Kunjungi UMM, UMKU Jalin Kerja Sama Berbagai Bidang

Sebagai upaya untuk memfasilitasi para mahasiswa di masa pandemi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka kesempatan untuk menyediakan laboratorium bagi para mahasiswa. Penyediaan laboratorium tersebut ditandai dengan penandatanganan Memoradum of Understanding (MoU) yang dilaksanakan bersamaan dengan kunjungan Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) pada Rabu (10/02). Selain penyediaan laboratorium, kerja sama ini juga meliputi bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Rektor UMKU Rusnoto, SKM., M.Kes. mengatakan bahwa situasi pandemi membuat mahasiswa harus belajar secara daring sehingga beberapa mahasiswa memutuskan untuk kembali ke kota asal dan mengikuti pembelajaran dari rumah. Sementara itu, beberapa program studi membutuhkan laboratorium dalam pembelajarannya. “Selain mempererat ikatan antar Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM),  kami juga berharap dengan adanya kerja sama ini dapat membantu para mahasiswa memperoleh fasilitas laboratorium meskipun sedang tidak berada di lingkungan kampus,” ujar Rusnoto. Di sisi lain, Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd mengatakan kerja sama ini merupakan salah satu komitmen UMM dalam meningkatkan kualitas pendidikan utamanya selama pembelajaran jarak jauh. “Harapannya kerja sama ini dapat mempermudah mahasiswa dalam menggunakan laboratorium ketika sedang berada di kota asal. Kerja sama ini juga merupakan salah satu komitmen UMM untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” tandasnya. (syi/nis)

RS UMM Siap Operasikan Aplikasi Mentari COVID-19 Rancangan PP Muhammadiyah dan USAID AS

Kasus COVID-19 yang masih terus meningkat berdampak pada keterisian dan ketersediaan tempat tidur di tiap rumah sakit. Bekerjasama dengan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah yang didukung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) secara resmi meluncurkan Sistem Informasi Layanan COVID-19 berbasis IT pada Kamis (11/2). Proyek  yang digarap sejak Juli 2020 ini telah disempurnakan dengan berbagai layanan yang dapat membantu penanganan COVID-19. Diberi nama Mentari COVID-19, sistem ini ditargetkan dapat membantu pelayanan COVID-19 di Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) di seluruh Indonesia. Sebagai salah satu bagian dari RSMA, Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiya Malang (RSU UMM) juga menyambut program ini. Melalui perwakilannya, dr. Zata Dini, RSU UMM berharap program berbasis IT ini dapat membantu rumah sakit untuk memberikan peringatan dini apabila terjadi lonjakan kapasitas. “Kami (RS UMM) menyambut baik adanya aplikasi berbasis IT ini. Program ini dapat membantu rumah sakit untuk memberikan peringatan dini apabila rumah sakit sudah akan mengalami lonjakan. Hal tersebut juga merupakan salah satu tindakan medis yang lebih cepat,” terang Kepala Sub Bidang Monitoring dan Evaluasi Pelayanan Medis RSU UMM tersebut. Dini juga menyampaikan bahwa Mentari COVID-19 dapat menjadii acuan RSU UMM bisa melihat keadaan rumah sakit lain sehingga dapat dijadikan media komunikasi tidak langsung. ”Harapannya, melaui sistem RSU UMM  dapat melaksanakan sistem informasi yang lebih baik dan dapat memodifikasi sesuai kebutuhan RSU UMM,” terang saah satu dokter umum RSU UMM ini. Lebih lanjut, Mentari COVID-19 telah diintegrasikan dengan Sistem Manajemen COVID-19 MCCC PP Muhammadiyah dan dapat dikembangkan sebagai Single ID pasien di rumah sakit. Pengembangan sistem ini bertujuan agar dapat menghubungkan data layanan COVID-19 antar Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah (RSMA) di seluruh Indonesia. (*/nis)

