RS UMM Kirim Tim Relawan Bencana ke Mamuju

Gempa bumi telah melanda Sulawesi Barat (Sulbar) sejak tanggal 14 Januari 2021. Berbagai kalangan turun untuk membantu para korban gempa tersebut, bagi dari segi materiel maupun morel. Salah satunya adalah Rumah Sakit (RS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menerjunkan satu tim kesehatan di wilayah Mamuju, Sulbar. Tim relawan ini terdiri dari tiga orang yaitu dr. Wildan Firmansyah, Imam Fitrianto, S.Kep.,Ns., dan Resti Anggraeni, S.Kep.,Ns., Ketiganya juga telah tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) di Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Saat ditemui, Wildan mengungkapkan bahwa RS UMM sudah terbiasa untuk menurunkan beberapa tim ketika terjadi bencana. Ia kembali bercerita timnya diberangkatkan dari Malang pada tanggal 18 Januari dengan menggunakan pesawat dan tiba di Mamuju pada hari yang sama. “Ketika sampai, kami langsung melakukan koordinasi dengan tim relawan yang ada. Selain itu juga bekerjasama dengan Kementrian Kesehatan (Kemenkes) yang telah tiba di lokasi,” tutur dokter RS UMM tersebut. Penanganan bencana kali berbeda dibandingkan bencana-bencana sebelumnya. Tidak lain karena bencana ini terjadi saat pandemi Covid-19 berlangsung. Penanganan yang harus dilakukan juga terbilang lebih rumit. Selain melaksanakan tugas utama, yakni melangsungkan medical check up harian, para relawan juga kerap melakukan sosialisasi kesehatan terkait covid-19. Bagi beberapa orang yang telah menunjukan gejala covid-19 akan langsung menjalani rapid test. “Sayangnya, membedakan orang yang positif covid dan tidak sangat sulit karena alat rapid test baru datang tanggal 20 Januari. Kami juga tidak bisa langsung melakukan tes kepada semua pengungsi disana mengingat keterbatasan yang ada,” lanjut dokter kelahiran Tulungagung itu. Wildan kembali bercerita bahwa selain di kota, para relawan bencana juga dikirimkan ke daerah-daerah terpencil di Mamuju. “Saya waktu itu dikirimkan ke daerah Ulumanda. Akses darat sudah rusak parah dan tidak bisa dilewati. Akhirnya saya bersama relawan lain diberangkatkan menggunakan helikopter. Sesampainya di Ulumanda, kami segera mendirikan posko kesehatan dan memeriksa para korban bencana,” tutur Wildan Diakhir wawancara, Wildan mengungkapkan situasi di Mamuju sekarang sudah tertata, baik sistem penanganan bencana maupun kesehatan korban bencana. “Para relawan bencana biasanya datang secara bergantian. Tim RS UMM sendiri telah kembali ke Malang pada tanggal 26 Januari kemarin,” tandasnya. (syi/wil)
Peduli Sesama, Satpam UMM Galang Dana Korban Bencana

Berbagai bencana yang menimpa Indonesia membuat banyak orang bersimpati. Bantuan juga terus mengalir dari pelosok negeri. Hal serupa dilakukan oleh Satuan Pengaman (Satpam) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka saling bahu-membahu memberikan sumbangan dana bagi mereka yang mengalami musibah dan bencana. Penyerahan itu diberikan secara simbolis kepada Zakarija Achmat, S.Psi, M.Si selaku kepala bagian kepegawaian UMM di kantor Rektorat pada Selasa (26/1) lalu. Saifudin, Kepala Keamanan Satpam UMM bercerita inisiatif ini lahir dari kesadaran masing-masing. Melihat bencana yang menimpa beberapa daerah membuat mereka tergerak untuk memberikan bantuan, meskipun jumlah yang didapat tidak seberapa. “Kebetulan UMM juga memiliki program Berbagi untuk Negeri, jadi sekalian saja kegiatan galang dana ini disinergikan dengan program tersebut,” ungkap pria asli Malang tersebut. Suksesnya penggalangan dana tersebut tak lepas dari koordinasi tiap komandan Satpam yang ada di setiap wilayah kampus UMM, baik di kampus I, II dan III. Ia juga menegaskan bahwa pandemi bukan menjadi alasan untuk tidak saling berbagi. Sebaliknya, malah harus bisa memberikan kontribusi lebih bagi negeri. “Alhamdulillah kemarin sudah terkumpul dana dari teman teman Satpam se-UMM. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi semoga bisa meringankan beban teman-teman yang merasakan bencana,” harapnya. Ditemui di kesempatan yang sama, Zakarija juga mengungkapkan hal serupa. Ia menerangkan bahwa sebenarnya penggalangan dana ini sudah lama dilakukan oleh UMM, hanya saja dalam kelompok-kelompok kecil. Kemudian baru digalakkan secara luas agar bisa memberikan manfaat yang masif. “Sudah ada beberapa rekening yang kami buka khusus untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Tidak hanya untuk bencana saat ini saja tapi juga di masa depan,” tuturnya. Penggalangan dana ini juga merupakan salah satu bagian dari program Berbagi untuk Negeri yang sudah UMM lakukan sejak lama. Adapun Zakarija berharap agar langkah ini bisa mendorong masyarakat lain untuk tergerak memberikan bantuan, baik secara materiel maupun morel. “Tiap orang pasti memiliki keinginan untuk menolong sesama. Ada yang berbentuk doa, dana dan juga usaha kemanusiaan di lokasi bencana. Semua bisa berkontribusi asalkan mau berusaha dan memberikan yang terbaik bagi negeri,” pungkasnya saat sesi wawancara. (wil)
Gaet Pemkab Malang, UMM Siapkan Pembangunan PLTMH

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat. Kali ini UMM bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Malang untuk membangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dalam waktu dekat. Agenda audiensi tersebut dilaksanakan pada Senin (25/01) kemarin. Acara yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Malang tersebut, dihadiri oleh Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), serta beberapa petinggi daerah lainnya. Saat ditemui, Ketua Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM, Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si menjelaskan bahwa rencananya PLTMH ini akan dibangun di beberapa wilayah Kabupaten Malang. Pemilihan lokasi pembangunan tidak dipilih secara acak. Namun nantinya akan mempertimbangkan ada tidaknya debit air yang cukup untuk membuat mikro hidro. Sebelumnya, UMM juga sudah membangun PLTMH di beberapa tempat. Sebut saja di daerah Sumber Maron dan Boon Pring yang sudah lama dibangun. Kedua pembangunan itu merupakan langkah awal dari cita-cita UMM untuk membangun 1000 PLTMH di seluruh Indonesia. Pada proyek selanjutnya UMM juga telah menentukan beberapa titik wilayah di Kabupaten Malang yang akan dibangun pembangkit listrik. “Wilayah pertama yang akan dibangun PLTMH adalah di daerah Sumber Jeruk,” tutur dosen UMM tersebut. Lebih lanjut, Yus berkata bahwa PLTMH ini nantinya juga bisa dimanfaatkan untuk memompa air minum ke seluruh wilayah di Malang Selatan. Sementara listrik yang dihasilkan akan dimafaatkan untuk mengurangi konsumsi listrik di berbagai fasilitas umum yang ada di Kabupaten Malang.“Satu PLTMH juga dapat menghasilkan seratus liter air perdetik. Tentu hal ini akan sangat membantu dalam distribusi air minum di wilayah Malang Selatan” lanjut Yus. Terakhir, ia mengungkapkan pembangunan ini merupakan suatu bentuk pengabdian dari universitas dan para dosen UMM terhadap masyarakat, terutama dibidang energi terbarukan. Ia berharap masyarakat dapat teredukasi dan mampu memanfaatkan sumber energi baru ini dengan sebaik-baiknya.“UMM memiliki sumber daya manusia yang memumpuni. Saya berharap proyek energi terbarukan ini tidak hanya berhenti pada PLTMH saja, namun juga pada energi terbarukan lainnya seperti solar cell,” ujar Yus diakhir wawancara. (syi/wil)
