Tapak Suci UMM Sabet Juara Umum Pencak Silat Paku Bumi Open IV Nasional Asia Eropa

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) keluar sebagai Juara Umum dalam kejuaraan Pencak Silat Paku Bumi Open IV Nasional Asia Eropa. Pada kejuaraan yang berlangsung di Gor Padjajaran dan Gor Tri Lomba Juang Bandung ini, Tapak Suci UMM berhasil mengumpulkan 14 medali. Tapak Suci UMM menerjunkan satu kontingen sebanyak 14 peserta untuk berjuang dalam kategori dewasa. Ketua bidang Organisasi dan Kesejahteraan Tapak Suci, Wahid menyebut bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari latihan yang fokus pada latihan pada fisik dan teknik. “Teknik seperti pola menyerang dan bertahan, timing, juga power sangat penting,” ujar Wahid. Tidak hanya itu, Wahid juga menjelaskan bahwa sebelum kejuaraan tersebut dilaksanakan, tim ini rutin melaksanakan latihan, yakni enam hari dalam seminggu. Ketekunan dan kerja keras tersebut akhirnya berbuah manis. Seluruh peserta dapat kembali ke Malang dengan senyum mengembang. Bagaimana tidak, masing-masing dari mereka berhasil memperoleh medali diantaranya 10 medali emas, 2 medali perak, dan 2 medali perunggu. Nauval Hilmy, ketua bidang Bina Prestasi Tapak Suci menyampaikan, mengikuti perlombaan diluar daerah dan jauh dari kampus memberikan suntikan semangat tersendiri bagi tim Tapak Suci UMM. Merasakan perjuangan suka dan duka bersama, tim menjadi lebih solid. “Kita optimis untuk merebut juara dikota orang,” ungkap Nauval. Bersinar di pertandingan nasional pertamanya, kontingen UMM berhasil menarik perhatian juri. Dengan jumlah peserta yang sedikit, tim Tapak Suci UMM meraih jumlah emas yang sama banyaknya dari kontingen lain yang pesertanya lebih banyak. “Makanya kita yang mendapat juara umum pertama,” pungkas Nauval yang juga mahasiswa prodi Ekonomi Syariah tersebut. (nim/sil)
Bekali Dosen Karyawan Skill Tambahan, LK UMM Gelar ToT Membatik

Untuk menambah skill Sumber Daya Manusia (SDM) warga Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam membatik, Lembaga Kebudayaan (LK) mengadakan acara pelatihan membatik untuk dosen dan karyawan UMM yang diselenggarakan selama dua hari (13-14/2) di basement dome UMM. Pelatihan ini dimaksudkan untuk membekali peserta agar mempunyai skill yang lebih selain menjadi dosen dan mengajar. Hal ini disampaikan oleh Dr.Daroe Iswatiningsih, M.Si selaku kepala LK UMM saat membuka acara. “Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kompetensi dibidang membatik, supaya warga UMM juga memiliki kemampuan membatik yang tidak kalah dengan masyarakat yang lain,”ujarnya. Tidak hanya sekedar pelatihan, semua peserta nantinya akan mendapatkan sertifikat ToT (Training of Trainer) yang dikeluarkan oleh Lembaga Kebudayaan UMM. Harapannya, dengan menjadi trainer membatik, para peserta dapat menjadi tutor saat diperlukan. “Misalnya ketika ada tamu, sehingga bapak /ibu disini sudah memiliki kualifikasi sebagai trainer membatik,” tutur Daroe lebih lanjut. Selanjutnya, Daroe menyampaikan beberapa inti diselenggarakannya pelatihan ini adalah untuk mengembangkan nilai edukasi, rekreasi dan ekonomi. Menghadirkan trainer dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMM yang juga lulusan Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya, Belinda Dwi Regina acara berlangsung menyenangkan. Sebelum memulai praktek membatik, dosen cantik tersebut menyampaikan beberapa materi pengantar. Sementara itu dosen Program Studi (Prodi) Manajemen, Fakultas Ekonomi Bisnis UMM, Erna Retna Rahadjeng antusias mengikuti acara tersebut. Ia bahkan mengaku, kelak ingin membuka usaha batik. “Senang sekali. Harapan saya semuanya bisa membatik sehingga nantinya bisa menjadi wirausaha yang baik,” pungkas Erna. (war/sil)
