Tertarik Program Pengabdian Masyarakat UMM, 12 Dosen Amerika Kunjungi UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi satu-satunya kampus di Jawa Timur yang menjadi jujugan dosen-dosen dari 12 kampus di Amerika Serikat yang tergabung dalam ASIA Network Faculty Enhancement Program (ANFEP), Senin (24/7). Kegiatan yang bekerja sama dengan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM ini dihelat di Auditorium Fakultas Ekonomi UMM. Co-director ANFEP, Prof Siti Kusujiarti PhD menyatakan, dipilihnya UMM lantaran karakteristiknya yang unik, yakni kampus di bawah yayasan Muhammadiyah yang bernapaskan Islam, namun tetap mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. “Utamanya, yang sering kami dengar adalah pengabdian masyarakat yang banyak dilakukan UMM. Kami ingin belajar itu,” ungkapnya. Program ini, lanjut Siti, bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan dan informasi pada dosen-dosen yang berkecimpung di Asian Studies. Nantinya, hasil dari ‘keliling kampus’ ini akan diintegrasikan dalam kurikulum di kelas serta penelitian-penelitian sesuai dengan spesialisasi dosen. Selain UMM, ada empat kampus lainnya yang dikunjungi ANFEP selama tiga minggu di Indonesia, yakni UIN Yogyakarta, Universitas Janabadra Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan Universitas Hindu Indonesia. Fokus tema yang ingin dipelajari di berbagai kampus yakni tentang masalah perubahan sosial, lingkungan, agama dan budaya. Di UMM, ke-12 dosen ini disuguhi presentasi tentang beberapa program penelitian, pengabdian masyarakat, dan pengembangan teknologi. Di antaranya, proyek UMM di bidang lingkungan yakni pembangunan PLTMH Sumber Maron di desa Karangsuko, kabupaten Malang. Dipaparkan kepala PLTMH UMM, Ir Suwignyo MT pada 2009, 1100 warga di sekitar Sumber Maron mengandalkan energi listrik dari PLN. Sejak dibangunnya PLTMH oleh UMM pada 2014, jumlah warga yang menggunakan listrik meningkat menjadi 1800. Presentasi juga dilakukan oleh kepala Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) UMM, Dra Thathit Manon Andini MHum terkait penelitian, seminar, dan talkshow yang kerap dilakukan LP3A tentang isu gender, perempuan, dan anak. Sementara, kepala unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) menguraikan tentang budaya lokal dan perbedaan agama di Malang. Perbincangan ini mengupas tentang harmoni kehidupan berbudaya di Malang dengan segala kekhasannya. Terakhir, presentasi dilakukan oleh dosen program studi Hubungan Internasional Tony Dian Efendy MA tentang komunitas Cina di Malang. Identitas yang majemuk mempengaruhi komunitas Cina di Malang. Ada lima macam identitas yang mempengaruhi komunitas Cina di Malang, yakni identitas sebagai WNI, identitas sebagai kelompok etnis, identitas berkaitan dengan agama, identitas berkaitan dengan daerah asal di Indonesia, dan identitas berkaitan dengan asal nenek moyang di Cina. Perbincangan ini membangkitkan antusiasme peserta lantaran beberapa dosen berasal dari etnis Cina, salah satunya Associate Professor of Asian Studies and Chinese Language Belmont University, Prof Qingjun Li PhD. Antusias profesor yang banyak melakukan penelitian tentang agama dan identitas ini tampak dari pertanyaan yang diajukannya. Ia juga menceritakan tentang Chinese immigrant di Amerika. Perihal kerjasama dengan ANFEP ke depan, Siti mengungkapkan UMM memiliki peluang yang besar. “Ini adalah awal dari kerjasama selanjutnya. Karena peserta berasal dari 12 kampus yang berbeda, jadi peluang untuk kerjasama antara UMM dengan masing-masing kampus tersebut bisa terjadi,” ujarnya. Dalam sambutannya, Wakil rRektor I Bidang Akademik UMM Prof Syamsul Arifin mengungkapkan, kerjasama internasional menjadi bidang yang selalu dikembangkan di UMM. Dengan Amerika Serikat, UMM telah bekerja sama di beberapa program di antaranya UMM pernah melatih 70 relawan dari organsisasi Peace Corps AS pada 2015 lalu. (ich/han)
