UMM Manfaatkan Produk Riset Bagi Peternak dan Nelayan

PETERNAK, petani dan nelayan adalah profesi yang menjadi sandaran hidup bagi banyak masyarakat kelas bawah. Agar profesi tersebut lebih produktif dan menjanjikan untuk jangka panjang, kalangan akademik dapat berperan strategis melalui produk riset yang bermanfaat meningkatkan mutu dan profit. Ikhtiar itulah yang di antaranya dilakukan dosen peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Sujono MKes melalui produk penelitian susu kambing fermentasi. Riset ini telah melalui tahap uji pra klinis pada mencit atau tikus kecil. Uji klinis selanjutnya dilakukan pada manusia yang menderita hiperkolesterolemia, hiperuresemia, dan diabetes mellitus selama tiga minggu sebanyak 250cc per hari. Hasilnya, susu kambing fermentasi ini mampu menurunkan kolesterol, asam urat dan glukosa. Sukses penelitian ini mendorong Sujono memproduksi susu kambing secara massal sejak setahun terakhir. Selain bermanfaat sebagai penawar bagi penderita hiperkolesterolemia, hiperuresemia, dan diabetes mellitus, produksi susu kambing ini juga berimbas positif pada peternak kambing perah. Sujono menggandeng peternak kambing perah binaan di wilayah Batu, Dampit, dan Tirtoyudo, kabupaten Malang. Tak hanya itu, Sujono juga mengajarkan proses budidaya pada para peternak sehingga produksi susu meningkat menjadi kualitas susu terbaik. Di bidang serupa, Dr Ir Ahmad Wahyudi MKes juga menciptakan produk riset pakan ternak konsentrat yang telah mengantongi Hak Kekayaan Intelektual. Pakan ternak konsentrat ini bermula dari kerisauan para peternak yang sulit mendapatkan pakan hijau di musim kemarau. Padahal, hewan ternak harus tetap produktif setiap hari. Sementara itu dosen Sosiologi UMM Dr Vina Salviana Darvina Soedarwo MSi mencoba memberdayakan masyarakat di wilayah pelabuhan pantai Lekok, kabupaten Pasuruan. Vina memberdayakan istri-istri nelayan pada dua Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) pantai Lekok dengan menanamkan mindset wirausaha. Dimulai 2016, penelitian yang didanai Ristekdikti tersebut dilakukan dengan memberikan pelatihan pengolahan ikan, yakni membuat nugget, bakso, kaki naga, maupun kerupuk berbahan baku ikan. Hasilnya positif, hingga sekarang masyarakat yang mendapatkan pelatihan dan pendampingan ini produktif membuat olahan ikan selain terasi dan ikan asin. (ich/han)

