Nizam, Mahasiswa UMM yang Sukses Jadi Duta Pemuda Kabupaten Malang 2025

Gemuruh sorak-sorai mengiringi detik-detik penentuan juara di Bonderland Waterpark Pakisaji, Kabupaten Malang, pada malam Grand Final Pemilihan Duta Pemuda Kabupaten Malang 2025. Dari puluhan kontestan terbaik, nama Muhammad Nizam Taufiqulhakim akhirnya terpanggil sebagai pemenang putra. Prestasi luar biasa ini tentu menjadi kabar bahagia. Nizam, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2022, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kini resmi menyandang gelar Duta Pemuda Kabupaten Malang 2025. Gelar bergengsi ini mengukuhkannya sebagai Agent of Change dan mendorong partisipasi aktif dalam pembangunan daerah. Duta Pemuda Kabupaten Malang sendiri merupakan ajang yang bertujuan mencari sosok pemuda inspiratif yang siap berandil nyata, menjadi panutan, serta mengembangkan potensi lokal seperti UMKM, budaya, dan pariwisata. Kemenangan Nizam ini menjadi representasi nyata dari semangat mahasiswa UMM yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga non-akademik. Bagi Nizam, prestasi ini merupakan kelanjutan dari minatnya di ajang pemilihan duta yang telah dirintis sejak SMA. “Duta Pemuda ini merupakan ajang pertamaku, dan alhamdulillah berhasil meraih juara satu. Sebelumnya, sejak SMA aku sudah aktif mengikuti berbagai ajang duta mulai dari Duta Sekolah (juara satu), kemudian Duta Anti-Narkoba namun belum juara, hingga saat kuliah ikut Putra Putri Kampus dan meraih juara dua. Setelah itu, aku kembali mencoba di Duta Pemuda dan kembali bersyukur bisa meraih juara satu,” ujarnya. Ia membawa program unggulan yang berfokus pada digitalisasi kearifan lokal. Program ini lahir dari latar belakangnya di Ilmu Komunikasi dan bekal ilmu dari program Center of Excellence (CoE) UMM. CoE UMM adalah program unggulan universitas yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi dan keahlian spesifik mahasiswa sesuai kebutuhan industri dan dunia kerja, melalui kelas-kelas profesional. Nizam fokus pada bidang media digital. “Akhirnya aku membawa diriku sebagai social media supervisor. Nah, akhirnya aku programnya fokus ke media digital, yaitu membuat konten singkat mengenai budaya, UMKM, kearifan lokal yang ada di Kabupaten Malang yang dimana nanti kita kelola dan kemas menjadi konten kreatif begitu. Tentunya melalui kegiatan CoE, aku mendapatkan bekal berharga yang memperkaya pengalaman dan menumbuhkan potensiku. ” jelasnya, menyoroti pentingnya jejak digital untuk promosi daerah. Meskipun padat dengan kuliah, organisasi, dan aktivitas freelancer MC/EO, Nizam berhasil memanajemen waktu dengan baik. Ia berharap mahasiswa UMM lainnya tidak takut mencoba dan terus memperluas koneksi. “Jangan cuma fokus dalam satu hal karena memang kita gak tau apa yang akan terjadi di depan. Jadi banyakin peluang untuk bisa kita menjalin koneksi sama orang lain, banyakin relasi, komunikasi, dan juga banyakin pengalaman. Karena sesuatu keberhasilan pasti ada proses yang harus kita lakukan terlebih dahulu,” pungkasnya. (ali/wil)

RBC UMM Rayakan Bulan Bahasa Lewat Kelas Menulis Bersama Kalis Mardiasih

RBC Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Belajar Literasi ID menyelenggarakan Kelas Menulis Pengalaman Perempuan bersama aktivis feminisme Kalis Mardiasih. Kegiatan yang dilaksanakan pada 12 Oktober itu dirancang sebagai ruang aman untuk bertukar cerita, mengolah pengalaman hidup, dan merayakan Bulan Bahasa melalui bahasa Indonesia yang jernih, hangat, dan berpihak pada kemanusiaan. Peserta hadir dari beragam latar dan kota—termasuk Probolinggo—mewakili mahasiswa, pendidik, pekerja kreatif, pegiat komunitas, dan ibu rumah tangga. Dalam sambutan pembuka, Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, Subhan Setowara, menegaskan komitmen lembaga pada literasi yang memerdekakan. “Literasi bagi kami bukan sekadar bisa membaca dan menulis, melainkan keberanian mengungkapkan pengalaman—terutama pengalaman perempuan—dengan martabat. Kolaborasi ini kami maksudkan sebagai jembatan: dari cerita pribadi menjadi pengetahuan publik yang mencerahkan, sekaligus cara merayakan Bulan Bahasa dengan praktik yang nyata,” ujarnya. Kelas difokuskan pada berbagi cerita dan membangun keberanian bercerita. Kalis mengantar peserta memetakan momen-momen kunci—yang menggembirakan, menyulitkan, hingga yang kerap dinormalkan—serta mengubahnya menjadi gagasan tulisan yang terarah. Ia menekankan tiga fondasi: memilih sudut pandang yang jujur, merawat empati pada diri dan orang lain, serta menjaga etika bercerita—termasuk izin, kerahasiaan, dan kesadaran relasi kuasa. Latihan dilakukan secara sederhana melalui journaling terarah dan sesi sharing berkelompok yang saling menguatkan. Sejalan dengan semangat Bulan Bahasa, kelas ini mengajak peserta menghargai bahasa Indonesia sebagai medium yang inklusif. Pilihan diksi yang hemat namun bermakna, struktur paragraf yang runut, dan kehati-hatian pada istilah terkait gender menjadi bagian dari diskusi. Alih-alih klinik naskah, fasilitator menjaga ritme perjumpaan agar setiap suara mendapat ruang yang sama, tanpa tekanan untuk “sempurna”, melainkan berani, tulus, dan bertanggung jawab. Kolaborasi RBC Institute dan Belajar Literasi ID ini menandai komitmen berkelanjutan memperluas akses pembelajaran menulis yang peka gender dan relevan dengan keseharian. Cerita yang lahir dari kelas diharapkan menjadi pijakan awal bagi peserta untuk terus menulis, berbagi, dan memperkaya percakapan publik—agar pengalaman perempuan hadir utuh, terdengar, serta berdampak. (*/wil)