UMM Gelar Bedah Buku Karya Lapas Perempuan

Mengikuti semangat salah satu sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang melahirkan banyak karya dari balik jeruji besi, warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang juga melahirkan sebuah karya tulis. Sebuah buku antalogi berjudul Titik Nadir Penantian dilaunching pada Kamis (14/1). Lebih dalam membahas buku tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan webinar Bedah Buku Titik Nadir Penantian pada Sabtu (06/02). Agenda bedah buku yang berisikan 32 cerita pendek (cerpen) ini diselenggarakan melalui kanal zoom dan youtube Perpustakaan UMM. Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang AIK dan Akademik Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si.menyampaikan apresiasinya kepada Perpustakaan UMM yang terus membuka ruang dalam memberikan literasi pada masyarakat, salah satunya melalui agenda daring seperti ini. “Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi acara bedah buku ini karena dapat membuka kembali ruang literasi masyarakat melalui saluran virtual. UMM sendiri juga telah memiliki komitmen untuk mengembangkan literasi secara virtual,” ujarnya. Agenda ini mengundang Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Mariyah, S.Sos., M.Hum, pendiri Ruang Baca Komunitas Sofian Munawar, M.A., dan Jurnalis Kurniawan Muhammad sebagai pembedah buku. Dalam paparanya Mariyah sangat mengapresiasi buku antalogi ini. Mariyah mengatakan bahwa buku ini sangat menarik dari segi penyampaian cerita dan bahasa yang puitik. Cerpen ini juga mengandung nilai moral dan edukasi yang sangat tinggi. “Jujur saya jarang membaca cerpen. Menurut saya membaca cerpen hanya membuang-buang waktu. Namun ketika membaca buku ini, saya seperti tersentak dan tidak percaya bahwa para napi binaan mampu menulis karya sastra yang luar biasa dibalik jeruji yang membatasi ruang geraknya,” terang ketua FPPTI itu. Senada dengan Mariyah, Yusri Fajar, S.S.,M.A., salah satu narasumber, mengisahkan pengalamannya pertama kali menjadi pemateri untuk para penghungi lapas. Ia mengaku bahwa pengalaman ini adalah sesuatu hal yang menantang dan menarik. “Pertama kali saya mendapatkan kesempatan menjadi pemateri pelatihan di lapas, saya sangat penasaran dan tertarik. Selain saya tidak pernah masuk penjara, saya merasa bahwa orang-orang yang ada di penjara ini akan melahirkan karya-karya apik,” jelas dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB-UB) tersebut. Di sisi lain kepala lapas perempuan kelas IIA Malang,  Tri Anna Aryati, Bc.IP., SH., M.Si. sangat mengapresiasi hadirnya webinar ini. Anna juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan dukungan yang telah diberikan kepada para warga binaan di Lapas Kelas IIA Malang. “Kami berharap dengan hadirnya buku ini dapat memotivasi dan meningkatkan semangat literasi, tidak hanya untuk para napi tetapi juga untuk masyarakat luas,” pungkasnya. (syi/nis)

