UMM Inisiasi Pembentukan Asosiasi Prodi PTM dan PTA se-Indonesia

IMPLEMENTASI Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT) sebagai prasyarat perguruan tinggi dalam meraih rekognisi internasional menjadi momentum bagi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membentuk asosiasi program studi (prodi) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Perguruan Tinggi Aisyiyah (PTA) se-Indonesia. Hal itu diwujudkan UMM melalui gelaran “Pembentukan Asosiasi Program Studi PTMdan PTA” yang berlangsung selama tiga hari (25-27/1) di UMM Dome UMM. Kegiatan ini diikuti 180 PTM dan 6 PTA di mana masing-masing perguruan tinggi mengirimkan delegasi sesuai dengan kondisi prodi di kampusnya. Menurut ketua pelaksana kegiatan ini Drs Nur Widodo MKes, sebagian besar prodi di perguruan tinggi negeri (PTN) maupun swasta (PTS), termasuk PTM dan PTA,masih mengabaikan KPT, Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT), dan Undang-undang Perguruan Tinggi (UUPT). Hal itu terbukti dari masih sedikitnya perguruan tinggiyang meratifikasi KPT, SNPT, dan UUPT. “Alhamdulillah, UMM termasuk satu di antara sedikit perguruan tinggi yang telah memiliki Keputusan Rektor untuk memberlakukan KPT, yaitu Keputusan Rektor no 35 Tahun 2016 tentang Pemberlakuan KPT bagi seluruh Prodi di UMM baik S1, S2 maupun S3,” jelas NurWidodo yang juga dosen Prodi Pendidikan Biologi ini. Dalam rangka mewujudkan KPT, Nur Widodo menguraikan 8 standar yang digunakan, yakni standar kompetensi lulusan ataui kerap disebut capaian pembelajaran, standar proses, standar materi, standar evaluasi, standar sarana prasarana, standar sumber daya manusia, dan standar pengelolaan. Hal itu disebut Nur Widodo sejalan dengan fungsi asosiasi prodi, yaitu pembentukan standardisasi kualitas,penyusunan profil lulusan, perkembangan Iptek terkait bidang keilmuan, kurikulum yangmengacu pada capaian pembelajaran lulusan, dan penyusunan bahan ajar. “Sehingga, tujuan jangka panjangnya, prodi di lingkungan PTM dan PTA akan bersama-sama menuju proses pendidikan berkemajuan,” jelas Nur Widodo.Dalam membentuk asosiasi-asosiasi ini, UMM berada di bawah bimbingan Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di lain kesempatan, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi menyatakan, KPT perlu dijadikan momentum untuk merevitalisasi pendidikan di UMM agar sebisa mungkin melampaui standar pendidikan perguruan tinggi. Dijelaskan Syamsul, ada  empat  dokumen yang mendasari hal ini, pertama Permenristek Dikti tentang SNPT, kedua Panduan Penyusunan KPT dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa), ketiga Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) PTM, dan terakhir ialah Profil Publikasi Terindeks Scopus. “Bagian-bagian itulah yang tengah ditingkatkan untuk mendongkrak mutu akademik UMM,” tukasnya. (ich/han)

