Mahasiswa FISIP UMM Siap Kawal Pemilukada Serentak 2018

BUDAYA kritis harus dimiliki oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Budaya kritis yang dimaksud adalah sikap kritis terhadap fenomena demokrasi yang ada di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Dr Rinekso Kartono M.Si selaku Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam forum Diskusi Panel bertema Mengawal Demokrasi Pemilukada Serentak Tahun 2018 di Aula BAU, Rabu (20/12). Hadir dalam acara tersebut mahasiswa FISIP dari berbagai program studi seperti Ilmu Komunikasi, Ilmu Pemerintahan, Hubungan Internasional, Kesejahteraan Sosial, Sosiologi dan juga aktivis Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Pada kesempatan tersebut, Rinekso memaparkan pentingnya memahami politik agar generasi muda dapat mengawal terselenggaranya Pemilukada 2018. Pemahaman terhadap politik yang baik dapat menghindarkan diri dari kegalauan demokrasi, seperti akan tetap pada demokrasi atau kembali layaknya saat reformasi. “Mahasiswa FISIP itu adalah orang yang harusnya lebih tau politik,” ujar Rinekso. Hadir dalam acara ini Guru Besar Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Purwo Santoso, MA yang memaparkan tentang pentingnya universitas melibatkan diri secara empatik dalam mengawal demokrasi. Purwo menguraikan saat ini mahasiswa perlu mengkritisi serta memposisikan diri kedalam demokrasi. “Mahasiswa juga harus siap dalam mendemokrasikan cara berpikir dengan mendefinisikan demokrasi sebagai persoalan yang sedang dihadapi,”tambahnya. Di sisi lain, Kurniawan Muhammad selaku Direktur Radar Malang menyampaikan pembahasan berbeda, yakni tentang peran media saat terlibat dalam arus demokrasi. Kurniawan menyebut, bahwa Pemilukada serentak 2018 ini menarik, istimewa dan juga rawan jika dibandingkan dengan jilid sebelumnya. “Istimewa sebab melibatkan daerah di Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya, yaitu Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, dan Papua,” terangnya. Selain istimewa, Pilkada serentak juga disebut Kurniawan menarik karena diikuti oleh wilayah dengan jumlah penduduk yang besar seperti Sumatera Utara, Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan perkiraan jumlah pemilih 80-90 persen. Meski istimewa dan menarik, Kurniawan menguraikan bahwa Pemilukada kali ini juga rawan konflik horizontal, intervensi asing dan intervensi politik dari pusat. Disinilah menurutnya peran media sangat dibutuhkan. “Sebab itu peran media dalam Pilkada adalah menjadi netral dan independen, jadi klarifikator atas berita gaduh, hoax atau fitnah yang ada,” pungkasnya. (nim/sil)
PSIF UMM Refleksikan Dinamika Politik di Dunia Arab

Berbagai konflik yang terjadi di dunia Arab pada 2017 menarik perhatian Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menggelar Refleksi Akhir Tahun bertema “Dinamika Politik di Dunia Arab dan Implikasinya bagi Islam Indonesia”, Senin (18/12) di Aula Masjid AR Fachruddin UMM. Kegiatan refleksi ini menghadirkan para pakar di antaranya cendekiawan Muslim Singapura Prof. Dr. Dhulkifl Zaman Khan, pakar politik Barat Tengah dan dunia Islam Dr. Ibnu Burdah MA, dan wartawan senior Jawa Pos Rohman Budijanto. Kepala PSIF UMM Dr. Pradana Boy MA berharap dari acara ini dapat terbangun jejaring literasi damai yang melibatkan para intelektual publik, tokoh agama, penulis dan influencer, serta para aktivis muda Muslim yang bervisi perdamaian. Terlebih, berbagai konflik yang terjadi itu kian dipanaskan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan memindahkan ibukota Israel ke Yerusalem. Hal itu, lanjut Pradana, makin menambah beban baru di tengah pelbagai konflik yang dialami dunia Islam pada 2017 ini, seperti perang Suriah, serangan Taliban di Afganistan, konflik ISIS di Irak, konflik berkepanjangan di Yaman, perang sipil Libia, konflik India-Pakistan, dan masih banyak lagi. Karenanya, penting bagi umat Islam Indonesia untuk memiliki pemahaman yang utuh atas dinamika politik di negara-negara Muslim dan