OSN di UMM Selesai, Ini Deretan Siswa Peraih Medali

Usai rangkaian kompetisi yang menegangkan dan penuh tantangan selama beberapa hari di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tibalah saat yang paling dinanti seluruh peserta — pengumuman para juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Hall Dome UMM Sabtu, 11 Oktober 2025. Dalam suasana haru dan bangga, diumumkan nama-nama siswa terbaik dari berbagai penjuru Indonesia yang berhasil membuktikan kemampuan dan ketekunan mereka di bidang sains. Adapun ajang OSN 2025 ini juga tak lepas dari peran para juri yang berasal dari kalangan profesional, akademisi, dan praktisi di berbagai bidang sains. Mereka berperan penting dalam menjaga objektivitas dan kualitas penilaian melalui standar yang ketat dan transparan. Para juri tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga menghargai proses berpikir, inovasi, dan ketelitian setiap peserta. Kehadiran mereka menjadi jaminan bahwa para pemenang yang terpilih benar benar merupakan putra putri terbaik bangsa yang unggul secara intelektual dan berintegritas. Kepala Pusat Prestasi Nasional (Kapuspresnas), Dr. Maria Veronica Irene Herdjiono, S.E., M.Si., berharap para juara tahun ini dapat terus dibina agar mampu mewakili Indonesia di kompetisi internasional dan menjadi talenta unggul di bidang STEM dan kecerdasan artifisial. “Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan OSN 2025, khususnya Universitas Muhammadiyah Malang sebagai tuan rumah yang telah memberikan pelayanan terbaik,” katanya. Para pemenang ini bukan hanya membawa pulang medali, tetapi juga menjadi simbol generasi muda berprestasi yang siap menginspirasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa. Berikut adalah para peraih prestasi gemilang yang berhasil menorehkan nama sebagai juara di bidangnya masing-masing, mulai dari Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Astronomi, Ekonomi, Kebumian, Geografi, hingga Informatika. Adapun penghargaan yang paling ditunggu tentu saja juara umum yang berhasil diraih oleh Provisin DKI Jakarta. Pemenang Medali Emas Bidang Geografi: Kaleb Iash Elnathan Naibaho siswa SMA Labschool kebayoran Prov. D.K.I Jakarta Rafif Adinata Ramadhan siswa MAN 1 Pekanbaru Prov. Riau Sultan Flambo Albana siswa SMAN 5 Surabaya Prov. Jawa Timur Muhammad Javas Anarghya siswa SMAN 8 Jakarta Prov. D.K.I Jakarta Fremmunizar Syahel Akbar siswa SMAN Banu Kal Sel Prov. Kalimantan Selatan Pemenang Medali Emas Bidang Kebumian: Marvel Collin Celeste siswa SMAS Kristen Immanuel Prov. Kalimantan Barat M. Arifin Ilham siswa MAN Insan Cendekia Padang Paraman Prov. Sumatera Barat Billy Adnan Khalifah siswa Kesatuan Bangsa Prov. D.I. Yogyakarta Yuri Iltsar Budiman siswa SMAN 1 Tambun Selatan Prov. Jawa Barat Salma Rofidatul Hasanah siswa MAN 2 Kota Malang Prov. Jawa Timur Pemenang Medali Emas Bidang Ekonomi: Shafwan Nizar Aulia siswa SMA Cahaya Rancamaya Prov. Jawa Barat Diaz Raditya Airlangga siswa SMAS Islam Al-Azhar 4 Prov. Jawa Barat Muhammad Afif Abyan Hasya siswa SMA Negeri 17 Palembang Prov. Sulawesi Selatan Amelia Azarine siswa MAN Insan Cendikia Pekalongan Prov. Jawa Tengah Favian Rizky Pratama siswa SMAN 15 Surabaya Prov. Jawa Timur Pemenang Medali Emas Bidang Astronomi: Athayeris Salsabila Indarso siswa SMAS Labschool Jakarta Prov. D.K.I. Jakarta Johana Sophia Prayoga siswa SMA Pradita Dirgantara Prov. Jawa Tengah Muhammad Zhafif siswa SMAS Kharisma