Dorong Pemuda Raih Mimpi, Dosen UMM Tulis Buku Motivasi

Perjalanan Sholahudin Al-Fatih, SH.,MH menjadi seorang dosen dan penulis tidaklah gampang. Terlahir di pesisir Gresik membuatnya tidak bisa memimpikan hal-hal besar. Banyak kegagalan serta penolakan yang dia dapatkan ketika masih menjadi pelajar dan mahasiswa. Salah satunya ketika ditolak oleh organisasi pers kampus. “Artikel yang saya buat waktu Sekolah Menengah Atas (SMA) sering dibilang jelek oleh kakak tingkat. Waktu kuliah pun saya ditolak menjadi bagian dari organisasi pers kampus. Lagi-lagi karena tulisan saya dianggap tidak memenuhi standar. Namun saya menjadikan semua kegagalan dan penolakan itu sebagai motivasi untuk menulis dengan lebih baik,” ujar Fatih. Berkat ketekunannya, sekarang Fatih dikenal sebagai penulis handal. Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah menerbitkan empat buku bergenre motivasi. Semua buku yang telah ia tulis terinspirasi dari pengalaman semasa kuliah. Buku terbaru yang ia tulis adalah buku antologi berjudul Muda, Berkelana, Cerita: Seni Berburu Inspirasi dari Perjalanan ke Luar Negeri. Fatih mengungkapkan bahwa menempuh pendidikan ke luar negeri merupakan hal yang sulit bagi sebagian orang. Keterbatasan biaya, bahasa, dan waktu menjadi alasan utamanya. “Setelah mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan ke Malaysia, saya jadi sadar kalau ke luar negeri itu tidak sesulit yang saya bayangkan. Lucunya, orang-orang desa mengira saya putus kuliah dan memutuskan untuk menjadi TKI,” kelakar dosen Fakultas Hukum ini. Meskipun menempuh pendidikan di luar negeri mudah, Fatih sadar bahwa tidak banyak orang yang mengetahuinya. Karena itu, dosen kelahiran Gresik ini mengajak 15 temannya yang sudah pernah pergi ke luar negeri untuk menulis buku antologi. “Saya telah menulis buku ini sejak tahun 2014. Namun di tengah jalan saya dan kawan-kawan menemui banyak kendala. Beberapa teman akhirnya berhenti di tengah jalan. Sampai tahun 2020 hanya tersisa sembilan penulis saja termasuk saya” terangnya. Fatih juga berharap dengan adanya buku ini mahasiswa jadi terinspirasi dan berani mencoba belajar ke luar negeri. “Banyak sekali pelajaran yang akan kita dapatkan ketika melakukan perjalanan ke luar negeri. Entah dari budaya, adat, dan kebiasaan yang tidak akan kita temui di tanah air” pungkasnya di akhir sesi wawancara. (syif/wil)
Peduli Sekolah Terdampak Pandemi, Mahasiswa UMM Turun Gunung

Akses internet yang belum merata di Indonesia memaksa beberapa sekolah tetap melakukan kegiatan secara luring meski di tengah pandemi. Karena hal tersebut, tim Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penyuluhan kesehatan secara rutin di Sekolah Dasar (SD) desa Prancak Madura. Agenda ini telah dilaksanakan sejak bulan Desember 2020 lalu. Vanieda Dwi Fitria, perwakilan tim mengungkapkan tidak banyak warga desa yang benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Hal itu terlihat saat ia dan tim melakukan survei langsung ke desa Prancak. Banyak warga yang tidak disiplin menggunakan masker dan seringkali berkerumun. “Angka positif Covid di sini memang rendah. Mungkin hal itu yang membuat mereka kurang memperhatikan protokol kesehatan,” jelas mahasiswa kelahiran Kalimantan ini. Berangkat dari realita itu, mereka memutuskan untuk mengedukasi warga terkait protokol kesehatan, utamanya kepada anak-anak yang bersekolah secara luring. Ia mengaku program kegiatan kelompok mereka disambut baik oleh pemerintah setempat. “Kami