Aplikasikan Program UMM Pasti, FPP UMM Gelar Pelatihan Softskill bagi Calon Wisudawan
Program UMM Pasti yang dicanangkan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan, pada pertengahan 2017 silam mulai direspon oleh seluruh civitas akademika UMM. Contohnya pada tingkat fakultas yakni Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) UMM. Program yang memiliki tiga tujuan yakni, mahasiswa pasti lulus 4 tahun, mahasiswa pasti bekerja setelah lulus dan mahasiswa pasti mandiri tersebut diaplikasikan dalam prosesi yudisium di fakultas yang memiliki enam program studi ini. Tepatnya pada rangkaian Yudisium FPP UMM Periode I tahun 2018, pihak fakultas menambahkan satu rangkaian kegiatan yakni Pelatihan Soft Skill dalam Menghadapi Dunia Kerja yang digelar pada Senin (12/2) di Aula BAU UMM. Dekan FPP UMM, David Hermawan mengungkapkan bahwa tidak mudah untuk merealisasikan program UMM Pasti ini. Ia menambahkan, ada beberapa unsur dari fakultas yang juga harus ikut mendukung program ini yakni kurikulum, dosen dan infrasturktur. “Adanya pelatihan ini bertujuan untuk mewujudkan program bagian terakhir, yakni mahasiswa pasti mandiri setelah lulus,”jelas David. Pemateri pelatihan, Kepala Bagian Kepegawaian Biro Hukum dan Kepegawaian UMM Zakarija Achmat menyampaikan bahwa dalam dunia kerja para calon wisudawan harus bisa melihat sesuatu hal dengan berbagai sudut pandang “Karena biasanya, bukan kita yang tidak bisa menyelesaikan masalah, tetapi kita yang salah memilih sudut pandang dalam menyelesaikan masalah,” ungkap pemateri yang juga salah satu dosen Fakultas Psikologi UMM ini. Salah satu wisudawan FPP UMM Periode I tahun 2018, Esta Juliana, mengaku cukup antusias dengan pelatihan softskill pra yudisium dan wisuda. Ia juga merasa pelatihan soft skill seperti ini sangat penting bagi para calon wisudawan yang akan segera menghadapi dunia kerja. “Pelatihan soft skill semacam ini sangat bermanfaat bagi kami. Kami sangat senang sebelum kami lulus fakultas memberikan fasilitas seperti ini kepada kami,” ujar calon wisudawan program studi Ilmu dan Teknologi Pangan UMM tersebut. Pada akhir prosesi yudisium FPP UMM yang akan digelar pada 23 Februari nanti, juga akan diadakan gelar prestasi dari para wisudawan. Prestasi yang ditampilkan termasuk prestasi akademik dan non akademik dari 121 orang calon wisudawan yang akan disaksikan langsung oleh para orang tua wali calon wisudawan. (iel/sil)
Perkuat Rekognisi Internasional, UMM Kirim 11 Dosen dan Staff Peraih Beasiswa ERASMUS+ ke Eropa

Sebagai upaya memperkuat rekognisi internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengirimkan mahasiswa, dosen serta staf untuk belajar dan merasakan suasana internasional. Hal tersebut dilakukan dengan menjalin beberapa kerjasama, salah satunya melalui program Erasmus Mundus yang menjadi Erasmus +, sejak tahun 2007 hingga kini. Melalui program beasiswa Erasmus+, tahun ini UMM mengirim 11 mahasiswa, dosen serta staf ke beberapa perguruan tinggi di Eropa untuk mengikuti program pertukaran selama satu semester. Mereka diberangkatkan secara bersama-sama pada Minggu, (11/2). Sebelum keberangkatan, Rektor UMM Fauzan berpesan agar para penerima beasiswa Erasmus+ UMM dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan baik dan bertanggung jawab, serta senantiasa merasa bangga karena tidak banyak