Bangsa Prov. Banten Jupiter Arshavino Raditya Mustofa siswa SMP Semesta Bilingual Boarding School Prov. Jawa Tengah Muhammad Bagir siswa SMAN 8 Jakarta Prov. D.K.I. Jakarta Pemenang Medali Emas Bidang Biologi: Derickson Lie siswa SMAS Mondial Prov. Kepulauan Riau Talita alya Nabilah siswa MAN 2 Kota Malang Prov. Jawa Timur Jonathan Ezekiel siswa SMAS Kristen BPK Penabur Gading Serpong Prov. Banten Wong, Bryant Alden siswa SMAK BPK Penabur Singgasana Prov. Jawa Barat Ali Fahriza Ahda Yusronu siswa SMA Negeri 2 Jombang Prov. Jawa Timur Pemenang Medali Emas Bidang Informatika: Michael Ruliff siswa SMA Ignatius Global School (IGS) Palembang Prov. Sumatera Selatan Warren Xing siswa SMP Bina Mulia Prov. Kalimantan Barat Leonel Chailand siswa SMAS Santa Laurensia Prov. Banten Thesen Wijaya siswa SMAN 1 Ambon Prov. Maluku Mitchell Joshua Hong siswa SMAS Citra Kasing Prov. D.K.I. Jakarta Pemenang Medali Emas Bidang Kimia: Leonard Irvin Gunadi siswa SMAN 1 Purokerto Prov. Jawa Tengah Rapha Njauw siswa SMAS Kristen 6 Penabur Prov. D.K.I. Jakarta Ahmad Kautsar Al Ramadhani siswa MAN 2 Kota Malang Prov. Jawa Timur Willy Wijaya siswa SMAN 2 Lumajang Prov. Jawa Timur Muhammad Arya Razan siswa MAN Insan Cendikia Serpong Prov. Banten Pemenang Medali Emas Bidang Fisika: Gusti Komang Abhika Atmaja siswa SMA Kesatuan Bangsa Prov. D.I. Yogyakarta Evan Syatia To siswa SMAS Kristen BPK Penabur Gading Serpong Prov. Banten Kayser Hwang siswa SMP Darma Yudha Prov. Riau Juan Richie siswa SMAS Kristen Immanuel Prov. Kalimantan Barat Matthew Tjandra siswa SMAS Kristen 6 Penabur Prov. D.K.I. Jakarta Pemenang Medali Emas Bidang Matematika: Chrysander I A Setiawan siswa SMAS Kristen 5 BPK Penabur Prov. D.K.I. Jakarta Steven Abiel Cahyono siswa SMA Katolik ST. Louis 1 Prov. Jawa Timur Herry Herdiana siswa SMAK 3 Bina Bakti Prov. Jawa Barat Yusril Ihsan Adinatanegara siswa SMP Negeri 1 Banyuwangi Prov. Jawa Timur Jayden Jurianto siswa SMAS 1 Kristen BPK Penabur Prov. D.K.I. Jakarta Pemenang Medali Perak Bidang Matematika : Ketut Andra Nugraha Utama Siswa SMP Negeri 10 Denpasar Prov. Bali Jose William Theruna Siswa SMP Bambini Prov. Sulawesi Selatan Daffa Atha Arkana Siswa SMAS Kharisma Bangsa Prov. Banten Hansen Marcello Chandra Siswa SMPK Penabur Gading Serpong Prov. Banten Neilson Huang Siswa SMAS Darma Yudha Prov. Riau Mikail Savero Rasendrya Siswa SMA Semesta Prov. Jawa Tengah Labib Habibillah Siswa MAN 2 Kota Malang Prov. Jawa Timur Jenover Viano Yoshield Siswa SMA Pelita Cemerlang Janssen Samuel Halim Siswa SMAS Al – Azhar Mandiri Palu Edric Owen Pidono Siswa SMAS Katolik Rajawali Pemenang Medali Perak Bidang Fisika: Muhammad Aksan Fitriyadi Siswa Siswa SMA S Al Kautsar Prov. Lampung Kelvin Sutanto Siswa SMAS Sutomo 1 Prov. Sumatera Utara Hilmy Lazuardhy Nurramadhan Siswa MAN Insan Cendekia Serpong Prov. Banten Jovan Nathaniel Permana Siswa SMA Negeri 1 Mataram Prov. Nusa Tenggara Barat Muhammad Yanal Fauza Siswa SMA Al Irsyad Al Islamiyyah Boarding School Purwokerto Prov. Jawa Tengah Ackhava Adam Malonda Siswa SMA Wardaya Prov. D.K.I. Jakarta Dzakwan Dhiya Ramadhana Siswa SMA Negeri Modal Bangsa Prov. Aceh Juan Howard Wijaya Siswa SMAS Darma Yudha Prov. Riau Faris Patria Chariansyah Siswa MAN Insan Cendekia Serpong Prov. Banten Arrow Dunatos Pascha Kristian Siswa SMAN Unggulan M.H. Thamrin Prov. D.K.I. Jakarta Pemenang Medali Perak Bidang Kimia: Hiero Gahara Siswa SMA Wardaya Prov. D.K.I. Jakarta

