Indahnya Jawa Timur dalam Karya Fotografi Mahasiswa Asing UMM

BAGI mahasiswa asing, potret kehidupan kota-kota di Indonesia begitu indah. Aktivitas-aktivitas masyarakat di jalan seperti pedagang, keindahan alam seperti gunung, pantai, dan coban, serta keramahan penduduk lokal menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Berawal dari rasa penasaran itu, mahasiswa-mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pameran foto bertajuk East Java Through the Eyes of Foreigners, alias Jawa Timur di Mata Orang Asing. Sebanyak 25 foto dipamerkan di area kantin lantai 3,5 Gedung Kuliah Bersama (GKB) I mulai Kamis hingga Sabtu (17-20/5). Kedua puluh lima foto ini merupakan foto terpilih dari sekitar 50 foto yang diterima oleh kurator. Semuanya merupakan jepretan 11 mahasiswa asing yang tengah belajar di UMM. Ditanya perihal budaya Indonesia, Albina Gaisina, mahasiswa asing asal Rusia menganggap budaya adalah hal yang sangat penting. Budaya tak melulu soal tradisi yang ada di masyarakat, tapi juga aktivitas-aktivitas di pelosok desa yang beragam di tiap daerah. “Budaya akan menunjukkan pada kita perkembangan sebuah negara. Dan fotografi menjadi bagian penting untuk mendokumentasikan perkembangan ini,” ujarnya di antara foto-foto yang dipamerkan. Kurator foto sekaligus dosen prodi Ilmu Komunikasi UMM, Rahadi mengatakan, ada beberapa hal yang jadi acuan untuk menyeleksi foto yang layak dipamerkan, yakni kesesuaian tema, permainan warna, komposisi, dan angle yang diambil. Ada 3 tema foto pada foto yang dipamerkan, yakni portraid, landscape, dan street life. Dari foto yang ditampilkan, Rahadi mengaku ini di luar ekspektasi. “Mereka adalah orang asing yang jalan-jalan ke seantero Jawa Timur. Dengan minimnya bahasa Indonesia yang dikuasai, tapi foto-foto yang dihasilkan di luar ekspektasi saya,” ujarnya bangga. Selain dipamerkan di UMM, foto-foto ini juga akan dipamerkan di area Ijen Car Free Day, Ahad (21/5) esok, tepatnya di depan Gereja Ijen. Di sana, dari 25 foto yang ditampilkan, akan diambil 3 jepretan terbaik pilihan kurator. Ketiganya akan mendapatkan imbalan berupa publikasi di media online nasional. Untuk menghasilkan puluhan foto ini, butuh waktu hampir 2 bulan bagi Albina dan 10 mahasiswa asing lain untuk mengambil gambar ke berbagai daerah di Jawa Timur sekaligus persiapan pameran. Mahasiswa yang juga berprofesi sebagai financial analyst di negaranya tak lain adalah penggagas ide digelarnya pameran ini. “Di Indonesia, kalian melihat satu sepeda motor dinaiki 3-4 orang mungkin hal yang biasa, tapi bagi kami orang luar negeri, ini adalah hal yang baru dan begitu luar biasa. Kami ingin melihat Indonesia, melihat East Java sebagai orang luar negeri. Kami juga ingin masyarakat Indonesia melihat sudut pandang kami dalam melihat Indonesia. Bukan sekedar melihat kami bule. We have so much opinion about Indonesian’s culture,” ungkapnya antusias. (ich/han)
Sepuluh Tahun Raih AKU, Waktunya UMM Berkompetisi dengan Kampus Luar Negeri

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mempertahankan prestasinya dengan kembali meraih Anugerah Kampus Unggul (AKU) 2017 pada gelaran Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta Kopertis Wilayah VII Jawa Timur di Hotel JW Marriot Surabaya, Rabu (17/5). Hingga saat ini terhitung sudah 10 tahun berturut-turut UMM bertengger menduduki posisi pertama dan menyisihkan beberapa kampus swasta lain di Kopertis Wilayah VII Jawa Timur. “Selamat untuk UMM. Meski demikian, UMM tetap harus hati-hati karena banyak yang juga menginginkan posisi ini,” ujar Suprapto, Koordinator Kopertis Wilayah VII Jawa Timur. Lebih lanjut Suprapto menyampaikan, secara garis besar ada beberapa poin penilaian yang membuat UMM unggul dan menduduki posisi nomor satu. Pertama kerjasama UMM baik internal maupun eksternal yang dijalin sebuah perguruan tinggi. “Bagaimana kerjasamanya dengan internal, regional, nasional dan luar negeri,”tandasnya. Selanjutnya, yang juga menjadi poin penilaian adalah kualitas tata kelola, kualitas tenaga pengajar, dan kualitas mahasiswa. Apakah mahasiswa hanya kuliah saja atau juga aktif dalam hal lain. “Ada atau tidak produk-produk atau prestasinya,”tambah Suprapto. Terus menduduki posisi pertama dan beberapa kali meraih penghargaan AKU Kartika yakni anugerah yang diberikan kepada perguruan tinggi yang selama tiga tahun berturut-turut meraih AKU, Suprapto berpesan agar UMM terus bersemangat dalam mengembangkan sayapnya. “Untuk yang meduduki posisi pertama, seperti UMM bukan waktunya lagi untuk berkompetisi dengan yang ada di wilayah kopertis VII tapi dengan yang nasional, bahkan terutama dengan yang ada di luar negeri,”tegasnya. Rektor UMM, Fauzan menyampaikan adanya penghargaan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya UMM meraih rekognisi nasional. Untuknya Fauzan berpesan agar seluruh civitas akademika UMM tidak terlena dan terus tiada henti berinovasi. “Ini tidak harus dimaknai sebagai sesuatu yang final tetapi ini adalah sebuah cambuk untuk melakukan sesuatu yang lebih inovatif dan terus berpegang teguh pada kerja inovasi,”tambahnya. Unggul dengan poin sebesar 766,80 UMM mengalahkan Universitas Surabaya di posisi dua dengan perolehan poin sebesar 662,15 dan Universitas Widya Mandala Surabaya diposisi tiga dengan poin 613,66. (sil/han)
Tepis Stereotip, UMM Ungkap Peran Etnis Tionghoa Bagi Bangsa

PEMAHAMAN tak lengkap mengenai keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia membuat jarak yang besar dengan etnis lainnya. Padahal, peran mereka begitu banyak dan strategis bagi terbentuknya bangsa ini. Hal tersebut disampaikan Didi Kwartanada, ahli sejarah Tionghoa Indonesia sekaligus Direktur Yayasan Nabil dalam seminar dan bedah buku ‘Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Bangsa’, di Convention Hall Sengkaling Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa malam (16/5). Menurut Didi, salah satu contohnya, hingga kini tak banyak yang tahu bahwa ada empat keturunan etnis Tionghoa yang menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). “Ketika Indonesia akan diproklamasikan pada masa akhir pendudukan Jepang, dalam BPUPKI ada empat orang Tionghoa yang ikut membidani lahirnya UUD 1945,” jelasnya. Keempat tokoh tersebut adalah Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw, MR Tan Eng Hoa. Liem Koen Hian, kata Didi, selain mengusulkan warga Tionghoa otomatis menjadi warga negara Indonesia setelah merdeka, dia juga tokoh yang mengusulkan kebebasan pers. Adapun Mr. Tan Eng Hoa, merupakan tokoh pengusul pasal mengenai kebebasan berserikat. “Ada demo, aksi masa, itu awalnya sebenarnya berasal dari sini,” lanjut dia. Selain fakta sejarah itu, masih banyak peran etnis Tionghoa lainnya dalam pembentukan bangsa Indonesia. Didi menjelaskan, berdasarkan penelitian sejarawan Dennys Lombard, ada empat budaya besar yang memiliki pengaruh mendasar terhadap kebudayaan Nusantara. Salah satunya Tionghoa. Mereka berperan dalam penciptaan teknologi yang meningkatkan kehidupan masyarakat, khususnya bidang pertanian, bahan makanan, alat dapur, teknologi kuliner, pakaian, dan teknologi pertambangan. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si saat turut menjadi panelis mengapresiasi peluncuran buku setebal 1500 halaman (3 jilid) ini. Menurutnya, pengetahuan-pengetahuan tentang Etnis Tionghoa harus terus diproduksi, baik dari sisi sejarah, budaya, termasuk kontribusi orang Tionghoa bagi bangsa Indonesia. “Betapapun suka atau tidak suka, Etnis Tionghoa itu punya kontribusi. Dan pengetahuan semacan ini harus didiseminasikan, sehingga relasi kebangsaan ini akan menjadi rajutan yang bagus,” tandas Syamsul. Turut hadir dalam agenda tersebut segenap jajaran pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Malang Raya. (can/han)
Mahasiswa UMM Sulap Hutan Kota Malabar Jadi Destinasi Eduwisata

HUTAN identik dengan tempat yang seram dan dihuni hewan liar. Namun, di tangan lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hutan tak lagi terkesan seram, malah sebaliknya. Mereka berhasil membuat hutan nampak ceria dan menyenangkan, bahkan menjadi tempat pariwisata dan hutan edukasi. Itulah wajah baru Hutan Kota Malabar di tengah Kota Malang, Jawa Timur. Lima mahasiswa UMM tersebut yaitu Mohammad Arifin Murian, Nurna Hidayati Ningsih, Racha Pratama Supriyadi, Nurwahyudi dan Sahara Fristy Mirandani. Melalui Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P) mereka berhasil melakukan inovasi dengan penambahan aksesoris hutan seperti payung berwarna, lampion serta penyedian kasur gantung (hammock). Ketua tim PKM-P, Mohammad Arifin Murian menyatakan, penambahan aksesoris yang diberikan bertujuan untuk menambah nilai estetika serta menjadikan Hutan Kota Malabar lebih berwarna. Selain penambahan aksesoris, lima mahasiswa tersebut juga menyediakan tongkat narsis (tongsis) yang disediakan gratis, papan foto yang berisikan kalimat persuasif untuk berkunjung ke Hutan Kota Malabar secara gratis. “Kami yakin dengan penambahan aksesoris ini dapat meningkatkan jumlah wisatawan serta menambah daya tarik masyarakat khususnya mahasiswa,” ujar Arifin. Penambahan payung serta lampion mampu menyegarkan kembali wajah hutan kota Malabar ini selain itu juga kerap kali para pengunjung menjadikan payung serta lampion tersebut sebagai tempat favorit mereka untuk berswafoto. Dengan mengusung judul “Terapi Self Potrait Penerapan Sistem Ekowisata Pada Kawasan Hutan Kota Malabar Malang sebagai Daya Tarik Wisatawan”, Arifin dan timnya ingin mem-branding dan mempromosikan Hutan Kota Malabar pada masyarakat luas. Tidak hanya aksesoris yang ditambahkan lima mahasisa tersebut. Lebih lanjut, Arifin menambahkan, timnya juga memberikan edukasi kepada para pengunjung tentang fungsi hutan sebagai paru-paru dunia, habitat burung dan juga sebagai sarana edukasi tentang penghijauan. Menurut mahasiswa program studi Kehutanan itu, masyarakat secara umum masih belum banyak yang memahami fungsi hutan. “Setelah kami lakukan survey, ternyata sebagian orang masih belum mengetahui tentang pentingnya hutan ditengah kota ini. Maka kami rasa perlu adanya edukasi pada masyarakat,” ungkap Arifin. Terlebih lagi, Hutan Kota Malabar juga dapat dimanfaatkan masyarakat hanya untuk sekedar beristirahat, bercengkrama bahkan dimanfaatkan untuk olahraga. Bagi Arifin dan timnya, semua fasilitas yang dibuat merupakan bentuk nyata mahasiswa sebagai agen perubahan yang dapat bermanfaat bagi masyarakat keberadaannya. “hasil penelitian ini merupkan salah satu sumbangsih nyata kami kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga dan memelihara hutan di tengah kota,” pungkasnya. (jal/han)
Mahasiswa FH UMM Juarai Debat Nasional Legal Expo 2017

DELEGASI debat Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru-baru ini memenangkan kompetisi debat hukum nasional. Febriansyah Ramadhan beserta kedua temannya, Gurnita Ning Kusumawati dan Anita Diar Farukhi menyabet juara pertama dalam ajang Legal Expo 2017 yang diadakan Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atmajaya Jakarta, 11 Mei lalu. Setelah dinyatakan lolos di fase semifinal dengan menyisihkan Universitas Hasanudin, tim ini selanjutnya melenggang ke babak final dan berhadapan dengan Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Sebagai juara pertama, ketiganya diganjar uang pembinaan sebesar 10 juta rupiah. Menariknya sebelum berangkat mengikuti lomba, ketiganya telah menyelesaikan sepuluh topik yang dipersiapkan panitia. “Kami punya prinsip menang sebelum bertanding. Jadi topik apapun yang didapat nantinya ketika technical meeting, kami sudah siap menyelesaikannya,” ungkapnya saat diwawancarai di UMM (13/5). Jika biasanya riset dikerjakan oleh tim khusus, pada ajang kali ini seluruh pengerjaan dilakukan sendiri oleh para debater. “Pertimbangannya karena ini merupakan kali pertama bagi saya dan Anita ikut lomba, berbeda dengan Gurnita yang sudah berpengalaman sebelumnya. Jadi kami harus merasakan bagaimana menyusun argumen dan mempertahankannya. Sehingga saat perform kita bisa benar-benar mendalami dan menjiwai. Kalau jam terbangnya sudah banyak baru kita akan berkolaborasi dengan tim riset, ” kata mahasiswa semester 6 asal Provinsi Lampung ini. Diakui Ferdiansyah, lomba ini baru merupakan batu pijakan untuk target menang di ajang Debat Konstitusi Mahasiswa yang diselenggarakan Mahkamah Konstitusi (MK) bulan Juni mendatang. Di tahun sebelumnya, delegasi UMM dikukuhkan sebagai pemenang di tingkat Regional Timur. “Tahun ini kami harus bisa juara nasional,” pungkasnya. (can/han)
MoU dengan PPM Manajemen, Pengguna TAEP Milik UMM Kian Meluas

TES kemampuan bahasa Inggris milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Test of Academic English Profeiency (TAEP), kian dilirik berbagai pihak. Yang terkini, Language Center (LC) UMM baru saja melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan PPM Manajemen Jakarta. MoU diwakili Kepala Divisi Asesmen Sumber Daya Manusia (SDM) PPM Manajemen Aditayani I Kukila MPsi dan Rektor UMM Fauzan, yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM, Rabu (10/5). Kepala LC UMM, Dr Masduki MPd menyatakan, TAEP merupakan alat tes bahasa Inggris yang asli dimiliki UMM. Kesepakatan yang dijalankan oleh UMM dan PPM Manajemen ini merupakan kesepakatan di tahun kedua sejak tahun 2016 lalu. Tahun sebelumnya, sebanyak 13.800 yang tersebar di 10 kota se-Indonesia menggunakan tes tersebut untuk seleksi karyawan. “Tahun ini sebanyak 16.835 peserta yang tersebar 30 kota di Indonesia akan menggunakan tes ini sebagai pengukur kemampuan bahasa inggrisnya,” jelasnya. Menurut Masduki, TAEP mengakomodir kebutuhan masyarakat secara umum dan Muhammadiyah khususnya untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris. Salah satu keistimewaan yang ditawarkan UMM melalui TAEP ini adalah pada kemampuan listening-nya. Pada TAEP, peserta tes diperdengarkan suara bukan dari penutur aslinya. Menurut Masduki, seringkali pekerja tidak berinteraksi langsung dengan penutur aslinya. “Sebanyak 85 persen karyawan tidak berinteraksi dengan penutur asli. Jadi kami fasilitasi itu pada kemampuan listening bukan dari penutur aslinya dan itu terbukti sangat membantu karyawan dalam memenuhi kebutuhan kerja,” jelasnya saat penandatangan nota kesepahaman tersebut. Selain itu keunggulan lainnya adalah dari segi harga yang terjangkau untuk semua golongan. Hingga saat ini, tes TAEP ini sudah dapat digunakan oleh seluruh civitas akademika UMM yang ingin melakukan pertukaran mahasiswa, dosen maupun karyawan UMM. Salah satunya hasil TAEP ini dapat digunakan untuk memenuhi syarat Erasmus+ yang diselenggarakan oleh Uni Eropa. Tidak hanya itu, hasil tes TAEP juga diterima oleh berbagai perguruan tinggi di China. Ke depan, Masduki berharap, tes TAEP dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan internasional. “Dalam waktu dekat, produk UMM ini akan digunakan oleh lembaga pendidikan Muhammadiyah se-Indonesia,” tutupnya. (jal/han)
Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si., Dosen Berprestasi yang Produktif Menulis dan Meneliti

KESERIUSAN Prof Dr Ishomuddin MSi mendalami sosiologi masyarakat Islam membuatnya dinobatkan sebagai dosen berprestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Meneliti, mengajar dan mengabdi pada masyarakat sudah menjadi rutinitas bagi saya. Tujuannya, untuk bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya. Ketekunan Ishomuddin dalam menulis dan menebarkan ilmu ia buktikan dengan menerbitkan tulisan-tulisannya di berbagai jurnal nasional maupun internasional. Kegiatan menulis dan meneliti menjadi hal tak terpisahkan dari kehidupan pribadinya. Pengabdiannya dalam dunia sosial sciencedibuktikkan dengan banyaknya karya yang bisa dibaca oleh semua orang. Ishommuddin telah menerbitkan 21 buku dan masih akan bertambah terus, yang sebagian besarnya membahas tentang sosiologi masyarakat Islam. Pemikirannya yang sangat mendalam dan fokus tersebut menjadikan dirinya dikukuhkan sebagai guru besar di bidang sosiologi masyarakat Islam. Ishomuddin berhasil menyelesaikan studi strata II (S2) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan program doktoralnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Dengan fokus studi Islam dan kebudayaan, menjadikan bapak dari tiga anak ini tertarik untuk melakukan penelitian dan menulis di bidang sosiologi masyarakat Islam, politik Islam dan juga pendidikan Islam. Hingga kini, hasil penelitiannya tidak hanya bisa dinikmati oleh orang Indonesia saja, namun juga bisa dirasakan oleh masyarakat internasional. Sedikitnya 12 artikel internasional telah Ishomuddin tulis untuk menebarkan keilmuan yang dimilikinya. Pada tahun 2016, Ishomuddin telah menerbitkan enam jurnal internasional dan akan bertambah lagi dalam waktu dekat. Bahkan, ia menyatakan tiga bulan dari sekarang akan terbit juga artikelnya dalam jurnal internasional. Kepekaannya dalam bidang sosiologi masyarakat Islam direspon banyak pihak. Ishomuddin seringkali diundang dalam beberapa seminar internasional sebagai pembicara. Salah satunya, Pada 26 Maret 2016 lalu, Ishomuddin berbicara tentang ASEAN Muslims Faced Globalization and The Global Issues. Materi itu ia sampaikan pada forum seminar internasional “Global Issues of South-Asia Community”, di Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM). “Ilmu memang tidak baik jika dimiliki sendiri namun perlu, bahkan harus untuk disebar. Melalui penelitian, menulis, publikasi jurnal nasional dan internasional, saya berusaha untuk menyebarkan ilmu ke masyarakat luas,” ujarnya. Ishomuddin berkeyakinan bahwa penelitian dan publikasi hasil penelitiannya merupakan wujud kongkrit dari tanggungjawab seorang ilmuan. (jal/han)
Gathering Darmasiswa RI, 60 Mahasiswa UMM Dampingi Ratusan Mahasiswa Asing

SEBANYAK 60 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai program studi mendapatkan kesempatan berharga untuk menjadi buddy atau rekan pendamping bagi 540 mahasiswa asing dari 78 negara. Mereka mendampingi mahasiswa asing itu pada kegiatan International Gathering dalam rangka penutupan program Darmasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud RI). Selama tiga hari, Senin-Rabu (8-10/5), ke-60 mahasiswa UMM ini bertugas menemani dan mengarahkan mahasiswa asing peserta Darmasiswa selama gathering di UMM, berkunjung ke Balai Among Tani Kota Batu, hingga wisata ke Gunung Bromo. “Kita berikan ruang pada mahasiswa untuk memiliki pengalaman serta jaringan internasional,” jelas Dimas Arif Prassetyo, salah satu panitia International Gathering tersebut. Dimas menjelaskan, antusiasme mahasiswa untuk menjadi pendamping peserta ini sangat tinggi. Hal itu terbukti dengan pendaftaran awal. Setidaknya 150 mahasiswa mendaftarkan dirinya untuk menjadi buddy. Setelah melalui proses wawancara, diumumkanlah 60 mahasiswa untuk menjadi buddy. Setiap buddy memiliki tugas mendampingi peserta serta mempromosikan UMM pada seluruh peserta international gathering itu. Karena ini adalah acara internasional, lanjut Dimas, UMM ingin memberikan yang terbaik pada seluruh peserta. Maka dari itu panitia juga menyeleksi mahasiswa yang dipandnag mumpuni untuk melakukan tugas tersebut. Dengan seringnya mahasiswa UMM dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan internasional, menurut Dimas, hal itu dapat membantu UMM untuk mencapai kampus yang dengan rekognisi internasional. “UMM sedang berusaha untuk memperoleh pengakuan internasional, maka mahasiswa menjadi kompenen pendukung dan kita berikan kesempatan untuk bergaul dengan mahasiswa internasional,” ungkap Dimas yang juga staf International Relations Office (IRO) UMM ini. Tidak hanya mendapatkan pengalaman dan jaringan internasional, 60 buddy itu juga akan diberikan sertifikat setelah selesainya acara ini. “Kita berikan sertifikat setelah seluruh rangkaian acara terlaksana sebagai salah satu penghargaan pada mahasiswa sekaligus menjadi bekal ke depannya jika meneruskan di dunia internasional,” pungkasnya. (jal/han)
Minat Baca Turun, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Terus Galakkan Literasi Sastra
HINGGA saat ini, minat baca masyarakat Indonesia, bahkan mahasiswa sebagai salah satu masyarakat ilmiah, turun drastis. Merespon hal itu, Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dra Tuti Kusniarti MSi MPd menjelaskan, gerakan literasi sastra sangat perlu digalakkan untuk mendekatkan sastra dengan masyarakat dan mahasiswa. Salah satunya, yaitu dengan gelaran seminar nasional literasi sastra yang diadakan prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM bekerjasama dengan Himpunan Sarjana Kesustraan Indonesia (HSKI) Komisariat Malang pada Selasa (9/5) di Auditorium UMM. Bagi Tuti, membaca erat kaitannya dengan aktivitas literasi. “Bacaan sastra juga sangat sedikit peminatnya sekarang. Ini merupakan momen untuk membangkitkan kembali pentingnya literasi sastra terutama pada mahasiswa kami,” jelas Tuti. Menurut Tuti, literasi sastra sederhananya adalah membaca. Namun tidak hanya membaca, tapi perlu ada implementasi dari membaca tersebut. Membaca sastra juga harus membaca makna yang ada di dalamnya. Dengan mengangkat tema “Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Gerakan Literasi Sastra”, Tuti berharap, dengan membaca sastra beserta makna di dalamnya maka mahasiswa bisa membaca manusia dan bagaimana harus berbuat untuk manusia lainnya. Dengan dihadiri 350 peserta dari seluruh Indonesia, pada seminar nasional ini akan dibagi beberapa sesi parallel yang mana setiap sesi parallelnya ada pemakalah yang mempresentasikan tulisannya. Selain peserta dari seluruh Indonesia, di antaranya 40 mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia juga menjadi pemakalah. Dengan melatih mahasiswa dalam presentasi dan penulisan ilmiah dapat membuat mahasiswa berani untuk mengeluarkan ide dan karyanya. “Ke depannya setelah seminar nasional ini, akan digenjot lagi penulisan ilmiah, salah satunya adalah pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM),” jelasnya. Hadir juga dalam seminar nasional ini, staf ahli Kemendikbud RI Prof Dr Djoko Saryono MPd, ketua umum HISKI Pusat Prof Dr Suwardi Endraswara MHum dan ketua Asosiasi Pengajar dan Pegiat Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Jawa Timur Dr Arif Budi Wurianto MSi. (jal/han)
Tampilkan Kesenian Indonesia, Ratusan Mahasiswa Asing Angkat Kearifan Lokal

KOMBINASI kearifan lokal dan nuansa internasional begitu terasa pada kegiatanInternational Gathering 540 mahasiswa asing peserta Darmasiswa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin-Rabu (8-10/5). Sekalipun berasal dari 78 negara berbeda, pada event ini terlihat jelas bahwa mereka tidak canggung dengan budaya lokal khas Indonesia. Ratusan mahasiswa asing itu tampak lihai ketika bergantian diberi kesempatan unjuk kebolehan menampilkan berbagai kesenian khas Indonesia, mulai dari tarian, lagu-lagu daerah, memainkan alat musik tradisional, hingga musikalisasi puisi. Beberapa tarian yang ditampilkan mahasiswa asing yaitu tari topeng, yakni tari kicir-kicir, tari kecak, tari golek sri katon, tari krono rojo, tari rampak rebana, dan tari randai. Mereka juga tampak lihai memainkan alat-alat musik karawitan Jawa seperti gong, gendang, gambang, bonang, demung, seruling, kempul, dan peking. Demikian pula ketika melakukan musikalisasi puisi dan lagu-lagu kebangsaan Indonesia. Salah satu mahasiswa asal Perancis, Solenn Hus mengaku terkesan dengan keanekaragaman budaya Indonesia yang tak ditemuinya di negara lain. Baginya, Indonesia adalah negara yang tak pernah terpikir di benaknya untuk dikunjungi. Namun, sejak kunjungan pertamanya bersama keluarga ke Indonesia pada 2009, Solenn berubah pikiran. Di matanya, Indonesia adalah negara yang istimewa. Inilah yang mendasari Solenn memilih program studi Bahasa Indonesia di kampusnya di Perancis. “Indonesia amat luar biasa. Suku, bahasa, penduduk yang ramah, dan kekayaan budayanya tak pernah saya temui di negara lain. Pertama kali saya ke Indonesia pada 2009, sejak itu saya berlibur ke Indonesia setiap tahun. Saya jatuh cinta dengan tradisi kebudayaan Sulawesi, Bali, dan Lombok. Saya bisa belajar banyak dari negara dengan penduduk Muslim terbanyak. Berbeda-beda, tetapi tetap satu. Bhinneka Tunggal Ika,” urai Solenn sambil tersenyum. Pada momen pertunjukan budaya, mahasiswa Darmasiswa UMM mengolaborasikan puisi, tarian, dan musik dalam musikalisasi puisi. Carolina Ximena Carderas Carva Cho dari Chili dan Cipriano Amaral dari Timor Leste merefleksikan perjuangan pemuda Indonesia narasi berdirinya Boedi Utomo, organisasi pergerakan pemuda pertama di Indonesia melalui pembacaan narasi, empat mahasiswa asal Thailand, Jerman dan Malaysia membacakan puisi, enam mahasiswa dari Sudan, Jepang, Thailand, Kamboja, Korea Selatan dan Vietnam menyanyikan lagu Indonesia Jaya, serta enam mahasiswa dari Jerman, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan Vietnam membawakan tarian khas Indonesia, yakni tari kicir-kicir. Sementara itu mahasiswa asing STIE Malang Kucecwara menampilkan tarian khas Malang yakni tari topeng. Tak hanya itu, mahasiswa Darmasiswa Bali dari tiga kampus memamerkan kemampuannya menarikan tarian khas Bali, Tari Kecak. Mereka berasal dari Universitas Udayana, Politeknik Negeri Bali, dan IKIP Saraswati Bali. Tak kalah memukau, di akhir acara, gabungan mahasiswa Darmasiswa Yogyakarta yang terdiri dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Sanata Darma, P4TK Seni dan Budaya Universitas Ahmad Dahlan. Puluhan mahasiswa bule ini mempersembahkan kebolehan mereka memainkan alat-alat musik karawitan Jawa seperti gong, gendang, gambang, bonang, demung, seruling, kempul, dan peking. Puluhan mahasiswa ini juga membawakan Tarian Golek Sri Katon, Tari Krono Rojo, memainkan Gendang Ketawang Ambono, dan Gending Wasono. Meski bukan warna negara Indonesia, namun kemampuan mereka memainkan alat music tradisional ini patut diacungi jempol. Bahkan, jika tak melihat siapa yang memainkan, alunan musik yang terdengar begitu halus layaknya dimainkan pribumi. Penampilan ini disambut dengan gemuruh tepuk tangan dan pujian dari seluruh mahasiswa Darmasiswa RI serta undangan yang hadir. (ich/han)