PSIF Kembangkan Sastra Profetik

KOMBINASI antara aspek sosial humaniora dan dimensi ketauhidan membuat sastra profetik lebih kaya dan seimbang. Hal itulah yang menjadi pesan dari kegiatan Kajian Islam Interdispliner (KII) satra profetik yang diadakan oleh Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (30/09). KII menghadirkan guru besar dan pegiat sastra Prof Dr Djoko Saryono MPd yang berbicara tentang “Sastra Profetik Perspektif Islam dan Sosial”. Bagi Djoko, dimensi transcendental dalam sastra profetik bisa memberikan dampak revolusi sosial bagi masyarakat. Dengan nilai-nilai dan pengaruh yang dikandungnya, Djoko mengatakan, karya sastra ini sangat erat kaitannya dengan komponen-komponen kehidupan bermasyarakat. “Sayangnya, karya sastra profetik yang ada di nusantara saat ini kurang mendapatkan kajian lebih mendalam,” tambahnya. Djoko mengungkapkan, sastra profetik dari zaman ke zaman mengalami degradasi. “Saat ini masyarakat lebih memahami agama hanya sebagai kepercayaan, bukan sebagai sebuah panduan hidup bermasyarakat. Melalui penciptaan karya sastra profetik, diharapkan agama bisa bermakna lebih dari itu,” paparnya. (nis/han)

Mahasiswa UMM Dikenalkan Sistem dan Praktik Akuntansi Syariah

SEBAGAI negara berpopulasi Muslim terbesar di dunia, sistem perekonomian berbasis syariah mendapatkan peluang cukup besar untuk diberlakukan di negara ini. Apalagi, ekonomi syariah tidak memberatkan salah satu pihak jika terjadi kerugian, berbeda dengan sistem konvensional yang membebankan pihak nasabah. Hal tersebut disampaikan Kepala Laboratorium Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dra Sri Wahyuni Latifah MM Ak CA pada Short Course Akuntansi Syariah yang pada Kamis-Jumat (28-29/9). Pelatihan ini ditujukan bagi mahasiswa tingkat akhir Jurusan Akuntansi UMM, menfhadirkan perwakilan tiga lembaga praktisi bisnis berbasis syariah, yaitu Pegadaian Syariah Malang, Bank Muamalat Malang dan Dewan Standar Akuntansi Syariah. Sri Wahyuni menyatakan, selain untuk memebekali mahasiswa tingkat akhir menulis skripsi, kegiatan ini juga bertujuan memberi gambaran sistem akuntansi syariah di Indonesia. “Tujuan pertama yaitu pembekalan dan prasyarat mahasiswa semester akhir tentang penulisan skripsi. Yang kedua untuk memberikan contoh praktis seperti apa akuntansi syariah di Indonesia langsung dari pakarnya,” jelasnya. Anggota Dewan Standar Akuntansi Syariah Wiroso SE MBA menyebutkan, pembedaan sistem konvensional dan syariah hanya terletak pada prosesnya, di mana prosesnya tidak memberatkan pihak mana pun. “Sistem syariah itu bukan hasil akhir yang berbeda dengan konvensional namun prosesnya,” jelasnya. Namun dalam realitanya, bank-bank berbasis syariah memang masih kalah pamor dengan bank konvensional di Indonesia. “Di Indonesia perkembangan bisnis syariah sangat lambat, hal ini dikarenakan bank syariah tersebut tidak mengimplementasikan sistem syariah secara murni. Contohnya, masih banyak bank syariah yang berada di bawah bank konvensional,” kata Wiroso. Salah satu peserta short course, Indra Maya Nastiti, mengaku antusias dengan adanya kegiatan ini. “Di kegiatan ini saya dapat mengerti bagaimana struktur dan penerapan akuntansi syariah di Indonesia secara detail langsung dari para praktisinya. Selain itu saya berharap bisa menerapkannya setelah nantiblulus dan bekerja di lembaga ekonomi berbasis syariah,” pungkas mahasiswi Jurusan Akuntansi UMM angkatan 2014 itu. (iel/han)