Satu Program atasi Stunting dan Miskin Ekstrem ala Pakar UMM di Soe

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program unggulan Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat. Kali ini, daerah Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi lokasi pengabdian yang berlangsung intensif pada tanggal 30 September hingga 4 Oktober. Program ini dirancang dengan strategi holistik, memadukan inovasi kelembagaan, pengembangan kewirausahaan, dan peningkatan gizi. Menurut Prof. Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo M.Si. selaku koordinator, inisiatif ini berpusat pada penguatan ekonomi lokal sebagai fondasi utama penanggulangan masalah sosial. Fokus tim yang dipimpinnya adalah inovasi kelembagaan, khususnya penguatan Koperasi Merah Putih, sebagai wadah untuk menampung produk industri rumah tangga dari warga setempat. Tantangan utama yang ingin dijawab melalui program ini adalah bagaimana mengentaskan kemiskinan ekstrem dan mengurangi angka stunting. Untuk itu, Vina dan timnya bermitra dengan tim pengolahan makanan untuk perbaikan gizi balita. Kolaborasi ini menghasilkan program pelatihan komprehensif yang ditujukan bagi kelompok masyarakat yang bertekad mengembangkan industri skala rumahan kecil. Mereka dilatih mengolah makanan bergizi untuk balita, memanfaatkan sumber daya alam lokal yang kaya di Soe. Olahan ini diharapkan tidak hanya menekan angka stunting, tetapi juga menjadi produk yang dapat diserap oleh Koperasi Merah Putih. Selain pelatihan pengolahan, tim UMM juga membekali peserta dengan keterampilan manajerial dan keuangan untuk memperkuat koperasi. Bersama tim juga memberikan pelatihan tentang cara membangun mindset kewirausahaan bagi calon pelaku usaha di wilayah Soe. Ini menggambarkan komitmen UMM dalam mencetak pelaku usaha yang mandiri dan berdaya saing. Vina berharap terjalin sinergi yang kuat antara produk industri rumahan yang tergabung dalam Koperasi Merah Putih agar dapat terus berkembang. Upaya ini akan diperkuat melalui pelatihan branding dan pengembangan jejaring pemasaran pada bulan berikutnya. Dampak positif program ini disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kabupaten TTS, Yusak E. Banunaek, SH., M.Hum, menyatakan apresiasi yang tinggi. Menurutnya, kegiatan ini berdampak positif bagi pemerintah daerah secara umum dan terkhusus kepada pemberdayaan ekonomi melalui Koperasi Merah Putih yang ada di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kegiatan ini dinilai sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman, pengertian, keterampilan, dan pengetahuan yang bermanfaat bagi pengembangan Koperasi Merah Putih di desa dan kelurahan di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Melalui sinergi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah ini, Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat UMM membuktikan bahwa upaya kolaboratif adalah kunci utama dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengentasan kemiskinan dan penurunan stunting yang berkelanjutan di wilayah Timor Tengah Selatan, NTT. (ali/wil)

Bantu Anak Disabilitas, Mahasiswa UMM Kembangkan Stroller Ajaib

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali kembangkan alat menarik, terutama bagi anak autis yakni mengubah stroller biasa menjadi jembatan komunikasi bernama Smart Augmented Technology for Children Disability (SAMATA). Alat ini adalah stroller pintar interaktif yang dirancang untuk memudahkan anak-anak autisme dalam berkomunikasi sekaligus meningkatkan kemampuan motorik dan kognitif mereka. Teknologi yang digunakan meliputi mikrokontroler, sensor interaktif, dan sistem Augmentative and Alternative Communication (AAC) berbasis gambar. Inovasi ini digagas oleh Ulytz Sukma Susila mahasiswa Teknik Industri UMM sebagai ketua tim dan dibimbing oleh Amelia Khoidir, S.T., M. Sc. Ulytz, sapaan akrabnya, mengatakan Integrasi Sistem AAC Berbasis Gambar adalah teknologi bantu komunikasi bagi anak-anak yang kesulitan berbicara. Pada SAMATA, sistem ini diintegrasikan secara langsung ke dalam stroller melalui panel gambar interaktif. Inovasi ini pada dasarnya adalah modifikasi dari sebuah stroller biasa yang ditransformasi menjadi alat bantu yang cerdas dan interaktif. Mereka memilih pendekatan modifikasi agar biaya produksi lebih terjangkau dan pemanfaatannya lebih mudah diterapkan langsung oleh mitra. Lebih lanjut, Ultzy menjelaskan cara kerja SAMATA yang sederhana namun powerful. Anak cukup menekan gambar simbol di panel seperti gambar makanan atau minuman, maka sensor sentuh akan mengirim sinyal ke mikrokontroler. Secara instan, speaker akan mengeluarkan suara “Saya mau makan” atau “Saya haus”, sementara notifikasi yang sama terkirim ke smartphone pengasuh untuk memastikan respons cepat. Adapun inovasi ini berangkat didasarkan dari identifikasi masalah di lapangan, tim kami menemukan tiga kendala utama yang terjadi di SLB Autisme River Kids seperti, hambatan komunikasi signifikan pada anak, minimnya alat bantu efektif, dan beban emosional yang tinggi bagi pengasuh. SAMATA hadir sebagai solusi dengan mengubah stroller biasa menjadi alat komunikasi interaktif yang terjangkau. “Oleh karena itu, inovasi kami hadir sebaga jembatan komunikasi untuk anak autisme, mendukung proses belajar, meringankan beban emosional guru,” ungkapnya. Dalam pembuatan SAMATA, ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh Ulytz dan tim. Mereka harus membuat Desain yang user-friendly, intuitif dan mudah dipahami oleh anak-anak autisme dengan beragam tingkat kemampuan. Tentu hal ini membutuhkan iterasi dan uji coba langsung. Kemudian, dari segi durabilitas dan keamanan, mereka harus memastikan prototipe stroller yang dibuat tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga kuat, aman, dan nyaman untuk digunakan anak-anak setiap hari. Keberhasilan ini tidak membuat tim berpuas diri. Tim SAMATA akan terus mengembangkan fiturnya, seperti mengembangkan bank suara dan simbol untuk mengekspresikan, sistem yang lebih cerdas dan mendesain ulang modul agar lebih modular sehingga mudah untuk dipasang. “Semoga alat ini bisa membatu anak-anak disabilitas agar bisa dapat menyalurkan kebutuhan dasar mereka. Kami mengharapkan mereka bisa mengekspresikan rasa ingin tahu melalui alat komunikasi interaktif ini dan juga sebagai sarana pembelajaran yang mendukung perkembangan sensorik dan motorik,” tutupnya. (nam/wil)

