Kemristekdikti Minta Para Peneliti UMM Lakukan Riset Berbasis Kebutuhan Masyarakat

PENINGKATAN jumlah penelitian yang telah dilakukan para peneliti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu alasan Dirjen Penguatan Riset Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi Muhammad Dimyati mengunjungi UMM pada kegiatan “Ngobrol dengan Peneliti” Ahad (3/12) di Ruang Sidang Senat UMM. Pada kegiatan sharing ini, Dimyati mengingatkan pada peneliti untuk dapat melakukan penelitian sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal tersebut diharapkan dapat  segera diimplementasikan mengingat ada banyak hal yang dapat diciptakan di tengah masyarakat modern. “Anda semua pasti mengetahui Go-Jek yang tercipta dari problem yang terjadi di tengah masyarakat,” ungkap Dimyati. Ditambahkan Dimyati, hal yang harus diingat dalam melakukan penelitian adalah bukan hanya sekedar menulis namun perlu dilakukannya pengakuan kekayaan intelektual. Hal tersebut didukung oleh status perguruan tinggi swasta yang memiliki kesempatan besar melakukan penelitian sehingga dapat membantu kebutuhan masyarakat. “UMM sebagai salah satu universitas swasta yang luar biasa harus bisa masuk dalam arus penelitian untuk mendukung kedudukan jumlah penelitian Indonesia di tingkat ASEAN,” jelas Dimyati. Bagi Rektor UMM Fauzan, kehadiran Dirjen Penguatan Riset Kemristekdikti ini menjadi angin segar dan semangat positif bagi para peneliti UMM. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran Dirjen Riset Kemristekdikti. Kegiatan ini merupakan sebuah bentuk semangat positif bagi kami peneliti UMM,” ujar Fauzan. UMM melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) menghadirkan seluruh peneliti terbaik milik UMM untuk berbagi ide dan inovasi tentang penelitian. (nis/han)

Mensos Khofifah: Indonesia Rawan Bencana, Mitra MDMC-Pemerintah Amat Strategis

JAMBORE Nasional Relawan Muhammadiyah ke-2 yang digelar oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditutup dengan kehadiran Menteri Sosial (Mensos) RI Khofifah Indar Parawansa, Ahad (3/12) di hall UMM Dome. Kehadiran Mensos mengakhiri rangkaian kegiatan jambore yang telah berlangsung sejak Kamis (30/11). Disebut Khofifah, kehadiran MDMC atau Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Muhammadiyah ini merupakan bagian dari public-private partnership yang harus dibangun bersama antara Muhammadiyah dan pemerintah lantaran menurutnya, ada 232 kota dan kabupaten se-Indonesia yang beresiko terdampak bencana alam. “Apalagi, 80 persen yang terdampak itu akan mengalami jamila, atau jadi miskin lagi,” ungkapnya. Khofifah juga sangat mengapresiasi kiprah MDMC. Ia mengisahkan, tahun lalu, ketika dilakukan deklarasi Hari Relawan Sedunia, MDMC menjadi salah satu elemen yang berada di garda depan. “MDMC juga menjadifrontliner waktu itu dalam menginisiasi deklarasi sekaligus membangun komitmen dan strategi internasional mengatasi berbagai persoalan kebencanaan.” Tak lupa, Khofifah juga hendak menyerahkan mobil dapur umum lapangan pada MDMC sekaligus mengundang untuk hadir bersama pemerintah dan berbagai elemen memperingati Hari Relawan pada 7-8 Desember di Pacitan. “Kita adakan di Pacitan karena mereka tengah mengalami banjir bandang dan longsor. Semoga dengan kehadiran kita masyarakat tidak panik, namun kita tetap sigap,” paparnya. Sementara itu Wakil Rektor I UMM Syamsul Arifin mengatakan, dengan situasi Indonesia yang rawan bencana, kehadiran MDMC sangat dibutuhkan bagi penanganan bencana alam dan kemanusiaan. “Semoga jambore nasional ini membuat relawan Muhammadiyah lebih peka dan terampil dalam menangani bencana,” ujarnya. Kegiatan MDMC yang berlangsung empat hari ini turut didukung Lazismu, UNICEF, UMM, dan sejumlah organisasi otonom Muhammadiyah. Kegiatan pra-pembukaan diawali dengan Bakti Sosial berupa donor darah dan pemeriksaan kesehatan di Kedung Kandang, Malang pada Kamis (30/11). Lalu dilanjutkan dengan Silaturrahim Kebangsaan oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan pada Jumat pagi (1/12). Sementara pembukaan dilakukan pada Jumat siang (1/12) yang dihadiri Mendikbud RI Muhadjir Effendy dan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir. Jambore juga diwarnai dengan kegiatan-kegiatan seru dan menantang melalui sejumlah lomba yang berlangsung Sabtu (2/12) di antaranya Lomba Navigasi Darat dan Penyelamatan Bawah Air “Water and Jungle Rescue Challenge” Lomba Medis “Emergency Medical Team”, Lomba Penanganan Psikososial “Psychosocial Intervention Challenge”, Lomba Cerdas Tanggap “Disaster Challenge” dan juga Lomba Foto “Jambore Photo Challenge”. Para relawan juga dapat mengikuti kelas-kelas pengurangan resiko bencana dan Geladi Penanganan Bencana. (han)

