UMM FC Juarai Torabika Campus Cup 2017

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menyabet juara satu dalam kompetisi Torabika Campus Cup (TCC) 2017. Ajang TCC yang digelar di Stadion Universitas Negeri Malang (UM) ini merupakan turnamen sepakbola yang diselenggarakan setiap tahun. Sebelumnya, UMM terlebih lebih dulu mengalahkan tim Universitas Brawijaya (UB) dengan skor 3-0, kemudian mengungguli Universitas Dr Soetomo Surabaya (Unitomo) dengan skor 2-1. Sorak sorai dukungan supporter UMM membangkitkan gelora semangat tim untuk bertanding dengan baik. Hasilnya di final (2/11) UMM tampil memukau dengan menaklukkan tuan rumah UM dengan skor 2-0. Keunggulan tim UMM tidak lepas dari persiapan yang matang. Dipimpin coach Edi, proses seleksi menjadi langkah awal untuk menentukan pemain yang memenuhi kualifikasi. Para pemain yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UMM Football Club (UMM FC) melewati seleksi dalam tiga tahap meliputi ketahanan fisik, ketangkasan dan pemahaman yang baik terkait bola. Setelah didapatkan 16 pemain yang memenuhi kualifikasi, latihan dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Berupaya mengukur kemampuan setelah rutin berlatih, tim TCC UMM dua kali melakukan uji coba melawan tim dari STIE Malang Kucecwara dengan skor UMM unggul 6-0 dan tim dari Sekolah Sepak Bola Kasembon, Kabupaten Malang. Persiapan yang intens ini mampu membentuk tim sepak bola UMM yang tangguh dan penuh strategi. “Membawa nama UMM jadi kita satu tim harus terus berjuang sampai menang,” ungkap Abusalam Kulum, mahasiswa UMM asal Thailand yang juga menjadi second striker dalam kompetisi ini. Sempat mencetak gol pada final, Muhammad Dicky Haedar selaku gelandang tim UMM merasakan atmosfir yang luar biasa pada kompetisi ini. “Kami mendapat motivasi dari para coach bahwa setiap pertandingan adalah final, dengan begitu kami akan terus maksimal dalam bertanding,” ujar Dicky dengan bangga. Kemenangan UMM sekaligus menjadikannya sebagai wakil Jawa Timur dalam ajang Torabika Campus Cup 2017 melawan Padang, Jakarta, Bandung dan Makasar. (nim/han)
Muhammadiyah Siapkan Metode Ajarkan Islam Toleran Bagi Mahasiswa Non-Muslim

RIBUAN mahasiswa non-Muslim yang kuliah di sejumah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) menjadi perhatian khusus bagi Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Menindaklanjuti hal tersebut, sejumlah PTM di Indonesia, terkhusus PTM yang berada di wilayah Timur Indonesia datang ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membincang metode dan materi pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) untuk mahasiswa non-Muslim. Diadakan di Hotel UMM Inn akhir pekan lalu (3-4/11) kegiatan ini dirangkai dalam Workshop Panduan AIK untuk Non-Muslim. Workshop ini dihadiri oleh perwakilan Universitas Muhammadiyah Sorong, Universitas Muhammadiyah Kupang, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, dan IKIP Muhammadiyah Maumere. Selain itu juga dari perwakilan STIKOM Jayapura, STKIP Muhammadiyah Sorong, STKIP Muhammadiyah Palopo, STIKES Manado, Universitas Prof Hamka Jakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan tuan rumah UMM. Hadir pula perwakilan Universitas Ma Chung sebagai pembanding pengajaran mata kuliah agama Rektor UMM Fauzan menyampaikan jika program AIK memang memiliki dinamika yang cukup tinggi dan harus mengikuti perkembangan zaman. “Jika model pembelajaran AIK itu hanya untuk kognitif saja tanpa ada tujuan afektif dan konatif, maka nantinya mahasiswa tidak akan dapat mengaplikasikannya dan hanya akan menjadi sekedar mata kuliah,” terang Fauzan. Senada dengan Fauzan, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof Lincolin Arsyad MSc PhD menjelaskan, esensi dari AIK adalah akhlakul karimah. “Di AIK, intinya kita akan dituntun untuk berbuat baik dan berhubungan sosial secara baik,” jelas Lincolin. Asisten Rektor Bidang AIK UMM, Dr Moh Nurhakim MA juga menerangkan, luaran yang diharapkan setelah workshop adalah poin-poin penting hasil diskusi yang bisa diterapkan untuk menyusun kurikulum AIK bagi PTM, khususnya yang mayoritas mahasiswanya non-Muslim. “Contohnya ada di Sorong, Manokwari, Jayapura dan Kupang. PTM di sana mahasiswa non-muslimnya kisaran 60% hingga 90%,” jelasnya. (iel/han)
Lective, Software Perancang Kurikulum Karya Dosen dan Mahasiswa UMM

