Mahasiswa UMM Buat Aplikasi Agar Masyarakat Melek Obat-obatan

Tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap obat-obatan di Indonesia harus menjadi perhatian serius. Pasalnya, beberapa obat-obatan resmi yang dijual bebas di pasaran masih memiliki informasi yang kurang. Beberapa di antaranya sudah terdapat informasi namun jarang penggunanya yang membaca komposisinya. Hal ini dilatari beberapa alasan, seperti tulisan informasi berukuran terlalu kecil sehingga sulit untuk dibaca. Hal ini pun direspon mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membuat aplikasi SIPINO (SIstem Pintar INformasi Obat), sebuah sistem translator informasi obat hanya dengan memindai gambar kemasan (scan packaging). Aplikasi berbasis android besutan Oktario Aldila Fachri, Kharisma Muzaki Ghufron, dan Rahmah Hutami Ramadhani ini dibuat untuk mendukung masyarakat melek literasi kesehatan. “Teknologi untuk menunjang pembuatan aplikasi ini adalah pada proses penangkapan citra gambar dengan menggunakan teknologi Optical Character Recognition (OCR) yang kemudian diterapkan pada perangkat ponsel pintar Android melalui Tensorflow, sebuah perangkat lunak kerangka bantu untuk pengolahan gambar dari hasil penangkapan citra yang didapat dari perangkat ponsel,” jelas Oktario. Dijelaskan Oktario, literasi kesehatan umumnya dikaitkan dengan kemampuan membaca dan memahami resep obat. Sementara hasil penelitian yang mereka temukan menyebutkan bahwa tingkat literasi kesehatan masyarakat di Indonesia masih rendah. Dengan tingkat literasi kesehatan yang rendah, masyarakat cenderung sembarangan mengkonsumsi obat-obatan tanpa tahu efek yang bakal ditimbulkan. “Untuk mendukung peningkatan literasi kesehatan dan produk-produk terkait obatan-obatan di Indonesia, dapat dilakukan dengan penyampaian informasi secara mudah dan cepat menggunakan menggunakan informasi yang sudah didapatkan melalui web resmi milik lembaga negara yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan. Aplikasi kami mempermudahnya,” ungkap Oktario saat diwawancarai Sabtu (21/12 siang. Secara umum, kata Oktario, di situs pom.go.id terdapat beberapa atribut yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi mengenai obat berdasarkan nama produk. Beberapa atribut yang ada yaitu komposisi beserta deskripsinya, bentuk kesediaan, masa berlaku dan tanggal terbit. Di substansi komposisi terdapat informasi detail mengenai informasi komposisi. Dari sinilah informasi yang akan ditampilkan pengguna. “Banyak sekali orang-orang telah menggunakan smartphone sebagai alat yang membantu kehidupan sehari-hari. Ini adalah peluang untuk mengembangankan informasi terkait obat-obatan agar mudah diakses oleh masyarakat dengan mengintegrasikan sistem informasi online milik BPOM yang dapat diakses secara publik dengan smartphone,” ungkap mahasiswa Program Studi Teknik Informatika ini. “Selain menginformasikan jenis, komposisi, dan efek obat, aplikasi ini juga memastikan apakah produk obat-obatan yang sudah dijual bebas di pasaran sudah mengantongi izin dari BPOM. Harapannya, melalui sistem yang dibangun ini dapat meningkatkan literasi kesehatan di Indonesia yang bisa digunakan oleh masyarakat dengan mudah,” ungkapnya menjelaskan karya yang didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa ini. (can)

