Bikin Inovasi COLARIX, Mahasiswa UMM Sabet Emas PKMM Kategori Karsa Cipta

Berangkat dari kepekaan terhadap persoalan nyata di sektor peternakan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan kapasitasnya sebagai inovator muda di tingkat nasional. Melalui ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) yang digelar pada November 2025, dua mahasiswa Program Studi Informatika UMM sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih medali emas kategori PKMM-KC (Karsa Cipta). Dua mahasiswa tersebut adalah Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah yang berhasil mengungguli peserta lain berkat inovasi teknologi bertajuk COLARIX, sebuah perangkat cerdas untuk pemantauan kesehatan ternak. Capaian ini menegaskan peran mahasiswa UMM sebagai generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif menghadirkan solusi berbasis teknologi atas persoalan riil di masyarakat. Putri Nayla Sabri menjelaskan bahwa PKMM merupakan wadah strategis bagi mahasiswa Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan inovatif berbasis riset dan kebutuhan nyata. Menurutnya, skema kompetisi ini memiliki kemiripan dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional, namun diselenggarakan secara khusus oleh Muhammadiyah sebagai ruang aktualisasi intelektual mahasiswa. Mahasiswa asal Wamena tersebut menuturkan bahwa timnya mengangkat isu serius di sektor peternakan, yakni penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyakit ini berdampak signifikan terhadap kesehatan ternak sekaligus menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. Berdasarkan data kasus, PMK tercatat menginfeksi lebih dari 14.000 ekor ternak dalam rentang Desember 2024 hingga Januari 2025, sehingga dinilai sebagai persoalan mendesak yang membutuhkan pendekatan inovatif dan berbasis teknologi. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim kemudian mengembangkan COLARIX, sebuah smart collar berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) yang berfungsi memantau kondisi sapi pasca infeksi PMK secara otomatis dan real time. Perangkat ini mengintegrasikan kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050. Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan algoritma MobileNet dan Dempster-Shafer Theory, sebelum ditampilkan dalam sebuah dashboard pemantauan kesehatan ternak. “COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ujar Putri. Dalam proses pengembangannya, tim mengakui masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Riset dilakukan dalam waktu relatif singkat, kurang dari dua minggu, dan produk yang dihasilkan masih berada pada tahap prototipe fungsional awal tanpa uji lapangan. Meski demikian, Putri menegaskan bahwa fokus utama tim adalah memastikan kelayakan teknis serta landasan ilmiah alat sebagai pijakan pengembangan lanjutan. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pihak kampus. Tim memperoleh pendampingan dari dosen pembimbing, fasilitasi akademik, hingga ruang pengembangan ide di lingkungan Program Studi Informatika UMM. Dukungan tersebut menjadi faktor penting yang mendorong mahasiswa berani berinovasi dan berkompetisi di tingkat nasional. Sementara itu, Zamah Sari, S.T., M.T., Dosen Fakultas Teknik Program Studi Informatika sekaligus dosen pembina tim PKMM-KC UMM, menilai inovasi COLARIX memiliki keunggulan pada sistem pemantauan real time dan non-invasif, penggunaan multi-sensor yang meningkatkan akurasi, serta biaya produksi yang relatif terjangkau sehingga berpotensi diterapkan di peternakan komunal. Sebagai penutup, Ia berpesan kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu memulai ide dan berinovasi meskipun belum sempurna. Menurutnya, inovasi bernilai lahir dari keberanian mengangkat masalah nyata dan kemauan untuk terus belajar. Prestasi ini menjadi bukti konsistensi UMM dalam melahirkan mahasiswa yang peka terhadap persoalan sosial dan mampu menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat. (bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Tribowo | Editor; Faqih Ahmad Wafir Rahman