apa implikasinya bagi bangsa ini. “Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, kita perlu memahami, apa implikasinya bagi kita dan apa yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi bagi perdamaian dunia,” ujar Pradana yang juga Duta Perdamaian Agama Dunia pada King Abdullah bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID) ini. Pradana mengatakan, menjadi tugas bersama untuk mengampanyekan dan memviralkan narasi perdamaian Islam di tengah kehidupan bangsa dan dunia yang seringkali dihiasi narasi kebencian ini. “Apalagi sebenarnya Islam Indonesia punya peluang besar untuk menjadi contoh bagi dunia dalam membangun masyarakat Muslim yang tenteram dan harmoni,” kata peraih gelar doktor dari National University of Singapore (NUS) ini. Sementara itu Prof. Dr. Dhulkifl Zaman Khan berpesan agar masyarakat tidak menyangkut pautkan Islam dengan kekerasan yang terjadi, khususnya terkait kasus Israel dan Palestina. Muslim Indonesia hendaknya tahu tentang sejarah secara utuh terkait apa yang terjadi dibalik politik dunia arab, termasuk kedua negara tersebut. “Jadi kita harus tahu backgroundnya, karena ini semuanya sudah campur aduk. Ini bukan soal agama saja, tapi ini soal ekonomi. Kita ini harus jadi intelek,” tandasnya. Menurut Dhulkifl, isu antara Israel dan Palestine sudah bergulir sejak 70 tahun lalu. Berbagai kepentingan merebak disana. Melihat hal tersebut, sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim yang besar, Indonesia hendaknya ikut bersuara. Bukan hanya itu, Indonesia juga harus mulai memilah apa yang baik dan tidak baik bagi negaranya. “Saya selalu bilang ke pejabat kita untuk jangan hanya duduk diam. Jangan salah, kita duduk diam bukan mereka yang mati tapi kita yang mati,”tandasnya. Dhulkifl menguraikan, jika Indonesia hanya diam, kondisi peperangan yang terus berlanjut di negara arab lama-lama akan menjatuhkan nilai tukar rupiah. Jika hal ini terjadi, kegoncangan ekonomi juga akan terjadi di Indonesia. “Tidak mungkin kalau Indonesia tidak ikut campur pada perdamaian disana. We must to talk to Israel,” tambahnya. Menambahkan Dhulkifl, Rohman Budijanto menyampaikan bahwa Indonesia harus peduli terhadap konflik di negara-negara arab, mengingat sejarah turunnya Islam disana. Oleh sebab itu, ada keterikatan antara muslim Indonesia dengan negara-negara tersebut. “Disana harus kita jaga, karena ada warisan-warisan suci yang harus dijaga dengan cara-cara suci yang elegan ,” pungkasnya.
Gelar Pesta Film Anak, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM Hadirkan 13 Tontonan Ramah Anak

Senin (18/12) Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pemutaran film bertajuk Pesta Film Anak (PFA) ke 2 di Aula BAU UMM. Pemutaran film tersebut merupakan bentuk uji publik untuk 13 film hasil karya praktikum Audio Visual 1 (AV 1) mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM angkatan 2015. Penonton PFA sendiri merupakan anak-anak serta orang tua pemeran setiap film AV 1 yang ditampilkan. Kepala Laboratorium Ilmu Komunikasi, Jamroji, M.Comm memaparkan bahwa setiap tahun beban praktikum untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi ditambah, termasuk untuk konsentrasi Audio Visual. Namun, ia mengaku terkesan karena meski setiap tahun tantangan praktikum semakin berat tetapi mahasiswa praktikum selalu bisa menyelesaikan praktikum dengan baik. “Di tahun-tahun sebelumnya setelah selesai produksi, film, hanya akan dinilai saja oleh dosen pembimbing. Namun dibeberapa tahun terakhir, mahasiwa juga dituntut agar bisa melakukan kegiatan pasca produksi yaitu memasarkan film, salah satunya dengan mengadakan pemutaran film,” ujar Jamroji. Penentuan tema film anak tidak lepas dari tangan dingin dosen pembimbing praktikum AV 1, yakni Novin Farid Styo W., S.Sos., M.Si. Menurutnya saat ini konten-konten untuk anak mulai jarang. Jika ada pun, konten tersebut biasanya merupakan produk impor dan segmentasinya juga kurang cocok dengan anak-anak di Indonesia. “Selain jarang, tayangan televisi