Prihatin Kasus Korupsi, Tongat Tulis Buku Penanganan Hukum

Melihat banyaknya celah hukum dalam kasus pidana korupsi, Tongat, SH., M.Hum, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terbitkan buku. Buku berjudul Kendala Yuridis Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi itu dirilis pada awal tahun ini. Saat ditemui, Tongat bercerita bahwa buku ini hadir untuk menjawab realitas sosial yang terjadi di Indonesia. Salah satu di antaranya adanya orang-orang yang paham hukum dibalik para pelaku tindak pidana korupsi. “Jadi mereka memiliki orang orang ahli hukum yang mencari celah agar pelaku bisa lolos dari jerat hukum,” jelasnya lebih lanjut. Dalam keterangannya, ia mengatakan bahwa tindak pidana korupsi sering disebut sebagai extra-ordinary crime. Hal itu tidak lepas dari model dan karakternya yang berbeda dari tindak pidana konvesnional pada umumnya. Oleh karena itu, cara mencegah dan memberantasnya juga harus dilakukan secara berbeda pula. Tongat juga menyinggung pentingnya faktor perundang-undangan. Hal itu berguna untuk memperkecil kemungkinan perbedaan tafsir para oknum yang membantu pelaku tindak pidana korupsi. Ia menerangkan bahwa hal itulah jarang disadari oleh penegak hukum maupun masyarakat. Dekan Fakultas Hukum ini kembali menuturkan bahwa dirinya telah menulis buku tersebut sejak tahun 2018. Prosesnya cukup lama mengingat banyaknya data yang harus ia cari. Selain itu ada juga beberapa revisi yang perlu ia rampungkan. “Kasus pidana korupsi mengalami banyak perkembangan akhir-akhir ini. Begitu juga dengan proses penegakan hukumnya. Oleh karenanya, saya harus melakukan beberapa penyesuaian terkait dengan isi dan konten buku ini,” lanjut dosen kelahiran Banjarnegara tesebut. Dengan hadirnya buku ini, Tongat ingin memberikan pemahaman kepada para pembaca mengenai proses bagaimana penanganan tindak pidana korupsi. Ia menilai bahwa undang-undang yang tersedia di Indoensia sudah cukup baik, khususnya dalam hal penegakan kasus korupsi. “Undang-Undang kita memang sudah cukup memadai untuk penanganan tindak pidana ini. Namun harus disadari bahwa sehebat apapun penegakan hukum dilakukan, kalau masih ada celah maka hal itu akan dimanfaatkan oleh pelaku untuk meringankan hukumannya,” tegas Tongat di akhir wawancara. (syi/wil)
Hadapi Era Disrupsi, Ajak Guru Persiapkan Siswa Sejak Dini

Berbagai kontribusi untuk masyarakat telah dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Tidak hanya dalam aspek sosial tapi juga pendidikan. Begitupun dengan Ramadhan Permana Agung beserta keempat temannya Chendea Widya Pagitasari, Finki Iqbaliani, Azharia Saisabella, serta Bellgy Yunanda Shaherra. Mereka melangsungkan rentetan seminar bertajuk Education 4.0 for Teaching Method bagi guru-guru dalam menghadapi perubahan zaman. Adapun acara ini dilaksanakan di Aula SMA Islam Nahdlatul Ulama Pujon pada Sabtu (16/1) lalu. Sebelumnya, mereka juga sudah melaksanakan acara seminar namun dengan tema yang berbeda. Diawali dengan seminar bertajuk Speak Beyond Limitation. Mereka mengundang Anggun Izzatul Chofifah, Nimas Favorit Duta Pariwisata Kota Batu 2020 sebagai pemateri. Kemudian dialanjutkan dengan talkshow Empowering People Through The Film bersama M. Mian Sya’roni. Ia merupakan salah satu kru dari Meraki Visual yang berhasil menyabet tiga nominasi dalam gelaran Idnodax Short Film Festivel 2020. Ramadhan, panggilan akrabnya, mengungkapkan seminar lanjutan ini digelar sebagai bentuk pengingkatan kesadaran bagi guru-guru SMA Islam NU Pujon. Utamanya terkait kebutuhan siswa dalam persiapan menghadapi disrupsi. Lebih-lebih di era revolusi industri 4.0. pada kesempatan tersebut, mereka menghadirkan salah