Pertama Dari Indonesia, Dosen Fisioterapi UMM Ikuti Course DNS Internasional Di Turki

Tahun 2026 dibuka dengan langkah strategis menuju panggung internasional dari Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Konsistensi dalam pengembangan kompetensi dosen kembali ditunjukkan melalui partisipasi aktif Rakhmad Rosadi, SST.Ft., Ftr., M.Sc.PT., Ph.D., yang tercatat sebagai dosen pertama dari Indonesia dalam Course Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) tingkat internasional di Istanbul, Turki. Course bergengsi ini mengangkat tema “Clinical Evaluation of Patients with Scoliosis” yang berfokus pada pemanfaatan DNS functional tests untuk mengevaluasi pasien dengan Adolescent Idiopathic Scoliosis (AIS) serta berbagai kondisi asimetri postural. Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada evaluasi klinis berbasis neuromuskular guna memahami gangguan stabilisasi postural secara komprehensif dan sistematis. Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai klasifikasi dan etiologi AIS, skoliosis yang bersifat didapat (acquired scoliosis), hingga berbagai bentuk asimetri postur yang muncul sejak usia anak-anak. Selain itu, dibahas pula prinsip sagittal stabilization pada anak, dewasa, maupun atlet, dengan tujuan mencapai postur optimal sekaligus meningkatkan performa fungsional dan olahraga pada individu dengan skoliosis. “Ini tidak hanya menjadi upaya peningkatan kompetensi profesional sebagai fisioterapis dan akademisi, tetapi juga bagian dari strategi pengembangan pendidikan di Program Studi Fisioterapi UMM. Pengetahuan dan pengalaman internasional yang diperoleh diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran, baik pada mata kuliah inti maupun mata kuliah pilihan,” ujarnya Rakhmad. Sebagai bentuk komitmen tersebut, Program Studi S1 Fisioterapi UMM memiliki sejumlah mata kuliah pilihan unggulan yang dirancang sesuai kebutuhan praktik profesional. Salah satunya adalah mata kuliah Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS). Seluruh mata kuliah pilihan dibimbing langsung oleh dosen tersertifikasi, sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga keterampilan klinis aplikatif yang sesuai dengan standar internasional. Mata kuliah DNS sendiri membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang kontrol motorik, stabilisasi postural, serta penerapan DNS dalam berbagai kasus muskuloskeletal. Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menyampaikan bahwa melalui pengembangan kurikulum berbasis keilmuan mutakhir serta keterlibatan aktif dosen dalam forum internasional, Prodi Fisioterapi UMM terus berupaya mencetak lulusan yang kompeten, adaptif, dan memiliki daya saing global. “Keikutsertaan dosen dalam course DNS internasional ini merupakan bukti nyata komitmen kami dalam menghadirkan pendidikan fisioterapi yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan praktik klinis terkini. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh akan kami integrasikan langsung ke dalam proses pembelajaran agar mahasiswa siap menghadapi tantangan profesional di tingkat global,” pungkasnya. (faq)\   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Cuaca Ekstrem 2026, Dosen Umm Tekankan Pencegahan Dini

Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan tinggi, dan peningkatan kelembapan memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyebut kondisi tersebut sebagai stresor lingkungan yang meningkatkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok rentan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujar Zaqqi. Ia menambahkan, cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan, sementara suhu panas ekstrem meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca, tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya. Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pencegahan primer melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. Asupan protein, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung sistem imun, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan karena dalam cuaca ekstrem tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meski rasa haus tidak selalu muncul. “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten, memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi, serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” kata Zaqqi. Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Selain itu, kesehatan mental dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. “Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas. Karena itu, menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya. Terakhir, Ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan menghadapi cuaca ekstrem, tidak hanya dengan kewaspadaan individu, tetapi juga melalui penguatan peran keluarga, komunitas, dan fasilitas layanan kesehatan. Menurutnya, sinergi antara edukasi kesehatan yang berkelanjutan, kebijakan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Dengan upaya preventif yang konsisten dan berbasis ilmu pengetahuan, ia optimistis masyarakat dapat tetap menjaga ketahanan kesehatan dan kualitas hidup meski di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mahasiswi PAI UMM Torehkan Prestasi Multitalenta sebagai CEO Public Speaking, Juara Stand Up Comedy, hingga Founder Bisnis

Berbekal kemampuan retorika yang tajam dan mentalitas yang kuat, Umi Khabibah membuktikan bahwa latar belakang sebagai mahasiswi Pendidikan Agama Islam (PAI) bukanlah penghalang untuk berprestasi di ranah industri kreatif. Mahasiswi angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sukses menorehkan prestasi nasional dengan meraih Juara Harapan 1 Stand Up Comedy pada ajang KMI Expo 2025. Capaian tersebut sekaligus menegaskan komitmen UMM dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa multitalenta di berbagai bidang, termasuk industri kreatif modern. Prestasi yang diraih Umi menjadi bukti bahwa atmosfer akademik UMM mampu melahirkan mahasiswa yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui dunia komedi tunggal, ia tidak hanya tampil menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan kritis dengan pendekatan komunikasi yang cerdas dan membumi. Bagi Umi, public speaking bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan amanah besar untuk menyampaikan nilai-nilai yang bermakna kepada masyarakat luas. Menurutnya, latar belakang keilmuan PAI justru memberikan warna tersendiri dalam gaya komunikasinya. Umi menilai bahwa calon pendidik agama di era saat ini harus memiliki kemampuan berbicara yang mumpuni agar pesan dakwah dapat disampaikan secara tepat, santun, dan bertanggung jawab. Ia menekankan pentingnya penguasaan retorika bagi lulusan PAI agar ruang dakwah tidak diisi oleh pihak-pihak yang kurang kompeten secara keilmuan. “Kalau lulusan PAI tidak mahir bicara, panggung dakwah bisa diisi oleh sosok yang keliru. Sekarang banyak yang pintar bicara, tetapi tidak memiliki kompetensi keilmuan. Kita yang dari PAI harus sadar betul pentingnya kemampuan komunikasi,” tegasnya. Selama menempuh pendidikan di UMM, Umi aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan pengembangan diri. Ia tercatat pernah bergabung dalam UKM MTQ, aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta dipercaya menjadi Ambassador I’am Women Indonesia 2023. Berbagai pengalaman tersebut menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium kepemimpinan dan komunikasi yang membentuk kepercayaan dirinya. “Organisasi dan kegiatan di luar kelas itu tempat saya belajar paling banyak, mulai dari mengelola tim, menyampaikan gagasan, sampai memahami karakter orang yang berbeda-beda,” ungkap Umi. Ia juga memanfaatkan forum presentasi kelas sebagai sarana melatih analisis audiens dan memahami psikologi komunikasi secara lebih mendalam. “Setiap presentasi saya jadikan latihan membaca audiens, karena cara menyampaikan pesan ke dosen tentu berbeda dengan ke teman sebaya,” tambahnya. Di bidang profesional, Umi juga menapaki dunia wirausaha sebagai CEO Speak Minds Academy, lembaga kursus komunikasi profesional dengan sepuluh kelas spesialisasi. Ia mengantongi berbagai sertifikasi nasional, seperti Certified Public Speaker (CPS), neuro