Jaga Ekosistem Sungai Brantas: Dari Tanam Pohon hingga Tebar Benih Ikan

Aksi bersih-bersih sungai atas kepedulian terhadap sampah, membuat berbagai elemen terjun ke lapangan. Aksi ini dilakukan sekelompok massa yang tergabung dalam Gerakan Kesadaran Alamku Hijau. Sinergitas lintas batas ini terdiri dari unsur TNI-Polri, Akademisi, Lembaga, Ormas dan Media se-Malang Raya. Berlokasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, Lapangan Parkir Barat Pemandian Sengkaling. “Tujuan kami selain untuk penghijauan tentu agar TNI dan Rakyat bisa membaur dan bersatu terutama dalam menghijaukan serta membersihkan kembali sepanjang aliran sungai ini. Ketika kita jaga alam maka alam akan jaga kita,” ungkap Pratu Catur Slamet Riyanto Staf Teritorial Satuan Resimen Artileri Medan 1, Minggu (22/12). Dengan menjaga kebersihan sungai, lanjut Catur, terutama letak DAS Brantas yang berada di Sengkaling merupakan bagian vital karena berada di hulu sungai. Dilakukan penanaman pohon di sepanjang aliran sungai bersama TNI, masyarakat, komunitas serta keluarga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Kalau hulunya nanti sudah bersih, tentulah hilirnya akan mengikuti. Apalagi sengkaling ini selain bagian vital atau hulunya Brantas, kan juga daerah wisata tentu kita akan menjadi pusat perhatian masyarakat. Kalau kawasannya bersih tentu akan menjadi percontohan. Maka dari itu kita bersihkan dulu hulunya, barulah setelah itu kita bersihkan perlahan-lahan ke hilir,” jelas Catur saat di temui sela-sela kegiatan. Selain penanaman pohon, dilakukan juga penaburan benih-benih hewan Endemik. “Ini adalah penghijauan sepanjang bantaran Kali Brantas yang ada di desa Mulyo Agung atau Sengkaling dengan radius 2 KM. Juga dilakukan penebaran benih ikan yakni mujaer, wader, tawes yang nantinya saat ikan-ikan ini besar bisa dinikmati oleh warga,” ucap Dwi Rubini Ketua RW 8 Dukuh Sengkaling Desa Mulyo Agung. Diikuti oleh puluhan peserta, melalui kegiatan ini diharapkan agar seluruh elemen masyarakat tetap sadar akan pentingnya buang sampah pada tempatnya. Selain buang sampah perlu juga dilakukan penghijauan dan pemeliharaan hewan endemik, sehingga berkesinambungan antara mahluk hidup dan juga alamnya. (riz/can)

LSP UMM Gelar Workshop Harmonisasi Tata Kelola Sertifikasi Kompetensi

Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Workshop Harmonisasi Tata Kelola Sertifikasi Kompetensi yang dihadiri oleh Kepala Laboratorium, Ketua Program Studi (Kaprodi) serta segenap Civitas Akademika UMM. Berlangsung di Aula GKB IV lt. 4 UMM Kampus III. Sabtu (21/12). Membahas harmonisasi skema sertifikasi kompetensi. “Di UMM setidaknya dari 65 skema yang telah ada, 100% lahir dari Prodi. Karena Prodilah yang tau mereka mengajarkan apa dan skema yang perlu dibuat apa,” jelas Ihyaul Ulum Ketua LSP UMM. Workshop ini juga sekaligus membuat Model Standar Kompetensi, SOP sistem industri, serta kurikulum dan asessmen untuk memastikan pertautan antara industri dan pendidikan. “Saya kira ada dua hal yang tekait dengan keberadaan dari LSP itu sendiri, yang pertama adalah tuntutan industri terhadap para lulusan agar siap kerja sesuai bidangnya.  Karena hingga saat ini, industri masih merasa perlu membuat manajemen training karena lulusan belum siap terjun kelapangan. Sehingga industri kadang harus menggaji mereka yg notabene belum siap terjun,” ungkap Ir. Surono. MPhil., P.G.D sebagai pemateri acara Workshop LSP UMM. “Adapun yang kedua adalah harus berkompeten, berintegritas, attitude baik, produktivitas tinggi, serta profesional. Saya rasa inilah hal yang diperlukan oleh industri saat ini,” sambung Surono. “Selain itu, sebenarnya ada 2 persyaratan yang tengah kita review salah satunya yakni memastikan bahwa Akreditas Prodi di UMM ini mendapatkan nilai minimal 3,25. Serta jumlah publikasi terutama, baik itu berupa jurnal nasional maupun internasional agar bisa mencapai nilai tersebut. Sehingga kompetensi para lulusan juga bisa siap atau tidak diterjunkan” tandas Prof. Dr. Syamsul Arifin. M.Si selaku Wakil Rektor 1 UMM. (riz/can)

Prodi Peternakan UMM Ajarkan Teknik Pakan Biogas ke Siswa Kejuruan Se Malang Raya

