UMM Tuan Rumah Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah MDMC

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) tengah bersiap menjadi tuan rumah Jambore Nasional yang diadakan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, yaitu 1-4 Desember 2017 ini akan dihadiri kurang lebih 2000 relawan yang berasal dari perwakilan anggota Muhammadiyah dan Aisyiah. Kegiatan ini dijadwalkan akan dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Puan Maharani dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan. Mengusung tema ‘Merekat Kebersamaan, Meningkatkan Ketangguhan’, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh anggota siaga bencana Muhammadiyah dan Aisyiah dari Sabang hingga Merauke. Selain itu, kesiapan setiap daerah untuk menangani bencana dengan cepat juga perlu untuk diasah. Wakil Ketua Panitia Kegiatan, Zakarija Achmat, memamaparkan bahwa kegiatan ini juga sebagai sarana peningkatan kapasitas dan kredibiltas tim relawan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang tergabung dalam tim relawan naungan Muhammadiyah lainnya. “Kegiatan ini memang awalnya sebagai sarana silaturahim antar anggota MDMC, namun dalam rangkaian kegiatan silaturahim juga harus dapat meningkatkan kapasitas dan kredibilitas anggota,” ungkap Zakarija. Rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama empat hari ini di antaranya adalah seminar tentang kebencanaan, lomba-lomba penanganan bencana, dan simulasi penanganan bencana. (nis/han)
UMM-Pemkab Probolinggo Teken MoU Pengembangan Sumber Daya Alam

BANYAKNYA potensi sumber daya alam Kabupaten Probolinggo yang minim pemanfaatannya membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo mengajak Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk bermitra. Ditandai penandatanganan memorandum of understanding (MoU) di Aula Teknik UMM (27/11), kedua pihak bersapakan menjalin kerjasama. Hadir pada kegiatan ini, Asisten Sekertaris Bupati Probolinggo sebagai perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Penandatanganan MoU turut dihadiri perwakilan dosen dari seluruh fakultas di lingkungan UMM. MoU ini menjadi sebuah nilai plus bagi UMM melalui DPPM atas terus berkembangnya kerjasama di bidang pengabdian masyarakat. Sementara itu, Sujono, Kepala DPPM UMM, menyampaikan bahwa kerjasama yang terus dibangun oleh DPPM dapat menjadi jalan pintas bagi mahasiswa atau dosen yang ingin melaksanakan pengabdian masyarakat. “Kerjasama yang sekarang telah dibangun dapat menjadi sebuah sarana mempermudah kita semua civitas akademika UMM untuk dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas pengabdian masyarakat,” ungkap Sujono. Sementara bagi Pemkab Probolinggo, kerjasama ini diharapkan dapat terus membawa dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat Probolinggo. “Probolinggo itu punya sumber daya alam yang melimpah, mungkin saja angin gending bisa membantu untuk membangun PLTAN,” kata Asy’ari, Asisten Administasi Pemerintah dan Kesra Pemkab Probolinggo,. Selepas MoU, DPPM dan Pemkab Probolinggo melanjutkan pembahahasan MoU melalui rapat perjanjian kerjasama. Pada kesempatan ini pula, para dosen yang sudah melaksanakan penelitian atau pengabdian masyarakat juga mendapatkan pelatihan khusus terkait sistem informasi baru milik Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti). (nis/han)
Bayu Dharmala: Langganan Juara Debat, Raih Beasiswa ke Eropa