mendapatkan bantuan berupa masker, sabun cuci tangan, dan hand sanitizer dari Dinas Kesehatan setempat,” tegas Vanieda. Anak kedua dari dua bersaudara ini menceritakan berbagai kesulitan yang dihadapi saat melakukan sosialisasi. Salah satunya adalah anak-anak yang tidak fasih berbahasa Indonesia, padahal tidak satupun anggota tim yang dapat berbicara bahasa Madura. “Anak-anak kelas tiga ke atas mungkin sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Namun tidak ada satupun siswa kelas satu dan dua yang fasih berbahasa Indonesia. Jadi kami meminta bantuan guru-guru untuk menerjemahkan,” lanjut Vanieda. Tidak hanya sampai disitu, tim PMM UMM juga memiliki keterbatasan pada akses transportasi. Setiap harinya mereka harus menempuh perjalanan selama tiga puluh menit dengan berjalan kaki dari tempat menginap sampai ke sekolah. “Kebetulan kepala desa menyediakan tempat tinggal mengingat kami semua berasal dari luar daerah. Namun jarak dari pintu masuk desa ke sekolah sangat jauh. Kami juga tidak memiliki kendaraan untuk dipakai di sini,” pungkas mahasiswa Fakultas Hukum tersebut. (syi/wil)
Gelar Bedah Buku, PSIF UMM Bahas Ijtihad Kontemporer Muhammadiyah

Pembahasan ijtihad seringkali menarik dan tiada habisnya. Begitupun juga dengan PSIF UMM yang ingin membahasnya secara mendalam melalui agenda bedah buku Ijtihad Kontemporer Muhammadiyah Dar Al-Ahd Wa al-Syahadah: Elaborasi Syiar dan Pancasila. Gelaran ini diadakan oleh Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Rabu (30/12), melalui kanal Youtube PSIF Official. Bedah buku tersebut menghadirkan dua pembicara utama. Pertama, Hasnan Bachtiar, MIMWAdv selaku penulis buku. Selain itu turut hadir pula Gonda Yumitro, MA yang akan membedah buku lebih detail serta Dr.Faridi, M.Si, selaku kepala PSIF UMM. Dalam sambutannya, Dr.Faridi, M.Si engungkapkan bahwa Muhammadiyah harus berperan aktif dalam pergeseran struktural masyarakat. Khususnya dalam tingkat global. “Tugas Muhammadiyah ke depan adalah memberi penyadaran kepada masyarakat. Utamanya mengenai pergeseran nilai-nilai kultural di masyarakat global dan hal-hal yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan.” Ujar Faridi lebih lanjut. Sementara itu, dalam pemaparannya Hasnan banyak menjelaskan latar belakang mengapa ia begitu tertarik dengan gagasan Ijtihad. Ia juga menjelaskan bahwa konsep Ijtihad dapat diaplikasikan melalui dua cara. Pertama, intertekstualitas yaitu kaitan antara teks satu dengan yang lain. Kedua adalah interkontekstualitas yang berarti mempertimbangkan sejarah terbentuknya teks dan sejarah masa kini. “Pancasila berisi terkait musyawarah dan demokrasi kerakyatan. Sementara jelas kita ketahui bahwa Islam juga banyak membahas tentang konsep musyawarah. Jadi Islam mengandung konsep-konsep ideal sebagaimana yang dikandung dalam pancasila. Bisa dikatakan bahwa keduanya saling berhubungan satu sama lain.” terang dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM tersebut. Di lain sisi, Gonda sangat mengapresiasi hadirnya buku tersebut. Ia menjelaskan bahwa kebanyakan orang hanya membicarakan Islam, negara, atau Pancasila saja tanpa mengaitkan satu sama lain. Lain halnya dengan buku karangan Hasnan Bachtar ini yang membawa pembaharuan besar bagi bangsa dan negara melalui konsep Islam serta Pancasila. “Melalui konsep Ijtihad, saya melihat bahwa buku ini menawarkan banyak solusi terhadap berbagai permasalahan yang sekarang sedang terjadi di Indonesia. Terutama masalah radikalisme” ujar Gonda di akhir sesi. (syi/wil)