Program Studi (Prodi) Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP-UMM) mengadakan Pelatihan Tematik Teknologi Pakan Ternak Berbasis Biofarm untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) wilayah Malang dan Batu. Pelatihan yang mengajarkan teknik penghijauan Silase ini digelar di Laboraorium Peternakan (21/12). Mengundang Ali Mahmud, S.Pt, M.Pt sebagai pemateri sekaligus Direktur Utama CV. Dwi Tunggal Mandiri yang mengenalkan Silase sebagai salah satu  pkan ternak berkualitas dengan teknik fermentasi penghijauan. Keunggulan teknik ini dapat menghasilkan pakan ternak dengan kadar air hingga lebih dari 70%. “Di Indonesia, olahan pakan ternak masih bergantung pada impor luar negeri. Karena keterbatasan teknologi yang dipakai. Dengan menggunakan teknik silase, bahan untuk pakan dapat mudah sekali dicari, seperti rumput gajah (pennisetum Purpureum), rumput kalonjono (Panicum Mulicum) dan tanaman jagung (Zea Mays),” jelas Ali. Terdapat tiga kelompok atau komponen bahan, yakni klompok bahan pakan hijauan yang menjadi bahan utama, bahan pakan konsentrat dan bahan pakan aditif. “Selain rerumputan sebagai bahan pakan hijauan, terdapat sisa-sisa limbah dari jerami, ampas tapioka sebagai bahan pakan konsentrat, juga butuh nutrisi mineral dari campuran urea dan mineral sebagai bahan pakan aditif,” tambah Ali. Dengan permasalahan iklim di Indonesia yang tidak menentu, menjadi ketakutan para peternak, khususnya dalam hal pakan yang menggunakan pakan hijau. Metode fermentasi silase menjadi pilihan yang tepat karena hasil fermentasi dapat disimpan dalam waktu yang lama tanpa dikhawatirkan nutrisi pakan ternak akan menurun kadarnya. Kegiatan yang diikuti oleh SMK Muhamadiyah 1 Batu, SMKN 1 Pujon dan Sekolah Pertanian Wiyata Bakti ini nantinya akan dilanjutkan dengan praktek ke Laboratrium Terpadu UMM. Mereka diajarkan seputar pembuatan pakan ternak silase dengan dicobakan langsung kepada hewan ternak, seperti sapi perah, ayam, domba, dan lainnya. (yas/can)

Mahasiswa UMM Pamerkan Ratusan Karya Inovasi Bisnis Berbasis Teknologi

Sebanyak 137 tenant berpartisipasi dalam pameran inovasi bisnis dan teknologi Young Tech Expo 2019 Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka merupakan mahasiswa semester 3 dan 5 yang memiliki inovasi yang diimplementasikan dalam bentuk inovasi produk, jasa, hingga yang baru berupa prototype. Digelar di Kantin Teknik UMM, Sabtu (21/12) pagi. Yang menarik misalnya aplikasi kesehatan bernama SIPINO, sebuah sistem translator informasi obat hanya dengan memindai gambar kemasan (scan packaging).  Aplikasi berbasis android buatan Oktario Aldila Fachri, Kharisma Muzaki ghufron, dan Rahmah Hutami Ramadhani ini dibuat untuk mendukung masyarakat melek literasi kesehatan, secara khusus mengetahui peruntukkan, efek dan komposisi obat. Dijelaskan Oktario, literasi kesehatan umumnya dikaitkan dengan kemampuan membaca dan memahami resep obat. Sementara hasil penelitian yang mereka temukan menyebut bahwa tingkat literasi kesehatan masyarakat di Indonesia masih rendah. Dengan tingkat literasi kesehatan yang rendah, masyarakat cenderung sembarangan mengkonsumsi obat-obatan tanpa tahu efek yang bakal ditimbulkan. “Untuk mendukung peningkatan literasi kesehatan dan produk-produk terkait obatan-obatan di Indonesia, dapat dilakukan dengan penyampaian informasi secara mudah dan cepat menggunakan menggunakan informasi yang sudah didapatkan melalui web resmi milik lembaga negara yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan. Aplikasi kami mempermudahnya.” ungkap Oktario saat diwawancarai di booth milik kelompoknya. Tak kalah canggih teknologi besutan Billy Aprilio, Yasril Imam dan Ulfah Nur Oktaviana yakni Integrated Forest Fire Management System atau sistem pinter yang memanfaatkan Artificial Intelligence yang digunakan untuk mendeteksi kebakaran hutan. “Cara kerja sistem ini adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan Artificial Intelligence sebagai pemroses data,” ungkap Billy. Inputan yang didapatkan dari sistem ini berupa temperatur suhu dan nyala api. “Ketika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran. Di mana air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun dengan menggunakan teknologi pemanen embun menggunakan jaring atau Fog Harvesting. Pameran ini berangkat dari integrasi 4 mata kuliah yakni Kewirausahaan Berbasis Teknologi, Penulisan Ilmiah, Etika dan Profesi, dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Selain pameran, kegiatan juga diisi seminar dengan menghadirkan 2 pembicara, yakni Nur Putri Hidayah yang membawakan materi “How to Create a Labour Contract” dan Arini Rahmawati R. yang membawakan “How do People Work Remotely”. Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si menyatakan, pameran ini merupakan model pembelajaran di UMM. Bahwa belajar tidak harus di kelas, melainkan juga terjun langsung untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. “Apa yang dilakukan hari ini, bagian dari menyiapkan sejak dini untuk memasuki persaingan di dunia usaha dan industry,” tegasnya saat hadiri pameran. (can)

