Komisi VII DPR RI Kaji RUU Energi Baru Terbarukan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengkaji RUU Energi Baru Terbarukan (EBT) pada Kamis (4/2). Selain itu juga diadakan Forum Group Discussion (FGD) untuk membahas RUU tersebut lebih dalam. Turut hadir Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto, Bupati Malang, Rektor UMM, serta jajaran direktur Pertamina Power Indonesia, PJB PLN, Aneka EBT Ditjen EBTKE, serta PLN UID Jatim. Selain itu hadir pula tim khusus tenaga ahli dan peneliti Pusat Pengkajian dan Penerapan Energi Baru dan Terbarukan dari UMM yang diketuai oleh Ir. Sudarman, M.T. Dalam sambutannya, Sugeng Suparwoto selaku ketua komisi VII DPR RI menjelaskan bahwa kehadiran dan pilihan mereka di UMM bukan tanpa alasan. Ia mengapresiasi UMM sebagai institusi pendidikan yang mengangkat masalah energi baru terbarukan. Dibuktikan dengan adanya Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang sudah dibangun dan dimiliki oleh UMM. “Kunjungan spesifik ini juga menjadi bentuk dari usaha kami untuk mempercepat penyusunan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan yang sudah kami siapkan,” terangnya lebih lanjut. Sugeng juga mengatakan era energi terbarukan memang tidak bisa dielakkan lagi. Energi fosil sudah mengalami masalah, baik ketersediannya maupun keharusan untuk menguranginya. Apalagi melihat potensi EBT di Indonesia mencapai 442 gigabyte watt. “Maka dari itu, DPR yang memiliki fungsi legislasi harus segera menuntaskan RUU terkait EBT ini. RUU ini juga bisa menjadi pintu masuk dalam menentukan sikap Indonesia ke depannya,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia juga menerangkan bahwa Presiden Joko Widodo juga sudah menandatangani Paris Agreement. Kesepakatan tersebut juga sudah diratifikasi menjadi Undang-Undang Nomor 16 tahun 2016. Salah satu komitmen dan fokus utamanya adalah mengurangi emisi karbon sebesar 29% di tahun 2030 nanti. “Banyak hal yang bisa dilakukan untuk meraih tujuan tersebut. Salah satunya dengan energi baru terbarukan yang clean dan renewable. Jadi, perlu adanya keputusan politik yang bulat dan penuh untuk mendukungnya,” tegasnya. Dalam kesempatan yang sama, Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M. menerangkan bahwa agenda ini menyatukan berbagai pihak yang berkompeten untuk memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas. Ada pihak ulama dengan ilmunya yang diwakili oleh pihak civitas akademika UMM. Kemudian umara dengan kewenangannya yang diwakili oleh ketua dan anggota DPR yang hadir. Pihak selanjutnya yakni aghniya’ yang direpresentasikan oleh para direktur yang hadir. Terakhir, adalah para masyarakat yang akan membantu lahirnya inovasi pemberi manfaat. Sanusi juga menegaskan bahwa Malang memiliki potensi yang besar. Utamanya dalam aspek sumber daya air yang nantinya bisa digunakan. “Tentu, saya berharap agar kedatangan DPR ke Malang ini bisa membawa berkah bagi masyarakat yang membutuhkan,” harapnya. Hal senada juga diungkapkan oleh Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. ia berharap agar kunjungan ini bisa memberi manfaat dan umpan balik bagi bangsa dan negara. Ia juga menyinggung hilirasi riset yang dilakukan UMM. Jadi tidak hanya membahas secara teori tapi juga mengimplementasikannya. “Tidak hanya mencakup fungsi parsial, tapi lebih luas lagi yakni kesejahteraan bagi masyarakat sekitar,” tuturnya. Fauzan kembali berharap agar agenda ini mampu menghasilkan rumusan yang nantinya bisa dirasakan oleh seluruh anak bangsa Indonesia. Sementara itu, dalam sesi FGD, Suwignyo, mewakili tim tenaga ahli dan peneliti Pusat Pengkajian dan Penerapan Energi Baru dan terbarukan UMM menuturkan bahwa secara substansial isi dan cakupan RUU EBT telah komprehensif. Namun perlu adanya perhatian khusus terkait dengan harga insentif guna mencapai cakupan bauran EBT dalam meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi. “Kami mengusulkan agar aspek pendidikan bisa dimasukkan ke dalam RUU tersebut. Selain itu juga kami berharap agar solusi pengembangan EBT dari UMM bisa digunakan sebagai rujukan nasional,” terangnya di akhir paparan. (wil)
