Kunjungi UMM, Jokowi Ajak Warga Muhammadiyah Perkuat Karakter Bangsa

PRESIDEN Republik Indonesia Joko Widodo mengajak warga persyarikatan Muhammadiyah dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengembalikan karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa besar. Hal itu disampaikan Presiden saat menghadiri Kajian Ramadhan 1438 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di UMM Dome, Sabtu (3/6). Bagi Jokowi, hal-hal yang perlu ditingkatkan yaitu etos kerja, produktivitas, kedisiplinan, serta etika berbangsa dan bernegara. Namun, Jokowi mengakui bahwa Muhammadiyah memiliki semua elemen itu. “Semual hal itu ada di Muhammadiyah. Karena itu saya mengajak seluruh pengurus dan warga Muhammadiyah untuk berkonsentrasi kepada hal-hal yang positif,” kata Jokowi. Jokowi juga mengingatkan pentingnya semangat ukhuwah di tengah bangsa yang memiliki keragaman suku, agama, ras, dan golongan. “Mari kita gunakan momen ini untuk menguatkan lagi semangat kita, ukhuwah Islamiyyah kita, ukhuwah wathoniyyah kita, dan mengisi setiap ruang-ruang itu untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya. Kehadiran Jokowi di UMM yang bertepatan dengan Pekan Pancasila ini menjadi momentum bagi Muhammadiyah untuk memperkuat kiprah kebangsaan yang telah melampaui satu abad. Terlebih, jika dilihat dari sisi historis, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah telah bahu membahu, turut membangun fondasi bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan. Gelaran ini sekaligus mengukuhkan Presiden Jokowi sebagai keluarga kehormatan UMM yang ditandai dengan penyematan “Jas Merah” almamater UMM oleh Ketua Badan Pembina UMM Abdul Malik Fadjar. Pasca acara, Jokowi tak segan menyapa dan bersalaman dengan mahasiswa dan peserta Kajian Ramadhan sebelum kembali bertolak ke Jakarta. Bagi Fauzan, kehadiran Presiden di UMM ini sangat kontekstual dengan Pekan Pancasila yang dicanangkan pemerintah. Pekan Pancasila, sebagaimana disebut Jokowi, diupayakan untuk menguatkan dan memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila, serta menarik minat anak muda terhadap Pancasila, sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa dapat menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Karena salah satu sasarannya anak muda, maka penguatan Pancasila oleh Presiden bisa langsung dirasakan oleh kaum muda Muhammadiyah se-Jawa Timur serta mahasiswa UMM yang berlatar keragaman etnis, suku, bahkan agama. Ini penting, karena melalui anak muda, upaya memviralkan spirit Pancasila menjadi lebih mudah dan cepat dilakukan,” kata Fauzan. Selain Jokowi, sejumlah tokoh yang hadir antara lain Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PWM Jawa Timur M Saad Ibrahim, Walikota Malang Mochamad Anton, dan sejumlah tokoh lainnya. Bagi Muhammadiyah, spirit yang ditebarkan Jokowi sejalan dengan semangat filantropi yang dikembangkan Muhammadiyah berbasis teologi Al-Ma’un. Sebagai wujud filantropi itu, Muhammadiyah kini memiliki 24.953 lembaga pendidikan usia dini, dasar dan menengah, 176 perguruan tinggi, 2.119 lembaga kesehatan, 525 panti sosial, 11.198 rumah ibadah, serta tanah seluas 20.945.504 meter persegi. (can/han)
Buka Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur, Jokowi Beri Petuah Kebangsaan

MEMANFAATKAN momen Pekan Pancasila, Presiden RI Joko Widodo menghadiri Kajian Ramadhan 1438 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu (3/6), di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk memberikan petuah kebangsaan. Presiden mengisahkan, dulu Indonesia merupakan bangsa yang besar dan disegani bangsa lain. Bahkan kepeloporan Indonesia terletak di berbagai dimensi, utamanya di aspek pendidikan dan pembangunan. Namun, belakangan kecenderungannya, Indonesia lambat laun makin tertinggal di berbagai aspek karena terus-menerus mengurusi hal-hal yang terlampau menyita perhatian. Oleh sebab itu, Presiden Jokowi menilai perlunya mengembalikan karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa besar. Yakni kembali pada etos kerja yang tinggi, kembali pada produktivitas yang tinggi, kembali pada kedisiplinan kita yang tinggi, kembali kepada etika berbangsa dan bernegara yang tinggi, serta kembali kepada etika bermasyarakat yang tinggi. “Semual hal itu ada di Muhammadiyah. Karena itu saya mengajak seluruh jajaran pengurus dan anggota untuk bersama-sama mengajak lingkungannya untuk kembali pada etika berbangsa dan bernegara dan etika bermasyarakat yang baik, sehingga kita bisa kembali konsentrasi kepada hal-hal yang positif,” kata Jokowi yang disambut riuh tepuk tangan peserta yang memadati Hall UMM Dome UMM. Bagi Jokowi, ada tiga hal penting yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Pertama, kesadaran tentang keberagamaan yang telah diberi ruang sebesar-besarnya oleh negara. “Oleh sebab itu, mari kita gunakan ruang yang besar ini untuk mengembalikan lagi semangat ukhuwah kita, ukhuwah Islamiah kita, ukhuwah wathoniyah kita, dan mengisi setiap ruang-ruang itu untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara kita,” ujarnya. Di bidang pendidikan, kita ingin membangun sumber daya manusia. Karena persaingan yang makin sengit antar negara. Oleh sebab itu, pendidikan harus dilandasi pada nilai-nilai agama, moralitas, etika, integritas, dan mentalitas yang baik. “Percuma anak-anak kita pandai tapi nilai-nilai itu tidak ada. Tidak ada artinya,” katanya. Tak kalah penting, yang ketiga, kata Jokowi, yakni memperteguh nilai-nilai persaudaraan. “Keberagaman di Indonesia merupakan takdir yang telah Allah berikan kepada kita. Anugerah ini yang senantiasa harus kita jaga,” ungkapnya. Gelaran tersebut sekaligus mengukuhkan Presiden Jokowi sebagai keluarga kehormatan UMM yang ditandai dengan penyematan jas almamater UMM oleh Ketua Badan Pembina UMM Abdul Malik Fadjar. Pasca acara, Jokowi tak segan menyapa mahasiswa dan peserta Kajian Ramadhan di lapangan parkir barat Masjid AR Fachrudin UMM sebelum kembali bertolak ke Jakarta. Selain Jokowi, sejumlah tokoh yang hadir antara lain Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PWM Jawa Timur M Saad Ibrahim, Walikota Malang Mochamad Anton, dan sejumlah tokoh lainnya. (can/han)
Viralkan Spirit Pancasila, Presiden Jokowi Dijadwalkan Kunjungi UMM

PRESIDEN RI Joko Widodo dijadwalkan hadir pada Kajian Ramadhan 1438 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang akan berlangsung besok, Sabtu (3/6), di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kedatangan presiden yang bertepatan dengan Pekan Pancasila ini menjadi momentum untuk memperkuat kiprah kebangsaan Muhammadiyah yang telah melampaui satu abad. Rektor UMM Fauzan mengatakan, kedatangan Presiden ini sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang telah meneguhkan negara Pancasila sebagai darul-ahdi wasy-syahadah. “Darul-ahdibermakna bahwa negara kita ini merupakan hasil konsesus nasional, yang melintasi keragaman etnis, agama, bahkan kekuatan politik dan golongan. Sementara darusy-syahadah menegaskan bahwa tanah air ini adalah bukti kesaksian kita atas Indonesia yang merdeka, yang harus dijaga bersama menuju negeri yang makmur, adil dan bermartabat.” Terlebih, tambah Rektor, jika dilihat dari sisi historis, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah telah bahu membahu, turut membangun fondasi bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan. “Benang merah itu yang coba kita perkuat. Apalagi, UMM ini kan salah satu amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan yang telah mengukuhkan diri sebagai kampus kebangsaan. Jadi konteks kehadiran Pak Jokowi ini sangat relevan,” kata Fauzan. Bagi Fauzan, kehadiran Presiden di UMM ini sangat kontekstual dengan Pekan Pancasila yang dicanangkan pemerintah. Pekan Pancasila, sebagaimana disebut Jokowi, diupayakan untuk menguatkan dan memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila, serta menarik minat anak muda terhadap Pancasila, sehingga diharapkan seluruh komponen bangsa dapat menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Karena salah satu sasarannya anak muda, maka penguatan Pancasila oleh Presiden bisa langsung dirasakan oleh kaum muda Muhammadiyah se-Jawa Timur serta mahasiswa UMM yang berlatar keragaman etnis, suku, bahkan agama. Ini penting, karena melalui anak muda, upaya memviralkan spirit Pancasila menjadi lebih mudah dan cepat dilakukan,” kata Fauzan. Selain Jokowi, sejumlah tokoh yang dijadwalkan menjadi narasumber yaitu Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Mendikbud Muhadjir Effendy, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Abdul Malik Fadjar, dan Wakil Ketua MUI Yunahar Ilyas, Ketua Dewan Pertimbangan MUI yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mantan Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Y Thohari Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Ketua PWM Jawa Timur Saad Ibrahim, dan sejumlah tokoh lainnya. Asisten Rektor Koordinator Bidang (Askorbid) Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang juga menjadi penanggungjawab Kajian Ramadhan 1938 H Mohammad Nurhakim menjelaskan, kajian Ramadhan ini diharapkan berdampak positif bagi keutuhan bangsa maupun untuk kepentingan umat, “Karena dihadiri sejumlah tokoh bangsa, semoga ini bisa lebih merekatkan semua elemen bangsa, serta menguatkan kembali titik-titik simpul umat ini dari ketegangan-ketegangan yang sempat menguji keutuhan Indonesia belakangan ini,” kata Nurhakim. Melalui tema “Spirit Al-Ma’un: Teguhkan Gerakan Filantropi”, lanjut Nurhakim, konteks filantropi yang hendak disampaikan pada gelaran ini tidak lagi pada tataran verbal semata, lebih dari itu, gelaran ini berupaya mengajak seluruh warga Persyarikatan untuk mengejawantahkan filantropi dalam aksi nyata. Nurhakim mencontohkan aksi nyata Muhammadiyah yang dibuktikan dengan banyaknya amal usaha yang dimilikinya. Disebut Nurhakim, Muhammadiyah memiliki 24.953 lembaga pendidikan usia dini, dasar dan menengah, 176 perguruan tinggi, 2.119 lembaga kesehatan, 525 panti sosial, 11.198 rumah ibadah, serta tanah seluas 20.945.504 meter persegi. “Semua amal usaha itu merupakan filantropi yang dedikasinya untuk bangsa,” tuturnya. (can/han)
UMM, Kampus Wisata Berwawasan Global

SUASANA Kota Malang, Jawa Timur, yang sejuk memikat mahasiswa dari berbagai daerah dan negara kuliah di kota ini. Daya tarik ini pula yang menginspirasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membangun kampus bernuansa rekreatif, atau edupark. Konsep kampus wisata diharapkan dapat membuat pikiran penghuninya fresh, sehingga lebih cemerlang dalam melahirkan ide-ide kreatif. Suasana yang segar dan menyehatkan, menurut Rektor UMM Fauzan, merupakan perwujudan UMM sebagai kampus green and cleanyang dicanangkan di semua lini. Hal ini, kata Fauzan,turutdidukung topografi UMM yang unik dan menarik, yang bisa membuat penghuninya merasa nyamandan terinspirasi. Bagaimana tidak, memasuki gerbang kampus UMM, mahasiswaakan disuguhi pemandangan yang indah, alamiah dan menyegarkan. Dari kejauhan, tampak pegunungan Panderman dan gunung Arjuno mengitari kampus. “Viewini menjadi spot foto yang sangat digandrungi mahasiswa,” kata Fauzan. Di depan gedung kuliah utama, terdapat danau kampus yang indah, dikelilingi gazebo-gazebo yang menjadi tempat favorit mahasiswa untuk belajar bersama, atau sekedar melepas lelah. Mahasiswa juga bisa mengitari kampus dengan sepeda pancal yang disediakan di sejumlah titik. Bergerak ke arah Barat, melewati gedung bundar UMM Dome, saat ini tengah dibangun jalan yang akan menghubungkan dengan salah satu unit usahaUMM paling ikonik, yaitu Taman Sengkaling UMM. Sementara ke arah Timur, terdapat stadion UMM berdampingan dengan kawasan konservasi tumbuhan langka Arboretum. Lebih dari itu, Wakil Rektor II UMM Nazaruddin Malik menjelaskan, kampus ini turut memanfaatkan keindahan alam untuk pengembangan akademik. Nazar mencontohkan sungai Brantas yang membelah kampus ini. “Aliran sungaiBrantas inikita manfaatkan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sehingga bisa menghemat beban biaya listrik hingga 25 persen,” terang Nazar. Selain itu, di UMM, mahasiswa tak hanya bisa menikmati, tapi juga sekaligus mempelajari ratusan pohon yang berada di lingkungan kampus. Dengan aplikasi Finding A Tree yang bisa diunduh di PlayStore android, mahasiswa bisa mengenali masing-masing jenis tumbuhan via barcode. Kampus ini, kata Nazar, setidaknya memiliki 41 jenis tanaman, termasuk di antaranya palem, tabepuya, dan cemara. Atmosfer Internasional Nuansa itu tak hanya memikat mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, namun juga dari beragam negara. Wakil Rektor I UMM Syamsul Arifin menguraikan, pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2016 saja, UMM menerima 188 mahasiswa asing yang berasal dari 18 negara, yaitu Australia, Chile, China, Jepang, Jerman, Kamboja, Korea Selatan, Polandia, Rumania, Sierra Leone, Singapura, Slovenia, Spanyol, Sudan, Thailand, Timor Leste, Uzbekistan, dan Vietnam. Mahasiswa UMM juga dapat memperluas pergaulan internasional melalui program-program kemitraan yang dibangun kampus ini. Misalnya setiap semester, lanjut Syamsul, mahasiswa UMM berkesempatan menjadi buddy atau partner bagi mahasiswa asing untuk melakukan proyek bersama. Misalnya melalui program Learning Express (LEx) bermitra dengan Singapore Polytechnic dan Kanazawa Institute of Technology (KIT) Jepang. Para buddy terbaik selanjutnya dikirim ke Jepang dan Singapura untuk melanjutkan proyek di sana. LEx merupakan salah satu program yang dibiayai Tamasek Foundation. Selain itu mahasiswa juga dapat memanfaatkan kerjasama internasional UMM untuk studi singkat di luar negeri. Misalnya kemitraan UMM dengan konsorsium Erasmus Mundus dan Erasmus+ yang terdiri dari 54 universitas di 19 negara Asia dan Eropa. Melalui beasiswa Erasmus, mahasiswa UMM dapat belajar selama 6 bulan hingga satu tahun di salah satu kampus di Eropa. Kesempatan summer camp di Cina, kursus bahasa Mandarin dan beasiswa master dan doktor dari Confucius Institute juga bisa diperoleh mahasiswa UMM. Syamsul menambahkan, UMM juga bermitra dengan Australian Consortium for In-Country Indonesia Studies (ACICIS) yang beranggotakan 22 universitas ternama di Australia dan Sakura Foundation untuk memberi kesempatan mengikuti Sakura Science Program ke Jepang selama dua pekan. UMM bahkan saat ini memiliki corner-corner hasil kerjasama dengan pemerintah di sejumlah negara, di antaranya American Corner, Saudi Arabian Corner, Thailand Corner, dan China Corner. Corner-corner yang terletak di Perpustakaan UMM ini menjadi pusat informasi, pengembangan wawasan, sekaligus wadah bagi mahasiswa UMM yang ingin studi di negara-negara tersebut. UMM juga memiliki UMM Corner di Thailand, sebagai pusat informasi tentang UMM dan Indonesia. Dalam waktu dekat,UMM Corner juga akan dibuka di sejumlah negara lain.Sementara untuk memfasilitasi mahasiswa asing yang kuliah di UMM, terdapat unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), agar sebelum kuliah reguler, mahasiswa asing sudah fasih berbahasa Indonesia. (ich/han)
Mahasiswa UMM Desain Jembatan Penghubung Kampung Jodipan-Kesatrian
MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali ikut “membangun” Kota Malang. Setelah Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) sukses menyedot perhatian khalayak dan meningkatkan perekonomian warga sekitar, UMM kembali bekerjasama dengan Pemerintah Kota Malang dan produsen cat tembok Decofresh membangun jembatan penghubung Kampung Jodipan dan Kampung Kesatrian. Jika sebelumnya, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM menjadi penggagas KWJ, kali ini giliran mahasiswa dari Jurusan Tehnik Sipil yang unjuk gigi dalam mendesain jembatan. “Ada potensi kampung sebelah Jodipan, yaitu Kampung Kesatrian dikembangkan juga. Maka dibutuhkan sarana untuk menghubungkan keduanya,” ujar Kepala Humas UMM, Rina Wahyu Setyaningrum, Rabu (10/5). Mengusung konsep jembatan kaca sebagai penerapan nilai estetikanya, jembatan sepanjang 25 meter tersebut akan membentang di atas Sungai Brantas. Menggunakan fondasi beton bertulang, peletakkan beton cor, serta kontruksi baja castella, jembatan tersebut sengaja dirancang bagi para pejalan kaki. Memiliki lebar 1,5 