Mahasiswa UMM Juara Lomba Fotografi Nasional

Berawal dari kecintaanya pada dunia fotografi, Khadijah Nurul Fitri, mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih juara satu dalam lomba fotografi tingkat nasional pada perlombaan MAZRABI 2020. Perlombaan ini diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar Indonesia pada tanggal 14-20 Desember yang lalu. Dalam perlombaan ini panitia mengambil tema “Pahlawan di Masa Pandemi”. Setelah tiga hari berkeliling Jombang untuk mengambil foto, Nurul akhirnya ia memutuskan untuk memotret para driver ojek online. Meski sepele, tapi Nurul menganggap peran para driver ojek online di masa pandemi sangat besar. Mereka membantu masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan tanpa harus keluar rumah serta berinteraksi dengan banyak orang. Anak kedua dari tiga bersaudara ini juga bercerita bahwa dirinya mulai tertarik dan menekuni hobi fotografi sejak setahun yang lalu. Dia belajar semua teknis fotografi secara otodidak melalui internet. Namun karena masih pemula, ia banyak mengalami kendala teknis dalam persiapan lomba. “Saya memotret street photography selama tiga hari. Setelah selesai memotret, biasanya saya meminta pendapat senior-senior di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang saya ikuti secara daring. Mereka banyak memberi saya saran mengenai masalah teknis yang sering saya hadapi. Salah satunya pengaturan iso yang tepat dan angle dalam fotografi” ujar mahasiswa kelahiran Jombang ini. Nurul mengaku bahwa dirinya sama sekali tidak menyangkan akan dapat meraih juara satu dalam kompetisi itu. Pasalnya peserta lain memiliki teknik dan kualitas foto yang lebih bangus ketimbang dirinya. Perlombaan ini juga merupakan lomba fotografi tingkat nasional yang pertama kali ia ikuti. “Saya sama sekali tidak menduga bisa memenangkan perlombaan ini. Saya juga sangat bersyukur karena dapat mengharumkan nama prodi dan kampus serta membuat orang tua saya bangga. Kedepannya saya akan terus melatih skill fotografi saya dan kembali mencetak karya-karya lainnya” ujar Nurul di akhir wawancara. (syi/wil)
Getapak Ringankan Masyarakat Terdampak Pandemi

Pandemi yang tak kunjung berakhir memberikan dampak buruk bagi semua lapisan masyarakat. Tak terkecuali mereka yang tinggal di Kota Batu. Berangkat dari permasalahan tersebut, Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) serta Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PDM Kota Batu menginisiasi Gerakan Ketahanan Pangan Keluarga (Getapak). Dalam pelaksanannya, kegiatan yang dilangsungkan pada 5-31 Oktober ini dibantu oleh lima mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang dengan bimbingan dari Dr. Ir. Damat, MP. Ayu Ramadhani Kumala Dewi, selaku ketua tim menjelaskan bahwa kegiatan itu mencoba memberikan solusi lain untuk membantu memulihkan ketahanan pangan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Utamanya mereka yang tinggal di Kota Batu. “Ada tiga lokasi yang menjadi fokus kami yakni di Kelurahan Sisir, Desa Tlekung serta Desa Giripurno,” terangnya lebih lanjut. Mahasiswa asal Jombang ini kembali mengungkapkan ada beberapa tahapan-tahapan yang timnya lakukan. Diawali dengan proses pendataan dan survey masyarakat peserta.Kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan terkait urban farming.Terakhir adalah pendampingan yang diberikan kepada masyarakat selama hampir sebulan. Dalam materi penyuluhan, masyarakat diajak untuk mengenal pembuatan