Pelantikan Pengurus Wilayah dan Pengurus Komisariat APTISI Wilayah VII Jawa Timur

MELANJUTKAN pengabdian sosial untuk memperjuangkan eksistensi perguruan tinggi swasta (PTS), Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Wilayah VII Jawa Timur menggelar acara Pelantikan Pengurus Wilayah, Pengurus Komesariat dan Halal Bihalal APTISI Wilayah VII Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin 24 Juli 2017. Hadir dalam acara tersebut, Rektor UMM, Ketua APTISI Pusat Budi Djatmiko, Ketua APTISI Wilayah VII Jawa Timur, Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur, serta Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul). Ketua APTISI Wilayah VII Jawa Timur Suko Wiyono menyampaikan, dewasa ini keberadaan PTS tidak kalah dengan perguruan tinggi negeri (PTN). Bahkan hampir diseluruh daerah, peningkatan kualitas dan mutu PTS terlihat jelas. Melalui kerjasama para Pengurus APTISI yang semakin baik Suko yakin secara bertahap PTS mampu bersaing dan menjadi lebih baik dari pada PTN. ”Menjadi tugas pengurus, bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas PTS, terutama kualitas sumber daya manusianya,”tandasnya. Menambahkan Suko, Ketua APTISI Pusat Budi Djatmiko menyampaikan penting kiranya bagi komisariat-komesariat di APTISI Wilayah VII Jatim untuk bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan bebagai cara, salah satunya dengan menyampaikan info-info PTS serta masalah global yang sedang dihadapi kepada pemimpin daerah, khususnya dalam dunia pendidikan. “Sehingga nanti jika ada info–info PTS di masa mendatang dan juga masalah –masalah global ada dapat disampaikan kepada rektor dan diteruskan kepada gubernur,”jelasnya. Suko mencontohkan, PTS-PTS yang ada di wilayah Jawa Barat. Berdasarkan pengamatannya, melalui penilaian yang dilakukan pada setiap semester, hampir seluruh PTS di Jabar memiliki alokasi pemecahan masalah untuk diselesaikan bersama koordinator kopertis serta gubernur. Bukan hanya Jabar, beberapa daerah lain juga tengah melakukan hal yang sama. Suko pun bercita-cita agar PTS di Jatim juga memiliki semangat yang sama. “Alhamdulillah PTS di Jabar sudah berbenah. Kemarin-kemarin ini juga di Lampung. Mudah-mudahan hal ini juga bisa dicapai oleh APTISI Jawa Timur,”tegasnya. Melengkapi Suko, Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur, Suprapto menekankan perlunya memperkuat kerjasama terutama dalam peningkatan kualitas mutu pendidikan. Selama ini, Kopertis Wilayah VII Jatim selalu menjadi nomor I secara nasional. Prestasi ini hendaknya terus dijaga dan diperthankan. “Ayo kita mantapkan kualitas pendidikan di Jatim agar selalu dan selalu bagus secara nasional, ”katanya. Bangga dengan prestasi yang dicapai perguruan tinggi di Jatim, Gus Ipul mengapresiasi terus meningkatnya jumlah lulusan PT yang diserap oleh pasar tenaga kerja. Jika pada sekitar tahun 2014 sekitar 14 persen lulsusan PT di Indonesia terserap didunia kerja, angka ini meningkat di tahun 2016 dengan total sekitar 40 persen. “Yang membanggakan sebetulnya, tahun 2016 lulusan PT se –Jatim, yang diserap pasar tenaga kerja mencapai 80 persen. Target kita ke depan, 99 persen lulusan PT bisa diserap pasar tenaga kerja,”tambahnya. Melanjutkan paparannya, Gus Ipul menegaskan bahka dengan jumlah total sekitar 550.000 mahasiswa, dunia perguruan tunggi perlu bersiap-siap dalam menyambut era digitalisasi. Pada era ini, masyarakat memerlukan generasi yang paham teknologi dengan baik. Pihak PT harus mengenalkan teknologi kepada mahasiswa agar para mahasiswa dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. “Saya titipkan kepada Bapak, Ibu dan saudara-saudara sekalian masa depan Jawa Timur dengan menghadirkan PT yang