Seru! Begini Asyiknya Fun and Science Olimpiade Sains Nasional Expo di UMM

Ratusan peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) rasakan sederet hiburan dan Fun and Science OSN Expo yang Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selenggarakan. Lebih dari 500 siswa datang dan menikmati pameran inovasi mahasiswa dan dosen, wahana rafting, bebek racing, penampilan band, bahkan ada studio mini untuk pemutaran film. Agenda yang dilaknsakan pada 10 September itu menjadi daya tarik sendiri, tidak hanya untuk melepas penat peserta OSN tapi juga memberikan wawasan baru akan inovasi dan kegiatan di kampus. Salah satu pengunjung, Ihsan Dian menjelaskan keseruan yang ia alami di pameran tersebut. Menurutnya, wahana seperti bebek racing bisa melepas penat yang ia dan teman-teman rasakan. Apalagi selama ini ia sudah belajar dengan keras untuk menghadapi OSN. “Seru banget kak. Tadi sudah keliling-keliling tes darah, kemudian mencoba teh mawar produk salah satu profesor UMM. Ada juga tadi mobil hemat energi UMM yang ternyata sudah memenangkan banyak kejuaran,” kata siswa asal Yogyakarta tersebut. Terkait UMM, ia melihat bahwa ternyata Kampus Putih lumayan luas dengan kontur yang unik dan rindang. Ihsan dan teman-temannya mengaku sempat berjalan-jalan melihat kampus dengan buggy car ramah lingkungan. Hal serupa juga ditegaskan Safira yang berasal dari Bandar Lampung. Menurutnya OSN tahun ini cukup menantang, termasuk soal-soal dan tes prakteknya. Ia juga mengapresiasi UMM yang sudah menjadi tuan rumah dengan baik. Tidak hanya menyediakan fasilitas yang memadai, tapi bahkan menyediakan wahana dan pameran di lokasi kampus. “Tadi sempat naik rafting juga. Ada satu pemandu dan pelampung agar lebih aman. Cukup menyenangkan sebagai aktivitas setelah belajar keras dan mengerjakan soal-soal. Kami juga kaget ternyata UMM sangat luas dan banyak pohon sehingga hawanya lebih sejuk. Bahkan kami harus naik buggy car atau bus untuk ke beberapa lokasi,” katanya. Adapun Fun and Science OSN Expo memang disediakan UMM untuk menghibur para peserta OSN dari seluruh Indonesia. Selain itu juga sebagai wadah memberikan wawasan terkait dunia perkuliahan, baik itu inovasi mahasiswa dan dosen maupun kegiatan-kegiatan kampus yang bisa diikuti ketika menjadi mahasiswa nanti. (wil)