32 Kontingen MDMC Ramaikan Lomba Navigasi Darat dan Penyelamatan Bawah Air

SEBANYAK 32 kontingen relawan Muhammadiyah yang tergabung dalam Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) saling bersaing dalam kompetisi SAR Challenge bertajuk “Water and Jungle Rescue Challenge”. Kompetisi ini merupakan salah satu dari sekian lomba yang diadakan dalam rangka Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah ke-2 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (2/12). Selain Water and Jungle Rescue Challenge, lomba yang dikompetisikan yaitu Lomba Medis “Emergency Medical Team”, Lomba Penanganan Psikososial “Psychosocial Intervention Challenge”, Lomba Cerdas Tanggap “Disaster Challenge” dan juga Lomba Foto “Jambore Photo Challenge”. Koordinator Lomba SAR Challenge Fatkhul Faruq menjelaskan, “Water and Jungle Rescue Challenge” terbagi dua kategori yaitu Jungle Rescue Challenge di mana peserta harus menjawab beberapa soal tertulis dari panitia, menyelesaikan navigasi darat dengan peta dan membuat simpul dasar. Sementara kategori kedua yaitu Water Rescue Challenge di mana setiap tim akan melakukan prosedur penyelamatan di air. Lomba diadakan di Danau Kampus Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM dan sekitarnya. Selepas lomba, dilakukan evaluasi prosedur penyelamatan oleh juri dan panitia. “Keterampilan Water Rescue dan Jungle Rescue sangat penting bagi anggota MDMC. Karena menurut data, di Jawa Tengah saja pada tahun 2017 ada lebih dari 130 kasus yang diterima MDMC yang sangat membutuhkan keterampilan tersebut,” jelas Faruq. Faruq menambahkan, kegiatan ini tidak berfokus pada lomba saja, namun yang lebih penting adalah setiap tim yang bertanding mengetahui kekurangan dalam melakukan prosedur penyelamatan dan bisa melakukan perbaikan ke depannya. “Harapannya, kompetisi ini bisa menjadi tolak ukur kompetensi setiap kontingen yang berlomba dan bisa meningkatkan keterampilannya,” pungkas anggota Bidang Diklat Pimpinan Pusat (PP) MDMC tersebut. Salah satu peserta jambore, Kawir, juga menyadari pentingnya kompetensi setiap anggota MDMC dalam dua hal tersebut. Ia juga mengakui, kompetensi itu lebih penting daripada kemenangan lomba. Selain menjadi ajang silaturahmi dan reuni MDMC seluruh Indonesia, bagi Kawir kegiatan ini juga merupakan alat untuk mengukur dan meningkatkan kemampuan tim yang berlomba. “Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Saya harap, ke depan MDMC bisa menjadi lebih baik lagi dalam mengcover kasus-kasus bencana alam di Indonesia. Karena itu sudah menjadi tanggung jawab kami terhadap umat,” tegas anggota MDMC Kudus itu. (iel/han)