Pesan Rektor UMM Untuk Entrepreneur Milenial: Mumpung Muda, Habiskan Masa Gagalmu

Sebanyak 49 stand pameran memeriahkan agenda Lapak Millenial kerja sama antara Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Panitia Milad 55 Tahun UMM Kamis pagi (20/12). Beragam wirausaha makanan hingga souvenir menghiasi parkiran Gedung Kuliah Bersama (GKB) I. Hadir membuka acara, Rektor UMM Dr. Fauzan, M. Pd mengaku senang melihat semangat berwirausaha para peserta pameran yang diikuti oleh mahasiswa, alumni dan umum. Menurut Fauzan, ada sebuah keunikan ketika memutuskan terjun ke dunia wirausaha. “Kalau di angan-angan hanya untung, kalau dipraktekkan ternyata akan menemukan rugi. Itulah bisnis,” terangnya. “Saya pernah ke Minnesota, Amerika Serikat. Di sana saya menemui ada bazar barang bekas. Setelah saya lihat, nyatanya isinya mahasiswa semua. Mulai dari barang yang dijual hingga yang bertransaksi, semuanya dari mahasiswa dan untuk mahasiswa,” katanya. Jadi, lanjutnya, bukan tetang barang bekasnya, namun inisiasi wirausaha yang sangat bagus yang dimulai sejak masa kuliah. Bagi Fauzan, inisiasi dan inovasi dari mahasiswa harus terus digelorakan. Pun juga harus selalu di kolaborasikan dengan banyak pihak. Ide-ide bisnis harus terus dikembangkan. Namun jangan lupa untuk dieksekusi sebagai wujud praktik. “Tidak ada, belajar itu selalu benar. Mumpung masih mahasiswa, silahkan masa salahnya dihabiskan. Esok saatnya memetik keberhasilan,” dorongnya. Selagi mahasiswa, Fauzan juga mendorong para mahasiswa yang minat di dunia wirausaha untuk tekun belajar terkait psikologi pasar. Menurutnya, pasar itu sangat misterius. Tidak bisa benar-benar ditebak. Untuk benar-benar menguasainya, perlu mengenal baik calon pembeli dan tentu strategi sesama wirausahawan. Ditegaskan Fauzan, wirausaha yang digagas milenial bukan semata-mata tentang barangnya saja yang milenial. Bisa juga inovasi penawaran dan cara bertransaksinya. Pun juga, mengutamakan kolaborasi akan membawa banyak manfaat. “Mari lanjutkan terus, belajarlah terus dan jadilah manusia yang bermanfaat,” ajaknya. (mir/can)

