Gandeng Aisyiyah, Bagikan APD dan Optimasi Website

Kasus Covid-19 di Indonesia yang kian hari kian naik membuat urgensi Alat Pelindung Diri (APD) menjadi penting. Realita itu mendorong tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberi kontribusi pembagian APD ke beberapa Rumah Sakit di Malang. Agenda yang dilangsungkan pada 6-7 Desember 2020 ini dilaksanakan oleh Noor Febriyansyah, Muhammad Reza Setiawan, Moch Dafa Balia Karim, dan Muchamad Ul Hakim serta didampingi oleh . Iis Siti Aisyah, ST., MT., Ph.D. Mereka juga bekerja sama dengan Majelis Kesehatan Pimpinan Cabang Aisyiyah Kecamatan DAU. Dalam agenda itu, mereka membagikan APD ke sejumlah rumah sakit seperti RSU Syaiful Anwar, RS UMM, RS Islam Aisyiyah dan Puskesmas DAU. Iis selaku dosen pembimbing mengungkapkan bahwa agenda ini adalah bentuk dukungan pada dokter dan tenaga kesehatan yang telah berkorban untuk menghadapi pandemi. “Ada sekitar 150 APD yang kami siapkan dan berikan ke teman-teman tenaga kesehatan di Malang,” terangnya lebih lanjut. Masih menggandeng Aisyiyah, mereka juga membuat website di beberapa TK Aisyiyah Malang. Iis kembali mengatakan bahwa program ini dilaksanakan dalam rangka mendukung proses pengelolaan data dan publikasi. Utamanya bagi TK Aisyiyah Malang. Banyak data yang masih dikelolah secara manual sehingga mempersulit proses pendataan. “Kebetulan Aisyiyah memiliki program cek kesehatan yang diadakan secara rutin di TK Aisyiyah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya stunting pada anak-anak. Sayangnya, data-data yang diperoleh masih direkap secara manual sehingga menyulitkan pemeriksaan,” ujar dosen jurusan Teknik Mesin UMM tersebut. Ditemui di kesempatan berbeda, Febri, salah satu anggota tim UMM bercerita bahwa proses pembuatan website itu cukup menantang. Apalagi tak ada satu anggota yang ahli dalam penyusunan dan pengoperasian website. “Awalnya kami kesulitan, tapi didorong keinginan kuat untuk bermanfaat bagi sesama akhirnya kami bisa menyusunnya meski harus mencari tutorial dan belajar ke sana kemari,” jelas mahasiswa asal kalimantan ini. Febri kembali bercerita bahwa timnya sangat ingin membagikan pengetahuan mengenai website ini pada para guru TK. Namun situasi pandemic menghalangi keinginan tersebut. “Saya harap website ini bisa mempermudah pengelolaan dan publikasi data di TK Aisyiyah Malang,” kata Febri di akhir sesi wawancara. (syi/wil)

