Mahasiswa UMM Buat Kaos Bernuansa Kearifan Lokal

SLOGAN ‘Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing’ rupanya benar-benar diterapkan oleh sekelompok mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pasalnya, kelompok yang terdiri dari lima mahasiswa ini menciptakan kaos bermuatan bahasa dan budaya lokal Banyuwangi sebagai karya ilmiah yang mereka ajukan pada gelaran Pekan Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K). Karya yang diberi nama Kaos Beranimasi Muatan Bahasa Osing (KOBONG) Glow in the Dark ini menjadi salah satu dari 38 karya PKM UMM yang mengikuti monitoring dan evaluasi (monev) eksternal di Universitas Negeri Malang (UM) (12/7). Salah satu anggota tim, Robby Cahyadi mengungkapkan karya PKM-K yang dibuatnya bersama tim mendapat apresiasi dari tim peninjau monev. Menurutnya, ini karena sejumlah keunggulan yang dimiliki, yakni bahan kaos yang digunakan berstandar distro, bahasa yang memiliki filosofi, mengangkat budaya lokal, dan tulisan di bagian belakang kaos dapat menyala dalam gelap (glow in the dark).“Tidak ada pertanyaan yang diajukan untuk Kobong Glow in the Dark, Alhamdulillah. Kita optimis untuk bisa maju ke PIMNAS,” ujar Robby. Karya ini terbilang unik karena menggabungkan ide desain visual dengan bahasa dan budaya lokal. Bagian depan karya ini adalah gambar-gambar budaya khas Banyuwangi, seperti blangkon atau barong. Menariknya, gambar-gambar ini dikemas dalam bentuk animasi tiga dimensi. Tulisan Gemelaring yang berarti ‘terus berproses sampai sukses’ menghiasi bagian depan kaos di atas gambar tiga dimensi. Di bagian belakang kaos, terdapat tulisan Using Ngewod Selawase yang berarti Bahasa Banyuwangi tidak akan mati selamanya. “Sasarannya adalah semua usia, baik anak-anak maupun orang lansia, jadi kami buat desain yang bagus untuk semua usia,” imbuh mahasiswa semester 4 ini. Sejauh ini, Kobong Glow in the Dark sudah dipesan oleh banyak orang. Kaos ini juga sudah bermitra dengan beberapa distro dan agen penjual pakaian di Rembang, Tuban, dan Pasuruan. Berbekal modal 10 juta dari Dikti, kini laba yang dikantongi lima mahasiswa ini mencapai enam juta. Bukan hal mudah untuk membuat karya yang dijual seperti sekarang, mereka butuh hingga lima kali penyempurnaan. “Kami buat pertama, lalu ada masukan dari pembeli, kami perbaiki lagi, sampai lima kali,” kisah Robby. Terkait strategi pemasaran, Robby mengaku mereka memanfaatkan semua media sosial, seperti Blackberry Messenger (BBM), whatsapp, line, dana kun Instagram Kobong Glow in the Dark dengan nama @kobong-gemelaring. Tim ini beranggotakan lima mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yakni Robby Cahyadi, Rosidi Hadi Siswanto, Rani Rahmawati, Dewi Larasetiani, dan Risnawati. Meski tak semuanya berasal dari Banyuwangi, namun mereka menyiasatinya dengan membuat kamus bahasa Osing untuk mendukung kemampuan mereka mempelajari bahasa Osing, sehingga memperkaya kosakata dalam membuat kaos. (ich/han)

