Kemendikbud Gelar Sosialisasi Kedai Reka di UMM

Koordinator Tim Kerja Akselerasi Reka Cipta Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Achmad Adhitya, Ph.D, pada Sabtu (28/11) pagi melakukan sosialisasi bersama kurang lebih 27 Perguruan Tinggi se-Malang di Universitas Muhammadiyah Malang. Sosialisasi ini terkait adanya terobosan dari Ditjen Dikti Kemendikbud RI dalam membuat Platform Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta (Kedai Reka) dan terobosan baru dalam mekanisme pendanaan perguruan tinggi melalui insentif matching fund sebesar Rp 250 Miliar. “Insentif hibah ini bertujuan untuk mendorong perguruan tinggi untuk mencapai 8 (delapan) Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi yang telah ditetapkan oleh Kemendikbud,” ucap Adhit. Melalui platform Kedai Reka, pihak perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia memiliki kesempatan yang setara untuk berkolaborasi dengan dunia usaha/industri dan mengajukan insentif matching fund tersebut. Platform Kedai Reka merupakan implementasi dari kontribusi visi kampus merdeka yang memberikan kebermanfaatan dan kesejahteraan masyarakat melalui karya cipta anak negeri dalam semangat membangun kemandirian bangsa. Platform ini merupakan wadah pertemuan antara Dunia Usaha dan Reka Cipta dari Perguruan Tinggi. Tujuan dari platform ini adalah menjadi jembatan akselerasi kerjasama dunia usaha/industri dengan para pereka cipta dari perguruan tinggi. Dari kerjasama tersebut, perguruan tinggi dapat menjadi pusat solusi dari setiap kebutuhan dunia usaha/industry melalui berbagai reka cipta. “Sehingga, platform Kedai Reka dapat menjadi salah satu penggerak pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.” tandas Achmad Adhitya. Kebijakan merdeka belajar yang diperuntukan ke perguruan-perguruan tinggi datang dengan beberapa  paket yang sangat dirasakan pengaruhnya pada perguruan tinggi swasta seperti UMM. Pengaruh paket-paket tersebut semakin lama semakin luar biasa dan sangat membantu perkembangan perguruan tinggi terutama program platform Kedaireka ini. “Pemerintah tidak hanya menerapkan indikator untuk perguruan tinggi namun juga memfasilitasi kampus untuk mempublikasikan inovasi-inovasi yang ada di kampus agar sampai ke masyarakat dan perusahaan,” ujar Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. (shi/can)

Kesebelasan UMM Juara 1 di Pertandingan Sepak Bola Internal Persema PSSI

Pertandingan internal Persema PSSI se-Malang Raya untuk liga 1 telah usai diselenggarakan dari 5 November sampai 26 November. Dalam pertandingan tersebut tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih juara 1 setelah mengalahkan tim dari Universitas Brawijaya (UB) dengan skor 2-0 di babak final. Rangkaian pertandingan diadakan di lima lapangan yang berbeda yakni lapangan Mulyorejo, lapangan Porma Sawojajar, lapangan Bakalan Krajan, lapangan Jagung  Kedung Kandang, dan lapangan Tunjung Sekar. Untuk liga 1 diikuti oleh 14 tim yang berasal dari seluruh daerah Malang, baik kabupaten maupun kota. Renold Septian selaku ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Sepak Bola mengaku sempat kesulitan menyiapkan tim pertandingan ini. “Persiapan pertandingan lumayan berat karena tidak banyak anggota UKM yang sedang berada di Malang, hal ini menyulitkan kami untuk memilih anggota,” ujarnya. Meskipun menemui kesulitan, tim Sepak Bola Kampus Putih mampu bersaing mengalahkan tim lawan dengan hanya kebobolan satu gol saja dari seluruh pertandingan. Selain itu, meski dilaksanakan di tengah pandemi, protokol kesehatan Covid-19 tetap terlaksana dengan baik. “Kami diimbau agar  pemain dari masing-masing perwakilan untuk test rapid sebelum pertandingan, adanya pembatasan jumlah penonton, serta mewajibkan orang-orang selain pemain untuk memakai masker,” kata pelatih tim UMM Dr. Haris Thofly, SH., M.Hum. (shi/can)