Forum Alumni Prodi Agribisnis Siap Angkat Citra UMM

PROGRAM Studi (prodi) Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki cara unik dalam mengenang masa-masa kuliah. Alumni Prodi Agribisnis mulai angkatan 1984 sampai 2013 itu melaksanakan reuni dengan mengusung tema ‘Helom Ngalam Ker’ yang berarti ‘Moleh Malang Rek’ dalam Bahasa Walikan Malang. Bila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, artinya adalah ‘Pulang Malang Rek’. Pemilihan tema ini lantaran alumni prodi Agribisnis UMM berasal dari berbagai penjuru tanah air. Sehingga, ketika reuni diselenggarakan, para alumni seakan dibuat kembali pulang ke Malang, di mana Kota Malang dan UMM pernah menjadi tempat tinggal selama sedikitnya empat tahun. “Menjalin silaturahmi, juga sekaligus menginformasikan pada para alumni bahwa prodi Agribisnis kini telah berakreditasi A. Ini yang perlu kita jual, sekarang tidak lagi kampus negeri atau swasta tapi meski swasta kalau akreditasinya A seperti UMM bisa berpotensi mencetak lulusan yang memiliki daya saing,” tukas Lukito Hari Sediarto selaku Ketua Pelaksana Reuni pada kegiatan reuni yang berlangsung Sabtu (2/12) di Auditorium UMM. Lukito yang juga alumni Agribisnis angkatan 1992 ini menambahkan harapannya melalui reuni ini agar bisa menjadi tonggak awal terbentuknya ikatan alumni jurusan Agribisnis. “Dengan terbentuknya ikatan alumni dalam forum ini, secara tidak langsung kita sudah berupaya membanggakan almamater jas merah kampus putih,” tandas alumni asal Banyuwangi. Dalam reuni ini, juga ada kegiatan sharing story alumni yang memfasilitasi para alumni bercerita pengalaman-pengalaman berkuliah di UMM dan kesuksesannya menyandang gelar sebagai alumni UMM khususnya prodi Agribisnis. Melalui sesi sharing story, alumni bisa menstransfer informasi-informasi yang menginspirasi. (nim/han)

Tim SAR Muhammadiyah Dinilai Krusial Bagi Penanganan Bencana di Indonesia

Kehadiran Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC) dinilai Mendikbud RI Muhadjir Effendy menjadi kekuatan kelima bagi Muhammadiyah. MDMC dipandang melengkapi kekuatan pertama yaitu bidang pendidikan, kekuatan kedua bidang kesehatan, ketiga bidang kesejahteraan sosial, dan kekuatan keempat bidang ekonomi seperti diperankan Lazismu. Hal tersebut disampaikan Muhadjir pada pembukaan Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (1/12). Muhadjir menuturkan, perlu ada revitalisasi peran Muhammadiyah dengan menempatkan bidang penanggulangan bencana sebagai kekuatan baru. “Karena itu, saya sangat mendukung bila amal usaha Muhammadiyah yang besar-besar ini menaruh kepedulian di bidang kebencanaan ini dan bila perlu dibuka program studi kebencanaan di beberapa universitas,” tukas mantan Rektor UMM ini. Disamping itu, penambahan fasilitas dirasa perlu untuk memaksimalkan tim SAR Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana, mengingat pula bahwa Indonesia merupakan negara yang rawan akan bencana. “Dalam kaitannya dengan bencana, saya kira Muhammadiyah harus selalu berada di depan untuk mempelopori pendekatan sainstifik dalam penanggulangan kebencanaan sehingga setiap bencana dapat ditangani dengan baik melalui perencanaan yang baik,” tambah Muhajir. Semangat berbagi dan peduli sesuai jiwa Muhammadiyah turut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nasir dalam sambutannya. “Tugas moral Muhammadiyah adalah bagaimana semangat berbagi dan peduli tanpa pamrih bisa menjadi spirit para elit bangsa sehingga mengurus bangsa ini dengan tulus, dengan jujur dan ikhlas. Bangsa ini bisa maju jika para elit bangsanya tulus dan ikhlas,” kata Haedar Nasir. Seremoni pembukaan ini juga ditandai dengan Deklarasi Pelajar Tangguh Bencana oleh perwakilan pelajar dari berbagai penjuru Indonesia. Deklarasi dipimpin oleh Ketua Bidang Media dan Komunikasi Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Maharina Novia Zahro. Selain itu, para peserta juga dibuat terpukau dengan simulasi penyelamatan bencana dari Tim SAR Medis Muhammadiyah yang dilakukan di Hall UMM Dome. Simulasi penyelamatan bencana kebakaran ini menggunakan teknik vertical rescue, dengan menggunakan tali-temali yang menghubungkan antara Gate A dan Gate C. Kemudian salah satu tim SAR disimulasikan menyelamatkan korban kebakaran melalui gedung yang tinggi. Kegiatan Jambore Nasional ini dilanjutkan dengan paparan umum dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diwakili Deputi Logistik dan Peralatan, Rudi Phadmanto. Melalui paparannya, Rudi menjelaskan peran pentingnya relawan saat terjadi bencana. (nim/han)