UMM Tindaklanjuti Kerjasama dengan Harper Adams University

MENINDAKLANJUTI kunjungan Steve Buckle, perwakilan Harper Adams University, United Kingdom (UK) ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Oktober 2016 silam, perwakilan Harper Adams kembali ke UMM,Selasa (24/1), untuk membicarakan tindak lanjut penelitian bersama dibidang probiotik, juga pembahasan peluang kerjasama lainnya. Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM, Soeparto menjelaskan, skema kerjasama yang dibangun lewat penelitian dan jointdegree. “Untuk dapat dibiayai pihak sana, penelitian harus ada mitra dari Inggris. Selain itu, juga harus dipastikan penelitian itu akan ada perusahaan yang akan memakai. Sekarang tinggal cari mitranya dari Inggris,” kata Soeparto. Pertemuan tersebut sekaligus mempromosikan sejumlah peneliti dari UMM untuk bisa melakukan jointresearch juga dengan Harper Adams University. Seperti proposal penelitian di bidang pertanahan yang diajukan Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini dari Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP). “Prof. Indah sudah kirim proposal ke sana dan sudah dikomentari. Pihak Harper Adamsakan ke sini untuk menjadi mitra penelitian itu,” lanjut Soeparto. Selain itu, skema kerjasama yang dijalin antara Harper Adamsdan UMM yakni dengan adanya join degree untuk program magister dan post-doktoral. Soeparto menyatakan, untuk mengawali program joint degree tersebut UMM mengadakan program kredit transfer. “Kalau joint degree itu khususnya S2 untuk kuliah di sana, sisanya di UMM. Mereka akan dapat ijazah dari Harper Adams University dan UMM,” terang Soeparto. Pertemuan tersebut sekaligus mempromosikan sejumlah peneliti dari UMM untuk bisa melakukan join researcht juga dengan Harper Adams University (can/han)

Bermitra dengan BNN, UMM Cetak Calon Guru Bebas Narkoba

GURU tak hanya dituntut memiliki keterampilan mengajar dan mengelola kelas. Sebagai tauladan, guru juga harus bebas dari tindakan kriminal dan narkoba. Untuk itu, sebelum kembali ke kota asal, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) kota Malang menyelenggarakan tes urin bagi lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG), Jumat (20/1). Sebelum melakukan prosesi Yudisium pada Sabtu (21/1), sebanyak 30 lulusan PPG yang sebagian besar berasal dari Manado dan kota-kota di Nusa Tenggara Timur itu diharuskan melalui tes ini. Mereka wajib dinyatakan bebas narkoba sebelum kembali ke kota asal dan menjadi guru di sana. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Dr Poncojari Wahyono MKes menyatakan, selain menjadi syarat wajib, harus disadari bahwa PPG calon guru adalah agen pembentukan karakter siswa. “Guru adalah agen pembentuk karakter siswa, sehingga kalau diketahui menggunakan narkoba, akan sangat berbahaya untuk anak didik,” terangnya. Poncojari berharap, seorang guru harus bebas dari narkoba. Karena, guru pada dasarnya untuk digugu dan ditiru dan membentuk karakter bukan hal yang main-main. PPG adalah syarat wajib bagi calon guru di Indonesia yang sudah diterapkan empat tahun lalu. Meski begitu, UMM baru berkesempatan menjadi penyelenggara PPG sejak setahun terakhir. Sejauh ini, penyelenggara PPG mayoritas adalah perguruan tinggi negeri. Selebihnya, hanya ada empat kampus swasta di Indonesia yang menyelenggarakan PPG, yakni UMM, Universitas Sanatha Dharma Yogya, IKIP PGRI Semarang, dan Universitas Nusantara Bandung. Sebagai syarat, lulusan sarjana yang bisa mengikuti PPG haruslah yang sudah menjalani program Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T).Ke depan, UMM akan menyelenggarakan tes urin secara rutin bagi lulusan PPG untuk mencetak guru yang siap diproyeksikan menjadi guru masa depan. (ich/han)

