Rektor Ingin Media Perkuat Fungsi Edukatif

REKTOR UMM Fauzan menegaskan bahwa peran media begitu strategis di tengah masyarakat sebagai aktor yang memiliki fungsi edukasi. Hal itu disampaikan Fauzan dalam Silaturahim dan Buka Bersama Jajaran Pers se-Malang Raya di Sengkaling Convention Hall UMM (16/6). Dalam perkembangannya, kata Fauzan, media terbagi menjadi dua kelompok, yakni media yang berorientasi konstruktif, juga media yang berorientasi destruktif. “Sebagai fungsi edukasi, yakni media harus membangun, membina dan memperbaiki. Bukan sebaliknya, memberi efek negatif kepada seseorang, baik kelompok, lembaga maupun lapisan sosial lainnya,” ungkap Fauzan. Lebih lanjut Fauzan menyatakan bahwa dirinya terbuka atas kritik dan saran yang dilayangkan kepadanya maupun kepada UMM. Hal itu, kata Fauzan, dalam rangka agar tetap terjaganya kesinambungan kerjasama antara UMM dan pihak media. Dengan cara demikian, imbuh Fauzan, akan mampu membangun sesuatu yang lebih bermakna. “Kita harus saling bersinergi. Sinergi untuk mengembangkan informasi-informasi yang lebih konstruktif. Alhamdulillah, selama ini kita tidak pernah salah paham, karena memang sudah saling pengertian. Semoga silaturahim kita pada hari ini akan bisa memperkuat jalinan saling pengertian itu,” tandasnya. Hadir memberi tausiyah, Direktur Agropolitan TV Nurbani Yusuf. Menurutnya, selain guru, jurnalis juga memiliki fungsi edukasi. “Di tangan kita ada tanggungjawab besar. Kita yang akan membentuk dan membangun opini masyarakat,” kata Nurbani yang juga merupakan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu ini. Dengan menukil surat Fussilat ayat 34, Nurbani lantas mempertegas pernyataannya. “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia,” kutipnya. “Tesisnya, ketika kita mendapat perlakuan jahat, antitesisnya kita disuruh memberikan kebaikan berlipat. Bukan kejahatan dibalas kejahatan, tetapi kejahatan dibalas kebaikan,” tukasnya. (can/han)