Diplomat Asing Belajar Budaya Indonesia di UMM

HINGGA sebulan ke depan, sebanyak 12 diplomat asing dari 12 negara akan belajar bahasa dan budaya Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka berasal dari Afrika Selatan, Fiji, Iran, Jepang, Kamboja, Kazakhstan, Kolumbia, Laos, Papua Nugini, Spanyol, Sri Lanka, dan Zimbabwe. UMM dipercaya melatih diplomat asing setelah melalui serangkaian seleksi yang dilakukan oleh Badan Diklat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI. Istimewanya, ini pertama kalinya Kemenlu bekerjasama dengan perguruan tinggi. Kesempatan ini diraih lantaran UMM memiliki beberapa keunggulan, di antaranya ketersediaan fasilitas pendukung, tenaga pengajar berkualitas, serta kurikulum dan silabus yang terstandar. Ke-12 diplomat asing itu telah mengikuti pembukaan promosi budaya dan bahasa Indonesia oleh unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM yang berlangsung Selasa (1/8) malam, sementara pengenalan budaya Indonesia dilakukan mulai 2 hingga 31 Agustus 2017. Dikatakan kepala BIPA UMM Dr Arif Budi Wurianto MSi, selain belajar bahasa, peserta juga akan diajarkan tentang karawitan, menari, membatik, dan pariwisata. Beberapa tempat pariwisata di Malang, Batu, dan Probolinggo yang memungkinkan menjadi promosi yang bagus dengan negara mereka akan menjadi lokasi tujuan pembelajaran. Mereka juga akan ikut upacara peringatan kemerdekaan RI 17 Agustus mendatang. “Mereka nantinya akan bertugas menjadi diplomat Indonesia atau minimal mempopulerkan budaya dan pariwisata di negara masing-masing. Ini yang menjadi pembeda dengan program Darmasiswa RI,” jelas Arif. Rektor UMM dalam sambutannya mengatakan pembelajaran ini menjadi instrumen yang penting untuk diplomasi. Hal ini lantaran seorang diplomat mesti memiliki kemampuan diplomasi komunikasi dan pengalaman terkait kebudayaan di negara tempat tugasnya. Pada pembukaan kegiatan, selain menjadi media perkenalan dengan tim BIPA sebagai pengajar, peserta juga disuguhi makanan khas Indonesia diiringi alunan lagu-lagu Jawa. Beberapa peserta bahkan menyumbangkan lagu, seperti Jabulisile Creasantia Msibi yang menyanyikan lagu dari Afrika Selatan. Pelaksanaan program ini juga memberdayakan mahasiswa dari berbagai jurusan untuk menjadi buddies atau teman pendamping. Tiap buddy akan membantu peserta baik dalam pembelajaran maupun keperluan sehari-hari. (ich/han)

UMM Berdayakan Masyarakat Lokal Melalui Kampung Wisata

SALAH satu cara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberdayakan masyarakan lokal yaitu dengan mendorong para pakarnya menghadirkan konsep kampung wisata di wilayah pinggiran. Desa wisata organik Lombok Kulon di Bondowoso, ekowisata konservasi penyu dan Hutan Mangrove di Pacitan, serta desa wisata petik jambu di Camplong Madura adalah di antaranya. Berkunjung ke Desa Lombok Kulon, Kabupaten Bondowoso, wisatawan akan disuguhi sumber daya alam bebas pestisida. Suasana natural lebih terasa dengan memetik buah-buahan, sayur-sayuran, memanen ikan, lalu memasaknya sesuai selera. Itulah desa wisata organik Lombok Kulon, salah satu dari kampung wisata yang didampingi pakar UMM. Keberadaan desa organik ini tak luput dari campur tangan Prof Dr Ir Indah Prihartini MS, pakar pertanian dan peternakan organik dari UMM, yang mendampingi pengembangan desa ini melalui program pengabdian masyarakat yang didanai Direktorat Pendidikan Tinggi (Hi-Link Dikti). Selama tiga tahun, yaitu 2013-2015, Indah membantu melakukan pengembangan klaster padi organik sebagai upaya peningkatan kemandirian pangan berkelanjutan di Bondowoso. Selain itu, Indah juga membantu para petani mengupayakan pertanian organik yang sebelumnya sempat mengalami kegagalan. Saat ini, dengan populernya desa wisata Lombok Kulon, perekonomian masyarakat lokal terangkat karena kian banyak bidang yang dapat digarap, di antaranya input produksi, termasuk produk beras organik yang setiap jamnya mencapai empat ton dan sudah diproyeksikan untuk ekspor. Masyarakat juga memanfaatkan aliran irigasi untuk wisata tubing, wisata edukasi organik, berjualan makanan dan oleh-oleh organik, serta menyewakan rumah untuk homestay bagi wisatawan yang menginap. Kesadaran masyarakat untuk bertani organik pun kian meningkat. Tak kurang dari 25 hektar lahan pertanian di Lombok Kulon telah menghasilkan hasil pertanian organik. Selain Lombok Kulon, UMM juga memberdayakan masyarakat melalui ekowisata, yakni konservasi penyu dan hutan mangrove di Kabupaten Pacitan atas inisiasi dosen Biologi UMM Wahyu Prihanta. Kehadiran ekowisata ini cukup ampuh menggeliatkan perekonomian masyarakat setempat. Di antaranya pendirian warung-warung serta pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan ekowisata. Tak hanya integrasi konservasi Penyu dan Mangrove saja, untuk menyedot lebih banyak wisatawan, di tepi pantai juga disiapkan kolam renang dan di atasnya terpasang flying fox terpanjang di Indonesia yang mencapai 450 meter. Ada pula dosen Agroteknologi UMM Ir Henik Sukorini PhD yang turun tangan menjadi ketua program pengembangan jambu air khas Camplong di Sampang, Madura. Lewat tangan dingin Henik, area tersebut disulap menjadi desa wisata petik jambu. Konsepnya bercermin dari desa wisata petik jeruk dan apel khas Malang. (can/han)