Gandeng Komunitas Preman Mengajar, Mobil Kaca UMM Ajarkan Bela Diri dan Tari

Bakti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk Negeri tak pernah berhenti, terus bergerak memberi arti ditengah pandemi. Kamis (11/2) ini, UMM bersama Komunitas Preman Mengajar mengunjungi Desa Jabung, Kota Malang. Preman mengajar merupakan salah satu komunitas yang dibentuk sebagai wujud dari program kerja Republik Gubuk yang ada di Desa Jabung Kab. Malang. Komunitas ini memiliki fokus gerakan dalam bidang pendidikan. Bersama Komunitas Preman Mengajar, UMM tidak hanya menyuguhkan buku untuk dibaca di sana namun juga menanamkan berbagai keterampilan pendidikan karakter pada anak-anak binaan yang terdapat di Desa Gading Kembar. Mulai dari mendongeng, menari hingga latihan seni bela diri bersama. Tentu semua tetap dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan. Sebelum melakukan kegiatan seperti menari dan seni bela diri, ada nilai-nilai kebaikan yang terlebih dahulu ditanamkan kepada anak-anak. Fachrul Alamsyah, atau yang sering disapa Irul biasa memberikan refleksi dan penanaman nilai dalam setiap aktivitas mereka. Sehingga mereka tidak hanya melakukan rutinitas namun juga memahami maksud dan tujuan gerakan serta harapan setelah mereka menguasai keterampilan ini. “Berlatihlah secara serius, kami ingin di manapun kalian berada, kalian akan menjadi anak yang bermanfaat bagi orang lain dengan ilmu kalian. Gunakan keterampilan yang kalian punya. Pergilah kemana kalian mau dan buatlah spirit yang sama dengan apa yang sudah dilakukan oleh Gubuk Baca di manapun kalian berada,” begitulah ucap irul sebagai founder Republik Gubuk saat memberikan motivasi kepada anak binaan di sana. Faris Dwi Setyawan, salah satu penggagas Gubuk Baca juga mengungkapkan alasan kenapa mau membina anak-anak di sini, dia menyebutkan bahwa ini adalah hasil inisiasi dari mereka yang merasa prihatin atas kebiasaan kurang baik pada anak-anak di sana.  “Anak-anak yang harusnya memanfaatkan masa pertumbuhanya untuk memperluas wawasan atau mengembangkan potensi diri malah terjebak dengan aktivitas bermain hp terus menerus tanpa tahu waktu. Sedangkan orang tua mereka cenderung membiarkan karena kebanyakan tingkat pendidikanya pun rendah. Karena hal itulah saya dan teman-teman yang dulunya tergabung dalam komunitas seni bela diri di kampung ini mau meluangkan waktu untuk mendampingi mereka” ucapnya. Ridlo Setyono, S.Pd selaku koordinator lapang dari UMM juga menyebutkan bahwa dia cukup terkejut dengan antusias mereka untuk membaca buku “Belum juga dibuka, lemari bukunya namun semua sudah mengantri. Saat dibuka pun mereka sontak menyerbu untuk mengambil buku bacaan sesuai dengan yang mereka mau” tuturnya. Dony Windiarto, kordinator pendidikan Preman Mengajar juga menuturkan kesan baiknya pada kegiatan kolaborasi ini. “Saya berharap Mobil Pintar UMM bisa berkelanjutan dengan kami, bergerak bersama untuk meningkatkan literasi di pojok kampung yang jarang memiliki fasilitas membaca. Kolaborasi ini adalah bentuk silahturahmi dari instansi pendidikan terkhusus pihak UMM dgn kami pemuda-pemudi kampung,” pungkasnya. (rin/sil)

