Undang Pakar Internasional, Ilmu Pemerintahan UMM Kupas Pemerintahan Digital Berbasis AI

Perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital kini menjadi faktor kunci dalam membentuk arah pemerintahan masa depan. Merespons dinamika tersebut, Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Guest Lecture bertajuk “Innovation and Digital Transformation for Future Government” pada Selasa (30/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 2 GKB V UMM ini menghadirkan dua narasumber internasional dari Pakistan dan Turki. Forum ini menjadi ruang diskusi strategis untuk memperkaya perspektif mahasiswa mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam tata kelola pemerintahan. Diawal, Mr. Muhammad Younus dari Department of Product Research and Software Development TPL Logistics Pvt Ltd, Karachi, Pakistan, menyampaikan topik Power and Progress of Artificial Intelligence. Ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi alat yang sangat kuat dalam mengidentifikasi pola data, mengoptimalkan proses, serta mendukung pengambilan keputusan. “Artificial intelligence mampu mengotomatisasi sekitar 64 hingga 69 persen waktu yang sebelumnya digunakan untuk pengumpulan dan pemrosesan data,” ungkapnya, merujuk pada temuan McKinsey. Namun demikian, ia menekankan bahwa perkembangan AI juga membawa tantangan serius, terutama terkait konsumsi energi dan dampak lingkungan akibat meningkatnya kebutuhan komputasi dan pusat data. Younus sapaan akrabnya memaparkan bahwa pusat data AI membutuhkan energi, sistem pendingin, serta sumber daya air yang besar. Ia mencontohkan bahwa menghasilkan satu gambar AI dapat mengonsumsi energi sekitar 2,2 kWh dan hampir 4 liter air. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya optimalisasi model AI, penggunaan perangkat keras yang efisien, serta pemanfaatan energi terbarukan. “Masa depan AI sangat bergantung pada bagaimana kita menyeimbangkan manfaatnya dengan tuntutan sumber daya yang digunakan,” tegasnya. Sementara itu, pemateri kedua, Dr. Onur Kulac dari Department of Political Science and Public Administration Pamukkale University, Turkey, membahas Transformation of the Role of Government. Ia menekankan bahwa peran pemerintah saat ini tidak lagi sebatas regulator dan penyedia layanan, tetapi juga sebagai fasilitator dan platform kolaborasi bagi masyarakat. “Inovasi di sektor publik bukan tentang keuntungan, melainkan tentang menciptakan nilai publik dan memperkuat legitimasi pemerintah,” jelasnya. Menurutnya, inovasi dan transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak karena kompleksitas persoalan sosial tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan birokrasi konvensional. Dr. Onur juga menyoroti pentingnya digital transformation yang tidak hanya berfokus pada adopsi teknologi, tetapi juga mencakup perubahan organisasi dan budaya kerja pemerintahan. Ia mencontohkan praktik e-Government Gateway di Turki yang berhasil memangkas birokrasi dan meningkatkan efisiensi layanan publik melalui sistem digital terintegrasi. Menutup pemaparannya, Dr. Onur menegaskan bahwa masa depan pemerintahan ditentukan oleh kemampuan memadukan inovasi, akuntabilitas, serta pendekatan yang berpusat pada warga negara. Ia mendorong mahasiswa untuk merefleksikan pembelajaran ini dalam konteks pemerintahan Indonesia. Melalui kegiatan ini, UMM berharap mahasiswa memperoleh perspektif global mengenai tantangan dan peluang inovasi serta transformasi digital dalam mewujudkan pemerintahan yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. (bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Komitmen Cerdaskan Bangsa, UMM Buka Beragam Jalur Beasiswa Mahasiswa Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam memperluas akses pendidikan tinggi melalui penyediaan beragam program beasiswa bagi mahasiswa baru. Skema beasiswa ini ditujukan untuk menjaring calon mahasiswa berprestasi, mahasiswa dari keluarga kurang mampu, kader dan keluarga besar Muhammadiyah, hingga aktivis organisasi dan mubaligh. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi UMM dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus menjalankan misi sosial-keagamaan persyarikatan. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa kebijakan beasiswa merupakan bentuk nyata kepedulian UMM terhadap problematika pendidikan di Indonesia, khususnya persoalan akses dan pembiayaan. Menurutnya, masih banyak anak bangsa yang memiliki potensi besar namun terkendala secara ekonomi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. “UMM berkomitmen untuk tidak membiarkan keterbatasan ekonomi menjadi penghalang bagi generasi muda yang ingin menempuh pendidikan tinggi. Melalui berbagai skema beasiswa, kami ingin membuka peluang seluas-luasnya bagi calon mahasiswa untuk berkembang dan berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya. Ia menjelaskan, UMM menyediakan Beasiswa Jalur Prestasi bagi calon mahasiswa dengan capaian akademik maupun nonakademik, berupa potongan Biaya Sumbangan Studi (BSS) sebesar 75 persen atau 50 persen pada semester pertama. Selain itu, terdapat Beasiswa Indonesia Emas yang memberikan potongan BSS sebesar 50 persen pada semester pertama untuk sejumlah program studi tertentu. UMM juga menghadirkan Beasiswa Saudara Kandung bagi mahasiswa yang memiliki saudara aktif kuliah di UMM, serta Beasiswa Anak Kandung Alumni UMM sebagai bentuk apresiasi kepada keluarga besar alumni. Bagi lulusan SMA/SMK/MA Muhammadiyah, UMM memberikan Beasiswa Alumni Sekolah Muhammadiyah berupa potongan 100 persen BSS pada semester pertama untuk seluruh program studi. Selain itu, UMM memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan melalui Beasiswa Yatim dan Yatim Piatu, serta mendukung kaderisasi persyarikatan melalui Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) yang membebaskan biaya studi dan menyediakan fasilitas pemondokan. Tersedia pula Beasiswa KATAMM bagi mubaligh dan mubalighat Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Beasiswa Golden Ticket bagi aktivis organisasi kesiswaan, serta beasiswa bagi kader dan anak pengurus Persyarikatan Muhammadiyah. Ahmad Juanda menambahkan, pengelolaan beasiswa UMM juga melibatkan berbagai mitra strategis untuk memastikan keberlanjutan program. “Kolaborasi dengan mitra menjadi bagian dari ikhtiar kami agar skema beasiswa semakin kuat dan berdampak luas. Ini adalah wujud dakwah Muhammadiyah melalui pendidikan,” ungkapnya. Melalui berbagai program beasiswa tersebut, UMM menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada keberlanjutan, sekaligus konsisten menjalankan peran pendidikan sebagai sarana transformasi sosial dan kemajuan bangsa. (faq)   Penulis:  Faqih Ahmad Wafir Rahman

Wujudkan Desa Tangguh: BEM UMM Bekali Warga Kedungdalem Kesiapan Mental dan Ketahanan Ekonomi

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar aksi nyata dalam penguatan kapasitas masyarakat pesisir di Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo pada 24 September lalu. Melalui pendekatan holistik, para mahasiswa ini membekali warga dengan dua pilar utama menghadapi krisis: Pertolongan Psikologis Awal (PFA) dan Manajemen Risiko Usaha Tangguh Bencana. Desa Kedungdalem yang terletak di wilayah pesisir dikenal rentan terhadap ancaman banjir rob dan angin kencang. Menyadari risiko tersebut, BEM UMM menilai bahwa ketangguhan sebuah wilayah tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kesiapan mental dan stabilitas ekonomi warganya. Dalam sesi pertama, peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga, pemuda, dan kader lingkungan diajarkan teknik Psychological First Aid (PFA). Tujuannya agar warga mampu menjadi penolong pertama bagi korban yang mengalami trauma pada menit-menit awal pasca-bencana. Fasilitator kegiatan, M. ‘Ainurridho ‘Allaamsyah, menekankan bahwa kehadiran yang empatik jauh lebih berharga daripada penjelasan medis yang rumit. “Sering kali, yang dibutuhkan korban bukan penjelasan panjang, melainkan kehadiran yang menenangkan,” ujarnya. Warga diajarkan teknik pernapasan untuk menstabilkan emosi serta cara berkomunikasi yang tepat guna mencegah perburukan kondisi psikologis korban di lapangan. Tak hanya mental, aspek ekonomi juga menjadi sorotan. BEM UMM memberikan edukasi mengenai keberlanjutan usaha bagi pelaku UMKM setempat. Mengingat