Sambut Era Society 5.0, PGSD Bahas Karakteristik Guru Kreatif Abad 21

Mengutip Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Society 5.0 memiliki visi mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik untuk menciptakan masyarakat yang cerdas dan dewasa dalam menggunakan teknologi. Dalam hal tersebut, perguruan tinggi memiliki peran besar untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkualitas. Sebagai salah satu program studi yang melahirkan para pendidik, Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (PGSD UMM) mengadakan Seminar Nasional bertema Menyiapkan Pendidik Profesional di Era Society 5.0 pada Rabu (2/2). Hadir secara daring pada acara ini, Analisis Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Direktorat Sekolah Dasar, Dwi Nurani, S. KM., M.Si. menjelaskan bahwa tantangan para pendidik dalam menghadapi Industry 4.0 dan Society 5.0 sangat besar. Hal tersebut dikarenakan pendidik harus dapat mengikuti perkembangan teknologi yang dapat berubah dengan cepat. “Ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dalam menghadapi Society 5.0 dan pandemi Covid 19. Pertama adalah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Kedua adalah kendala sinyal yang tidak merata. Ketiga perubahan kebiasaan dari luring ke daring,” papar Dwi. Membahas tentang Society 5.0, menurut Dwi selama pandemi ini pendidik telah dihadapkan pada satu tuntutan yang ada pada era Society 5.0 yakni kecakapan dalam mengusai teknologi untuk dapat melaksanakan kelas secara daring. Dwi juga menyampaikan bahwa untuk memantapkan keterampilan guru dalam menghadapi Era Society 5.0 pemerintah akan menyusun program yang dapat melahirkan guru dengan karakteristik mengajar di Abad 21. “Sejak pandemi Covid-19 juga membawa banyak perubahan di dunia pendidikan, program pemerintah di tahun 2021 juga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Para tenaga pendidik dituntut harus memiliki karakteristik Guru Kreatif Abad 21,” kata Dwi. Di sisi lain, Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa investasi yang sangat berguna bagi bangsa dan negara adalah investasi pendidikan. Seperti pendidikan yang diperoleh sekarang adalah buah hasil dari pendidikan yang diajarkan pada lima belas tahun yang lalu. “Saya berharap dengan adanya seminar ini dapat menjadi rujukan bagi pelaksanaan program merdeka belajar dan membantu para pendidik dalam menghadapi berbagai tantangan baru di dunia pendidikan,” kata Rektor UMM tersebut. Dalam acara ini, turut hadir Wali kota Batu Dra. Dewanti Rumpoko, M.Si., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes., serta Kaprodi PGSD FKIP UMM Arina Restian, S.Pd, M.Pd sebagai pembicara seminar. (syi/nis)
Tim Dosen UMM Dampingi Gen Z dan Milenial untuk Hindari Pernikahan Dini

Banyak kasus pernikahan dini yang terjadi di sederet daerah Indonesia. Hal ini mendorong tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memberikan sosialisasi dan pendampingan tentang bahaya pernikahan dini, Januari lalu. Utamanya bagi generasi milennial dan generasi Z di Kabupaten Malang. Adalah Dr. Rahmad Hakim, MA. dan Dr. Syamsurizal Yazid, M.A. yang memberikan pendampingan tersebut. Rahmad menjelaskan, kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang dampak negatif pernikahan dini, serta pentingnya pendidikan dan kesiapan mental dalam membangun keluarga sehat. Menurutnya, pernikahan dini merupakan isu serius di