linguistic programming (NLP), hingga sertifikasi penyiar TV level 3 KKNI. Selain itu, bisnis yang ia rintis, Tale Gifts and Co, berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dan dikonversi menjadi nilai mata kuliah melalui kebijakan akademik UMM. Tak hanya fokus pada pengembangan diri dan bisnis, Umi juga mendirikan Komunitas Santri Putri Khawla Benazir sebagai wadah pemberdayaan santri putri. Berangkat dari keresahannya melihat banyak santri yang minder saat melanjutkan studi ke perguruan tinggi, komunitas ini rutin menggelar workshop untuk membangun kepercayaan diri serta menunjukkan bahwa santri memiliki potensi besar di bidang menulis dan public speaking. Menutup kisahnya, Umi berpesan agar mahasiswa aktif membangun portofolio sejak dini dan memanfaatkan seluruh fasilitas kampus yang tersedia. Menurutnya, masa kuliah merupakan fase terbaik untuk bereksplorasi dan berani mencoba tanpa takut gagal. “Manfaatkan sebaik mungkin apa yang bisa diberikan oleh kampus dan jangan ragu untuk terjun langsung. Selama masih mahasiswa, kita punya banyak akses, dukungan, dan kesempatan untuk belajar. Banyak peluang berharga yang hanya datang sekali dan sering kali hanya bisa diraih saat kita masih menyandang status mahasiswa,” pungkasnya.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Perkuat Standar Lulusan Keperawatan lewat OSCE Berbasis Mini Hospital

Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan kesehatan berkualitas melalui pelaksanaan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) berbasis mini hospital. Ujian keterampilan klinis ini digelar di Gedung Kuliah Bersama (GKB V), fasilitas baru berteknologi tinggi yang dirancang menyerupai lingkungan rumah sakit modern. OSCE menjadi salah satu instrumen utama evaluasi kompetensi mahasiswa keperawatan karena tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga menilai komunikasi terapeutik, berpikir kritis, clinical reasoning, hingga pengambilan keputusan dalam kondisi gawat darurat. Sejak pagi hari, suasana ujian tampak dinamis dengan mahasiswa yang berpindah dari satu station ke station lain sesuai alur skenario klinis yang telah ditetapkan. Pelaksanaan OSCE kali ini memiliki keunggulan pada penerapan konsep mini hospital yang menghadirkan simulasi klinis secara realistis. Berbagai station dirancang mencerminkan kondisi nyata pelayanan kesehatan, mulai dari penanganan kegawatdaruratan, perawatan luka, pemeriksaan fisik komprehensif, penyuluhan kesehatan, hingga pelayanan pasien dengan penyakit kronis dan kasus maternitas serta anak. Kepala Departemen Keperawatan Gawat Darurat (KGD) UMM, Indah Dwi Pratiwi, S.Kep., Ns., M.Ng, menjelaskan bahwa OSCE merupakan metode paling relevan untuk memastikan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. “OSCE mini hospital di GKB V memberikan gambaran nyata bagaimana mahasiswa menghadapi pasien dalam kondisi kritis, berkomunikasi di bawah tekanan, serta melakukan tindakan klinis berbasis keselamatan pasien. Inilah yang membentuk mereka menjadi perawat profesional di masa depan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa station kegawatdaruratan dirancang menyerupai Instalasi Gawat Darurat (IGD) modern, meliputi simulasi resusitasi jantung paru, penanganan trauma, triase bencana, hingga stabilisasi perdarahan dan koordinasi tim keperawatan. Keberhasilan OSCE juga didukung oleh fasilitas GKB V yang dilengkapi laboratorium keperawatan terintegrasi, manekin digital multiprogram, ruang mini ICU, sistem kamera pemantau tindakan, hingga simulasi rekam medis elektronik. Kaprodi S1 Keperawatan FIKES UMM, Nur Aini, Ph.D, menuturkan bahwa OSCE bukan sekadar ujian praktik, melainkan bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan. “Dengan fasilitas GKB V, kami memastikan mahasiswa tidak hanya lulus secara akademik, tetapi juga siap bersaing di dunia kerja nasional maupun global dengan kompetensi dan empati yang seimbang,” jelasnya. Ia juga mengapresiasi keterlibatan tim penguji lintas bidang keperawatan yang memastikan penilaian dilakukan secara komprehensif dan objektif. Melalui pelaksanaan OSCE mini hospital ini, Prodi Keperawatan UMM menegaskan bahwa transformasi pendidikan kesehatan bukan hanya wacana, tetapi telah diwujudkan secara nyata. UMM tidak sekadar membangun gedung baru, melainkan membangun budaya mutu dan profesionalisme demi menyiapkan tenaga kesehatan masa depan yang andal dan berintegritas. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Konsep Smart Bridge Bawa Mahasiswa Teknik Sipil UMM Raih Juara Nasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Tim dari LSO Surya Teknik Sipil UMM berhasil meraih Juara 3 Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2025 pada kategori Jembatan Model Pelengkung yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemdiktiSaintek). Tim UMM diketuai oleh Ayunda Elvandari, mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik angkatan 2022, dengan partnernya Akbar Nurfitriono, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2023. Ayunda menjelaskan bahwa persiapan mengikuti KJI 2025 telah dimulai sejak Juli hingga Agustus 2025 melalui penyusunan proposal desain jembatan. “Setelah itu kami menunggu pengumuman finalis pada awal September. Dari hampir 150 proposal yang masuk, hanya 10 tim yang lolos ke final untuk kategori pelengkung,” jelasnya. Rangkaian kegiatan KJI-KBGI 2025 sendiri dilaksanakan pada 12-17 November 2025. Pada kategori jembatan pelengkung, proses perakitan jembatan dilaksanakan pada 15 November 2025, sementara malam awarding berlangsung pada 16 November 2025. Kompetisi ini mempertemukan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia dan menjadi ajang unjuk kemampuan desain, ketepatan konstruksi, serta kerja sama tim. Dalam kompetisi tersebut, tim UMM mengusung konsep jembatan optimum, ramah lingkungan, dan berorientasi masa depan yang selaras dengan visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. Ayunda menyampaikan bahwa konsep ini dipilih sebagai respons atas keterbatasan akses transportasi di Indonesia. “Kami juga mengembangkan konsep smart bridge, di mana jembatan dilengkapi sensor untuk mendeteksi potensi kerusakan. Dari sisi keberlanjutan, kami juga menerapkan efisiensi material dengan memanfaatkan kembali limbah pembuatan jembatan sebagai alat bantu perakitan,” ujarnya. Meski demikian, perjalanan menuju podium tidak lepas dari tantangan. Ia mengungkapkan bahwa kendala terbesar justru muncul setelah pengumuman finalis. “Pada tahap fabrikasi, beberapa pekerjaan tidak selalu sesuai dengan timeline yang direncanakan, sehingga waktu latihan harus disesuaikan,” katanya. Untuk menyiasatinya, tim membagi peran secara jelas, mulai dari pengendalian proses fabrikasi di lapangan hingga penyusunan presentasi dan ornamen jembatan. Menurut Ayunda, keberhasilan ini ditentukan oleh kerja sama tim yang solid serta proses trial and error yang dilakukan berulang kali. Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri karena mampu mengembalikan nama LSO Surya ke podium setelah dua tahun terakhir belum meraih gelar juara. “Kami terus mengevaluasi desain hingga menemukan struktur yang paling efisien dan kuat. Selain itu, dukungan dari anggota LSO Surya juga sangat berpengaruh,” tuturnya. Sementara itu, Dosen pembina tim, Dr. Ir. Moh. Abduh, MT., IPM., ACPE., menyampaikan bahwa kompetisi KJI-KBGI menuntut kesiapan tim secara menyeluruh. “Prestasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual. Pengendalian emosi dan ego, ketangguhan mental, serta kerja sama tim yang baik menjadi kunci utama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan lahir dari perpaduan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang berjalan selaras. “Saya berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa Teknik Sipil UMM lainnya untuk terus berinovasi, berani berkompetisi di tingkat nasional, serta mengharumkan nama universitas melalui karya-karya teknik yang berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya. (bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Produktif di Tengah Keterbatasan, Akuaponik UMM Perkuat Kemandirian Pangan Warga Jetis

Keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang bagi warga Dusun Jetis, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, untuk tetap produktif di sektor pertanian dan perikanan. Melalui inovasi sistem akuaponik, lahan sempit di lingkungan Jalan Margojoyo RT.01/RW.02 kini mampu dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya ikan dan sayuran secara terpadu. Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melibatkan dosen lintas disiplin dari Pendidikan Biologi, Perikanan, serta Ekonomi dan Bisnis, bersama lima mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Biologi, Teknik Informatika, dan Psikologi. Kegiatan dilaksanakan pada Juli hingga Desember 2025 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd., menjelaskan bahwa akuaponik dipilih karena efisien, ramah lingkungan, dan sesuai dengan kondisi lahan warga. “Akuaponik memungkinkan masyarakat memproduksi pangan secara mandiri dengan memadukan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem yang saling menguntungkan,” ujarnya. Menurutnya, program ini tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga peningkatan nilai ekonomi hasil panen. Pelatihan teknis budidaya dikoordinasikan oleh Dony Prasetyo, S.Pi., M.Si., dosen Fakultas Perikanan dan Peternakan UMM. Ia menuturkan bahwa warga dilibatkan langsung dalam setiap tahap kegiatan. “Mulai dari perancangan sistem, pemilihan komoditas, pembibitan, hingga perakitan instalasi akuaponik kami lakukan bersama warga agar mereka benar-benar mandiri,” jelas Dony. Tanaman yang dibudidayakan meliputi sawi pakcoy, kangkung, bayam, dan seledri, sementara ikan yang dipilih adalah lele (Clarias sp.). Tahap lanjutan program difokuskan pada pengolahan hasil panen dan pemasaran digital. Pendampingan dilakukan oleh Dr. Erna Retno Rahadjeng, M.M., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM. Ia menyampaikan bahwa anggota PKK Dusun Jetis diarahkan mengembangkan produk bernilai tambah seperti keripik sayur dan abon lele. “Kami ingin hasil panen tidak hanya habis dikonsumsi, tetapi juga menjadi peluang usaha keluarga,” katanya. Antusiasme warga, khususnya anggota PKK, terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Mereka menilai sistem akuaponik sebagai solusi nyata atas keterbatasan lahan sekaligus sumber pendapatan tambahan. Secara lebih luas, program ini menjadi bentuk kontribusi UMM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek ketahanan pangan, peningkatan ekonomi keluarga, serta pengurangan kemiskinan dan kelaparan berbasis komunitas. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Merawat Luka Psikologis Pascabencana, Maharesigana UMM Hadirkan Ruang Aman bagi Anak-anak Langkat

Hari-hari yang semula dipenuhi ketakutan dan kecemasan kini perlahan berganti dengan tawa ceria. Senyum anak-anak kembali merekah di Desa Sekoci, Dusun Sukaramai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, setelah mereka mendapatkan pendampingan psikososial pascabanjir. Kehadiran Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi angin segar bagi pemulihan kondisi psikologis warga terdampak. Pada Jumat, 19 Desember lalu, tim Maharesigana UMM melaksanakan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi anak-anak dan penyintas banjir. Kegiatan ini bertujuan membantu mereka mengatasi trauma serta mengembalikan rasa aman dan percaya diri setelah bencana melanda wilayah tersebut. Salah satu anggota tim Maharesigana, Fadilla Azzahra, mengungkapkan bahwa pendampingan psikososial menjadi kebutuhan penting setelah bencana, terutama bagi anak-anak. “Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terdampak secara psikologis. Melalui kegiatan bermain dan interaksi positif, kami berupaya membantu mereka mengekspresikan perasaan serta kembali merasa aman,” ujar Fadilla. Layanan Dukungan Psikososial ini dilakukan melalui berbagai distract activity seperti bermain bersama, bernyanyi, dan kegiatan kreatif lainnya. Selain itu, relawan juga memberikan psikoedukasi kepada orang tua dan penyintas tentang cara berdamai dengan bencana serta teknik relaksasi sederhana untuk mengurangi kecemasan dan stres