Kolokium Doktoral FISIP UMM, dari K-Popers hingga Adopsi Anak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Seminar dan Kolokium Doctoral Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), 29 September lalu. Hadir sebagai keynote speaker, Prof. Dr. Phil. Sukri, M.Si., Guru Besar Ilmu Studi Demokrasi sekaligus Dekan FISIP Universitas Hasanuddin, yang mengupas tentang pentingnya integritas dan kebaikan dalam praktik demokrasi. Menurutnya, demokrasi berangkat dari prinsip kedaulatan rakyat, yakni bahwa kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Hal ini ditegaskan melalui konsep vox populi vox dei yang berarti suara rakyat adalah suara Tuhan. Dengan demikian, demokrasi lahir dari ekspresi rakyat dan sesuai dengan keinginan rakyat. Pemikiran tokoh seperti Locke menekankan pentingnya kebebasan individu, sedangkan Rousseau menekankan kesesuaian dengan kehendak umum (general will). Dari sinilah demokrasi dipahami sebagai sistem yang berusaha mewujudkan kebebasan berekspresi sekaligus menjamin tercapainya kebaikan bersama. Namun, demokrasi tidak lepas dari tantangan. Hobbes menggambarkan manusia sebagai homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lain) sehingga dalam kehidupan bersama perlu ada aturan dan pengendalian agar kebebasan tidak berujung pada kekacauan. Karena itu, penting adanya standar etika dan moral yang kontekstual sebagai pembatasan perilaku dalam praktik berdemokrasi. “Untuk itu, berhati-hati lah dalam berdemokrasi, karena demokrasi membutuhkan kebijaksanaan. Fenomena di film ‘Oppenheimer’, misalnya. Karena, sebaik dan sebagus apapun suatu kebijakan atau sistem, jika berada di tangan yang salah, maka tidak akan terwujud sebagaimana mestinya,” Hal menarik juga disampaikan Dr. Winda Hardyanti, M.Si. yang juga Dosen Ilmu Komunikasi UMM. Ia menjelaskan materi menarik yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat bertajuk “Adopsi Anak: Antara Kecemasan dan Harapan”. Proses adopsi anak tidak hanya soal legalitas, tetapi perjalanan emosional penuh dinamika antara pasangan suami istri. Keputusan adopsi sering lahir dari harapan memiliki keluarga utuh dan kasih sayang baru. Dalam tahap awal, komunikasi empatik dan dukungan emosional menjadi kunci untuk menepis stigma dan meneguhkan niat. Setelah anak masuk dalam struktur keluarga, pasangan perlu menyesuaikan peran serta membangun kesadaran diri sebagai orang tua adopsi. Ketika konflik muncul, empati dan mindfulness menjadi jalan pemulihan. Pada akhirnya, adopsi bermakna sebagai wujud cinta, penerimaan, dan harapan baru yang memperkuat kehangatan keluarga. “Adaptasi pasangan saat anak masuk struktur keluarga menuntut penyesuaian peran dan tanggung jawab baru. Sehingga, diperlukan kesadaran diri sebagai orang tua adopsi untuk menjaga keseimbangan relasi dan suasana harmonis,” tambahnya. Sementara itu, Dr. Nurudin, M.Si. memaparkan penelitian bertajuk “Behind the Glamour: Identitas Baru K-Popers” yang mengulas fenomena Hallyu atau Korean Wave. Ia menjelaskan bahwa penyebaran budaya Korea Selatan bermula dari inovasi teknologi digital, seperti Samsung yang mampu menyaingi Nokia lewat ponsel layar sentuh. Sejak 1990-an, Hallyu berkembang pesat dan populer melalui musik K-Pop hingga masuk ke berbagai aspek kehidupan sehari-hari, seperti fashion, makeup, makanan, hingga gaya rambut. Nurudin juga menekankan sisi positifnya, antara lain meningkatnya ekspresi di media sosial dan solidaritas tinggi, misalnya aksi penggalangan dana bencana. Imperialisme budaya Korea di Indonesia semakin nyata, menurutnya hal ini dikarenakan tren budaya korea diizinkan masuk dan mampu mendominasi hampir di beberapa aspek kehidupan dan tersebar di sebagian besar wilayah tanah air. “Hal ini dapat terjadi, karena korea memiliki produk ekspor yang besar dan berani melakukan boikot pada produk-produk dari negara luar,” tambahnya. (din/wil)

Olimpiade Sains Nasional 2025: Adu Inovasi dan Logika Pelajar se-Indonesia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi pusat adu intelektualitas ratusan pelajar terbaik Indonesia dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025 jenjang pendidikan menengah. Ajang OSN ini diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) dan Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang bekerjasama dengan UMM sebagai tuan rumah tahun ini. Selama hampir sepekan, Kampus Putih itu berubah menjadi ruang eksperimen besar, tempat para finalis menguji kemampuan logika, ketelitian, dan kreativitas ilmiahnya. Berbeda dengan lomba akademik pada umumnya, OSN 2025 menuntut peserta untuk tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mengaplikasikannya secara langsung. Dalam sembilan bidang sains mulai dari Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Astronomi, Ekonomi, Kebumian, Geografi, hingga Informatika yang pesertanya diuji melalui dua tahap yaitu ujian teori dan praktik. “Setiap bidang tidak hanya dikerjakan di ruang kelas, tapi juga harus diuji di lapangan atau laboratorium yang sudah sesuai dengan kebutuhan juri dan teknis lomba masing-masing. Karakter tiap bidang menentukan lokasi dan metode lomba. Karena itu, sembilan bidang sains tersebar di lima gedung utama UMM, mulai dari GKB 1 hingga GKB 5, serta beberapa titik lapangan terbuka,” ujar Ketua Pelaksana OSN di UMM, Ir. Henik Sukorini, M.P., Ph.D. IPM. Sebagai contoh, bidang Fisika memusatkan lombanya di GKB IV. Hari pertama diisi dengan praktikum data analisis, sedangkan hari kedua digunakan untuk ujian teori. Adapun bidang Kimia menggunakan laboratorium baru di GKB V, yang dilengkapi fasilitas modern milik Fakultas Kedokteran UMM karena Lab-nya baru dan bagus. Sangat mendukung kegiatan praktik peserta. Sementara itu, Astronomi dan Geografi menampilkan tantangan di luar ruangan. Peserta astronomi melakukan observasi teleskop di lapangan, sedangkan bidang geografi melakukan tes lapangan di beberapa kawasan. “Lokasi tersebut ditentukan melalui survei langsung oleh tim juri. Mereka melakukan survei dua sampai tiga hari sebelumnya untuk memastikan lokasi sesuai kebutuhan soal,” jelasnya. Untuk bidang Informatika, peserta harus menulis kode program dan algoritma langsung di komputer selama lima jam. Karena itu, panitia menutup beberapa jalur kendaraan di sekitar GKB agar tidak ada gangguan suara selama ujian berlangsung. Bidang Ekonomi dan Kebumian juga tidak kalah menantang. Dalam ekonomi, peserta diminta menganalisis kasus bisnis dan mempresentasikannya di depan juri. Sementara di kebumian, mereka harus menjalani tiga tahap yaitu teori, peraga, dan praktik lapangan yang berlangsung seharian penuh. “Meski kompleks, pelaksanaan OSN berjalan lancar. Seluruh peserta datang tepat waktu dan panitia bekerja sesuai koordinasi yang telah disiapkan berbulan-bulan sebelumnya. Dari hari pertama sampai hari ini, semua berjalan kondusif. Laporan dari setiap lokasi aman,” ujarnya. Henik menegaskan bahwa OSN tahun ini memiliki perbedaan mendasar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena baru pertama kali OSN dilaksanakan di universitas. Selama ini, pelaksanaan OSN ditangani langsung oleh dinas pendidikan dan hanya melibatkan universitas untuk satu atau dua cabang lomba. “Kalau dulu, universitas paling hanya menangani satu bidang. Tapi kali ini UMM mengelola sembilan bidang sekaligus,” imbuhnya. Di sisi lain, Kepala Pusat Prestasi Nasional, Dr. Maria Veronica Irene Herdjiono, M.Si. mengatakan OSN diharapkan mampu melahirkan generasin muda Indonesia yang unggul dalam sains, berintegritas dalam perilaku, dan berjiwa nasionalis. Menurutnya, para peserta memiliki kualitas untuk menjadi penerus bangsa Indonesia. “Serangkaian kegiatan seperti tes tulis, tes lapangan, hingga kunjungan edukatif akan dilaksanakan para peserta selama ada di Malang. Di sini pula, perjuangan , talenta, dan bakat akan diuji hingga menemukan yang terbaik. Akhirnya, nanti semua bidang ini memiliki akses untuk maju ke olimpiade internasional yang setiap tahun Puspresnas Kemendikdasmen kirim,” katanya. (vin/wil)