Indonesia, khususnya bagi generasi millenial dan generasi Z. Data Kemen PPPA mencatat, sekitar 1.499.171 anak di bawah umur 18 tahun sudah menikah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 373.546 kasus pernikahan melibatkan anak di bawah umur 15 tahun. “Angka statistik di atas menunjukkan bahwa pernikahan di bawah umur di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, menggambarkan masalah yang signifikan dalam masyarakat,” katanya. Ia juga sempat menjelaskan bahwa angka dispensasi kawin (pernikahan dini) di Malang menduduki peringkat tertinggi di Jatim. Catatan Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang menyebut ada lebih dari 1.393 perkara sepanjang 2022. Sementara pada tahun 2023, terdapat 1.009 anak memohon dispensasi kawin ke PA Kabupaten Malang. Dari jumlah itu, sebanyak 936 anak di bawah umur mendapat persetujuan Pengadilan Agama Kabupaten Malang untuk melangsungkan pernikahan. “Pernikahan dini berisiko tinggi bagi kesehatan reproduksi, terutama perempuan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mencegah terjadinya pernikahan di usia muda,” tandasnya. Menariknya, usai sosialisasi, tim UMM langsung melakukan pendampingan sekaligus bimbingan kepada masyarakat untuk menghindari pernikahan dini. Selain itu, tim pengabdian dosen UMM memberikan solusi-solusi implementatif bagi masyarakat untuk meminimalisir angka pernikahan dini, dengan meningkatkan kesadaran pentingnya pendidikan dan kesiapan dalam berkeluarga. Rahmad dan tim berharap, sosialisasi, pendampingan, serta bimbingan yang sudah diterima masyarakat Kabupaten Malang dapat memberikan wawasan tentang bahaya pernikahan dini. Selain itu juga dapat memotivasi generasi millennial dan Z untuk lebih fokus pada pendidikan dan pengembangan diri sebelum memutuskan untuk menikah.(*/wil)
UMM Jalin Kerja sama dengan PT.INKA Mantapkan Program Kampus Merdeka

Dalam rangka memantapkan program Kampus Merdeka Belajar, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin kerja sama dengan PT Industri Kereta Api (PT INKA). Keduanya telah menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) pada Sabtu (30/01). Dalam kerja sama ini, PT INKA melibatkan tiga fakultas sekaligus, di antaranya Fakultas Teknik (FT), Fakultas Psikologi (FPSI), dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Dekan Fakultas Teknik, Dr. Ahmad Mubin, M.T. menjelaskan bahwa kerja sama ini akan berfokus pada spesifikasi masing-masing fakultas. “Dalam kerja sama ini setiap fakultas memiliki spesifikasi tersendiri. Di bidang teknik, kami akan mengembangkan transportasi berkelanjutan dengan menggunakan energi yang ramah lingkungan,” terangnya. Selain untuk pelaksanaan program Kampus Merdeka Belajar, kerja sama ini juga akan menjadi salah satu langkah untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pengajaran, penelitian, serta pengabdian masyarakat. “Kerja sama pelaksanaan kampus merdeka belajar ini meliputi kegiatan magang dan praktik mahasiswa di PT.INKA. Sementara untuk pelaksanaan Tri dharma Perguruan Tinggi akan dilakukan secara umum,” imbuh dosen Teknik Industri tersebut. Senada dengan FT, Dekan Fakultas Psikologi, M. Salis Yuniardi, M. Psi., Ph. D. mengungkapkan bahwa kerja sama ini akan berfokus pada bidang pengembangan pariwisata di Batu dan Malang. “Dalam kerja sama ini PT.INKA dan UMM ingin melakukan pengembangan di bidang pariwisata, utamanya di wilayah Batu dan Malang,” paparnya. Tak sendiri, Psikologi UMM akan bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM untuk melakukan kegiatan Pengembangan Sumber Daya Manusia. “Sementara itu, Psikologi akan bersinergi dengan FEB untuk mengadakan Program Pengembangan Management Sumber Daya Manusia (SDM) di PT.INKA” imbuhnya. Salis berharap agar kerja sama ini dapat berkelanjutan dan berkembang. Tidak berhenti pada tiga fakultas saja namun juga dapat berkembang ke fakultas lain. “Kami ingin kerja sama ini tidak hanya menguntungkan kedua belah pihak saja. Namun juga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan negara” tandasnya.(syif/nis)