banjir sering melumpuhkan aktivitas ekonomi, warga dibekali strategi business continuity plan dalam skala rumahan. Narasumber kegiatan, Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, S.M., M.M., mengungkapkan bahwa banyak usaha kecil gulung tikar bukan karena kerusakan fisik semata, melainkan absennya perencanaan darurat. Peserta diajak menyusun prioritas pemulihan usaha dan pengelolaan aset agar tetap bisa bertahan di fase awal pascabencana. “Selama ini kalau bencana ya pasrah. Ternyata ada langkah-langkah agar usaha tetap bisa jalan,” ungkap salah seorang peserta yang merasa mendapatkan perspektif baru mengenai manajemen risiko. Melalui integrasi kesiapan mental dan ekonomi ini, BEM UMM berharap warga Kedungdalem tidak lagi sekadar menjadi objek terdampak, melainkan subjek yang aktif dan tangguh. Program ini rencananya akan diperluas ke wilayah rawan bencana lainnya di Probolinggo hingga akhir tahun mendatang. Dengan sinergi antara mahasiswa dan masyarakat, diharapkan tercipta komunitas pesisir yang adaptif dan mampu bangkit lebih cepat dari setiap krisis yang melanda. (rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha  | Editor: Ahmad Faqih Wafir Rahman

Lima Bulan di Thailand, Mahasiswa Agribisnis UMM Dalami Riset Jagung di Pusat Penelitian Internasional

Belajar bersama mahasiswa dari berbagai negara, mengikuti perkuliahan penuh berbahasa Inggris, hingga praktik langsung di pusat riset pertanian ternama Thailand menjadi pengalaman berharga bagi Akhmad Murtadho. Mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang akrab disapa Dodo ini mengikuti program student exchange di Kasetsart University, Bangkok, Thailand, selama kurang lebih lima bulan, sejak Juli hingga Desember 2025. Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Dodo adalah suasana kelas yang bersifat internasional. Dalam satu kelas, mahasiswa berasal dari berbagai negara dengan latar belakang budaya dan akademik yang beragam. Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada materi perkuliahan, tetapi juga pertukaran budaya serta perluasan jejaring global, khususnya di bidang agribisnis. Lingkungan internasional ini dinilainya sangat mendukung peningkatan kemampuan bahasa Inggris sekaligus membangun relasi lintas negara. “Di satu kelas itu mahasiswanya campur internasional. Jadi serunya, kami bisa saling berbagi budaya dari daerah masing-masing,” ujar Dodo. Ia menambahkan, “Program ini cocok untuk mahasiswa yang ingin meningkatkan bahasa Inggris sekaligus mencari relasi antarnegara.” Salah satu pengalaman unik yang ia dapatkan adalah kunjungan akademik ke Suwan Farm, yang secara resmi dikenal sebagai National Corn and Sorghum Research Center, pusat penelitian jagung dan sorgum milik Kasetsart University yang berlokasi di Pak Chong, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand. Di tempat ini, Dodo dan mahasiswa lainnya mempelajari riset pertanian secara mendalam, mulai dari pemuliaan varietas hingga pengembangan teknologi pertanian. “Suwan Farm itu bukan sekadar kebun, tapi pusat riset. Kami belajar bagaimana varietas jagung dikembangkan dari berbagai negara dan diuji ketahanannya terhadap penyakit,” jelas Dodo. Suwan Farm dikenal sebagai pusat pengembangan varietas unggul, salah satunya Suwan 1, varietas jagung hasil riset dari berbagai germplasm internasional yang tahan terhadap penyakit downy mildew dan telah menjadi unggulan Thailand sejak 1970-an. Pusat riset ini juga menjalin kerja sama internasional, termasuk dengan CIMMYT (International Maize and Wheat Improvement Center), serta mengembangkan produk turunan seperti UHT corn milk sebagai bentuk hilirisasi riset. Meski demikian, Suwan Farm tidak berorientasi pada produksi massal atau komersialisasi, melainkan fokus pada riset pertanian intensif. Selain Suwan Farm, mahasiswa juga mengunjungi perkebunan jagung, karet, dan kelapa untuk mempelajari proses budidaya dari hulu hingga hilir. Di luar kegiatan akademik, Dodo turut merasakan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Thailand. Meski menghadapi tantangan adaptasi, seperti keterbatasan akses makanan halal, pengalaman belajar di lingkungan multikultural justru memperkaya pengembangan dirinya. “Soal makanan memang perlu penyesuaian. Tapi secara keseluruhan, hidup dan belajar di sana tetap menyenangkan dan memberi banyak pelajaran,” pungkasnya. Dodo menegaskan bahwa pengalaman belajar di Thailand tidak berhenti sebagai cerita akademik semata. Ia berencana menerapkan ilmu dan pendekatan yang dipelajarinya selama program exchange untuk mendukung pengembangan agribisnis di Indonesia. “Apa yang saya pelajari di sana ingin saya terapkan di Indonesia, terutama soal riset pertanian dan cara menghubungkan teori dengan praktik di lapangan,” ujarnya.