Mahasiswa UMM Diminta Mencontoh Riset Energi Terbarukan Eropa

KEDATANGAN founder Energy Academy Indonesia Dr Syarif Riyadi dan Desti Alkano PhD di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (28/9), memberikan pelajaran berharga bagi mahasiswa Fakultas Teknik di kampus ini. Terlebih, UMM dikenal sebagai kampus sadar energi terbarukan, salah satunya melalui inisiasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Menurut Syarif Riyadi, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan dan berinovasi dengan energi terbarukan. “Di negara Uni Eropa seperti Jerman dan Belanda permintaan untuk penggunaan transportasi berteknologi energi terbarukan sudah mulai berkembang secara konsisten,” kata Riyadi yang memiliki pengalaman sepuluh tahun riset di bidang material science di Belanda. Saat ini, lanjut Riyadi, Belanda mentargetkan pada 2025 untuk tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak. “Sayangnya, saat ini Indonesia masih harus puas dengan hanya menjadi distributor produk energi terbarukan dari negara Eropa” paparnya saat kuliah tamu “Materials Technology and Renewable Energy Development”. Untuk itu, kata Riyadi, Indonesia membutuhkan perusahaan yang bertumpu pada penelitian dan pengembangan (litbang) yang memanfaatkan energi terbarukan secara tepat guna. Bagi Riyadi, dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia sangat mungkin untuk menciptakan energi terbarukan. Riyadi berharap, pada 2040 Indonesia dapat mengejar ketertinggalan penciptaan dan pemanfaatan energi terbarukan. Sehingga, Indonesia dapat menjadi pengekspor energi terbarukan bagi negara-negara yang membutuhkan dan minim sumber daya penciptaan energi terbarukan. Salah satunya, Riyadi menambahkan, saat ini Indonesia sudah saatnya untuk mendukung riset produksi electrical-vehicle sebagai aktualisasi persiapan Indonesia menghadapi degradasi bahan bakar yang saat ini digunakan. Sementara itu, Desti Alkano menyatakan, berdasarkan hasil penelitiannya, 20 tahun lagi perusahaan penyedia layanan listrik di Indonesia akan mengalami kebangkrutan jika tidak mengubah bentuk pelayanan menjadi smart-grids innovation, salah satu energi terbarukan yang telah ia kembangkan di Belgia. (nis/han)

UMM Dorong PTM di Jawa Timur Tingkatkan Akreditasi

KEBERHASILAN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meningkatkan mutu akademik tak hanya dibuktikan dengan raihan akreditasi institusi, namun juga pada tingkat program studi (prodi). Saat ini, sebanyak 25 prodi di UMM telah terakreditasi A oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Hal tersebut disampaikan Rektor UMM Fauzan pada pembukaan Kuliah Tamu “Kebijakan Akreditasi Program Studi dan Institusi” pada Rabu (27/9) di Ruang Sidang Senat UMM. Bagi Fauzan, akreditasi merupakan kewajiban mendasar bagi sebuah perguruan tinggi untuk dapat memenuhi kualifikasi standar nasional. “UMM terus berbenah untuk meningkatkan kualitas dan mutu seluruh program studi di UMM. Kami berharap perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) lain yang ada di Jawa Timur juga dapat meningkatkan mutu dan akreditasinya,” tambah Fauzan. Selain dihadiri pimpinan universitas dan prodi di lingkungan UMM, kegiatan ini juga diikuti perwakilan kampus lainnya, khususnya PTM, di antaranya Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Unversitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Muhammadiyah Ponorogo dan beberapa sekolah tinggi Muhammadiyah. Dewan Eksekutif Akreditasi BAN-PT Prof Dr Ir SM Widyastuti MSc pada kesempatan ini menyampaikan, PTM juga memiliki peran besar untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. “Apalagi, jumlah PTM mencapai kurang lebih 134 perguruan tinggi di seluruh Indonesia,” paparnya. Widyastuti juga mengatakan, saat ini pengajuan dan perpanjangan akreditasi prodi dapat memanfaatkan program online yang disediakan oleh BAN-PT. Sistem Akreditas Perguruan Tinggi Online (SAPTO) bertujuan untuk mempercepat penyelesaian administasi pengajuan dan atau perpanjangan akreditasi program studi. (nis/han)