Parlemen Australia Resmikan #AussieBanget Corner UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kedatangan tamu istimewa. Rombongan parlemen Australia secara khusus menyambangi kampus putih untuk meresmikan Pojok Australia atau #AussieBanget Corner di Perpustakaan Pusat UMM, Rabu (12/7). Hadir memimpin rombongan Kevin James Andrews, anggota parlemen Australia yang beberapa kali menduduki berbagai posisi menteri, di antaranya Menteri Pertahanan dan Menteri Pelayanan Sosial. Selain menyediakan pelbagai buku dan informasi beasiswa Australia, tak kalah penting, pusat informasi Australia ini juga memberi akses langsung bagi para civitas akademika dan masyarakat umum untuk dapat menjangkau perpustakaan digital nasional Australia. Pengunjung #AussieBanget Corner juga dapat mempelajari skema kerjasama yang tengah dilakukan Indonesia dan Australia. “UMM adalah kampus yang mengagumkan. Saya berharap berdirinya #AussieBanget Corner di UMM semakin menguatkan kerjasama kami dengan Indonesia,” kata Kevin saat diwawancarai seusai meresmikan #AussieBanget Corner UMM. Kevin tidak datang sendirian. Ia didampingi sejumlah anggota parlemen lain, di antaranya Catherina Elizabeth O’Toole, Kenneth Desmond O’Dowd, Cameron James Isaac Hill, serta senator Kimberley Jane Kitching. Keberadaan #AussieBanget Corner ini sekaligus melengkapi keberadaan corner-corner lainnya, seperti American Corner, Saudi Arabian Corner, Thailand Corner, serta China Corner yang telah berdiri lebih dulu di UMM. Sementara itu, diterangkan Rektor UMM Fauzan, #AussieBanget Corner merupakan salah satu bentuk implementasi kelanjutan kerjasama UMM dan Australia sejak 1994. Kerjasama strategis lain yang dilakukan UMM dan Australia yaitu melalui program Australian Consortium For In Country Indonesian Studies yang merupakan konsorsium beranggotakan 22 universitas ternama di Australia. Ketertarikan rombongan parlemen Australia pada UMM itu juga ditunjukan lewat lawatan mereka ke Kampung Warna-Warni Jodipan yang merupakan garapan mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi UMM. Usai bersafari di kampung yang dulunya dikenal dengan kawasan kumuh itu, Kevin mempertimbangkan bakal menggunakan konsep pemberdayaan serupa di Australia. “Kampung Warna-Warni Jodipan gaungnya sudah mendunia. Saya tertarik untuk berkunjunjung ke sini untuk mengadopsi konsep pemberdayaannya, dan mendengarkan langsung dari konseptornya. Saya sangat mengapresiasi karya mahasiswa UMM ini ,” kata Kevin. Selain di UMM, pendirian #AussieBanget corner juga lakukan di sejumlah perguruan tinggi di Bali, Makassar, Medan, Surabaya dan Yogyakarta. (can/han)