Aktivis Mahasiswa UMM Diminta Jadi Insan Spiritual

RATUSAN aktivis mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), maupun Lembaga Semi Otonom (LSO) di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti Kajian Ramadhan 1438H di hall dome UMM, Kamis (15/6). Kepala biro kemahasiswaan, Drs Abdullah Masmuh MSi dalam sambutannya menyatakan, ada tiga tujuan diadakannya kajian untuk para aktivis. Kajian ini sebagai pengejawantahan agar aktivis memiliki nilai spiritual dan tangguh dalam menjalankan amanahnya sebagai pemimpin mahasiswa. Kedua, kajian ini menjadi momentum meningkatkan kesadaran beragama, keimanan, dan ketaqwaan. Ketiga, memperkaya tradisi kajian Al-Quran dan khazanah keilmuan klasik dan kontemporer. Hadir sebagai pemateri tentang “Al-Quran sebagai Landasan Etik Pengembangan Sains menuju Tafsir Kontekstual”, Dr M Nurhakim MAg menyatakan Al-Quran harus menjadi sumber inspirasi aktivis dalam menjalankan roda kepemimpinan dan kegiatan kemahasiswaan. “Aktivis yang menjadi pemimpin di kalangan mahasiswa harus menjadikan Al-Quran sebagai pedoman. Karena Al-Quran hadir sebagai petunjuk dan nasehat bagi manusia,” ujar asisten koordinator bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ini. Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF), Pradana Boy ZTF, Ph D bertema “Muhammadiyah sebagai Doktrin dan Tantangan Masa Depan”. Boy menuturkan, tidak semua mahasiswa berideologi Muhammadiyah. Namun, pengajaran nilai-nilai Muhammadiyah di kampus putih menjadi hal yang mutlak di mata Boy. “Mahasiswa yang sadar lalu berMuhammadiyah melalui AIK itu adalah bonus. Tapi, kalau mahasiswa UMM tidak memiliki wawasan tentang keMuhammadiyahan dan organisasi-organisasi teknis Muhammadiyah, ini bencana,” terang Boy. Dalam paparannya, Boy menegaskan, Muhammadiyah sebagai gerakan purifikasi seringkali dihubungkan sangat dekat dengan radikalisme. Namun, ada dimensi yang menjaga Muhammadiyah tetap  pada garisnya, yakni rasionalisasi. “Sekuat apapun arus radikalisme, jika masih berMuhammadiyah, maka mahasiswa tak akan terseret arus menjadi radikal, karena memegang erat rasionalisasi. Oleh karenanya, baik Boy maupun Nurhakim menekankan, dewasa ini banyak orang memegang keyakinan pada identitas atau organisasi melebihi keyakinan akan Islam. Sebagai aktivis yang berbeda organisasi dan latar belakang pemikiran, perbedaan fiqih dan keyakinan mestinya tak lantas menciptakan keretakan antarmahasiswa. Wawasan akan latar belakang mengapa tiap manusia berbeda menjadi wawasan yang harus dimiliki aktivis. Pasalnya, dengan memahami alasan perbedaan tiap individu, maka perbedaan akan menjadi hal yang disepakati bersama dan dihargai. “Mahasiswa aktivis itu berilmu. Orang yang berilmu mesti membuat orang berhati lembut. Kalau berilmu tapi belum memiliki hati lembut, berarti belum berilmu yang sesungguhnya,” pungkas  Boy berpesan. (ich/han)

UMM Gelar Apresiasi Ramadhan Karya Anak Bangsa

RATUSAN siswa setingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) se-Kota Malang, Jawa Timur, unjuk kebolehan di perhelatan Apresiasi Karya Anak Bangsa di selasar Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (15/6). Mereka menampilkan apresiasi di bidang seni gambar, bicara, serta agama “Event ini selain dimaksudkan untuk menyemarakan bulan Ramadhan 1438 Hijriyah, juga untuk mengedukasi peserta tentang pentingnya hidup yang harmoni di tengah Kebhinekaan anak bangsa,” terang koordinator kegiatan, Jamroji MComm saat diwawancarai di sela acara. Maka, imbuh dosen program studi Ilmu Komunikasi ini, tema-tema tiap lomba diarahkan untuk bisa memberi pesan-pesan hidup yang harmoni, hidup yang rukun antar sesama makhluk Allah. Gelaran yang merupakan bagian dari rangkaian acara Gema Ramadhan 1438 Hijriyah UMM ini terbagi menjadi 6 tangkai lomba. Di antaranya Lomba Mewarna untuk sekolah TK dan SD kelas III, sementara Lomba Kaligrafi, Lomba Puisi Islami, Lomba Pemilihan Dai Cilik (Pildacil), Lomba Mendongeng, serta Lomba Tartil diperuntukan bagi siswa tingkat SD. Setiap jenis lomba diambil 3 juara dengan ganjaran tropi dan uang pembinaan. Khusus pada tangkai lomba mendongeng, panitia memberikan kebebasan tiap peserta untuk mengeksplor potensinya. Seperti yang dilakukan peserta dari SD Plus Qurrota A’yun Kota Malang, Mariella Nafisah yang menggunakan media boneka guna mendukung penampilan mendongengnya. Tak pelak, penampilan Mariella mengundang tepuk tangan meriah dari para penonton dan peserta lain. Senada dengan Jamroji, melalui tema “Merajut Harmoni dalam Prestasi Anak Negeri”, ketua pelaksana Gema Ramadhan 1438 Hijriyah Ahmad Fatoni Lc MAg berharap gelaran ini dapat menanamkan karakter peserta menjadi generasi yang soleh dan solehah. (can/han)