Kuliah Ahad Shubuh Bahas Tindakan Preventif di Tengah Pandemi

Meski pandemi sudah berlangsung selama hampir setahun, tapi masih banyak kalangan masyarakat yang belum memahaminya dengan baik. Hal itu mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengkaji lebih dalam terkait dengan Covid-19 dalam Kajian Ahad Shubuh (KAS). Agenda mingguan itu dihadiri dr. Thontowi Djauhari N. S. M.Kes dan dipandu oleh Muhammad Novi Rifai, S.HI, M.A., M.E. mengangkat tema Melindungi Diri dari Penyakit, KAS tersebut dilaksanakan pada Minggu (10/1) secara virtual di Masjid A.R. Facruddin. Tomi, panggilan akrabnya membuka materi dengan menjelaskan teori kesehatan masyarakat terkait dengan pencegahan penyakit, disease prevention. Diawali dengan pencegahan primer, yakni menekan perkembangan penyakit yang sudah diderita. Kemudian adapula pencegahan sekunder, mendeteksi penyakit yang mungkin saja diderita sehingga bisa meminimalisir komplikasi. Terakhir, pencegahan tersier dengan mengurangi serta menghindari hal-hal negatif. Dosen Prodi Pendidikan Dokter UMM tersebut juga menyebut bahwa pencegahan promotif punya peran penting, terutama dalam kondisi pandemi. Apalagi ia merasa bahwa kegiatan pencegahan ini kurang begitu maksimal. Hal ini membuat masyarakat khawatir serta menimbulkan berbagai persepsi yang berbeda. “Padahal jika pencegahan promotif ini dilakukan dengan baik, bisa menekan angka penularan penyakit, khususnya Covid-19,” terangnya lebih lanjut. Terkait dengan Covid, ia menegaskan bahwa pada dasarnya virus tersebut lemah jika berdiri sendiri. Tapi akan berbahaya jika sudah menemukan inangnya. Ketika virus sudah menginveksi dan masuk ke DNA, maka ia akan memberikan sinyal dan kode yang salah hingga akhirnya berdampak negatif bagi tubuh. “Gejala-gejala seperti pilek, batuk, hilangnya kemampuan membau, letih dan lesu biasanya menjadi tanda penularan virus ini,” imbuhnya. Tomi juga tak lupa menjelaskan bagaimana cara mendeteksi virus Covid-19. Ada tiga yaitu rapid antibodi, rapid antigen dan tes Polymerase Chain Reaction (PCR). Ketiganya memiliki metode dan akurasi yang berbeda. Rapid antibodi misalnya, yang membutuhkan darah dari pasien, kemudian dilihat ada tidaknya reaksi. Hasil yang didapat bisa menunjukkan reaktif maupun non reaktif. Adapun akurasinya hanya sekitar 10-20%. Sementara rapid antigen akan memasukkan alat ke hidung, kemudian ditetesi cairan. Nantinya akan diperoleh hasil negatif maupun positif. Meski begitu, akurasi metode ini tidak begitu tinggi, yakni sekitar 30-40%. “Metode yang paling akurat sampai saat ini adalah tes PCR yang akurasinya mencapai 98%,” terangnya. Di akhir sesi, ia memberikan tips bagaimana mencegah dan menghindari virus Covid-19. Dua hal penting yang perlu diperhatikan adalah menjaga lingkungan serta mengubah perilaku dengan lebih baik. Perubahan ini bisa ditingkatkan dalam tiga aspek utama, iman, imun serta aman. Iman, yakni harus beriman bahwa semua bencana dan cobaan pasti ada obat dan jalan keluarnya. Kemudian juga menjaga imun dengan meningkatkan gizi dan vitamin. Imun juga bisa ditingkatkan dengan terus berpikiran positif serta optimis. “Terakhir, yakni aspek aman. Selalu menjalankan protocol kesehatan. Mulai dari mencuci tangan, menjaga jarak, serta mengenakan masker,” pungkasnya dalam akhir paparan. (wil)

Mahasiswa UMM Buat Aplikasi Pengaduan Masyarakat Purwantoro

Melihat kesulitan warga dalam mengajukan aduan ke Rukun Tetangga atau Rukun Warga (RT/RW), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meluncurkan aplikasi dan website pengaduan masyarakat Terusan Titan. Aplikasi dan website yang diluncurkan oleh Muhammad Iqbal Ramadhan ini mulai digunakan oleh warga Perumahan Terusan Titan Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing Kota Malang sejak Jumat (01/01). Iqbal bercerita bahwa ide pembuatan aplikasi ini bermula dari banyaknya keluhan warga di sekitar rumahnya. Ketika ingin mengajukan aduan ke RT atau RW, warga harus langsung datang ke rumah yang bersangkutan. Tidak jarang, pihak yang bersangkutan sulit untuk ditemui. Situasi pandemi juga membuat masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Hal ini semakin menyulitkan warga untuk mengajukan aduan ke RT/RW. “Dengan aplikasi dan website ini, saya ingin meningkatkan pelayanan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi. Selain mempermudah proses aduan masyarakat, aplikasi dan website ini juga akan meminimalisir kontak antar warga di masa pandemi,” kata mahasiswa jurusan Teknik Informatika tersebut. Iqbal juga menjelaskan bagaimana cara kerja dari aplikasi ini. Pertama, seseorang yang akan mengajukan aduan menulis nama, Nomor Induk Kependudukan (NIK), foto bukti, dan rincian aduan. Kemudian data laporan akan diterima oleh pihak RT/RW melalui aplikasi yang sama. Lagkah ketiga, aduan akan diproses oleh pihak terkait. Terakhir, akan muncul tulisan “Selesai” pada aduan yang telah dikerjakan. “Untuk mempermudah masyarakat dalam menggunakan aplikasi ini, saya telah membuat tutorial penggunaan aplikasi melalui Youtube dan buku panduan. Lalu saya juga membagikan linknya ke grup WhatsApp warga,” lanjut mahasiswa kelahiran Malang ini. Dalam proses pembuatan aplikasi, Iqbal mengaku menemui banyak kendala. Salah satunya adalah berbagai bug pada aplikasi yang membuat data tidak dapat tersimpan. Keterbatasan dana juga membuat Iqbal hanya bisa menggunakan hosting website gratis sehingga penggunaan aplikasi ini hanya pada tingkat RT/RW saja. Di akhir wawancara ia mengatakan bahwa pembuatan aplikasi dan website ini merupakan salah satu program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) yang sedang ia jalani. “Saya berharap dengan adanya aplikasi ini, masyarakat dan RT/RW dapat bekerja sama dalam meningkatkan lingkungan yang lebih baik.” pungkasnya di akhir sesi wawancara. (syi/wil)