di Indonesia saat ini sudah sangat tidak ramah anak, oleh karena itu kami berusaha memberikan tontonan alternatif khusus untuk anak,”jelasnya. Novin juga menambahkan, bahwa tingkat kesulitan membuat film anak yang lebih tinggi dari pada film dengan pemeran dewasa juga menjadi pertimbangan pengambilan tema ini. Menurutnya membuat sebuah konten untuk anak-anak itu tidak mudah. Selain konten harus aman untuk dikonsumsi anak-anak, tantangan lainnya adalah bagaimana mengarahkan pemeran anak-anak tersebut agar bisa lebih maksimal saat di depan kamera. “Untuk tahun depan, tema untuk praktikum AV 1 akan tetap film anak, namun akan lebih spesifik, contohnya mainan tradisional, cerita rakyat, dan lain sebagainya,” pungkas Novin. Kesulitan mengarahkan pemeran anak juga diamini oleh setiap kelompok praktikum, salah satunya adalah, Andi Zhafira, dari Sembilan Films. Menurutnya, mengarahkan anak dalam memerankan film ini bukan hal yang mudah. Andy mengaku sempat kualahan menghadapi tingkah polah talent utama film nya yang cukup moody. Namun hal tersebut tidak membuat ia dan kelompoknya patah semangat. “Untuk mengajari peng-adeganan dan blocking, kami berlatih bersama talent selama satu minggu penuh, dari sore hingga malam sebelum produksi,” terang sutradara kelompok Sembilan Films tersebut. (iel/sil)
Literasi Dini, Rangsang Imajinasi dan Kreasi Anak

Negara-negara maju selalu menghimbau anak-anak Sekolah Dasar untuk mengedepankan literasi. Hal tersebut dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya dengan rutin memberikan bacaan pada anak-anak. Ini penting dilakukan, utamanya untuk merangsang imajinasi dan kreasi pada anak. “Literasi menjadi fundamental dalam pelaksanaan pembelajaran. Anak yang suka membaca akan lebih cepat membayangkan atau berimajinasi. Buku menjadi salah satu medianya,” tukas dosen pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) Titik Harsiati MPd pada Seminar Nasional bertajuk Pengembangan dan Inovasi Media Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar (SD), hari ini Rabu (13/12) di Theater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada gelaran tersebut, Titik menyampaikan materinya tentang Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD dan Penilaiannya dalam Konteks Pendidikan Karakter. Ia menambahkan, terdapat empat kompetensi yang patut dicapai oleh guru Sekolah Dasar, yakni kreativitas, kritis dalam berpikir, kolaboratif dan komunikatif. Empat kompetensi itu diwujudkan dalam keseimbangan sikap, keterampilan dan pengetahuan umum untuk membangun soft skills dan hard skills yang baik pada murid SD. Selain Titik, Pakar Kajian Sastra Bahasa Indonesia UMM Sugiarti MSi juga membahas tentang Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sekolah Dasar Berbasis Karakter. Wanita yang juga berprofesi sebagai dosen prodi Bahasa Indonesia tersebut menjabarkan perkembangan kurikulum pembelajaran berbasis teks melalui tiga dimensi yakni kognitif, psikomotorik dan afektif. “Ketiga dimensi tersebut saling berhubungan dan dapat menopang potensi siswa berkarakter,”tandasnya.. Sebanyak 400 mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMM mengikuti acara ini. Kegiatan tersebut dirancang agar mahasiswa mampu mengembangkan potensi diri sebagai pemikir yang kreatif, inovatif dan inspiratif di bidang pembelajaran. Hal ini terkait dengan Kurikulum 2013 dimana proses pembelajaran diarahkan pada proses interaksi yang aktif antara guru dengan siswa. Seorang peserta seminar, Cahaya mengaku dirinya senang dapat mengikuti seminar ini. Baginya, kegiatan tersebut dapat menjadi bekal saat melaksanakan praktek kegiatan pembelajaran di kelas. “Saya pribadi berharap dapat menerapkan ilmu dari seminar ini saat mengajar di SD,” ujarnya.(nim/sil)
Angkat Nilai Ekonomi Pangan Lokal, Himatekpa UMM Gelar Food Festival