Mahasiswi Polandia Tuturkan Pentingnya Travelling Bagi Emosi

TIGA mahasiswi Polandia yang berpengalaman keliling dunia berkesempatan berkunjung ke Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membagi kisah mereka. Tiga mahasiswi tersebut yaitu Anna Wolska dan Judyta Staniczek dari Jagiellonian University dan Agnieszka Szygula dari University of Gdańsk. Menariknya, salah satu dari mahasiswi tersebut, yaitu Judyta, memiliki keterbatasan fisik. Selama keliling dunia, ia menggunakan kursi rodanya, termasuk ketika mencapai puncak Borobudur. Kisah tiga mahasiswi itu disampaikan pada kegiatan Public Lecture Emotional and Applied Psychology yang diadakan oleh International Relations Office (IRO) UMM, Selasa (26/9) di Auditorium UMM. Menurut Judyta, travelling dapat mempengaruhi psikologi seseorang. “Bagi saya, travelling dapat meningkatkan emosi positif dan membuat kita lebih berekspresi,” ujar Judyta pada kegiatan yang dihadiri mahasiwa sarjana dan pascasarjana Psikologi ini. Staf IRO UMM Arofiatus Sa’diyahmengatakan, kehadiran tiga mahasiwa Polandia itu, selain agar mahasiswa UMM lebih cakap dalam berbahasa Inggris, juga agar mahasiswa memiliki wawasan yang luas di bidang studinya. “Tujuannya adalah untuk menginspirasi dan memberikan pengetahuan bahwa dunia tidak hanya di Indonesia, serta untuk melatih mahasiswa mengutarakan pendapat atau pertanyaan dengan bahasa Inggris, mengingat tiga pembicara ini dari Polandia,” ujarnya. (nim/han)

Mahasiswa Politeknik Singapura Belajar Bisnis di UMM

SELAMA tiga pekan, yaitu mulai 25 September hingga 14 Oktober 2017, sebanyak 31 mahasiswa Business School of Singapore Polytechnic (SP) akan melakukan workhop dan riset bisnis di Malang dan Surabaya, Jawa Timur, didampingi 12 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Workshop, analisis data, dan presentasi bisnis dilakukan di UMM bekerjasama dengan FEB dan International Relations Office (IRO), memuat materi tentang kondisi ekonomi dan model pemasaran bisnis di Indonesia. Sementara riset pasar dilakukan dengan menggunakan responden warga Surabaya, dan output  riset akan menjadi rekomendasi restoran seafood di Surabaya. Rangkaian kegiatan ini dikemas dalam program Tri-City. Salah seorang peserta program dari Singapura, Ruqoyah Binte Mazlan, mengaku sangat bersemangat mengikuti program ini karena dapat mengetahui dinamika dan perkembangan bisnis di negara lain. “Senang dengan adanya program Tri-City ini karena membuka wawasan dan kesempatan untuk membina persahabatan dengan orang-orang di luar Singapura,” ungkapnya di sela-sela seremoni pembukaan di Aula FEB UMM, Senin (25/9). Selain di Indonesia, 31 mahasiswa Singapura itu juga akan belajar ekonomi dan bisnis di Vietnam dan Thailand. Menariknya, menurut Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama Luar Negeri, Suparto, UMM menjadi satu-satunya universitas di Indonesia yang menjadi tujuan mahasiswa Politeknik Singapura untuk belajar bisnis dalam skema program Tri-City ini. Kordinator Program Tri-City UMM, Wiyono, mengungkapkan harapannya agar mahasiswa UMM khususnya FEB memiliki wawasan luas dan mencontoh hal-hal positif dari mahasiswa Singapura. “Kami berharap melalui program Tri-City mahasiswa dapat berpikir dan berperilaku secara global sehingga UMM terus mengembangan diri sebagai kampus yang go international,” kata Wiyono. (nim/han)