aquaponik, hidroponik, serta budidaya ikan dalam ember (Budamber). Tiga materi itu dipilih karena dinilai cukup sederhana dan mudah dibuat. Budamber misalnya, yang hanya memerlukan peralatan yang biasa ditemukan di rumah. ”Kami mencoba memberikan solusi sederhana yang bisa dilakukan masyarakat. Jadi tidak perlu menambah biaya yang besar dalam pembuatannya,” tandas Ayu. Ditemui di kesempatan lain, Baharuddin Jamil Al-Munir, anggota kelompok PMM Getapak mengatakan bahwa mereka tidak hanya menyedikan penyuluhan saja, tapi juga materi Program Cantelan serta bantuan langsung bahan pangan. Kegiatan ini juga tidak lepas dari kendala. Ia melihat bahwa masyarakat peserta penyuluhan masih kesulitan dalam memahami materi urban farming. “Mungkin karena baru pertama kali mendengarnya. Meski begitu, pelan pelan masyarakat tertarik dan mulai memahami dengan baik berkat pendampingan yang kami lakukan,” sambungnya. Mahasiswa UMM asal Bengkulu itu juga berharap agar agenda ini bisa meringankan beban masyarakat terdampak pandemi. Sayur dan buah yang dihasilkan dari teknik-teknik yang disampaikan dalam penyuluhan bisa menjadi alternatif pemenuhan gizi. Selain itu juga Budamber yang dapat memenuhi bahan pangan masyarakat di tengah pandemi seperti ini.(wil)
Luthfi Juarai Kompetisi Arabic Story Telling Tingkat Nasional

Berawal dari kecintannya akan bahasa arab disertai hobi membaca dan menulis sedari kecil, Luhtfi Hasan K, mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih juara dua pada lomba arabic story telling di Gebyar Virtual Hari Bahasa Arab Se-Dunia. Perlombaan ini diselenggarakan oleh Awardee Lembaga Pengelolahan Dana Pendidikan (LPDP) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang pada Jumat (18/12) lalu. Luhtfi menceritakan berbagai persiapan yang ia lakukan menjelang perlombaan. Selama lima hari dirinya sibuk membaca banyak literatur untuk memperoleh inspirasi cerita. Lalu menuangkan ide ceritanya dalam sebuah tulisan. Adapun ide cerita yang Luhtfi sertakan dalam perlombaan itu bertema mengenai cara untuk mencintai bahasa arab. Selain karena perlombaan ini menggunakan bahasa arab, pemilihan ide cerita ini juga berdasarkan pada pandangan Luhtfi tentang pentingnya bahasa arab di zaman sekarang. Terutama bagi mereka yang menganut agama Islam. “Bahasa inggris sebagai bahasa internasional memang penting. Tapi bahasa arab juga tidak kalah penting,” imbuhnya. Selama proses penulisan, ia banyak dibantu oleh dosen dan bahkan dekan fakultas. Utamanya dalam hal salah ketik dan salah penerjemahan. Setelah tahap pengumpulan naskah, pihak panitia memilih sepuluh naskah terbaik yang akan diadu kembali. Pada tahap ini, para peserta diminta mengirimkan video story telling kepada panitia. Anak pertama dari lima bersaudara ini mengaku cukup kesulitan saat melakukan pengambilan video. Pasalnya dia harus melakukan semua proses syuting sendirian. Tidak cukup sampai di situ, ia juga kebingungan dalam menyiapkan properti hingga ke tahap editing. Apalagi dia tidak memiliki teman yang memahami videografi. “Saya kurang begitu paham tentang videografi dan pengambilan gambar. Jadi, saya berusaha semaksimal mungkin meskipun video yang didapat tidak begitu sempurna,” tambahnya saat diwawancara. Dengan kendala-kendala yang ia hadapi, Luthfi sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan meraih juara dua dalam perlombaan ini. Apalagi, menurutnya video yang ia buat dan kirimkan jauh dari kata sempurna. “Saya sangat bersyukur usaha yang saya lakukan dapat membawa hasil yang baik. Namun saya tidak ingin hanya berhenti sampai disini, untuk kedepannya saya akan terus berproses dan berkarya untuk memberikan yang terbaik” tandasnya. (syi/wil)