Bangun Karakter Wirausaha Anak Lewat Membatik

Kegiatan membatik. (Foto: Istimewa)

Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) beri pelatihan membuat batik celup anak panti asuhan untuk membentuk karakter kewirausahaan. Di bawah bimbingan Tutut Indria Permana, M.Pd., Siti Mariyatul Qibtiyah sebagai ketua, serta Ladysyah Fitri Rohmah, Nur Hadi Hidayat, dan  Yeni Setyaningsih sebagai anggota melatih 10 anak Panti Asuhan Putri Aisyiyah Dinoyo, Malang, selama hampir satu bulan, yakni 22 Agustus 2020 hingga 15 September 2020. Ide kegiatan ini bermula dari fakta bahwa masyarakat Indonesia lebih condong menjadi job seeker sehingga jumlah wirausahawan di Indonesia baru mencapai 2%. Padahal, idealnya, agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, jumlah wirausahawan suatu negara setidaknya harus mencapai 4%. Karena itu, jiwa kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini, terutama bagi anak-anak panti asuhan. “Dengan keterampilan wirausaha, mereka akan lebih mandiri. Ini penting karena mereka tidak bisa bergantung pada orang tua. Selain itu, ini juga bisa menjadi solusi bagi permasalahan donasi panti asuhan yang tidak tetap pada setiap bulannya,” tutur Siti Mariyatul Qibtiyah saat diminta keterangan lewat WA, Sabtu (20/11/2020). Lantaran dilaksanakan di masa pandemi, tim memanfaatkan platform Google Meeting untuk kegiatan pelatihan dan aplikasi WA untuk kegiatan pendampingan. Kegiatan pelatihan meliputi pemberian materi kewirausahaan, pembuatan batik celup, pemasaran, dan pengemasan produk. Menariknya, materi pembuatan batik celup disajikan dalam bentuk video tutorial yang diunggah di Youtube. “Tujuannya agar lebih mudah dipahami dan bisa diakses tanpa batas. Kami membuat video tutorial itu dengan aplikasi Kinemaster karena ada banyak pilihan efek animasi yang sesuai dengan kebutuhan kami,” tambah Siti. Selain itu, tim juga membuat Buku Pedoman Pelaksanaan Program dengan menggunakan bantuan software Power Point. “Terima kasih kepada tim yang telah memberikan pelatihan membuat batik celup secara daring. Kegiatan ini akan kami lanjutkan, kami optimalkan lagi. Kami akan membuat lagi kreasi-kreasi produk batik celup dan menjualnya kepada masyarakat luas,” terang Farida. Adanya kegiatan ini terbukti menambah pemahaman dan keterampilan anak panti asuhan dalam hal membuat batik celup maupun berwirausaha. Ini terlihat dari peningkatan hasil pretest dan posttest yang melonjak hingga 90%. Alhasil, mitra memberikan apresiasi yang tinggi atas pelaksanaan kegiatan ini. Bahkan, Farida Basori, pengelola Panti Asuhan Putri Aisyiyah Dinoyo pun berniat untuk melanjutkan kegiatan. Kegiatan ini merupakan aplikasi dari Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa pada skim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M). PKM-M ini tidak hanya memperoleh pendanaan dari Belmawa Dikti, tetapi juga mewakili UMM pada gelaran PIMNAS 33 yang akan dihelat secara daring sepekan ke depan. Lewat keberhasilan program dan luaran tambahan artikel yang telah dipublikasikan di International Journal of Community Service Learning (IJCSL) Universitas Pendidikan Ganesha, diharapkan tim bisa mengharumkan nama Kampus Putih dengan menyabet gelar sebagai Jawara PKM-M Tahun 2020. (fid/can)