Di UMM, Kemendikbud Sosialisasikan Kebijakan Pendidikan Keluarga

MENYIKAPI berkembangnya kecanggihan teknologi, maraknya kasus kekerasan pada anak, dan makin menyebarnya peredaran narkoba di lingkungan pelajar mendorong Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) susun program utama pelibatan keluarga di satuan pendidikan. Program utama ini lantas disosialisasikan pada berbagai elemen di auditorium hotel UMM Inn, Rabu (24/5). Program utama pelibatan keluarga di satuan pendidikan tersebut di antaranya anjuran orang tua untuk mengantar anak di hari pertama sekolah. Hal ini, menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Dr Sukiman MPd adalah hal yang penting untuk membangun kepercayaan anak dan memotivasi anak lebih semangat belajar. Di depan 150 peserta seminar, Sukiman lalu menyanyikan lagu Hari Pertama Masuk Sekolah. “Hari ini hari pertamaku, hari pertama ke sekolah, senangnya hatiku diantar ayah ibu, pergi berangkat ke sekolah, senangnya hatiku bertemu teman baru, guru baru, tentulah ramah, ayo ke sekolah, ayo ke sekolah,” demikian lirik yang dinyanyikan Sukiman diikuti oleh peserta. Program utama lainnya yaitu pertemuan orangtua siswa minimal 2 kali tiap semester untuk membahas perkembangan dan kendala anak di sekolah, adanya pendidikan parenting oleh paguyuban wali murid, mendatangkan alumni sekolah untuk memberi motivasi saat pembinaan upacara bendera, dan mengadakan pameran karya dan pentas seni di akhir tahun. Peran keterlibatan keluarga, lanjut Sukiman, penting digalakkan karena akan menimbulkan dampak psotif yang besar pada anak. “Akan meningkatkan keinginan anak untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi,” tutur Sukiman. Anak yang enggan melanjutkan sekolah, meski secara finansial tergolong cukup, bisa jadi disebabkan oleh kurangnya keterlibatan orang tua secara emosi. “Jadi, faktor kemiskinan itu sejatinya bukan faktor utama. Anak dari keluarga kurang sejahtera juga bisa memiliki motivasi belajar dan prestasi yang tinggi bila orang tua terlibat,” tegas Sukiman. Sementara itu, staff bidang pendidikan Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) yang juga istri Mendikbud, Suryan Widati, SE MSA Ak mengungkapkan miris menyaksikan kasus yang muncul di kalangan pelajar, baik pelajar yang mulai mengenal narkoba, kekerasan, bahkan pornografi. Di antara penyebab munculnya kasus-kasus ini adalah anak yang mulai mengenal gawai dan orang-orang yang eksis di media sosial dan menyebarkan nilai-nilai kurang positif pada masyarakat, khususnya pelajar, yang lantas dijuluki artis. “Masalah yang muncul pada anak bukan menjadi tanggung jawab sekolah semata. Kesinambungan orang tua, sekolah, dan masyarakat adalah mutlak,” tegas Widati. Oleh karenanya, menjadi hal yang urgen untuk diperhatikan mengenai kegiatan anak sepulang sekolah sebelum sampai di rumah. “Komunikasi antara orang tua dengan guru kelas wajib dijaga untuk memantau anak-anak kita,” pesan Widati. 150 peserta yang hadir yakni para stakeholder di dunia pendidikan, baik secara langsung maupun tak langsung. Di antaranya, kepala PAUD, kepala sekolah TK, SMP, dan SMA se-kota Malang, lurah, camat, PKK, Aisyiyah, dan dinas pendidikan. Selain Sukiman dan Widati, pemateri di sesi kedua yakni Staff Khusus Kemendikbud Nasrullah S Sos MSi dan dekan Fakultas Psikologi yang juga psikolog perkembangan anak Dr Iswinarti MSi. (ich/han)