Galih Wasis Wicaksono, M.Cs. dan Nur Putri Hidayah, M.H. saat berpartisipasi dalam SenasPro 2017 di UMM Dome Oktober lalu Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil membuat software perancang Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) dan perangkat pembelajaran berupa silabus, Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bernama “Lective”. Tim ini terdiri dari dosen UMM Galih Wasis Wicaksono MCs, Nur Putri Hidayah MH dan Dr Hari Windu Asrini, dibantu mahasiswa Teknik Informatika UMM, M Andi Al-Rizqi. Ketua tim peneliti, Galih memaparkan, penelitian yang sudah dimulai sejak 2014 ini berawal dari kesulitan beberapa dosen muda dalam penyusunan kurikulum. Karena dalam realitanya, tidak semua dosen atau tenaga pendidik mendapatkan materi untuk menyusun kurikulum secara reguler. “Oleh karena itu kami berniat untuk mempermudah dan mempersingat penyusunan kurikulum dengan menggunakan software aplikasi,” jelas dosen jurusan Teknik Informatika UMM ini. Nur Putri Hidayah sebagai CMO dan LO tim peneliti juga menambahkan, penelitian yang didanai Kemenristek Dikti ini sampai saat ini sudah memiliki banyak fitur dan produk yakni Lective Gegulang, Lective Huluakan, Paket dan Pelatihan. “Ke depan, kami akan mulai mengembangkan Lective Imbagas yang merupakan software untuk perencanaan penliaian hasil belajar peserta didik. Selain itu rencana lebih jauh lagi, pada 2021 Lective akan bisa mendukung penjaminan mutu dan akreditasi,” jelas dosen Fakultas Hukum UMM ini. Untuk saat ini, lanjut Nur, Lective lebih fokus dalam mencari rekognisi dari lembaga-lembaga pendidikan. “Kami aktif untuk mencari rekognisi dengan cara mengikuti pameran-pameran dan bahkan presentasi langsung ke lembaga berpotensi,” sambungnya. Uniknya, meskipun belum dipasarkan secara profesional, sudah banyak tenaga pendidik maupun lembaga-lembaga pendidikan yang menggunakan produk ini. Selain digunakan di beberapa fakultas di UMM, Lective juga digunakan beberapa tenaga pendidik di Universitas Ma Chung dan Universitas Muhammadiyah Mataram. Total sudah ada 98 dosen, 11 fakultas, dan 41 program studi yang tersebar di Indonesia yang sudah menggunakan produk Lective. (iel/han)
FPP UMM-Harper Adams Kolaborasi Riset Pertanian Organik