AKTIF terlibat di berbagai kegiatan kampus membuat Bayu Dharmala tak hanya sukses secara akademik, namun juga memiliki prestasi dan pengalaman internasional. Selama menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Bayu pernah menjuarai ESP Open Debate Championship 2014 serta Maliki National Debate Tournament 2015 dan 2016. Bayu juga berhasil lolos beasiswa pertukaran Erasmus+ di University of Murcia, Spanyol. Selama enam bulan belajar Linguistics and Literature di Murcia, Bayu banyak mendapat pengalaman dan tantangan baru lantaran perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dan Spanyol. Tak lama setelah kembali dari Spanyol, Bayu pun lulus dan diwisuda (25/11) dengan Indek Prestasi Komulatif (IPK) 3,97. Di UMM, beberapa organisasi yang diikuti Bayu yaitu International Language Forum (ILF) sebagai anggota dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris sebagai wakil ketua. Tak hanya itu, secara bersamaan ia pun aktif mengajar di sejumlah lembaga pendidikan di kota Malang, baik itu di SD, SMA maupun lembaga bimbingan belajar. Di jurusannya pun, yaitu program studi Bahasa Inggris UMM, Bayu memiliki pengalaman sebagai mentor mahasiswa semester dua. “Belajar di kelas menambah ilmu dan pengetahuan. Sedangkan ikut organisasi bisa meningkatkan skill manajemen waktu. Selain itu juga bisa bertemu banyak orang dengan berbagai karakter dan latar belakang yang tidak didapatkan di kelas,” ujar Bayu. Sementara itu selama di Spanyol, Bayu mengaku berusaha ekstra keras karena di sana kuliahnya tidak hanya teori di kelas, tapi juga ada praktik. Dalam satu minggu, ada empat mata kuliah yang diambil sehingga ada empat praktik yang harus dikerjakan. “Aku sering ke dosen untuk dijelaskan ulang kalau ada materi yang kurang paham, juga pinjam buku-buku di perpustakaan,” ujar penyuka novel ini. Bagi Bayu, segala kesuksesannya itu tak lepas dari doa orang tuanya. “Orang tua selalu memberi wejangan agar bisa go international. Motivasi melakukan semua ini ya untuk orang tua, untuk membahagiakan mereka,” tutup mahasiswa asal Pasuruan ini. (nim/han)
Uniknya Perayaan Hari Guru di UMM, Civitas Akademika Kompak Nyanyikan Hymne Guru

SETIAP tahun, mahasiswa dan dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperingati Hari Guru dengan perayaan yang unik. Ribuan mahasiswa, karyawan, dan dosen, khususnya yang kuliah di Fakultas Pendidikan dan Keguruan (FKIP), bersama-sama melantunkan “Hymne Guru” di pelataran Gedung Kuliah Bersama I (GKB I) UMM dan balkon-balkon di masing-masing lantai di gedung berlantai enam itu. Perayaan yang berlangsung Senin (27/11) ini digelar atas inisiasi FKIP UMM bersama Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP UMM. Jajaran civitas akademika dan mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Civic Hukum dan Pendidikan Agama Islam kompak mengenakan atribut batik dan memenuhi gedung perkuliahan itu. Wakil Dekan I FKIP Sudiran mengungkapkan, ada tiga tantangan yang harus dihadapi oleh guru, yaitu kualitas guru, pemerataan, dan kesejahteraan mereka. Sudiran menerangkan, kualitas guru harus terus ditingkatkan, salah satunya melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dapat diikuti mahasiswa setelah menyelesaikan jenjang sarjana. Sementara pemerataan guru, lanjut Sudiran, dapat dilakukan melalui program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T). Adapun tantangan ketiga terkait kesejahteraan dan kemakmuran guru yang tidak merata di Indonesia. “Kita semua di sini terpanggil memperingati Hari Guru Nasional dalam rangka membantu menyejahterakan guru melalui upaya yang kita bisa. Pohon beringin di hutan rimba, pohonnya menjulang ke atas awan. Jadilah guru harapan bangsa, karena guru pencerah peradaban,” pungkas Sudiran sembari berpantun. Suasana haru menyeruak saat dosen dan mahasiswa secara bersamaan menyanyikan lagu “Hymne Guru”. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Fatin Naja, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Melalui acara ini, Wakil Dekan III FKIP Rohmad Widodo berpesan kepada mahasiswa untuk dapat menghayati nilai-nilai peringatan Hari Guru agar dapat menjadi guru yang profesional. “Mahasiswa UMM harus bisa memenuhi empat kompetensi guru profesional, yaitu pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian sehingga kekurangan guru saat ini bisa dipenuhi mahasiswa FKIP UMM nantinya,” tukas Rohmad. Sementara itu, Ketua BEM FKIP Ahmad Rofiuddin mengaku perayaan Hari Guru Nasional ini menjadi refleksi untuk dirinya dan juga mahasiswa FKIP lainnya tentang perjuangan guru dan bagaimana menjadi guru pada masa depan. Hal senada diungkapkan Lia selaku mahasiswa semester lima Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. “Semoga peringatan ini menjadi budaya di UMM agar kami mahasiswa FKIP terus diingatkan akan jasa-jasa guru, karena tanpa mereka, tanpa guru-guru, mungkin tidak akan ada profesi-profesi lain,” tutur Lia. (nim/han)
Rekat Kebersamaan, UMM Tiada Henti Mengabdi

DALAM ikhtiarnya mengabdi pada masyarakat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) senantiasa mengajak berbagai lembaga maupun elemen lintas etnis, agama, dan golongan untuk bergerak bersama. Terlebih, hal itu sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang menjadi jargon miladnya ke-105, yaitu “Merekat Kebersamaan”. Disebut Rektor UMM, Fauzan, saat ini UMM juga intens berjejaring dengan para pengusaha Tionghoa yang tergabung dalam komunitas Indonesia Tionghoa (INTI) membuka ruang bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) milik masyarakat maupun produk riset milik dosen dan mahasiswa agar bisa bersaing melalui dukungan investor. Hal itu pula yang menjadi spirit UMM menggelar Festival Kebangsaan bulan lalu. “Semangat yang kita bawa dalam festival itu adalah spirit untuk mengembalikan trah dan rasa nasionalisme di tengah krisis identitas yang sedang melanda bangsa Indonesia. Semangat itu dibangun dengan merekatkan berbagai elemen masyarakat dan suku bangsa untuk bergerak dan maju bersama,” jelasnya. Bagi UMKM, jejaring ini sangat bermanfaat agar usaha mereka bisa memasuki pasar yang lebih luas. Sementara bagi UMM, hal itu sekaligus menunjang hilirisasi dan komersialisasi hasil riset yang telah lama dijalankan. Untuk penguatan riset pun, kualitas laboratorium UMM sudah sangat mumpuni. Terakhir, laboratorium UMM baru saja meraih akreditasi ISO 9001 dan ISO 17025 dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). Rinciannya, empat laboratorim, yaitu Laboratorium Nutrisi, Laboratorium Bioteknologi, Laboratorium Biologi, dan Laboratorium Ilmu Teknologi Pangan (ITP) meraih ISO 9001. Sementara pengujian proxima, uji total gula, uji protein, uji total plate count (TPC), dan uji antosianin meraih ISO 17025. Kepala Laboratorium Sentral UMM Elfi Anis Saati menjelaskan, dengan adanya pengakuan ISO 9001 dan ISO 17025 tersebut, laboratorium akan lebih kredibel dalam mengeluarkan hasil uji laboratorium, terutama di luar aktivitas belajar mengajar. “Selain melayani pengujian oleh mahasiswa dan dosen, laboratorium juga melayani pengujian dari pihak luar, termasuk masyarakat umum, lembaga negara, swasta dan UMKM,” paparnya. Tak heran pula, jika UMM lantas kembali mendapat amanah dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk menyandang akreditasi institusi A. Raihan yang kian meneguhkan, bahwa kiprah UMM akan terus bermakna bagi masyarakat, bangsa dan peradaban. Sejalan dengan motto, dari Muhammadiyah untuk bangsa. Sementara itu dalam konteks yang lebih luas, UMM berupaya menjadi inisiator kebangkitan semangat Islam untuk perabadan dunia. Melalui kegiatan Annual International Conference on Islam and Civilization (AICIC) pada 17-19 November lalu, UMM mengajak umat Islam dari berbagai belahan dunia untuk duduk bersama dan memberikan solusi nyata terhadap pelbagai persoalan yang tengah dihadapi dunia saat ini. (han)