berkualitas dan bermutu,”pesannya. Di akhir Gus Ipul menyampaikan posisi strategis APTISI sebagai wadah untuk PTS saling belajar dan bertukar fikiran dalam penalaran. Dengan terus memperbaiki kualitas, sesungguhnya antara PTS satu dengan yang lain tidak perlu berebut mahasiswa. Kualitas yang baik, akan membuat mahasiswa tertarik dengan sendirinya. Hal ini yang kemudian menjadi PR bersama, agar PTS mampu berimprovisasi dalam mengelola kampusnya. “Kalau PTS harus pandai pencak silat, artinya pandai dalam meningkatkan mutu, mencari uang dan lain-lain. Saya bangga dan senang, karena di era yang penuh kompetisi seperti ini hal tersebut bukanlah hal yang mudah,”pungkasnya. (sil/han)
Bersama JICA Jepang, FKIP Perluas Implementasi Lesson Study

MELANJUTKAN implementasi model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan atau Lesson Study, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) menggelar workshop bertajuk Learning Community for Better Future Educations, Sabtu (22/7). Di Kota Batu sendiri, implementasi Lesson Study sebenarnya sudah dilakukan sebelumnya. Di antaranya di tahun 2011 yaitu SMA Negeri 2 Kota Batu dan SMA Muhammadiyah 3 Kota Batu. Workshop yang dihadiri guru tingkat dasar hingga menengah atas se-Kota Batu ini, terang ketua tim Lesson Study Nur Widodo, merupakan upaya perluasan penerapan Lesson Study. Menurut Nur Widodo, acara ini merupakan upaya timbal balik para alumni program Short-term Training on Lesson Study (STOLS) yang diberikan JICA kepada para dosen UMM untuk memperdalam Lesson Study di Jepang selama 1 bulan. “Ini merupakan komitmen kami sebagai alumni,” katanya. “Meski sumber pendanaan yang didapat sudah berhenti, kami berupaya supaya program ini tidak selesai begitu saja. Sampai saat ini kita berupaya untuk melanjutkan kegiatan tersebut secara mandiri,” ungkapnya. Hadir pula para calon peserta yang dinyatakan lolos dan berhak mengikuti kegiatan internship di Jepang untuk memperdalam Lesson Study. Selain itu, turut hadir perwakilan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Madiun, IKIP Kediri, serta sejumlah dosen dari UMM sendiri. Beberapa materi yang diberikan di antaranya Collaborative Learning Melalui Lesson Study oleh Nur Widodo. dan materi “Observasi Kelas” pada Lesson Study-Learning Community oleh dosen program studi Biologi FKIP UMM Rr. Eko Susetyarini. Sementara, perwakilan dari JICA Widi berharap, setelah mengikuti workshop ini, peserta dapat memahami dan mempratikkan konsep Lesson Study dengan lebih baik di kelas. “Selain itu, diharapkan peserta juga dapat menemukan ide-ide baru sewaktu mengajar. Sehingga selain kemampuan cara mengajar anda dapat meningkat, juga dengan pelatihan dan pengetahuan tersebut, menimbulkan komunitas belajar yang aktif untuk pendidikan yang lebih baik di masa depan,” tukasnya. Workshop ini sekaligus dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara FKIP dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Batu. Langkah tersebut dilakukan, dijelaskan Nur Widodo, untuk sosialisasi dan pengimplementasian Lesson Study. Program ini, imbuh Nur Widodo, tengah difokuskan di wilayah Kota Batu. (can/han)
UMM Diminta Dampingi Pengembangan Kluster Pertanian Organik di Situbondo

MENILIK keberhasilan pendampingan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di sejumlah daerah di Jawa Timur, Bupati Sitobondo melalui Kepala Dinas Pertanian secara khusus meminta tenaga ahli dari Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) UMM, yaitu Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P. untuk mengembangkan kluster pertanian organik, Kamis (20/7). Sebelumnya, Guru Besar FPP UMM ini sejak tahun 2012 hingga 2017 telah mendampingi Kabupaten Bondowoso untuk mengembangkan hal yang sama. Bahkan melalui tangan dingin Indah, Kabupaten Bondowoso saat ini tengah mengurus sertifikasi internasional agar produksi bisa diekspor. Ini juga yang ingin dikerjakan di Kabupaten Sitibondo melalui kerjasama tersebut. “Nota kesepahaman yang akan dijalankan antara UMM dan Kabupaten Sitobondo nantinya tidak hanya sebatas pada pertanian organik, tetapi juga direncanakan akan merambah pada kerjasama lain. Untuk kerjasama lainnya akan dibicarakan secara teknis pada periode-periode berikutnya,” kata dosen berprestrasi 2011 Kopertis Wilayah VII ini. Secara informal, imbuh Indah, pihaknya sudah intens berkomunikasi dengan Bupati Sitobondo terkait rencana kerjasama tersebut. Setelah melihat potensi yang ada di Kabupaten Sitobondo, Indah pada akhirnya menyetujui kerjasama yang akan ditindaklanjuti dalam waktu dekat ini. Ditargerkan Agustus mendatang kerjasama tersebut sudah terealisasi. “Prinsipnya saya lihat potensinya dulu, dari potensi itu kemudian saya kembangkan pertanian organiknya sesuai potensinya. Sehingga nantinya kluster yang terbentuk itu mencirikhas kan daerahnya, mencirikan potensinya. Sehingga tidak ada beban biaya di luar potensinya. Artinya apa yang kita produksi bersadarkan internal input,” ujarnya. Kekayaan Sitobondo diakui Indah sangat banyak dari Gunung hingga laut. Diterangkan Indah, sebetulnya telah ada kelompok-kelompok tani yang mengembangkan pertanian padi organik. Namun demikian, Bupati Sitobondo berharap potensinya lebih dapat dioptimalkan dengan keterlibatan UMM di dalamnya. Selain disaksikan Rektor UMM Fuzan, pertemuan tersebut juga dihadiri Asisten 2 Bidang Perekonomian Pertanian, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Kepala bagian Pemerintahan, Kepala Bagian Hukum, juga dari Bagian kepegawaian Daerah, dan Kesekretaratan Daerah Kabupaten Sitobondo. (can/han)
Mensos Khofifah Minta Mahasiswa UMM Turun Gunung Membina Desa

MENTERI Sosial (Mensos) Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk melepas keberangkatan 5.151 mahasiswa Kelompok Kerja Nyata (KKN), Rabu (19/7) di Hall UMM Dome. Kedatangan Mensos sekaligus memperingati 30 tahun program KKN UMM yang telah berlangsung sejak 1987. Setelah melepas mahasiswa KKN dengan memakaikan jaket almamater pada dua perwakilan mahasiswa secara simbolis, Khofifah lalu menyampaikan kuliah tamu sebagai pengantar sekaligus bekal pada mahasiswa UMM yang akan mengabdi di desa sebulan ke depan. Dalam ceramahnya, Khofifah memaparkan tentang pemetaan potensi desa. Khofifah berpesan agar mahasiswa KKN peka terhadap lingkungan sekitar dan bisa mem-break down potensi tersebut menjadi aksi nyata. “Hal sederhana yang ditemukan di desa bisa menjadi sesuatu yang substantif. Dengan putra-putri kampus ‘turun gunung’, sama dengan mengikuti jejak KHA Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah,” ujar Khofifah menganalogikan. Saat ini, enam kabupaten di Jawa Timur terindikasi mengalami gizi buruk. Untuk itu, program Desa Sejahtera Mandiri diupayakan menjadi media untuk mengurangi luasnya daerah yang terkena gizi buruk tersebut. “Sebanyak 63 persen penyebab disabilitas adalah kurang gizi. Hal ini bukan hanya harus dicegah saat ibu hamil, melainkan gaya hidup saat remaja sudah harus diperhatikan,” ungkap Khofifah. Selain itu, imbuh Khofifah, kepekaan mahasiswa tak hanya pada urusan pengembangan desa melalui program-programnya, melainkan juga penanaman nasionalisme dan keagamaan. “Mahasiswa KKN kalau melihat ada indikasi penyebaran radikalisme dan nilai-nilai anti Pancasila, tak peduli apa program studi yang diambil di bangku kuliah, langsung saja bertindak untuk meluruskan dan menanamkan nilai-nilai yang benar,” lanjut menteri yang juga ketua Muslimat NU ini. KKN terpadu UMM digelar dua kali dalam setahun. Program multidisipliner yang menggabungkan mahasiswa dari berbagai bidang ilmu ini menjadi bentuk tanggung jawab UMM sebagai perguruan tinggi untuk berkiprah memajukan masyarakat, khususnya masyarakat desa. Direktorat Penelitain dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM sebagai pengelola KKN UMM juga bekerja sama dengan berbagai instansi untuk penyelenggaraan KKN tematik. Direktur DPPM UMM Prof Dr Sujono MKes mencontohkan, dengan Kementerian Sosial UMM terlibat program pembangunan rumah tidak layak huni (rutilahu) dan kelompok usaha bersama (kube), dengan Kemendikbud kerjasamanya pada program berantas buta aksara, serta dengan Dikti untuk program KKN Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM), dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT). Selain mengirimkan mahasiswa KKN ke 186 desa di 18 kabupaten/kota di Jawa Timur, kali ini UMM juga mengirimkan mahasiswa KKN ke Palembang. Hal ini menjadikan UMM sebagai kampus dengan jangkauan daerah KKN terluas se-Jawa Timur. Sujono menyatakan, UMM akan terus mengembangkan desa jangkauannya untuk mengembangkan masyarakat di pedesaan. Ini aksi nyata dari slogan ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Potensi dan manfaat KKN sangat banyak bagi pengembangan masyarakat,” pungkas Sujono. (ich/han)
Kabupaten Donggala Bakal Terapkan Konsep PLTMH UMM
KONSEP pengelolaan energi di Universitas Muhammadiyah Malang ternyata menyedot perhatian sejumlah daerah. Salah satunya Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Kemarin, Bupati Donggala Drs Kasman SH beserta rombongan berkunjung ke UMM dan langsung diterima Rektor Fauzan, Selasa (18/7). Bentuk pengelolaan energi yang diminati, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Selain melihat pengoperasian PLTMH, rombongan juga hendak menjalin kerja sama dengan UMM, salah satunya di bidang pendidikan. Sebagaimana diketahui, UMM merupakan Kampus Pelopor Energi Baru Terbarukan. “Pencanangan Donggala sebagai kota wisata dalam beberapa bulan ke depan diyakini bakal memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Segala bentuk perencanaan itu harus ditopang dengan penyediaan infrastruktur yang baik. Salah satunya di sektor energi,” demikian disampaikan Kasman di sela lawatannya menilik kesuksesan pengelolaan PLTMH 1 dan 2. Ia berharp, UMM sebagai pelopor Energi Baru Terbarukan (EBT) dapat juga diterapkan pengoperasiannya di Kabupaten Donggala. Pengembangan sektor jasa dengan menggenjot pariwisata akan memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Kasman. Ia juga meyakini bahwa pencanangan Donggala sebagai kota wisata yang direncanakan Agustus 2017 nanti akan terlaksana dengan baik. Pemkab Donggala, sebut dia, telah merencanakan dan menyiapkan anggaran untuk pelaksanaan perencanaan itu. Selain belajar pengelolaan dan penerapan PLTMH, rencananya Kabupaten Donggala juga akan melakukan berbagai kerjasama lain dengan UMM. Utamanya di bidang pendidikan. (can/han)
30 Tahun KKN UMM, Jangkau 186 Desa di Jawa Timur

MEMASUKI tahun ke-30 program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Menteri Sosial Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa dijadwalkan hadir di UMM untuk melepas keberangkatan 5.161 mahasiswa ke 186 desa KKN, Rabu (19/7). Direktur DPPM UMM, Prof Dr Sujono MKes menyatakan KKN UMM dimulai sejak tahun 1987. Program multidisipliner yang menggabungkan mahasiswa dari berbagai bidang ilmu ini menjadi bentuk tanggung jawab UMM sebagai perguruan tinggi untuk berkiprah memajukan masyarakat, khususnya masyarakat desa. Selain KKN reguler yang diadakan dua kali dalam setahun, DPPM UMM juga bekerja sama dengan berbagai instansi untuk penyelenggaraan KKN tematik. Misalnya dengan Kementerian Sosial untuk program pembangunan rumah tidak layak huni (rutilahu) dan kelompok usaha bersama (kube), Kemendikbud untuk program berantas buta aksara, Dikti untuk program KKN Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM), dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT). Selain itu, UMM juga berpartisipasi dalam KKN Nasional dan KKN Muhammadiyah. Tahun lalu, mahasiswa mengirimkan mahasiswa untuk program KKN Nasional di Gorontalo. Sedangkan, tahun 2017 UMM akan mengirimkan mahasiswa untuk mengikuti KKN Muhammadiyah di Palembang. Saat ini, UMM menjadi kampus dengan jangkauan daerah KKN terluas se-Jawa Timur, yakni 186 desa di 18 kabupaten. Sujono berharap, melewati usia perak ini, DPPM UMM akan terus mengembangkan desa jangkauannya untuk mengembangkan masyarakat di pedesaan. “Banyak kampus yang menghapus program KKN, tapi UMM harus terus melaksanakannya. Ini aksi nyata dari slogan ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Potensi dan manfaat KKN sangat banyak bagi pengembangan masyarakat,” ujar Sujono. Selain pelepasan mahasiswa KKN, DPPM UMM juga akan meluncurkan buku ‘Membangun Negeri Melalui Kuliah Kerja Nyata’. Buku ini bermuatan tentang segala hal mengenai KKN, seperti profil desa binaan, program kerja, berbagai basis pelaksanaan KKN seperti sosial, budaya, agama, pendidikan, ekonomi, kewirausahaan, kesehatan, dan lingkungan, serta catatan sukses perjalanan KKN. (ich/han)
UMM Gelar Tes Camaba Gelombang II

RIBUAN calon mahasiswa baru memadati kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengikuti tes tulis dan wawancara jalur reguler gelombang II, Senin (17/7). Total peserta tes sebanyak 7.393 dari jumlah pendaftar online sebanyak 11.833. Secara keseluruhan, jika digabung dengan tes gelombang I, total jumlah pendaftar online yaitu 24.860 camaba. Ribuan mahasiswa tersebut berasal hampir merata dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Diperkirakan, total bakal calon mahasiswa yang mendaftar di tes reguler gelombang III bisa melampui 30 ribu pendaftar. Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi saat ditemui di kantornya menerangkan, kuota mahasiswa baru yang bakal diterima secara keseluruhan tidak berbeda dengan tahun sebelumnya yakni berkisar antara 7000 hingga 7500 orang. Untuk kuota penerimaan tes reguler gelombang II serta tes reguler gelombang lainnya, akan disesuaikan dengan passing grade masing-masing program studi (prodi) di tiap fakultasnya. Dilanjutkan Syamsul, prodi yang pasti tidak membuka pendaftaran lagi yakni Pendidikan Kedokteran. “Jumlah mahasiswa yang akan diterima nantinya disesuaikan dengan kemampuan sumber daya manusia dan infrastruktur UMM. Kalau dari segi infrastruktur, upaya peningkatan yang dilakukan di antaranya merampungkan kelengkapan interior GKB IV. Nantinya, gedung ini akan digunakan bagi mahasiswa pascasarjana,” terang Syamsul. September mendatang, gedung 9 lantai ini akan digunakan perkuliahan sebagaimana mestinya. Tes dikonsentrasikan di sejumlah gedung di Kampus III UMM. Gedung yang dipakai di antaranya untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Hall Dome UMM, Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kesehatan (FIKES) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, Fakultas Psikologi di Basement Dome UMM , Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di lantai 1-4 di GKB 2, Fakultas Pertanian Peternakan di lantai 5-6 GKB 2, Fakultas Agama Islam (FAI) di Auditorium BAU, Fakultas Hukum (FH) di Masjid Lantai 3-4, serta Fakultas Teknik (FT) dikonsentrasikan di gedung baru yakni GKB IV lantai 4-9. Untuk mengantisipasi kecurangan, UMM turut mengerahkan keamanan tambahan. Sebanyak 25 personel Kepolisian Resor (Polres) Malang diterjunkan. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan tes berjalan sebagaimana mestinya. Rektor UMM Fauzan juga turut menyidak sejumlah sudut gedung di kampus III yang dijadikan tempat tes. Disampaikan Fauzan, berdasarkan pantauan langsungnya di lapangan, tidak ada indikasi atau laporan kecurangan yang dilakukan calon mahasiswa baru. “Prinsipnya kami komitmen pada peningkatan kualitas. Komitmen itu diawali dari proses penerimaan mahasiswa sampai proses jalannya pembelajaran. Kalaupun calon mahasiswa tidak memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan, ya mohon maaf. Jadi bukan karena siapa dan berapa, tapi mereka diterima di UMM murni karena prestasinya. Prestasi itu direpresentasikan dalam bentuk hasil tes ini,” tandas Fauzan saat ditemui di sela sidak. (can/han)
Menyelami Spiritualitas dalam Buku Karya Mahasiswa FK

BAGI pemahaman kebanyakan orang, spiritualitas semata hanya dimiliki oleh mereka yang beragama atau menganut keyakinan tertentu. Sesungguhnya tidak demikian. Spiritual lebih bersifat universal, artinya tidak terikat dengan agama tertentu. Kalaupun agama yang seseorang anut mencirikan nuansa spiritual, justru sangatlah baik dan lebih lengkap. Demikian dituturkan Ikhwan Marzuqi, mahasiswa semester lima program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dalam peluncuran dan bedah buku ketiganya berjudul “Spiritual Enlightenment: Kenali, Cintai dan Sayangi Pencerahan Spiritual,” di Toko Buku Gramedia Basuki Rahmat Malang, Ahad (16/7). “Bagi yang menganut agama, spiritual memiliki makna untuk memahami sebuah keikhlasan hati yang senantiasa mengabdi kepada Tuhan, atau kepada semesta bagi yang tidak memiliki agama. Pengabdian tersebut akan memberikan sebuah perasaan tersendiri untuk menyelami hakikat kehidupan, serta mengerti peran-peran kita sebagai khalifah-Nya di muka bumi,” ungkap mahasiswa asal Pamekasan, Jawa Timur ini. Dalam buku setebal 184 halaman ini Ikhwan, begitu Ia akrab dikenal, memuat 3 bab yakni Mengenali, Mencintai dan Menyayangi. Tiga bab ini, kata Ikhwan, sebenarnya berawal dari sebuah pepatah yang kemudian dirangkainya dalam bentuk buku untuk mencapai pencerahan spiritual. Pepatah itu yakni, “Tak kenal maka tak cinta, tak cinta maka tak sayang”. “Untuk lebih memberikan kesan yang mendalam pada ranah spiritual, buku ini berisi tentang berbagai renungan, langkah-langkah, dan arahan untuk menerapkannya dalam semua bidang kehidupan,” terangnya. Dengan diterbitkannya buku “Spiritual Enlightenment”, total Ikhwan telah menelurkan 3 buah buku. Dua buku lainnya yang Ikhwan tulis sejak masih berstatus sebagai mahasiswa baru di antaranya Heart Journey dan Inner Peace. Namun begitu, kedua judul buku ini tidak sampai diterbitkan oleh penerbit mayor seperti buku ‘Spiritual Enlighment’ yang tengah dibedah ini. Diakuinya, kegemarannya menulis dimulai saat Ia mengikuti program wajib asrama selama sepekan yang diikuti seluruh mahasiswa baru UMM, yakni Program Pelatihan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK). Salah satu materi yang Ikhwan dapat adalah materi tentang kepenulisan. Ikhwan merasa termotivasi, dan dari sanalah dirinya mulai menseriusi dunia kepenulisan. Kegandrungannya mengikuti berbagai pelatihan motivasi spiritual mendorongnya untuk mengangkat tema-tema tulisan seputar spiritualitas. Sejak jenjang sekolah menengah atas, Ikhwan sudah getol mengikuti berbagai pelatihan motivasi spiritual. Bahkan Ia mengaku menuntaskan setiap jenjang pelatihan yang ada. Buku-buku seputar spiritualitas juga lahap dihabisinya. Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. mengapresiasi Ikhwan saat turut memenuhi undangan peluncuran buku tersebut. Menurutnya, Ikhwan sangat luar biasa karena berani mengangkat tema yang biasanya ditulis manusia yang telah matang dalam menjalani kehidupannya. “Menulis tentang spiritualitas itu nggak gampang, lho! Kebanyakan buku itu memuat tentang apa yang ada di luar diri kita, sehingga lebih mudah memahaminya. Sementara berbicara tentang spiritualitas, adalah objek yang ada di dalam diri kita. Ketika seorang penulis memilih objek spiritualitas dalam karya tulisnya, maka sang penulis akan banyak menulis pengalamannya sendiri,” kata Syamsul. Orang yang tidak memiliki pengalaman spiritualitas, imbuh Syamsul, tidak mungkin bisa menuliskan bahasan seputar tema tersebut. Untuk dapat mendalami spiritualitas, seseorang setidaknya harus berada pada usia matang, yakni pada usia 40 tahun. Hal itu menurut Syamsul, sejalan dengan filosofi hidup bahwa hidup itu dimulai pada usia tersebut. Di usianya yang baru menginjak 21 tahun pada April 2017 ini, Ikhwan menjelma sebagai sosok manusia dewasa sebelum waktunya. Ketertarikan Syamsul juga pada tema spiritualitas yang diangkat pada buku tersebut. Diakuinya, tema-tema demikian juga tengah Ia dalami. “Mudah-mudahan pertemuan yang mambahas tema-tema ini tidak berhenti sampai di sini. Saya harap ada forum tatap muka lanjutan untuk sharing ihwal spiritualitas,” tukasnya. Dalam waktu dekat, buku “Spiritual Enlightenment” ini juga rencananya akan kembali dibedah di UMM bersamaan dengan peluncuran buku terbaru Syamsul Arifin berjudul “KaRen: Sebuah Novel”. (can/han)
Tes Camaba Gelombang Dua, GKB IV Mulai Digunakan

TES penerimaan calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelombang dua yang berlangsung Senin (17/7) ditandai dengan mulai beroperasinya gedung baru UMM, yaitu Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV berlantai sepuluh. Sebelumnya, UMM telah memiliki GKB I, II, dan III yang masing-masing berlantai enam. Dengan total jumlah peserta tes tulis sebanyak 7386 camaba di gelombang ini, 1800 di antaranya akan menggunakan GKB IV. Sekalipun masing rampung 80 persen, namun kepala Biro Administrasi Umum (BAU) UMM Dr Ir Sunarto MT menyebutkan, GKB IV akan digunakan perdana mulai lantai 4 hingga lantai 8. Selain GKB IV, lokasi tes yang digunakan yaitu UMM Dome, GKB I, II, dan III, Aula Masjid, dan Aula Biro Administrasi Umum (BAU). Di antara ribuan pendaftar itu, 200 di antaranya merupakan pendaftar jalur bidik misi. GKB IV, menurut Sunarto, akan rampung 100 persen pada September 2017, yang terdiri dari 9 lantai utama dan 1 lantai basement. GKB IV akan mulai digunakan untuk kegiatan belajar mengajar untuk perkuliahan tahun ajaran baru 2017/2018. “Tinggal penyempurnaan saja di beberapa bagian dan menambahkan perlengkapan di tiap kelas, tapi secara keseluruhan sudah siap digunakan,” ujar Sunarto. Rencananya, lantai satu hingga tiga gedung ini akan digunakan untuk kantor dan ruang perkuliahan pascasarjana, lantai empat hingga delapan akan digunakan sebagai ruang perkuliahan S-1 dan sebagian kecil pascasarjana, dan lantai dasar digunakan sebagai kafetaria dan area hotspot. Sedangkan lantai paling atas yakni lantai sembilan akan digunakan sebagai aula berkapasitas 1200 orang. “Aula bisa menampung 1200 orang, tapi bisa juga digunakan untuk kegiatan yang membutuhkan ruangan lebih kecil. Ada pintu yang bisa dioperasikan secara fleksibel, kalau butuh ruangan kecil pintu penyekat bisa ditutup, kalau butuh ruang besar bisa dibuka, jadi bisa terbagi menjadi empat ruangan kecil,” imbuh Sunarto. Sedikit berbeda dengan gedung kuliah sebelumnya yang dominan berwarna putih, GKB IV dikombinasikan dengan warna merah dan abu-abu. Pemilihan warna ini, kata Sunarto, sesuai dengan jiwa UMM, yakni jas merah. Sementara, untuk lahan parkir menuju GKB IV, mahasiswa maupun dosen bisa menempatkan kendaraannya di sebelah selatan jembatan baru. Selain itu, akan dibangun pula jembatan setapak untuk berjalan kaki dari parkiran tersebut menuju GKB IV. Tak hanya itu, di bagian timur GKB IV akan dilengkapi dengan jogging track di samping stadion UMM yang menghubungkan Rusunawa hingga gerbang GKB IV. Fasilitas ini akan memudahkan mahasiswa yang tinggal di Rusunawa atau indekos di belakang kampus saat akan menuju ke GKB II, III, maupun IV. (ich/han)