Prihatin Sampah Sungai, Rancang Penyaring Sampah Otomatis

Prihatin dengan banyaknya sampah yang mencemari sungai, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merancang alat penyaring sampah otomatis. Alat itu diberi nama Trash Conveyor. Alat ini dirancang oleh tiga orang mahasiswa Fakultas Teknik UMM yaitu Mahdan Razaq, Sulthan Dzulfiqar Adham dan Arief Hidayat. Saat dihubungi, Mahdan bercerita bahwa ide pembuatan alat ini berawal saat dirinya sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa Sambigede, Malang. Di sana Mahdan melihat sungai-sungai tercemar oleh tumpukan sampah. Kemudian, ia mengajak beberapa kawannya untuk membuat alat pembersih sampah otomatis dan mengaplikasikan alat tersebut di desa Sambigede. “Sayangnya, Ide saya tidak bisa direalisasikan di desa Sambigede karena terhalang perizinan yang sulit. Akhirnya saya mengajak beberapa teman jurusan dan mengajukan ide ini ke Pekan Kreativitas Mahasiswa – Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2020,” ujar mahasiswa jurusan Teknik Industri tersebut. Mahdan kembali menjelaskan bahwa Trash Conveyor ini memanfaatkan aliran air sungai yang jatuh dari bendungan untuk memisahkan sampah dari air. Cara kerja Trash Conveyor juga cukup simpel. Setelah air sungai dan sampah jatuh dari bendungan, sampah akan jatuh ke Main Convayer. Selanjutnya dari Main Convayer sampah akan dibawa ke Secondary Convayer. Dari sinilah sampah akan dibawa ke tempat pembuangan yang sudah diletakan di samping bendungan. Sama seperti beberapa PKM lain yang didanai Ditjen Dikti tahun 2020, ada beberapa perubahan terkait pelaksanaan PKM-KC ini. Salah satunya adalah hasil PKM-KC tidak berupa alat namun berupa video animasi dan desain produk. Mahdan menjelaskan timnya memiliki beberapa kendala saat proses pengerjaan. “Tim kami sangat kesulitan untuk membuat desain dan video animasi. Akhirnya kami meminta tolong pada salah satu teman dari jurusan teknik mesin untuk membuatkan video animasi untuk PKM ini” kata mahasiswa kelahiran Sulawesi Tenggara itu melanjutkan. Mahdan kembali bercerita bahwa sebenarnya pemerintah telah memiliki alat pembersih sampah yang bernama Interceptor 001. Namun alat ini memiliki beberapa kelemahan seperti penggunaan alat hanya terbatas di sungai-sungai besar, pemasangannya yang rumit, dan membutuhkan banyak tenaga kerja untuk mengoperasikan alat tersebut. “Saya berharap dengan hadirnya inovasi ini mampu membantu mengurangi permasalahan sampah yang ada di sungai. Selain itu semoga Trash Conveyor dapat diterapkan di berbagai daerah yang ada di Indonesia,” Kata Mahdan di akhir sesi wawancara. (syi/wil)
Jurnal UMM Raih Akreditasi Sinta Kemenristek

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di Bidang Akademik. Kali ini sepuluh jurnal TBI UMM berhasil meraih akreditasi Science and Technology Index (SINTA) dari Kementrian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) pada Periode III Tahun 2020, Sabtu (23/01). Tercatat sepuluh jurnal tersebut mendapatkan peringkat akreditasi yang berbeda. Ada empat (4) jurnal yang berhasil meraih akreditasi di SINTA 2 yaitu Legality: Jurnal Ilmiah Hukum, Izdihar: Arabic Language Teaching, Kembara: Jurnal Keilmuan Bahasa, dan Falah: Jurnal Ekonomi Syariah. Sehingga total hingga periode ini jurnal TBI UMM yang terakreditasi Sinta 2 adalah, sembilan (9) jurnal. Selain itu ada empat (4) jurnal yang berhasil naik peringkat terakreditasi SINTA 3 yaitu Jurnal Akademi Akuntasi (JAA), Celtic: A Journal of Culture, English