satu dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, M. Fuad Nasvian, S.I.Kom., M.I.Kom., sebagai Pemateri. Dalam paparannya, Fuad Nasvian memberikan penjelasan mengenai pergeseran generasi dan komunikasi. Selain itu juga menyinggung skill-skill dan kemampuan yang dibutuhkan siswa agar mampu bersaing di era digital. “Banyak tantangan yang nantinya dihadapi oleh para siswa. Jenis pekerjaan yang tersedia juga akan beragam dan berubah. Maka sudah barang tentu perlu ada persiapan matang yang bisa diberikan oleh pihak sekolah,” terangnya. Adapun agenda tersebut dilaksanakan secara luring. Meski begitu, mereka mematuhi protokol kesehatan dengan ketat sesuai anjuran pemerintah. Mereka menjaga jarak satu sama lain, menggunakan masker, dan juga mencuci tangan. Protokol ini dilakukan agar bisa menghindari dan mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara itu, Wakil Kepala SMA Islam NU Pujon Bidang Kesiswaan, Muali S.E., M.M., berharap agar seminar Education 4.0 for Teaching Method mampu memberikan dampak positif bagi guru. Baik itu pengetahuan-pengetahuan baru tentang tantangan siswa ataupun juga acara mengajar yang cocok di era disrupsi. “Semoga nantinya para guru bisa menyesuaikan, dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa di dunia kerja,” tuturnya. (wil)
Mahasiswa Ciptakan Alat Pendeteksi Kelayakan Oli

Kreativitas dan inovasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengalir. Tidak hanya bermanfaat bagi segelintir orang saja, tapi juga untuk kemaslahatan masyarakat. Kali ini giliran Zidni Ilman Nafian bersama dua orang temannya yakni Alifia Oriana dan Aldiansyah Wahyu yang merancang alat pendeteksi kelayakan oli berbasis android. Dalam proses pembuatannya, mereka bertiga dibimbing oleh Budiono, S.Si, MT. Inovasi yang mereka rancang ini telah berhasil lolos dalam tahap pendanaan di gelaran Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Selain itu, mereka juga menyabet penghargaan di acara Internasional Science Technology and Engineering (ISTEC) yang bertempat Bandung tahun lalu. Seakan tidak puas, alat pendeteksi kelayakan oli ini juga berhasil meraih juara 3 dalam kompetisi Pekan Kreativitas Mahasiswa antar Perguruan Tinggi Swasta Tingkat Nasional Desember lalu (PIMTANAS). Saat ditemui, Zidni menjelaskan bahwa ide ini berangkat dari masalah yang pernah ia alami sebelumnya. Beberapa bulan lalu kendaraan bermotornya pernah kehabisan oli, padahal ia berada di tengah perjalanan. Hal itu tentu sangat menyulitkannya. “Saya harus mendorong dan mencari bengkel terdekat. Selain menghabiskan tenaga juga menghabiskan waktu,” ceritanya melanjutkan. Berangkat dari masalah itu, akhirnya ia bersama dua temannya merancang alat yang mampu mendeteksi kelayakan oli. Alat itu akan diletakkan di dekat penutup oli kendaraan dan nantinya akan menilai apakah oli yang dipakai masih layak atau tidak. “Sebelum dicoba, kami sudah menyusun base data untuk range kekentalan oli. Ada beberapa level yang sudah dibuat, mulai dari tingkatan oli bagus, sedang hingga tidak layak,” tutur Zidni. Berdasarkan data yang telah disusun, alat itu akan mengirimkan sinyal ke aplikasi yang sudah tersemat di smartphone. Aplikasi yang ada juga akan memberikan peringatan dan notifikasi bagi pemilik ketika oli sudah menjadi tidak layak pakai. Hal itu tentu akan mempermudah pengguna kendaraan dalam memperkirakan kapan oli harus diganti. Lebih lanjut, ia bercerita bahwa proses pembuatan alat ini tidak menpat kendala yang berarti. Dimulai dengan penyusunan rencana, diskusi bersama pembimbing hingga percobaannya. Mahasiswa Teknik Mesin tersebut berharap inovasinya bisa memberikan kebaikan dan manfaat bagi sesama. Utamanya kepada masyarakat secara luas. “Kami tentu akan lebih bahagia jika alat ini bisa digunakan masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki kendaraan bermotor. Jadi mereka tidak perlu mengira-ngira atau mengecek kelayakan olinya secara manual,” pungkasnya di akhir sesi wawancara. (wil)