pascatrauma. Sebanyak 47 anak mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka didampingi oleh tiga ibu dan sepuluh guru setempat yang turut membantu menciptakan suasana aman dan mendukung selama proses pendampingan berlangsung. Para orang tua mengaku senang dan mengapresiasi kehadiran relawan karena kegiatan ini dinilai mampu menghibur anak-anak sekaligus memberikan edukasi yang bermanfaat. Salah satu warga menyampaikan bahwa sebelum adanya pendampingan, anak-anak masih sering menunjukkan tanda-tanda trauma. “Mereka mudah takut dan gelisah setelah banjir. Sekarang terlihat lebih ceria dan berani,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa edukasi yang diberikan kepada orang tua dan guru sangat membantu dalam mendampingi anak-anak pascabencana. Selama masa bencana, aktivitas anak-anak sempat terhambat. Proses belajar terganggu akibat buku hanyut, listrik padam, dan jaringan internet terputus. Bahkan, sebagian anak harus membantu orang tua membersihkan rumah dari lumpur dan sisa material banjir. Melalui kegiatan Layanan Dukungan Psikososial ini, harapannya bahwa anak-anak terdampak banjir dapat kembali pulih secara emosional, mengurangi kecemasan, serta membangun ketahanan psikologis agar mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang dan percaya diri. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

FISIP UMM Ungkap Problematika Reformasi Polri di Tengah Dinamika Sosial

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Diskusi Akhir Tahun bertema Reformasi Polri dalam Perspektif Kajian Sosial pada Selasa (23/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 9 GKB IV UMM ini menghadirkan akademisi serta pegiat masyarakat sipil untuk mengkaji secara kritis tantangan dan arah reformasi kepolisian di tengah dinamika sosial dan demokrasi Indonesia yang terus berkembang. Diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai relasi antara kepolisian dan masyarakat, sekaligus upaya memperkuat peran institusi penegak hukum agar lebih responsif, profesional, dan berorientasi pada kepentingan publik. Acara diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta peserta dari berbagai latar belakang yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap isu reformasi Polri. Dr. Rinikso Kartono, dosen Kesejahteraan Sosial UMM, mengulas rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap kepolisian. Ia menyoroti berbagai kasus yang mencederai citra Polri, mulai dari keterlibatan oknum dalam praktik perjudian dan narkoba, percaloan SIM, hingga pelanggaran hak asasi manusia. “Data menunjukkan 66,2 persen masyarakat pernah memiliki pengalaman buruk saat berinteraksi dengan kepolisian. Ini menandakan adanya persoalan struktural yang serius,” ungkapnya. Ia juga menyinggung adanya subkultur menyimpang di tubuh kepolisian seperti korupsi, kolusi, kekerasan, hingga budaya pamer kekayaan atau flexing yang dinormalisasi. Menurutnya, reformasi Polri mutlak diperlukan agar institusi kepolisian dapat menjadi lebih transparan, bersih, adil, serta kembali harmonis dengan masyarakat. Sementara itu, Prof. Jimly Asshiddiqie, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia sekaligus Ketua Tim Percepatan Reformasi Polri, yang disampaikan secara daring. Dalam pemaparannya, Prof. Jimly menyoroti masih tersumbatnya aspirasi masyarakat serta lemahnya kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Ia menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa sebagai agen perubahan yang memiliki kesadaran hukum dan kepekaan sosial. “Polisi harus dipandang sebagai institusi hukum yang humanis dan mengayomi masyarakat. Mahasiswa, khususnya dari FISIP, memiliki posisi strategis untuk menyuarakan aspirasi publik sekaligus berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan sosial,” ujar Prof. Jimly. Ia juga menegaskan bahwa menuju Indonesia Emas, generasi muda perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang tidak terduga dengan memperkuat literasi hukum, politik, dan sosial. Lebih lanjut, Prof. Jimly menjelaskan bahwa reformasi Polri merupakan proses evaluasi dan penataan ulang