Tugas UAS, 150 Mahasiswa Pentaskan Puisi Penyair Ternama

TAK hanya menguasai khazanah budaya dan bahasa Indonesia, mahasiswa program studi (prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) rupanya juga pandai membawakan puisi para penyair-penyair ternama. Selama 3 hari (16-18/1), sebanyak 150 mahasiswa membawakan 45 puisi dari sejumlah penyair masyhur. Pementasan dan musikalisasi puisi ini berlangsung di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 UMM. Kegiatan ini merupakan inovasi Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah membaca puisi. Dosen pengampu mata kuliah tersebut, Dr Hari Sunaryo MSi menyatakan, pementasan ini mengajarkan mahasiswa untuk bisa ‘membaca’ sastra. Bukan hanya membaca secara tertulis saja, tapi juga membaca subtansinya. Menurut Hari, jika hanya belajar teori tanpa praktek, maka puisi tidak akan bisa hidup. Calon guru bahasa dan sastra Indonesia memang harus bisa menguasai pertunjukkan puisi. Baginya, di sekolah nantinya, guru dituntut menyelenggarakan pementasan puisi. Pementasan merupakan salah satu bentuk ketrampilan riil yang difasilitasi prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tujuannya, untuk membekali calon guru agar lebih profesional. “Tidak mungkin seorang guru bahasa Indonesia tidak bisa membaca puisi. Nah, di prodi ini kita tempa mahasiswa untuk menjadi profesional,” ungkapnya. Hari menuturkan, mahasiswa juga ditingkatkan kreativitasnya melalui pementasan ini, karena semuanya dikerjakan mahasiswa; desain ruangan, alur cerita puisi, pemilihan puisi hingga kostum dan make-up. “Jadi, selama 30 menit setiap kelompok akan menampilkan puisi dengan hasil usaha mereka sendiri,” jelas dosen yang juga Wakil Dekan III FKIP UMM itu. Salah satu mahasiswa yang turut serta dalam pementasan tersebut, Indah Rahayuning Tyas menyatakan, meskipun sudah satu bulan menjalani masa latihan, dirinya tetap sedikit grogi karena akan ditonton banyak orang. “Rasanya campur aduk antara senang akan tampil dan grogi karena takut tidak bisa menyampaikan pesan dari puisi karya Kahlil Gibran,” jelas Tyas, sapaan akrabnya. (jal/han)

Farewell Party 20 Mahasiswa Tiongkok, Terkesan Keramahan UMM

SEBANYAK 20 mahasiswa asal Tiongkok, yaitu dari Tongren University, baru saja menyelesaikan masa studinya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama satu semester melalui program kredit transfer pada Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Melepas para mahasiswa yang akan kembali ke negara asalnya itu, UMM menggelar seremonial perpisahan, Farewell for Academic Exchange, Sabtu (14/1) di Ruang Sidang Senat (RSS) UMM. Selain 20 mahasiswa Tiongkok itu, gelaran tersebut sekaligus melepas 1 staf International Relations Office (IRO) dari Universidad de Murcia Spain, Juan Antonio yang mendapatkan grant dari Erasmus+. Sebaliknya, UMM melalui IRO juga telah mengirimkan staff-nya dengan grant  yang sama ke beberapa negara di Eropa. Terakhir, Very Kurnia Aditama dan Lailatul Rif’ah, mengikuti program tersebut di University of Crete, Yunani. Beberapa dosen, mahasiswa, dan staf UMM juga akan menyusul ke Eropa melalui program yang dibiayai Uni Eropa tersebut. Kuliah selama satu semester meninggalkan kesan mendalam bagi ke-20 mahasiswa Tiongkok. Seperti diungkapkan salah satu peserta exchange, Rooster Jie. Menurutnya, keramahan dari mahasiswa dan dosen membuatnya betah belajar di UMM. “Selain itu, saya juga suka dengan keindahan danau yang dimiliki UMM. Meskipun di Universitas Tongren juga ada danau, tapi tidak seindah danau UMM, apalagi ada air mancurnya,” kata pria yang akrab dipanggil Jie ini. Senada dengan Jie, staf asal Spanyol, Juan Antonio mengaku sedih harus meninggalkan UMM. baginya pengalaman tersebut begitu membekas di hatinya. “Hari ini merupakan hari yang membuat sedih bagi saya karena saya harus meninggalkan negara yang sangat indah, orang-orang yang ramah, dan kampus yang sangat bagus ini,” aku Juan. Di sisi lain, Juan mengaku sangat senang dapat berada di UMM karena merasa berada di rumah sendiri. “Perlu kalian tahu, bahwa kalian semua akan selalu menjadi bagian dari hati saya. Kalian semua telah membagi informasi yang saya perlukan selama saya di sini. Saya tidak dapat berkata apa-apa selain berterimakasih. I Love UMM,” seru Juan menutup pidatonya. Sementara itu, Wakil Rektor I Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si berharap, kerjasama yang selama ini telah dibangun dengan Tiongkok, baik melalui program pertukaran pelajar maupun program-program akademik, salah satunya kursus bahasa Mandarin yang tengah berjalan di China Corner di perpustakaan UMM, dapat berlanjut. Acara ditutup dengan gelaran seni yang dipersembahkan 20 mahasiswa asal Tiongkok. Lewat pakaian tradisional khas Negeri Tirai Bambu itu menampilkan Bamboo Dance yang merupakan tarian tradisional suku Zhuang di Tiongkok yang hampir serupa dengan tarian Suku Dayak di Kalimantan. Syamsul Arifin beserta Juan Antonio juga ikut memeriahkan dengan turut menari bersama mahasisa Tiongkok tersebut. (can/han)