Jalan Terjal Yusril Menapakkan Kaki di Polandia

Mendapat kesempatan untuk kuliah di luar negeri merupakan impian semua orang, tak terkecuali Muhammad Yusril Hasanudin. Ia telah bermimpi untuk berkuliah di luar negeri sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Sayangnya, harapannya pupus ketika tidak mendapatkan izin dari orang tua untuk melanjutkan studi sarjana di Turki. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, ia lalu mengiyakan saran kakaknya untuk menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengikuti jejak sang kakak. Yusril ingat kakaknya pernah berkata bahwa salah satu hal menarik dari UMM adalah kerja sama internasionalnya yang luas. Laboratorium Informatikanya juga memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan terbuka 24 jam untuk mahasiswa. Awalnya, Yusril tak mengira bahwa dirinya akan pergi ke Polandia dengan beasiswa dari Erasmus Mundus di tahun ini. Situasi pandemi membuat panitia memundurkan pengumuman dan keberangkatan para mahasiswa hingga tahun depan. Namun tiba-tiba Yusril mendapat kabar bahwa dirinya berhasil mendapatkan beasiswa dan akan pergi ke Lublin University of Technology Polandia dalam hitungan minggu. Proses persiapan keberangkatan Yusril ke Polandia tak semulus yang dibayangkan. Asisten laboratorium Fakultas Teknik Informatika ini ternyata menemui berbagai kendala. “Biasanya untuk persiapan keberangkatan memerlukan waktu dua bulan untuk mengurus visa dan izin tinggal di Polandia. Selai itu harus menyiapkan hasil swab test. Namun dengan berbagai usaha yang telah saya lakukan,akhirnya semua dokumen dapat terselesaikan,” cerita mahasiswa kelahiran Bali ini. Bukan kisah yang menarik jika tidak menemui banyak kendala, begitupun dengan kisah Yusril. Usai melengkapi dokumen, ia harus menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk keberangkatan. “Biaya keberangkatan memang ditanggung pihak Erasmus Mundus, tapi nanti saat saya sudah sampai di Polandia,” kenang anak bungsu dari tiga bersaudara ini. Tidak berhenti sampai di situ, ia kembali harus menerima kenyataan tidak bisa berangkat bersama kedua temannya karena mereka kekurangan dokumen.  Alhasil Yusril harus pergi ke Polandia seorang diri. Belum lagi jarak antara bandara di Polandia dan asramanya sangat jauh. Beruntung, berbekal Google Translate, ia mencapai asrama dengan selamat. Sekarang, Yusril sedang menikmati masa perkuliahannya di Polandia. Bersama kedua temannya, Yusril ingin mempelajari berbagai macam hal baru yang mungkin tidak akan bisa ia dapatkan di Indonesia. Kemudian membagikannya saat pulang nanti. (syi/wil)