Ajak Petani Sulap Limbah Jadi Pestisida

Melihat banyaknya limbah tembakau dan puntung rokok di dusun Sumberejo, Blitar membuat tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi baru. Mereka mengajak para petani untuk mengelola sampah tembakau dan puntung rokok menjadi pestisida alami. Agenda ini telah mereka adakan sejak Agustus 2020 lalu. Adapun tim ini terdiri dari Vera Yunita Wulandari, Achmad Septiano Febrian, Lusi Liana Ningrum, Nayunda Nanda Rista, dan Nur Alvina Proborini. Vera selaku ketua kelompok bercerita bahwa ide ini muncul dari kebiasaan masyarakat di lingkungan rumahnya. Dusun Sumberejo dikenal dengan produk pertanian yang melimpah, khususnya tembakau kering. Sayangnya, sebagian tembakau tidak dapat dijual karena kualitasnya kurang bagus. Tembakau-tembakau yang tidak layak jual akhirnya dibuang begitu saja. “Bapak-bapak di sini juga gemar merokok sehingga sampah rokok yang dihasilkan juga cukup banyak,” kata mahasiswi Fakultas Pertanian dan Peternakan tersebut. Berbekal hal itu, ia dan timnya melakukan penelitian untuk mengetahui kandungan tembakau. Hingga pada akhirnya mereka menemukan bahwa nikotin dalam tembakau bisa dijadikan pestisida alami. Tentu saja, kesempatan ini tidak mereka biarkan begitu saja. Akhirnya, ide tersebut diajukan ke Program Kreativitas Mahasiswa – Teknologi (PKM-T). Seperti yang mereka duga, ide ini berhasil mencaai ke tahap pendanaan Dikti. Vera juga menjelaskan beberapa peraturan Dikti yang berubah karena adanya pandemi.salah satunya agenda sosialisasi yang hanya bisa diadakan secara daring. Meski begitu, ia dan tim tetap melakukan usaha yang maksimal agar mampu memberikan dampak baik bagi masyarakat. “Jadi kami membuat video tutorial. Adappun videonya tidak diperbolehkan menggunakan orang sungguhan. Jadi kami menggunakan video animasi untuk memudahkan para petani dalam memahami materi dengan baik,” lanjut mahasiswi kelahiran Blitar ini. Di akhir wawancara, Vera kembali menjelaskan bahwa meskipun tidak bisa melakukan praktek langsung di lapangan, ia melihat para petani tembakau sangat antusias dengan materi yang diberikan. “Selain mengurangi limbah dan sampah, kami berharap para petani dapat mengembangkan keterampilan baru dengan membuat pestisida. Lebih-lebih bila mampu membantu perekonomian para petani tembakau,” tandas Vera. (syi/wil)
Kajian Ahad Shubuh Ajak Masyarakat Hargai Waktu

Rentetan Kajian Ahad Shubuh (KAS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berlanjut. Kali ini, agenda mingguan tersebut mengundang Saiful Amien, S.Ag., M.Pd. sebagai pemateri. Ia menjelaskan lebih lanjut terkait bagaimana seharusnya menghargai waktu dalam perspektif Islam pada Minggu (17/1) lalu. Adapun kajian itu dilaksanakan secara daring melalui kanal Youtube. Amin, panggilan akrabnya memulai materi dengan menyebutkan peribahasa Arab. Waktu itu ibarat pedang, jika kita tidak bisa menggunakannya dengan baik, ia bisa melukai diri kita sendiri. Ia juga menyinggung bahwa mengehargai waktu merupakan salah satu ciri musliim ideal. Hal itu juga menjadi indikator keimanan seseroang pada Allah. Lebih lanjut, Amien juga menyebutkan beberapa istilah waktu yang digunakan dalam al-Quran. Pertama, adalah ajal yang memiliki arti sebagai batas waktu. Adapula dahr yang biasa diterjemahkan menjadi jatah masa hidup. Sementara dua yang terakhir adalah alwaqt dan ashr yang