Hajriyanto Y Thohari: Para Pendiri Bangsa Adalah Aktivis Mahasiswa

TOKOH Muhammadiyah yang juga mantan Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Y Thohari hadir di acara Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) untuk memberikan materi “Dinamika Gerakan Mahasiswa” pada para aktivis dan pemimpin organisasi kemahasiswaan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan LKMM berlangsung tiga hari (25-27/11). Pengalaman Hajriyanto, baik di Muhammadiyah, di MPR, maupun sebagai ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah periode 1993-1998 dinilai amat berharga bagi para aktivis mahasiswa UMM. Pada kesempatan ini, Hajriyanto menyampaikan bahwa peran mahasiswa bagi masyarakat dan bangsa sangat vital. Jadi akan sangat disayangkan jika mahasiswa tidak ikut serta di dalam sebuah organisasi. “Bahkan para pendiri bangsa pun, yaitu Soekarno dan Mohammad Hatta, awalnya merupakan mahasiswa dan aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan,” jelasnya. Selain itu, lanjut Hajriyanto, ia berpesan bahwa setiap organisasi harus bisa melahirkan pemimpin seperti organisasi Muhammadiyah yang juga melahirkan banyak pemimpin. Menurutnya, aneh jika ada organisasi yang tidak bisa membentuk anggotanya menjadi seseorang yang berjiwa pemimpin. “Pemimpin yang dilahirkan oleh suatu organisasi sangat diharapkan bisa menjadi pemimpin di organisasi lain, dengan tujuan pemimpin tersebut bisa berkembang lagi lebih jauh,” pungkasnya. (iel/han)
Menteri Perindustrian Harapkan Lulusan UMM Siap Hadapi Revolusi Industri Keempat

KEHADIRAN Menteri Perindustrian RI, Ir Airlangga Hartarto MBA MMT, pada perhelatan Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-86 (25/11) di UMM Dome, menjadi motivasi berharga bagi 1.406 wisudawan-wisudawati yang akan memasuki dunia industri. Apalagi, menurut Airlangga, Indonesia tengah menyongsong revolusi industri keempat. Dalam kaitan ini, Airlangga menyinggung salah satu prestasi yang baru-baru ini diraih UMM, yakni keberhasilan Tim Robot UMM menjuarai kontes robot internasional pada Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) di Amerika Serikat. Ia berpendapat, prestasi itu merupakan modal penting UMM memasuki revolusi industri keempat tersebut. Revolusi yang ditandainya dengan fenomena di mana internet menjadi bagian integral dari proses industri. “Prestasi ini adalah langkah awal. Saya berharap UMM dapat menjadikan prestasi ini sebagai fondasi dibangunnya pusat inovasi robotik. Karena revolusi industri keempat ini sangat erat kaitannya dengan otomatisasi,” tutur peraih Australian Alumni Award for Entrepreneurship pada 2009 ini. Menurut Airlangga, saat ini, dalam upaya menghadapi revolusi industri keempat, Indonesia dalam proporsi ekonominya dapat kategorikan sebagai negara industri, karena sektor industri Indonesia adalah penyumbang terbesar bagi perekonomian. Lebih dari 20% ekonomi Indonesia berasal dari sektor Industri. “Dengan kontribusi tersebut, Indonesia telah masuk dalam 10 besar dunia. Sejajar dengan Brazil dan Inggris serta lebih besar dari Rusia. Bahkan, bila kita mengacu kepada presentase saja, maka Indonesia berada di atas Amerika”, tegasnya. Kehadiran Menteri Perindustrian