Peduli Peternak Telur Ayam, Rancang Alat Pengatur Suhu Otomatis

Tidak sedikit peternak telur ayam yang masih kesulitan dalam mengatur temperatur kandang ayam. Melihat hal itu, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencoba menciptakan alat yang mempermudah proses tersebut. Alat ini diberi nama Smart Chicken Cage Based on Android. Rancangan  ini digagas oleh tiga mahasiswa UMM yaitu, Deny Fajar Hidayat, Yogi Hardika Pratama Putra, dan Andalusia Trisna Salsabila. Deny bercerita bahwa awalnya ia sering berkunjung ke rumah Yogi. Hingga akhirnya dia mengenal dan sering mengobrol dengan ayah Yogi. Dari situlah ia tahu bahwa peternak telur merasa kesusahan dalma mengatur suhu kandnag ayam. Mereka harus mengecek suhunya secara berkala untuk memastikan keadaan kandang tetap normal. Dari situ juga ia tahu bahwa peternak harus bolak-balik ke kandang untuk menyalakan atau mematikan kipas angin. Cara mengatur suhu ruang juga masih berdasarkan pada perkiraan si peternak, jadi tidak akurat. “Suhu adalah satu satu aspek penting untuk menernak telur ayam. Suhu kandang yang tidak sesuai akan berdampak pada kesehatan dan perilaku ayam serta jumlah produksi telur yang didapat,” lanjut mahasiswa teknik mesin ini. Deny menjelaskan bahwa Smart Chicken Cage Based on Android ini bekerja untuk mengendalikan suhu kandang secara otomatis. Mereka akan memasang arduino di kandang sebagai sistem kontrol, sensor suhu, dan kelembaban. Selanjutya data dari arduino akan otomatis terbaca di smartphone peternak. “Kami merancang agar alat ini secara otomatis bisa menghidupkan pemanas ketika suhu berada di bawah 25℃. Selain itu juga mampu menghidupkan kipas pendingin apabila suhu terpantau di atas 30℃. Dengan begitu suhu di dalam kandang akan tetap stabil dan peternak tidak perlu bolak balik ke kandang,” imbuh mahasiswa kelahiran Sulawesi tersebut. Ide dan Rancangan alat ini sendiri sudah pernah dilombakan dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta Tingkat Nasional (PIMTANAS) pada akhir November tahun lalu. Mereka bertiga mampu lolos di skema Program Kreativitas Mahasiswa di Bidang Teknologi. (syi/wil)

UMM Latih Patriot Pejuang Pangan Papua

Dalam rangka mendukung terbentuknya Sumber Daya Manusia (SDM) terampil khususnya di Papua, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan kegiatan Pelatihan Patriot Perjuangan Pangan: dari Papua untuk Bangsa pada Jumat (08/01). Para peserta yang mengikuti program ini mendapatkan materi, pelatihan serta keterampilan dalam bidang pertanian dan peternakan. Turut hadir pula Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P, serta Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd dalam pembukaan kegiatan tersebut. Mengawali sambutannya, Muhadjir mengungkapkan bahwa wilayah Papua memiliki kekayaan yang berlimpah. Keanekaragaman flora dan fauna yang banyak juga menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu tingkat kecerdasan dan fisik yang dimiliki juga tergolong bagus. “Papua memang memiliki banyak sekali kelebihan, baik dari segi sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya,” terangnya lebih lanjut. Meski demikian, ia menilai bahwa mental dan motivasi kerja yang ada masih kurang memadai. Berangkat dari hal itu, ia berharap agar agenda pelatihan ini bisa menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kemampuan mental kerja putra dan putri terbaik Papua. Tak lupa, ia juga menginginkan agar para peserta bisa menjadi pionir dalam usaha memajukan Papua di masa depan. Senada dengan Muhadjir, Fauzan selaku rektor UMM berharap pula agar pelatihan patriot Papua ini bisa memberikan dampak yang lebih luas. Utamanya bagi para peserta yang sudah hadir dan serius mengikutinya. “Tentu saja saya ingin melihat mereka menjadi petani yang tangguh. Tidak hanya paham teori tapi juga bisa menjadi petani yang profesional,” harap Fauzan. Pelatihan pangan ini sendiri akan dilaksanakan secara periodik. Pada periode pertama, akan ada sejumlah putra putri Papua yang akan turut serta dalam dua sesi. Sesi pertama mereka akan diberi pembekalan materi selama dua  hari. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yakni praktek lapangan yang diadakan selama dua bulan penuh. “Kegiatan ini merupakan salah satu komitmen UMM dalam rangka merealisasikan satu tekad dan visi UMM, yakni dari Muhammadiyah untuk bangsa,” ungkapnya mengimbuhkan. Di kesempatan lain, Arie Ferdinand salah satu peserta mengatakan bahwa sumber daya alam Papua memang kaya akan potensi. Sayangnya, belum dibarengi dengan pengelolaan secara baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat setempat. Ia berharap dengan ikutnya mereka dalam pelatihan patriot pangan tersebut, ia dan rekan-rekannya bisa memperoleh banyak keterampilan. Lebih-lebih bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Papua di bidang pertanian dan peternakan. “Visi dan misi kami menjadi bagian dari agenda ini adalah agar rakyat papua dapat mengembangkan sumber daya yang dimiliki secara mandiri” kata koordinator peserta itu di akhir sesi wawancara. (syi/wil)