Mahasiswa UMM Raih Juara Dua Kontes Robot Indonesia

TIM Robot Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meraih prestasi. Kali ini, tiga mahasiswa program studi Teknik Elektro UMM, yakni Imam Hanafi, Abdul Syukron, dan Alfan Achmadillah Fauzi berhasil meraih juara dua pada Kontes Robot Indonesia (KRI) kategori Robot Pemadam Api yang berlangsung di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada 8-9 Juli 2017. Robot UMM yang diberi nama Dome menjadi runner up karena sejumlah keunggulan. Pembimbing lapangan yang juga dosen Teknik Elektro UMM Khusnul Hidayat menyatakan, robot milik UMM unggul dalam hal kecepatan dan mapping. “Robot Dome memiliki kecepatan tertinggi di Indonesia setelah ITS. Selain itu, dalam hal mapping, robot Dome juga tidak mengalami kebingungan dalam pemetaan arena, mengenali room, berjalan mencari titik api, maupun kembali ke titik start,” ujar Khusnul saat ditemui di depan Workshop Robotika UMM. Meski begitu, beberapa hal menjadi evaluasi robot Dome. Saat ini, akurasi robot Dome dalam menyemprot air ke titik api belum sepenuhnya lurus berhadapan. Ada kemiringan sekira 20 derajat. Robot Dome saat ini menggunakan alat penyemprot air (nozzle) berukuran kecil. “Kelebihannya, air yang keluar dari lubang nozzle tidak terlalu banyak, sehingga jika api belum padam, maka persediaan air bisa lebih lama,” urai Khusnul. Sistem pemadaman dan penyemprotan api juga akan dievaluasi. Pada robot Dome, bahan yang digunakan sebagai pemadam api adalah air. Menurut peraturan KRI, ada dua bahan yang dibolehkan untuk memadamkan api, yaitu air dan gas. Peraturan ini sedikit berbeda dengan tahun lalu yang membolehkan angin sebagai pemadam api. “Tahun lalu, kami menggunakan angin sebagai pemadam. Tahun ini, robot Dome terhitung baru karena mencoba menggunakan air. Sehingga, memang masih perlu evaluasi lagi,” terang Alfan. Robot Dome membutuhkan waktu 23 detik untuk mencari titik api dan memadamkannya di sesi pertama dan  80 detik di sesi kedua. Di sesi ketiga, UMM gagal memadamkan api. Menurut Khusnul, hal ini salah satunya disebabkan oleh jenis lilin yang berbeda dengan yang digunakan saat latihan. “Struktur bahan pembuat lilin berbeda, sumbunya juga lebih keras, warna lilin ini tampak lebih transparan dibandingkan lilin biasanya. Ini yang tidak kami prediksi sebelumnya,” ujar Khusnul. Selisih poin yang diraih UMM tak berbeda jauh dengan yang diperoleh Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) sebagai juara tiga, yakni 0,8. Sementara, UGM yang mampu mematikan api berhak atas juara pertama. Salah satu anggota tim robot UMM, Alfan mengungkapkan UMM berhasil memadamkan api di sesi pertama dan kedua. “Di sesi kedua, selisih poin UMM dengan PENS hanya 0,8. Tapi di sesi ketiga, UMM tidak berhasil memadamkan api. Ini yang jadi evaluasi kami,” terang Alfan. Robot Dome memiliki dimensi panjang 27 cm, lebar 28 cm, dan tinggi 26 cm dengan kapasitas air 50 ml. Dimensi ini menjadikan robot Dome sebagai robot dengan ukuran terkecil dibandingkan robot kampus lain. Ke depan, ada kemungkinan robot Dome mengubah ukuran nozzle yang dipakainya dan mengubah bahan pemadam, yakni menggunakan gas. “Semua akan kami pertimbangkan karena ada kelemahan dan kelebihannya. Kelebihan menggunakan gas karena ia mampu memadamkan api dari jarak cukup  jauh, mencapai 1,5 meter. Sedangkan jika ukuran nozzle besar, air akan cepat habis,” pungkas Khusnul. (ich/han)

Rektor Minta Fungsionaris Mahasiswa Berperan Strategis Bagi Bangsa

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fauzan meminta agar seluruh elemen organisasi di lingkungan UMM memiliki wawasan, mampu membaca tantangan-tantangan masa depan, dan membawa organisasi berperan strategis di wilayah nasional dan regional agar bermakna bagi bangsa Indonesia. “Itu sejalan dengan jargon UMM, dari Muhammadiyah untuk Bangsa”, ujar Fauzan selepas melantik pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas dan Fakultas, Senat Mahasiswa Universitas dan Fakultas, serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) se-UMM periode 2017-2018, Rabu (12/7) di Theater UMM Dome. Pelantikan turut dihadiri Wakil Rektor I dan II UMM, jajaran Dekanat, Ketua Jurusan dan Ketua Program Studi, Kepala Biro, Staf Ahli Kemahasiswaan dan Kepala Bagian, serta Ketua Komisi Pemilu Raya Universitas (KPRU) UMM. Pelantikan dimulai dengan pembacaan Surat Keputusan Pengangkatan SEMU, BEMU, dan UKM masa bakti 2017-2018 oleh Wakil Rektor III UMM Sidik Sunaryo. Dalam pengarahannya, Rektor UMM juga tak lupa berpesan fungsionaris mahasiswa serius dalam mengemban amanat, turut membangun kepercayaan masyarakat dengan menunjukkan prestasi-prestasi dan memiliki tanggung jawab sosial. (nim/han)