yang bisa mendapatkan beasiswa bergengsi ini. “Harus bertanggung jawab disana, karena ini sebagai representasi dari UMM dan juga Indonesia,” tutur Fauzan saat memberikan pembekalan pada para penerima beasiswa Erasmus+. Senada dengan hal tersebut, Asisten Khusus Rektor Bidang Kerjasama UMM, Suparto menjelaskan bahwa keberangkatan para Awardees Erasmus+ UMM membawa misi Pengembangan International Exposure. UMM ingin mahasiswa, dosen dan stafnya mendapatkan pengalaman internasional, bagaimana cara hidup, bekerja dan berinteraksi langsung orang asing. “Ini penting karena orang yang berbeda jauh tempat tinggal akan punya karakteristik, sifat dan perilaku yang sangat beda,” tandas dosen program studi Pendidikan Bahasa Inggris tersebut. Lebih dalam disebut Suparto, program Erasmus + dapat memberikan manfaat yang luar biasa untuk para penerimanya. Selain memperoleh pengalaman internasional, mereka juga dapat mengembangkan kemampuan dan kemandirian hidup di negeri orang. “Dengan punya pengalaman itu harapannya civitas akademik UMM terbiasa dengan berbagai perbedaan internasional,” ujar Suparto. Tata Budhi Prasetyo, salah satu mahasiswa UMM penerima beasiswa Erasmus+ mengaku siap dengan tantangan yang akan dihadapi di Polandia. Baginya program ini adalah kesempatan emas untuk belajar sembari berpetualang. Bahkan, mahasiswa Program Studi Manajemen ini sudah merancang rencana perjalanan yang akan dilakukan sebelum masuk perkuliahan dan saat liburan. “Saya suka alam, jadi memanfaatkan kesempatan ini untuk ke Pegunungan Tatra. InsyaAllah kalau memungkinkan akan kesana, juga ke beberapa negara tetangga,” tutur Tata. Sementara itu, menindaklanjuti kerjasama program Erasmus+ khususnya antara UMM dengan University of Opole Polandia, Michal Wanke selaku Coordinator Office for International Study Programmes dan Magdalena Hlawacz selaku Associate Professor Erasmus+ Departamental Coordinator University of Opole mengunjungi UMM. Hal ini dilakukan untuk mencari tahu lebih dalam tentang UMM sebelum kedua perguruan tinggi ini melakukan pertukaran mahasiswa, dosen, dan karyawan. Dalam kunjungannnya, Michal dan Magdalena berkesempatan menyambangi American Corner (Amcor) UMM, Kantor Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) UMM, dan beberapa kantor program studi. Michal mengaku University of Opole Polandia tidak memerlukan waktu lama untuk menerima tawaran kerjasama dengan UMM. Hal itu lantaran UMM telah memiliki kredibilitas yang baik utamanya dalam hal kerjasama. “Kami melihat UMM sangat aktif dalam kerjasama internasional dan memiliki banyak koneksi,” tukas Michal. Michal menambahkan dalam waktu dekat program Erasmus+ akan secepat mungkin dijalankan pada tahun ini. “Kami berharap dapat menjalankan program pertukaran pada semester depan,” tuturnya. Nantinya, pertukaran dosen dan karyawan dikedua perguruan tinggi ini akan menyesuaikan kebutuhan masing-masing universitas. University of Opole sendiri mempunyai kelas internasional untuk mahasiswa, dosen, maupun karyawan UMM ditempatkan disana. Selama sepekan di UMM, Magdalena Hlawacz selaku kordinator Program Erasmus+ mengaku senang berada di UMM karena baginya UMM adalah perguruan tinggi yang menarik. “Saya suka karena ada BIPA disini. Saya yakin bahwa UMM mampu menjalankan program internasional dengan baik,” pungkas Magdalena. Kedepan, tidak hanya program beasiswa Erasmus+ UMM juga mengembangkan kerjasama dibidang lain seperti join research, summer course, dan credit transfer dengan University of Opole. (nim/sil)