E Awards Pamerkan Prestasi Siswa Sekolah Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH Education (ME) Awards merupakan ajang tahunan yang dilaksanakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Ajang ini diharapkan menjadi apresiasi akan prestasi dan karya siswa-siswa sekolah Muhammadiyah. ME Awards 2017 secara resmi dibuka oleh Ketua PWM Jawa Timur Dr M Saad Ibrahim MA, Sabtu (23/9) di UMM Dome. Pada kegiatan pembukaan juga diumumkan sekolah-sekolah pemenang dari tiga kategori yaitu Muhammadiyah Inspiring School, Muhammadiyah Excellent School, Muhammadiyah Outstanding School . Selain itu, SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo dan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi juga berkesempatan untuk melakukan launching buku karya guru dan siswa dari dua sekolah tersebut. Pujian dan rasa bangga disampaikan ketua Disdakmen Jawa Timur Arbaiyah Yusuf MA. “Hal ini sangat membanggakan dan juga merupakan suatu penghargaan bagi Muhammadiyah karena secara aktif mendukung kegiatan literasi untuk membentuk generasi muda yang bewawasan luas,” kata Arbaiyah. Acara pembukaan dilanjutkan dengan Education Conference oleh Prof Dr Din Syamsuddin dan diikuti para guru berprestasi dari beberapa perguruan Muhammadiyah se-Jawa Bali. Din berbicara tentang penguatan pendidikan karakter bagi generasi muda sebagai tugas wajib bagi Muhammadiyah untuk meciptakan generasi milennial yang religius. Sementara itu, sebanyak 2200 peserta dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas memgikuti rangkaian olimpiade akademik dan non-akademik di antaranya Lomba Islam dan Kemuhammadiyaan (Ismu) Arab, Ismu Inggris, IPA, Matematika, Inovasi Media, Majalah, dan Robotika. (nis/han)