FAKULTAS Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM) mengembangkan kolaborasi riset di bidang organic farming bersama Harper Adams University. Dekan FPP UMM David Hermawan berharap, FPP dapat berkarya di tingkat internasional melalui kegiatan penelitian. “Penelitian ini dapat ditingkatkan jika mahasiswa semester akhir dapat memperoleh dosen pembimbing dari universitas di luar negeri,” jelas David. Saat ini, disebut David, dosen-dosen FPP UMM telah banyak melakukan penelitian, setelah kerjasama riset bersama ini berlangsung dekan berharap penelitian ini dapat menjangkau kalangan mahasiswa yang sedang melaksanakan tugas akhir. Diskusi soal riset bersama dilakukan akhir pekan lalu (30/10) antara jajaran dekanat FPP UMM dan Kepala Lembaga Penelitian Harper Adams, Professor Keith Walters. Pada kesempatan ini, Keith Walters menyampaikan keinginannya untuk membangun pertanian khususnya pertanian organik di Indonesia melalui bentuk kolaborasi penelitian. “Pertemuan ini merupakan sebuah kehormatan bagi saya secara pribadi dan kebanggaan bagi Harper Adams karena menjadi salah satu pintu untuk membangun pertanian di Indonesia,” ujarnya. (nis/han)
SMA Muhammadiyah 4 Surabaya Kunjungi UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan dari SMA Muhammadiyah 4 Surabaya, Kamis (2/11). Kunjungan ke UMM tersebut merupakan agenda tahunan SMA Muhammadiyah 4 Surabaya dalam rangka mengenalkan atmosfir perkuliahan di UMM kepada siswa-siswi kelas 12. Sebelum memulai acara, siswa-siswi SMA mengumandangkan yel-yel yang cukup unik yaitu “yaktul woyo woyo”. Dian Azzahra, salah satu siswi SMA yang hadir mengungkapkan bahwa yel-yel itu adalah wujud semangat. “Yaktul itu artinya iya betul, kalau woyo-woyo yaa ungkapan seru aja biar semangat,” ujar Dian menjabarkan makna yel yel. Salah satu guru SMA Muhammadiyah 4 Surabaya, Ahmad Nasihin menyatakan pentingnya adanya kunjungan untuk memberi gambaran kepada siswa siswi SMA. “SMA Muhammadiyah kunjungan ke UMM nyambung ya, diharapkan akan melahirkan intelektual-intelektual yang dapat membangun bangsa,” ungkap Nasihin disela-sela acara. Berlokasi di Teater Dome UMM, Kepala Humas UMM Rina Wahyu Setyaningrum menyampaikan informasi-informasi terkait kampus putih. Di antaranya sejarah UMM dari fase perintisan, fase konsolidasi, fase independensi, hingga fase ekspansi saat ini. Informasi selanjutnya mengenai prestasi-prestasi UMM, informasi beasisiswa dalam dan luar negeri, informasi penerimaan mahasiswa baru dan ditutup dengan sesi tanya jawab seputar UMM. (nim/han)
Gelar Muhammadiyah Update, PSIF Ulas Etika dan Spirit Gerakan Muhammadiyah