BEM UMM Dorong Gerakan Nasional 1000 Startup Digital

GERAKAN Nasional 1000 Startup Digital menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memotivasi mahasiswa membangun bisnis startup, Jumat (13/1). Kegiatan berformat talkshow ini digelar di Auditorium Biro Administrasi Umum (BAU), menghadirkan praktisi juga alumni UMM yang telah lama malang melintang bergelut di industri kreatif. Di antaranya Vicky Arief, koordinator Malang Creative Fusion; Dadik Wahyu, CEO Utero Grup; Mochammad Yusuf, CEO Paperplay Studi; juga turut menghadirkan Kepala Laboratorium Teknik Informatika UMM, Eko Budi Cahyo. “Gerakan Nasional 1000 Startup Digital adalah sebuah gerakan untuk mewujudkan potensi Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia di tahun 2020 dengan mencetak 1000 startup yang menjadi solusi atas berbagai masalah dengan memanfaatkan teknologi digital,” papar Afrizal Novian,Head of Business Development, Beon Intermedia di hadapan puluhan mahasiswa UMM. Gerakan ini diinisiasi oleh KIBAR dan didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo RI). KIBAR sendiri merupakan sebuah perusahaan yang bertujuan membangun ekosistem teknologi di Indonesia melalui inisiatif-inisiatif pembangunan kapasitas, mentoring, dan inkubasi di berbagai kota. Pahlawan Digital ini, lanjut Afrizal, merupakan program untuk meningkatkan konten lokal yang positif untuk Indonesia yang lebih ‘melek’ teknologi. Salah satunya dengan cara meng-online-kan bisnis-bisnis UKM di Indonesia. Lewat program tersebut, mahasiswa juga didorong untuk turut membantu membuatkan sebuah website bisnis-bisnis UKM secara gratis. “Karena kebanyakan dari mereka, terutama yang berasal dari daerah pinggiran, tidak tahu bagaimana menggunakan internet. Apalagi bagaimana cara berjualan di internet dan memilih untuk fokus dengan cara bisnisnya sekarang,”terang Afrizal. Lebih jauh Afrizal menyayangkan, dari 4500 pelaku UKM di Malang, masih sedikit di antaranya yang menjual produknya lewat sistem startup. “Padahal, banyak yang bisa dan paham soal berjualan di internet, tapi tidak punya produk untuk di jual. Seperti kalian,” kata Afrizal. Jika ingin diseruisi menjadi pelaku bisnis start up, dijelaskan Afrizal, calon harus mengikuti 5 tahapan yang mutlak dilewati, yakni tahap Ignitionatau ajang penaman pola pikir interpreneurship. Tahap kedua yakni workshop, yaitu pembekalan keahlian dasar yang dibutuhkan dalam membuat startup digital. Tahap selanjutnya yakni Hackprint, atau  pembentukan tim yang saling melengkapi skill untuk membuat prototypeproduk. Keempat yakni tahap Bootcamp atau pembinaan mendalam bersama mentor untuk menyiapkan peluncuran produk. “Tahap terakhir yaitu tahap incubations.Yakni pembinaan lanjutan sampai akhirnya siap jadi bagian dari ekosistem startup digital. Kami tunggu ide luar biasa kalian,” tutupnya. (can/han)