Prodi Peternakan Gandeng Kelompok Perempuan Tingkatkan Produktivitas Ayam

Ayam kampung merupakan ayam lokal di Indonesia yang kehidupannya sudah lekat dengan masyarakat. Ayam kampung juga dikenal dengan sebutan ayam buras (bukan ras) atau ayam sayur. Namun, ada jenis ayam kampung super (KAMPUS) yang merupakan hasil persilangan antara ayam kampung jantan dengan ayam betina ras jenis petelur. Persilangan tersebut menghasilkan ayam kampung super yang mempunyai pertumbuhan lebih cepat dibandingakan dengan ayam kampung biasa. Berdasarkan hasil observasi lapangan kelompok pengabdian Prodi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), permasalahan yang ada adalah masih tidak termanfaatkannya potensi jenis persilangan ayam yang akan menghasilkan ayam kampung super dengan potensi unggul dari kedua induknya, yaitu persilangan ayam Bangkok jantan dengan ayam petelur. Hasil persilangan ini dapat menghasilkan bibit ayam dengan kualitas pertumbuhan cepat mirip ayam kampung dengan harga lebih mahal dan tahan penyakit. Di sisi lain, menurut kelompok pengabdian yang diketuai Prof. Wahyu Widodo sebagai ahli pakan ternak ini, banyak organisasi perempuan yang masih perlu diberdayakan termasuk anggota Aisyiyah Cabang Dau, Kabupaten Malang terutama di bidang peternakan. Oleh sebab itu permasalahan mitra adalah kurang adanya inovasi untuk mencari alternatif pemberdayaan bagi organisasi Aisyiyah Cabang Dau dalam bidang peternakan, khususnya optimalisasi pemberian kencur pada ayam kampung super. “Target utama adalah diharapkan adalah tersedianya ayam kampung super secara massal. Karena tingkat produktivitas yang tinggi yang menjadi media bagi para anggota Aisyiyah untuk memasarkannya secara cepat, murah, mudah dan memberikan hasil yang tinggi. Sehingga, hemat kami, perlu dilakukan pemberian pengetahuan dan keterampilan dalam pemberian fess additive kencur pada ayam kampung super bagi para ibu-ibu anggota Aisyiyah,” ungkap Wahyu Widodo. Program pengabdian ini turut dibantu Dr. Trisakti Handayani yang berkompeten dalam pemberdayaan wanita serta Dr. Adi Sutanto tenaga ahli bidang agribisnis peternakan. Kegiatan yang dilakukan selain penyuluhan dan pendampingan juga penyerahan ayam kampung super sebanyak 80 ekor kepada anggota Aisyiyah. Dengan rincian 40 ekor untuk ranting Sumberskar dan 40 ekor untuk ranting Merjosari. “Harapannya, dengan penyerahan ayam kampung super ini, bisa menjadi jembatan terbangunnya kesadaran pemberian jamu ayam kampung super yang lebih canggih yang dapat membangun perkembangan peternak ke arah yang lebih baik. Diharapkan juga pada tataran selanjutnya akan terdapat konstruksi yang berubah terhadap peternak yang lebih mengedepankan kesejahteraan,” lanjut Wahyu Widodo. Kegiatan ini merupakan kegiatan dengan pendanaan program pengabdian UMM. Optimalisasi pelaksanaannya melibatkan mahasiswa peserta program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) juga mahahasiswa yang terlibat dalam penelitian. Sementara, ayam yang dibagikan merupakan ayam yang berasal dari pemeliharaan di University Farm UMM berumur dua bulan. Ibu-ibu sebagai wakil kelompok perempuan Aisiyah Cabang Dau yang ditunjuk untuk memelihara ayam dimintai kesepakatan. Salah satu kesepakatannya adalah, ayam tersebut harus dipelihara sampai dewasa.  Apabila ayam tersebut betina, maka peternak wajib memilihara sebagai indukan untuk pengembangan ayam berkelanjutan. “Sehingga nantinya Dau dapat diharapkan menjadi sentra pembibitan ayam kampung super di Kabupaten Malang. Sedangkan ayam yang jantan sebagian besar boleh dijual dan menyisakan beberapa untuk menjadi pejantan,” tandas Wahyu Widodo. (*/can)