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Bukti Komitmen Jadi Kampus Berdampak, UMM Kirim Puluhan Relawan ke Sumatera Barat

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat masih menyisakan duka dan tantangan pemulihan bagi warga terdampak. Merespons kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menurunkan puluhan relawan untuk terjun langsung dalam aksi pengabdian masyarakat tanggap darurat bencana di Sumatera, dengan fokus utama layanan medis dan dukungan psikososial. Sepanjang Desember ini, kampus putih mengirimkan relawan lintas disiplin mulai dari Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga medis Rumah Sakit UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Kegiatan ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). tim UMM memusatkan kegiatan di Kabupaten Agam tepatnya berada di tiga kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya. Beragam program dilakukan, mulai dari pelayanan kesehatan bagi warga terdampak, pendampingan psikososial, pendistribusian ratusan hygiene kit, penyaluran ribuan obat-obatan ke sejumlah puskesmas, hingga instalasi filter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menegaskan bahwa UMM tidak ingin menjadi kampus yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik universitas. Melalui kegiatan tersebut, UMM berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian masyarakat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa dalam penanganan pascabencana merupakan bagian dari komitmen UMM untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan sosial yang kuat. “Kami sengaja melibatkan mahasiswa dalam jumlah besar karena kami ingin membentuk generasi yang peka terhadap penderitaan sesama, memiliki empati sosial, dan siap hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bagi kami, ini adalah bagian penting dari proses pendidikan,” tambahnya. Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa kegiatan tanggap darurat yang dilakukan UMM di Sumatera Barat juga menjadi implementasi konkret dari integrasi pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Ia menekankan bahwa makna kampus berdampak harus diwujudkan melalui solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Apa yang kami lakukan di lapangan merupakan implementasi langsung dari riset dan pengabdian masyarakat. Dampak yang kami maksud bukan sekadar laporan atau luaran akademik, tetapi perubahan nyata yang bisa dirasakan masyarakat, terutama dalam situasi darurat seperti bencana,” tegasnya. Ia berharap, pengalaman di wilayah terdampak banjir tersebut dapat menjadi pembelajaran berharga bagi sivitas akademika UMM dalam memperkuat kajian mitigasi bencana dan keberlanjutan lingkungan di masa depan. “Kami berharap pengalaman ini tidak berhenti pada aksi kemanusiaan semata, tetapi juga memperkuat riset-riset UMM di bidang lingkungan, kesehatan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan. Dengan begitu, kampus dapat berkontribusi tidak hanya dalam penanganan bencana, tetapi juga dalam upaya pencegahan bencana di masa mendatang,” pungkasnya. (faq)   Penulis; Ahmad Faqih Wafir Rahman

Milad ke-113 Muhammadiyah, PP Muhammadiyah Anugerahi UMM Sebagai Kampus Islami