ini, diharapkan Rektor UMM Fauzan, dapat menginspirasi lulusan UMM agar bisa bersaing di pasar industri nasional dan global. Fauzan juga berharap, jika nantinya mereka sukses agar tak lupa pada UMM. “Ke Bangkalan membeli teri, tinggal ikan wader cukup dipepes. Selamat jalan wisudawan wisudawati, jangan lupa almamater kalau sudah sukses,” kata Fauzan sembari berpantun. Dalam gelaran wisuda ini juga dilakukan penandatangan memorandum of understanding (MoU) antara UMM dengan Mate-Care CoLtd, asosiasi rumah sakit yang berpusat di Jepang. Inti dari MoU tersebut adalah Mate-Care akan memberdayakan lulusan keperawatan UMM di rumah sakit lansia di Jepang. Selain itu, juga dilakukan penyerahan sertifikasi akreditasi dari Kepala Badan Sertifikasi Nasional Prof Dr Ir Bambang Prasetya MSc serta Koordinator Kopertis Wilayah VII Prof Dr Ir Suprapto DEA. (iel/han)
Menteri Perdagangan Ajak Mahasiswa UMM Berinovasi Majukan Bangsa

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) tengah bersiap memprogram jangka perkuliahan empat tahun pasti lulus dan menjamin pekerjaan bagi alumni. Selaras dengan rencana itu, kehadiran Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita pada Kuliah Tamu (24/11) di UMM Dome menjadi angin segar bagi mahasiswa UMM. “Kehadiran Pak Menteri ini adalah amunisi bagi para mahasiswa UMM untuk memacu semangat belajar, semangat mandiri, semangat berwirausaha sehingga bisa menjadi orang sukses,” ungkap Rektor UMM, Fauzan. Senada dengan cita-cita UMM, Lukita menyampaikan bahwa mahasiswa UMM sebagai bagian dari peradaban Indonesia harus ikut andil menyejahterakan masyarakat Indonesia yang berpopulasi 258 juta jiwa. “Indonesia memiliki 285 juta jiwa dan dari sisi perdagangan bebas jumlah tersebut merupakan potensi pasar luar biasa. Namun, akan sia-sia jika jumlah tersebut hanya menjadi pasar bagi negara lain,” ungkap Lukita. Ditambahkan Lukita, negosiasi untuk membangun pasar ekonomi tingkat ASEAN harus didukung SDM yang berkualitas. Selain negosiasi dengan pihak luar, Lukita juga mengajak mahasiswa UMM berinovasi dan berkreasi meningkatkan produksi dalam negeri. “Dalam rangka menjaga amanat presiden, saya mengajak seluruh civitas akedemika di UMM untuk bersama menciptakan produk lokal yang dapat bersaing dengan produk negara lain,” ujar Lukita. Selain mengajak mahasiswa UMM menjadi wirausahawan, kehadiran Lukita juga mengajak petinggi UMM merencanakan pengadaan fasilitas pendukung proses belajar mahasiswa UMM menjadi seorang wirausahan. Pada kuliah tamu ini, ajakan untuk menjadi petani modern dan memahami pasar modern juga disampaikan oleh Lukita. “UMM sudah menjadi universitas yang prestisius sehingga peluang mahasiswa UMM sangat besar untuk ikut andil dalam kemajuan bangsa. Saya bangga dengan UMM,” jelas Lukita. (nis/han)
Melalui LKMM, Aktivis Mahasiswa se-UMM Dilatih Para Tokoh Bangsa

LATIHAN Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang digelar Biro Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi momen berharga bagi para pimpinan dan aktivis mahasiswa se-UMM untuk meningkatkan skill dan jejaring kepemimpinan mereka. Bagaimana tidak, kegiatan yang berlangsung tiga hari (25-27/11) ini menghadirkan sejumlah tokoh bangsa dan persyarikatan. Beberapa di antaranya yaitu anggota Dewan Pertimbangan Presiden Abdul Malik Fadjar, mantan Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Y Thohari, Rektor UMM Fauzan, staf khusus Kemdikbud RI Nasrullah, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Nur Cholis Huda, dan konsultan media Anwar Hudijono. Pada kesempatan ini, Malik Fadjar mengangkat isu-isu kenegaraan dan