Berbagi di Desaku Menanti, UMM Rancang Pembinaan Berkelanjutan

MOMEN Ramadhan menjadi ajang tepat untuk saling berbagi kepada sesama. Seperti yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) lewat kegiatan bakti sosial berupa pelayanan sosial, kesehatan dan rohani di kampung Desaku Menanti Kampung Kesetikawanan Sosial “Margo Mulyo” Desa Baran Tlogowaru Kedung Kandang Kota Malang atau lebih dikenal dengan ‘Kampung Wisata 1000 Topeng’, Senin (12/6). Desaku Menanti merupakan program kampung binaan Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI). Kegiatan yang dilakukan di antaranya pengobatan gratis untuk seluruh warga, permainan berbasis edukasi atau Edugame untuk anak-anak yang dibawakan oleh tim Relawan Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Fakultas Ilmu Sosial dan llmu Politik (FISIP) UMM dan Indonesia Safe House (INSAFH), serta penyuluhan pola asuh anak serta konsultasi psikologi oleh Unit Pelaksana Tugas (UPT) Bimbingan Konseling (BK) UMM yang dipandu Nia Paramita, M.Si. “Setelah kegiatan ini kita berharap ada upaya yang lebih kongkrit dan lebih nyata dan berlanjut terkait peningkatan kapasitas dari warga sekitar baik bagi orang tua dan anak-anak, baik di bidang sosial, ekonomi maupun pendidikan, juga spiritual,” terang coordinator Bakti Sosial, Zaenal Abidin. Sebagai bentuk tindaklanjut pembinaan yang berkelanjutan, UMM juga akan menyelenggarakan kegiatan serupa di waktu mendatang. Agar upaya pemberdayaan desa tersebut dapat maksimal, Imbuh Zaenal, kerjasama ini nantinya bakal ditindaklanjuti oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) khusus serta praktikum II IKS. “Kerjasama juga bisa dilakukan oleh fakultas lainnya yang relevan. Upaya ini dilakukan agar Kampung Topeng atau Desaku Menanti ini tidak menjadi masalah sosial baru. Kehadiran UMM di Desaku Menanti ini diharapkan menjadi solusi bagi penyendang masalah kesejahteraan sosial, khususnya bagi gelandangan, pengemis, pengamen serta pemulung,” tandas Zaenal yang merupakan dosen IKS UMM ini. Sementara, Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Dinas Sosial Kota Malang Desa Desaku Menanti Metawati Ikawardani menerangkan, Kota Malang sebagai salah satu wilayah yang mendapat mandat menjalankan program pilot project Desaku Menanti Kemensos RI pendirian rumah bagi 35 kepala keluarga dengan 159 Jiwa masyarakat binaan Dinas Sosial Kota Malang. “Kami tidak ingin mereka kembali ke kegiatan awal mereka lagi. Kita kuatkan ekonomi mereka, kita kuatkan kesejahteraan mereka menuju ke arah yang lebih baik, berkualitas dan bermartabat,” kata Metawati. Diakuinya, pembinaan bagi mantan gelandangan dan pengemis atau ex- gepeng ini akan optimal, jika menggandeng pihak lain. UMM sebagai lembaga pendidikan, menurutnya, dapat membantu dari segala sisi. Mulai dari penyediaan sarana-prasarana, kebutuhan sehari-hari, dan juga peralatan-peralatan untuk bekerja. “Untuk penguatan ekonomi ini, bisa juga dilakukan pendampingan untuk diadakan pendampingan keterampilan berwirausaha dan kegiatan pendampingan lainnya. Sehingga kita harap dalam satu keluarga mereka memiliki kemauan dan kemampuan untuk merubah diri mereka sendiri,” tuturnya. Ditemui di tempat berbeda, Rektor UMM Fauzan menyatakan, UMM akan mengambil bagian dalam melakukan pembinaan kepada desa ini secara komprehensif. “Harapan kami dengan ikut andilnya UMM dalam pembinaan ini,dapat timbul kemandirian masyarakatnya. Semoga, kurang dari jangka waktu 5 tahun berjalannya program tersebut, masyarakatnya sudah dapat berdiri di atas kaki sendiri,” ungkapnya. (can/han)