Ketua MPR Apresiasi Kiprah Relawan Muhammadiyah Bantu Korban Rohingya

MENJELANG berlangsungnya Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah yang diprakarsai Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) pada 1-4 Desember 2017 di Universitas Muhammadiyah Malang, kegiatan diawali dengan Silaturahim Kebangsaan bersama Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Jumat pagi (1/12) di hall UMM Dome. Kehadiran Zulkifli Hasan, selain silaturahim dengan relawan Muhammadiyah se-Indonesia, sekaligus sebagai ajang sosialisasi Empat Pilar Republik Indonesia. Pada kegiatan ini, Zulkifli menyampaikan rasa bangganya pada MDMC yang telah memberangkatkan sejumlah relawannya untuk mengawal korban krisis kemanusiaan Rohingya di Bangladesh. “MDMC itu keren. Yang lain belum nyampe Rohingya mereka udah sampai duluan ke sana,” ungkap Zulkifli. Senada dengan prinsip relawan MDMC, Zulkifli mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadi masyarakat yang peduli terhadap persoalan-persoalan sosial di sekitar. “Menjadi relawan itu bisa dilakukan siapa saja. Pendidikan Indonesia tidak akan membaik jika masyarakatnya tidak peduli sehingga perlu sebagai masyarakat untuk ambil peran,” jelas Zulkifli. Selain itu, Zulkifli juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah melalui berbagai organisasi dan lembaganya, salah satunya MDMC, telah mengamalkan butir-butir Empat Pilar Kebangsaan RI, salah satunya Pancasila. “Pancasila adalah alat pemersatu dan perilaku yang mempersatukan kita. Menjadi relawan, berbakti, dan memiliki rasa senasib sepenanggungan merupakan cerminan sikap Pancasilais yang dimiliki oleh seluruh anggota MDMC,” jelas Zulkifli. Kegiatan Silaturahim Kebangsaan ini kemudian dilanjutkan pembukaan Jambore Nasional siang harinya yang secara resmi dibuka oleh Mendikbud RI, Muhadjir Effendy. (nis/han)