*Milad ke-113 Muhammadiyah, PP Muhammadiyah Anugerahi UMM Sebagai Kampus Islami* Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya di kancah pendidikan tinggi nasional. Bertepatan dengan gelaran Milad Muhammadiyah ke-113 dan Refleksi Akhir Tahun yang berlangsung di Masjid AR Fachruddin pada Sabtu, 27 Desember 2025, UMM resmi meluncurkan identitas baru sebagai Kampus Islami. Langkah besar ini diambil setelah UMM sukses menduduki peringkat pertama sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) terbaik se-Indonesia versi Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Pencapaian ini berdasarkan Indikator penilaian Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mencakup dimensi yang komprehensif, diawali dari komitmen institusional dan kebijakan strategis yang menempatkan AIK sebagai standar mutu utama, serta integrasi kurikulum yang secara efektif menyatukan sains dan nilai Islam. Penilaian ini juga menyoroti kualitas pembinaan SDM yang sistematis dan atmosfer budaya kampus yang kondusif bagi penerapan etika Islami dan literasi Al-Qur’an. Selain itu, aspek krusial lainnya meliputi internalisasi nilai ideologis dalam aktivitas kemahasiswaan, tingginya produktivitas riset keilmuan Islam berkemajuan, serta dukungan sistem monitoring dan evaluasi kinerja AIK yang terstruktur dan berkelanjutan untuk memastikan seluruh elemen berjalan secara organik dan berintegritas. Kegembiraan bertambah saat UMM menerima penghargaan Cabang Ranting Award. Piagam penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas dedikasi UMM sebagai PTMA yang paling peduli terhadap pengembangan cabang, ranting, dan kemakmuran masjid. Sinergi antara kampus dan organisasi inilah yang membuat UMM memiliki fondasi yang kuat di tengah masyarakat. Hadir sebagai pemateri utama, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PP Muhammadiyah, K.H. Jamaluddin Ahmad, S.Psi., memaparkan refleksi mendalam mengenai rahasia di balik kokohnya Muhammadiyah hingga usia 113 tahun. Menurutnya, ada tiga pilar utama yang membuat persyarikatan ini tetap berdiri tegak yaitu keikhlasan para penggeraknya, kemandirian amal usaha, dan ketaatan pada sistem organisasi yang rapi. “Muhammadiyah bisa bertahan melampaui satu abad karena ia tidak bergantung pada figur individu, melainkan pada kekuatan sistem dan keikhlasan kolektif. UMM telah menunjukkannya, bahwa kampus harus hadir dan berperan aktif di tengah masyarakat. Keberhasilan meraih peringkat satu PTMA harus berbanding lurus dengan kebermanfaatan kita bagi ranting-ranting Muhammadiyah yang menjadi ujung tombak dakwah,” ujar Jamaluddin. Beliau juga mengingatkan bahwa identitas Kampus Islami yang baru saja diluncurkan harus tercermin dalam perilaku setiap individu, mulai dari mahasiswa hingga pimpinan. Islam yang dibawa UMM adalah Islam berkemajuan yang solutif bagi persoalan bangsa. Ia menekankan bahwa keberlanjutan Muhammadiyah juga sangat ditentukan oleh kemampuan amal usahanya dalam merespons kebutuhan zaman tanpa meninggalkan jati diri aslinya. “Melalui UMM Kampus Islami, kita diajak mengembalikan fungsi masjid seperti zaman KH Ahmad Dahlan. Masjid tidak boleh berhenti pada fungsi ibadah ritual semata, tapi harus menjadi pusat gagasan, laboratorium sosial, hingga pemberdayaan ekonomi yang dirasakan langsung oleh seluruh masyarakat,” jelasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., MM., CA., turut memberikan pandangannya terkait arah kebijakan kampus ke depan. Menurutnya, stabilitas dan prestasi yang diraih hari ini merupakan buah dari kerja keras kolektif seluruh elemen universitas yang selalu mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan profesionalisme manajemen. “Prestasi ini adalah kado indah di akhir tahun. Namun, refleksi hari ini mengingatkan kita bahwa mempertahankan posisi sebagai yang terbaik jauh lebih sulit, sehingga dukungan finansial dan manajemen yang bersih akan terus kami arahkan untuk penguatan dakwah di tingkat cabang dan ranting,” tutupnya.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Hadapi 2026 yang Kompetitif, Muhadjir Effendy Tegaskan Arah Pembaruan UMM