70 Personil Satpam UMM Ikuti Diklat Gada Pratama

Seusai upacara pembukaan pendidikan dan pelatihan (Diklat) Satuan pengamanan (Satpam) Gada Pratama, 70 personil Satpam dari berbagai unit yang berafiliasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan gerakan sujud guna merenungi, mensyukuri atas apa yang telah dikerjakan sebagai satuan keamanan serta bentuk cinta tanah air. “Selama 12 hari mereka akan dibekali dengan berbagai keterampilan, dari beladiri, borgol, tongkat, nanti fisiknya juga, etika profesional, dan berbagai bidang menyeluruh terkait dengan keterampilan maupun dengan wawasan seputar perusahaan maupun perguruan tinggi,” ungkap Bripka Kukuh Ardiansyah dari Ps. Kanit Binkamsa Sat Binmas Polres Malang. Pelatihan dan pendidikan Gada Pratama merupakan pelatihan dasar wajib bagi Satpam, berdasarkan PERKAP nomor 24 tahun 2007 tentang sistem manajemen pengamanan. “Jadi ini merupakan pelatihan dasar wajib dan untuk di UMM ini, karena di lingkup kampus yang kesehariannya berhadapan dengan mahasiswa maupun dosen. Pelatihannya kita lebih kedepankan terkait dengan pelayanannya,” lanjutnya, Selasa (10/12). Adapun menurut Suprapto selaku pendamping dari Patriatama Surya Indonesia menjelaskan bahwa tujuan diklat ini untuk membentuk mental serta membentuk attitude selain dari legalitas.  Selain itu, tujuannya untuk menghadapi MEA kedepan tentu Satuan Pengamanan harus memiliki skill dan legalitas agar nanti tidak menjadi penonton di negara sendiri. “Saya ingin mengingatkan saja bahwa tugas saudara-saudara berat, karena orang lain yang melihat pertama kali dan bertemu dengan saudara. Di situlah kesempatan saudara untuk menjadi Front Office yang ramah, terdepan, dan mengedepankan kemanusiaan. Jadi, bukan karena kekuasaan, bukan tentang kekuatan, tapi lebih kepada pri kemanusiaan. Saya harap saudara terus menjaga kekompakan karena dengan kekompakan kita akan bekerja dengan baik,” ungkap Dr. H. Fauzan. M.Pd. (riz/can)

UMM Genjot Percepatan Peningkatan Guru Besar

Direktur Karir dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Kemenristekdikti, Prof. Dr. Benyamin Maftuh, M.Pd., menghadiri acara silaturahmi dengan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (17/12). Kegiatan yang diikuti 140 dosen tetap berkualifikasi doktor/Ph.D ini sebagai strategi peningkatan jabatan akademik dosen menuju guru besar/profesor. Dalam sambutannya, Prof. Syamsul Arifin mendorong agar dosen dapat meningkatkan kualitasnya. Salah satunya dengan memenuhi syarat berupa publikasi, baik artikel maupun penelitian yang merupakan syarat dalam pengajuan guru besar. Menurutnya, di UMM sendiri selalu mengapresiasi segala kegiatan yang dilakukan oleh dosen, terutama dalam hal publikasi. Lebih lanjut, Syamsul berharap dengan adanya kegiatan ini dosen dapat terus menapaki jenjang karir yang semakin meningkat. Dengan meningkatnya karir dosen, sehingga peninngkatan kualitas akademik secara umum terpenuhi. “Guru besar itu bukan hanya untuk kepentingan kita, akan tetapi guru besar itu untuk kepentingan lembaga, untuk meningkatkan performa lembaga,” sebut Syamsul. Sementara itu, Benyamin menyebutkan terdapat beberapa skema yang perlu dilalui oleh lektor kepala menuju profesor, diantaranya, telah memenuhi angka kredit yang dipersyaratkan, memiliki karya ilmiah yang dipublikasisan dalam jurnal ilmiah internasional bereputasi sebagai penulis pertama, sertifikasi dosen, serta memiliki kinerja, integritas, etika dan tata krama dan tanggungjawab. “Jika dosen ingin melakukan kenaikan jabatan akademik atau loncat jabatan ke profesor dapat dipenuhi dengan persyaratan menulis empat tulisan di jurnal internasional bereputasi sebagai penulis pertama dan memenuhi persyaratan lain untuk menduduki jabatan tersebut,” sebut Benyamin. Dalam paparannya, Benyamin mengatakan hanya terdapat 2,4% saja dari sekitar 280 ribuan jumlah dosen di Indonesia yang sudah menjadi guru besar. Itu artinya, jabatan fungsional guru besar di Indonesia sangat elite. Oleh karena itu, kata Benyamin, Kemenristekdikti akan terus bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk memotivasi para dosen agar terdorong hingga menempuh jenjang profesor. (can/bel)