Jadi Kampus Asuh, UMM Bimbing UMSIDA dan Uniro Tuban

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini mendapat tugas baru untuk menjadi kampus asuh bagi dua perguruan tinggi (PT) di Jawa Timur, yaitu Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan Universitas PGRI Ronggolawe Tuban (UNIRO). Hal ini sekaligus menindaklanjuti penunjukan Kemenristek Dikti pada UMM dan 26 PT terbaik se-Indonesia untuk menjadi kampus asuh bagi universitas yang masih belum terakreditasi A. Dimulainya tugas baru itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UMM dengan dua kampus tersebut, Selasa (11/7) di Auditorium UMM. Kepala Badan Pengelola dan Pengendalian Akreditasi (BPPA) UMM, Dr Ainur Rofieq MKes mengatakan UMM akan membimbing UMSIDA dan UNIRO berupa program pengendalian mutu, baik Sistem Pengendalian Mutu Internal (SPMI) maupun Sistem Pengendalian Mutu Eksternal (SPME). “Rencananya, bidang SPMI yang kami berikan ada lima, yaitu pendidikan dan pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, tata kelola, dan kerja sama, sedangkan SPME terkait dengan akreditasi institusi dan akreditasi prodi. SPME dan SPMI saling terkait, karena nilai SPME yang baik tak lepas dari poin-poin penilaian pada SPMI,” ujar Rofieq. Meski telah merumuskan rencana pembimbingan, tapi UMM tetap mengacu pada hasil need analysis dan Focus Group Discussion yang dilakukan setelah MoU. Rofieq menambahkan, hal ini lantaran kebutuhan tiap kampus berbeda. “Misalnya Uniro yang akreditasi institusi masih C, dan UMSIDA sudah B. Juga, Uniro yang memiliki 13 prodi berakreditasi C dan UMSIDA hanya 7 prodi,” imbuh Rofieq. Program pembimbingan ini akan dilakukan hingga November 2017 mendatang. Menanggapi hal ini, Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya menyatakan tak ingin momen ini hanya menjadi formalitas, melainkan harus realitas. “Satu-satunya pilihan yakni harus berhasil. UMM membuka peluang selebar-lebarnya untuk belajar. Silahkan UMSIDA dan Uniro magang di masing-masing program studi yang sesuai, nanti kita juga bisa gelar workshop di kedua universitas,” terang Fauzan. Rektor berharap berlangsungnya program ini dapat menjadi instrumen strategis dalam menciptakan trust masyarakat baik untuk UMM maupun perguruan tinggi asuh, sehingga output-nya dapat meningkatkan akreditasi institusi dan akreditasi jurusan. Lebih lanjut, Rofieq menjelaskan, Kopertis selalu memberikan penilaian bagi PT yang membina kampus lain yang secara akreditasi dan mutu ada di bawahnya. Tak hanya itu, penilaian ini akan menjadi media UMM untuk mempertahankan AKU Kartika. “Jika berhasil membimbing dua kampus asuh itu, UMM akan dapat poin tambahan. Jadi sama-sama menguntungkan,” pungkas Rofieq. (ich/nim/han)