masing masing memiliki arti sebagai masa akhir hidup manusia serta masa menjelang terbenam matahari. “Pada bahasan kali ini, kita akan lebih fokus pada ashr. Istilah itu juga dekat dengankata ashiir yang berarti jus. Pada dasarnya ashr juga bisa dipahami dengan masa memeras waktu dengan hal-hal baik dan bermanfaat,” tandasnya lebih lanjut. Dosen kelahiran Tuban itu juga menerangkan bahwa al-Quran sudah seringkali mengingatkan manusia untuk memanfaatkan dan mengahargai waktu sebaik mungkin. Salah satunya terangkum dalam surat al-Ashr yang memberitahu bahwa semua manusia merugi. Meski begitu ada sebagian yang lolos karena melaksanakan empat hal. Di antaranya mereka yang meyakini dan mengenal kebenaran, bekerja keras mengamalkannya serta mau membagikannya ke sesama. Selain itu juga berbagi kesabaran dalam melaksanakannya pula. Tidak cukup sampai di situ, Amin juga memberikan tips mengatur waktu secara islami di akhir sesi. Ada tiga prinsip yang bisa diamalkan dan diusahakan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama adalah menjadikan salat fardhu sebagai pembentuk watak dan sarana evaluasi atas kerja keras yang sudah dilakukan. Kemudian juga menempatkan kata waktu dalam pola pikir investasi. Investasi yang bisa menghasilkan tidak hanya du dunia tapi juga di akhirat kelak. “Beramal dan bekerja keras di dunia sehingga nantinya kita bisa memetik buah dari apa yang sudah diamalkan. Utamanya di akhirat dan dunia. Tidak lengkap rasanya kalau prinsip-prinsip itu tidak ditambahi dengan menjaga diri dari menyia-nyiakan waktu. “Memang susah rasanya untuk tidak menghiraukan godaan-godaan yang menghambat amalan baik kita. Tapi paling tidak kita bisa menahan diri untuk tidak melakukannya,” pungkas amin di akhri sesi paparannya. (wil)
Peduli Banjir, UMM Kirim Bantuan Air Bersih

Tanggap atas bencana banjir yang menimpa Dusun Simo Desa Sidodadi Kecamatan Ngantang Malang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir melalui program UMM Berbagi untuk Negeri. Kali ini mereka mengirimkan tiga mobil tangki air bersih pada Sabtu (16/1) kemarin. Pada tahun-tahun sebelumnya, UMM juga sudah melakukan kegiatan serupa yang dilaksanakan di Malang selatan dan Pasuruan. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd., menegaskan bahwa inisiatif ini merupakah salah satu bentuk tanggung jawab UMM untuk berkontribusi di masyarakat. Memberikan manfaat seluas-luasnya dengan berbagai kreativitas dan cara. “Harapannya, pasokan air yang sudah dikirimkan dapat meringankan beban warga akibat bencana yang telah terjadi,” ungkap Fauzan. Sementara itu, Zakarija Ahmad selaku pembina Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM menyampaikan bahwa agenda ini menjadi bentuk kepeduliaan UMM terhadap masyarakat. “Kami sudah menyiapkan tiga mobil tanki air bersih. Nantinya akan ada satu mobil yang stand by. Paling tidak mobil itu akan ada di lokasi hingga tiga hari ke depan,” jelasnya. Ditemui di lokasi, Prasetyo selaku Kepala Dusun setempat mengungkapkan bahwa sudah seminggu warga kekurangan air bersih. Banyak saluran air yang rusak dan tidak bisa digunakan. “Jam 8 malam diterjang banjir bandang. Dua tandon air serta pipa sambungan sepanjang 6 kilometer rusak. Selain itu ada 6 diesel penyedot air milik warga dan sebuah sepeda motor hancur dan hanyut,” ujarnya menjelaskan. Lebih lanjut, Prasetyo menerangkan bahwa sebelumnya tandon tersebut mampu menampung air dari sumber mata air Gunung Kelud. Air itu juga mampu mengairi sekitar 387 kepala keluarga. Namun saat ini mereka hanya bisa bergantung dari pasokan air yang dikirimkan melalui mobil-mobil tanki bantuan. Pihaknya merasa bersyukur dan berterimakasih atas bantuan yang sudah UMM usahakan. Utamanya dalam membantu memenuhi ketersediaan air bersih para warga. “Terimakasih untuk UMM, semoga bantuan ini bisa bermanfaat bagi warga sekitar. Mampu memenuhi kebutuhan air kami sehari-hari hingga kondisi membaik,” pungkasnya. (wil)