Mulai Kamis (14/12) hingga Jumat (15/12), Himpunan Mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan (Himatekpa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Himatekpa Food Festival (HFF) di Lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama 1 (GKB 1) UMM. Ketua Umum Himatekpa UMM, Moch. Arif Saputra, menuturkan bahwa Himatekpa sebagai himpunan mahasiswa yang kedudukannya dibawah program studi (prodi) harus ikut mendukung apa yang dicanangkan prodi, salah satunya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang mendukung keilmuan dan keprofesian prodi Ilmu Teknologi Pangan. “Dalam HFF ini kami bergerak sebagai fasilitator dalam hilirisasi produk-produk inovasi dari mahasiswa,” jelas Arif. Mengangkat tema “Mengembangkan Pangan Lokal” festival kali ini mengelola berbagai bahan pangan seperti daun krokot, ubi ungu, wortel, kentang, singkong, dan ubi jalar. Total ada 28 kelompok mahasiswa yang berasal dari angkatan 2014 hingga 2017 membuka stand dalam acara ini. Setiap stand menyajikan olahan bahan pangan yang berbeda. “Kami mengangkat tema ini karena kami berharap nilai ekonomi dari pangan lokal yang biasanya rendah bisa bertambah,”lanjut Arif. Tidak berhenti di kampus, nantinya Arif dan jajarannya berencana mengembangkan HFF menuju tingkat lokal, regional, hingga nasional. Sejalan dengan Arif, Dosen Jurusan Ilmu Teknologi Pangan Rista Anggriani, S. TP., MP., M.Sc, juga berharap yang sama. Rista bercita-cita, suatu saat HFF bisa berkembang lebih jauh agar mahasiswa dapat terfasilitasi dalam hal hilirisasi produk inovasi. Bukan hanya itu, Rista juga berharap HFF bisa berkembang dan bekerjasama dengan salah satu produsen bahan makanan di Indonesia. Selanjutnya mahasiswa dapat membuat inovasi dari bahan makanan yang diproduksi oleh produsen tersebut untuk menambah nilai gizinya. “Tentunya hal ini akan menarik, karena merupakan kombanisasi dari hal modern dengan hal yang fungsional,” tuturnya. Salah satu peserta festival Rachmaniar Anissa Putri menuturkan, dirinya senang dengan adanya festival yang rutin digelar setiap tahun ini. Pasalnya, melalui festival tersebut ia dapat mengenal keilmuan dan keprofesian Ilmu Teknologi Pangan secara langsung dan lebih dalam. “Ini juga bisa menambah pengalaman dengan melihat stan-stan lain, terutama hasil produk kakak tingkat,” ujar mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan angkatan 2017 tersebut. (iel/sil)
Ironisnya Kondisi Perikanan Indonesia

Kondisi perikanan di Indonesia saat ini bisa disebut ironis. Sebabnya, di tengah kebutuhan pasar yang besar, Indonesia masih banyak mengimpor teknologi untuk menangkap ikan dari luar negeri. “Padahal, jika ditelisik lebih dalam alat untuk menangkap ikan maupun melakukan budiaya ikan merupakan jenis teknologi yang mudah dibuat,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan RI ke 2 Periode 2001-2004, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS pada diskusi nasional bertema “Warisan Ir. H. Juanda, Solusi Pembangunan Kejayaan Nusantara”. Pada acara yang digelar dalam rangka memperingati Hari Nusantara oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani) tersebut Rokhmin menyampaikan uraiannya. Menurutnya, saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia mengkonsumsi protein hewani yang berasal dari ikan. Sayangnya, hal tersebut tidak diimbangi dengan ketersediaan teknologi untuk menangkap ikan yang memadai. “Menurut data, 65 persen protein hewani yang dikonsumsi masyarakat di Indonesia bukan berasal dari hewan terrestrial atau hewan darat, melainkan dari ikan,” jelas Rokhmin di Aula BAU, Rabu (13/12). Selain Rokhmin, diskusi nasional kali ini juga dihadiri berbagai stakeholder dari dunia perikanan Indonesia, antara lain guru besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB) Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, M.Sc., Sekertaris Jendral Masyarakat Perikanan Nusantara Dr. Nimmi Zulbainarni, Ketua Umum Aliansi Nelayan Indonesia (ANNI) Riyono S.Kel, M.Si serta para tokoh nelayan dari Pati dan Rembang. Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM, Dr. Ir. David Hermawan, MP,menyambut baik adanya diskusi ini. Selain memberikan solusi bagi perikanan di Indonesia, ia juga berharap diskusi ini dapat memberikan wawasan kepada mahasiswa program studi perikanan. “Saya berharap diskusi seperti ini juga dapat memberikan suasana akademis yang baik bagi fakultas terutama bagi Program Studi Perikanan UMM,” tukasnya. Pada hari kedua, diskusi nasional ini membahas tentang “Resolusi dan Akselerasi Pembangunan Perikanan di Indonesia untuk Menghadapi Era Globalisasi”. Hadir dalam diskusi tersebut Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhy P sebagai keynote speaker, Anggota Komisi IV DPR RI Ono Surono ST, sekretaris Jenderal ASTUIN Hendra Sugandhi, dan Sekretaris Jenderal MAI Dr. Agung Sudaryono. (iel/sil)
Jembatani Karir Alumni, UMM Gelar Job Fair dan Entrepreneur Expo

SEBAGAI bentuk tanggung jawab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam ‘melepas’ alumninya, hari ini Kamis (14/12) digelar Job Fair dan Enterpreneur Expo di Hall Dome UMM. Kegiatan yang di prakarsai oleh unit Pengembagan Kewirausahaan Mahasiswa dan Alumni (PKMA) ini untuk mewadahi alumni-alumni UMM dalam menapaki jenjang yang lebih tinggi yakni dunia kerja. Tidak hanya menghadirkan 25 perusahaan BUMN dari Malang Raya, diantaranya perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, bidang perhotelan, bidang finance, bidang telekomunikasi, bidang jasa dan transportasi, gelaran ini turut dimeriahkan oleh hadirnya bazar mahasiswa dan alumni UMM. Kepala Bidang Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa dan Alumni (PKMA) Fien Zulfikarijah menuturkan bahwa Job Fair yang merupakan agenda rutin PKMA ini menjadi jembatan antara alumni UMM dengan perusahaan-perusahaan. “Tentu saja ini juga membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah ketenaga kerjaan,” ujar Fien. Pihaknya menambahkan bahwa UMM sebagai perguruan tinggi berupaya tidak hanya menerima mahasiswa, namun juga memberikan fasilitas kepada alumni UMM untuk melamar dan mendapatkan pekerjaan. Salah satunya dengan mendatangkan perusahaan-perusahaan melalui gelaran Job Fair ini. Menariknya, tidak hanya para job seekers yang memadati Hall Dome, kegiatan ini juga ditujukan untuk para job creators yakni para wirausaha muda dari UMM dalam lingkup Enterpreneur Expo. Fien menyebut dengan terselenggaranya Job Fair dan Enterpreneur Expo, alumni dapat menemukan pekerjaan yang diinginkan. Di sisi lain, perusahaan yang hadir juga dapat memperoleh tenaga kerja yang sesuai kriteria, sehingga keduanya dapat diselaraskan. Lebih jauh, Fien berharap di masa yang akan datang, dapat terjalin kerjasama lebih luas antara UMM dengan perusahaan-perusahaan. Salah satunya dalam hal pemagangan mahasiswa, audiensi dan penelitian. Salah satu job seeker yang hadir, Aulia Rahmawati mengungkapkan ketertarikannya terhadap Job Fair yang diselenggarakan UMM. Alumni prodi Ilmu Komunikasi UMM ini mengaku Job Fair memberikan wawasan terhadap pekerjaan yang akan dipilihnya. “Ada beberapa perusahaan tadi sudah lihat-lihat dan apply. Kedepan semoga Job Fair UMM lebih variatif lagi perusahaan-perusahaannya,” tandas Aulia. (nim/sil)
Atasi Trauma Korban Banjir dan Longsor, Psikologi UMM Kirim Relawan ke Pacitan
Refleksi Tiga Tahun Penegakkan Hukum Era Jokowi

Bertepatan dengan Hari Anti Korupsi Internasional, Sabtu (9/12), Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Program Studi Magister Ilmu Hukum menggelar konferensi nasional yang bertajuk 2nd National Conference Post Graduate Students of Law 2017 di Ruang Sidang Senat UMM. Mengusung tema “Refleksi 3 Tahun Penegakan Hukum Era Pemerintahan Jokowi – JK”, hadir beberapa narasumber di bidang hukum, yakni Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum UMM, Moh. Najih, S.H., M.H., Ph.D., Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Tata Wijayanta, S.H., M.Hum., Ph.D. dan Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2011 – 2015, Dr. Bambang Widjojanto. Bersamaan dengan peluncuran bukunya yang berjudul “Berantas Korupsi Reformasi”, Bambang juga berbagi pengalaman saat menjabat sebagai Wakil Ketua