Menatap tantangan tahun 2026 yang semakin kompleks, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pengarahan dan pengajian khusus bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam menyiapkan langkah strategis menghadapi dinamika pendidikan tinggi yang kian kompetitif dan cepat berubah. Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., menekankan pentingnya membangun mentalitas pantang menyerah serta kesiapan beradaptasi di tengah perubahan. Dalam arahannya pada Jumat, 26 Desember 2025, ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi tidak boleh terjebak pada zona nyaman, meskipun telah meraih berbagai capaian. Muhadjir mengibaratkan pengembangan institusi seperti industri pertambangan. Semakin dalam proses penggalian untuk memperoleh kualitas terbaik, semakin besar pula tantangan dan biaya yang harus dihadapi. Karena itu, pembaruan sistem secara berkala dinilai menjadi kunci agar universitas tidak terus berhadapan dengan persoalan yang sama. “Setiap kesulitan harus kita hadapi dan selesaikan dengan langkah yang jelas. Setelah satu masalah selesai, kita perlu segera bersiap menghadapi tantangan berikutnya agar institusi terus berkembang ke tingkat yang lebih baik,” tegasnya. Ia juga menegaskan perlunya meninggalkan budaya one man show dan membangun kerja tim yang kuat. Menurutnya, keberhasilan kampus tidak bergantung pada satu figur. Melainkan pada sistem kerja yang saling mendukung, di mana setiap individu berperan sebagai bagian penting dari keseluruhan ekosistem kampus. Salah satu fokus utama yang disoroti adalah konsolidasi sistem penerimaan mahasiswa baru. Muhadjir meminta seluruh civitas akademika berperan aktif dalam proses rekrutmen bertahap guna menjaring calon mahasiswa sejak dini. Langkah ini dinilai penting di tengah persaingan antarperguruan tinggi yang semakin ketat serta adanya pergeseran minat masyarakat terhadap program studi tertentu. Oleh karena itu, UMM dituntut berani berinvestasi lebih besar, baik dalam penguatan teknologi informasi maupun peningkatan kualitas layanan akademik. Selain aspek manajerial, Muhadjir juga mengingatkan pentingnya menjaga ruh akademik, yakni profesionalitas yang berlandaskan nilai keilmuan, etika, dan tanggung jawab sosial. Ia menegaskan bahwa pencapaian institusi tidak boleh menjadi titik akhir, melainkan pijakan untuk meraih target yang lebih tinggi. Muhadjir berharap tahun 2026 dapat menjadi momentum bagi UMM untuk melakukan penguatan dan pembaruan talenta di berbagai bidang. Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk terus belajar, berbenah, dan menjaga nilai-nilai etik dalam menjalankan peran masing-masing. “Pencapaian hari ini bukanlah tujuan akhir, melainkan modal untuk mempermudah kita melangkah menuju capaian yang lebih besar di masa depan,” pungkasnya.( ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Ahmad Faqih Wafir Rahman

Jejak Alumnus Fisioterapi UMM di Panggung Sea Games 2025

Capaian membanggakan kembali diraih oleh alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Muhammad Nanda Risydianto, S.Kes., M.Or., lulusan Program Studi Fisioterapi UMM angkatan 2015 itu turut ambil bagian dalam keberhasilan Tim Nasional Basket Putri Indonesia meraih medali perunggu pada SEA Games 2025 yang digelar di Thailand. Sejak 2021, Nanda sapaan akrabnya telah dipercaya sebagai fisioterapis Timnas Basket Putri Indonesia. Komitmen dan profesionalisme yang ia tunjukkan kembali berbuah manis pada SEA Games 2025, saat tim Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia dengan skor 62–55 pada laga penentuan perebutan medali perunggu yang berlangsung Jumat (19/12/2025). Keberhasilan tersebut memastikan Indonesia naik podium dan tidak terlepas dari peran tim fisioterapis dalam menjaga kondisi fisik atlet tetap optimal sepanjang turnamen. Dalam olahraga prestasi, kesiapan fisik, pencegahan cedera, serta pemulihan yang tepat menjadi faktor krusial dalam menunjang performa atlet di lapangan. Dalam menjalankan perannya sebagai fisioterapis Timnas Basket Putri, Nanda mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pekerjaannya adalah memahami karakter, kebutuhan, dan kondisi fisik setiap atlet. “Setiap atlet memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Terlebih atlet perempuan, penanganannya membutuhkan kepekaan lebih, terutama terkait faktor fisiologis seperti siklus bulanan yang dapat memengaruhi kebugaran, performa, hingga risiko cedera,” jelasnya. Pengalaman Nanda di level nasional dan internasional didukung oleh latar belakang pendidikan formal