Perkuat Kerjasama UMM-Australia, #AussieBanget Corner Bakal Hadir di UMM

DALAM rangka memperkuat kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Keduataan Besar Australia untuk Indonesia memastikan bakal mendirikan pusat studi Australia di UMM. Rencana tersebut disampaikan langsung staf Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, Grace Maria dalam lawatannya ke UMM (7/6). Ditargetkan pendirian #AussieBanget Corner rampung bulan Juli tahun ini. Seluruh civitas akademika UMM nantinya dapat menemukan pilihan buku dan bahan tentang Australia seperti informasi belajar dan beasiswa.  Selain di UMM, pendirian #AussieBanget corner juga dibangun di sejumlah perguruan tinggi di Bali, Makassar, Medan, Surabaya dan Yogyakarta. “#AussieBanget Corner ini akan memberi kesempatan pertama untuk mencicipi Australia bagi para mahasiswa sekaligus menjadi titik utama bagi para alumnus Australia,” kata Grace. Selain rencana pendirian #AussieBanget Corner, Asisten Rektor Bidang Kerjasama, Drs. Suparto, M.Pd menyatakan, UMM juga tengah berupaya membentuk forum alumni Australia. UMM saat ini memiliki 32 orang dosen lulusan Australia. Rencana tersebut, menurut Suparto, dimaksudkan untuk pengembangan dan pemberdayaan alumni Australia. “Sebab, selama ini belum ada organisasi alumni Australia di Indonesia. Kalau alumni Amerika itu sudah ada organisasinya. Dari keduataan juga ada supporting untuk kegiatan berupa penelitian, pengabdian masyarakat, pemberdayaan organisasi serta networking,” tandas Suparto. Keberdaan #AussieBanget Corner itu sekaligus melengkapi American Corner, Saudi Arabian Corner, Thailand Corner serta China Corner yang sebelumnya telah berdiri di UMM. (can/han)

BIPA UMM Dipercaya Kemenlu RI Didik Calon Diplomat Asing

SETELAH melalui proses seleksi dan visitasi, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia memercayakan unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai lembaga penyedia jasa pengajaran bahasa dan budaya Indonesia bagi 12 calon diplomat dari lima benua melalui program the 12th Promotion to Indonesian Language and Culture for Foreign Diplomats. Pemilihan UMM sebagai penerima mandat dinilai kepala BIPA UMM Dr Arif Budi Wurianto MSi objektif. Hal tersebut lantaran ketersediaan sarana dan prasarana yang baik, juga kacakapan UMM dalam mengelola jejaring yang membuat UMM seringkali dipercaya menjadi tuan rumah dalam sejumlah event internasional. Terakhir, bulan lalu (8-11/5), UMM dipercaya mengelola International Gathering mahasiwa program Darmasiswa RI yang diikuti 540 mahasiswa asing dari 78 negara. Kegiatan yang merupakan program dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kemenlu RI ini direncanakan berlangsung pada bulan Juli hingga Agustus. Selama rentang waktu tersebut, para calon diplomat akan belajar bahasa Indonesia tingkat dasar dan budaya Indonesia. Adapun program budaya meliputi outing class yakni pengenalan alam dan budaya di Jawa Timur pada umumnya dan Malang pada khususnya. “Mereka akan belajar topeng Malangan, membatik, juga karawitan yang akan didukung oleh Lembaga Kebudayaan UMM. Saya kira ini tantangan berat bagi kita, karena hanya dalam satu bulan kita mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia kepada mereka,” terang Arif saat diwawancarai Selasa (6/6). Semenatara, visitasi yang dilakukan Pusdiklat Kemenlu RI pada 19 Mei lalu untuk mengkonfirmasi program yang ditawarkan. Selain itu secara objektif tim Kemenlu melakukan kunjungan ke fasilitas-fasilitas yang tersedia di UMM, yakni fasilitas pembelajaran, fasilitas sumber daya manusia, faktor pendukung yaitu dukungan dari universitas serta fasilitas-fasilitas yang memungkinkan mereka bisa belajar sesuai dengan standardisasi yang ditetapkan oleh Kementrian Luar Negeri. “Sebelumnya kegiatan ini terus difokuskan di Jakarta dan Jogja. Untuk pertama kalinya, setelah dua belas tahun, kegiatan diselenggarakan di Jawa Timur khususnya UMM,” terang Arif. Program ini memiliki nilai tambah bagi UMM, imbuh Arif, terutama pada akreditasi atau akuntabilitas masyarakat khususnya pemerintah. Capaian tersebut sekaligus melengkapi daftar program kerjasama BIPA dengan kementrian lain, di antaranya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan  lewat program Darmasiswa, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia melalui Kerjasama Negara Berkembang (KNB), dan terakhir dari Kemenlu melalui program tersebut. “Dipilihnya UMM untuk menyelenggarakan tersebut sudah memberikan rapot yang baik bagi UMM sekaligus tantangan kita untuk memberikan pelayanan yang profesional dan terbaik bagi mereka,” tandasnya. (can/han)