Vokasi UMM dan Dubes Jepang Bahas Peluang Kerja

Saat ini Indonesia sedang menuju momentum bonus demografi, di mana angka usia produktif di Indonesia lebih banyak daripada usia non produktif. Namun sampai saat ini tenaga kerja tidak dapat terserap secara maksimal. Melihat hal tersebut, Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan seminar karir peluang kerja di Jepang pada Sabtu (06/02) melalui kanal zoom dan youtube Vokasi UMM. Dalam sambutannya Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang Ir. Heri Akhmadi mengatakan sejak tahun 2019, Indonesia dan Jepang telah menjalin kerja sama melalui Memorandum of Cooperation (MOC). Kerja sama ini memungkinkan Indonesia untuk mengirim 350.000 tenaga kerja ke Jepang. “Dalam kerja sama ini, Indonesia menargetkan untuk mengirim 20% dari total jumlah kuota. Sebanyak 70.000 tenaga kerja Indonesia akan dikirim ke Jepang dalam kurung waktu 4-5 tahun. Namun pengiriman tenaga kerja harus sesuai dengan 14 kategori Specified Skilled Worker (SSW) yang telah ditetapkan oleh Jepang. 14 kategori tersebut meliputi bidang pertanian, Industri perkapalan, Industri penerbangan, bidang teknologi dan sebagainya,” ujarnya. Heri menjelaskan bahwa tenaga kerja Indonesia di Jepang biasanya masuk melalui dua jalur, Economy Partnership Agreement (EPA) dan pemagang. Dengan adanya SSW ini para tenaga kerja Indonesia dapat memperoleh posisi dan kompensasi yang lebih tinggi dibanding jalur pemagang. “Dalam program SSW ini para tenaga kerja dituntut untuk memiliki salah satu keahlian di 14 bidang tersebut. Selain itu para tenaga kerja juga harus lolos dalam tes bahasa Jepang di tingkat N4. Karenanya posisi dan kompensasi yang diberikan juga tinggi. Para tenaga kerja juga akan dikontrak selama lima tahun. Ini merupakan peluang yang sangat besar bagi tenaga kerja di Indonesia,” lanjut Heri. Di sisi lain Rektor UMM Dr. Fauzan M.Pd mengatakan program ini menjadi harapan bagi orang-orang yang membutuhkan pengalaman kerja di luar negeri, khususnya di Jepang. Permasalahan yang dihadapi Indonesia sekarang, adalah meningkatkan komitmen untuk mengasah keterampilan agar dapat mengisi keempat belas bidang SSW tersebut. “Saya berharap selain membuahkan hasil yang maksimal, seminar ini juga akan melahirkan keputusan-keputusan positif dalam rangka menanggapi tawaran Ir. Heri Akhmadi melalui UMM,” katanya. Dalam acara ini turut hadir pula Presiden Direktur PT. OS Selnajaya Indonesia Satoshi Miyajima, Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud RI Wikan Sakarinto,S.T.,M.Sc.,Ph.D., Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Ramliyanto, SP. MP., dan Sobbarudin Subekti, Amd. Perawat di Sangenjaya Hospital Setagaya Tokyo, Alumni D3 Keperawatan UMM sebagai pembicara seminar. (syi/sil)

deaf.talk Media Mahasiswa Dekatkan Masyarakat dengan Teman Tuli

Peduli untuk terus menumbuhkan rasa inklusivitas di tengah masyarakat, lima orang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan wadah edukasi untuk kampanyekan hidup bersama teman-teman disabilitas. Tergabung dalam program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM), lima mahasiswa ini berfokus untuk memberikan wadah dan akses kepada teman tuli untuk mengekspresikan diri. Selain itu, platform yang diberi nama deaf.talk ini juga media untuk mengedukasi masyarakat. “deaf.talk ini memiliki dua tujuan utama, pertama untuk menjadi wadah teman tuli berkarya. Kedua, sebagai media untuk kami mengedukasi masyarakat tentang pentingnya belajar isyarat,” jelas Nadila Apriola. Selain Nadila, kelompok PMM yang beranggotakan  Alethea Sugiharto Wijaya, Aulia Norva’izah, Nenden Anita, dan Aulia Rachma juga mengadakan webinar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) Deaf Talk pada Sabtu-Minggu (16-17/1). Nadila bercerita bahwa webinar ini merupakan salah satu cara untuk membangun pandangan positif masyarakat kepada para disabilitas khususnya teman tuli. “Ketika masyarakat bersinggungan atau berkomunikasi dengan teman tuli, beberapa orang tanpa sadar melakukan diskriminasi. Diskriminasi ini dilakukan karena masyarakat belum paham mengenai bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan para teman tuli,” kata mahasiswi kelahiran Sukabumi ini. Walaupun menemukan banyak kendala dalam proses persiapan webinar, BISINDO Deaf Talk dapat terselenggara dengan menghadirkan Laksita Pramanasari dan Rofi Miftahul Amin sebagai Juru Bahasa Isyarat (JBI). “Acara webinarnya berlangsung dengan lancar walaupun di awal kegiatan kami memang  menemui kendala. Namun, akhirnya kami menggandeng komunitas Tuli Mendongeng untuk mengisi materi di acara webinar tersebut,” lanjut Aulia. Lebih lanjut, Aulia berharap berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh timnya dapat memberikan dampak secara luas kepada masyarakat khususnya bagi teman tuli. “Kami berharap kegiatan ini dapat mendekatkan masyarakat dan teman tuli, terutama dalam hal komunikasi. Kami juga berharap diskriminasi kepada teman tuli akan berakhir setelah masyarakat mengetahui cara berkomunikasi yang baik,” tandasnya. (syi/nis)