Prodi Bahasa Inggris UMM Gelar Pameran Inovatif Media Pembelajaran

Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar English Learning Media Expo 2019 di lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama I, Rabu (18/12). Pameran media pembelajaran ini merupakan rangkaian akhir dari mata kuliah Sumber dan Media Belajar semester 3 dengan dosen pengampu Laela Hikmah Nurbatra, MA., M. EdLead dan Rahmawati Khadijah Maro, S.Pd, M.P.Ed. Dengan mengusung tema, “When Media Meets Creatiyity” Laela memaparkan, event ini digelar sebagai wadah mahasiswa dalam berkreativitas dan memberi ruang pada pembuat media yang menaruh perhatian dalam IT. Tetapi tidak menuntut kemungkinan, lanjut Laela, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa yang minat pada media pembelajaran lainnya, seperti boardgames dan pop up book. “Ini sebagai jembatan kepada mahasiswa yang memiliki digital skill yang bagus, dan juga memiliki kreativitas serta inovasi agar menjadikan media pembelajaran lebih menarik dan lebih bisa diterima oleh generasi milenial,” sambung Laela. Sebanyak 54 kelompok memamerkan media pembalajaran yang sesuai dengan target pembelajar yang diinginkan. Setiap kelompok diberikan kebebasan untuk menentukan alat serta materi apa yang akan disajikan dalam media pembelajaran tersebut berdasarkan silabus yang digunakan target pembelajar. “Yang terpenting, selain harus menarik juga harus dapat menunjang proses belajar mengajar di kelas nantinya. Gunanya untuk membantu mahasiswa atau pembelajar tingkat sd, smp, sma, bahkan universitas dalam belajar bahasa inggris,” sebut Laela. Variasi media pembelajarannya sangat banyak, mulai dari bentuk kerajinan, boneka, software aplikasi komputer juga gawai, video animasi, hologram hingga Augmented Reality. Yang menarik misalnya, media pembelajaran yang dibuat Ajeng, Hamdan dan Ardiansyah yang membuat media pembelajaran Hologram. Media ini dapat melihat sekaligus  mendengar gambar visual secara 3 dimensi. Objek gambar bergerak yang umumnya terlihat dua dimensi, melalui inovasi ini terlihat seperti sungguhan. “Diharapkan, media pembejaran digital ini mampu membuat anak-anak antusias mengikuti pembelajaran,” kata Ajeng. Sementara itu, Rahmawati mengapresiasi hasil karya mahasiswa sangat kreatif dalam mengaplikasikan materi Bahasa Inggris dan penggunaan teknologi. Sehingga media pembelajaran yang dipamerkan sangat beragam dan melebihi ekspektasinya. “Harapan ke depannya, Expo ini dapat dihadiri oleh guru pengajar di Kota Malang. Sehingga beliau dapat menambah referensi dalam penggunanaan media pembelajaran yang nantinya akan digunakan dalam pengajaran di kelas. Karena ini berdasarkan –pre-learning objective, mahasiswa eksplore kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran di kelas,” pungkas Rahmawati. (can/bel)