BPMI Sosialisasikan Operasional Website SIM SPMI Terbaru

Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI) Universitas Muhammadayah Malang (UMM) mengadakan sosialisasi Sistem Informasi Manajemen (SIM) dengan  Sistem Penjamin Mutu Internal (SPMI). Selain itu BPMI juga mengadakan pemantapan dan pendampingan pelaksanaan standar untuk pengoperasian website. Kedua kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, (25/11) di Ruang Sidang Senat yang dihadiri oleh 21 Gugus Penjaminan Mutu Internal (GPMI). Dalam kegiatan ini BPMI menjelaskan tentang tugas GPMI dalam proses pengawalan Auditor Mutu Internal (AMI) dan juga cara pengoperasian website SIM SPMI yang baru. Pengawalan dan pengoperasian SIM SPMI ini berfokus pada 5 tahap. Tahap pertama penetapan, dilaksanakan ketika kebijakan mulai diberlakukan. Kedua tahap pelaksanaan dilaksanakan ketika kebijakan sedang dilakukan oleh jajaran kampus. Ketiga tahap evaluasi dilakukan ketika kebijakan telah berakhir. Keempat tahap pengendalian ketika kebijakan diaudit dan didiskusikan melalui Rapat Tinjauan Manajemen (RTM). Kelima tahap peningkatan dilakukan ketika kebijakan-kebijakan diperbaharui. Kelima tahapan tersebut dilakukan sesuai 10 standar kriteria yang telah disusun oleh BPMI pada agustus 2020 yang lalu. “Saya berharap dengan adanya pembaharuan pada SIM SPMI ini, semakin tahun kita menjadi semakin lebih baik dan adaptif dengan pembaharuan-pembaharuan yang ada,” ujar ketua pelaksana kegiatan Dr. Hari Windu Asrini, M.Si. (*/can)

Drill Square Hole untuk Efisiensi Instalasi Listrik

Melihat masih banyak pekerja bangunan mengalami kesulitan saat proses pemasangan instalasi listrik, membuat Ilham Akbar R. Supu, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mencoba untuk mendesain alat yang dapat mempermudah proses tersebut. “Awalnya itu baca-baca kajian pustaka tentang instalasi listrik untuk mata kuliah Proyek Desain Tim, ternyata pekerjaan ini membutuhkan waktu yang cukup panjang,” jelas Ilham. Mahasiswa yang kini sedang menempuh skripsi ini mencoba untuk mengembangkan alat yang sudah ada sebelumnya dan menyesuaikan dengan model instalasi listrik yang ada di Indonesia. “Alat ini sebenarnya sudah ada di negara lain, tapi ya tidak bisa serta-merta diaplikasikan di Indonesia. Jadi, saya merancang ulang menyesuaikan yang akan di sini,” papar mahasiswa asal Makassar ini. Drill Square Hole didesain untuk mempersingkat waktu pemasangan instalasi listrik bagi pekerja bangunan pada proyek bangunan besar. Menurutnya, proses pemasangan instalasi listrik paling panjang terletak pada proses pelubangan tembok maupun gipsun. “Jadi, pekerja bangunan itu apalagi untuk pekerja bangunan di proyek seperti hotel atau perkantoran paling lama ya di proses pelubangan dindingnya,” jelasnya. Tambahnya, alat ini dirancang untuk menghindari resiko kecelakaan kerja yang sering dialami oleh pekerja bangunan saat proses instalasi listrik seperti masuknya serpihan material pada mata saat proses pelubangan dinding. “Waktu proses instalasi listrik itu pekerja bangunan masih sering mengalami kecelakaan kerja, salah satunya masuknya serpihan material pada mata,” tandasnya. Alat yang berhasil masuk lima besar karya terbaik pada ajang Kompetisi Mahasiswa Muhammadiyah Nasional yang diselenggarakan oleh Asosiasi Sains dan Teknologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AST-PTM) ini juga mempunyai manfaat lain, yakni hasil pelubangan untuk pemasangan saklar lebih rapi dibandingkan menggunakan model tradisional. “Karena saya berfokus untuk mempersingkat waktu kerja dengan hasil yang maksimal, maka alat ini saya desain dengan model yang mudah dioperasikan,” tegasnya. Alat ini dilengkapi dengan paku center yang berfungsi sebagai titik pusat awal pelubangan agar tidak terjadi pergeseran pada saat pelubangan dinding. ”Drill Square Hole dilengkapi dengan paku center yang membuat proses pelubangan lebih cepat dengan hasil yang sempurna,” lengkapnya. (nis/can)