Lulusan UMM Berpeluang Jadi Perawat Profesional di Jepang

DUA alumni Program Diploma Tiga (D3) Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sobaruddin Subekti dan Muhammad Fattahu, yang saat ini bekerja sebagai tenaga keperawatan di Jepang berkesempatan membagi ilmunya pada mahasiswa D3 Keperawatan UMM (10/7) di sela masa liburannya di Indonesia. Subekti dan Fattahu merupakan dua dari tujuh alumni D3 Keperawatan UMM yang saat ini bekerja di sejumlah rumah sakit dan lembaga kesehatan di Jepang. Subekti bekerja di Sangenjaya Hospital sementara Fattahu di Central Otaku, keduanya terletak di Tokyo. Mereka bekerja di Jepang melalui program kerjasama pemerintah Indonesia dan Jepang. Bagi Subekti, kualitas lulusan D3 Keperawatan UMM sudah sangat mumpuni untuk bersaing secara profesional dengan lulusan luar negeri. “Pengetahun dan pengalaman yang kita dapat selama kuliah di UMM sudah lebih dari cukup untuk bersaing dengan perawat dari Filipina maupun Jepang sendiri. Kendala kita hanya bahasa saja, dan itu bisa dilatih,” ujarnya saat sharing pengalaman di Auditorium Kampus II UMM. Pengalaman bekerja di luar negeri bagi mereka sungguh mengesankan. Selain merasakan suasana baru dengan budaya dan gaya hidup berbeda, dari sisi pendapatan juga cukup tinggi, terlebih jika dibandingkan dengan gaji perawat di Indonesia. Gaji pertama seorang perawat bisa mencapai Rp 19 Juta, sedangkan biaya hidup berkisar antara Rp 8 hingga 9 juta saja. Subekti malah digaji mencapai Rp 35 juta karena sudah memperoleh registered nurse (RN) sebagai perawat profesional. Diakui Subekti, perawat yang telah memiliki RN memang digaji dua kali lipat karena telah dianggap profesional dan sudah bisa menangani pasien secara langsung. RN merupakan sertifikasi nasional bagi perawat di Jepang yang juga diakui secara internasional. Untuk memiliki RN, seorang perawat harus mengikuti ujian keperawatan yang sepenuhnya berbahasa Jepang. “Bahkan, ini juga berlaku bagi perawat yang lulus kuliah di Jepang. Mereka pun tidak mudah untuk lulus ujian ini dan bisa mendapatkan RN. Dari segi persentase, hanya 10 persen perawat yang bisa lolos ujian ini,” jelas Subekti. Selain Subekti dan Fattahu, pada bulan Februari lalu, alumni D3 Keperawatan UMM lainnya yang juga bekerja di Jepang, Micky Herera, sempat mengunjungi adik-adiknya di UMM untuk memberikan motivasi dan inspirasi. Seperti halnya Subekti, Micky juga termasuk di antara sedikit perawat yang sudah mendapatkan RN dari pemerintah Jepang. Sekalipun mereka lulusan D3, namun di Jepang kualifikasi mereka disetarakan dengan S1. Dengan adanya RN ini, mereka juga berkesempatan bekerja di Eropa, karena RN di Jepang diakui secara internasional. Menindaklanjuti banyaknya alumni yang saat ini bekerja di Jepang, Kepala Program Studi D3 Keperawatan UMM, Reni Ilmiasih, mengatakan akan memperkuat kurikulum agar alumninya siap bersaing secara internasional. “Selain di Jepang, ada juga beberapa alumni kita yang bekerja di Arab Saudi, Taiwan, Australia, dan sebagainya. Untuk itu, kurikulumnya coba kita perkuat agar adik-adiknya bisa mengikuti jejak mereka,” paparnya. Di kurikulum, kata Reni, sudah ditambahkan mata kuliah wajib bahasa asing, yaitu bahasa Jepang dan bahasa Arab, selain bahasa Inggris tentunya yang sudah menjadi program universitas. “Selain kurikulum, kemitraan dengan berbagai universitas dan lembaga luar negeri juga kita perkuat. Yang pasti, kita sudah siap untuk menghasilkan alumni yang bertaraf internasional,” pungkasnya. (dis/han)

UMM Hadirkan Pakar Australia Perkuat Kualitas Ajar Bahasa Inggris

KOMITMEN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam upaya terus menerus meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengajaran bahasa Inggris makin dipertajam. Hal tersebut ditandai dengan diselenggarakannya Seminar on English Language Teaching yang menghadirkan pakar dari University of South Australia, Dr Ngoc Ba Doan (6/7). Selain Ngoc Ba Doan melalui materi English Language Teaching and Learning in Mobile World: Challenges and Possibilities, seminar ini juga menghadirkan dua pakar lainnya, di antaranya Teachers Code-Switching in Indonesian Tertiary Bilingual Classroom oleh Hilda Cahyani, Ph.D. dari Politeknik Negeri Malang (Polinema), Effective EFL Teaching: A Note on Succes and Failure Stories oleh Dr. Estu Widodo. Seminar ini merupakan salah satu bentuk implementasi kerjasama antara UMM dengan UNISA. Kegiatan yang berlangsung di di Ruang Sidang Senat UMM ini diikuti sejumlah  dosen dari program studi Bahasa Inggris dan lembaga pengembangan bahasa Language Center UMM. Sementara Asisten Rektor Bagian Kerjasama Luar Negeri, Drs. Suparto, M.Pd. menjelaskan, gelaran seminar ini melanjutkan tradisi kerjasama UMM yang sudah ada sebelumnya. Suparto juga mendorong para peserta untuk memanfaatkan luasnya peluang kerjasama yang dilakukan UMM. “Kami juga membuka usulan kerjasama, khususnya dengan UNISA. Masih banyak kesempatan dan peluang untuk menjalin kerjasama dengan Australia. Meskipun Australia secara geografis dekat dengan Indonesia, malahan kita lebih banyak kerjasama dengan Eropa,” pungkasnya. (can/han)