UMM Berangkatkan 22 Calon Jamaah Haji

MEMASUKI musim haji 1438 Hijriyah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan memberangkatkan 22 orang calon jamaah haji. Rombongan yang terdiri dari dosen dan karyawan tersebut telah memenuhi sejumlah syarat, salah satunya telah mengabdi dan berdedikasi setidaknya 25 tahun di UMM. Salah seorang karyawan yang diberangkatkan, Imam Syafi’i mengungkapkan syukur dan kebahagiannya. Pengabdiannya selama 25 tahun diganjar dengan penghargaan diberangkatkannya ia ke Tanah Suci. Kesehariannya, Imam diperbantukan sebagai tenaga ekspedisi surat dan membantu teknis administrasi di Biro Administrasi Umum (BAU). “Saya sangat berterimakasih kepada UMM yang telah membiayai saya dan karyawan lainnya. Mulai dari biaya haji, manasik, imigrasi, kesehatan dan lainnya. Terimakasih sebesar-besarnya untuk UMM,” ungkapnya saat diwawancarai usai gelaran pelepasan calon jamaah haji UMM, Selasa (1/8). Wakil Rektor II Dr Nazarudin Malik MM menerangkan, tiap tahunnya UMM memiliki tradisi memberangkatkan sejumlah karyawan, dosen beserta keluarganya untuk naik haji. “Sebagai institusi yang berada di bawah persyarikatan Muhammadiyah, maka ibadah haji ini menjadi tradisi tersendiri bagi segenap warga UMM,” ungkapnya. Diterangkan Kepala BAU sekaligus penanggungjawab acara, Ir Sunarto MT, dalam laporannya, seluruh biaya pemberangkatan karyawan sepenuhnya ditanggung universitas. Sedangkan untuk dosen, lanjut Sunarto, diberi bantuan untuk meringankan ongkos pemberangkatan hajinya. Hadir pula memberi arahan Sekretaris Badan Pelaksana Harian (BPH) UMM Wakidi. Ia mengingatkan tempat-tempat di mana doa mudah dikabulkan, di antaranya pintu multazam, pintu yamani dan hajar aswad. “Berdoalah untuk diri sendiri, untuk keluarga dan untuk keluarga besar kampus ini,” tuturnya. (can/han)