Launching Buku, UMM Bangkitkan Spirit Lapas Perempuan
Rentetan agenda Berbagi untuk Negeri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berlanjut. Setelah sukses memberikan hiburan dan pemeriksaan kesehatan di Panti Griya Asih, kini mereka melaunching buku berjudul Titik Nadir Penantian, kemarin (14/1). Buku itu merupakan hasil kerja sama dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) perempuan kelas IIA Malang. Selain itu adapula pelaksanaan sosialisasi Periksa Payudara Sendiri (SADARI) kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang disampaikan oleh pihak Rumah Sakit UMM. Dr. Fauzan, M.Pd. selaku rektor UMM menyempatkan diri untuk menyapa secara virtual. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa pandemi memberikan banyak dampak negatif bagi masyarakat. Tidak hanya dari segi fisik, tapi juga dari aspek psikologis sehingga menurunkan semangat hidup. Maka, agenda ini hadir untuk kembali membangkitkan motivasi serta semangat yang sempat hilang. “Kita tidak boleh kehilangan spirit di dalam situasi apapun. Terutama kala menghadapi pandemi seperti sekarang,” tegas Fauzan. Ia juga menjelaskan bahwa program ini menitikberatkan pada aspek kemanusiaan. Di samping itu juga mengangkat kembali harkat dan martabat manusia dalam segala kondisi. Fauzan juga mencanangkan kerja sama lain terkait softskill maupun hardskill agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas, khsusnya bagi WBP. “Program buku ini tentu tidak berhenti sampai di sini saja. Nanti kami juga akan merencanakan agenda bedah buku. Di samping itu, adapula beragama agenda lain yang bertujuan untuk mengantarkan warga Lapas menjadi orang hebat,” ungkapnya lebih lanjut. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Lembaga Kebudayaan UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. menjelaskan bahwa buku ini adalah hasil dari pelatihan menulis yang sudah diadakan sebelumnya. Saat itu, mereka juga mengajak WBP untuk belajar membatik. “Antusiasme merekalah yang menjadi bahan bakar kami untuk membukukan karya-karya yang sudah ditulis,” kata Daroe. Adanya buku ini juga tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak. Mulai dari Fida Pangesti, S.Pd., M.A. selaku dosen UMM beserta enam mahasiswanya yang sudah menginisiasi hingga teman-teman Himpunan Sarjana Kesusastraan Malang UMM. Daroe juga berharap agar nantinya ia bisa kembali memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya di Lapas perempuan tersebut. Sementara itu, Tri Anna Aryati selaku Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Malang mengapresiasi atas sumbangsih UMM dalam aspek kemanusiaan, utamanya dalam penyusunan buku ini. Ia juga berterimakasih karena UMM sudah menyediakan sarana rekreasi dan edukasi bagi warga binaan pemasyarakatan. “Kami harap nantinya akan ada program-program lain yang bisa memberikan dampak positi bagi teman-teman penghuni Lapas,” ujarnya. Di akhir acara, dilaksanakan penandatanganan mock-up oleh kepala Lapas sebagai simbol bahwa buku Titik Nadir Penantian telah diluncurkan. Selain itu para penulis juga diminta untuk membubuhkan tanda tangan di atasnya. (syi/wil)
Kembangkan Solar Cell dalam Budidaya Ikan