KPK. Menurutnya, saat ini ada ha-hal mengkhawatirkan yang secara tidak langsung berhubungan dengan penegakan hukum di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah distribusi kekuasaan yang terfragmentasi, pembajakan ruang public dan media massa serta perampokan sumber daya alam. Bagi Bambang, ini merupakan bentuk peniadaan kesejahteraan sosial dan keadilan. “Orde reformasi merupakan antitesi dari orde baru, namun saat ini menjadi pertanyaan apakan orde reformasi ini hanya sekedar orde baru yang memiliki KPK”, urainya. Sementara itu, Moh. Najih mengkritisi program Nawa Cita yang sudah dijanjikan pasangan Jokowi – JK saat kampanye presiden 2014. Menurutnya ada beberapa poin-poin terkait penegakkan hukum pada masa Jokowi-Jk yang cukup mengkhawatirkan. Selain itu pembentukan Satgas Saber Pungli (Sapu Bersih Pungutan Liar) juga kurang efektif. “Satgas Saber Pungli menurut data, melakukan beberapa kegiatan pengawasan yang berlebihan, sehingga perangkat desa dalam penggunaan dana desa tidak maksimal”, ujar Najih. Senada dengan Najih, Prof. Tata Wijayanta, S.H., M.Hum., Ph.D. juga membahas tentang Nawa Cita Jokowi – JK namun lebih berfokus dalam hal penegakan hukum perdata. “Ada beberapa yang harus dibenahi dalam penegakan hukum saat ini, antara lain sisi penegakan hukum, kesadaran hukum masyarakat, kualitas hukum, ketidakjelasan berbagai hukum yang berkaitan dengan proses berlangsungnya hukum serta lemahnya penerapan berbagai peraturan”, jelas Tata. Direktur Pascasarjana UMM, Dr. latipun, M.Kes., menyampaikan apresiasinya terkait gelaran konferensi ini. Latipun menyampaikan bahwa di program pascasarjana khususnya di UMM, proses belajar mengajar tidak cukup dengan kegiatan di kelas yang hanya bersifat tekstual. Lebih dari itu, mahasiswa juga harus bisa melihat fenomena dan persoalan yang lebih luas. “Ini tema yang menarik untuk melihat kinerja dalam penegakan hukum pemerintah yang sudah berjalan selama tiga tahun ini”, ungkap Latipun. Dalam konferensi kali ini juga turut hadir beberapa perwakilan universitas, yakni dari Universitas Negeri Malang, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Sahid Jakarta dan Uniersitas Muhammadiyah Sumatera Barat. (iel/sil)
Mahasiswa adalah Tonggak Sejarah Ekonomi Kreatif

Mengukir kesuksesan sejak muda merupakan sebuah budaya baru bagi para generasi millennial, khususnya mahasiswa. Sebagai generasi muda, mahasiswa menjadi sumber daya manusia yang paling berpotensi untuk meningkatkan dan mengembangkan bisnis usaha baru. Mereka adalah tonggak sejarah ekonomi kreatif. Hal ini disampaikan Owner SMA Selamat Pagi Indonesia Agus Setiyadi. Menurut Agus, untuk memaksimalkan potensi tersebut mahasiswa perlu dibina dan dimotivasi secara berkala. Hal ini akan mengantarkan mereka pada kesuksesan. “Anak muda itu banyak yang malas, tapi kalau mereka diajak, didukung, dan terus dimotivasi pasti mereka bisa menciptakan jalan kesuksesan mereka sendiri,” jelas Agus di Hall Dome UMM, Sabtu (9/12). Melalui semangat entrepreunership, Agus mengajak para mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk bersama membangun kolaborasi dalam menciptakan karya usaha baru. Sementara itu inisiator Malang Creative Fusion Vicky Arief juga mengamini hal tersebut. Menambahkan Agus, menurut Vicky selain memerlukan pendampingan, para mahasiswa membutuhkan ruang untuk berkomunikasi serta bertukar pikiran. “Dengan demikian, mahasiswa dapat menemukan ide-ide baru bagi permulaan dan keberlanjutan bisnis mereka,” tambahnya. Lebih lanjut Vicky menyampaikan, dirinya mengapresiasi Rektor UMM Fauzan yang menyadari sejak dini tentang pentingnya menciptakan ruang untuk mahasiswa berkarya dan berkolaborasi. Bagi Vicky, ini merupakan sebuah pemikiran yang kreatif dan positif untuk mengurangi angka pengangguran. “Saya sangat terkesan karena saat ini Rektor UMM sangat aware terhadap perkembangan usaha yang diciptakan oleh generasi millennial, biar mahasiswa itu gak bingung mencari pekerjaan setelah lulus kuliah,” pungkas Vicky. (nis/sil)