Pascasarjana UMM Perkuat International Benchmarking

PROGRAM Pascasarjana (PPs) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkembang. Saat ini, PPs telah memiliki 11 program magister dan tiga program doktor. Selain peningkatkan kuantitas, aspek kualitas akademik juga menjadi perhatian, utamanya melalui perluasan jejaring dan international benchmarking. Program magister PPs UMM terdiri dari Magister Pendidikan Agama Islam, Magister Sosiologi, Magister Manajemen, Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan, Magister Pendidikan Matematika, Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Magister Pendidikan Bahasa Inggris, Magister Agribisnis, Magister Hukum, Magister Psikologi Sains, dan Magister Psikologi Profesi. Sementara program doktor terdiri dari, Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Doktor Pendidikan Agama Islam, dan Doktor Ilmu Pertanian. Mata kuliah yang ditempuh mahasiswa Magister antara 42-48 SKS dengan masa studi 4-8 semester, sedangkan Program Doktor 46-52 SKS dengan masa studi 6-10 semester. Untuk gelombang kedua, pendaftaran mahasiswa baru PPs dibuka mulai 22 Juli hingga 5 Agustus 2017, “Kecuali Magister Psikologi Sains dan Magister Psikologi Profesi yang sudah ditutup di gelombang ini karena telah memenuhi kuota di gelombang pertama,” kata Wakil Direktur III PPs UMM Dr Wahyudi. Terkait syarat pendaftaran, lanjut Wahyudi, dapat dilihat di laman online PMB UMM. Khusus mahasiswa internasional, PPs UMM menyaratkan calon mahasiswa memperoleh ijin dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti dan mengurus visa atau kartu tinggal di Indonesia yang dapat dilakukan dengan bantuan Biro Kerjasama Luar Negeri UMM. Untuk pengembangan mutu akademik, benchmarking dengan  berbagai kampus di luar negeri juga terus dilakukan PPs UMM. “Saat ini setiap program studi di Pascasarjana UMM sudah memiliki kampus partner benchmarking di luar negeri yang menjadi standar untuk mengukur mutu akademik,” jelas Wahyudi. (*)

PUSAM UMM Didik Aktivis HAM dan Perdamaian Internasional

SEBANYAK 30 peneliti muda hak asasi manusia yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia tengah disiapkan oleh Pusat Studi Agama dan Multikuluralisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menjadi aktivis hak asasi manusia (HAM) dan perdamaian internasional. Bekerjasama dengan Oslo Coalition-Norwegian Center for Human Rights, the University of Oslo, Norwegia dan International Center for Law and Religion Studies, Brigham Young University, USA para peneliti itu mengikuti Master-Level Course (MLC) on Sharia and Human Rights yang diadakan pada 24 hingga 28 Juli 2017. MLC merupakan tahap pertama dari dari program studi jangka pendek setingkat master ini. Selanjutnya, selepas acara hingga September 2017, mereka diminta melakukan riset tentang berbagai isu-isu HAM terkini yang berkembang di masyarakat. Selanjutnya pada akhir September, para peneliti bertemu kembali untuk mempresentasikan penelitian mereka di hadapan para pakar HAM nasional dan internasional. Para pakar HAM internasional yang terlibat dalam program ini di antaranya Prof Tore Lindholm dan Lena Larsen PhD (Oslo Coalition, Norwegia), Prof Brett Scharffs (Bringham Young University, USA), Prof Heiner Bielefeldt (PBB) Prof Jeroen Tempermen (Erasmus University Rotterdam, Belanda), dan Prof Mun’im Sirry (University of Notre Dame, USA). Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi menjelaskan, MLC merupakan program yang fokus pada isu-isu kekinian seputar HAM dan syariah. Mulai dilaksanakan sejak 2011, hingga saat ini program MLC telah memasuki angkatan ketujuh. Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini di antaranya membuka kesadaran pada para pegiat HAM terhadap berbagai problem HAM di Indonesia dan internasional, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan syariah atau hukum Islam Bagi Prof Heiner Bielefeldt, pelanggaran HAM bisa terjadi di mana saja, dan melalui modus apa saja. Bisa lewat birokrasi, sekolah, tempat kerja, dengan melibatkan isu agama, kekerasan, dan terorisme. “Dalam konteks masyarakat Indonesia yang religius, tantangannya tentu lebih beragam, karena isunya bisa meluas pada pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan,” kata Heiner yang juga merupakan guru besar HAM di University of Erlangen, Jerman. Para peserta yang mengikuti acara ini merupakan hasil seleksi dari ratusan pendaftar se-Indonesia. Mereka terdiri dari aktivis mahasiswa, dosen, peneliti, dan pegiat HAM yang berasal dari Aceh, Yogyakarta, Banjarmasin, Jakarta, Riau, dan sejumlah kota di Jawa Timur. Salah satu peserta terbaik nantinya akan diberangkatkan ke Norwegia untuk kuliah singkat HAM di University of Oslo. (can/han)

Karyawan Purnatugas Dididik Berwirausaha Tanaman Organik

UMUMNYA, orang Indonesia merasa inferior jelang masa purna tugas atau pensiun. Mereka kerapkali dirundung perasaan tak berguna dan tak dibutuhkan bagi lingkungan sekitar. Imbasnya, mereka tak siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di hari tua. Termasuk bagaimana memperoleh pemasukan untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun tidak demikian bagi karyawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Orang yang purna tugas adalah orang hebat, karena dia telah menuntaskan pengabdiannya kepada UMM,” demikian disampaikan Direktur UMM Farm Rahmad Pulung Sudibyo di Laboratorium Terpadu UMM membesarkan hati para karyawan jelang masa purna tugasnya, Sabtu (29/7). Rahmad sekaligus membocorkan kiat-kiat suksesnya bertani tanaman organik. Bagi Rahmad, berwirausaha adalah bagaimana seseorang dapat melihat peluang bisnis di manapun dan kapanpun. “Wirausaha adalah proses mental dalam diri seseorang untuk menghasilkan nilai tambah atau daya guna terhadap sumber daya yang tersedia dengan cara yang baru dan berbeda, melalui penerapan hasil kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menciptakan peluang dalam kehidupan,” bebernya. Meski berada di usia yang tak lagi muda, Rahmad mendorong untuk para peserta percaya diri memulai usaha. Dalam catatan sejarah, imbuh Rahmad, banyak tokoh dunia yang memulai usaha di hari tua dan berhasil. Rahmad mengisahkan kegigihan Kolonel Sanders, pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Dia memulai berbisnis di usia 66 tahun. Selain Rahmad yang berbagi kisah suksesnya lewat tanaman organik, dosen Fakultas Pertanian Peternakan UMM, Ganjar Adhywirawan Sutarjo juga berbagai kisah suksesnya lewat aplikasi budidaya ikan model Aquaponik. Aquaponik merupakan sebuah alternatif menanam tanaman dan memelihara ikan dalam satu wadah. Tak kalah penting, seluruh peserta juga diajak berpraktik langsung membuat medium bercocok tanaman organik dan aplikasi aquaponik. (can/han)

UMM dan Muhammadiyah Diminta Proaktif Bantu Muslim Rohingya

PAKAR hak asasi manusia (HAM) Internasional dari Oslo Coalition Norwegia Prof Tore Lindholm meminta Muhammadiyah secara umum dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara khusus untuk proaktif membantu minoritas Muslim Rohingya mendapatkan haknya sebagai warga negara untuk hidup aman dan damai. Bagi Tore, salah satu elemen HAM menjamin agar seorang pemeluk agama dapat diperlakukan secara adil oleh kelompok mayoritas. “Saya sangat kagum dengan gerakan Muhammadiyah, saya berharap organisasi ini, dengan berbagai kekuatan yang dimilikinya proaktif membantu Muslim Rohingya,” kata Tore pada acara Master-Level Course (MLC) on Sharia and Human Rights yang diadakan Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) UMM (27/7) di Hotel UMM Inn. Dalam konteks kerjasama dengan UMM, kata Tore, Oslo Coalition menekankan pentingnya kombinasi antara HAM dan syariah, mengingat Indonesia merupakan negara mayoritas Muslim. “Sebagai institusi yang berada di bawah organisasi yang besar, yaitu Muhammadiyah, saya kira UMM dapat berperan lebih dalam berbagai isu-isu pelanggaran HAM yang terjadi di berbagai belahan dunia, atau setidaknya di kawasan Asia Tenggara,” jelas Tore. Secara khusus Prof Tore Lindholm juga mengaku terkesan dengan Indonesia yang disebutnya sebagai negara demokrasi yang menjanjikan. “Kami (Oslo Coalition) bekerjasama dengan berbagai institusi di Indonesia, untuk bersama-sama meneliti, sejauh mana implementasi HAM bisa optimal di ruang publik,” ujar Tore. Tore menyampaikan apresiasinya terhadap PUSAM yang mampu mempertahankan terselenggaranya kegiatan yang baginya tidak biasa bagi kebanyakan masyarakat umum ini. “Adalah sebuah ide gila menyatukan syariah dan HAM, karena itu saya ucapkan selamat atas forum ini,” kata Tore pada para peserta. Kegiatan MLC sudah dimulai sejak 2011, dan kini memasuki angkatan ketujuh. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama PUSAM UMM dengan Oslo Coalition-Norwegian Center for Human Rights, the University of Oslo, Norwegia; International Center for Law and Religion Studies, Brigham Young University, Utah, USA; dan The Asia Foundation. Diungkapkan kepala PUSAM UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini di antaranya memberikan pemahaman kepada aktivis atau mahasiswa mengenai hubungan antara syariah dan HAM, dalam konteks harmoni, konflik, interaksi, dan respons terhadap berbagai isu kontemporer. “Sekaligus membuka kesadaran pada para pegiat HAM terhadap berbagai problem HAM di Indonesia, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan syariah atau hukum Islam,” terang Wakil Rektor I UMM ini. (can/han)

LK Ungkap Urgensi Wariskan Budaya Leluhur

MEDIA seperti tarian, lagu, kitab, dan bahasa, artefak dan bentuk peninggalan leluhur lainnya harus dikenalnya kepada generasi mendatang. Langkah tersebut penting lantaran kebudayaan kita mengandung nilai nilai luhur yang tidak dimiliki kebudayaan-kebudayaan baru, yang kecenderungannya menggerus kebudayan lokal yang notabene berkiblat ke Timur Seorang pakar Kebudayaan dari Jawaharlal Nehru University India, Dr. Ghautam menerangkan, bahwa Kebudayaan harus terus diwariskan dari generasi ke generasi. Cita-cita tersebut tidak bisa terwujud kecuali diajarkan melalui proses yang berlangsung sejak dini dan bertahun-tahun lamanya. “Bahkan seorang anak harus dikenalkan bahasa ibu sedari ia kecil. Hal itu dimaksudkan agar nilai-nilai luhur lebih merasuk ke dalam anak itu,” ungkapnya dalam Kajian Multidisipliner Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertajuk “Perspektif Budaya Tradisional dan Mancanegara dalam Membangun Karakter Bangsa”, Kamis (27/7). Sementara menurut Dwi Cahyo, SE. yang merupakan pegiat Budaya Malang, untuk menerapkan pembelajaran kebudayaan tidak serta merta begitu saja diajarkan. Belajar kebudayaan tidak bisa diajarkan secara instan, seperti membuat aplikasi yang menyediakan informasi seputar Budaya Malang, misalnya. Butuh pengkondisian atmosfer yang mendukung untuk menerapkan pembelajaran tersebut. “Aplikasi yang disedikan oleh aplikasi gadget misalnya, tidak akan memberikan dampak yang begitu besar terhadap pengetahuan anak-anak. Butuh keterlibatan panca indra, utamanya indra peraba dan penglihatan agar pengetahuan tersebut bisa sampai meresap ke hati. Misalnya mendirikan sebuah museum dan menyediakan infrastruktur yang mendukung pembelajaran budaya,” ungkap pria yang juga penggagas Festival Malang Tempo Doeloe ini. Iis Siti Aisyah, Ph.D., dari Lembaga Lembaga Kebudayaan yang turut menjadi panelis menjelaskan, bahwa tidak semua yang berasal dari Barat membawa dampak buruk, demikian sebaliknya. “Indonesia yang berkilblat pada budaya Timur mewarisi budaya luhur. Tapi karena terus dibombardir oleh budaya luar dan kita tidak mampu memfiternya, sehingga terjadi pergeseran. Utamanya pada generasi muda,” ungkapnya. (can/han)

PUSAM UMM Hadirkan Pelapor HAM PBB, Tinjau Implementasi HAM di Indonesia

PELAPOR hak asasi manusia (HAM) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Prof Heiner Bielefeldt menilai, pelanggaran HAM bisa terjadi di mana saja, dan melalui modus apa saja. Bisa lewat birokrasi, sekolah, tempat kerja, dengan melibatkan isu agama, kekerasan, dan terorisme. “Dalam konteks masyarakat Indonesia yang religius, tantangannya tentu lebih beragam, karena isunya bisa meluas pada pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan,” kata Heiner yang juga merupakan guru besar HAM di University of Erlangen, Jerman. Hal itu disampaikan Heiner pada salah satu sesi di perhelatan kursus selevel master atau Master-Level Course (MLC) on Sharia and Human Rights yang diadakan oleh Pusat Studi Agama dan Multikuluralisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 24 hingga 28 Juli 2017. Selain Heiner, para pakar HAM internasional yang hadir di antaranya Prof Tore Lindholm dan Lena Larsen PhD (Oslo Coalition, Norwegia), Prof Brett Scharffs (Bringham Young University, USA), Prof Jeroen Tempermen (Erasmus University Rotterdam, Belanda), dan Prof Mun’im Sirry (University of Notre Dame, USA). Beberapa pakar HAM nasional juga dihadirkan agar kontekstual dengan isu-isu terkini di Indonesia, di antaranya Prof Syamsul Arifin dan Cekli Setya Pratiwi LLM (UMM), Ihsan Ali Fauzi (the Asia Foundation), dan Dr Ahmad Nur Fuad (UIN Sunan Ampel Surabaya). Secara khusus Prof Tore Lindholm mengaku kagum dengan Indonesia yang disebutnya sebagai negara demokrasi yang menjanjikan. “Kami (Oslo Coalition) bekerjasama dengan berbagai institusi di Indonesia, untuk bersama-sama meneliti, sejauh mana implementasi HAM bisa optimal di ruang publik,” ujar Tore. Dalam konteks kerjasama dengan UMM, kata Tore, Oslo Coalition menekankan pentingnya kombinasi antara HAM dan syariah, mengingat Indonesia merupakan negara mayoritas Muslim. “Saya juga berharap pada UMM dan Muhammadiyah agar berperan dan ikut terlibat dalam isu-isu HAM internasional yang melibatkan agama, seperti yang terjadi pada Muslim Rohingya di Myanmar,” jelas Tore. Tore juga menyampaikan kebanggaannya terhadap PUSAM yang mampu mempertahankan terselenggaranya kegiatan yang baginya tidak biasa bagi kebanyakan masyarakat umum ini. “Adalah sebuah ide gila menyatukan syariah dan HAM, karena itu saya ucapkan selamat atas kehadiran Anda di forum ini,” kata Tore pada para peserta. Kegiatan MLC sudah dimulai sejak 2011, dan kini memasuki angkatan ketujuh. Kegiatan yang merupakan hasil kerjasama PUSAM UMM dengan Oslo Coalition-Norwegian Center for Human Rights, the University of Oslo, Norwegia; International Center for Law and Religion Studies, Brigham Young University, Utah, USA; dan The Asia Foundation ini diikuti 30 peserta terseleksi yang terdiri dari aktivis mahasiswa, dosen, peneliti, dan pegiat HAM yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Aceh, Yogyakarta, Banjarmasin, Jakarta, Riau, dan sejumlah kota di Jawa Timur. Salah satu peserta terbaik nantinya akan diberangkatkan ke Norwegia untuk kuliah singkat HAM di University of Oslo. Diungkapkan kepala PUSAM UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini di antaranya memberikan pemahaman kepada aktivis atau mahasiswa mengenai hubungan antara syariah dan HAM, dalam konteks harmoni, konflik, interaksi, dan respons terhadap berbagai isu kontemporer. “Sekaligus membuka kesadaran pada para pegiat HAM terhadap berbagai problem HAM di Indonesia, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan syariah atau hukum Islam,” terang Wakil Rektor I UMM ini. (can/han)