersebut, Sabtu (20/02). Dide kembali menguraikan bahwa pembuatan aplikasi ini didasarkan pada program pemerintah yaitu PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) pada jenjang pendidikan dengan dibentuknya 5 nilai karakter utama pada anak yaitu: religius, gotong royong, mandiri, integritas, dan nasionalis. “Selain mengambil dasar dari PPK, dalam pembuatan aplikasi ini kami juga membagi materi cerita per jenjang pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Hal ini dilakukan agar para siswa dapat memperoleh materi sesuai dengan usia dan jenjang pendidikannya,” lanjut Dide Ia pun menjelaskan cara kerja aplikasi tersebut. Pada menu utama, aplikasi dibagi menjadi tiga kategori yaitu SD, SMP, dan SMA. Kategori tersebut kembali dibagi menurut tingkatan kelas di jenjang SD-SMA. Setelah siswa memilih kelas, maka aplikasi akan memunculkan cerita rakyat dan permainan. “Masing-masing jenjang memiliki cerita dan permainan yang berbeda. Pada jenjang SD cerita rakyat berisi sinopsis bersuara. Lalu tampilan akan berganti secara otomatis menjadi video animasi. Di jenjang SMP dan SMA cerita rakyat dikemas dalam bentuk komik. Detailnya, untuk SMP kami menggunakan permainan kuis bola yang berisi pertanyaan-pertanyaan terkait isi cerita rakyat. Sementara di jenjang SMA kami menggunakan permainan kata baku yang dikemas dalam bentuk roda berputar,” jelas mahasiswa pendidikan Bahasa Indonesia tersebut. Dide dan tim mengajukan rancangan ini pada Program Kreativitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC) 2020 dan lolos sampai tahap pendanaan Ditjen Dikti. Saat ini, pembuatan aplikasi Citra telah sampai pada tahap desain prototipe aplikasi. Selanjutnya, aplikasi ini akan di daftarkan untuk memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI). “Saya berharap ketika aplikasi ini telah di rilis dan di sebarkan ke masyarakat dapat membantu anak-anak dalam proses pembelajaran karakter,” tandasnya. (syi/sil)
Prodi Biologi Mantapkan Belajar Skema Kampus Merdeka

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) beberapa waktu lalu mendapatkan respon cepat oleh semua pihak terkait. Salah satunya adalah program studi (prodi) Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP-UMM). Melalui skema pertukaran pelajar pada Program MBKM NUNI 2021, enam mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi akan menempuh perkuliahan lintas kampus. “Program MBKM NUNI 2021 terselenggara atas kerja sama antara UMM dengan beberapa universitas terkemuka di Indonesia yang tergabung dalam Nationwide University Network in Indonesia atau NUNI. Alhamdulillah enam mahasiswa Biologi lolos seleksi dan bersiap untuk mengikuti pembelajaran,” ungkap Dr. Iin Hindun, Ketua Prodi Pendidikan Biologi. Lebih lanjut, Hindun juga mempertegas bahwa keenam mahasiswa yang berhasil lolos pada program ini diterima di berbagai kelas yang berbeda di setiap universitas. Semua mahasiswa akan melaksanakan kegiatan MBKM NUNI ini selama satu semester penuh. “Mahasiswa-mahasiswa yang sudah lolos nanti akan mengikuti perkuliahan sesuai dengan jadwal di masing-masing universitas. Durasi totalnya adalah satu semester penuh,” tegasnya. Sebelum dinyatakan lolos, mereka harus melewati proses seleksi yang ketat. Pasalnya, mereka harus bersaing dengan mahasiswa dari berbagai kampus untuk memperebutkan 5 sampai 10 kuota mahasiswa pada setiap mata kuliah dalam satu universitas. Diakui oleh Egar Aldiyaksa Akbar, proses seleksi program ini mewajibkan peserta untuk membuat esai tentang motivasi dan rencana belajar jika