Bersiap Aplikasikan KPT, UNPAK Bogor Studi Banding ke UMM

Kerja kolaboratif Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan universitas lain semakin hari semakin erat. Tidak hanya antar lembaga universitas, namun juga hingga jajaran fakultas. Kali ini giliran Fakultas Hukum UMM yang mempererat hubungan dengan Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor (UNPAK). Pada Jumat (9/2) jajaran Dekanat Fakultas Hukum UMM menerima 16 orang rombongan Dekanat dari Fakultas Hukum UNPAK yang melakukan studi banding di Ruang Sidang Semu Fakultas Hukum UMM. Salahudin Al Fadh, Humas Fakultas Hukum UMM mengungkapkan bahwa jajaran Dekanat Fakultas Hukum UMM menyambut baik kunjungan studi banding dari Fakultas Hukum UNPAK. Menanggapi tentang bahasan kurikulum dalam pertemuan tersebut, Salahudin menyampaikan tidak banyak perbedaan antara kurikulum FH UMM yang sudah menerapkan Kurikulum Perguruan Tinggi (KPT) sejak Februari 2017 dengan kurikulum FH UNPAK. Salah satu perbedaan yang sedikit menonjol adalah perihal tugas akhir. FH UNPAK hanya menerapkan skripsi sebagai tugas persyaratan kelulusan, namun di FH UMM saat ini sudah memberlakukan sistem ekuivalensi. “Sistem ini menyikapi edaran dari Wakil Rektor I, sistem ekuivalensi atau penyetaraan ini memungkinkan mahasiswa mengganti tugas skripsi contohnya dengan jurnal ilmiah terindex,” terang Salahudin. Sekertaris Penjaminan Mutu Fakultas Hukum UNPAK, Nazarudin Latif menyampaikan, bahwa tujuan studi banding ini selain silaturahmi antar anggota Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI), yakni untuk mempersiapkan pembaharuan kurikulum akademik di Fakultas Hukum UNPAK pada tahun 2018 ini menjadi KPT seperti di UMM. “Di samping itu dalam kunjungan studi banding kali ini kami bersama Fakultas Hukum UMM juga membicarakan rencana untuk menggelar sebuah seminar internasional pada September ini,” tukasnya. Lebih jauh lagi Nazarudin menambahkan, pihaknya berharap kedepanya Fakultas Hukum UNPAK dan UMM bisa mengaplikasikan bentuk kerjasama lebih yang lebih luas. “Saya harap kedepannya UNPAK dan UMM bisa mengaplikasikan kerjasama dalam bentuk yang lebih luas dan berjangka panjang seperti pertukaran pelajar hingga seminar internasional yang UNPAK dan UMM rencanakan,” pungkasnya. (iel/sil)
Kelompok Peneliti Kewarganegaraan UNS Studi Banding ke UMM

“Kelompok Peneliti (Riset Group) “Filsafat dan Politik Kewarganegaraan” dari Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret (UNS) berkunjung ke Program Studi (Prodi) PPKn Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kunjungan tersebut membahas berbagai isu kebangsaan dan kewarganegaraan. “Membahas permaslahan karakter ke-Indonesiaan dan judul-judul penelitian yang bisa dikembangkan oleh riset group Kewarganegaraan,” kata Dr. Winarto M.Si sebagai Ketua Kelompok Peneliti (Riset Group) “Filsafat dan Politik Kewarganegaraan di GKB 1 Ruang 641. Winarto, demikian panggilan akrabnya mengaku kelompok yang dipimpinnya tertarik datang berkunjung ke UMM utamanya untuk menajamkan analisis dalam menemukan isu terkini untuk mendukung program penelitian. “Harapannya, kita bisa sama-sama menemu-tunjukkan isu-isu yang aktual, yang ujungnya penelitian kami bisa diterima,”tambah pria yang juga menjabat sebagai Kaprodi PPKn UNS tersebut. Kepala Divisi Penelitian pada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UMM Dr. Nurul Zuriah, MSi menyampaikan, kedatangan UNS untuk studi banding memberikan energi tersendiri bagi UMM. Utamanya, untuk bersama-sama saling menguatkan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa salah satunya bidang politik kewarganegaraan. “Dengan datangnya Saudara se-Linier dari UNS ini menguatkan kami, bahwa Prodi PPKn UMM ini tidak sendiri untuk menyelesaikan permasalahan bangsa,” tandas wanita yang juga dosen PPKn tersebut. Kedepannya Nurul menyampaikan, pihaknya berharap melalui jejaring yang terbentuk akan muncul hasil yang komprehensif.“Kami berharap ada kerjasama lebih lanjut,”pungkasnya. (mif/sil)