Bahas Saham, Ajak Milenial Cerdas Berinvestasi

Belakangan, tema menabung saham menjadi topik yang banyak dibahas, khususnya oleh anak-anak muda. Sayangnya, literasi dan informasi terkait bagaimana cara menabung saham belum begitu memadai. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka menggelar webinar bertajuk “Milenial Nabung Saham? Why Not” pada Rabu (20/1). Agenda yang disiarkan langsung melalui kanal Youtube FEB UMM itu mengundang Dewi Sriana Rihantyasni, SE., MM, kepala perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Timur sebagai pemateri. Ia ditemani oleh Dr. H. Mohammad Jihadi M.Si selaku Direktur Keuangan dan Investasi Dana Pensiun UMM dan dimoderatori oleh Venus Kusumawardana SE., MM. Dewi, panggilan akrabnya, menyampaikan bahwa sebagian generasi milenial kurang mampu mengelola keuangan. Tidak jarang pemasukan yang diperoleh lebih sedikit ketimbang pengeluaran yang dilakukan. Maka perlu adanya strategi dan model pengelolaan yang baik. “Teman-teman harus pintar dalam mengolah uang yang dimiliki. Bisa dengan melakukan cashflow management, debt management, dan wealth creation. Begitupun juga dengan berinvestasi,” tuturnya dalam materi. Namun, sebelum melakukan investasi lebih dalam, generasi milenial harus mengetahui tujuan yang harus dicapai saat menabung saham. Banyak hal juga yang harus dipertimbangkan lebih jauh. Dewi juga menyebutkan peningkatan yang cukup signifikan angka investor generasi muda. “Pada tahun 2020, investor domestic baru dengan rentang usia 18-25 tahun naik menjadi 211.030. persentasenya mencapai 43,2% dari total investor baru,” terangnya lebih lanjut. Senada dengan Dewi, Jihadi juga menyampaikan bahwa banyak keuntungan yang akan didapatkan ketika melakukan investasi saham. Beberapa di antaranya capital gain, deviden, hingga mengikuti RUPS. Tentu saja keuntungan tersebut diperoleh dengan menjadi investor yang jeli, khususnya dalam pemilihan saham. Ia juga mendorong mahasiswa untuk memulai investasi dengan cara yang benar. Tidak ada kata terlambat untuk mengubah pola pikir berinvestasi di pasar modal, utamanya saham. “Silakan teman-teman untu berinvestasi jangka panjang. Nantinya teman-teman juga akan mendapatkan keuntungan baik dari segi materi maupun pengetahuan,” tuturnya dalam webinar. Di kesempatan yang sama, Dekan FEB UMM, Dr. Idah Zuhroh, M.M berharap agar agenda ini bisa menjadi motivasi mahasiswa untuk terus belajar terkait pasar modal. Nantinya, mahasiswa yang lulus diharapkan bisa memiliki alternatif untuk berinvestasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. (*/wil)
Beri Solusi Atasi Insomnia, Mahasiswa Teliti Buah Kiwi

Insomnia telah menjadi masalah umum yang dialami banyak orang. Begitupun juga yang dialami oleh Maulana Rafsanjani Miftah. Seringkali ia kesulitan tidur, padahal ia begitu lelah. Demi mengobati insomnia yang ia derita, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini akhirnya melakukan penelitian mengenai cara pengobatan insomnia melalui buah kiwi. Maul, sapaan akrabnya, bercerita bahwa ide ini tidak sengaja ia temukan ketika sedang asik berselancar di internet. Ia menemukan beberapa artikel ilmiah mengenai cara pengobatan dan penyembuhannya. Dari situlah Maul akhirnya tahu dan penasaran bagaimana buah kiwi dapat membantu menyembuhkan insomnia. “Sayangnya, di Indonesia sendiri belum ada penelitian yang membahas tentang hal ini,” kata mahasiswa jurusan kedokteran tersebut. Akhirnya Maul mengajak dua temannya Nabila Mufti Karis dan Chandra Ayu Kumala Sari untuk meneliti manfaat buah kiwi