dan nonformal yang kuat. Selain menyelesaikan pendidikan fisioterapi dan magister olahraga, ia juga mengantongi berbagai sertifikasi profesional, seperti AIFO, CDNP, dan COMT, yang menunjang kompetensinya sebagai fisioterapis olahraga. Keahlian tersebut membantunya dalam memahami respons fisiologis tubuh atlet, menyusun strategi pemulihan, serta melakukan pencegahan kelelahan dan cedera selama latihan maupun pertandingan. Sebelum bergabung dengan Timnas Basket Putri Indonesia, Nanda telah memiliki pengalaman luas di dunia olahraga nasional. Ia pernah mendampingi Prapon Futsal Jawa Timur 2019 serta menjadi fisioterapis tim Basket Putri Fever Surabaya sejak 2021 hingga sekarang, di samping berbagai pengalaman profesional lainnya. Kiprah Muhammad Nanda Risydianto menjadi bukti nyata bahwa lulusan Fisioterapi UMM mampu berkontribusi di level nasional hingga internasional. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama almamater, tetapi juga menegaskan peran strategis fisioterapis dalam mendukung kemajuan olahraga prestasi Indonesia. (faq)   Penulis: Ahmad Faqih Wafir Rahman

CoE Akuntansi UMM Perkuat Kompetensi Mahasiswa, Dari UMKM hingga Industri Global

Paradigma profesi akuntansi saat ini tidak lagi sekadar urusan “hitung angka” di atas kertas pembukuan konvensional. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan Kuliah Tamu Center of Excellence (CoE) pada Kamis, 18 Desember lalu. Agenda ini membahas kelas profesional unggulan, yakni School of Sustainability Accounting (SSAC) dan School of Accounting for SME’s (SAFS). Dirancang untuk mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri global maupun penguatan ekonomi lokal. CoE SSAC hadir untuk menghasilkan mahasiswa yang memiliki sertifikasi internasional dari National Center for Sustainability Reporting (NCSR). Lulusan ini nantinya menjadi ahli dalam menyusun laporan keberlanjutan perusahaan secara profesional. Sementara itu, CoE SAFS memfokuskan pendidikannya pada pengembangan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Fokus ini dilakukan melalui pendalaman manajemen bisnis dan keuangan yang diisi langsung oleh para praktisi. Sinergi kedua program ini bertujuan agar lulusan UMM mampu merumuskan strategi bisnis jangka panjang yang profitabel. Hal ini dilakukan tanpa memberikan dampak negatif pada aspek lingkungan dan sosial demi keberlanjutan masa depan. Hadir sebagai pemateri, Arief Satrio Wibowo, SE., dari PT Petrokimia Gresik, menekankan bahwa integrasi pilar sosial, lingkungan, dan ekonomi adalah kewajiban mutlak bagi perusahaan modern. Menurutnya, konsep perusahaan wajib menggunakan kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) agar tidak mengeksploitasi alam secara sepihak dan tetap mengedepankan keadilan sosial. “Perusahaan harus mengintegrasikan pilar sosial dan ekonomi secara seimbang, sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan yang kuat melalui praktik industri yang efisien,” jelas Arief mengenai pentingnya akuntansi keberlanjutan. Sejalan dengan semangat SAFS yang berfokus pada UMKM, Alan W. Hafludin, SE., M.Ak., dari Narasumber.id, memaparkan transformasi besar profesi akuntan yang kini telah bergeser menjadi strategic business partner. Alan menekankan pentingnya business acumen, yaitu keahlian memahami bagaimana sebuah bisnis menghasilkan nilai ekonomi dan kemampuan membaca peluang di tengah risiko. Profesi akuntan hari ini dituntut menjadi problem solver yang mampu membantu pemilik usaha memahami financial story bisnis mereka. Kemampuan ini sangat krusial untuk menjembatani kebutuhan modal dengan pihak investor maupun penyedia pembiayaan. Alan mengungkapkan bahwa banyak unit usaha, terutama di sektor UMKM, mengalami kegagalan bukan karena produknya tidak laku, melainkan akibat kesalahan fatal dalam manajemen keuangan. Oleh karena itu, melalui kelas SAFS, mahasiswa diajarkan untuk tidak hanya mencatat transaksi, tetapi juga menafsirkan angka menjadi strategi pertumbuhan. “Banyak bisnis gagal bukan karena tidak laku, tapi karena salah kelola keuangan, sehingga akuntan hari ini dituntut menjadi mitra strategis yang memahami alur bisnis secara utuh,” ungkap