Borong Penghargaan di Indodax Short Film Festival 2020

Punya bakat akting yang mumpuni, Arfan Adhi Pradana, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga malang melintang di dunia perfilman Kota Malang ini, baru saja meraih gelar Best Actor dalam Indodax  Short Film Festival 2020. Aktingnya yang natural dalam film berjudul Bumi karya Meraki Visual ini diganjar gelar sebagai Best Actor. Ia berperan sebagai Pak Ahmad, seorang guru yang memiliki murid bernama Bumi. Bumi, seperti dikisahkan dalam film itu, adalah anak yang tidak bisa mengikuti sekolah daring karena tidak memiliki handphone. Kebijakan pasca pandemi yang mengharuskan sekolah melalui platform online memang menjadi tantangan sendiri bagi semua lapisan masyarakat, tak terkecuali bagi Bumi, seorang anak petani di sebuah pelosok desa. Pak Ahmad, sebagai guru, pun akhirnya punya solusi dengan memberikan kelas privat untuk Bumi. Film pendek berdurasi empat menitan ini pun sukses merebut hati para juri bahkan meraih tiga gelar penghargaan sekaligus. Istimewanya, film Bumi ini adalah buah karya dari mahasiswa-mahasiswi yang dibimbing oleh Arfan Adhi sendiri. Nama timnya adalah Meraki Visual.  “Tim Meraki Visual terdiri dari 13 mahasiswa, tidak semuanya punya basic audio visual. Ada pula yang dari konsentrasi public relations. Dan menariknya delapan dari keseluruhan anggota tim belum pernah ikut proses syuting sama sekali,” tutur Arfan. Tantangan tersendiri dirasakan oleh Meraki Visual. Tim yang terdiri dari Kiki Rahman Ardiansyah(Ikom  AV 2018), Udaimatun Nur Farahin (Ikom PR 2019), Ardian Esa (Ikom AV 2018), M Mizan Sya’roni (Ikom AV 2018), Two Bagus Surya (Ikom AV 2018), Rizaldi Dwi (Ikom AV 2018), Abdul Latif (Ikom AV 2018), Dwi Cahyo Septoadi (Ikom AV 2018), Chu Livia Christine Wijaya (Ikom AV 2018), Reyhan Ramadhan (Ikom AV 2018), M Ammar Nasbahar (Ikom AV 2018), dan Aldi Novandi Putra (Ikom AV 2018). Selain mereka juga ada Ainni Firtiani, mahasiswi baru Ilmu Komunikasi angkatan 2020 yang tergabung dalam Tim Meraki Visual. “Proses pembuatan film ini memakan waktu sekitar satu bulan, proses readingnya sampai tiga kali. Sebagian besar tim memang belum pernah bikin film sama sekali. Ini menarik. Meski pengalaman pertama, namun mereka bisa berkerja secara maksimal,” puji Arfan. Kegigihan dan keuletan tim Meraki Visual ini pun berhasil menyabet gelar Best Actor, Most Views Movie, dan Best Director. Atas prestasi itu mereka mendapatkan hadiah total senilai 35 juta rupiah. Ada kisah menarik yang terselip dalam proses pembuatan film Bumi ini. Bermula dari keisengan tim untuk ikut kompetensi sambil menunggu berlangsungnya proses kuliah daring awal semester, mereka berkolaborasi untuk membuat karya bersama. Pada hari kedua proses syuting, kegiatan syuting mereka sempat terhenti karena hujan deras dan angin kencang. Hal itu membuat mereka harus menunda syuting hingga minggu kedua. Namun, seperti semangat yang dituangkan dalam film mereka, bahwa  pendidikan adalah aset masa depan, meski sibuk membuat karya, tim Meraki Visual tidak meninggalkan proses kuliah daring. “Anak-anak ini sebelum take adegan naik motor dan adegan belajar di gubuk, mereka ikut kuliah online dulu. Saya ingat waktu itu ada yang ikut kelasnya bu Isnani ada yang ikut kelas Pak Jamroji. Ini yang membekas dalam benak saya, mereka tidak meninggalkan kuliah meskipun asyik membuat karya. Jadi saya ya nungguin mereka selesai kuliah online dulu, baru take adegan,” ungkapnya sambil tertawa.  Karya film berjudul Bumi ini dapat disaksikan melalui kanal Youtube Meraki Visual. Kesuksesan Tim Meraki Visual ini adalah sesuatu yang sebenarnya tidak mereka sangka. Arfan mengakui, selain merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti kompetisi, mereka tidak memiliki target yang muluk-muluk. Niatnya cuma belajar bikin film pendek, karena gara-gara pandemi, praktikum AV 1 semeter lalu yang outputnya membuat film pendek, terpaksa gagal diproduksi. “Targetnya sebenarnya hanya 15 besar saja. Jadi ketika mereka diumumkan sebagai pemenang dan bahkan dapat tiga gelar sekaligus, mereka nangis bareng-bareng di zoom, saya pun ikutan nangis,” tutur Arfan. Penghargaan ini menurut Arfan juga memacu motivasi tim Meraki Visual, khususnya bagi Kiki Rahman Ardiansyah, sang sutradara film Bumi. Pengalaman pertama Kiki mendirecting film ini berhasil membuatnya semakin yakin menapaki jalur sutradara. (wnd/can)