tersebut. Mereka mengikutsertakan ide ini dalam Program Kreativitas Mahasiswa – Penelitian (PKM-PE). Hasilnya, mereka lolos sampai ke tahap pendanaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti). Maul bercerita bahwa dirinya dan tim mengalami beberapa kendala terkait pelaksanaan penelitian. Salah satu kendalanya adalah tidak diperbolehkan untuk melakukan penelitian langsung di lapangan. “Rencananya kami akan meneliti langsung lewat beberapa subjek yang telah kami pilih. Namun karena situasi sedang pandemi, Ditjen Dikti akhirnya mengubah beberapa aturan dalam penelitian. Akhirnya kami hanya bisa melakukan penelitian melalui beberapa jurnal luar negeri yang telah membahas topik tersebut” lanjut mahasiswa kelahiran Malang ini. Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Maul dan tim, dirinya menemukan bahwa mengkonsumsi dua buah kiwi sebelum tidur menghasilkan peningkatan yang signifikan pada jumlah waktu tidur seseorang. Efek ini berkaitan dengan tingginya tingkat antioksidan, flavonoid, karotenoid, dan antosianin yang ditemukan dalam kiwi. Stres oksidatif merupakan penyebab utama dari gangguan tidur pada penderita insomnia. Beberapa zat yang ditemukan dalam buah kiwi diasumsikan dapat menurunkan stres tersebut. “Penelitian ini telah kami selesaikan pada bulan Oktober tahun lalu. Sekarang kami tinggal menunggu proses penerimaan jurnal dari Health Science Journal of Indonesia. Kami berharap dengan penelitian yang telah kami lakukan dapat memberi edukasi baru kepada masyarakat terkait dengan manfaat buah kiwi pada penyakit insomnia” pungkas Maul di akhir sesi wawancara. (syi/wil)
KAS Kaji Krisis dan Ketahanan Pangan dalam Pandangan Islam

Belakangan, perbincangan ketahanan pangan seringkali digulirkan. Bagaimana pentingnya pangan bagi kelanjutan hidup manusia. Pun dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mengkaji lebih dalam terkait Islam dan ketahanan pangan dalam Kuliah Ahad Shubuh (KAS) pada Minggu (24/1) lalu. Agenda mingguan yang ditayangkan langsung melalui kanal Youtube Masjid AR. Fachruddin ini menghadirkan Dr. Ir. Syarif Husen M.P. sebagai pemateri, ditemani Hasnan Bachtiar S.HI., MIMWAdv selaku moderator. Syarif, panggilan akarabnya, memulai paparannya dengan menyinggung bahwa pangan selalu menjadi isu penting sejak peradaban manusia ada hingga akhir nanti. Apalagi jarak antara produksi pangan dan peningkatan populasi semakin lama semakin besar. “Melihat hal itu, Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) pun bernisiatif untuk mendirikan Food and Agriculture Organization (FAO) guna mengatasi masalah pangan,” ungkapnya. Dosen Fakultas Pertanian dan Pertanian UMM ini kembali menerangkan bahwa pada dasarnya Islam juga sudah memberikan konsep terkait ketahanan pangan. Syarif menyebutkan empat ayat dari surat Yusuf, yakni mulai ayat 46 hingga 49. Dalam ayat yang mengisahkan Nabi Yusuf tersebut, dijelaskan dengan gamblang bagaimana seharusnya menyikapi ketahanan dengan bijak. “Nabi Yusuf dengan bantuan Allah SWT sudah menjadi pelopor dan konseptor ulung terkait bagaimana membangun ketahanan pangan yang baik,” tegas Syarif. Ada tiga hikmah dan pelajaran yang bisa diambil. Pertama, meningkatkan produktivitas selagi masih ada lahan dan kesempatan. Kemudian bagaimana menyimpan bahan makanan yang didapat dengan benar. Tak lupa yang ketiga, yakni bagaimana pola konsumsi yang harus dijalankan. Tiga hal itu menjadi poin sederhana yang dampaknya luar biasa. Syarif juga sempat menjelaskan efek Covid-19 terhadap ketahan pangan saat ini. Salah satunya adalah penurunan produktivitas. Selain itu pola dan strategi distribusi yang terhambat karena batasan yang dipicu pandemi. Meski begitu, ia juga memberikan beberapa solusi dan strategi menghadapi krisis pangan di tengah pandemi. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah intensifikasi pertanian untuk meningkatkan produksi. Lalu optimalisasi lahan yang bisa dilakukan oleh masyarakat secara luas. Tak cukup sampai di situ, perlu adanya diversifikasi pangan lokal dan pola konsumsi yang baik pula. “Sayangnya, kebanyakan masyarakat kita masih suka beraku boros dan kurang peduli dengan isu pangan,” ujarnya. Pada akhir materinya, Syarif tak lupa berpesan agar masalah pangan seharusnya ditangani oleh berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah, tapi juga pengusaha, perguruan tinggi, serta masyarakat. Peningkatan produksi juga harus digalakkan agar terhindar dari krisis pangan. Ia juga tak lupa menyebutkan betapa pentingnya mengusahakan kesejahteraan para petani, terutama di masa pandemi seperti ini. Jika ketiganya dilakukan dengan baik, maka persentase kemungkinan mengalami krisis pangan bisa menurun. (wil)
Tebar Kepedulian dan Kebersamaan, UMM Sambangi Pesantren NU

Kepedulian dan kebersamaan tidak pernah mengenal batasan. Semboyan itu juga yang dipegang teguh oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mengendarai mobil Bioskop Keliling (Bioling), mereka berangkat menuju Pondok Pesantren Nur Ilahi, Tajinan Malang dalam rangka melaksanakan program UMM Berbagi untuk Negeri pada Kamis (21/1) lalu. Selain bersilaturahmi, agenda itu juga bertujuan untuk memberikan inspirasi dan hiburan lewat film yang ditayangkan. Turut hadir rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd, ketua umum dan ketua Forum Komunikasi Warga Tionghoa Malang Raya (FKWTMR), Linggarjanto Budi Oetomo serta Soetjipto Gunawan. Sesampainya di sana, terlihat para santri dan warga pondok pesantren antusias menyambut mobil Bioling yang datang. Beberapa bersiap diri dan duduk dengan tenang menunggu agenda dimulai. Pada agenda itu pula, mereka disuguhkan film berjudul Jejak Langkah Dua Ulama. Mengisahkan perjuangan hidup pendiri Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyebarkan Islam di nusantara. Film ini juga menyampaikan pesan bahwa selama ini kedua organisasi itu memiliki ikatan sejarah, persaudaraan dan kekeluargaan yang erat. Dalam kesempatan yang sama, KH. M. Tamyis Alfaruq selaku pengasuh Ponpes Nur Ilahi menyambut dengan suka cita program Berbagi untuk Negeri. Ia mengapresiasi program dan fasilitas yang telah disediakan oleh UMM. Apalagi memberikan hiburan dan motivasi lewat bioskop keliling yang dilaksanakan. “Semoga adik-adik santri dapat mengambil hikmah serta mendapat wawasan dan ilmu lewat kegiatan ini,” jelasnya menerangkan. Sementara itu, rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd juga menyempatkan diri untuk menyapa melalui media virtual. Ia mengungkapkan bahwa program Berbagi untuk Negeri sebenarnya sudah dilaksanakan sejak 2018 lalu. Bedanya, tahun ini sasarannya meluas tidak hanya untuk institusi pendidikan saja, tapi juga masyarakat secara umum. Fauzan juga memotivasi para santri untuk terus berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Tidak hanya fokus pada hubungan dengan Tuhan tapi juga dengan sesama makhluknya. “Santri harus punya cita-cita besar. Berdoa sekuat tenaga dibarengi ikhtiar yang kuat, insya Allah akan berhasil dunia dan akhirat,” harapnya. Senada dengan Fauzan, ketua umum FKWTMR, Linggar menyampaikan bahwa program ini adalah ide yang luar biasa. Menebar kebaikan tanpa melihat latar belakang. “Agenda ini juga menjadi bukti manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Maka sikap toleransi dan saling menerima perbedaan sangatlah diperlukan,” pungkasya di akhir sambutan.(wil)