Pramuka Masuk Kurikulum, PPG UMM Gelar Kursus Mahir Dasar

SEBANYAK 77 mahasiswa Program Profesi Guru (PPG) dan mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  siap mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) dan Kursus Mahir Lanjutan (KML) pembina pramuka di bumi perkemahan Sumber Waras, Lawang, Kabupaten Malang, Selasa hingga Sabtu (4-8/7). Sebelum berangkat ke bumi perkemahan, alumni program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM-3T) ini lebih dulu mengikuti pembukaan di ruang sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ketua pelaksana kegiatan,  Oki Dika Gura menyatakan KMD dan KML ini adalah program kerja PPG UMM bekerja sama dengan Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kabupaten Malang. Sejak tahun 2013, kegiatan pramuka masuk dalam kurikulum pembelajaran di semua level pendidikan. Untuk itu, kata Oki, alangkah lebih baik bila tiap guru bisa membina pramuka. “Di KMD akan mendapatkan materi, baik di dalam ruangan maupun lapang. Sebagai calon pendidik, akan lebih baik bila memiliki ijazah KMD dan bisa membina pramuka, karena pramuka sudah masuk di kurikulum,” ujarnya. Sementara itu, dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, Dr Poncojari Wahyono, MKes mengatakan PPG di UMM sudah berjalan selama dua tahun. Amanah dari Kemenristek Dikti ini tak sembarangan. Pasalnya, tidak semua kampus bisa menyelenggarakan PPG. Di Jawa Timur, UMM menjadi satu-satunya kampus swasta penyelenggara PPG. Untuk menyelenggarakan PPG, UMM mesti mengikuti seleksi berdasarkan akreditasi dan AIPT fakultas, kegiatan FKIP, serta kinerja dan kompetensi dosen. Selain PPG, UMM juga mengemban amanah untuk menyelenggarakan PLPG sejak 8 tahun lalu. “Banyak FKIP di kampus lain yang tidak berkesempatan menyelenggarakan program ini. Evaluasi dari penyelenggaraan program ini juga dilakukan tiap tahun oleh Kemenristek DIkti. Jadi, UMM harus mengembangkan kualitas dengan harapan kedua program ini akan terus terselenggara di FKIP UMM,” pungkasnya. (ich/han)

Malik Fadjar: Silaturrahim Hadirkan Optimisme dan Kejernihan Pikiran

KETUA Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Malik Fadjar MSc dalam tausiahnya pada gelaran Halal bi Halal UMM, Senin (3/7) menegaskan, kita semua wajib bersyukur atas nikmat kesempatan melalui Ramadhan. Syukur ini perlu terus-menerus dijadikan kekuatan untuk memandang masa depan, berpikir optimis dan jernih dalam menjalani kehidupan. “Usia boleh menua, tapi pikiran dan pandangan harus tetap segar dalam memandang masa depan,” ujarnya. Bersyukur, lanjut Malik, harus selalu ditingkatkan agar bisa memainkan peranan ketaqwaan, keimanan, dan kemanusiaan. Terlebih, bulan Syawal diibaratkan Malik sebagai bulan menjalin silaturrahim. Melalui silaturrahim, kata Malik, rezeki akan banyak mengalir dalam kehidupan. “UMM harus terus didukung rasa syukur oleh segenap penghuninya, pandangan yang jernih, persahabatan yang ikhlas, dan semangat memberi makna yang besar untuk generasi penerus. Generasi penerus dapat dimaknai sebagai anak didik di lingkungan kampus, atau anak-anak kita dalam keluarga,” urai Malik. Merujuk pada perintah berpuasa pada Quran Surat Al-Baqarah ayat 183, Malik menegaskan tujuan berpuasa ialah menjadikan manusia sebagai makhluk yang bertaqwa. Taqwa, menurut Malik adalah nilai mulia yang bersarang di hati. Setelah sebulan berpuasa, manusia mestinya mempunyai satu kekuatan yang dalam ilmu jiwa dikenal dengan istilah inner beauty. Dalam Islam, inner beauty dikenal sebagai hanif. “Taqwa itu hanif, menebar kebajikan memihak kebenaran, dan selalu ingin berbuat yang terbaik. Misalnya dalam menyambut mahasiswa baru, layani dengan kekuatan hati yang peduli dan munculkan inner beauty yang kita miliki,” kata Malik. Sementara itu, Rektor UMM Fauzan menyatakan dalam Islam, setelah iman ialah kemanusiaan. Oleh karenanya, UMM tak lelah mengembangkan nilai keimanan dan kemanusiaan. “Qori’ yang membaca ayat suci Al-Quran dalam pembukaan tadi ialah petugas kebersihan di UMM. Ini salah satu cara UMM mengembangkan nilai kemanusiaan,” ungkap Fauzan. Hidup di tengah dinamika masyarakat berbangsa dan bernegara, UMM terus bahu –membahu memberikan yang terbaik. Akhirnya, halal bihalal menjadi momen untuk menjernihkan kembali  lahir dan batin antarkeluarga besar UMM dan menjadikan hari esok sebagai harapan bagi generasi baru. Halal bihalal keluarga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) digelar setelah libur hari raya Idul Fitri, di UMM Dome. Kegiatan ini dihadiri seluruh jajaran rektorat, dekanat, dosen, dan karyawan beserta keluarganya. Selain untuk silaturrahim, halal bihalal ini juga menjadi momen meningkatkan syukur dan siap memulai kembali aktivitas di kampus putih. (ich/can)

Melalui Buber Lintas Agama, UMM Kembangkan Harmoni Kemajemukan

BEKERJA sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan silaturrahim dan buka bersama (18/6) di Sengkaling Convention Hall. Wakil Rektor II UMM, Dr Nazaruddin Malik menyatakan, silaturrahim ini digagas untuk memperkuat posisi Muhammadiyah dalam menjaga kemajemukan bangsa melalui UMM sebagai salah satu amal usahanya. Kemajemukan ini salah satunya tampak dari mahasiswa UMM yang berasal dari beragam latar belakang suku, agama, dan ras.   “Kemajemukan ini bisa menjadi potensi dan instrumen untuk mendestruksi perkembangan bangsa,” ujar Nazar. Senada dengan Nazar, ketua umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kota Malang, Drs H A Taufik Kusuma menyatakan silaturrahim ini menjadi momen penting untuk membangun kebersamaan yang lebih kokoh. Tak hanya itu, silaturrahim ini penting untuk meneguhkan kembali kerukunan umat beragama di tengah maraknya isu nasional terkait toleransi beragama. “Prinsip dari Muhammadiyah untuk Bangsa terwujud di sini, karena kampus berlabel Islam tapi tetap menerima dari berbagai agama, suku, dan budaya,” imbuh Taufik. Dihadiri perwakilan keenam agama di Indonesia, suasana tampak akrab dan hangat. Orang-orang Tionghoa Muslim mewarnai kehangatan suasana ramah-tamah selepas melaksanakan Salat Maghrib berjamaah. Di akhir, Widodo dari perkumpulan kesukuan Tionghoa menyatakan, UMM tak hanya menerapkan kemajemukan dalam ranah normatif. Lebih dari itu, UMM telah bergerak nyata di dalam keberagaman itu. “Muhammadiyah menjadi lokomotif untuk menjadi alat memajukan masyarakat,” pungkasnya. (ich/han)