diterima pada program MBKM NUNI 2021. “Selain syarat administratif pada umumnya, kami diwajibkan membuat esai tentang motivasi dan rencana belajar ke depannya,” papar mahasiswa yang diterima belajar pada program studi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta tersebut. Secara khusus, prodi Pendidikan Biologi UMM membentuk Tim Satgas MBKM Prodi yang bertugas untuk melakukan sosialisasi kepada seluruh civitas akademika. Lebih lanjut, Hindun berharap program MBKM benar-benar dapat membekali mahasiswa menghadapi persaingan global. “Dengan adanya program MBKM ini mahasiswa dapat menyerap ilmu yang tidak terbatas yang nantinya akan menjadikan mahasiswa yang siap untuk mengahadapi persaingan dunia kerja Global,” pungkasnya. (*/nis)
Mahasiswa Branding Desa Wisata Singgahan Madiun

Seperti slogannya dari Muhammadiyah untuk Bangsa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak henti-hentinya melakukan pengabdian kepada masyarakat. Kali ini, sekolompok mahasiswa UMM melakukan pengabdian di Desa Singgahan, Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun (6/2). Kelompok ini tergabung dalam program pengabdian masyarakat oleh mahasiswa (PMM). Tim yang dianggotai oleh Rosita Ayu Dyah Setiyani dan Aulia Aziza ini membantu Desa Singgahan dalam rebranding desa wisatanya. Keduanya melihat, para pengurus desa sebagian besar telah paruh baya, sedangkan para anak muda kebanyakan merantau ke luar negeri. “Karena pengurus desa wisata kebanyakan orang tua, mereka tidak dapat memanfaatkan teknologi dengan baik. Akhirnya kami membantu dalam hal tata kelola wisata dan promosi, termasuk melalui media social,” kata mahasiswa kelahiran Madiun ini. Selain itu, tim ini juga memberikan bantuan bibit tanaman kepada para pengurus desa. Selain untuk memperindah tempat wisata, harapannya ini juga dapat menjadi salah satu upaya mencegah banjir dan tanah longsor. “Desa wisata ini berada di tepi sungai sehingga rawan bencana. Oleh karena itu kami memutuskan untuk memberi bantuan bibit tanaman,” lanjut Rosita. Tak hanya itu, Rosita dan Aziza juga membantu para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di desa tersebut untuk meningkatkan nilai produk yang dihasilkan. Keduanya memberikan bekal cara pengemasan hingga serta labeling produk makanan ringan dan bumbu pecel. “Produk UMKM di Desa Singgahan sudah cukup terkenal. Namun mereka belum mengerti bagaimana pembuatan packaging yang bagus serta fungsi dari labeling. Karena itu kami mengadakan sosialisasinya,” jelas Rosita. Di akhir ia berharap pengabdian yang dilakukan timnya dapat berdampak baik bagi warga desa. “Semoga Desa Wisata Singgahan ini akan terus maju dan berkembang agar kelak dapat meningkatkan perekonomian warganya,” pungkasnya. (syi/sil)
FH Bahas Ekstremisme, Radikalisme, dan Terorisme

Isu ekstremisme sangat dekat dengan masyarakat. Meskipun begitu, masyarakat sendiri belum mengetahui dengan baik tentang ekstremisme, radikalisme, maupun terorisme. Hal itu menyebabkan masyarakat mudah menandai suatu golongan sebagai ekstremisme. Melihat realitas sosial tersebut, Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan webinar bertema menggugat eksistensi ektremisme di Indonesia dan regulasinya. Acara digelar Senin (15/02) melalui kanal zoom dan youtube. Untuk memperluas sudut pandang peserta, webinar ini mengundang Guru Besar FH Universitas Diponegoro (UNDIP) Prof. Dr. Suteki, SH., M.Hum, Wakil Rektor IV UMM Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si., M.hum, dan Guru Besar FH Universitas Padjadjaran (UNPAD) Prof . Dr.Susi Dwi Harijanti, SH., LL.M., Ph.D sebagai pemateri. Dalam acara ini turut hadir pula Ketua PP Muhammadiyah Dr. H.M. Busyro Muqoddas, SH., MH sebagai Keynote Speaker. Dalam pemaparannya, Busyro menceritakan pengalamannya mendampingi para korban sejak zaman orde baru hingga sekarang. Melalui pengalaman tersebut Busyro melihat bahwa masyarakat cenderung mengaitkan islam dengan radikalisme. “Selama ini yang di cap radikal itu kenapa selalu orang Islam. Hanya umat Islam saja yang sering dijadikan terdakwa permanen sejak orde baru hingga sekarang. Seharusnya dalam memberi label radikal atau ekstremisme kepada seseorang, masyarakat maupun para penegak hukum lebih berhati-hati,” kata Busyro. Senada dengan Busyro, Teki mengatakan bahwa konsep radikalisme di undang-undang (UU) bersifat lentur dan tidak jelas. Hanya karena berbeda pendapat dengan mayoritas orang maupun penguasa tak lantas orang tersebut bisa diberi label ekstremisme, radikalisme, maupun teroris. “Saya sering dikatakan radikalisme maupun ekstremisme hanya karena pendapat saya berbeda dari suatu golongan. Padahal saya telah memberikan sudut pandang dari kajian ilmiah dan menjelaskan bahwa pendapat tersebut salah. Ketika mencoba mendeskripsikan radikalisme menurut UU-pun sifatnya sangat lentur sekali,” ujarnya. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. sangat mengapresiasi hadirnya webinar ini. Menurut Syamsul topik ini tidak bisa hanya dilihat dari satu perspektif saja. “Isu ini tidak cukup untuk dikaji dari satu perspektif saja. Oleh karena itu, saya sangat senang webinar ini menghadirkan para pemateri yang sangat hebat di bidang masing-masing,” pungkasnya. (syi/sil)
Berbagi Kasih dengan Lansia, UMM Ajak Penghuni Griya Asih Keliling Malang

Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui agenda “UMM Berbagi untuk Negeri” terus melaksanakan misi bakti sosial ke berbagai pelosok daerah. Kali ini, penghuni Rumah Asuh Anak dan Lansia (RAAL) Griya Asih, Lawang mendapatkan kesempatan kedua untuk beraktivitas bersama UMM. Berbeda dengan sebelumnya, hari ini para penghuni panti diajak untuk bekeliling dan menikmati suasana Malang melalui bus kampus. Sebanyak 15 orang turut serta dalam perjalanan yang diakhiri dengan agenda makan siang bersama di Rayz UMM Hotel. Hadir di tengah jamuan makan siang, Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes berharap kegiatan ini dapat memberikan hiburan yang dapat meningkatkan kesehatan para penghuni panti. “Tadi sudah jalan-jalan di kampus dengan landscape yang bagus, semoga dapat membuat imun kita meningkat dan imun kita terjaga,” sambut Koordinator Asisten Rektor UMM ini. Agenda ini juga mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya dari para pengurus panti. Diwakili oleh Natalie Paula Poluan, ia menyampaikan bahwa agenda wisata singkat ini adalah hal yang sangat dinanti-nanti oleh para penghuni panti. “Selama 26 tahun Panti Griya Asri ada, baru kali ini kami bisa langsung berbincang dengan pemimpin tertinggi perguruan tinggi dan UMM yang mengabulkan keinginan para oma-oma ini,” jelas Kepala RAAL Griya Asih tersebut. Natalie juga berharap bahwa kerja sama dan kegiatan-kegiatan sosial ini tidak berakhir pada agenda ini saja. Ia juga tidak hentinya menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh civitas UMM yang sudah mau menggandeng mereka untuk bisa maju bersama. “Kata dan ucapan terima kasih tidak cukup untuk kami sampaikan. Terima kasih sudah bersedia menggandeng kami untuk tetap memiliki semangat di tengah pandemi,” tandasnya. (nis)