Pandemi tak halangi tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk terus berkontribusi kepada masyarakat. Melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM), empat dosen UMM melakukan pemberdayaan masyarakat di Desa Parangargo. Mereka mengawinkan teknologi solar cell dan sistem biona dalam pelaksanaan budidaya ikan. Adapun Kegiatan ini merupakan kerjasama antara UMM dengan Kementerian Riset dan Teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek-BRIN). Program ini diketuai oleh Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily, M.Si dengan tiga orang anggota lainnya yaitu Machmud Effendy, ST, M.Eng, Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.Sc., dan Beti Istanti Suwandayani, S.Pd., M.Pd. Mereka memberi pelatihan ke masyarakat desa Parangargo terkait budidaya ikan lele menggunakan sistem biona. Riza, salah satu perwakilan tim dosen UMM mengatakan bahwa pemilihan sistem biona dalam budidaya ikan lele ini bertujuan agar kolam lele tidak memakan banyak lahan. “Kami melihat potensi budidaya ikan lele sangat besar di kota malang. Namun tidak banyak yang berkecimpung di bidang ini. Selain itu desa Parangargo juga memiliki beberapa lahan yang bisa dimanfaatkan dengan baik,” lanjut dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan tersebut. Ia kembali menjelaskan tahapan-tahapan yang ada di program tersebut. Diawali dengan memberi pelatihan terkait pembuatan kolam terpal bundar dan teknik budidaya sistem biona. Dilanjutkan dengan praktek lapangan yang dilakukan oleh masyarakat desa. Lalu para dosen akan melakukan monitoring serta evaluasi terhadap hasil garapan para peserta. Terakhir adalah sosialisasi pemasaran produk ikan lele. “Sistem biona mengharuskan mesin aerator untuk terus nyala selama 24 jam. Hal ini sangat menguras biaya listrik. Karena hal tersebut kami memberikan bantuan solar cell kepada masyarakat agar bisa menekan biaya listrik,” lanjutnya menerangkan. Adapun kegiatan pemberdayaan masyarakat ini telah diadakan sejak bulan Juni 2020. Rencananya, akan dilanjutkan sampai tiga tahun ke depan. Program ini juga akan diperbaharui setiap tahun agar ada perkembangan yang berarti. Pada tahun pertama, pemberdayaan masyarakat akan berfokus pada budidaya ikan lele menggunakan sistem biona. Kemudian pada tahun kedua program akan berkembang pada pembuatan pakan ikan secara mandiri. Lalu di tahun ketiga, program ini akan fokus pada Integrasi budidaya ikan dan sayuran. “Kami para dosen berharap pemberdayaan masyarakat ini dapat meningkatkan keterampilan masyarakat, terutama di bidang pertanian dan peternakan. Lebih-lebih bisa mengangkat perekonomian masyarakat di desa Parangargo,” pungkasnya. (syi/wil)
BIPA Pelopori Kelas Pintar Era Kenormalan Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti berinovasi. Sekalipun arus pandemi mengalir deras namun kreativitas tidak serta merta berhenti. Kali ini giliran unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Aing (BIPA) UMM yang memberikan inovasi baru, utamanya dalam hal pembelajaran. Mereka merancang dan melaksanakan Kelas Pintar dengan memanfaatka kode batang (barcode) untuk memudahkan kegiatan belajar mengajar. Ditemui di kantornya, Dr. Arif Budi Wurianto., M.Si selaku kepala BIPA menjelaskan bahwa ide ini merupakan bentuk kreativitas dalam rangka menghadapi covid-19. Apalagi belum ada kejelasan kapan pandemi akan berakhir. “Gagasan kelas pintar ini juga merupakan bentuk pengembangan kami dalam mengikuti arus zaman dan teknologi. Sayang kalau berbagai gawai yang kita miliki tidak dimaksimalkan dengan baik,” tandasnya. Arif, sapaan akrabnya juga menerangkan fungsi dari kode batang yang sudah dibuat. Kode batang itu tersemat dalam poster tematik yang telah tertempel di tiap pintu kelas. Tiap poster yang ada memuat berbagai bahan ajar yag dapat diunduh dengan mudah. Tidak hanya itu, poster tersebut juga bisa ditemui di