UMM Dorong Indonesia Jadi Pusat Industri Halal

Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Sayangnya, Indonesia masih belum mampu untuk menjadi yang pertama dalam industri halal. Berawal dari permasalahan itu, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) langsungkan Doctoral Colloquium dengan tema mewujudkan Indonesia sebagai pusat industri halal. Acara ini diadakan pada Selasa (29/12) lalu, melalui Zoom dan kanal Youtube FEB UMM. Selain pembicara yang berasal dari UMM, agenda ini juga mengundang dua pemateri dari luar kampus sebagai pembanding. Sebut saja , K.H. Muhammad Cholil Nafis, LC.,MA., Ph.D. seorang penulis, dosen, serta ulama. Kemudian juga Dr. Ahmad Soekro Tratmono, deputi pengawas perbankan IV dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Adapun pembicara yang hadir adalah Dr. Nurul Asfiah, M.M., Dr. Sri Budi Cantika Yuli, M.M., Dr. Driana Leniwati, A.K.,M.SA, serta Dr. Yulist Rima Fiandari, M.M. Dalam sambutan pembukaan, Dr. Idah Zuhroh, MM berharap kegiatan ini akan memunculkan energi dan inspirasi baru bagi FEB UMM. “Langkah selanjutnya yang harus diambil bapak dan ibu yang telah menyelesaikan studi doktoralnya adalah mengembangkan tridarma perguruan tinggi khususnya di bidang pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat” tandas Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Salah satu pemateri, Dr. Nurul Asfiah, M.M, dalam paparannya menjelaskan mengenI model islamic sosial entrepreneurship bagi usaha mikro dan kecil (UMK) untuk mewujudkan industri halal. Nurul menyampaikan bahwa UMK merupakan penunjang terbesar perekonomian suatu negara. Namun masih memiliki kelemahan yang sangat mendasar. Kelemahan itulah yang menjadi alasan perlunya pemberdayaan bagi pengusaha UMK di Indonesia dalam membangun industri halal Indonesia. Nurul juga tidak lupa mengambil contoh Aisyiyah sebagai organinasi yang telah menerapkan pemberdayaan masyarakat. Mereka mengajak perempuan untuk menjadi pilar ekonomi keluarga. Hal itu sejalan dengan pilar keempat yang dimiliki Aisyiyah tentang pemberdayaan ekonomi perempuan. Sementara itu, Dr. Ahmad Soekro Tratmono menyampaikan materi terkait mewujudkan Indonesia sebagai pusat industri halal. Ahmad dengan gamblang menjelaskan bahwa dalam pengembangan keuangan syariah ada empat hal yang harus diperhatikan. Pertama, adalah ekosistem yang berupa penggunaan sinergi dan integrasi ekonomi syariah di sektor riil, keuangan komersial, dan keuangan sosial. Kedua, penguatan kapasitas dan daya saing industri syariah berupa peningkatan modal minimum, akselerasi konsolidasi, dan peningkatan kapasitas SDM. Kemudian yang ketiga adalah peningkatan permintaan pada keuangan syariah berupa program peningkatan literasi dan perluasan akses keuangan syariah. Terakhir yakni memasifkan adaptasi digital dalam ekonomi syariah agar pengembangan keuangan syariah bisa berkembang dengan baik. (syi/wil)
Beri Kemudahan Layanan Perbankan dengan Luncurkan Virtual Account