UMM Dome Kini Dilengkapi ICU Mini Berstandar Fasilitas Kesehatan Utama Presiden

ICU mini yang terdapat di basement UMM Dome saat kunjungan Presiden RI, Joko Widodo di UMM LAZIMNYA, kunjungan Presiden Republik Indonesia (RI) ke daerah sekaligus diiringi berbagai standar perlengkapan dan fasitilitas kepresidenan, termasuk standar fasilitas kesehatan dan tim medis. Namun, lain halnya dengan lawatan Presiden Joko Widodo ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akhir pekan lalu (3/6). Seusai Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) menilik kelengkapan fasilitas di Rumah Sakit (RS) UMM sehari sebelum kedatangan presiden (2/6), mereka pun memutuskan tak menerjunkan tim kesehatan lengkap seperti biasa. RS UMM pun lantas ditunjuk menjadi fasilitas kesehatan utama. “Setelah diperiksa oleh Paspampres, meninjau fasilitas dan kelengkapannya, lalu RS UMM ditunjuk jadi fasilitas kesehatan utama,” ujar wakil direktur RS UMM, dr Thontowi Djauhari NS MKes. Selain itu, merujuk pada surat edaran yang mengharuskan adanya ruang kesehatan dengan fasilitas lengkap, maka RS UMM pun menyiapkan sebuah ruangan di ujung basement dome dengan fasilitas setara ICU. “Kami menyebutnya ICU mini, karena fasilitasnya standar ICU, bukan sekedar IGD,” lanjut Thontowi. Peralatan standar ICU tersebut yakni adanya ventilator, alat hisap, peralatan akses vascular, peralatan monitor unvasif dan non-invasif, defibrillator atau alat pacu jantung, alat pengatur suhu, peralatan drain thorax, pompa infus dan syringe, lampu tindakan, tempat tidur khusus, serta peralatan portable untuk transportasi. ICU mini ini juga dilengkapi dengan seperangkat lembar observasi dan rekam medik. “Kami juga menyiapkan gelang bertuliskan nama Joko Widodo, andai tadi Pak Presiden ingin menilik ke sini,” ujar Thontowi. Meski dibangunnya ICU mini di basement UMM dDome diawali standar peraturan protokoler presiden, namun ternyata fasilitas ini dinilai baik untuk fasilitas kesehatan di area dome. “Jadi, kami putuskan ruangan dan fasilitas ini akan tetap di sini, tak dibongkar. Sehingga, ketika ada kegiatan mahasiswa atau kegiatan lain, fasilitas ini bisa tetap digunakan sebagai penunjang fasilitas kesehatan,” pungkas Thontowi. (ich)

Mendikbud: Tebarkan Spirit Al-Ma’un, UMM Jadi Gerakan Filantropi Muhammadiyah di Bidang Pendidikan