Language Teaching, Literature & Linguistics, Progresiva, dan SATWIKA. Sementara itu Jurnal Agriecobis mendapat akreditasi SINTA 4 dan terakhir jurnal IJOTA (Indonesia Journal of Tropical Aquatic) terakreditasi SINTA 5. Ditemui di kantornya Ketua LPPI, Dr. Fardini Sabilah, S.Pd., M.Pd merasa bangga terhadap capaian yang diperoleh jurnal TBI UMM ini. Ia melanjutkan bahwa Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) UMM telah melakukan berbagai upaya perbaikan dalam aspek pengelolaan agar jurnal TBI UMM dapat terakreditasi dan naik peringkat. “Kami selalu melakukan pembenahan pada manajemen jurnal UMM. Mulai dari tata kelola Online Journal Sistem (OJS), pengajuan ISSN (International Standard Serial Number), pengajuan DOI (Digital Object Identifier), serta coaching terhadap kualitas artikel jurnal dan kepada para editor jurnal. Alhamdulilah sampai saat ini dari 59 jurnal TBI UMM, 30 diantaranya sudah terakreditasi SINTA” kata Ketua LPPI UMM tersebut. Fardini kembali menyampaikan bahwa LPPI UMM sendiri telah melakukan pembaharuan terhadap sistem OJS jurnal UMM. Dalam rangka menyempurnakan sistem OJS tersebut, Fardini berkata bahwa LPPI telah melakukan pelatihan untuk migrasi dari versi OJS 2 ke OJS 3 pada Selasa (26/01) kemarin. “Kami akan terus melakukan pembaharuan dan inovasi terhadap pengelolaan jurnal-jurnal TBI yang ada di UMM. Permbaharuan ini kami harapkan dapat mendorong kesembilan Jurnal TBI yang berada di Sinta 2 untuk menuju ke jurnal terindeks SCOPUS,” harap Fardini diakhir wawancara. (syi/wil)
UMM Kukuhkan Gelar Doktor Honoris Causa Dubes RI untuk Kolombia

Duta Besar LBBP RI untuk Republik Kolombia, merangkap Antigua dan Barbuda, Saint Cristopher dan Nevis, Drs. Priyo Iswanto, M.H. menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (30/1). Gelar doktor ilmu sosial, dalam bidang etika diplomasi ini diterima oleh Priyo, panggilan akrabnya, atas komitmen dan kontribusinya dalam aspek diplomasi selama pengabdiannya di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menerangkan bahwa Priyo Iswanto patut dan layak menyandang gelar doktor berkat kapasitas intelektual dan keberhasilannya dalam menjalankan diplomasi. Salah satunya adalah peran dan strategis dalam upayanya meminimalisasi tuduhan dunia akan sustainability industri sawit. “Pemberian anugerah gelar doktor honoris kausa terhadap peran anak bangsa ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral kebangsaan yang dimiliki oleh UMM. Gelar ini juga menjadi rekognisi akademik yang harus dimaknai untuk memainkan peran hidup yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” ungkapnya. Senada dengan Fauzan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP selaku Menko PMK sekaligus perwakilan Badan Pembina harian (BPH) UMM mengatakan Priyo layak mendapat gelar ini. Ia juga menyinggung bahwa UMM tidak gampang memberikan gelar doktor honoris kausa. Bahkan dengan usia dan reputasi yang dimiliki, UMM baru memberikan gelar ini kepada tiga orang saja. “Peranan Pak Priyo ternyata tidak hanya meyakinkan pasar akan kedudukan sawit, tapi juga mencoba menggandeng kekuatan-kekuatan yang belum terbangun di dunia dalam aspek kelapa sawit. Taktik ini sangat jitu untuk menghadapi tantangan yang ada di pasar global,” jelasnya lebih lanjut. Adapun dalam orasi ilmiahnya, Priyo menjelaskan terkait strategi meningkatkan reputasi kelapa sawit, khususnya dari perspektif tujuan pembangunan dan berkelanjutan (SDGs) plus. Ia menerangkan bahwa kelapa sawit bisa dilihat dan dipahami melalui empat dimensi yang ada, yakni dimensi ekonomi, sosial, lingkungan serta moral. Dari aspek ekonomi misalnya, kelapa sawit dinilai menjadi faktor penting dalam menekan angka kemiskinan dan mengurangi kelaparan. Selain itu juga bisa mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan pekerjaan yang layak. Kelapa sawit juga mampu membantu mengurangi kesenjangan sosial antara penduduk kota dan desa. Menjamin kualitas dan standar kehidupan yang lebih baik. Sementara itu, kelapa sawit juga tidak lepas dari tuduhan negative. Padahal, faktanya kelapa sawit memerlukan lahan yang lebih hemat ketimbang kedelai maupun kanola. Kelapa sawit juga menyumbang emisi gas karbondioksida yang hanya menyumbang 5%. “Menurut data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sait Indonesia (GAPKI), kelapa sawit justru menyerap 161 ton karbondioksida dan menghasilkan oksigen sebanyak 18,7 ton/ha per tahun,” tuturnya lebih lanjut. Sebagai Dubes RI untuk Kolombia, pria kelahiran Kudus ini juga telah berprakarsa kepada Kolombia untuk menjadi anggota Dewan Negara Produsen Sawit (CPOPC). Diyakini bergabungnya Kolombia mampu memperkuat CPOPC dan dukungan untuk melawan kampanye hitam terhadap komoditas minyak sawit dunia. Priyo kembali menjelaskan bahwa meski telah tercapai kesepakatan antara ASEAN dan Uni Eropa tentang isu kelapa sawit yang dikaitkan SDGs, namun kampanye positif penghasil kepala sawit masih harus terus dilakukan. Harapannya, publik bisa semakin percaya bahwa komoditas ini sebenarnya memiliki banyak nilai positif dan manfaat. (wil)
Kementerian Luar Negeri Gelar Debriefing Kepala Perwakilan RI

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemlu) untuk menggelar Debriefing Kepala Perwakilan Republik Indonesia pada Jumat (29/1). Agenda tersebut dihadiri langsung oleh H.E. Priyo Iswanto (Duta Besar LBBP RI untuk Republik Kolombia, merangkap Antigua dan Barbuda, Saint Cristopher dan Nevis) dan Rektor UMM, Dr. Fauzan M.Pd. Turut datang Direktur Utama Amerika II, Darianto Harsono serta jajaran pejabat kampus UMM. Selain itu juga menghadirkan secara virtual kepala BPPK Kemlu, Dr. Siswo Pramono, LL.M. Dalam agenda itu dua pembicara didapuk untuk mengisi forum tersebut, keduanya adalah H.E. Mochammad Luthfie Witto’eng (Duta Besar LBBP Ri untuk Republik Bolivar Venezuela merangkap Persemakmuran Dominika,Grenada, Saint Lucia, Saint Vincent dan The Grenadines dan Trinidad dan Tobago periode 2016-2020) dan H.E. Tito Dos Santos Baptista (Duta Besar LBBP RI untuk Republik Mozambik merangkap Republik Malawi periode 2016-2020). Agenda yang diikuti oleh lebih dari 800 peserta itu dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Siswo Pramono. Ia menjelaskan bahwa agenda ini menjadi wadah penyampaian pertanggungjawaban publik bagi para kepala perwakilan Indonesia, khususnya yang telah menyelesaikan pengabdiannya di luar negeri. Ia berharap forum ini bisa menyajikan informasi terkait pelaksanaan visi dan misi yang sudah diamanatkan kepada para kepala perwakilan. “Pada acara-acara seperti ini, kita juga bisa mendapatkan masukan-masukan langsung dari para pakar, akademisi dan masyarakat,” lanjutnya. Dalam kesempatan yang sama, Fauzan menegaskan debriefing yang terlaksana tentu dapat memberikan informasi lebih lanjut terkait kondisi wilayah di mana para duta besar bertugas. Ia menilai ada berbagai hal menarik dan penting yang bisa ditindak lanjuti. Sejalan dengan banyaknya ide yang nantinya dikerjakan bersama dengan negara-negara tersebut. Usai sambutan, debriefing dimulai dengan paparan materi dari Mochammad Luthfie Witto’eng terkait wilayah di mana ia mengabdi, utamanya Venezuela. Ia mengatakan bahwa Venezuela mengalami rentetan krisis, mulai dari krisis politik hingga ekonomi. Ketegangan antara pemerintah dan oposisi masih terus berlangsung, hingga puncaknya Juan Guaido naik menjadi presiden interim, padahal Maduro masih menjadi presiden bagi Venezuela. Negara tersebut juga tak lepas dari krisis ekonomi. Meski dikenal sebagai salah stu negara dengan penghasil