Berbagi untuk Negeri, Beri Kontribusi di Panti Griya Asih

Situasi pandemi yang tidak kunjung berhenti membuat banyak perubahan di berbagai aspek. Kondisi ini juga membuat masyarakat kehilangan semangat untuk melakoni kegiatan sehari-hari. Dalam rangka menyulut kembali spirit itu, Universitas Muhammadiyah Malang langsungkan program bertajuk “UMM Berbagi untuk Negeri”. Rentetan program ini diawali dengan mengunjungi Rumah Asuh Anak dan Lansia (RAAL) Griya Asih, Lawang pada Kamis (7/1) lalu. Sebanyak 22 lansia dan beberapa anak panti tampak antusias mengikuti acara hingga akhir. Sesekali mereka mengunjungi mobil Kaca (Kamis Baca) yang sengaja dibawa oleh pihak UMM. Membaca buku dan diselingi dengan sesi nonton film yang tidak jarang mengundang tawa penghuni panti. Tidak hanya untuk menghibur, dalam kunjungan itu juga dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh tim Rumah Sakit UMM. Dr. H. Fauzan M.Pd selaku rektor UMM menyempatkan diri  menyapa para penghuni panti secara virtual. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kontribusi tidak hanya dilihat dari segi fisik dan pembangunan saja. Tapi juga bisa melaksanakan agenda yang lebih menyentuh aspek humanisme. “Meski UMM merupakan institusi pendidikan, tapi kami tidak menutup kemungkinan untuk memberikan kontribusi kemanusiaan bagi masyarakat,” terangnya. Fauzan juga mendorong masyarakat agar bisa saling memperhatikan dan membantu satu sama lain. Paling tidak bisa menjadi pengungkit optimisme di tengah kondisi pandemi seperti saat ini. Ia juga berharap agar kunjungan ini menjadi penyulut bagi masyarakat lain untuk terus memperhatikan orang-orang sekitar yang membutuhkan. Dalam kesempatan yang sama, kepala Rumah Asuh Anak dan Lansia (RAAL) Griya Asih, Natalie Paula Poluan juga ingin agar agenda ini tidak berhenti sampai di kunjungan saja. Ia berharap agar UMM bisa kembali datang dan menghibur penghuni RAAL Griya Asih di kesempatan lain. “Para oma dan anak anak senang sekali jika ada yang datang dan mengunjungi. Apalagi jika ada yang mengajak ngobrol serta bermain bersama,” ungkap perempuan kelahiran Makassar itu. Natalie juga mengapresiasi pihak UMM yang telah datang dan memberikan sumbangsihnya. Terlebih lagi mengingat jumlah pengunjung yang semakin berkurang sejak pandemi terjadi. “Biasanya banyak sukarelawan dan mahasiswa yang datang ke Panti untuk membantu. Maka dari itu, kami sangat bersyukur dan bersuka cita bisa mengawali tahun ini bersama dengan teman-teman dari UMM,” terangnya lebih lanjut. Ke depannya, UMM berencana mengajak para oma dan anak anak panti untuk berkeliling kampus serta melakukan city tour. Mereka juga akan mencanangkan program lain dengan mengirim mahasiwa-mahasiswa Psikologi dan Keperawatan untuk melaksanakan magang di RAAL Griya Asih. (wil)

Cetak Guru Profesional, PPG UMM Duduki Peringkat Tiga Nasional

Persentase kelulusan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menduduki peringkat tiga pada penyelenggaraan PPG Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Muhammadiyah tingkat nasional. Hal itu tertuang dalam surat yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) tentang hasil Uji Kompetensi Mahasiswa PPG (UKMPPG) tahun 2020. Pada tahun 2020, tercatat ada dua program yang berjalan. Pertama, PPG dalam Jabatan yang dilaksanakan dalam empat angkatan.  Masing-masing angkatan berdurasi empat bulan.  Program ini tidak hanya bersumber dari APBN, tapi juga dari APBD. Total sejumlah 648 mahasiswa pada bidang studi PGSD, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika telah mengikuti program ini. Kedua, PPG Prajabatan Mandiri yang dilangsungkan selama satu tahun. Dr. Trisakti Handayani, MM selaku ketua Prodi PPG mengatakan bahwa ada beberapa perubahan dalam uji kompetensi tahun ini. Selain diadakan secara daring, ujian ini juga dilakukan dalam dua tahapan, yakni Uji Kinerja dan Uji Pengetahuan. “Ada komponen portofolio dalam pelaksanaan tahun ini. Situasi pandemi juga menyebabkan praktek mengajar dilakukan di sekolah asal masing-masing,” ungkapnya lebih lanjut. Dalam rangka merespon sistem baru ini, prodi PPG menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk mahasiswa. Pelatihan tersebut berupa pembuatan video pembelajaran, penyusunan bahan ajar, penelitian tindakan kelas (PTK), dan penulisan artikel jurnal. Prodi PPG juga mendampingi dan memfasilitasi penulisan bunga rampai mahasiswa. Alhasil, sebanyak 22 buku bunga rampai telah terbit dan dikonsumsi publik. “Itu adalah bentuk komitmen kita dalam mengantarkan para mahasiswa untuk lulus UKMPPG dan secara resmi menjadi guru profesional,” lanjut koordinator pelaksana PPG ini. Di kesempatan yang berbeda, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes, mengapresiasi pencapaian yang sudah diperoleh. Sebab, selain menduduki peringkat tiga di antara LPTK Muhammadiyah, PPG UMM juga berhasil meraih peringkat ketujuh dari 61 PTN dan PTS penyelenggara PPG se-Indonesia. Adapun persentase kelulusan PPG UMM secara nasional adalah 52,84%. Angka itu cukup jauh dibandingkan dengan persentase yang diraih oleh UMM. ”Kita patut berbangga karena persentase kelulusan peserta PPG UMM di atas angka kelulusan nasional. Kita menyentuh angka 71,5% dalam kelulusan program profesi guru tahun ini,” pungkas dekan FKIP UMM tersebut. (syi/wil)