kebangsaan yang harus diidentifikasi secara dini oleh mahasiswa. “Mahasiswa itu harus bisa membaca situasi dan dinamisme situsasi sosial dalam hidup berbangsa dan bernegara, karena anda semua adalah orang-orang yang akan memimpin pada lima hingga sepuluh tahun lagi,” papar Malik. Pada kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berada di dalam ruang kelas untuk mendapatkan materi namun juga kegiatan di luar ruangan berupa outbond yang dipandu Tim Psikologi UMM. Luaran dari kegiatan ini adalah terbentuknya keterampilan mahasiswa dalam mengorganisasi diri secara individual maupun berkelompok. (nis/han)
Gelar Workshop Kehumasan, Fakultas dan Prodi di UMM Dilatih Kuasai Arena Digital

“Semua orang bisa menjadi Humas, tak terkecuali mereka yang tidak memiliki background keilmuan komunikasi sekalipun,” ujar Rina Wahyu Setyaningrum, Kepala Humas UMM, saat membuka acara Pelatihan Kehumasan dan Pengelolaan Website Fakultas dan Program Studi yang digelar Senin (20/11) di Ruang Sidang Senat UMM. Pada kesempatan ini, Rina menekankan pentingnya mengelola website agar diminati masyarakat. Baginya, selain tampilan harus kekinian, kunci untuk menguasai arena digital adalah kemampuan bercerita agar memikat banyak orang untuk membaca dan menelusuri lebih lanjut. Cerita yang menarik itu harus termuat dalam setiap konten publikasi universitas, fakultas, maupun prodi di UMM. Humas UMM juga memberi kesempatan untuk seluruh pengelola website fakultas dan prodi untuk belajar mengelola website prodi dan fakultas agar lebih profesional. “Pengelola website prodi dan fakultas kami anggap sebagai Humas di level prodi dan fakultas. Oleh karena itu kami perlu berkolaborasi, belajar bersama agar bisa mengelola university branding dengan sebaik-baiknya,”imbuh Rina. Sekitar 38 orang pengelola website prodi dan fakultas menghadiri pelatihan yang digelar setengah hari ini. Mereka tampak antusias mengikuti pelatihan tersebut. Apalagi saat peserta pelatihan diminta untuk mencoba menulis berita singkat terkait acara pelatihan.Beberapa peserta yang notabene tidak memiliki background sebagai penulis terlihat agak kesulitan menyusun beritanya. Namun, Subhan Setowara, salah satu pembicara pelatihan yang memberikan materi “Cara Menulis Berita”, dengan telaten memberikan arahan pada peserta. Ia meminta peserta untuk mengumpulkan data terkait kegiatan terlebih dahulu. Dimulai dari menulis nama acara, penyelenggara, tanggal dan tempat kegiatan. Selanjutnya, setelah mengumpulan data awal tersebut, baru kemudian mencari hal-hal yang menarik dari kegiatan ini. Hal-hal yang menarik ini diharapkan mampu menstimulasi agar orang lain tertarik untuk membaca tulisan kita. Haryo Prasodjo, dosen Hubungan Internasional UMM yang menjadi pengelola website prodi HI mengaku awalnya sempat kesulitan memulai membuat tulisan, namun setelah mencoba untuk mencari data-data penting yang menarik, ia berhasil menyelesaikan beritanya dengan baik. Selain belajar menulis berita untuk website, para peserta juga belajar bagaimana mengelola layout atau desain tata letak website. Rata-rata permasalahan yang dihadapi pengelola website adalah kesulitan dalam menata template dan desain tata letak tulisan. “Kalau untuk masalah konten, di website prodi kami tidak ada masalah. Namun dari sisi pengelolaan tata letak dan teknis mengatur template yang sulit karena keterbatasan keahlian pengelola. Saya rasa pelatihan ini sangat bermanfaat bagi saya sebagai pengelola website prodi Ikom. Saya berharap pelatihan seperti ini bisa diadakan secara kontinyu,” harap Winda Hardyanti,pengelola website Prodi Ilmu Komunikasi UMM. (wnd/rob/han)