Rektor UMM Ingin LBH Muhammadiyah Jadi Pelopor Pemartabatan Hukum

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi saksi sejarah pembentukan Lembaga Bantuan Hukum Muhammadiyah (LBHM), Jumat (30/11). Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd., menyampaikan keinginannya agar pendirian LBHM bisa menjadi pelopor dalam pemartabatan bangsa di ranah penegakan hukum. Saat ini, kata Fauzan, banyak terjadi malpraktik-malpraktik, baik itu di bidang hukum, sosial, politik, dan lainnya. Sebagai contoh, vonis Mahkamah Agung (MA) terhadap Baiq Nuril misalnya, adalah satu di antara malpraktik itu. “Nah, pendirian LBHM ini harus jadi pelopor dalam upaya pemartabatan bangsa di bidang hukum,” kata Fauzan. Oleh karena itu, ia berharap, apa yang dilahirkan dalam forum yang dikemas dalam Sarasehan Nasional ini memiliki ciri khas karena itu merupakan bagian dari etalase gerakan Muhammadiyah di masa mendatang. “Jangan sampai apa yang kita lahirkan di era milenial ini, tapi sepak terjangnya tidak bisa acceptable,” ungkapnya. Fauzan mengingatkan, agar tidak menjadikan hukum sebagai satu-satunya cara untuk mengambil solusi dari sebuah permasalahan. “Penegakan hukum penting. Tapi banyak cara lain yang juga bisa kita lakukan,” tuturnya. Sementara, Budayawan Emha Ainun Najib alias Cak Nun menyampaikan harapannya agar para pelaku bantuan hukum Muhammadiyah bisa mendasari dirinya dengan memperkaya wawasan, memperkuat mental, memastikan akidah dan memastikan bahwa Allah bersamanya. Pasalnya, masyarakat bangsa ini sedang dikepung oleh Dajjal, yang mengaku paling syar’i dan lainnya. Padahal itu semua serba palsu. “Jadi, sebelum mengamalkan surat Al Maun, para pelaku bantuan hukum harus mendasari dirinya dengan surat Al Quraisy agar lebih produktif,” katanya. Secara simbolis, peresmian LBHM ini ditandai dengan pembubuhan tanda tangan oleh Ketua PP Muhammadiyah Dr M. Busyro Muqoddas, Ketua MHH PP Muhammadiyah Trisno Rahardjo, Rektor UMM Dr Fauzan, dan Budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun). Dijelaskan Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Dr. Trisno Raharjo, S.H., M.Hum. bahwa Inisiasi LBHM sendiri sebenarnya telah dimulai sejak Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MHH PP Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 2015. “Keinginan untuk mendirikan LBHM ini didasari atas fenomena pembangunan demokrasi di Indonesia, yang menunjukan masih ada masyarakat yang perlu dukungan dan sentuhan advokasi di bidang hukum,” katanya. Menurut dia, selama ini, advokasi yang telah banyak dilakukan oleh Majelis-Lembaga Muhammadiyah baru sebatas pada ranah pemberdayaan an sich. Tapi, belum menyentuh advokasi di ranah hukum. Padahal, lanjut dia, advokasi juga perlu menyentuh dan mendapat dukungan dari profesional di bidang hukum. “Saya berharap semua pihak di internal Persyarikatan bisa saling berkoordinasi dan bersinergi untuk melakukan kegiatan advokasi di bidang hukum. Sebab, kita butuh advokasi yang utamanya berkenaan dengan persoalan hukum, khususnya di internal Muhammadiyah,” tandasnya. Selain Budayawan Emha Ainun Najib, turut hadir sebagai pembicara Akademisi Fakultas Hukum UII, Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.H.; Advokat dan Aktivis HAM, Dr. Bambang Widjojanto, S.H., M.H.; Divisi Komunikasi dan Advokasi Amnesty Internasional Indonesia, Haeril Halim. Serta hadir pembicara lain dari kalangan Muhammadiyah sendiri, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Kebijakan Publik, Dr. H.M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum. (*mir/hnd/can)

Raker Akademik, Siapkan Langkah Strategis Tingkatkan Daya Saing UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Rapat Kerja Terbatas Bidang Akademik, Kamis (30/11). Raker ini sebagai upaya membangun kekuatan akademik, mulai tingkat program studi hingga universitas, baik jenjang sarjana maupun pascasarjana di lingkungan UMM. Dilaksanakan di Sengkaling Convention Hall, Raker Bidang Akademik dihadiri Rektor, Wakil Rektor I, II, III, dan anggota Komisi I Bidang E-Learning, Komisi II Bidang Kewirausahaan, Komisi III Bidang Publikasi Ilmiah, Komisi IV Bidang Layanan Akademik, dan Komisi V Bidang Best Practice. Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya menghimbau agar UMM ikut ambil bagian dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Menambahkan hal itu, Fauzan turut berpesan agar dalam mengampil keputusan sebaiknya memperhatikan dua aspek, yaitu memutuskan secara strategis dan harus prestisius. “Membawa UMM menjadi bagian tak terpisahkan dari dimensi masyarakat, juga meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa dalam konteks proporsional dengan cara yang humanis,” tandas Fauzan. Raker ini terbagi dalam tiga sesi, yaitu strategi peningkatan kualitas pembelajaran menuju internasionalisasi, manajemen tata kelola bidang akademik dalam upaya mencapai outcome pendidikan yang berdaya saing, serta sidang komisi. Sebelum masuk pada tiga sesi tersebut, lebih dulu Wakil Rektor I, II, dan III menyampaikan arah kebijakan masing-masing bidang. Wakil Rektor I bidang akademik yaitu terkait pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor II pada bidang administrasi umum, keuangan, sarana prasarana dan kepegawaian. Sementara Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan dan alumni. (nim/han)