Jaga Kesehatan Dosen Karyawan Melalui Regular Medical Check-Up

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Semboyan itu seakan melekat erat dalam diri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Lebih-lebih di keadaan pandemi yang serba sulit seperti sekarang. Oleh karenanya UMM semakin sering melakukan pemeriksaan kesehatan, khususnya bagi dosen dan pegawai yang ada. Terakhir, mereka telah menggelar tes pada awal bulan januari 2021 lalu. Saat dimintai keterangan, Zakarija Achmat, S.Psi, M.Si menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan ini tidak terbatas pada dosen dan karyawan saja, tapi juga kepada para relawan Covid-19 yang ada di UMM. Sebut saja para Mahasiswa Siaga Bencana (Maharesigana) yang menjadi garda terdepan dalam upaya penegakan protokol kesehatan. Utamanya di wilayah kampus UMM. “Mereka memiliki resiko tinggi untuk tertular berbagai penyakit termasuk Covid. Jadi kami masukkan ke daftar pemeriksaan,” ujar kepala bagian kepegawaian bidang II tersebut. Lebih lanjut, Zakarija menegaskan bahwa dalam pelaksanannya, tes kesehatan ini memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat. Baik saat sedang mengantri maupun saat pemeriksaan berlangsung. Mereka juga sangat mengusahakan agar tidak membuat kerumunan serta menjaga jarak satu sama lain. “Jadwal tes sudah kami atur sedemikian rupa. Ruang kesehatan yang digunakan juga selalu kami strerilisasi setiap hari,” tutur Zakarija. Ditemui di kesempatan yang berbeda, dr. Thontowi Djauhari NS, M.Kes mengatakan pemeriksaan kesehatan ini merupakan agenda rutin UMM. Mereka sudah mengadakannya sejak lama bahkan sebelum badai pandemi menyerang. Ketika Covid-19 datang, tes ini semakin sering dilakukan. Adapun pemeriksaannya mencakup general medical check up dan rapid test. “Biasanya, kami melakukan cek kesehatan kepada para dosen dan karyawan setahun sekali. Namun semenjak pandemi, cek kesehatan ini kami lakukan lebih sering. Tentu saja sebagai langkah preventif jika ada yang terpapar virus Covid-19 ini. Selain itu juga untuk melihat bagaimana kondisi dan kesehatan seluruh dosen dan karyawan, serta relawan yang ada di Univesitas Muhammadiyah Malang,” ungkap dokter Rumah Sakit UMM tersebut. (syi/wil)
Dosen UMM Percepat Budidaya Maggot dengan Teknologi

Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti untuk berbagi ilmu kepada masyarakat. Melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM), kali ini tim dosen UMM melakukan pemberdayaan masyarakat melalui sistem teknologi pakan berbasis pengembangan budidaya maggot. Kegiatan ini berlangsung di desa Mulyoagung, Malang pada akhir tahun lalu. Dalam pelaksanannya, agenda yang diinisiasi oleh Bustanol Arifin, S. Pd., M. Pd. bersama kedua dosen lainnya yaitu Drs. Amir Syarifuddin, MP. dan Frendy Aru Fantiro, S.Pd., M.Pd. ini juga menggandeng kelompok Chang Bird Farm dan Veloved Bird sebagai mitra. Saat ditemui, Arifin berkata bahwa program pemberdayaan masyarakat ini sebenarnya berawal dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan oleh mahasiswa UMM. Mereka melihat bahwa profesi mayoritas warga desa Mulyoagung adalah peternak burung. Sebagian juga sudah mengembangkan proses pengolahan maggot sebagai pakan. Sayangnya, proses pengolahannya masih dilakukan secara manual. Hal itu tentu menyulitkan para peternak burung terutama dalam mengelola maggot. Para warga butuh waktu yang lama untuk mengolahnya. Selain itu juga model pemasaran yang dilakukan kurang memadai. “Berangkat dari hal itulah akhirnya