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah berhenti memberikan inovasi baru, utamanya dalam pelayanan mahasiswa. Kali ini, bersama dengan Bak Jatim, UMM gelar launching sistem Virtual Account untuk pembayaran pendidikan. Agenda tersebut bertempat di Rayz Hotel UMM pada Rabu (30/12) lalu. Dalam sambutannya, Arif Wicaksono selaku kepala Infokom Bank Jatim menjelaskan bahwa mereka sudah merintis fitur virtual account sejak lama. Hanya saja terbatas pada instansi pemerintah daerah serta market place. UMM menjadi perguruan tinggi pertama yang melakukan kerja sama dengan Bank Jatim dalam penggunaan virtual account ini. “Semoga kerja sama ini bisa menular ke perguruan-perguruan tinggi lain agar memudahkan dan memberikan manfaat yang lebih lagi,” ungkapnya. Arif juga merasa bangga bisa bekerja sama dengan UMM. Hal itu tidak lepas dari predikat UMM yang tidak hanya fokus dalam aspek pendidikan, tapi juga di bidang kesehatan serta sosial. Ia juga menyebut bahwa nama UMM sudah terdengar di tingkat nasional dan internasional berkat prestasi yang sudah diraih. “Launching virtual account ini ada sebagai salah satu upaya untuk membuka akses dalam hal pembiayaan pendidikan. Jadi bisa memudahkan dan lebih simpel,” terangnya lebih lanjut. Masih dalam agenda yang sama, Fauzan selaku Rektor UMM mengungkapkan bahwa fasilitas ini menjadi jawaban atas tantangan zaman. Terlebih lagi di zaman yang penuh dengan teknologi modern seperti sekarang. Maka launching yang dilaksanakan merupakan bentuk apresiasi akan inovasi teknologi terkini. Fauzan juga berharap agar program ini tidak hanya dilaksanakan secara parsial, tapi juga dibarengi dengan regulasi yang visible dan marketable dalam upaya meningkatkan pelayanan. Ketika pelayanan sudah baik, maka bisa menjadi branding besar bagi Bank Jatim sendiri. Salah satu dampak positif yang bisa dirasakan adalah meningkatnya penggunaan virtual account oleh masyarakat luas. “Sama seperti UMM yang selalu mengedepankan kenyamanan berdasar humanis,” imbuhnya. Ia juga sempat bercerita bahwa hubungan UMM dengan Bank Jatim sebenarnya memiliki sejarah panjang dan sudah terjalin sejak lama. Kalau kerjasama keduanya diibaratkan sebagai ijab qobul, maka launching ini merupakan rentetan cicit dan cucu. “Semoga fasilitas virtual account ini bisa meningkatkan kinerja dan kepercayaan bagi kedua belah pihak. Selain itu juga bisa memberikan manfaat yang lebih baik untuk ke depannya,” pungkas Fauzan di akhir sambutannya. (wil)
KAS UMM Dorong Peningkatan Kecerdasan Emosional

Setelah sebelumnya sukses menggelar Kuliah Ahad Shubuh (KAS) secara daring, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan agenda mingguan ini pada minggu (27/12). Kali ini Dr. Hj. Diah Karmiyati M.Si didapuk menjadi pemateri. Ia membahas pentingnya kecerdasan emosional untuk meraih kesuksesan. Diah memulai pemaparannya dengan menyebutkan beberapa intelegensi yang berperan dalam kesuksesan seseorang. Salah satu di antaranya adalah emotional quotient (EQ). Kemampuan yang dimiliki oleh semua manusia dalam mengenali dan mengolah emosinya. Jika seseorang sudah bisa mengelola emosinya, maka ia juga cenderung untuk bisa mengenali situasi lingkungan sekitarnya. Hal ini membuatnya lebih peka dan menumbuhkan rasa empati yang tinggi. “Jika sudah muncul rasa tersebut, seseorang akan memiliki motivasi tinggi untuk melakukan yang lebih baik lagi,” ungkapnya lebih lanjut. Dosen yang juga mengkaji psikologi positif ini juga menyebutkan beberapa ciri orang dengan EQ tinggi. Bisa dilihat dari perilaku dan sikapnya sehari-hari. Bagaimana cara dia mengendaikan diri dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Selain itu juga lebih mampu memahami, mempengaruhi serta menenangkan orang di sekitarnya. Diah juga mengungkapkan EQ memiliki peran dua kali