institusi kepolisian pascareformasi. Proses ini bertujuan membangun hubungan yang lebih sehat antara Polri dan masyarakat dengan berlandaskan etika moral, profesionalisme, serta prinsip pengayoman dan keadilan. Diskusi Akhir Tahun FISIP UMM ini diharapkan menjadi ruang refleksi kritis sekaligus pemantik gagasan bagi civitas akademika dalam mendorong reformasi kepolisian yang lebih berkeadilan dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Melalui perspektif kajian sosial, FISIP UMM menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan diskursus akademik yang relevan dengan persoalan publik serta mendorong mahasiswa agar aktif berperan sebagai agen perubahan dalam mengawal demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia. (bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Perkuat Kesiapan Purna Tugas Karyawan melalui Pelatihan Terpadu

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam memperhatikan kesejahteraan sumber daya manusia, tidak hanya selama masa aktif bekerja, tetapi juga saat memasuki masa purna tugas. Wujud komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Persiapan Purna Tugas bertajuk “Purna Tugas, Tetap Berkarya: Menyiapkan Diri Menuju Kehidupan Bermakna dan Berdaya” yang digelar pada 19 Desember 2025 di Kapal Garden Hotel Sengkaling. Kegiatan ini diikuti oleh karyawan dan dosen UMM yang akan memasuki masa purna tugas dalam waktu dekat. Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta agar siap menghadapi masa pensiun secara komprehensif, baik dari aspek finansial, mental, maupun spiritual. Salah satu materi utama disampaikan oleh Dr. Ida Nuraini, M.Si. yang mengulas pentingnya perencanaan keuangan menjelang purna tugas. Ia menegaskan bahwa masa pensiun membutuhkan persiapan matang agar tetap dapat dijalani dengan nyaman dan bermakna. Menurutnya, pengelolaan dana pensiun harus dilakukan secara aman dan minim risiko. “Dana pensiun perlu dikelola secara bijak. Tabungan harian, dana darurat, serta proteksi kesehatan harus disiapkan sejak dini agar tidak menjadi beban di kemudian hari,” jelasnya. Ia juga mengingatkan peserta untuk mulai mengurangi dan mengelola utang sebelum memasuki masa purna tugas serta menyiapkan dana darurat yang mencukupi kebutuhan hidup selama enam hingga dua belas bulan. Selain aspek finansial, Dr. Ida menekankan bahwa kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang tidak kalah penting. Ia mendorong peserta untuk menerapkan pola hidup sehat melalui aktivitas fisik ringan namun rutin, seperti berjalan kaki, berenang, atau yoga. “Sisihkan minimal 30 menit setiap hari untuk bergerak agar kesehatan jantung dan kebugaran tubuh tetap terjaga,” ujarnya. Tak hanya itu, peserta juga didorong untuk menyiapkan sumber penghasilan tambahan melalui usaha kecil, waralaba, bimbingan belajar, jasa laundry, hingga menjadi konsultan sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Materi selanjutnya disampaikan oleh Drs. Faisal Abdullah, M.M. yang memberikan penguatan spiritual bagi calon purna tugas. Ia mengapresiasi langkah UMM yang tetap memberikan perhatian kepada karyawan meski telah mendekati masa pensiun. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting untuk mencegah stres dan permasalahan kesehatan yang kerap muncul setelah pensiun. “UMM menunjukkan kepedulian agar karyawan yang purna tugas tetap dapat menjalani kehidupan dengan tenteram dan bahagia,” ungkapnya. Dalam perspektif Islam, Drs. Faisal menegaskan bahwa pensiun bukanlah akhir dari produktivitas. “Dalam Al-Qur’an tidak dikenal istilah pensiun. Pensiun hanyalah persoalan administrasi, bukan berhenti berkarya. Manusia tetap diperintahkan untuk terus mencari karunia Allah,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an, memperbanyak rasa syukur, serta dzikir sebagai jalan mencapai ketenangan jiwa. Melalui pelatihan ini, UMM berharap para karyawan mampu memandang masa purna tugas sebagai fase baru kehidupan yang tetap produktif, sehat, bermakna, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.(*bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman