UMM Gelar Expo Mahasiswa Perikanan se-Indonesia

PROGRAM studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jadi tuan rumah rangkaian Expo Perikanan Mahasiswa Nasional (Expimnas) 2017 yang digelar selama dua hari, Senin- Selasa (22-23/5). Kegiatan yang digelar di Auditorium UMM ini diikuti 120 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia dari berbagai universitas se-Indonesia. Ketua pelaksana kegiatan, Fidi A. Rusda Hafidi menyatakan, kegiatan utama Expimnas yakni expo perikanan yang dihelat di Helipad. Namun, tak hanya pameran produk, kegiatan juga dibarengi dengan seminar dan diskusi nasional serta workshop. Senin (22/5), seminar dan diskusi nasional mengambil tema “Terlena, Potensi Negara Kepulauan” menghadirkan empat pakar perikanan. Ialah dosen Perikanan UMM, Dr Ir David Hermawan, pakar budidaya perikanan yang juga eks staff ahli Kementerian Kelautan dan Perikanan Dr Ir Maheno Sri Widodo, Divisi Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Rusdianto, dan ketua umum Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Jawa Timur, Ir Sudarlin. Berbagai hal tentang perikanan dibahas dalam seminar dan diskusi nasional ini. Utamanya mengenai isu yang sedang ramai diperbincangkan, yakni larangan menggunakan cantrang dan rumpon sebagai alat tangkap ikan. Sementara, keduanya menjadi alat utama yang digunakan nelayan di pantai utara dan pantai selatan. David selaku pemateri pertama mengungkapkan cantrang dan rumpon tak menjadi penyebab kerusakan ekosistem seperti yang banyak digaungkan akhir-akhir ini. Cantrang dan rumpon sebatas menjadi shelter alias rumah singgah bagi ikan lintas samudera. Di hari kedua, Selasa (23/5), delegasi dari masing-masing kampus diajak untuk mengikutiworkshop. Ada tiga jenis workshop yang diadakan, yakni workshop aquascape atau seni menanam tanaman dalam air yang akan dipandu oleh komunitas aquascape Malang danworkshop budidaya kakap putih oleh Balai Perikanan Situbondo. Peserta juga terjun langsung membuat bionatural dan pembuatan tambak. Di helipad, sebanyak 35 stan yang terdiri dari mahasiswa dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memamerkan produknya, baik produk pengolahan ikan maupun teknologi terkait perikanan. Dalam hal ini, Himapikani bekerja sama dengan UMKM di kota dan kabupaten Malang. Sebelumnya, lomba esai diadakan sebagai rangkaian Expimnas 2017. Lomba esai dimulai sejak 1 Februari hingga 1 Mei. 3 pemenang dan 1 juara harapan akan diumumkan pada puncak kegiatan. Sekjen Himapikani yang juga mahasiswa UMM, Afan Arfandia mengungkapkan, mahasiswa perikanan mesti tahu dan peka akan isu-isu yang merebak di dunia perikanan. Ia berharap, Expimnas tak hanya jadi ajang kumpul-kumpul, tapi juga media diskusi dan transformasi ilmu. (ich/han)

UMM Buka Pendaftaran Program Profesi Insinyu

MULAI September 2017 ini, UMM secara resmi akan membuka pendaftaran Program Profesi Insinyur. Hal itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (SK Menristekdikti) Nomor 200/KPT/I/2017. Kewenangan membuka program studi tersebut diatur dalam amanat Undang-Undang (UU) No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsiyuran juga sekaligus untuk memenuhi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Dekan Fakultas Teknik (FT) UMM, Ir Sudarman MT menerangkan, syarat untuk membuka program tersebut setidaknya UMM harus memiliki enam tenaga kependidikan yang terkualifikasi sebagai Insinyur Profesional Madya yang diperoleh dari Persatuan Insinyur Indonesia (PPI). Saat ini, UMM telah memiliki sembilan Insinyur Profesional Madya. Pemilihan UMM sebagai salah satu penerima mandat untuk membuka program profesi didasarkan beberapa kriteria, seperti sudah terakreditasi A atau B, memiliki Fakultas Teknik, Pertanian, atau Matematika dan IPA (MIPA). “Dari hasil seleksi Kementerian itulah, didapatkan 40 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ditunjuk mengawali pembukaan program profesi ini,” ujarnya. Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kemenristek DiktiDrIrPatdono SuwignjoMEngScdalam surat penugasan penyelenggaraan Program Profesi Insinyur kepada UMM mengatakan, pertimbangan memilih UMM karena kemampuan dan pengetahuan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berkualitas. “Pembukaan program ini untuk menyiapkan sumberdaya manusia yang memiliki pengetahuan yang mencukupi dalam bidang pendidikan tinggi profesi insinyur,” tulisnya. Yang bisa mengikuti program profesi ini, bisa dari lulusan sarjana teknik, pertanian, sains terapan, maupun para pekerja yang berprofesi di bidang keinsinyuran. Tiap kampus hanya diberi jatah 100 mahasiswa saja tiap angkatan. Sementara, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi mengungkapkan kesyukurannya karena dalam satu tahun ini UMM mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk membuka dua program studi profesi sekaligus, sebelumnya UMM telah membuka Program Profesi Ners. “Dengan pendidikan keprofesian ini mereka akan semakin kompenten. Dengan kompetensi yang makin meningkat, maka diharapkan semakin mudah diakui dalam dunia kerja karena dianggap profesional di bidangnya,” terangnya. Dengan demikian, UMM telah memiliki 57 program studi. Mulai dari diploma 3, Strata 1, 2 dan 3 serta pendidikan profesi. Ke depan, imbuh Syamsul, UMM bakal menambah program studi pendidikan profesi untuk ilmu eksak. Pembukaan Program Profesi Insinyur di UMM ini melengkapi program-program profesi lain yang berdiri sebelumnya, seperti Profesi Psikolog, Profesi Dokter, Profesi Perawat, Profesi Akuntan,dan Profesi Apoteker.“Dengan dibukanya sejumlah prodi keprofesian ini, diharapkan ke depan UMM dapat menjadi center of excellent,” tukas Syamsul. (can/han)

Arlinda Silva Prameswari, Ubah Virus Jadi Media Terapi Kanker

SELAMA ini manusia mengenal virus sebagai embrio penyebab penyakit. Namun, apa jadinya bila virus malah berubah fungsi menjadi media terapi penyakit kanker? Itulah yang sedang dikerjakan Arlinda Silva Prameswari, mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UMM yang baru saja meraih Juara I Mahasiswa Berprestasi Tingkat Kopertis VII Jawa Timur. Virus yang sedang dimodifikasi Arlinda bernama Adenovirus serotype 5 (Ad5), yakni salah satu virus yang berperan terhadap lima hingga sepuluh persen infeksi saluran napas pada anak-anak dan orang tua, juga infeksi saluran kencing. Untuk mengubah virus Ad5 menjadi media terapi, ada tiga tahapan yang harus dilakukan Arlinda. Pertama, ia harus melakukan penghapusan gen. Pada virus, ada beberapa gen yang berfungsi sebagai senjata bagi virus. “Agar virus bisa dipakai untuk terapi, maka senjatanya harus dihilangkan, yaitu dihapus gennya,” ujar Arlinda menganalogikan. Kedua, Arlinda mengubah susunan genetik asam basa. Pada kanker prostat, Ad5 tak bisa bereplikasi secara selektif karena jumlah reseptornya rendah. Padahal, cara virus masuk ke sel tubuh ialah melalui reseptor tersebut. Pada literatur yang dikajinya, ada reseptor yang meningkat jika kankernya parah. Untuk itu, Arlinda perlu mengubah susunan asam basanya. Tahapan ketiga yakni enkapsulasi. Virus yang telah dimodifikasi akan dikapsul menggunakan polimer posphoethylen glycol (PEG). Virus merupakan suatu agen infeksius, oleh karenanya akan secara cepat dieliminasi dari sistem tubuh oleh imun. Untuk itu, enkapsulasi pada virus bertujuan untuk memperpanjang proses terapi yang dilakukan virus di dalam sel menjadi lebih lama karena akan mengelabui sistem imun tubuh. Sementara itu, cara yang dilakukan untuk memasukkan virus ke dalam tubuh yakni melalui injeksi yakni disuntik lewat arteri. Sejauh ini, pengobatan kanker kerap menggunakan kemoterapi. Kelemahannya, kemoterapi akan menyerang sel sehat dan sel kanker. Sebaliknya, kelebihan menggunakan Ad5, ketika ia disuntikkan ke dalam tubuh, ia hanya menyerang sel kanker saja. Mahasiswa asal Lamongan ini mengaku memulai risetnya sejak November 2016 dan menggunakan hingga 70 jurnal internasional dan nasional sebagai referensinya. Ada berbagai tahapan yang harus dilaluinya hingga meraih juara pertama mahasiswa berprestasi di Jawa Timur dan siap melaju ke tingkat nasional. Mahasiswa yang juga menjadi chief of editor pada Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia (JIMKI) ini mesti berlomba dengan 45 peserta dari berbagai kampus hingga tersisa 10 besar. Seleksi tersebut antara lain seleksi administrasi, presentasi hasil riset, klarifikasi piagam penghargaan, kemampuan menulis dan berbicara dalam Bahasa Inggris, hingga wawancara kepribadian. Tak heran jika predikat mahasiswa berprestasi se-Jawa Timur diraihnya. Di samping kuliah, mahasiswa semester 6 ini juga aktif sebagai pengurus harian Badan Analisis dan Penalaran Ilmiah Nasional (BAPIN) di bawah Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) sebagai reviewer pada JIMKI sebelum diteruskan ke reviewer dokter spesialis. Di FK, mahasiswa yang bercita-cita menjadi dokter spesialis jantung ini juga bergelut di bidang jurnalistik dan aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). (ich/han)

Syuna Salimdra, Lulus Kedokteran UMM di Usia 18 Tahun

MISI mulia Syuna Salimdra untuk bermanfaat bagi masyarakat melapangkan jalannya untuk menjadi dokter muda di usia yang sangat belia, yaitu 18 tahun. Pada prosesi wisuda yang berlangsung di UMM hari ini (20/5), Syuna yang lahir pada 8 Mei 1999 ini dikukuhkan sebagai dokter muda. Proses akademiknya berlangsung cepat karena ia mengikuti kelas akselerasi dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Kemantapannya memilih Fakultas Kedokteran (FK) sudah ia tetapkan sejak duduk di bangku SMA. Bagi Syuna, dokter merupakan pekerjaan sangat mulia karena bisa menolong banyak orang. “Saya melihat dokter dapat menyelamatkan hidup banyak orang, dari situ kemudian ketertarikan saya dimulai,” ungkapnya. Ketika SMA, Syuna mengaku tak ada metode khusus dalam belajar, selain rajin dan tekun. Ketika memasuki perguruan tinggi, tempo belajarnya ia sesuaikan. Selama lima semester, Syuna dipercaya untuk menjadi asisten dosen di laboratorium skill FK UMM. “Saya jadi asisten dosen mulai semester tiga sampai semester tujuh. Ternyata mengajar enak juga, apa yang diajar bisa lebih mudah diingat,” ujar pria yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anastesi ini. Syuna membuat tugas akhir dengan mengangkat fenomena penjual makanan yang menggunakan minyak jelantah untuk menggoreng. Dengan mengangkat judul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Pepaya Terhadap Perbaikan Histopatologi Sel Hepar Tikus Putih Yang Diinduksi Minyak Jelantah”, Syuna mencoba meneliti kerusakan hati yang disebabkan konsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jelantah. Dalam risetnya, Syuna membagi tikus putih dalam dua kelompok. Yang pertama diberi minyak jelantah saja, sedangkan kelompok kedua diberi minyak jelantah dan ekstrak daun pepaya. Hasilnya mengejutkan, ekstrak daun pepaya memang bisa tapi belum terlalu efektif. “Observasinya selama dua minggu, lalu saya bedah, kemudian diambil hatinya lalu diperiksa secara mikroskopik, baru dilihat perbedaan pada sel hatinya. Kelompok mana yang selnya lebih normal dan mana yg lebih rusak,” cerita putra dari pasangan Buntoro Salimdra dan Marzuqoh tersebut. Pria yang aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UMM ini menjelaskan, penelitiannya ini bisa dimanfaatkan untuk manusia. Menurutnya, hati tikus memiliki kerja yang sama dengan hati manusia. Sehingga, jika konsumsi minyak jelantah secara terus menerus dapat merusak hati tikus, maka juga dapat merusak hati manusia. “Jika ekstrak daun pepaya dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati tikus maka demikian halnya pada hati manusia,” jelas Syuna.

Menkominfo Rudiantara Ajak Mahasiswa UMM Wujudkan Indonesia sebagai Macan Asia

BERKACA dari pengalaman berbagai krisis dan kebangkitan ekonomi yang pernah dialami Indonesia, kualitas sumber daya manusia selalu menjadi benteng terkuat untuk menahan krisis yang lebih parah. Akan menjadi apa bangsa kita pada tahun 2030 atau 2050, tergantung kepada apa yang kita semaikan hari ini dan kemarin. “Satu rupiah bahkan triliunan dolar yang kita kumpulkan pada tahun 2030 atau 2050, adalah tuaian dari satu rupiah yang kita tanamkan hari ini. Satu rupiah yang telah dijejalkan para orang tua ke dalam saku para wisudawan-wisudawati yang diterima pada masa-masa kuliah adalah investasi yang akan dipanen bangsa ini di masa yang akan datang,” ungkap Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia dalam gelaran wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-84 di Hall UMM Dome, Sabtu (20/1). Sekitar tahun 1990, imbuh Rudi, Indonesia digadang menjadi ‘Macan Asia’. Bahkan Indonesia sempat disejajarkan dengan ‘macan-macan’ lain seperti Hongkong, Korea Selatan, Singapura, Taiwan dan lainnya. Idiom semacam ini digunakan untuk menggambarkan negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi yang didorong oleh keberhasilan industrialisasinya. “Sayangnya, krisis keuangan pada tahun 1997 meredupkan sementara mimpi kita untuk menjadi ‘Macan’.  Bahkan pada periode ini, kita justru harus berjuang mengatasi krisis yang merembet ke ranah yang sifatnya multidimensi,” ujar Rudiantara yang pada kesempatan tersebut dikukuhkan sebagai keluarga kehormatan UMM. Namun demikian, lanjut Rudiantara, dongeng tentang prospek ekonomi Indonesia yang sangat potensial untuk menjadi ‘macan’ di kawasan Asia, tidak pernah musnah sama sekali. Meski dampak dari krisis itu masih tetap bisa dirasakan hingga saat ini, Rudianto mengajak para hadirin untuk terus membangun optimisme, bahwa Indonesia akan meraih mimpinya sebagai ‘Macan’ di kawasan Asia. “Saatnya kita menatap ke depan, ke arah cakrawala yang lebih cerah. Tak ada alasan untuk berkeluh kesah, karena tak kurang publikasi dan penelitian tentang ekonomi global yang dilakukan lembaga-lembaga peneliti dan konsultan ekonomi internasional yang menyebut betapa besarnya potensi ekonomi kita dalam konteks ekonomi dunia,” paparnya. Sebuah proyeksi dari penelitian yang dirilis pada Februari 2017 menyebutkan, pada tahun 2030, Indonesia akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar ke-9 di dunia berdasarkan Gross Domestic Product (GDP) atau Market Exchange Rate-nya. “Pada tahun 2030 ekonomi Indonesia nilainya sekitar 2,4 triliun dolar Amerika, yang pada tahun 2016 lalu nilainya adalah hampir 1 triliun dolar Amerika, 950 Miliar kurang lebih. Di tahun 2030 nanti, nilainya akan meningkat menjadi 2,5 kali lipat,” tukasnya. Sementara itu, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang juga ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof Abdul Malik Fadjar MSc yang turut memberikan amanat  dalam wisuda mendorong, momen wisuda yang bertepatan dengan peringatan Kebangkitan Nasional, UMM diharapkan menjadi garda depan menjaga nasionalisme Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Dipundak anda lah nantinya, kelangsungan, kelestarian dan kesejahteraan bangsa ini,” tandasnya. Gelaran yang mengukuhkan 1255 wisudawan dari program diploma, sarjana, dan pascasarjana ini sekaligus dilakukan penyerahan Piala Anugerah Kampus Unggulan (AKU) dan Kartika oleh Prof Dr Suprapto Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Surabaya kepada Rektor UMM. Juga, penganugerahan Kepala Sekolah SMU/SMA/MA wisudawan terbaik dan pemberian beasiswa kepada mahasiswa tim robot UMM sebagai juara dalam ajang The 2017 Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. (can/han)

Maksidaya UMM Angkat Eksotisme Budaya Indonesia Timur

BUDAYA Indonesia Timur eksotis dan beragam. Namun, belum semua budaya itu terekspos apik dan mendapat perhatian penuh. Hal ini mendasari Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM) melalui Malam Ekspresi Seni dan Budaya (Maksidaya) memilih tema Indonesia Timur untuk penampilan-penampilan yang disajikan di atas panggung (19/5). Digelar di helipad UMM, beberapa penampilan yang dipentaskan yakni Tari Soya-soya Sisi yang dibawakan 6 mahasiswa dari Organisasi  Daerah (orda) Ternate Maluku Utara. Tari Soya-soya Sisi menceritakan tentang perang di Ternate pada zaman penjajahan. Ada salah satu gerakan yang menyimbolkan masyarakat yang tengah mengangkat mayat korban perang dan mengusir penjajah. Tak hanya tarian, Orda Ternate Maluku Utara juga menyuguhkan kuliner khas Ternate, yaitu kue pelita. Sebutan kue pelita mengandung kisah sejarah bagi Ternate. Kue yang terbuat dari terigu, santan,  dan gula merah dan dicetak di atas daun pisang berbentuk mangkuk kecil ini hadir sejak zaman lampu (pelita) belum masuk di Ternate. “Daun berbentuk mangkuk lonjong ini biasanya dipakai sebagai alas lilin yang jadi alat penerang atau pelita utama penduduk Ternate saat itu,” terang Fistiqlal, mahasiswa asal Ternate yang tengah magang di FPP UMM. Selain Orda Ternate, ada juga Orda Mataram yang menampilkan tarian Gandrung, perkusi, dan aksi presean. Mereka juga menyuguhkan kuliner dan benda-benda khas Lombok seperti nasi puyung, tas tenun, serta kain songket. Sementara itu, Orda Ikatan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (Ikami Sulsel) membawakan tarian Mapapenda dan menyediakan es pisang ijo sebagai kuliner khas Sulses. Orda lain yakni dari Sumbawa yang membawakan tarian Samalewa. Asisten rektor bidang akademik, Dr Budi Suprapto MSi menyatakan, Maksidaya yang merupakan program rutin Lembaga Kebudayaan (LK) UMM yang sangat bagus bila terus dikembangkan. Pasalnya, menurut Budi, LK menjadi salah satu lembaga di UMM yang paling produktif. Salah satu bentuk produktivitasnya adalah pagelaran kebudayan semisal Maksidaya. Ke depan, Budi berharap selain pagelaran budaya, LK mulai menginventarisasi nilai budaya, minimal yang berkembang di Malang Raya. “Contohnya bahasa walikan. Sepengetahuan saya, belum ada yang mengkaji bahasa khas Malang ini secara ilmiah, baik dimensi historis maupun sosial budaya. Kalau LK bisa mengkaji tentang bahasa walikan ini, akan memberi konstribusi menyejarah bagi masyarakat Malang,” harapnya Budi. Tak hanya itu, Budi juga berharap LK mampu mendokumentasikan beragam budaya dengan lebih baik. “Sehingga UMM bisa menjadi database kebudayaan di Jawa Timur,” imbuhnya. Pada gelaran Maksidaya kali ini, LK bekerja sama dengan kelompok praktikum Public Relation “Palace” prodi Ilmu Komunikasi UMM. Rijal Choirudin, ketua pelaksana sekaligus anggota kelompok praktikum menyatakan tiap-tiap Orda akan mendapatkan kompensasi berupa plakat. Hal ini merupakan apresiasi dari panitia akan generasi muda yang masih peduli dengan budaya daerah. “Budaya itu identitas suatu bangsa. Percuma mengaku mahasiswa sebagai agen perubahan kalau tidak menciptakan aksi untuk perubahan bagi bangsanya sendiri,” tegas mahasiswa semester 6 itu. Selain penampilan Orda, UKM Fotografi Focus UMM juga memamerkan hasil jepretan anggotanya tentang makanan tradisional. Berbagai stan makanan tradisional juga berjajar di area helipad. Pagelaran yang diadakan malam menjelang wisuda ini dapat menjadi salah satu alternatif hiburan bagi orang tua mahasiswa yang akan menghadiri wisuda pada Sabtu (20/5) hari ini. (ich/han)

Alhamdu Ramadhan, Wisudawan Terbaik yang Jago Debat Bahasa Inggris

TAK hanya pandai di kelas, tapi juga langganan juara kompetisi debat Bahasa Inggris. Itulah Alhamdu Ramadhan, wisudawan terbaik UMM pada gelaran wisuda periode II tahun 2017 yang berlangsung hari ini (16/5). Alhamdu adalah lulusan prodi Hubungan Internasional (HI) yang meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99. Andu, demikian ia akrab disapa, mengaku selama kuliah akrab dengan IP sempurna, 4,00. “Alhamdulillah hanya semester satu yang IP tidak sempurna, selebihnya 4,00,” ujarnya. Selama kuliah, Andu sempat menjabat sebagai wakil ketua periode 2014-2015. Melalui ILF pula, Andu mendulang banyak prestasi. Di antaranya, juara satu lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional di UIN Malang, juara dua kompetisi debat terbuka tingkat regional, dan juara tiga debat bahasa Inggris pada event yang digelar Angkatan Laut. Andu juga pernah menjadi pembicara terbaik pada East Java Varsities English Debate dan belum lama ini Andu mengikuti kompetisi debat internasional pada Malaysia Debate Open. Di bidang akademik, Andu menjadi lima besar mahasiswa berprestasi di UMM tahun 2016. Mahasiswa asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengaku tak punya tips tertentu untuk jadi wisudawan terbaik. Bahkan, Andu tak pernah menargetkan IPK sempurna tiap semesternya. “Saya hanya selalu membaca materi sebelum masuk kelas. Minimal 30 menit sebelum masuk kelas, saya membaca,” tuturnya. Andu lebih memilih memaksimalkan pembelajaran di kelas dengan dosen dan bertanya bila ada yang belum dipahami, ketimbang harus bekerja keras menjelang ujian. “Kerjakan semua tugas, jangan bolos, dan yang terpenting adalah jaga komunikasi dengan dosen,” katanya. Akhir-akhir  ini, mahasiswa yang mengangkat “Transpacific Partnership Agreement di Selandia Baru” sebagai tema skripsinya ini lebih banyak menjalani hari dengan membimbing adik tingkatnya di ILF untuk persiapan lomba debat serta menjadi juri pada event-event lomba debat Bahasa Inggris di Malang. Ke depan, Andu bermimpi melanjutkan pendidikannya di Selandia Baru. “Secara politik, Selandia Baru relatif stabil. Saya juga ingin melanjutkan apa yang jadi penelitian skripsi saya tentang Selandia Baru,” harapnya. (ich/han)

Menkominfo Rudiantara Hadiri Wisuda UMM

SEBANYAK 1255 lulusan UMM, hari ini (20/5) dikukuhkan dalam gelaran Wisuda ke-84 di UMM Dome. Wisuda kali ini merupakan periode kedua dari empat periode wisuda yang diselenggarakan UMM di tiap tahunnya. Mereka yang dikukuhkan adalah lulusan dari Diploma 3, Sarjana Strata 1 dan Sarjana Strata 2. Meneruskan tradisi sebelumnya, UMM kembali menghadirkan tokoh nasional dalam setiap gelaran wisuda maupun perhelatan penting lainnya. Adalah Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara yang hadir memberi orasi selama satu jam pada para wisudawan beserta undangan. Kehadiran Menkominfo sekaligus meninjau fasilitas laboratorium terkait yang dimiliki UMM, di antaranya yaitu Laboratorium Ilmu Komunikasi (Lab Ikom) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Laboratorium Teknik Informatika (Lab TI) di Fakultas Teknik (FT). Secara keseluruhan,UMM memiliki 42 laboratorium yang terdiri dari 25 laboratorium eksakta dan 17 laboratorium sosial. Seperti dijelaskan Kepala Lab Ikom UMM, Jamroji, di laboratorium ini, selain keunggulan dalam hal ketersediaan alat-alat teknologi komunikasi yang mumpuni, desain praktikum bagi mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi dirancang berbeda dengan praktikum pada umumnya. “Kalau yang lain praktikumnya baru sebatas simulasi, kita praktikumnya real case dan real client di luar kampus. Mahasiswa diterjunkan langsung ke lapangan untuk menyelesaikan persoalan klien dengan aktivitas-aktvitas yang real juga,” terangnya. Konsep inilah yang kemudian ia sebut dengan link and match. “Diharapkan setelah mahasiswa lulus dan terjun di dunia kerja, mahasiswa sudah tidak perlu penyesuaian dan adaptasi lagi karena telah ditunjang desain praktikum dan ketersediaan alat yang baik di sini,” tukasnya. Sementara itu, di tengah maraknya virus Malware Ransomware, salah satu upaya yang diwujudkan Lab TI UMM yaitu kerjasama dengan organisasi nirlaba internasional Indonesia Honeynet Project (IPH). “Laboratorium ini melalui sokongan IPH mengembangkan security resource bernama Honeypot yang sengaja dibuat untuk diselidiki, diserang, atau dikompromikan dari upaya peretasan oleh hacker  terhadap sistem informasi,” kata kepala Lab TI UMM Eko Budi Cahyono. (can/han)

Perkuat Citra Kampus Wisata, UMM Kini Punya Duta Wisata

SETELAH melalui tahap karantina pada 13 Mei lalu, akhirnya terpilih dua orang Duta Wisata Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2017 pada perhelatan Grand Final, Kamis malam (18/5). Nadya Rifta mahasiswa Ilmu Komunikasi 2016 dan Nata Renaldi, Ilmu Komunikasi 2015 dinyatakan keluar sebagai pemenang dalam ajang menguji kompetensi serta wawasan terhadap budaya dan pariwisata itu. Sementara, Adeana Disty mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional 2015 dan Arif Pangestu, mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan angkatan 2016 dinyatakan sebagai Runer Up. Gelaran yang diselenggarakan di Aula Bugenville Taman Rekreasi Sengkaling UMM ini sekaligus menandai diluncurkannya agenda tahunan baru Lembaga Kebudayaan (LK) itu. Sebelumnya, sepuluh finalis yang terdiri dari mahasiswa UMM berbagai daerah di tanah air ini tampil di hadapan penonton dan dewan juri. Penjurian meliputi aspek karakter, public speaking dan wawasan wisata UMM dan ditambah oleh pertunjukan talenta dari masing-masing finalis. Pemilihan Duta Wisata UMM 2017 dilakukan dalam 3 tahap. Yang pertama adalah tahap karantina yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 Mei 2017. Dalam tahap karantina, calon finalis diberikan 3 materi yaitu: character building, public speaking & rhetoric, serta wawasan wisata UMM. Kepala Lembaga Kebudayaan UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. menerangkan, kedua pasang pemenang akan menjadi wakil UMM untuk mengenalkan budaya dan cinta pariwisata Indonesia khususnya yang terdapat di UMM. “Selain itu, mereka yang terpilih secara otomatis menjadi bagian dari LK UMM dan mengamban tanggung jawab untuk mengembangkan juga memperkenalkan kepada khalayak luas beberapa kebudayaan juga wahana wisata yang dimiliki UMM, seperti Taman Rekreasi Sengkaling UMM dan Sengkaling Kuliner,” katanya. Ditambahkan Daroe, mereka juga nantinya akan didelegasikan sebagai wakil UMM dalam ajang serupa di kancah nasional maupun internasional. “Perhelatan ini merupakan kerjasama Lembaga Kebudayaan UMM dan PEO Event Organizer. PEO Organizer sendiri merupakan kelompok praktikum 2 dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM yang mengambil peminatan Public Relations,” ungkap Ketua Kelompok PEO Rilha Hayuning Sakti Pamungkas. (can/han)

Malik Fadjar: Masjid AR Fachruddin UMM Harus Jadi Pusat Membangun Peradaban

BULAN Ramadhan selayaknya menjadi momen tepat mengembalikan peran masjid sebagai pusat membangun peradaban Islam. Hal itu disampaikan Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) yang juga Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, M.Sc. dalam pengajian jelang Ramadhan 1438 Hijriyah di Masjid AR. Fachruddin UMM, Jumat (19/5). “UMM melalui Masjid AR. Fachruddin harus mampu menghadirkan wajah Islam yang mendamaikan dan mencerdaskan. Bulan Ramadhan adalah momen tepat untuk mewujudkannya,” kata Malik di hadapan civitas akademika UMM usai pelaksanaan Salat Jumat. Dibangunnya Masjid AR. Fachruddin, imbuh Malik, merupakan hasil pergumulan panjang UMM untuk mewujudkan Islam yang berkemajuan. “Didirikannya Masjid AR. Fachruddin memberikan harapan pada pembangunan manusia Indonesia, khususnya umat Islam,” ungkapnya. Rasulullah memulai gerakan dakwahnya melalui Masjid, ditandai dengan dibangunnya Masjid Quba, masjid pertama yang didirikan Rasulullah dalam perjalanan Hijrah dari Mekah ke Madinah. Begitu pula pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Masjid juga memiliki posisi penting dalam Islam. Meski pembangunan Masjid di tiap daerah begitu menjamur pada beberapa dekade ini, namun demikian disayangkan Malik, Masjid yang ada sekarang tidak serta-merta membawa kedamaian batin. Demikian disampaikan Malik saat mengenang dinamika dakwah masjid di Malang di era 60-an, saat atmosfer spiritual lebih dominan ketika itu. “Terutama sejak momen Pilkada beberapa waktu lalu. Masjid jadi tempat yang penuh dengan ujaran kebencian. Sebaliknya, Masjid harus dikembalikan pada fungsi mendasarnya, yakni sebagai pusat membangun peradaban, serta dapat membawa ketenangan batin bagi jama’ahnya,” ungkapnya. Selain itu, jelang pelaksanaan ibadah puasa, Malik juga menghimbau kepada jamaah untuk mempersipkan segala sesuatunya. Bagi Malik, persiapan itu bukan hanya tentang kesiapan fisik dan persiapan-persiapan material lainnya. “Jelang puasa, kita perisiapan mendalam, khususnya rohani, agar dapat menangkap makna mendasar dalam berpuasa, yakni membangun keimanan dan ketakwaan,” tandas Malik. (can/han)