minyak terbesar, mereka tidak bisa lari dari jeratan krisis ekonomi. Salah satu penyebabnya adalah nasionalisasi perusahaan minyak yang diberikan kepada pihak tak berkompeten. Selain itu ketersediaan subsidi yang terlampau besar membuat masyarakat menjadi manja. “Hingga akhirnya ketika harga minyak turun, krisis ekonomi menerpa Venezuela. Subsidi dikurangi, utamanya pada aspek kesehatan,” ungkap Luthfie. Meski demikian, pihak KBRI Indonesia masih terus berusaha untuk menjalin kerja sama. Mereka sempat menggelar business meeting yang mendorong pengusaha Venezuela untuk membangun hubungan perdagangan dengan Indonesia. “Sayangnya, krisis ekonomi belum berakhir. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi seperti ini. Jadi tidak bisa dialksanakan dengan maksimal,” terangnya lebih lanjut. Forum tersebut kembali dilanjutkan dengan paparan dari Tito Dos Santos Baptista. Ia menggambarkan tantangan, dinamika dan kondisi politik serta ekonomi Mozambik dan Malawi. Meski kedutaan di Mozambik baru dibuka pada tahun 2009, namun sudah memberikan peningkatan kualitas kerja sama. Ia menilai aspek ekonomi khususnya investasi harus lebih didorong lagi agar bisa memberi dampak lebih. Tito juga berharap agar Mozambik bisa menjadi entry gate untuk produk-produk Indonesia ke negara-negara tetangga di Afrika. Di samping itu, Mozambik juga bisa menjadi negara strategis mengingat dukungannya terhadap Indonesia di PBB yang cukup baik. “Tak lupa sektor budaya yang perlu dikembangkan lagi karena dapat membantu kerja sama di bidang-bidang lainnya,” terangnya. Pada akhir forum, Dr. Ben Perkasa Drajat selaku kepala pusat pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa menyimpulkan bahwa ada banyak hal menarik yang sudah disampaikan oleh kedua pemateri. Hal-hal tersebut bisa diteliti dan dikaji lebih lanjut agar bisa memberikan manfaat bagi orang lain. “Menurut saya, banyak fenomena unik yang bisa dikaji lebih dalam. Sebut saja hubungan ekonomi yang malah semakin baik antara Indonesia dan Venezuela, padahal berada di tengah situasi pandemi,” pungkasnya di akhir acara. (wil)
Produktif di Masa Pandemi, Mahasiswa Bawa Pulang Tiga Penghargaan

Kondisi Pandemi tak menyurutkan semangat berprestasi. Setidaknya hal ini yang dibuktikan oleh salah satu mahasiswa FISIP Prodi Ilmu Komunikasi, Mikli Audin. Rentetan prestasi membanggakan berhasil ia raih. Uniknya, Mikli tercatat sebagai mahasiswa baru angkatan 2020 di Prodi Ilmu Komunikasi. Meski masih duduk di semester satu, namun semangat Mikli untuk mengharumkan nama kampus begitu membara. Pemilik nama lengkap Mikli Audin ini baru-baru ini berhasil meraih juara pertama cabang lomba videografi pada gelaran Communication Festival (Commfest) Universitas Darussalam Gontor 2020, akhir Desember lalu. Dia berhasil menyisihkan ratusan peserta dalam gelaran yang bertajuk “Rise Together, Act Together” tersebut melalui video tentang sosok ibu. Video berjudul Love e Emak ini berhasil merebut hati ketiga juri. Para juri yang terlibat diantaranya Moddie Alvianto Wicaksono, M.A (Penulis Pojok), Irfan Gafir (Creative Content Creator) dan Mamuk Ismuntoro (Pendiri Komunitas Matanesia dan Visual Storyteller). Diakui Mikli, ia cukup terkesan ketika Irfan Gafir salah satu juri mengomentari karyanya. “Dia bilang karya saya bagus, meski sebenarnya lebih cocok diputar di Hari Ibu karena temanya tentang sosok ibu,” kisahnya. Ia juga bercerita tantangan yang ia hadapi dalam membuat karya ini. Salah satunya adalah persiapan yang cukup melelahkan, mengingat ia melakukan segalanya sendiri. “Saya susun dan lakukan semuanya sendiri. Mulai dari membuat scriptnya, menyutradarai, menshoot, sampai mengedit videonya,” lanjutnya. Namun bimbingan dari dosennya, M.Fuad Nasvian, M.Ikom, dia akui sangat