Bupati Bojonegoro Raih Gelar Doktor di UMM

INISIASI masyarakat lokal dapat menjadi inspirasi dan solusi bagi demokrasi dalam konteks nasional. Hal itulah yang coba diangkat oleh Bupati Bojonegoro, Suyoto, saat promosi gelar Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang berlangsung di Auditorium UMM, Sabtu (23/9). Bagi Suyoto, satu di antara penyebab demokrasi menjadi belum efektif karena demokrasinya hanya bersifat prosedural sehingga hanya menghasilkan konflik. Karena itu, melalui riset disertasinya tentang Rukun Kematian di Desa Pajeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Suyoto ingin menekankan, bahwa nilai-nilai lokal di desa itu bisa menjadi buah demokrasi sekaligus inspirasi bagi bangsa. Disertasi berjudul “Konstruksi Pemaknaan Ritual Kematian sebagai Perwujudan Nilai-Nilai Kebajikan Sosial dalam Perspektif Bergerian” itu mengungkap tentang bagaimana masyarakat Desa Pajeng melakukan transformasi, dengan menafsir ulang tentang ritual kematian menjadi pemahaman baru, lalu melembagakannya dalam bentuk rukun kematian, sehingga melahirkan kemanfaatan sosial Melalui disertasinya, Suyoto menyebut bahwa masyarakat Desa Pajeng semula tergugah karena kematian seorang warga bisa menjadi beban bagi keluarganya, karena ada “kewajiban sosial” memenuhi serangkaian ritual kematian yang menguras dana. “Ritual itu dipandang warga desa sebagai aktivitas yang memiskinkan dan tidak produktif, yang miskin malah akan semakin miskin,” ujar Suyoto. Berdasar fakta itulah, kata Suyoto, warga desa menggagas pembentukan Rukun Kematian (RK) untuk memperbarui praktik ritual kematian, dengan memastikan agar warga yang miskin tidak semakin miskin. Selain itu, juga memastikan agar RK memiliki manfaat bagi kepentingan bersama. Setelah adanya RK ini, beban keluarga yang sanaknya meninggal tidak hanya berkurang, namun juga sangat terbantu. “Misalnya apabila ada orang yang meninggal, maka warga tidak ada yang bekerja di sawah, semua datang untuk membantu ritual kematian, seperti gali makam, bikin penduso. Tidak perlu ada yang memerintah, semua berjalan sendiri-sendiri, jadi yang bekerja semuanya guyub dan rukun semuanya,” tutur Suyoto. Bagi Suyoto, tafsir ulang ritual kematian di Desa Pajeng ini menjadi contoh dari dialog generatif yang terjadi melalui tiga tahap, yang dimulai dengan antem-anteman atau debat kusir akan suatu persoalan, lalu berlanjut pada forum kongkow, cangkrukan, dan jagongan secara informal. Dan terakhir, terjadi forum rembukan di mana masyarakat melahirkan konsensus baru. “Ini adalah buah demokrasi yang sangat berharga bagi bangsa ini,” kata Suyoto. Kelulusan Suyoto sebagai gelar doktor dipromotori oleh Prof Dr  Hotman  Siahaan, sementara co-promotor yaitu Prof Dr Ishomuddin MSi, Dr  Wahyudi MSi dan Dr Rinekso Kartono MSi. Sebelum menempuh gelar doktor di UMM, Suyoto sebelumnya juga menamatkan program master di kampus ini, tepatnya di Program Master Sosiologi UMM pada 1996. Sementara dari sisi riwayat karir, sebelum menjadi Bupati Bojonegoro, Suyoto pernah menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik pada 2000-2004 dan dosen tetap Fakultas Agama Islam UMM pada 1990-2000. (rid/han)

LK Bangun Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

DIREKTUR Kesenian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Dr Restu Gunawan MHum mengatakan, hubungan antara pendidikan dan seni budaya tidak bisa dipisahkan. Kedua aspek tersebut harus saling mendukung satu sama lain. “Satu-satunya jalan membangun kebudayaan yaitu melalui pendidikan, begitu pula sebaliknya,” kata Restu pada kegiatan Seminar Nasional Pendidikan Karakter yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (20/9). Kegiatan bertema “Membangun Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Budaya” ini merupakan hasil kerjasama antara Lembaga Kebudayaan (LK) UMM dengan Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia UMM. Drs Joko Widodo MSi selaku penanggung jawab kegiatan menilai, lemahnya karakter bangsa menjadi ancaman bagi eksistensi negara ini. “Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat cepat memberikan dampak yang beragam, baik positif maupun negatif. Terlebih jika bangsa Indonesia tidak memiliki karakter yang kuat. Hal tersebut merupakan tantangan nyata bagi dunia pendidikan,” ujarnya. Joko Widodo berharap seminar ini akan memberikan dampak signifikan bagi pendidikan karakter, khususnya melalui dimensi budaya. ”Harapannya, seminar ini dapat merumuskan dan mendeklarasikan rekomendasi pendidikan berkarakter bangsa dan juga dapat mendeklarasikan terbentuknya komunitas pegiat pendidikan karakter bangsa berbasis budaya,” jelas Joko dalam sambutannya. Seminar dihadiri 251 orang yang terdiri dari para guru, dosen, mahasiswa S1 dan S2, serta pemerhati pendidikan dan kebudayaan. Tiga pembicara ahli turut hadir, di antaranya sastrawan dan budayawan Indonesia Prof Dr Sumito A Sayuti, pakar pendidikan Prof Dr Wahyudi Siswanto MPd dan Kepala LK UMM Dr Daroe Iswatiningsih MSi. (iel/han)