PUSAT Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengadakan Muhammadiyah Update. Kali ini melalui bedah buku karya Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy dan Azaki Khoirudin berjudul “Etika Muhammadiyah dan Spirit Peradaban” yang digelar pada Rabu (1/11) di Aula Masjid AR Fachruddin UMM. Ketua PSIF, Dr. Pradana Boy ZTF, M.A. menyampaikan, kegiatan literasi semacam ini sangat penting, terlebih lagi dalam ruang lingkup akademik. Ia juga menjelaskan, pemilihan nama kegiatanMuhammadiyah Update ini juga bukan tanpa alasan. “Muhammadiyah Update ini ada karena kami sadar harus ada yang menjaga pola pikir kemuhammadiyahan sebagai kajian ilmiah, dalam hal ini menjaga mahasiswa dan civitas akademika UMM agar selalu up to date dengan kajian keilmuan di lingkup Muhammadiyah,” jelas Pradana. Dalam buku yang juga diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah ini, lanjut Pradana, selain menjelaskan tentang etos Al-Maun, Muhammadiyah juga digambarkan dalam tiga bentuk, yakni Muhammadiyah sebagai gerakan, Muhammadiyah sebagai pola pikir dan Muhammadiyah sebagai organisasi. “Sebagai gerakan, kita bisa ambil contohnya dari mata kuliah Al-Islam dan Kemuhamadiyahan yang diajarkan di berbagai sekolah Muhammadiyah. Sebagai pola pikir, kita bisa lihat hampir semua masjid di Indonesia saat ini menggunakan sistem takmir, yang notabenenya sistem tersebut merupakan inovasi Muhammadiyah di masa lampau. Dan sebagai organisasi, bisa kita lihat saat ini, Muhammadiyah sudah berkembang dengan strukutur yang menjangkau daerah-daerah dan mempunyai banyak capaian tiap tahunnya,” terangnya. Dengan mengulas bukunya, Zakiyuddin mengungkapkan, seorang cendikiawan harus punya tanggung jawab intelektual atas polemik-polemik di sekitarnya. “ Ilmuan atau cendikiawan harus punya tanggung jawab intelektual, jadi harus bisa memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan. Buku ini merupakan ikhtiar intelektual yang semoga bisa menginspirasi banyak orang,” pungkasnya. (iel/han)
Sertifikasi Keselamatan Kerja Tingkatkan Kualitas Dokter Alumni FK UMM

PEMBEKALAN pengetahuan tentang problematika dan keselamatan tentang Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja (HIPERKES) merupakan hal yang sangat penting bagi para tenaga medis terutama dokter. Untuk itu, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) berupaya menyiapkan keterampilan HIPERKES dan Keselamatan Kerja bagi seluruh alumni yang berminat menjadi dokter perusahaan. Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama antara Unit Pelaksana Teknis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (UPT K3) Provinsi Jawa Timur bersama dengan FK UMM. Peserta yang mengikuti kegiatan ini mayoritas adalah dokter alumni UMM yang telah melakukan sumpah dokter. “Kegiatan ini awalnya hanya diperuntukkan bagi dokter alumni FK UMM dan ternyata peminat dari luar FK UMM cukup banyak ” tutur Ketua Pelaksana Kegiatan, dr Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes. Rangkaian kegiatan pelatihan ini di antaranya penyampaian materi dari beberapa dokter yang telah tersertifikasi Hiperkes dan juga para ahli K3. Selanjutnya, para peserta diajak untuk melakukan factory visit. Peserta akan diajak untuk mengunjungi dan mengamati kesiapan dan kelengkapan K3 di PG Krebet Baru Malang. Luaran kegiatan ini adalah diperolehnya sertifikat kompetensi dibidang HIPERKES dan Keselamatan Kerja. (nis/han)
Milad Pertama, Klinik Surya Medika Sumbawa Siap Beralih Menjadi RS PKU

Merayakan milad pertama Klinik Surya Medika Sumbawa menggelar serangkaian kegiatan Seminar Sumbawa Bebas Narkoba dan Jalan Sehat. Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu (31/10) di pelataran lingkungan dihadiri oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs Fauzan MPd dan jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sumbawa. Menjajaki pencapaian yang memuaskan, saat ini Klinik Surya Medika telah memiliki 51 orang pegawai operasional, empat dokter umum, delapan dokter spesialis, enam poliklinik, enam belas ruang rawat inap, satu ruang bersalin dan satu ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berdasarkan pencapaian tersebut, Klinik Surya Medika yang saat ini pengelolaanya ada di bawah naungan UMM, tengah bersiap untuk berubah status menjadi Rumah Sakit Pelayanan Kesejahteraan Umum (RS PKU). “Fokus kami saat ini ingin merubah status Klinik Surya Medika menjadi Rumah Sakit PKU Surya Medika. Hal tersebut didukung dengan keberadaan tenaga ahli kesehatan kami yang telah memenuhi standart” jelas Direktur Klinik Surya Medika, Yogi Triatma Kusuma. Sebagai bagian dari amal usaha UMM, Klinik Surya Medika saat ini juga berupaya terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan home care bernama Pintu Surya Medika. Selain itu, bekerjasama dengan BNN kinik tersebut juga berfokus menyusun rancangan kegiatan rehabilitasi. (nis/sil)
Perguruan Tinggi Muhammadiyah Satukan Langkah, Ciptakan SDM Guru Berkualitas