Mantapkan Kampus Merdeka, UMM Kerjasama dengan P.T. Charoen Pokphand Indonesia

Dalam rangka mendorong program kampus merdeka, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jalin kerja sama dengan PT. Charoen Pokphand Indonesia. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dilakukan pada Selasa (09/02) di Aula Biro Administrasi Umum (BAU) UMM. Dengan ditandatanganinya MOU ini, UMM dan PT. Charoen Pokphand Indonesia sepakat untuk bekerjasama di bidang peternakan. Dr. Fauzan. M.Pd. mengatakan bahwa kerja sama ini merupakan kerja sama Triple Helix. Pihak-pihak yang terlibat dalam kerja sama ini meliputi universitas, perusahaan, dan pemerintah. “Masalah dari perguruan tinggi di Indonesia adalah kurang mampu untuk berkolaborasi dengan dunia industri. Karena hal tersebut, pemerintah melalui program kampus merdeka mendorong universitas untuk berkolaborasi dengan berbagai industri di dalam maupun luar negeri,” ujar Rektor UMM tersebut. Lebih lanjut Fauzan mengatakan bahwa kerja sama ini akan membawa perkembangan baru bagi Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM. Fauzan kembali mengatakan bahwa pada kerja sama sebelumnya UMM telah berhasil membuat sekolah udang, di kerja sama ini rencananya UMM juga akan membuat sekolah pakan ternak. “Pada kerja sama sebelumnya UMM telah berhasil membangun sekolah budidaya udang. Sekolah tersebut terus berkembang sampai sekarang. Dengan kerja sama yang dilakukan antara UMM dan PT. Charoen Pokphand Indonesia, kita bisa membuat sekolah untuk pengolahan pakan ternak,” kata Fauzan di akhir sambutan. Di sisi lain, Regional Head PT. CPI area Jawa Timur, Benyamin Limi mengatakan kerja sama ini merupakan langkah yang bagus untuk membangun kerja sama antara UMM dan PT. Charoen Pokhand Indonesia. “Agar kampus dan industri dapat berkembang dengan baik perlu adanya kontribusi dan pertukaran informasi antara kedua belah pihak. Oleh karena itu kerja sama ini merupakan langkah yang bagus dalam membangun industri dan pendidikan yang baik” kata Benyamin. Di akhir acara Benyamin berharap bahwa dengan adanya kerja sama ini akan memajukan industri peternakan di Jawa Timur. “Saya harap para mahasiswa nantinya mampu memajukan industri peternakan di Jawa Timur. Selain itu saya juga berharap pengalaman ini akan menjadi bekal mahasiswa ketika sudah bekerja,” tandasnya. (syi/wil)