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menyatakan, spirit Al-Ma’un merupakan dasar filantropi Muhammadiyah yang tak hanya sebatas urusan memberi makan pada orang yang kurang mampu. Filantropi Muhammadiyah berupaya mengentaskan manusia dari tiga jenis kemiskinan, yakni miskin harta, miskin mental, dan miskin ilmu. Menurut mantar Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan menjadi poin penting untuk mengentaskan kemiskinan manusia akan ilmu. “Dengan mengentaskan manusia yang miskin ilmu, otomatis ilmu akan mengentaskan mereka dari kemiskinan akan sistem. Nantinya, dengan terlepas dari kemiskinan ini, manusia akan mampu mencari makan dan harta. Jadi, mengentaskan kemiskinan akan ilmu itu adalah kunci dari mengentaskan kemiskinan yang lain. UMM menjadi salah satu cara berfilantropi ala Muhammadiyah dengan mengentaskan kemiskinan ilmu ini,” paparnya. Menambahkan hal itu, sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr Abdul Mu’ti MEd menyatakan, gerakan filantropi harus anti ribet. “Ribet yang saya maksud bukanlah susah atau merepotkan, melainkan akronim dari Reaktif, Individualis, Belas kasihan, dan Temporal” paparnya dalam diskusi panel Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur tentang Filantropi sebagai Karakter Warga Muhammadiyah (4/6) di UMM Dome. Filantropi bermakna kedermawanan yang dikelola secara profesional untuk meningkatkan kesejahteraan orang banyak. Untuk itu, Mu’ti menegaskan filantropi tak boleh bersifat reaktif, yakni hanya bereaksi bila ada sesuatu yang terjadi, seperti bencana alam. Filantropi juga sebaiknya dilakukan bukan secara perorangan atau individualis, melainkan dikelola dengan baik oleh sebuah lembaga. “Contoh yang banyak di sekitar kita, perseorangan membagi-bagikan uang kepada orang banyak dengan cara berbaris. Ini yang dimaksud dengan nafsi-nafsi, individual dan sangat marak saat Ramadhan. Ini bisa menjadi sedekah yang karikatif, diperlihatkan kepada orang banyak dengan tujuan tertentu,” jelas Mu’ti. Selanjutnya, filantropi juga tak hanya dilaksanakan atas dasar belas kasihan dan temporal. Filantropi mesti dilandasi atas dasar keikhlasan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Dikatakan Mu’ti, puncak iman seseorang dapat dinilai salah satunya melalui kerelaannya untuk membagikan sesuatu yang masih dicintainya. Hal ini merujuk pada teologi Al-Ma’un yang menjadi dasar Muhammadiyah dalam melakukan banyak kegiatan sosial. “Muhammadiyah memahami surat Al-Ma’un sebagai dasar melakukan kegiatan sosial. Kedermawanan menjadi salah satu tolak ukur kualitas iman dan karakter orang yang bertakwa, yakni memberikan sebagian rezekinya pada orang lain,” urainya. (ich/han)