American Corner UMM Gandeng RELO US Embassy Jakarta Ajak Tenaga Pengajar Manfaatkan Sosial Media

Seiring kemajuan zaman, hadirnya teknologi menjadi sebuah kebutuhan bagi setiap individu. Masuk dalam setiap aspek kehidupan, kehadiran teknologi juga dapat membentuk budaya baru dalam melakukan interaksi sosial termasuk di dunia pendidikan. Melihat fenomena ini, American Corner Universitas Mumammadiyah Malang (UMM) bersama Regional English Language Office (RELO) United States Embassy Jakarta menggelar Workshop Creating Socially Engaging Learning Experiences and Materials di Ruang Sidang Senat UMM, Jumat (9/2). Acara tersebut juga bertujuan untuk mendukung program pendidikan antara Indonesia dan Amerika. Hadir dalam gelaran tersebut, the Chair of the Faculty Technology Advisory Group The Patton College of Education Ohio University Amerika Serikat, Greg Kessler. Pada kesempatan ini, Greg Kessler memberi pandangan dan pengalaman lebih jauh tentang bagaimana teknologi dapat berintegrasi dengan kegiatan belajar dan mengajar, terutama dalam konteks mata pelajaran Bahasa Inggris. Tidak hanya itu, Greg Kessler juga mengajak seluruh hadirin untuk terus lebih aktif dalam menggunakan dan memanfaatkan media sosial yang dimiliki. Menurutnya media sosial merupakan jenis kebutuhan baru untuk generasi saat ini. Hal tersebut dapat menjadi sebuah peluanh yang dapat digunakan sebagai media untuk menarik perhatian peserta didik. “Saya percaya bahwa semua yang ada di ruangan ini pasti memiliki media sosial, mungkin bisa Facebook, WhatsApp, atau media sosial lainnya,” ungkapnya. Lebih lanjut Greg Kessler juga menyampaikan bahwa saat ini telah banyak media pembelajaran yang diciptakan untuk membuat kegiatan kelas lebih interaktif dan menyenangkan. Ia juga menampilkan beberapa media pembelajaran yang dapat digunakan, salah satunya Augmented Reality (AR). “Kita dapat menciptakan Creative Teaching melalui media yang telah diciptakan dan itu bisa membuat kelas lebih interaktif,” jelasnya. Dalam penjelasan akhirnya Greg Kessler juga menekankan kembali bahwa pengajar merupakan faktor terpenting dalam membangun kesuksesan dalam proses belajar mengajar dan menjadi pengajar yang kreatif, bukan berarti harus menciptakan produk baru. “Kesadaran dalam menggunakan media pembelajaran yang interaktif dapat membentuk lingkungan belajar yang lebih menyenangkan,” pungkas Greg Kessler. Dihadiri citivas akademik UMM, mahasiswa dan pengajar bahasa Inggris dari luar kota Malang, Asisten Khusus Rektor Bidang Kerjasama Soeparto menyampaikan, acara ini penting untuk para tenaga pengajar mengembangkan keilmuannya. “Kegiatan ini merupakan kegiatan yang akan memberikan anda semua ilmu yang bermanfaat dalam proses belajar mengajar,” jelasnya.(nis/sil)
Persentase Kelulusan Program PPG UMM Terbanyak di Indonesia

Komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mencetak guru-guru profesional terus dijalankan. Kali ini, bekerjasama dengan Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM menggelar Orientasi Akademik Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Aula BAU UMM, Kamis (8-9/2). Acara yang dibuka oleh Rektor UMM Fauzan dan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Poncojari Wahyono tersebut berlangsung hikmat. Kepada para 107 peserta yang merupakan lulusan program PPG Bersubsidi dan alumni Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) Fauzan berpesan agar sebagai guru mereka mampu mengenali potensi pribadi yang dimiliki. ‘’Saat ini saudara memasuki fase baru, saudara harus mulai mengidentifikasi diri saudara menjadi guru masa depan,” papar Fauzan. Dalam pembukaan ini, Fauzan juga mempersilahkan salah satu mantan peserta SM3T untuk berbagi pengalaman mengajar di daerah terpencil. Hendra salah seorang alumni SM3T yang bertugas di Gorontalo menyampaikan berbagai problematika yang kerap muncul di sekolah tempatnya bertugas. Saat musim panen tiba misalnya, di SD tempatnya mengajar hanya ada beberapa siswa yang hadir. Sedangkan sebagian besar siswa lain membolos lantaran diajak orangtuanya pergi ke ladang. “Kedua, guru disana baik yang PNS maupun honorer bahkan kepala sekolah hanya masuk dua kali dalam seminggu,” jelas Hendra. Menanggapi apa yang disampaikan Hendra, Dekan FKIP Poncojari Wahyono menyampaikan munculnya berbagai permasalahan seperti ini sangat mempengaruhi tingkat kualitas pendidikan di tanah air. Hadirnya program PPG diharapkan dapat mencetak calon pendidik yang bertanggung jawab pada tugasnya dan mampu memberantas masalah-masalah serupa. Selain itu, Ponco demikian panggilan akrabnya juga mengaku bangga dengan PPG UMM. Pasalnya, hampir seluruh mahasiswa PPG UMM mampu menyelesaikan program yang ditempuh dengan baik. “Tahun kemarin, hanya ada satu yang tidak lulus dan total 96% lulus. Ini menjadi lulus terbanyak di Indonesia,” tandas Ponco. (ard/sil)
Perdalam Pengetahuan Tentang Islam, PUSAM UMM Gelar Heritage Seminar

Sebagai umat Islam, kita dituntut untuk memahami Agama Islam secara menyeluruh. Hal tersebut dimaksudkan agar muslim tidak asal melakukan syariat Islam, namun juga dapat mengerti dasar dari apa yang dikerjakan. Untuk itu, pada Rabu (7/2) Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar The Heritage Seminar yang bertajuk “The Origins of Islam & the Context of Qur’an” di Ruang Sidang Senat UMM. Dalam seminar kali ini PUSAM UMM membahas tentang Al-Quran dalam Konteks Sejarahnya, Menganalisa Pemikiran para Revisionis serta Teori Hermeneutika dan Aplikasinya dalam Al-Quran. Tiga pakar hadir sebagai pembicara, yakni mahasiswa S3 Pendidikan Agama Islam UMM serta direktur Equal Access International, Robert Pope, dosen dari Notre Dame University, USA, Prof. Mun’im Sirry serta pengajar bidang Biblika di Seminari Al Kitab Asia Tenggara, Malang, Ferry Y. Mamahit. Robert Pope dalam pengantar seminar mengulas desertasinya yang berjudul “Menemukan Kembali Islam Inklusif: sebuah Riset Naratif terhadap Usman Ibrahim”. Ia menyampaikan bahwa sebenarnya setiap agama seperti kotak-kotak yang memiliki aturan dan kepercayaan sendiri. Namun, uniknya kotak-kotak tersebut saling terkoneksi satu sama lain. “Ada yang bilang pada jaman Nabi Muhammad agama Islam diaplikasikan dengan sangat eksklusif padahal tidak demikian,” ujar mahasiswa asal Australia ini. Di sisi lain, Prof. Mun’im Sirry menjelaskan Al Quran dalam konteks sejarahnya. Menurutnya, umat Islam harus menyadari bahwa pada mulanya agama Islam mengalami proses yang sangat panjang hingga seperti sekarang ini. Hal inilah yang ia sebut “Memanusiakan Agama”. “Tidak hanya Islam, semua agama terbentuk menjadi sebuah institusi agama juga jauh