Tim UMM Sabet Dua Gelar Juara di Kontes Robot Indonesia

Gelaran Kontes Robot Indonesia Tingkat Nasional 2020 telah usai dilaksanakan dari tanggal 16 November hingga 23 November oleh Pusat Prestasi Nasional Kemendikbud dengan Tuan Rumah Institut Teknologi Bandung secara daring. Pada Event tersebut Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan dua tim sebagai wakil, yaitu Tim Dome pada kategori Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI) dan Tim Zhafarul sebagai tim perwakilan pada kategori Kontes Robot Sepak Bola Indonesia Beroda (KRSBI Beroda). Tim Dome beranggotakan dua mahasiswa Rafif Kusuma Adi dan Aroo’ Isa serta dengan dosen pembimbing Khusnul Hidayat, S.T., M.T. berhasil menyabet dua gelar penghargaan sekaligus yaitu sebagai juara harapan dan tim dengan strategi terbaik pada kategori KRPAI. “Pada kategori tersebut terdapat 3 level pertandingan, dimana pada level 1, robot diharuskan mampu menelusuri seluruh ruangan pada labirin arena perlombaan dengan waktu maksimal 5 menit. Selanjutnya pada level 2 terdapat penambahan halangan berupa tumpukan anak tangga pada arena. Pada dua level awal tersebut robot juga harus dapat menyemprotkan desinfektan pada ruangan ruangan yang telah ditentukan oleh panitia. Pada level tantangan tertinggi selain halangan anak tangga robot juga diharuskan memadamkan api lilin yang terletak pada 3 ruangan yang berbeda,” tutur Rafif. Awal sesi Tim Dome terdapat kendala pada jaringan panitia yang mengakibatkan dome menempati urutan posisi 14. Akan tetapi dengan konsistensi, kecepatan, dan strategi yang baik, Tim Dome berhasil mengejar tim-tim lain. Sehingga pada sesi ketiga Tim Dome bisa menempati posisi ke 4 dan berhasil mendapatkan penghargaan tim strategi terbaik. Sementara, Tim Zhafarul  beranggotakan empat mahasiswa yaitu Dwi Nur Fajar, Mukhsin Fadhil, Muhammad Indra Pratama dan Aldi Hermansyah.  “Pada kategori KRSBI Beroda setiap tim diharuskan mencetak goal sebanyak-banyaknya dengan halangan berupa dummy robot dengan waktu perlombaan 3 menit, dengan 3 sesi pertandingan kami berhasil mencetak 19 goal yang menempatkan kami pada urutan 11 pada kategori tersebut,” ujar Aldi Hermansyah sebagai ketua tim. Raihan prestasi tersebut melengkapi prestasi tim robot dome UMM, dimana pada gelaran sebelumnya tim robot dome telah banyak menorehkan prestasi yaitu, Juara dua KRPAI tingkat nasional 2017, Juara satu KRPAI tingkat nasional tahun 2016, 2018, dan 2019. Tak hanya even nasional, Tim Dome juga telah meraih prestasi di tingkat internasional yaitu Gold and Silver Medal pada event Trinity College International Fire Fighting Robot Contest 2017, serta Gold dan Silver Medal pada event serupa pada tahun 2019 di Hartford, Amerika Serikat. (*/can)