Pakar UMM di Timor Tengah Selatan: Bantu Bangun Bidang Pertanian, Peternakan, dan Perikanan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat melaksanakan serangkaian kegiatan pembangunan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Kegiatan tersebut berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober, dengan fokus pada bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Koordinator P3M Bidang Pertanian, Peternakan, dan Perikanan, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP., IPU, menjelaskan bahwa awalnya program hanya difokuskan pada sektor pertanian dan peternakan. Namun, setelah mendapat masukan dari pemerintah daerah, perikanan juga dimasukkan sebagai bagian dari pendampingan karena adanya sejumlah persoalan yang perlu segera diatasi. Salah satu pfokus program ini ada pada Peternakan Sapi Potong, khususnya sapi bali. Menurut Indah, produktivitas sapi di NTT masih rendah. Apalagi dengan ketersediaan pakan yang terbatas dan masalah kesehatan hewan yang belum tertangani dengan baik. “UMM mengajak tenaga-tenaga ahli di bidang pakan dan kesehatan hewan. Selain itu, kami juga melakukan manajemen pembibitan, karena saat ini proses reproduksi masih dilakukan secara kawin alam. Kami ingin menyeleksi bibit sapi potong yang produktivitasnya tinggi, sehingga ke depan dapat terbentuk pusat pembibitan sapi potong,” ujarnya. Kemudian pada bidang pertanian, NTT memiliki potensi tanaman hortikultura, padi, dan jagung, dengan jagung sebagai komoditas dominan. Terdapat pula sentra beras di dua kecamatan di TTS serta berbagai wilayah yang menjadi sentra jagung. Tanaman hortikultura umumnya ditanam di sekitar pemukiman warga. Permasalahan utama yang dihadapi adalah menurunnya kualitas tanah. UMM berencana memperbaiki sistem budidaya sekaligus meningkatkan kesuburan lahan. Salah satunya dengan melakukan pertanian secara organik. “Kami kemarin sempat mengunjungi daerah Bonleu. Di sana, ketersediaan air sepanjang tahun berlimpah, tetapi masyarakat hanya menanam padi sekali setahun, dari Juni hingga Desember. Setelah kami amati, masalahnya bukan pada air, melainkan pada kondisi tanah yang kehilangan bahan organik karena debit air tinggi. Kami akhirnya membuat demplot untuk uji coba, apakah memungkinkan dilakukan tanam padi minimal dua kali dalam setahun,” terangnya. Selain itu, UMM bersama Dinas Pertanian setempat telah berkolaborasi mengenai penanganan hama melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) serta rencana penerapan inovasi teknologi pertanian yang dihasilkan UMM. Pihaknya juga menyoroti produktivitas padi yang masih berkisar 4–5 ton per hektare, angka yang dinilai masih rendah. Indah juga menegaskan bahwa tujuan akhir program ini adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan produksi dan pendapatan petani. Jika produksi padi, jagung, dan hortikultura meningkat, tentu pendapatan petani juga meningkat. Dengan daya beli yang lebih baik, mereka akan lebih mudah mengakses pangan bergizi. Harapannya, hal ini dapat mengurangi angka stunting. Hal yang sama berlaku di bidang peternakan, di mana peningkatan produktivitas ternak akan mendukung peningkatan pendapatan dan akses gizi masyarakat. Adapun program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat UMM di NTT diharapkan menjadi model kolaborasi antara universitas, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam upaya meningkatkan produktivitas sekaligus menurunkan angka stunting di wilayah tersebut. Sebagai dukungan dari pemerintah daerah, Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten TTS Yehuda Tunliu menyampaikan apresiasi atas perhatian UMM terhadap pengembangan pertanian di wilayahnya. “Persoalan kemiskinan dan tingginya angka stunting menjadi pergumulan pemerintah daerah. Kehadiran UMM melalui program Profesor ini sangat berdampak bagi masyarakat. Kami menyambut baik, mendukung penuh, dan berharap kolaborasi ini dapat berjalan maksimal. Ke depan, kami berharap program ini mampu membawa perubahan perilaku petugas teknis pertanian dan petani sebagai pelaku utama, demi peningkatan kesejahteraan masyarakat TTS,” pungkasnya mengakhiri. (bil/wil)