membantu, khusunya dalam menyiapkan presentasi. Setelah lolos dan terpilih mnejadi finalis, ia dituntut untuk membuat presentasi. “Saat tahu, saya langsung menghubungi Pak Fuad. Beruntungnya, Pak Fuad langsung mengajak diskusi serta memberikan arahan bagaimana menyajikan presentasi yang baik. Apa saja yang perlu disampaikan dan mungkin kesalahan-kesalahan yang sering terjadi saat presentasi,” imbuhnya. Selain menang di Commfest Unida Gontor, sebelumnya mahasiswa asli Malang ini juga mencatatkan sejumlah prestasi membanggakan. Selama menjadi mahasiswa baru, Mikli berhasil memperoleh gelar juara 3 lomba videografi “Tetap Kreatif dari Rumah” yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Samarinda. Sebulan setelah diterima sebagai mahasiswa baru UMM, Mikli juga berhasil menjuarai gelaran HEPHOSPOR Competition Poltekes Kemenkes Semarang 2020. Di event tersebut dia berhasil meraih juara 1 lomba video kreatif. “Saya memang senang ikut lomba. Selain dapat pengalaman, juga bisa melatih kemampuan saya dalam bidang videografi. Hadiah yang didapat sih bonus ya,” ungkapnya sambil tersenyum. (wil)
UMM Gelar Faculties and Directorates Outlook bersama Dubes RI untuk Kolombia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak henti untuk mengembangkan sayapnya di dunia internasional. Kali ini UMM menggelar Faculties and Directorates of UMM Outlook yang diadakan di Ruang Sidang Senat UMM pada Kamis (28/01). Acara ini dihadiri langsung oleh Duta besar Republik Indonesia untuk Kolombia Drs. Priyo Iswanto, MH, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd, Direktur Utama Amerika II Darianto Harsono, dan beberapa jajaran pejabat kampus. Agenda ini dilaksanakan dalam rangka untuk memperoleh informasi mengenai Amerika latin, khususnya Kolombia. Selain itu juga bertujuan untuk memberikan wawasan kepada para dekan terkait berbagai potensi kerjasama luar negeri yang bisa dilakukan. Dalam sambutannya, Priyo menceritakan bahwa wilayah Amerika Latin merupakan pasar yang belum banyak disentuh. Padahal potensi yang dimilikinya sangat besar. Ia juga menyebutkan beberapa hal mengapa Kolombia bisa menjadi kerjasama awal yang strategis. Pertama Kolombia memiliki karakter wilayah yang mirip dengan Indonesia. Kedua, Kolombia bisa menjadi pintu masuk ke wilayah Amerika Latin lainnya karena letaknya berada ditengah wilayah. Terakhir, Kolombia juga menjadi pemimpin Sub Aliansi Asia Pasifik tahun ini. “Hal-hal tersebut tentu dapat memengaruhi kerjasama antara UMM dan Kolombia. Selain itu, mayoritas universitas di Kolombia memiliki keunggulan pada sektor kesehatan dan pertanian. Harapannya UMM bisa segera menjalin kerjasama di dua sektor tersebut,” ungkap Priyo di akhir sambutan. Pada kesempatan yang sama, Fauzan menuturkan bahwa internasionalisasi di UMM telah dimulai sejak tahun 2000. Sampai sekarang, UMM telah menjalin berbagai program kerjasama internasional. Tidak hanya terbatas pada satu benua saja, tapi juga seluruh dunia. Namun kebanyakan progam itu masih berada di tingkat universitas. “Meskipun kita telah menjalin banyak kerjasama dengan berbagai lembaga luar negeri, namun itu masih belum maksimal. Kedepannya, kita harus lebih masif lagi dalam menjalin kerjasama dengan lembaga luar negeri. Tidak hanya di tingkat universitas saja, tetapi juga pada lingkup prodi dan fakultas,” imbuh rektor UMM tersebut. Ia kembali menerangkan bahwa visi UMM di tahun 2025 hingga 2030 adalah menjadi universitas yang kompatibel di tingkat global. Maka dari itu usaha-usaha mewujudkannya harus dimulai sejak dini. “Kita harus selalu mendorong kampus untuk terus menjalin kerjasama dengan institusi atau lembaga luar negeri lainnya. Tidak hanya terbatas pada satu dua negara saja, tapi semua negara yang memiliki potensi,” pungkas Fauzan. (syi/wil)