RBC Institute Gelar Diskusi Menyoal Populisme Islam

RBC Institut A. Malik Fadjar, sebuah platfrom gerakan komunitas berbasiskan literasi di Malang, menggelar diskusi bertajuk Kepemimpinan Kaum Muda dan Populisme Islam di Indonesia, bertempat di RBC Learning Space, Malang pada Rabu (19/11) pekan lalu. Diskusi ini melibatkan tiga narasumber pakar, yaitu Subhan Setowara, Dimas Oky Nugroho dan M. Khoirul Muttaqin. Populisme Islam tengah muncul di Indonesia dalam dua dekade terakhir, yang salah satunya ditandai dengan semakin masifnya simbol-simbol keagamaan di ruang publik. Selain itu, kemunculan Habib Rizieq Shihab dan para tokoh agama yang turut serta dalam Aksi Bela Islam (ABI) beberapa tahun lalu, juga menjadi penanda bagi semarak populisme Islam di negeri ini. Kehadiran mereka ikut menginterupsi otoritas keagamaan para tokoh agama yang punya afiliasi dengan organisasi Islam mainstream seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), sehingga gerakan ini membuat fragmentasi baru dalam arus pergerakan keislaman di Tanah Air. Fokus diskusi tersebut ingin melihat posisi kepemimpian kaum muda di tengah arus populisme Islam yang berkembang belakangan ini. Apakah kaum muda merasa beruntung dengan arus ini atau justru sebaliknya. Menurut Direktur Eksekutif RBC Institut A. Malik Fadjar, Subhan Setowara, dalam alam demokrasi seperti sekarang ini, populisme pastilah muncul. Jika demokrasi adalah suara rakyat, maka populisme justru bergerak atas nama suara rakyat. Dia menambahkan, antara populisme dan algoritma telah terjadi perkawinan. Ketika kaum muda bersosial media dan terjebak pada salah satu arus, maka seterusnya ia akan terjebak pada populisme dalam media sosial. “Untuk itu, dalam menanggapi wacana populisme, kaum muda harus kritis,” tandas Subhan. Di kesempatan yang sama, Founder Kader Bangsa Fellowship Program, Dimas Oky Nugroho, mengatakan, ketika berbicara tentang populisme Islam di Indonesia, justru yang terjadi gerakan ini selalu mengalami kegagalan. Menurut Dimas, kegagalan tersebut karena yang dibayangkan bukan people tapi ummah. Kemudian, imajinasi ummah tersebut selalu terbentur dengan realitas sosial ekonomi. Dan itu justru melahirkan kesenjangan. Selain imajinasi ummah, populisme Islam juga kental dengan politisasi isu-isu agama untuk kepentingan dan pertarungan pada tataran elit. Lalu kemudian isu ini dibuat sedemikian rupa bagi kalangan grassroot. Sementara itu, aktivis muda Muhammadiyah M. Koirul juga menjelaskan bahwa kegagalan populisme Islam di Indonesia karena populisme Islam selalu diwakili oleh pemimpin yang berdosa secara politik dan secara sejarah. Berangkat dari hal ini, populisme menjadi tidak bertahan lama. Karena yang menjadi penokohan dalam populisme tidak cukup teladan untuk diikuti. Justru membuka celah dan ruang untuk di-bully. Ini dibuktikan dengan penolakan kaum muda pada populisme Islam yang dipimpin oleh Habib Rizieq akhir-akhir ini. “Pada akhirnya, ruang-ruang ini harus diisi dan digantikan oleh kaum muda yang belum mempunyai dosa sejarah. Dan, tentunya, calon pemimpin muda ke depannya harus memiliki nalar kritis untuk menghadapi segala wacana, termasuk wacana populisme,” imbuh Khoirul. (*/can)