Olimpiade Sains Nasional 2025 Resmi Dibuka di Jatim

Pengetahuan melalui sains adalah bagian penting dari upaya meningkatkan daya saing bangsa. Begitu pesan yang disampaikan Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si. selaku Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI. Ia sekaligus menyambut para peserta pada pembukaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pendidikan Menengah 2025 yang digelar di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa 7 Oktober 2025. Ajang bergengsi yang diikuti oleh pelajar SMA/MA/SMK/MAK/sederajat dari seluruh Indonesia ini menjadi puncak kompetisi sains dan teknologi tingkat nasional yang digelar oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Kegiatan ini juga bekerja sama dengan Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Adapun tahun ini, OSN diikuti oleh 262.985 peserta dari 30 provinsi dan satu Sekolah Indonesia Luar Negeri di Malaysia. Ada lebih dari 540 finalis terpilih yang akan berkompetisi dalam sembilan bidang yakni Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Astronomi, Informatika, Kebumian, Ekonomi, dan Geografi. Lebih lanjut, Mariman menekankan pentingnya OSN sebagai wadah aktualisasi diri bagi talenta muda Indonesia. Hal Ini bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari aktualisasi atas pilihan talenta terbaik bangsa. Empat hal yang menentukan prestasi kalian adalah dukungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan media. “Mengingat pentingnya nilai-nilai kejujuran dan sportivitas dalam berkompetisi yakni sebagaimana yang sudah diikrarkan tadi, dua janji dari juri dan peserta sama-sama menyebut kata adil dan tidak berpihak. Bangun sportivitas, bangun kejujuran, bangun kepatuhan terhadap aturan, dan yang terpenting bangun persaudaraan untuk Indonesia yang lebih baik,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Pusat Prestasi Nasional, Dr. Maria Veronica Irene Herdjiono, M.Si., menegaskan bahwa OSN bukan hanya ajang adu kecerdasan, melainkan juga wadah pembentukan karakter. “Melalui OSN ini kita berharap akan lahir generasi muda Indonesia yang unggul dalam sains, berintegritas dalam perilaku, dan berjiwa nasionalis. Mereka inilah calon penerus bangsa di masa depan. Tahun ini ada 262.985 pendaftar OSN dari berbagai wilayah Indonesia dan akhirnya ada 540-an finalis pada hari ini,” ujar Maria. Ia juga menambahkan bahwa tahun ini Puspresnas memperkenalkan Eksebisi Kecerdasan Artifisial yang diikuti oleh 1.347 peserta dari 14 provinsi. Sebanyak 30 siswa terpilih untuk mengikuti eksebisi ini yang menjadi langkah awal memperkenalkan kompetisi di bidang kecerdasan buatan. Mewakili UMM sebagai tuan rumah, Wakil Rektor IV Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menyampaikan bahwa pihaknya merasa bangga dapat menjadi tempat berkumpulnya para pelajar berprestasi dari seluruh Indonesia. Menurutnya, OSN bukan hanya sekadar melahirkan inovasi, tapi juga calon pemimpin negeri sepuluh atau lima belas tahun mendatang. “Terus terbangkan tinggi cita-cita kalian, tunjukkan bahwa warga Indonesia mampu berkontribusi bagi dunia. Namun setinggi-tingginya kalian terbang, jangan lupa Indonesia selalu di sanubari,” pesannya. Kegiatan OSN 2025 akan berlangsung dari 6–12 Oktober 2025, melibatkan serangkaian kegiatan mulai dari tes teori, praktik, hingga kunjungan edukatif. Selain kompetisi utama, peserta juga akan mengikuti berbagai sesi inspiratif yang mempertemukan mereka dengan ilmuwan dan praktisi nasional. Dengan semangat kolaborasi dari Puspresnas, BPTI, Kemendikdasmen, dan UMM, OSN 2025 diharapkan menjadi momentum penting dalam menumbuhkan budaya ilmiah di kalangan pelajar Indonesia. Wadah berkompetisi dengan gembira, karena sains sejatinya adalah proses menemukan kebahagiaan dalam berpikir. (vin/wil)