LEMBAGA Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (LPTK PTM) menggelar Workshop Pra-jabatan Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada Selasa-Rabu (31/10-01/11) di Aula Hotel UMM Inn, Malang. Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama LPTK PTM bersama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM). Kegiatan dihadiri perwakilan sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), di antaranya Universitas Prof Dr Hamka (UHAMKA), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), STKIP Muhammadiyah Sorong, dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua ALPTK PTM Prof Harun Joko Prayitno. Pada sambutannya, Harun menjelaskan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah awal bagi PTM di Indonesia untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia guru PPG yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan lapangan. “Rangkaian kegiatan-kegiatan yang akan bapak ibu ikuti selama dua hari ini diharapkan dapat menyelaraskan pengkoordinasian dan penyamaan persepsi untuk peningkatan kualitas lulusan PPG,” jelas Harun. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini akan membahas beberapa hal yang akan menjadi kesempatan bersama oleh seluruh PTM yang hadir, di antaranya sistem pembelajaran dan evaluasi, bentukan kurikulum, susunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sistem Program Pengalaman Lapangan (PPL), peningkatan keterlibatan guru pamong, dan upaya peningkatan kualitas pedagogik guru pamong. Di akhir kegiatan ini, diharapkan akan menghasilkan format resmi yang akan digunakan oleh seluruh PTM di Indonesia. (nis/han)
Di UMM, 24 Peneliti HAM Suarakan Hak-hak Minoritas di Indonesia

SEBANYAK 24 peneliti muda hak asasi manusia (HAM) dari berbagai daerah di Indonesia mempresentasikan hasil risetnya tentang hak-hak kelompok minoritas di Indonesia, Selasa (31/10) di Hotel UMM Inn, Malang, Jawa Timur. Presentasi riset ini merupakan kelanjutan dari kursus selevel-master (Master-Level Course/MLC) on Human Rights and Sharia yang diadakan atas kerjasama Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Oslo Coalition Norwegia dan The Asia Foundation (TAF) pada bulan Juli lalu. Selepas MLC, para peneliti itu selanjutnya melakukan mikro riset selama tiga bulan tentang berbagai isu dan persoalan yang dihadapi kelompok minoritas di Indonesia. Hasil riset itulah yang kemudian direview oleh perwakilan PUSAM UMM, Dr Vina Salviana, dan TAF, Dr Budhy Munawar-Rachman. Budhy mengatakan, program MLC yang telah berlangsung sejak 2011 ini sangat menarik karena selalu menghasilkan temuan-temuan yang bermanfaat bagi penegakan HAM di Indonesia. “Tahun ini yang menjadi fokus yaitu kelompok minoritas di Indonesia. Saya tadi baca-baca hasil risetnya menarik sekali. Banyak perspektif. Berbagai problemnya juga menyebar di berbagai daerah di Indonesia,” tutur Budhy. Jika dilihat dari daftar topik riset yang dilakukan para peneliti muda itu, beberapa topik menarik yang diangkat semisal tentang kelompok Dayak Kaharingan di Kalimantan Selatan, hukuman cambuk bagi non-Muslim di Aceh, kasus penutupan patung Kwan Sing Tee Koen di Tuban, studi pemimpin non-Muslim di Pilkada Jakarta, hingga kerjasama Muslim dan Kristiani dalam membangun masjid di Nusa Tenggara Timur. (iel/han)