semua sisi dinding setiap kelas. Adapun kode batang yang ada di dinding akan memberikan akses ke materi-materi pilihan, salah satunya terkait kosa kata bahasa Indonesia. Selain itu juga menampilkan beberapa soal latihan yang bisa dicoba. Adapun pemanfaatan kode batang di Kelas Pintar ini sudah didaftarkan sebagai hak cipta di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. “Jadi inovasi ini secara otomatis bisa mengurangi kerumunan dan mengurangi sentuhan tangan yang tidak perlu,” tuturnya mengimbuhkan. Sementara itu, Kepala Divisi Internasionalisasi Program dan Pengembangan BIPA UMM, Faizin, M.Pd. juga menjelaskan bahwa selain kode batang di Kelas Pintar, BIPA juga menyediakan domain khusus bagi mereka yang ingin belajar bahasa Indonesia. Domain tersebut menyediakan bebagai fitur menarik yang bisa dimanfaatkan. Mulai dari materi pembelajaran hingga evaluasi. Dia akhir wawancara, Faizin menuturkan bahwa bahasa Indonesia sudah lama menduduki peringkat sepuluh besar bahasa penutur terbanyak di dunia. Sayangnya, kegiatan dan langkah untuk mengembangkannya masih kurang maksimal. ”Saya berharap inovasi dari BIPA UMM ini bisa menjadi contoh bagi Universitas lain dalam mengembangkan bahasa Indonesia, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” pungkasnya. (wil)
Ingat Wejangan Kakek, Hasnan Terbitkan Buku Ijtihad Kontemporer Muhammadiyah

Membaca berbagai literasi dan menuangkan ide dalam tulisan sudah menjadi bagian hidup dari Hasnan Bachtiar, S.HI., MIMWAdv. Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah menuliskan banyak karya berupa jurnal maupun buku. Dirinya juga terpilih sebagai penulis terbaik di ajang Proyeksi dan Apresiasi Suara Muhammadiyah. Lahir di keluarga yang sederhana tidak membuat mimpi Hasnan untuk mengejar pendidikan tinggi menjadi redup. Pada tahun 2005 Hasnan memutuskan pindah dari Banyuwangi ke Malang untuk melanjutkan pendidikan tinggi di UMM. Hasnan berkata bahwa pada waktu itu semuanya serba sulit, bahkan untuk makan saja keluarganya kesulitan. Namun berkat kerja kerasnya, Hasnan dapat memperoleh beasiswa untuk studi sarjana di UMM dan magister ke luar negeri. “Ada satu wejangan dari kakek yang selalu saya ingat. Kita boleh miskin materi tapi kita tidak boleh miskin ilmu. Kata-kata itu yang selalu memacu saya untuk terus belajar dan meraih pendidikan setinggi-tingginya.” kata dosen kelahiran Banyuwangi tersebut Banyak hal menarik yang dialami Hasnan ketika berkuliah di Australian National University (ANU). Salah satunya ketika ia sedang melakukan riset mengenai hukum siyar tahun 800 di lingkungan Mazhab Hanafi. Setelah mencari tahu bahwa hukum tersebut dapat bermanfaat bagi muslim di Indonesia, Hasnan akhirnya menerbitkan buku Ijtihad Kontemporer Muhammadiyah Dar Al-Ahd Wa al-Syahadah: Elaborasi Siyar dan Pancasila. “Para kaum islam ekstrimis dan konservatif di Indonesia rata-rata meggunakan konsep darul islam dan darul harbi untuk menentang atau memusuhi kaum non islam. Padahal di islam sendiri ada konsep darul ahdi yang menjelaskan bahwa islam dapat hidup berdampingan dengan agama lain,” lanjut Hasnan. Hasnan kembali menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah merumuskan konsep ini sejak Muktamar Muhammadiyah ke 47 pada Agustus 2015 di Makassar. Bagi Muhammadiyah, Indonesia adalah negara Pancasila yang merupakan perwujudan dari konsep Darul Ahdi Wa Syahadah. “Saya berharap buku ini dapat menjelaskan posisi Muhammadiyah terhadap negara dan pemerintah. Selain itu saya juga ingin agar para pembaca dapat lebih memahami konsep siyar agar terhindar dari ideologi ekstrimis, konservatif, dan radikal” ungkap Hasnan di akhir sesi wawancara. (syi/wil)