Jambore Relawan Muhammadiyah di UMM, Sediakan Dapur Umum Ramah Lingkungan

KEHADIRAN dapur umum pada Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah ke-2 yang diadakan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipandang penting untuk mengedukasi relawan  dalam menejemen logistic. Dapur UMM berpusat di UMM Dome. Untuk dapur umum ini, MDMC menggandeng Badan Pelayanan Pajak Daerah (BPPD) Kota Malang dan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Malang. Disampaikan Koordinator Dapur Umum Jambore Eko Harimursanto, keberadaan fasilitas ini sebagai upaya meningkatkan keterampilan menejemen dapur umum. Hal itu, dikatakan Eko, agar saat penanggulangan bencana, kemampuan tersebut dapat diaplikasikan. “Kami ingin mengedukasi ibu-ibu Aisiyah Malang Raya dalam mengelola dapur umum,” kata Eko. Dengan adanya dapur umum, para relawan akan dididik tentang manajemen, standar makanan, jenis makanan dan sebagainya. Sehingga, kegiatan jambore akan memberikan pengalaman berharga dalam menghadapi situasi kedaruratan. Dapur Umum Jambore Nasional kali ini mengusung konsep ramah lingkungan. Personil dapur umum tidak akan menyajikan makanan bungkus untuk mengurangi sampah dan penggunaan kertas atau plastik. Selain itu, makanan yang disediakan akan disajikan dengan konsep semi prasmanan dan peserta membawa peralatan makan masing-masing. Makanan yang disediakan dapur umum akan dikelola langsung oleh chef yang berpengalaman. Sehingga, makanan yang disediakan akan sesuai standar makanan sehat. Menu makanan yang disediakan pun tiap hari berbeda mulai dari nasi goreng, lodeh, ikan gembung, ikan bandeng dan sebagainya. “Jambore kali ini tidak lepas dari dapur umum. Apabila nanti terlambat semua kegiatan berikutnya juga akan terlambat, makanya kami support teman-teman dapur umum untuk dapat memberikan pelayanan terbaik,” tutup Eko. (*/han)

Sambut Jambore Nasional, Relawan Muhammadiyah Bakti Kesehatan di Kedung Kandang

SENADA dengan tema Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah ke-2 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pada 1-4 Desember 2017 yaitu ‘Merekat Kebersamaan, Meningkatkan Ketangguhan’, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) melakukan pemeriksaan kesehatan untuk warga Kedung Kandang Bumiayu, Malang. Pada kegiatan yang telah dilakukan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 15 pada 30 November 2017 itu, MDMC bersinergi dengan RSI Aisyiyah Malang. Disampaikan Ketua MDMC Budi Setiawan, pada jambore ini MDMC turut merangkul warga di sekitar lokasi jambore untuk perduli dengan kesehatan. Terlebih, kata Budi, lokasi yang digunakan untuk pemeriksaan kesehatan merupakan wilayah yang sulit untuk akses kesehatan. “Pemeriksaan kesehatan sebagai wujud kebermanfaatan bersama di tengah masyarakat dan momentum jambore ini bukan hanya milik relawan tapi milik semua masyarakat,” tutup ketua MDMC. Herman Setiawan, relawan Muhammadiyah Kota Malang menyampaikan bahwa RSI Aisyah telah berpartisipasi penuh dalam kegiatan jambore. Dalam hal ini MDMC bersinergi bersama RSI Aisyiah memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. “Di sini kita melakukan screening awal pada warga yang datang, kemudian jika dirasa memerlukan tindakan lanjut kita rujuk ke RSI Aisyiah Malang,” pungkas Herman. (*/han)