Peduli Lingkungan, Mahasiswa UMM Bangun Green Corner

Padatnya gedung dan perumahan di perkotaan membuat lahan hijau berkurang. Hal itu juga yang dilihat oleh tim Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka merasa bahwa lahan hijau di sekitar Kecamatan Klojen, Kota Malang kurang mencukupi. Akhirnya bekerja sama dengan warga, kelima mahasiswa tersebut membangun Green Corner yang berlokasi di Kelurahan Sukoharjo. Kegiatan ini dimulai pada 27 November hingga 27 Desember tahun lalu. Saat ditemui, Qorry Febriyardin koordinator tim menjelaskan bahwa dulunya lahan Green Corner tersebut merupakan rumah yang lama tidak ditinggali. Kemudian diambil alih oleh pihak Rukun Warga (RW). Sayangnya, banyak warga sekitar yang menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah. “Sempat dibangun taman di atasnya, namun malah menjadi kebun karena warga menanam sayuran dan buah,” terangnya. Kemudian ia dan tim menawarkan konsep dan bahu membahu dengan pihak RW untuk merenovasi taman tersebut. Adapun konsep yang diberikan merupakan ide awal dari tim PMM bersama Awan Setia Dharmawan selaku dosen Pembina. “Namun ternyata Ketua RW punya ide tambahan, sehingga taman ini adalah kolaborasi dari kami dan warga setempat,” ungkapnya saat  diwawancara. Selain dari mahasiswa dan sumbangsih warga, pembangunan ini juga mendapatkan dukungan biaya dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Malang.  Qorry, panggilan akrabnya, juga mengapresiasi antusiasme warga yang sudah ikut membantu. Bahkan anggota PKK juga menyediakan makanan, minuman hingga tempat beristirahat. Ke depannya, timnya sudah berkomunikasi dengan Ahmad Zakaria selaku ketua RW untuk merawat taman yang sudah dibangun. Mereka juga berinisitasif untuk menambahkan sambungan WiFi bagi pengunjung. “Jadi tidak hanya sebagai lahan hijau, tapi juga bisa digunakan untuk kemanfaatan lain. Misalnya, untuk para siswa yang tengah melakukan pembelajaran daring,” tegasnya. Qorry berharap agar Green Corner itu bisa menjadi taman bermain bagi anak-anak sekitar. Apalagi melihat tidak adanya lahan yang cukup bagi mereka. Mahasiswa kelahiran Sumbawa Besar itu menambahkan taman tersebut nantinya juga bisa difungsikan sebagai tempat untuk acara yang dilaksanakan oleh warga. (wil)

Akuakultur UMM Inisiasi Kelas Profesional Industri Udang

Lumrahnya, agenda kerja sama dilakukan dengan prosesi seremonial yang resmi. Namun tidak dengan Program Studi (Prodi) Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka meneken Memorandum of Agreement (MoA) bersama PT. Garin Agro Sejahtera (GAS) sambil melakukan olahraga tenis. Adapun agenda ini dilaksanakan di lapangan tenis UMM pada Jumat (1/1). Ganjar Adhiwirawan Sutarjo S.Pi, M.P selaku ketua Prodi Akuakultur menyampaikan bahwa tidak semua kerja sama harus dilakukan secara resmi. Bermain tenis bersama sambil mendiskusikan hal penting dari kedua belah pihak juga bisa dicoba. “Kebetulan direktur dan CEO PT. GAS, Pak Yoga Pinasatria dan Pak Hery Sudarmono suka bermain tenis. Jadi sekalian saja saya ajak bersama dengan Pak Rektor,” jelasnya lebih lanjut. MoA ini sendiri merupakan kelanjutan dari MoU yang sudah diteken di tahun lalu. Ganjar mengatakan kerja sama ini memiliki manfaat besar bagi keduanya, utamanya dalam industri udang. Salah satunya adalah agar UMM bisa mencetak profesional yang fokus dan ahli dalam bisnis ini. Agenda tersebut juga memudahkan kebutuhan pihak industri dalam menjaring lulusan-lulusan perguruan tinggi yang berkompeten. Selain itu, kolaborasi keduanya mampu melahirkan program baru di Prodi Akuakultur UMM, yakni kelas profesional udang. Mahasiswa nantinya bisa mendapat materi terkait pengelolaan udang, baik yang disampaikan oleh pihak industri maupun dosen. “Sejauh yang saya tahu, UMM adalah satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang menyediakan kelas profesional di bidang ini,” kata dosen kelahiran Banggai itu. Ke depannya, mereka juga akan menggandeng LSP UMM untuk menyusun materi terkait kompetensi profesional udang. Disamping itu, mahasiswa diharapkan bisa melaksanakan proses magang serta riset di PT. Garin Agro Sejahtera. “Magang dan riset yang mahasiswa lakukan di sana juga menjadi bagian dari program merdeka belajar kampus merdeka. Nantinya penilaian yang mereka dapat bisa dikonversikan menjadi nilai,” jelasnya. Di akhir sesei wawancara, Ganjar berharap agar penanda tanganan ini bisa meningkatkan kompetensi mahasiswa serta memudahkan alumni untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Selain itu juga sebagai pendorong agar mahasiswa UMM bisa lulus tepat waktu. “Hal ini sesuai dengan program UMM Pasti yang pernah Pak Rektor Fauzan sampaikan,” pungkas dosen yang juga hobi bersepeda ini. (wil)