meter, baik warga maupun pengunjung kedua kampung tersebut dipastikan merasa nyaman melaluinya meski harus saling berpapasan. “Jadi orang masih merasa longgar,” tambah Rina. Mulai dibangun pada April 2017 lalu, pengerjaan jembatan yang didesain oleh Aji Pangestu dan Khairul Ahmad, tim perancang jembatan dari Mahasiswa Teknik Sipil UMM tersebut rencananya akan selesai dalam dua bulan masa pengerjaan. “Peletakkan batu pertama sudah dilakukan. Rencananya dalam dua bulan pengerjaannya selesai,” tambah Rina. Lebih lanjut Rina menyampaikan, ide pembangunan jembatan gantung Kampung Jodipan-Kampung kesatrian muncul saat Kampung Jodipan terus mengalami perkembangan yang pesat. Melihat hal tersebut, Rekktor UMM, Fauzan berinisiatif untuk mengembangkan juga Kampung Kesatrian di seberang sungai. Untuk itu, Fauzan menugaskan tim untuk mendesain jembatan tersebut. “Awalnya ada tiga desain. Setelah presentasi ke Bapak Walikota Abah Anton, dipilih satu itu yang kemudian digunakan sampai sekarang,” tambah Rina. Setelah final memilih desain jembatan, selanjutnya penanganan pembangunan jembatan Jodipan-Kesatrian diserahkan pengerjaannya pada pihak pemerintah Kota Malang. Berbagai komunikasi dibangun, termasuk dengan Balai Besar Sungai Provinsi, dan Jasa Tirta. “Setelah berbagai proses itu izinnya keluar,” tutupnya. (sil/han)
Follow Up Mata Kuliah Penyutradaraan, Mahasiwa Pentaskan Drama
PROGRAM Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar pementasan drama sebagai tugas akhir mata kuliah Penyutradaraan selama sepekan, Ahad-Jumat (21-25/5) di area parkir depan lapangan basket. Ketua pelaksana kegiatan, Eko Andrianto Saputra mengatakan ada enam tema yang diangkat dalam pementasan drama ini. Keenamnya lalu ditelurkan dalam beberapa judul karya, di antaranya Dukun-dukunan, Barabah, Mega-mega, Pamit, dan Bila Malam Bertambah Malam. Karya ‘Pamit’ yang dipentaskan Rabu (24/5) salah satunya, ialah karya yang diambil dari naskah RT Nol RW Nol karya penyair legendaris Indonesia, Iwan Simatupang. Ada enam kelompok dari tiga kelas yang melakukan pementasan. Tiap kelompok terdiri dari 20 orang. Selain pementasan drama, pada Jumat (2/6) juga digelar Malang Penganugerahan untuk mengumumkan pemenang kategori aktor dan aktris terbaik, setting terbaik, ilustrasi terbaik, dan pemeran pendukung terbaik. Kesulitan yang paling berarti menurut Eko yakni tenaga dan pikiran, karena harus bekerja ekstra keras untuk menyusun properti dan pengaturan cahaya karena pementasan dilakukan di luar ruangan (outdoor). Tak hanya itu, panitia juga mesti pintar mencari cara agar suara terdengar padat dan jelas meski aktor dan aktris berperan tanpa menggunakan mikrofon. Meskipun begitu, menurut mahasiswa semester 6 ini, melalui pementasan drama ini, mahasiswa PBSI lebih mengenal secara lekat dengan teman yang berbeda kelas. “Kalau biasanya hanya sekedar mengenal, kali ini kita lebih memahami karakter masing-masing teman selama bekerja sama menyusun penyelenggaraan pementasan ini,” ujarnya. Meski digelar di area parkir dan duduk beralaskan karpet saja, tapi menonton tampak memadati area yang disediakan. Bahkan, tak cuma mahasiswa PBSI, penonton juga datang dari mahasiswa jurusan lain dan kalangan umum. (ich/han)
Ini Tiga Strategi UMM Perluas Kemitraan Internasional
MERASAKAN atmosfer internasional adalah salah satu keunggulan menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selain lantaran banyaknya mahasiswa asing dan event berskala internasional, mahasiswa UMM juga dimanjakan dengan banyaknya peluang beasiswa luar negeri dan prestasi internasional yang bisa diraih. Menurut Rektor UMM Fauzan, kuatnya nuansa internasional itu tak terjadi begitu saja. Ada proses panjang di balik itu, di antaranya yaitu ikhtiar memperkuat mutu akademik dan memperluas jejaring kerjasama. “Saat ini kita telah bekerjasama dengan lebih dari 130 institusi dan universitas dari 37 negara,” terangnya. Asisten Rektor Koordinator Bidang (Askorbid) Kerjasama Luar Negeri Soeparto menjelaskan, luasnya kemitraan itu karena UMM menerapkan tiga strategi internasionalisasi, yaitu waterfall strategy (strategi air terjun), wheel strategy (strategi melingkar), dan sprinkler strategy (strategi percikan). “Pada strategi air terjun, mitra pertama kami menghubungkan pada mitra kedua, lalu mitra kedua pada mitra ketiga dan seterusnya. Contohnya adalah kerjasama UMM dengan Auckland University of Technology (AUT) yang menghubungkan kami pada The Association of Southeast Asian Institutions of Higher Learning (ASAIHL), lalu dari ASAIHL kami bermitra dengan Chulalongkorn University,” papar Soeparto. Sedangkan strategi melingkar yaitu jejaring berbasis konsorsium, misalnya keterlibatan UMM dalam konsorsium Erasmus+ yang terdiri dari 54 universitas di 19 negara Asia dan Eropa serta konsorsium Australian Consortium for In-Country Indonesia Studies (ACICIS) yang beranggotakan 22 universitas ternama di Australia. Adapun strategi percikan yaitu penjajakan langsung yang dilakukan UMM pada institusi di luar negeri. Tak heran, kacakapan dalam mengelola jejaring ini membuat UMM seringkali dipercaya menjadi tuan rumah dalam sejumlah event internasional. Terakhir, pekan lalu (8-11/5), UMM dipercaya mengelola International Gathering mahasiwa program Darmasiswa RI yang diikuti 540 mahasiswa asing dari 78 negara. Sementara itu Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi menerangkan, mahasiswa UMM juga dapat memperluas pergaulan internasional melalui program-program kemitraan yang dibangun kampus ini. Misalnya setiap semester, lanjut Syamsul, mahasiswa UMM berkesempatan menjadi buddy atau partner bagi mahasiswa asing untuk melakukan proyek bersama. Sebagai contoh melalui program Learning Express (LEx) bermitra dengan Singapore Polytechnic dan Kanazawa Institute of Technology (KIT) Jepang. Para buddy terbaik selanjutnya dikirim ke Jepang dan Singapura untuk melanjutkan proyek di sana dengan beasiswa dari Tamasek Foundation. Selain itu mahasiswa juga dapat memanfaatkan kerjasama internasional UMM untuk studi singkat di luar negeri. Misalnya melalui kemitraan UMM dengan konsorsium Erasmus+, mahasiswa UMM dapat belajar selama enam bulan hingga satu tahun di salah satu kampus di Eropa. Kesempatan summer camp di China, kursus bahasa Mandarin dan beasiswa master dan doktor dari Confucius Institute juga bisa diperoleh mahasiswa UMM. Atmosfer internasional itu memotivasi mahasiswa UMM untuk berprestasi di kancah internasional. Seperti halnya yang baru saja diraih tim robot UMM yang berjaya di kontes robot internasional di Amerika Serikat dengan menjadi juara satu dan dua serta poster terbaik kategori robot berkaki, mengalahkan para finalis dari Kanada, Tiongkok, Israel, Portugal, Uni Emirat Arab, dan tuan rumah Amerika Serikat. (can/han)
UMM Juarai Kontes Robot Pemadam Api Tingkat Regional
SETELAH menjuarai kontes robot tingkat internasional di Amerika Serikat April lalu, kini Tim Robotika Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyabet juara dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) 2017 tingkat regional. Pada gelaran tahunan kali ini, Tim Robotika Dome UMM menjuarai pada kategori Kompetisi Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI). Hanya dalam waktu 14,79 detik robot bernama Dome UMM berhasil menyelesaikan misinya, yaitu memadamkan api yang ada di area lomba. Bertempat di Universitas Brawijaya, UMM melawan 34 universitas dari wilayah Jawa Timur, Bali dan Papua. Pada kategori KRPAI, robot memiliki misi untuk mencari dan memadamkan api lilin secara otomatis tanpa dikendalikan oleh manusia di area lapangan. Area yang menjadi lapangan tanding berbentuk simulasi interior suatu rumah, sedangkan peletakan lilin dan garis mulai robot ditentukan oleh juri saat itu juga. “Robot milik tim Dome UMM memiliki kecepatan yang sangat cepat, sehingga kami bis amemadamkan api dengan akurat,” jelas Khusnul Hidayat, dosen pembimbing Tim Dome UMM. Pada perlombaan yang dihelat 6 Mei 2017 itu, Tim Dome UMM diwakili oleh 4 mahasiswa yaitu Imam Hanafi, Abdul Syukron, Alfan Ahmadillah Fauzi, dan Rokhmansyah. Keempatnya merupakan mahasiswa program studi (prodi) Teknik Elektro, Fakultas Teknik (FT) UMM. Menurut Khusnul, robot tersebut juga menggunakan sensor flame UVTRON-R9454 yang sangat baik mendeteksi api dan cahaya. Khusnul menjelaskan, sensor ini hanya menangkap cahaya Ultra Violet (UV) dengan jangkau spectrum 185 milimeter sampai 260 milimeter. Jangkauan tersebut hanya dimiliki oleh gas api, artinya robot itu tidak akan salah mendeteksi api lilin. Kecepatan yang dimiliki itu, Robot Dome UMM dapat mengalahkan berbagai universitas di kategorinya. “Bahkan kami mencetak waktu 12 detik pada sesi pertama untuk memadamkan api,” ungkapnya. Pada robot yang dirancang oleh Tim Robotika UMM itu, Robot Dome UMM dilengkapi dengan 8 sensor ultrasonic dan dua sensor infra merah sebagai sensor jarak jauh. Dengan banyaknya sensor yang dimiliki tim robotika UMM sangat mudah mengetahui dengan tepat posisi lilin. Berhasilnya UMM meraih juara 1 tingkat regional, maka tim robotika UMM akan meneruskannya pada tingkat nasional. Kompetensi tingkat regional yang telah dilalui memberikan banyak evaluasi yang akan diperbaiki oleh tim kedepannya. 8 Juli 2017 mendatang, Tim Dome UMM akan bertanding melawan universitas se-Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. “Kami mempelajari seluruh kelebihan dari tim lainnya untuk menjadi evaluasi dan perbaikan untuk maju dalam tingkat nasional mendatang,” pungkas Khusnul. (jal/han)
PUSAM UMM Ajak Mahasiswa Viralkan Pesan Perdamaian di Media Sosial
AKHIR-akhir ini, media sosial ramai cuitan-cuitan berorientasi kebencian. Media sosial dipakai sebagai alat propaganda politik demi menjatuhkan individu atau kelompok lain. Merespon fenomena ini, Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) UMM menggelar seminar bertajuk “Urgensi Narasi Perdamaian di Tengah Masyarakat Multikultural”, Selasa (23/5) di auditorium hotel UMM Inn. Tema seminar tersebut dipilih selaras dengan tujuannya, yakni untuk membangun wawasan para pemuda sebagai pengguna aktif media sosial agar memenuhi media sosial dengan pesan perdamaian dan kebaikan, bukan sebaliknya. Hal ini disampaikan staff program PUSAM, Nafi’ Muthohirin, MA Hum. Disampaikan Nafi’, tulisan-tulisan yang banyak beredar di berbagai media sosial akhir-akhir ini bukan tiba-tiba ada. Tulisan-tulisan tersebut sengaja dibuat oleh kelompok terorganisir dan memiliki tendensi tertentu. Fenomena ini tak hanya merebak sejak Pilkada DKI beberapa bulan lalu, tapi bahkan sudah dimulai pada Pilpres 2014 lalu. Mewaspadai hal ini, Nafi’ berpesan pada mahasiswa, utamanya aktivis dan jurnalis. Pasalnya, di kota-kota besar, banyak organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga survey yang merekrut dan mempekerjakan wartawan sebagai ghost writer yang memproduksi tulisan-tulisan meyakinkan padahal bodong yang lalu banyak berkembang di masyarakat. “Tulisan-tulisan inilah yang kemudian mempersepsi masyarakat untuk membenci individu atau kelompok tertentu dengan tujuan politis. Ini bukan tulisan natural semacam opini yang kita tulis di akun pribadi, melainkan sengaja dibuat,” urai Nafi’. Oleh karenanya, Nafi’ yang juga dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM ini menilai intoleransi yang di dunia nyata terwujud melalui kekerasan fisik, di media sosial termanifestasi dalam intoleransi verbal. Hal ini lebih berbahaya karena mendoktrin cara berpikir seseorang. Hadir sebagai pemateri dalam seminar ini adalah Direktur HAM dan Pengembangan Asia Foundation, Budhy Munawar Rachman, direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Paramadina Jakarta Ihsan Ali Fauzi, dan dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Dr Vina Salviana MSi. Dalam paparannya, Ihsan Ali menyatakan bahwa rekonsiliasi di Indonesia seringkali gagal dilakukan. Kemampuan masyarakat Indonesia untuk memaafkan dan melupakan kesalahan dinilai rendah. “Tema narasi perdamaian berasal dari prinsip Islam yang mengandung nilai-nilai perdamaian. Banyak kosakata dalam Al-Quran yang menyinggung tentang perdamaian, misalnya pemilihan kata kebaikan, perdamaian, dan keamanan. Pula tradisi Islam klasik yakni sejarah nabi, sahabat, dan para tabi’in yang dijadikan teladan dalam berperilaku damai. Hate speech di media sosial menjadi satu kasus yang harus diperhatikan, tapi kasus lain seperti di Poso dan kekerasan fisik bisa didamaikan melalui prinsip-prinsip perdamaian menurut Islam,” beber Ihsan Ali. Selain itu, Budhy Munawar berpesan sebagai pembaca, masyarakat harus cerdas memverifikasi tulisan yang beredar di media sosial. Masyarakat cerdas tak mudah dipengaruhi artikel bohong. Nilai melalui judul, terlihat memojokkan atau mempunyai tendensi tertentu, atau tidak,” jelasnya. Pun, sebagai pemuda, mahasiswa mesti kritis terhadap apa yang muncul di media sosial. Prinsip damai bisa dipelajari dalam rangka menegoisasikan sebuah konflik. Penuhi media sosial dengan pesan perdamaian dan kebaikan. Seminar ini diikuti oleh 60 peserta dari berbagai kampus di Jawa Timur,termasuk penerima beasiswa HAM dari PUSAM. (ich/han)
Kembali Jadi Yang Terunggul, UMM Dipercaya Jadi Kampus Asuh

KEBERHASILAN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Anugerah Kampus Unggulan (AKU) yang kesepuluh kalinya membuat kampus ini mendapat kepercayaan dari Direktorat Penjaminan Mutu Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset dan Tekhnologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk menjadi Perguruan Tinggi (PT) Asuh. Bersama 26 PT se-Indonesia, UMM menjadi kampus asuh bagi universitas yang masih belum terakreditasi A. Dengan begitu, UMM menjadi perpanjangan tangan dari Kemenristek Dikti untuk ikut membantu memperbaiki mutu dan kualitas PT di Indonesia. Kepala Badan Pengelola dan Pengendali Akreditasi (BPPA), Dr Ainur Rofieq MKes menyatakan, sebelumnya UMM diberi kesempatan mengajukan proposal yang menyatakan bahwa UMM siap menjadi PT Asuh bagi universitas yang berada pada klaster dua dan tiga. Berdasarkan arahan Belmawa, UMM memilih dua universitas yang akan dibimbing agar mendapatkan akreditasi lebih baik. “Kami memilih Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dan Universitas Ronggolawe Tuban (UNIRO) untuk menjadi kampus yang akan diasuh,” jelasnya. Sebanyak 22 program studi (prodi) yang berada di dua universitas tersebut akan diasuh untuk dinaikkan tingkat akreditasinya. Semua yang dibimbing, lanjut Ainur, adalah prodi yang masih memiliki akreditasi C. Ada tiga aspek yang menjadi titik tekan yaitu sistem penjaminan mutu internal, tata kelola dan tata pamong, serta manajemen pengelolaan akreditasi prodi dan institusi. Selama enam bulan terhitung Juni hingga November 2017, UMM akan mengadakan kegiatan yang mendorong meningkatnya mutu dan kualitas 22 prodi di UMSIDA dan UNIRO. Bekerjasama dengan delapan satuan penjaminan mutu UMM, BPPA akan menggelar workshop, pendampingan serta pelatihan dalam mengurus akreditasi. Lebih dari itu, UMM akan memfasilitasi dalam bentuk magang yang akan dijalani dua PT tersebut. “Magangnya nanti akan ditempatkan di beberapa prodi UMM yang terakreditasi A selama sepekan. Tujuannya agar dua kampus itu mempelajari secara mendetail tentang sistem akreditasi,” ungkap Ainur. Hal yang paling penting dalam proses kampus asuh ini adalah terbangunnya sistem penjaminan mutu di PT tersebut. Menurut Ainur, penjaminan mutu harus terbangun di institusinya maupun prodinya. Dengan begitu, maka akan terbangun budaya penjaminan mutu yang sistematis. Bukan tanpa alasan UMM ditunjuk Kemenristek Dikti untuk mengurus PT lain. Ainur menjelaskan, selain UMM secara institusi telah terakreditasi A, UMM merupakan salah satu PT yang sudah memiliki kredibilitas dalam menerapkan tiga aspek di atas. Selain itu, dengan menjadi kampus asuh, UMM juga diuntungkan. Diantaranya UMM mendapatkan pengakuan dari Kemenristek Dikti terkait mutu institusi. Selain itu, dengan menjadi kampus asuh, UMM secara tidak langsung memperkenalkan sistem dan mutunya kepada universitas se-Indonesia. “Kita memperkenalkan ke khalayak bahwa UMM memiliki akreditasi dan mutu yang sangat baik, sehingga Kemenristek Dikti memberikan kepercayaannya untuk menbimbing kampus lainnya,” pungkasnya. (jal/han)