kami melakukan pembaharuan di bidang teknologi khususnya dalam pebuatan maggot sebagai pakan burung,” ujar dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan tersebut. Program ini telah berjalan sejak bulan Agustus hingga Desember 2020. Meski begitu proses pendampingan dan monitoring tetap dilakukan sampai saat ini. Utaanya dalam hal pemasaran produk hasil dari pengolahan. Arifin kembali bercerita terkait rentetan kegiatan yang ia dan timnya lakukan. Mulai dari pelatihan budidaya maggot, proses pengelolahan pakan dengan mesin, serta pelatihan pengemasan dan pemasaran produk. “Beberapa waktu lalu kami juga sempat memberikan bantuan mesin pencacah dan mesin pengering kepada warga. Mesin pencacah berguna untuk membantu proses penghalusan bahan baku. Sementara mesin pengering berguna untuk mempercepat proses pengeringan dari empat hari menjadi dua jam saja,” lanjut dosen kelahiran Bondowoso ini. Di akhir wawancara Arifin berharap agar program ini dapat berkembang lebih luas lagi. Tidak hanya pada budidaya maggot saja namun juga pada budidaya pakan lainnya. “Kami juga berkeinginan agar program ini dapat membawa keterampilan baru kepada masyarakat dalam pengelolaan pakan burung. Lebih-lebih dapat membantu perekonomian masyarakat desa Mulyoagung,” pungkasnya. (syi/wil)
Berdayakan Masyarakat Lewat Pemanfaatan Limbah Udang
Belajar dengan tekun dan baik memang merupakan salah satu kewajiban mahasiswa. Namun, ada hal lain yang perlu dilaksanakan dan dibiasakan yakni berinovasi dan memberi manfaat kepada sesama. Dua hal itu jugalah yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelompok yang terdiri dari Nur Sriwijayanti, Dwi Rahma Sari, Julvian Ade Saputra, Achmad Naufal, dan Alvin Arfiyan Syah ini mengajak masyarakat untuk memanfaatkan limbah kulit udang sebagai penyedap rasa alami. Program ini dilakukan di Jalan Pahlawan, Dampit dan Jurang Wugu, Wagir Kabupaten Malang pada akhir tahun lalu. Nur Sriwijayanti selaku ketua kelompok menjelaskan bahwa awalnya ia melihat bahwa limbah udang begitu melimpah namun tidak ada upaya pemanfaatan yang maksimal. Terlebih lagi di wilayah tersebut berdiri pabrik pengolah frozen food. ”Limbah yang dihasilkan biasanya dijual ke masyarakat sekitar untuk pakan ternak, khususnya bebek. Tidak jarang juga langsung dibuang begitu saja,” terang mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan tersebut. Kemudian ia dan beberapa temannya beriniatif untuk memanfaatkan limbah itu menjadi penyedap rasa. Ide itu muncul setelah mereka berdiskusi dan membaca berbagai literatur. Uniknya, kulit udang ternyata kaya akan asam glutamat. Kandungan inilah yang mampu memberikan rasa gurih dan bisa diubah menjadi penyedap alami makanan. Dalam prosesnya, mahasiswa asli Malang tersebut mengaku mendapati beberapa kendala, khususnya saat melakukan sosialisasi. Terbatasnya teknologi dan sulitnya sinyal menjadi akar permasalahannya. Anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) juga jarang yang memiliki telepon genggam sehingga menyulitkan proses sosialisasi. “Meski begitu kami sudah melakukannya dengan maksimal. Mulai dari percobaan pembuatan penyedap dari kulit udang hingga pendampingannya,” kata Nur. Pada akhir sesi wawancara, mahasiswa yang menggemari kuliner ini berharap agar inovasi yang ia dan timnya lakukan mampu memberikan solusi limbah. Selain sebagai usaha mengubah limbah juga menjadi pemberdayaan masyarakat secara luas. Adapun ide dan inisiatif yang mereka lakukan ini sudah pernah dikirimkan ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Mereka mampu mencapai tahap pendanaan dan sudah melaksanakannya dengan baik. (wil)