Bangun Industri Halal, UMM Adakan Pelatihan Auditor Halal Muhammadiyah

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen dalam membangun industri halal di Indonesia. salah satu agenda UMM untuk membangun industri halal adalah menyelenggarakan acara pelatihan auditor halal Muhammadiyah. Pelatihan ini dilaksanakan pada 08 – 11 Februari melalui kanal zoom. Acara ini merupakan kerja sama antara Halal Center UMM dan Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayiban (LPH-KHT) Muhammadiyah. Dalam sambutannya Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si. mengatakan industri halal mencakup dua aspek yaitu moralitas dan rasionalitas. Di mana pada aspek rasionalitas sangat sarat akan ideologi dan kepentingan berbagai pihak. Hal ini akan mempersulit para auditor dalam melakukan sertifikasi halal. “Oleh karena itu, para auditor diharapkan mempunyai moralitas dan integritas yang tinggi dalam rangka melakukan sertifikasi halal untuk sebuah produk,” kata Wakil Rektor IV UMM tersebut. Lebih lanjut, Sidik mengatakan untuk memperjuangkan produk halal harus dilakukan dengan massif, terstruktur, dan memiliki sistem yang jelas. Pelatihan ini merupakan salah satu titik penting perjuangan yang dilakukan oleh Muhammadiyah dan UMM dalam membangun industri halal. “UMM dan Muhammadiyah telah melakukan beberapa kegiatan terkait dengan pembangunan industri halal.  Kegiatan tersebut meliputi pembentukan dan perluasan lembaga halal Muhammadiyah. Selain itu kami juga melakukan perencanaan terhadap sistem halal, salah satunya dengan melalui pelatihan ini. Semoga dengan berbagai hal yang telah kita lakukan, halal akan menjadi suatu hal yang tak terpisahkan dari masyarakat,” ujar Sidik Di sisi lain Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P. mengatakan tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan sinergi sesama Muhammadiyah, terutama dalam bidang industri halal. Selain itu Elfi berharap dengan adanya program ini dapat melahirkan auditor-auditor yang memumpuni di bidang sertifikasi produk halal. “Selain menambah kompetensi sumber daya manusia di UMM dan Muhammadiyah, saya berharap program ini dapat berkelanjutan dalam rangka membangun industri halal di Indonesia,” kata Ketua Panitia tersebut di akhir acara. Turut hadir dalam acara ini sebagai pemateri Ir. M. Nadratuzzaman Hosen, MS, M.Ec, Ph.D, Ir. Elvina Agustin Rahayu, MP, Sri  Wuri Handono, Ir. M.App.Sc, Dr. Ir. Arief Safari, MBA, Prof. Dr. Ir. Noor Harini, MS, Prof. Dr. Nurkhasanah, Apt, Dr. Ir. Damat, MP, Ir. Dina Sujana, dan Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP. (syi/wil)

Bahas Peran Pemuda dalam Pertanian, Agribisnis Langsungkan Seminar Internasional

Perkembangan pertanian Indonesia menjadi isu penting bagi generasi muda di Indonesia. Sebagai negara agraris, sudah selayaknya generasi muda mengambil peran. Berangkat dari hal itu, jurusan Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan diskusi bersama dengan Tsuji Kasunari, Associate Profesor dari Saga University, Jepang. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring pada hari Senin (25/01). Dalam paparannya, Tsuji menjelaskan terkait tren pertanian yang sedang terjadi di Jepang. Terdapat pengurangan produksi dan ekonomi dalam aspek pertanian. Selain itu, terjadi fenomena penuaan karena  hanya sebagian kecil generasi muda di Jepang yang bergerak di sektor tersebut. “Tentu hal ini menjadi masalah serius mengingat tidak ada penerus yang cukup untuk melanjutkan pertanian di Jepang,” tegasnya. Fenomena itu jugalah yang menyebabkan tren konsumsi pangan di Jepang lebih banyak bergantung pada impor produk pertanian. Menurutnya, tantangan saat ini yang Jepang hadapi adalah mencari solusi untuk mendorong generasi muda agar mamnpu terjun langsung ke sektor pertanian. Tidak hanya itu, mengaktifkan kelompok tani juga menjadi hal lain yang perlu ditindak lanjuti. “Dua masalah ini adalah fokus kami agar keberlangsungan sektor pertanian bisa tetap terjaga hingga masa depan,” tuturnya lebih lanjut. Selama diskusi berlangsung, beberapa pertanyaan dilontarkan oleh para dosen Agribisnis, diantaranya dari Dr.Ir.Rahayu Relawati, MM. Dia menanyakan terkait strategi yang dibutuhkan untuk mendorong generasi muda agar ada kemauan menjadi petani. Tsuji menjawab bahwa fenomena ini juga terjadi di Jepang. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan insentif serta pendapatan sektor pertanian. Selain itu, pemerintah juga memiliki peran penting untuk terus mendukung dengan cara menstabilkan harga produk pertanian. Menurutnya Tsuji, faktor yang mampu meningkatkan pertanian di Jepang adalah sifat rajin yang dimiliki oleh para petani. “Bersama perguruan tinggi dan pemerintah, para petani di Jepang rajin meneliti sesuatu yang bisa menjadi solusi permasalahan yang muncul di bidang pertanian. Ketika sudah ditemukan, solusi itu akan dibagikan dan dijelaskan pada kelompok tani yang lain,” ungkapnya di akhir sesi diskusi. (wil)