Alan. Sebagai penutup, ia berpesan agar mahasiswa Akuntansi UMM memperkuat penguasaan dasar akuntansi. Sembari memperluas wawasan industri serta berani membangun portofolio di dunia UMKM dan startup. Dunia kerja saat ini sangat membutuhkan kombinasi antara akuntansi, kreativitas, dan teknologi untuk menghasilkan inovasi seperti software akuntansi koperasi. “Dunia kerja menunggu akuntan yang paham bisnis dan bukan hanya sekadar urusan pajak atau laporan keuangan, karena akuntansi hari ini adalah tentang bagaimana angka memberikan dampak nyata,” pungkasnya. (*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Sebulan di Zona Bencana: Kiprah Indra Ferry, Dosen UMM Mengabdi di Sumatera Barat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan sejumlah elemen dalam misi kemanusiaan di Agam Sumatera Barat, meliputi dokter muda Fakultas Kedokteran, dokter umum, perawat, dan apoteker RS UMM, hingga Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana). Salah satu sosok yang terlibat langsung adalah Rindya Fery Indrawan, S.Pi MP., dosen Akuakultur UMM, yang meninggalkan rutinitas akademiknya untuk menjadi relawan di wilayah terdampak bencana Sumatera Barat. Sepanjang Desember 2025, ia berada di lokasi bencana guna memastikan koordinasi relawan serta penyaluran bantuan kemanusiaan tetap berjalan meski dihadapkan pada medan yang sulit. Dalam pelaksanaannya, UMM bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebagai mitra strategis dalam penguatan peran perguruan tinggi pada respon kebencanaan. Indra Ferry sapaan akrabnya dipercaya mengemban peran sebagai Ketua Pos Koordinasi, dengan tanggung jawab menghubungkan kerja antar-klaster sekaligus memanajemen kebutuhan logistik sejak tahap persiapan hingga distribusi di lapangan. “Saya sebagai ketua poskor harus bisa menjembatani antara koordinator klaster satu dengan yang lainnya, memanajemen kebutuhan, baik logistik internal maupun eksternal,” ujarnya 25 Desember lalu saat diwawancara tim humas UMM. Wilayah penugasan difokuskan di Kabupaten Agam, meliputi Malalak, Maninjau, dan Palembayan. Setiap lokasi menghadirkan tantangan medan yang berbeda. Di Malalak, jembatan terputus memaksa relawan menyeberangi sungai dengan risiko tinggi saat debit air meningkat. “Kalau sungainya lagi naik, kita tidak bisa menyeberang karena takut terbawa arus.” Sementara itu, di Maninjau, ancaman longsor susulan menjadi kewaspadaan utama. Banjir bandang membawa material bebatuan gunung yang berpotensi bergerak kembali ketika hujan turun dalam durasi panjang. “Ketika hujan sudah lebih dari dua jam, kita harus ekstra hati-hati karena takut ada longsoran susulan.” Untuk memastikan penanganan berjalan efektif, kegiatan dibagi ke dalam empat klaster. Klaster medis memberikan layanan kesehatan di puskesmas serta melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah penyintas. “Penanganannya itu di puskesmas dan juga moving door to door atau home visit ke para penyintas.”ujarnya. Klaster dukungan psikososial menyasar seluruh lapisan masyarakat termasuk anak-anak, lansia, ibu-ibu, hingga remaja untuk membantu pemulihan kondisi mental pascabencana. Klaster logistik menyalurkan obat-obatan, sembako, kebutuhan dapur umum, hingga alat kesehatan seperti kursi roda bagi penyintas yang membutuhkan. Adapun klaster WASH menyediakan akses air bersih melalui unit filtrasi yang ditempatkan di fasilitas umum dan hunian darurat. Keterlibatan Indra Ferry menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan kampus putih untuk hadir dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui aksi kemanusiaan ini, UMM menegaskan perannya sebagai kampus yang berdampak, tidak hanya melalui pendidikan dan riset, tetapi juga melalui pengabdian langsung di tengah krisis. Terakhir, ia menyampaikan pesan penguatan kepada para penyintas agar tetap bertahan dan tidak merasa sendirian, sembari mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam misi kemanusiaan ini. “Tetap semangat karena kalian tidak sendiri, ada kami para relawan dan semua pihak yang berjibaku membantu saudara-saudara yang terdampak bencana,” tutupnya.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman