FAI UMM Kupas Islam Asia Tenggara:Hadirkan Dubes Arab Saudi dan 29 Peneliti Lintas Negara

SEBANYAK 29 peneliti berkesempatan mempresentasikan papernya pada International Seminar on Islamic and Arabic Education in Southeast Asia (Seminar Internasional Pendidikan Islam dan Bahasa Arab di Asia Tenggara) yang diadakan oleh Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) selama dua hari (3-4/2) di Auditorium UMM. Keseluruhan makalah mengulas tema-tema seputar dinamika pemikiran dan pengembangan studi Islam dan bahasa Arab di Asia Tenggara. Selain 29 peneliti itu, hadir pula Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia Osamah Mohammed Alshuibi dan Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama RI Prof Dr Amsal Bakhtiar MA pada sesi pleno pertama. Sementara pada pleno kedua, menghadirkan Dr Abdul Hafis Hiley (Lukmanulhakeem Foundation, Yala Thailand), Dr Asraf Israqi Jamil (University of Malaya), dan Prof Dr Tobroni MSi (Magister Agama Islam UMM). Kegiatan ini juga diwarnai penandatanganan dua memorandum of understanding (MoU), yaitu antara UMMdanUniversitas Malaya, serta antara Prodi BahasaFAI UMMdan Prodi Bahasa Arab Universitas Jambi.Diharapkan, dua MoU tersebut dapat mengembangkan studi Islam dan bahasa Arab pada masing-masing universitas. Pada kegiatan ini, Osamah memaparkan materi “Mind Mapping Pendidikan Islam di Asia Tenggara selamaEra kontemporer”. Disampaikan Osamah, Arab Saudi berperan besar terhadap penyebaran pengajaran Bahasa Arab di lingkup Asia Tenggara, khususnya Indonesia. “Upaya yang dilakukan salah satunya dengan mendirikan Lembaga Ilmu Pengatahuan Islam dan Arab(LIPIA),”papar Osamah. Meski awalnya LIPIA hanya menyelenggarakan program pendidikan Bahasa Arab, sejalan perkembangannya, LIPIA akhirnya menjadi lembaga yang berkembang pesat. “Karena pada dasarnya ilmu bahasa tidak bisa lepas dari budaya yang membentuknya,dan pembentukan budaya itulah yang dilakukan LIPIA,” kata Osamah. Sementaraitu,Amsal Bakhtiarmenyampaikan materi “Pendidikan Islam di Indonesia: Antara Peluang, Harapan, dan Tantangan dalam Perkembangan Globalisasi”.Ada duaproblem utama penyelenggaraan pendidikan Islam di Indonesia. Pertama, masih kurangnya angka partisipasi kasar (APK) lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Dalam catatan Amsal, kurang dari 32 persen APK SLTA yang mampu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. “10 persen dari yang 32 itu ada di perguruan tinggi agama Islam. Artinya, baru sekitar 720 ribu jumlah mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam,” kata Amsal. Anak-anak usia kuliah, yakni 18 sampai 23 tahun, sekitar 21 juta jumlahnya. “Tapi hanya 7 juta yang mampu melanjutkan ke bangku kuliah. Dan hanya 700 ribu yang memilih perguruan tinggi Islam. Selebihnya memutuskan melanjutkan ke perguruan tinggi dibawah naungan Kemenristek Dikti atau lembaga dan kementerian lain. Selebihnya yang 68 persen memilih ke dunia kerja,” paparnya. Problem kedua, lanjut Amsal, masih rendahnya kualitas lulusan perguruan tinggi Islam, sehingga daya saing lulusan masih sangat bervariasi. “Berdasarkan data Diktis, jumlah program studi agama Islam di Indonesia sebanyak 3600. Meski jumlahnya banyak, namun kualitasnya amat jauh berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Gap ini yang kemudian menjadi perhatian kita. Tantangan kedua ini jauh lebih berat dibanding tantangan pertama,” paparnya. Atas dasar tersebut, lanjut Amsal, Diktis mencanangkan program Rukun Diktis. Yakni, pertama meningkatkan kualitas akademis yakni yakni meningkatkan kemampuan para pengajar. “Karena ustadz atau pengajar itu lebih penting daripada metode. Salah satu program yang digiatkan Diktis yakni dengan menciptakan 5000 doktor,” ujarnya. Langkah kedua menurut Amsal, dengan meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Langkah ketiga yakni meningkatkan riset dan publikasi. “Langkah keempat yakni pengunaan pada pendanaan. Muhammadiyah menjadi satu-satunya andalan kita dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Terakhir,yang harus jadi perhatian yakni infrastruktur,” terangnya.(can/han)

Bersama PTM Se-Indonesia, UMM Susun Silabus Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing

SALAH satu upaya mempercepat rekognisi internasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Aisyiyah (PTA) yaitu memperbanyak mahasiswa asing yang fasih berbahasa Indonesia. Di sinilah pentingnya peran unit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dalam memberikan pembelajaran yang berkualitas bagi mahasiswa internasional. Mendukung hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi pembentukan silabus pembelajaran BIPA melalui Workshop dan Seminar Pengembangan Silabus BIPA Praktis Model PTM yang digelar selama tiga hari sejak Rabu hingga Jumat (1-3/2). Kegiatan ini diikuti oleh PTM dan PTA se-Indonesia di Hotel UMM Inn. Workshop ini merupakan bentuk tindak lanjut dari pertemuan Kantor Urusan Internasional (KUI) PTM pada 2015 lalu. Pada forum tersebut, PTM yang hadir membeberkan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia di kampusnya. Keputusannya, KUI dengan BIPA akan merumuskan kurikulum dan silabi yang akan diaplikasikan di tiap kampus. Kepala Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK), Prof Emi Emilia PhD yang hadir sebagai pembicara utama menyatakan peluang PTM untuk mengembangkan BIPA tergolong besar. Pasalnya, semakin hari permintaan untuk mengembangkan bahasa Indonesia di berbagai kampus di banyak negara makin meningkat. Universitas-universitas yang telah lama memiliki program BIPA juga terbantu dengan permintaan pengembangan bahasa Indonesia di luar negeri ini. Selain itu, BIPA disebut sangat strategis sebagai sarana diplomasi karena memberi sumbangsih pada pemerintah untuk menyebarkan bahasa Indonesia di kancah internasional. Mahasiswa asing yang belajar di PTM, terutama UMM berasal dari berbagai negara. Sehingga, dengan mempelajari bahasa Indonesia beserta budayanya, maka persebaran bahasa Indonesia dan nama kampus tempat belajar akan semakin mudah. Hal tersebut diungkapkan kepala BIPA UMM, Dr Arif Budi Wurianto, MSi dalam sambutannya. Wakil rektor I UMM, Prof Dr Syamsul Arifin MSi dalam pembukaannya menyatakan, PTM di Indonesia hendaknya meningkatkan kesadaran dalam upayanya meraih pengakuan internasional. Indikator pencapaian tersebut antara lain yakni meningkatnya jumlah mahasiswa asing yang dimiliki PTM serta kualitas dosen dan mahasiswa yang diakui secara internasional melalui penelitian dan konferensi berskala internasional. Dalam materi yang dipaparkannya, Prof Emil berharap, tiap kampus tak sekedar memiliki unit BIPA, melainkan menjadikan BIPA sebagai program studi. Hal ini berangkat dari fakta belum adanya kampus di Indonesia yang memiliki prodi BIPA dan minimnya penelitian terkait BIPA, sehingga metode pembelajaran BIPA belum mengikuti pembelajaran mutakhir. “Bahasa Indonesia berpeluang untuk menjadi bahasa internasional. Hal ini karena peminat pembelajar bahasa Indonesia cukup banyak. Di Universitas Al-Azhar Mesir sudah membuka prodi BIPA,” imbuhnya. Emi menambahkan, PTM dan lembaga di perguruan tinggi akan bermitra dengan PPSDK untuk memajukan bahasa Indonesia. Tahun ini, PPSDK kembali mengirimkan 47 tim pengajar ke 13 negara. Selain sebagai sarana diplomasi kebahasaan dan bahasa internasional, bahasa Indonesia juga bisa menjadi sarana pariwisata karena dengan mengembangkan BIPA, maka akan mengkatkan motivasi wisatawan untuk datang ke Indonesia. (Humas UMM)

UMM Raih Penghargaan PTS Favorit Radar Malang Awards

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) baru saja meraih penghargaan kategori pendidikan sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Terfavorit tipe AAApada Radar Malang Awards2017. Event penghargaan ini dihelat oleh salah satu media massa jejaring Jawa Pos, yaitu Radar Malang. Diraihnya penghargaan ini sekaligus mempertegas predikat UMM sebagai kampus swasta terunggul pada level lokal, regional, maupun nasional. Pada level Jawa Timur, UMM selama sembilan kali beruntun, yaitu sejak 2008 hingga 2016, menjadi universitas paling unggul versi Kopertis VII. Sementara pada level nasional, UMM sejak 2013 meraih akreditasi institusi A oleh BAN-PT. Penyerahan penghargaan ini diberikan pada Selasa (31/1) malam di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM) bersama 10 kategori lainnya. Total, sebanyak 31 penghargaanbrand terfavorit diserahkan malam penganugrahan itu. Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad mengungkapkan, ada alasan kuat mengapa Radar Malang perlu membuat penghargaan seperti ini. “Harus ada favourite brand.Media harus bisa memberikan parameter dan ukuran,” seperti dilansir koran harian Radar Malang edisi Kamis(2/2). Parameter itu, lanjut Kurniawan, barangkali akan berguna bagi masyarakat. Terutama bagi mereka yang akan membuat keputusan untuk membeli atau menggunakan produk-produk tertentu, baik itu properti, elektronik, jasa, maupun kuliner. Sementara itu, Project Officer Radar Malang Award 2017 Mardi Sampurno menyatakan, penentuan brand terfavorit menggunakan 3 metode. Antara lain, pengumpulan balot atau potongan kuisioner koran Jawa Pos Radar Malang, vote via website, dan likes Instagram. (can/han)

UMM Teken MoU dengan IUM Amerika dan ICSSQS Saudi Arabia

LAWATAN Rektor Islamic University of Minnesota (IUM) Amerika Serikat, Prof Dr Waleed Edrees A Menesse, dan DirekturInternational Commission on Scientific Signs in Quran and Sunnah(ICSSQS) Saudi Arabia, Sheikh Mohammed Dhabyan S. Al-Sulami, ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dilanjutkan dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara para pihak, Selasa (31/1) Kepala Kantor Hubungan Luar Negeri (KHLN) UMM, Dr Abdul Haris MA menyatakan, UMM akan bekerjasama dengan IUM Amerika dalam hal akademik. Kesepakatan yang dilakukan di antaranya pertukaran mahasiswa, dosen dan staf yang berminat mempelajari lebih dalam tentang Islam di Amerika. Pertukaran tersebut dilakukan tanpa adanya penyetaraan ijazah antara kedua universitas. “Semua kesepakatan akan dijalankan tahun ini,” tegas Haris. IUM juga memberikan pilihan sistem pembelajaran yang sangat fleksibel. Haris memaparkan, ada beberapa sistem pembelajaran yang digunakan kampus tersebut, seperti tatap muka, telekonferensi hingga belajar melalui website. Dalam pertukaran mahasiswa, nantinya UMM akan memanfaatkan sistem pembelajaran telekonferensi. Ada 200 pakar Islam yang akan mengajar via telekonferensi nantinya. “IUM dan UMM akan memanfaatkan kesempatan tersebut. Jadi mahasiswa tidak perlu datang ke Amerika langsung. Melalui telekonferensi mahasiswa UMM bisa belajar dengan dosen dari universitas Islam yang berasal dari negara Islam seperti Qatar dan Saudi Arabia,” papar Haris. Rektor IUM Waleed Edrees berharap kerjasama yang terjalin bisa meningkatkan kualitas pendidikan di UMM maupun di IUM. “Amerika membutuhkan dukungan dan apresiasi dari muslim Indonesia dalam berbagai hal. Bidang akademik menjadi salah satu lahan untuk berdakwah di Amerika, khususnya di Minnesota,” papar Waleed. Tak lupa, Rektor IUM juga memberikan kuliah tamu tentang Islam di Amerika era Donald Trump: Tantangan dan Harapan. Waleed menjelaskan, sejarah masuknya Islam ke Amerika sejak pertama kali, hingga perkembangan Islam yang sangat pesat di Amerika. “Dulu di Amerika hanya ada 3 masjid. Ukurannya pun tidak seberapa luas, tapi sekarang sudah ada 70 masjid dan masih akan terus bertambah,” ujar Waleed. Selain dengan IUM Amerika, UMM juga melakukan kerjasama dengan ICSSQS Saudi Arabia yang akan dimanfaatkan untuk penelitian. Penelitian yang dilakukan, lanjut Haris, akan berfokus pada mukjizat sains dalam al-Quran dan as-Sunnah. Dalam jangka panjang, UMM akan memasukkan ilmu tentang al-Quran dan as-Sunnah dalam kurikulum mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyah (AIK). “UMM akan mengadopsi beberapa hal tentang ilmu al-Quran dan as-Sunnah kemudian dimasukkan dalam kurikulum AIK,“ kata Haris. (jal/han)

Semnas PGSD UMM-Uhamka: Mentalitas Global Diperlukan Bagi Guru Kekinian

DI TENGAH pesatnya arus globalisasi, seorang guru dituntut untuk bisa beranjak dari mentalitas konvensional menuju mentalitas global. Demikian disampaikan Guru Besar Universitas Prof Dr Hamka (Uhamka) Prof Dr Suswandari MPd pada Seminar Nasional (Semnas) “Peningkatan Kompetensi Calon Guru dalam Menghadapi Tantangan Global” yang diadakan atas kerjasama Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Uhamka di Hall UMM Dome, Senin (30/1). “Mentalitas global yakni sikap percaya diri, disiplin, menghargai waktu, menghargai prestasi dan karya orang lain, kerja keras dan orientasi kerja pada prestasi, teliti dan cermat, serta terbuka. Sebaliknya, guru juga harus meninggalkan segala mental konvensional, yakni ketergantungan pada orang lain, melanggar, apa adanya, ketidakpercayaan diri, dan yang lebih parah yaitu mental jajahan,” kata Suswandari. Jika mental global itu diterapkan di tiap individu guru, maka secara otomatis, lanjut Suswandari, jati diri guru abad 21 dapat diwujudkan. “Yakni mereka yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan sebagai tuntutan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Memiliki akhlak mulia, mandiri, demokratis, bertanggungjawab terhadap sikap dan perilaku, juga berilmu, cakap dan kreatif. “Guru yang hebat adalah guru yang dapat menstimuli siswanya untuk terus bertanya. ” tukas Suswandari. Sementara itu sekretaris Asosiasi Perhimpunan Dosen PGSD se-Indonesia yang juga dosen UMM, Dr Endang Poerwanti MPd mengatakan, seorang guru abad 21 juga wajib memiliki kompetensi dalam reading, writing and arithmetic untuk memahami gagasan melalui berbagai media kekinian. Guru juga harus fleksibel dan dinamis. Tak kalah penting, kata Endang, guru harus mampu mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dalam menyajikan aktivitas pembelajarannya. Disampaikan Endang, kunci peningkatan kulitas pendidikan terletak pada peningkatan kualitas profesionalisme guru. Bagi Endang, guru profesional yakni guru yang memiliki keahlian, bertanggungjawab, dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang kuat. “Guru juga harus memiliki kualifikasi kompetensi yang memadai berupa kompetensi berupa kompetensi intelektual, sosial operasional, dan perilaku moral dan profesional,” jelas Endang. Sehingga, untuk mewujudkan guru yang profesional, kesesuaian antara keahlian dengan pekerjaan mutlak dijalankan. Dijelaskan Endang, guru yang bermutu ialah mereka yang dapat membelajarkan murid-muridnya dengan tuntas dan benar. “Selain itu mutlak juga diperlukan keahlian, baik dalam penguasaan secara tuntas disiplin ilmu yang diajarkan, metodologi, dan pendekatan pembelajaran,” papar Endang. Namun demikian, upaya itu tidak akan berhasil jika tidak diselaraskan dengan kesejahteraan guru yang memadai. “Seorang profesional harus mampu mencurahkan sebagian besar perhatiannya terhadap upaya-upaya profesional. Upaya profesional ini didukung oleh penghasilan dan kesejahteraan yang memadai,” ungkap Endang. (can/han)

UMM-Uhamka Kolaborasi Gelar Seminar Nasional PGSD

PROGRAM Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta menggelar seminar nasional “Peningkatan Kompetensi Calon Guru dalam Menghadapi Tantangan Global” hari ini (30/1) di UMM Dome. Ketua pelaksana seminar, Ima Wahyu Putri Utami MPd menyatakan, kegiatan ini adalah program rutin tiap semester bermitra dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) lain. Pada penyelenggaraan kali ini, peserta melonjak drastis dibanding kegiatan sebelumnya saat bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. “Peminatnya melampaui 1000 orang,” ujarnya. Tak hanya dihadiri mahasiswa PGSD UMM dan Uhamka, seminar juga terbuka untuk mahasiswa non-PGSD, termasuk mahasiswa pascasarjana, guru, dosen, maupun kalangan umum di luar UMM dan Uhamka. Pemateri kunci pada kegiatan ini yakni dosen PGSD UMM yang saat ini menjabat sekretaris Asosiasi Himpunan Dosen PGSD Indonesia Dr Endang Poerwanti MPd dan guru besar Uhamka Prof Dr Suswandari MPd. Selain pembicara kunci, juga ada sejumlah pemakah yang terdiri dosen maupun mahasiswa magister. “Karena memang ada beberapa kampus yang mensyaratkan mahasiswa magister untuk memiliki karya yang diprosidingkan sebagai syarat penyusunan tesis,” imbuh Ima. Ketua Program Studi PGSD UMM Dr Ichsan Anshory MPd berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan silaturrahim antarkampus, terutama kampus Muhammadiyah. Mahasiswa juga bisa dapat ilmu dan pengalaman tambahan dari kampus lain. “Materi-materinya bermuatan kompetensi global agar para peserta siap menghadapi tantangan pendidikan di masa depan,” ujarnya. (ich/han)

Miliki 61 Asosiasi Program Studi, Muhammadiyah Wujudkan Pendidikan Berkemajuan

TERBENTUKNYA asosiasi-asosiasi program studi (APS) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTM/A) se-Indonesia disebut Ketua Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Lincolin Arsyad MSc sebagai salah satu usaha mewujudkan pendidikan yang berkemajuan. APS membuat kualitas prodi di PTM/A masing-masing wilayah meningkat karena pengembangan akademik didasarkan pada capaian yang terstandar nasional. “Saat ini, Muhammadiyah telah memiliki 61 APS yang kesemuanya akan dijalankan sesuai dengan amanah majelis,” jelas Lincolin pada seremoni penutupan kegiatan Workhsop Pembentukan Asosiasi Prodi PTM/A se-Indonesia, Kamis malam (27/1). Acara ditutup dengan pembacaan deklarasi pembentukan 29 APS baru serta pengesahan dokumen dan capaian pembelajaran lulusan PTM /A. Lincolin menjelaskan, APS menjadi tempat untuk sharing ilmu dan sharing pengalaman antar PTM. “APS yang sudah dibentuk sekarang juga dapat menjadi resource sharing dalam berbagai hal nantinya,” ungkap Lincolin. Menurutnya, pembentukan APS merupakan salah satu cara yang dilakukan Muhammadiyah untuk meningkatkan budaya akademik di lingkungan PTM. Lincolin mengharapkan adanya langkah-langkah strategis yang akan di implementasikan. “Nantinya setiap APS akan mengadakan pertemuan dua kali dalam setahun untuk konsolidasi dan pertemuan ilmiah,” tambahnya. Dalam jangka panjang, setiap APS akan membuat jurnal ilmiah secara kolektif dan akan dipergunakan untuk peningkatan akreditasi prodi. Lincolin menyatakan, dengan memberi dampak yang besar bagi dunia pendidikan, maka Muhammadiyah telah melakukan esensi dari rahmatan lil alamin. “Jika tradisi ilmiah tersebut sering dilakukan, maka PTM akan berdaya saing dan berkemajuan sehingga ke depannya bisa memberikan dampak yang besar bagi pendidikan di Indonesia,” harapnya. Senada dengan Lincolin, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Prof. Dr. Malik Fadjar, M.Sc menyatakan, konsolidasi yang dibangun APS akan menjadi sarana untuk peningkatan kualitas setiap prodi. Tidak hanya itu, Malik juga menilai penulisan jurnal secara kolektif dapat menjadi wadah gotong royong. “APS yang sudah terbentuk ini merupakan sumber inspirasi pemikiran sekaligus dapat memotivasi pembangunan yang berorientasi pada kemajuan,” jelas Malik yang juga Ketua Badan Pembina UMM ini. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Fauzan berharap setiap APS berkomitmen dan sanggup mengemban amanah persyarikatan melalui prodi. “Terbentuknya APS bukan berarti kita membangun eksklusifisme. Akan tetapi dengan terbentuknya APS dapat memberikan wawasan yang luas dan luwes di setiap prodi,” ungkap Fauzan sekaligus menutup acara itu. (jal/han)

Per Januari 2017, UMM 15 Besar Konten Publikasi Ilmiah Elektronik Terbanyak se-Indonesia

LEMBAGA penelitian terbesar di Spanyol, Cybermetric milik The Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC) baru-baru ini melansir hasil penilaian terhadap kemajuan seluruh universitas atau perguruan tinggi terbaik di dunia lewat perangkat Repository atau pemeringkatan perguruan tinggi berdasarkan konten publikasi ilmiah elektronik melalui website universitas. “Per Januari 2017, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berada di posisi 13 di antara perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia. Sementara di Jawa Timur UMM berada di posisi 3 di bawah Universitas Negeri Jember dan UIN Sunan Ampel Surabaya. Di Malang, UMM jadi ranking 1,”terang Kepala Lembaga Informasi dan Komunikasi (Infokom) UMM, Ir. Suyatno, M.Si. saat ditemui Kamis (25/1). Setidaknya erdapat 4 indikator dalam melakukan pemeringkatan tersebut. Pertama Size, yakni banyaknya halaman yang memuat konten ilmiah di website UMM Institusional Repository yang beralamatkan eprints.umm.ac.id. “Di situ akan dihitung banyaknya ruang yang memuat konten publikasi ilmiah.  Bobot penilaiannya 10 persen,” kata Suyatno. Indikator kedua sekaligus aspek yang memiliki bobot penilaian terbesar yakni visibility, dengan bobot nilai 50 persen. “Indikator ini mengukur berapa banyaknya tautan ke UMM, tapi khusus ke UMM  Institusional Repository itu. Dengan banyaknya orang yang me-link-kan ke kita (baca: website UMM), pengakuannya lebih tinggi,” lanjut Suyatno. Indikator ketiga yakni Rich Files. Aspek ini menghitung berapa banyaknya judul atau dokumen di website tersebut. IndikatorRich Files, kata Suyatno, memiliki bobot nilai sebesar 10 persen. Indikator terakhir yakni Scholar atau berapa banyak orang yang mensitasi. “Karya Ilmiah yang kita unggah kan akan di pakai orang lain untuk di sitir sebangai tinjauan pustaka dan lain sebagainya. Siapapun yang mengambil dari website UMM, Googlesecara otomatis akan mendeteksi sumber dokumen tersebut. Bobot penilainnya 30 persen,” paparnya. Pemeringkatan lewat perangkat Repository ini, dijelaskan Suyatno, yang sesungguhnya mencerminkan tolak ukur kemajuan perguruan tinggi. “Karena yang dinilai bukan dari profil universitas atau berapa banyak konten berita yang dimuat di websitetersebut. Melainkan publikasi ilmiah dalam bentuk elektornik itu,” tukasnya. (can/han)

UMM Segera Bentuk 48 Asosiasi Prodi PTM se-Indonesia

SELAMA tiga hari (25-27/1)Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkerja sama dengan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (DiktiLitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan kegiatan “Pembentukan Asosiasi Program Studi (Prodi) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Aisyiyah (PTA)”. Gelaran ini diikuti delegasi dari 180 PTM dan 6 PTA. Ditargetkan, kegiatan ini dapat membentuk 48 Asosiasi Prodi. Wakil Ketua Majlis Dikti Litbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dalam sambutannya mengungkapkan,upaya pembentukan asosiasi prodi ini merupakan respon terhadap Peraturan Menteri (Permen) nomor 44 tahun 2016 Kemenristek Dikti tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT). Dijelaskan Edy, kegiatan ini dimaksudkan untuk menjamin mutu pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat juga sekaligus mendorong perguruan tinggi melaksanakan SNPT. “Ini yang ingin kita tekankan betul. Jadi kalau kita bicara tentang capaian pembelajaran, itu juga terkait dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan juga Kerangka Kualifikasi Nasional Indoensia (KKNI),” tambah Edy. Edymenekankan, target dari Majlis Diktilitbang tidak hanya memenuhi standar tersebut. Edy berharap PTM dan PTA juga mampu melampauinya. Visi tersebut, lanjut Edy, sesuai dengan visi yang ditargetkan Majlis DiktiLitbang periode 2015-2020. “Yakni setiap penilaian reakreditasi perguruan tinggi harus meningkat. Diharapkan periode ini tidak ada lagi PTM yang terakreditasi C,” tegas Edy. Berdasarkan catatannya, akreditasi nasional PTM berada di atas Perguruan Tinggi Swasta (PTS) maupun Perguruan Tinggi (PT) Indonesia lainnya. “Kalau dilihat, yang baru Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi(AIPT), hanya sekitar 900-an dari 4532 perguruan tinggi di Indonesia. Artinya, tidak sampai 20 persen perguruan tinggi yang terakreditasi institusi,” ungkap Edy yang merupakan mantan ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) ini. Sedangkan PTM, dari sekitar 175 sudah hampir 100 persen yang melaksanakan AIPT. “Hal ini menggambarkan, secara kualitas kita relatif baik dari rata-rata nasional,” ungkap Edy. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Fauzan berharap dengan diselenggarakannya kegiatan ini akan melahirkan asosiasiyang bentukannya tidak sama dengan asosiasi yang lain. “Tentu kita mengetahui pembentukan asosiasi ini bukan untuk mencari keseragaman, tetapi kami berharap dengan dibentuknya asosiasi ini masing-masing ketua prodi ini akan mampu berimprovisasi yang berangkat dari keseragaman itu,” kata Fauzan. “Muhammadiyah harus memberi ciri khas. Oleh karena itu kami berharap dalam waktu yang hanya 2 hari ini akan melahirkan pikiran-pikiran yang inovatif,” tutup Fauzan dalam sambutannya. (can/han)

Universitas Lampung Prodi Kunjungi Pendidikan Bahasa Inggris UMM

PROGRAM Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat kunjungan akademik dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Lampung (Unila) (25/01). Kunjungan ini dalam rangka Kuliah Kerja Lapang (KKL) mahasiswa Unila. Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Unila, Prof. Dr. Ujang Suparman menjelaskan alasannya memilih UMM sebagai kampus yang dikunjungi. Menurut Ujang, UMM merupakan salah satu kampus Muhammadiyah terbesar. “Saya melihat Pendidikan Bahasa Inggris di UMM sangat bagus, jadi kami tak segan untuk belajar banyak dari sini,”jelas Ujang. Pada kesempatan ini, Prodi Bahasa Inggris UMM memberikan informasi berkaitan dengan suasana kampus, informasi akademik beserta sistem pembelajaran. Semua informasi dijelaskan dengan lengkap di hadapan 64 mahasiswa semester 5 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Unila yang mengikuti KKL. Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Dr. Sudiran, M.Hum menyatakan, dengan adanya kunjungan tersebut, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM berkesempatan menjelaskan tentang sistem akademik yang sudah dijalankan oleh prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Tidak hanya itu, suasana kampus, prestasi dan sejarah UMM juga dipresentasikan. “Untuk suasana, sejarah dan prestasi kampus dijelaskan oleh kepala Humas UMM,” jelasnya. Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed selaku kepala Humas UMM menjelaskan sejarah, prestasi dan juga segala hal tentang UMM. Kemudian, kepala Prodi Pendidikan Bahasa Inggris menjelaskan tentang akademik dan yang terakhir dijelaskan juga terkait peran dan kiprah alumni prodi pendidikan Bahasa Inggris. (jal/han)