Ini Tiga Spirit Muhammadiyah Majukan Bangsa Menurut Haedar Nashir

KETUA umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi menekankan, bulan Ramadhan adalah media yang tepat untuk memupuk tiga karakter terpenting bagi keberagamaan Indonesia. Tiga kerakter tersebut yakni muroqobah, rif’ah, dan ukhuwah. Jiwa muroqobah ialah jiwa yang selalu mendekatkan diri pada Allah dan perasaan selalu diawasi oleh Allah. “Waspada untuk selalu melakukan kebaikan dan takut melakukan keburukan. Dengan memiliki karakter muroqobah, pemimpin-pemimpin bangsa tak akan melakukan kebaikan krena riya’ dan tidak melakukan keburukan ketika punya peluang,” urainya. Karakter kedua yakni rif’ah atau berjiwa mulia, luhur, dan utama. Mengutip hadis Nabi, Haedar mengungkapkan karakter rif’ah ini dapat terwujud dalam tiga hal, yakni menautkan kembali relasi dengan orang yang memutuskan, menghalalkan apa yang diharamkan orang pada diri kita, dan berbuat lembut hati pada orang yang berbuat bodoh. “Jika jiwa rif’ah dipraktikkan dalam kehidupan kebangsaan, meskipun ada dinamika, maka akan terbentuk masyarakat yang damai, bajik, dan selalu memupuk kebersamaan. Kalau ada yang menyulut sesuatu yg membuat kelompok kita terbakar, maka dengan jiwa rif’ah akan menjadi dewasa.” Karakter ketiga yakni ukhuwah, rasa persaudaraan yang selalu ingin berbagi untuk orang lain meski berbeda agama dan pilihan politik. Ukhuwah lahir dari semangat bahwa Allah menciptakan manusia dengan semangat untuk saling mengenal. “Pupuk dan rawat semangat hidup bersama dan mau berkorban,” tukasnya. Untuk itu, filantropi menjadi gerakan yang terus digiatkan Muhammadiyah. Usaha turut membangun bangsa melalui berbagai bidang dengan semangatukhuwah, turut berbagi dan menyejahterakan berbagai elemen masyarakat. Dalam konteks ini, Haedar menyebutkan UMM merupakan salah satu kampus kebanggan filantropi Muhammadiyah di Jawa Timur yang menjadi bagian penting dalam kiprahnya memajukan bangsa. “Dari kampus ini sudah lahir dua anak bangsa yang diwakafkan untuk berbagi mencerdaskan bangsa, yakni Pak Malik Fadjar dan Muhadjir Effendy,” ujarnya pada Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di UMM Dome (3/6). Sementara itu Ketua Umum PWM Jawa Timur Dr Saad Ibrahim MA dalam sambutannya mengatakan, semangat Muhammadiyah untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa termanifestasi dalam amal usaha di berbagai bidang. Di Jawa Timur, lanjutnya, amal usaha Muhammadiyah di antaranya 784 sekolah, 32 pondok pesantren, 6 universitas, dan 16 sekolah tinggi. (ich/han)

Presiden Jokowi Dikukuhkan sebagai Keluarga Kehormatan UMM

KEHADIRAN Presiden RI Joko Widodo di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam rangka Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu (3/6), dinilai Rektor UMM Fauzan sangat relevan dengan citra UMM sebagai kampus kebangsaan. Pada momen ini, Presiden Jokowi lantas dikukuhkan sebagai keluarga kehormatan UMM yang ditandai dengan penyematan “Jas Merah” almamater UMM oleh Ketua Badan Pembina UMM Abdul Malik Fadjar. Kehadiran Jokowi di yang bertepatan dengan Pekan Pancasila ini menjadi momentum bagi UMM untuk memperkuat tagline UMM yang sangat bernuasa kebangsaan, yaitu “Jas Merah Kampus Putih”. Terlebih, bagi Fauzan, kehadiran Presiden ini sangat kontekstual mengingat sebagaimana disebut Jokowi, Pekan Pancasila diupayakan untuk menguatkan dan memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila, serta menarik minat anak muda terhadap Pancasila, sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa dapat menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Karena salah satu sasarannya anak muda, maka penguatan Pancasila oleh Presiden bisa langsung dirasakan oleh kaum muda Muhammadiyah se-Jawa Timur serta mahasiswa UMM yang berlatar keragaman etnis, suku, bahkan agama. Ini penting, karena melalui anak muda, upaya memviralkan spirit Pancasila menjadi lebih mudah dan cepat dilakukan,” kata Fauzan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang pada kesempatan ini menyampaikan hikmah Ramadhan mengatakan, salah satu bukti kiprah kebangsaan UMM adalah dengan menghibahkan dua tokohnya pada bangsa. “Pak Malik Fadjar dan Pak Muhadjir Effendy adalah dua tokoh yang dihibahkan UMM pada bangsa,” kata Haedar. Selain Jokowi dan Haedar, sejumlah tokoh yang hadir antara lain Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Abdul Malik Fadjar, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PWM Jawa Timur M Saad Ibrahim, Walikota Malang Mochamad Anton, dan sejumlah tokoh lainnya. (can/han)