Rancang Alat Siram Otomatis untuk Petani Jamur Tiram

Tahun ini ada 8 tim dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang lolos ajang Pekan Ilmiah Nasional. Salah satunya adalah tim yang diketuai oleh Lutfi Aish, mahasiswa Program Studi Informatika UMM angkatan 2017, yang menjadi tim UMM yang lolos di skema PKM-T (Program Kreatifitas Mahasiswa – Teknologi). Bersama dua rekannya dari Informatika M. Fikri Azhar dan Amarul Akbar, juga berkolaborasi dengan rekan lintas bidang. Yakni Safira Rikza Charira, mahasiswa Teknologi Pangan angkatan 2018. Mereka memberi solusi bagi permasalahan yang dialami petani jamur tiram. Awalnya, Lutfi mendengar permasalahan secara langsung dari petani jamur tiram di desanya Karangagung Tuban. Seperti area pesisir pada umumnya, Desa Karangagung memiliki suhu relatif tinggi hingga 34 derajat Celcius dengan kelembaban 50 hingga 80%. Hal ini kurang memungkinkan untuk pertumbuhan jamur yang membutuhkan suhu udara berkisar antara 16-24 derajat Celcius dengan kelembapan 60-70%. Suhu dan kelembapan yang tidak sesuai tersebut menyebabkan baglog jamur banyak mengalami kerusakan. Sehingga mempengaruhi penghasilan petani. Dari 1000 baglog, kerusakan baglog yang terjadi bisa mencapai 200 baglog setiap 6 bulan. Kerusahan ini mempengaruhi pendapatan petani jamur sehingga mengalami kerugian. Selain mempengaruhi pendapatan mitra, kondisi desa tersebut juga menyebabkan suhu dan kelembaban pada kumbung jamur milik mitra tidak stabil sehingga mitra harus melakukan penyiraman manual 5-6 kali sehari yang menghabiskan waktu dan tenaga agar kondisi kumbung jamur tetap pada suhu dan kelembaban optimal. Setelah berdiskusi dengan rekan-rekannya dan dari bimbingan dosen Nur Hayatin, S.ST, M.Kom, akhirnya mereka menggagas sebuah rancangan alat optimalisasi suhu dan kelembaban untuk membantu petani jamur tiram. Dengan menggandeng mitra Muhammad Anwar, salah satu petani jamur tiram Desa Karangagung yang memiliki permasalahan. Rancangan alat ini telah lolos pendanaan PKM Kemendikbud dan telah lolos menuju PIMNAS 33. “Alat ini dapat diimplementasikan untuk membantu permasalahan mitra terkait pengendalian suhu dan kelembapan dalam kumbung jamur secara otomatis,” terang Amar, desainer alat. Rancangan alat menggunakan microcontroller arduino dengan menggunakan kabel jumper untuk menghubungkan sensor kelembaban, relay dan sensor suhu DHT yang dapat disatukan di dalam board. Alat nantinya diletakkan pada kumbung mitra yang berukuran 4x8x3m berkapasitas 1000 baglog. Alat ini akan bekerja apabila suhu dan kelembapan rumah jamur tidak sesuai. Air akan dipompa menuju pipa air. Sprayer akan mengeluarkan kabut pada pipa bagian atas dan bagian bawah. Apabila suhu dan kelembapan telah optimal, sprayer akan otomatis berhenti dan LCD display menampilkan suhu dan kelembaban yang kembali optimal. Lutfi meyakinkan bahwa rancangan alat ini sudah sesuai dengan kondisi mitra. Di sisi lain pengaplikasiannya mudah juga ketahanan alat yang cukup lama, yakni sekitar 2-3 tahun. Selain itu harganya tergolong murah dibandingkan dengan alat yang sejenis. Dari hasil evaluasi, mitra memberi tanggapan positif terhadap desain alat dan berharap alat dapat diimplementasikan di rumah jamur. “Rancangan alat ini sudah didemokan kepada mitra kami, dan mitra memberikan feedback positif. Setelah kegiatan berlangsung, mitra diharapkan dapat menerapkan alat secara mandiri dan dapat memberikan wawasan serta informasi mengenai alat kepada petani jamur lain di desa tersebut,” tutur Lutfi. (*/can)