lipat lebih banyak ketimbang intelligence quotient (IQ). Lebih lanjut, ia juga memberikan kunci meningkatkan EQ dalam kehidupan sehari-hari, yakni belajar berinteraksi dengan orang lain. Meski terdengan sepele, tapi nyatanya berkomunikasi dan berinteraksi tidak semudah yang dibayangkan. Ia juga menganjurkan para pemuda dan mahasiswa untuk berkecimpung dalam organisasi atau organisasi. “Komunikasi yang terjalin dalam komunitas itu akan membantu kita mengenali dan mengelola emosi,” jelas Diah. Dalam materinya, Diah kembali mengingatkan betapa EQ memiliki manfaat yang besar dalam kehidupan. Ketika seseorang memiliki EQ yang tinggi, komunikasi yang ia lakukan akan menjadi lebih tepat, sehingga mengurangi kesalahpahaman. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang dengan EQ tinggi memiliki hasil kerja yang lebih baik ketimbang yang lain. “Itulah mengapa EQ harus diberikan sejak dini lewat interkasi sosial. Sayangnya, banyak orangtua yang overprotektif sehingga menghambat peningkatan EQ anak-anaknya,” jelasnya. Terakhir, dosen yang berfokus pada psikologi lansia ini berpesan untuk selalu emeningkatkan kemampuan pengelolaan emosi. Terlebih lagi di tengah pandemi yang tak tahu kapan akan berakhir. “Ada dua hal yang perlu ditanamkan dalam diri, pertama adalah menerima kemudian bersyukur. Jika sudah melakukannya dengan baik, kita tentu bisa lebih siap dalam menghadapi situasi pandemi seperti saat ini,” pungkas Diah di akhir materi. (wil)
Raih Juara Nasional Berkat Hobi Masa Kecil

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengharumkan nama kampus di tingkat nasional. Kali ini kabar baik datang dari Zulfa Lailatus Syarifah mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) yang berhasil memperoleh juara satu dalam lomba MARZABI 2020, dengan kategori lomba membaca puisi arab. Perlombaan ini diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar Indonesia dengan final lomba diselenggarakan pada Minggu (20/12) lalu. Zulfa sapaan akrabnya, mengatakan bahwa ia memang suka membaca puisi sejak belia. Namun biasanya Zulfa hanya membaca puisi di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang diikutinya. Perlombaan MARZABI ini merupakan lomba puisi tingkat nasional pertama yang ia ikuti. Dari tiga pilihan puisi yang disediakan oleh panitia, ia memilih karya Mahmoud Darwish yang berjudul Seindah-Indahnya Cinta. Anak bungsu dari dua bersaudara ini juga mengatakan bahwa persiapan lomba memakan waktu yang cukup singkat yaitu satu minggu. Dalam satu minggu tersebut Zulfa harus memahami dan mengartikan puisi, membangun ekspresi, mengambil video lalu mengeditnya, setelah itu mengumpulkan video ke panitia. “Proses pemahaman puisi dan membangun ekspresi memakan waktu paling lama. Bahkan saya mengambil videonya hanya sekian jam dari deadline pengumpulan. Jelas saya kewalahan sekali akrena berbarengan dengan kegiatan UKM lainnya. Ukuran file videonya juga besar sehingga proses rendering video berjalan lama. Untungnya video dapat saya kumpulkan dua puluh menit sebelum proses pengumpulan ditutup” lanjut mahasiswa kelahiran Bondowoso ini. Dengan persiapan yang singkat tersebut, Zulfa sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya dapat meraih juara satu. “Saya sangat bersyukur karena dapat mengharumkan nama prodi dan kampus melalui perlombaan ini. Saya juga harap kedepannya bisa memenangkan kompetisi lainnnya baik d tingkat regional, nasinal maupun internasional,” ujar Zulfa di akhir sesi wawancara. (syi/wil)