setelah para founding fathers nya meninggal dunia,”ungkapnya. Di akhir, pemateri ketiga Ferry Y. Mamahit menjelaskan tentang teks dalam kitab suci. Menurutnya secara umum, teks berfungsi sebagai sebuah dokumen atau tulisan yang di dalamnya dapat melestarikan sebuah pesan. Hal ini karena di dalam teks sendiri terdapat konsep, gagasan, ideologi, teologi, dan informasi baik itu informasi sejarah, budaya, maupun sosial. “Meskipun dikatakan hanya sebagai dokumen, tetapi kitab suci ini bersifat sakral karena di dalam tradisi agama abrahamic (Islam, Yahudi, dan Kristen.red) teks ini bersumber dari Allah atau Yahve dalam bahasa Ibrani,” pungkas Ferry. (iel/ard/sil)
Gelar Kajian Islam and Science, FPP UMM Ajak Civitas Akademika Jaga Adab dalam Dunia Pendidikan

Hal paling penting dalam hubungan Islam dan Ilmu Pengetahuan adalah adab, karena adab menjadi hasil dari refleksi hubungan kedua hal tersebut. Hal ini disampaikan Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Adian Husaini pada Kajian Islam and Science dengan tema Konsep Ilmu dalam Islam dan Aplikasinya di Pendidikan Tinggi yang dihelat oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM). Lebih lanjut Adian menguraikan bahwa bahwa jika adab disampaikan dengan baik, tidak hanya dalam bentuk teks dan lisan, maka tidak akan ada lagi catatan merah untuk pendidikan Indonesia. “Jika pelajaran adab diutamakan maka sudah dapat dipastikan tidak akan lagi ada yang menjadi korban,” ungkap Adian di Aula Masjid AR Fachruddin UMM, Selasa (5/02). Kembali pada konsep Tholabul Ilmi, Adian mengajak untuk bersama-sama memperbaiki tujuan dan arti pendidikan secara benar. Pendidikan tidak melulu soal sekolah dan lembaga formal sejenisnya. Hal ini yang perlu diluruskan karena ia merasa bahwa saat ini Tholabul Ilmi telah bergeser maknanya. Masyarakat lebih cenderung pada bagaimana cara mendapat sekolah atau lembaga pendidikan formal yang baik, bukan bagaimana mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dapat diamalkan untuk kebaikan masyarakat. “Saat ini konsep Tholabul Ilmi terus terang lebih diarahkan pada bagaimana dapat sekolah yang favorit tanpa mempertimbangkan bagaimana ilmu itu diperoleh,” jelas mantan jurnalis Repubilka ini. Lebih lanjut pria yang meraih gelar Ph.D dalam bidang Islamic Civilization dari International Islamic University Malaysia (IUUM) ini juga mengingatkan pada seluruh hadirin bahwa seseorang yang akan menimba ilmu pada jenjang lebih tinggi seperti mahasiswa, sudah seharusnya dapat dididik untuk menjadi insan yang beradab. “Kalau dulu, yang mau memperoleh ilmu yang lebih tinggi harus dijamin adabnya. Yah paling tidak yang fardhu ain dulu,” jelas penulis buku Pendidikan Islam membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab ini. Dalam penjelasannya, Adian juga menekankan bahwa dalam konsep pendidikan Islam, hasil menimba ilmu akan sangat tercermin dari bagaimana cara memperoleh ilmu yang bersangkutan. Semakin baik proses memperolehnya, maka ilmu itu akan terus membawa manfaat untuk siapapun. “Menimba ilmu yang dilihat memang hasilnya, karena hasil itu mengggambarkan proses memperolehnya,” tandas Adian. Kajiam yang diadakan oleh FPP UMM ini rencananya akan menjadi pengajian rutin dengan mengundang beberapa pembicara-pembicara dari dalam dan luar UMM. Dekan FPP David Hermawan berharap, selanjutnya kajian ini dapat menjadi kegiatan positif bagi seluruh civitas UMM. “Harapannya pengajian ini bisa jalan terus dan bisa menjadi ladang mencari ilmu bagi seluruh civitas UMM,”pungkasnya. (nis/sil)