BAZNAS Diseminasikan Hasil Penelitian di UMM

Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (Puskas Baznas) menggelar Seminar Nasional Zakatnomics dan Public Expose 2019, Kamis (19/12). Seminar bekerjasama dengan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI-UMM) ini mendiseminasi setidaknya lima dari tujuh belas produk penelitian yang dihasilkan sepanjang tahun 2019. Seminar nasional ini mengangkat tema “Penguatan Pilar-Pilar Riset Zakat Menyongsong Renstra BAZNAS 2020”. “Dalam rangka meningkatkan implementasi pendistribusian dan pendayagunaan zakat, BAZNAS memandang sangat penting program-program tersebut bisa berdasarkan riset-riset dan kajian. Karena kita ingin sekali program-program yang kita implementasikan di lapangan bisa terus-menerus kita kembangkan berdasarkan hal-hal yang kita temukan di lapangan,” terang Muhammad Hasbi Zaenal, Ph.D, selaku Kepala Puskas BAZNAS dalam sambutannya. Untuk mewujudkannya, BAZNAS sejak tahun 2017 sudah mengembangkannya melalui lembaga program Pusat Kajian Strategis BAZNAS. Selama kurun waktu dua tahun belakangan ini, sudah banyak kajian-kajian yang dihasilkan yang segera diimplementasikan dalam setiap program yang dimiliki, serta diaplikasikan ke cabang BAZNAS seluruh Indonesia. Hasil-hasil penelitian tersebut di diseminasi dengan menghadirkan para dosen UMM sebagai panelis di tiap sesi. Agenda seminar sehari ini, dilanjutkan Hasbi, juga sekaligus ikhtiar dalam pengarusutamaan konsep ekonomi Zakatnomics, yang didefinisikan sebagai kesadaran untuk membangun tatanan ekonomi baru untuk mencapai kebahagiaan, keseimbangan kehidupan dan kemuliaan hakiki manusia yang didasari dari semangat produktifitas, semangat berekonomi sedekah (secara halal) serta semangat mengejawantahkan zakat, infak sedekah dan wakaf dalam praktik kehidupan. BAZNAS telah meletakkan ajaran suci zakat sebagai inspirasi peradaban dalam bidang ekonomi. BAZNAS mengajak para ekonom agar menempatkan zakat menjadi sebuah sistem yang holistik.  “Dana zakat dan intermediasinya adalah social finance, tapi ajaran ekonomi zakat sebagaimana dalam surat at-Taubah ayat 60, mengandung sekurang-kurangnya 4 pilar perjuangan yaitu tauhid, produktivitas, muamalah yang halal, dan implementasi ekonomi berbagai,” terang Hasbi. Pilar pertama Zakatnomicss adalah Tauhid yang berarti bahwa Tuhan dari Aktivitas ekonomi adalah uang. Apa yang dikejar dan dicari dari aktivitas ekonomi adalah keimanan yang kuat terhadap Allah Maha Pemberi Rizki. “Ketaatan kepada Allah sebagai Tuhan dari perilaku ekonomi ini menjadi landasan pokok ekonomi Zakat,” ungkap Hasbi di hadapan civitas akademika Kampus Putih dan ratusan peserta yang berasal dari undangan yang hadir. Pilar kedua Zakatnomics adalah produktivitas, di sini zakat berfungsi memberdayakan, mengajari dan mendorong masyarakat untuk hidup sebagai insan yang produktif. Menurut Hasbi, produktivitas bukan diukur dari seberapa besar hasil yang didapat dan membandingkannya dengan upaya yang dilakukan. Konsep produktivitas adalah semangat memproduksi gagasan kerja dan hal-hal positif dari seorang manusia untuk dapat mempersembahkan karya peradaban. Pilar ketiga Zakatnomics adalah ekonomi syariah. Pilar ekonomi dan syariah ini adalah pengaplikasian ekonomi secara halal dan toyib. “Kitab muamalah harusnya menginspirasi bahwa dalam berkehidupan ini tidak boleh riba, ghoror, mencuri, mengurangi timbangan, adil membayar upah selagi keringatnya belum kering, dan lain sebagainya. Hal demikian, sebagaimana diajarkan oleh Rosulullah dan Sahabat serta orang-orang shaleh,” katanya. Pilar terakhir atau keempat Zakatnomics adalah mengaplikasikan zakat, infak sedekah dan wakaf. Karena peradaban dermawan ini harus dipraktikan. “Dimana, orang kaya para muzakki mengeluarkan dana zakatnya. Amil mengelolanya, mustahik kaum dhuafa berdaya dan asnaf lainnya bangkit dan kuat dengan dana zakat yang diterimanya. Keempat pilar perjuangan ini harusnya bisa melandasi seluruh jiwa ekonomi, inilah konsep Zakatnomic,” tutur Hazbi. Selain diseminasi hasil riset 2019, diharapkan syiar zakat melalui hasil riset Puskas BAZNAS selama tahun 2019 ini dapat dirasakan manfaatnya oleh berbagai lapisan masyarakat secara luas, kegiatan ini menjadi ajang penajaman konsep Zakatnomics dan menghasilkan resolusi penting pengembangan riset zakat dalam rangka mendukung pencapaian target-target Renstra BAZNAS tahun 2020 bersama para peneliti, praktisi, akademisi zakat, media dan masyarakat umum. Rektor UMM Dr. Fauzan, MPd. saat didapuk membuka acara mengungkapkan bahwa dunia zakat adalah dunia pragmatis yang didasari oleh suatu keyakinan teologinya tinggi. Sehingga, trust atau kepercayaan atas dijalankannya manajemen perzakatan juga musti tinggi. “Maka, selain dibutuhkan pengelolaan atau manajemen zakat yang baik, dibutuhkan juga orang-orang yang punya komitmen untuk mampu mengelola zakat agar terkelola maksimal,” ungapnya. (can)