Mahasiswa Ciptakan Sarung Tangan Pencegah Kecelakaan Kerja

Menurut data BPJS Ketenagakerjaan tahun 2019, tingkat kecelakaan di tempat kerja cukup tinggi. Terdapat 77.295 kasus kecelakaan kerja sepanjang tahun 2019. Beberapa kasus kecelakaan kerja terjadi akibat kelelahan bekerja. Untuk mencegah masalah tersebut mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan sarung tangan safety sensor pencegah kecelakaan kerja. Rancangan alat ini dibuat oleh Mahdan Razaq dan Sulthan Dzulfikar Adham. Mahdan bercerita bahwa ide pembuatan alat ini berasal dari tugas kuliah yang didapatkanya. Ketika sedang melakukan penelitian, Mahdan mengetahui bahwa banyak kecelakaan kerja di perusahaan terjadi akibat para pekerja yang kelelahan. “Perusahaan ini bergerak pada bidang konstruksi. Jadi memang para pekerjanya bekerja untuk bangunan proyek-proyek perumahan. Ketika saya wawancara beberapa pekerja memang sering terjadi kecelakaan kerja karena para pekerja terlalu kelelahan,” kata mahasiswa kelahiran Sulawesi tenggara ini. Lebih lanjut Mahdan menjelaskan tentang cara kerja sarung tangan safety ini. Sarung tangan ini bekerja untuk mengukur denyut nadi pemakainya. Ketika pekerja memiliki denyut nadi lebih tinggi atau lebih rendah dari angka normal maka pekerja akan diminta untuk beristirahat sampai denyut nadinya kembali normal. Selain itu sarung tangan ini juga berguna untuk melindungi tangan para pekerja. Mahdan kembali bercerita bahwa timnya mengalami kendala ketika membuat alat ini, terutama pada alat kalibrasi sensor. Alat tersebut berfungsi untuk mengukur denyut nadi, namun tidak bekerja dengan baik. “Alat pengukur denyut nadi tidak bekerja dengan baik. Kami akhirnya memindahkan posisi alat tersebut yang sebelumnya berada di jari menjadi di pergelangan tangan dekat dengan nadi,” ujar mahasiswa Teknik Industri itu. Mahdan dan tim mengajukan rancangan ini ke Pekan Kreativitas Mahasiswa – Teknologi (PKM-T) pada tahun 2019 dengan menggandeng CV. Tri Karya Jaya  sebagai mitra. PKM ini berhasil lolos sampai ke tahap pendanaan. Tak hanya sampai disitu, Mahdan kembali mengajukan PKM ini pada Asosiasi Sains dan Teknologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AST-PTM) 2020 dan berhasil meraih juara satu pada kompetisi tersebut. Mahdan mengatakan bahwa sarung tangan safety sensor pencegah kecelakaan kerja telah selesai diproduksi dan siap untuk digunakan oleh mitra. “Saya berharap alat ini dapat berguna untuk mengurangi kasus kecelakaan kerja yang terkait dengan kelelahan dan semoga kedepannya alat ini akan lebih di kembangkan lagi. Terutama di bagian pengukur denyut nadi.,” kata Mahdan di akhir sesi wawancara. (syi/wil)