FKIP Siap Implementasikan KPT di Tahun Ajaran 2017-2018

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengembangkan Kurikulum Perguruan Tinggi (KPT) agar segera diberlakukan di kegiatan belajar mengajar. Sebelumnya, UMM giat merevitalisasi KPT agar proses pembelajaran berjalan sesuai standar nasional. Terbaru, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM memperkuat gagasan KPT melalui sosialisasi pelaksanaan KPT dan workshop Rencana Pembelajaran Semester (RPS), Jumat (13/01) di Auditorium UMM. FKIP bakal menjadi satu-satunya fakultas yang mengawali berjalannya KPT pada tahun akademik 2017-2018 mendatang. Wakil Rektor I UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si menyatakan, implementasi KPT tidak bisa dilakukan secara instan. Setelah melakukan pengkajian KPT dan pembentukan tim percepatan KPT universitas, UMM yang diawali oleh FKIP akan segera mengaplikasikannya. “KPT yang dilaksanakan oleh FKIP ini nantinya akan menjadi acuan bagi fakultas dan program studi lainnya,” jelasnya. Penguatan akademik tidak hanya dilakukan di masalah kurikulum, namun menurut Syamsul, juga disertakan dengan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM). “Jika kita berbicara tentang kurikulum, maka keberadaan dan keberlangsungan kurikulum itu harus ditopang keberlangsungan SDM yang mumpuni,” ungkapnya. Salah satunya, melalui produktivitas penulisan artikel dan jurnal internasional. Menurut Syamsul, dengan giatnya dosen menulis artikel dan jurnal berkelas internasional, semakin mudah bagi UMM meraih pengakuan internasional. Tidak hanya mengingatkan tentang kurikulum dan penguatan SDM, Syamsul juga berpesan implementasi KPT ini memiliki tujuan untuk membangun kualitas mahasiswa. “Semua yang dilakukan dosen, kembalinya untuk mahasiswa. Jika mahasiswa UMM berkualitas maka secara perlahan, kita juga akan turut membangun masyarakat yang berkualitas,” ungkap Syamsul. Selain itu, untuk penguatan kegiatan ilmiah yang dilakukan mahasiswa, UMM akan terus mengintegrasikan mata kuliah dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Menurut Syamsul, dengan integrasi tersebut, mahasiswa yang dihasilkan juga akan berkualitas. “Jadi ada dua hal yang akan menjamin kualitas mahasiswa, karya ilmiah dan juga penguatan kurikulum,”jelasnya. Dekan FKIP UMM, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes menegaskan, FKIP optimis akan melaksanakan KPT pada tahun ajaran baru nanti. Secara bertahap, FKIP melakukan penguatan KPT, dimulai dari program studi (prodi) Biologi yang mempelopori penerapan KPT sejak 2016. Semua dosen FKIP dilibatkan dalam pembuatan dan pelaksanaan KPT ini. “FKIP sudah merumuskan setengah jalan terkait KPT ini, dan sekarang kami sudah memasuki tahap finishing untuk kemudian diaplikasikan,” jelasnya.

Tiga Problem Sosial-Ekonomi Jadi Fokus KKN UMM

DUA program Kementerian Sosial dan satu program Kemenristek Dikti menjadi fokus utama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Universitas Muhammadiyah Malang. Tiga program dimaksud yaitu perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), Kelompok Usaha Bersama (Kube) dan Iptek bagi Wilayah (IbW). Hal itu disampaikan Kepala Divisi KKN dan Pengembangan Wilayah Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM Drs Amir Syarifuddin MP saat melepas 924 mahasiswa KKN UMM periode 2 tahun ajaran 2016/2017, Kamis (12/1). Mereka akan ditempatkan di 33 desa yang tersebar di wilayah Malang Raya, Pacitan, Probolinggo, dan Pasuruan. Tiga program yang disebut di atas merupakan program lanjutan yang sudah dilaksanakan KKN periode sebelumnya di samping program reguler KKN meliputi bidang keagamaan, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, dan kesehatan. Total, ada 6 desa yang akan mengimplementasikan IbW dengan beragam program sesuai potensi tiap desa. Dalam pembukaannya, Rektor UMM Fauzan menyatakan mahasiswa yang sedang melakukan KKN adalah salah satu martil UMM yang masuk ke jantung-jantung pedesaan. Oleh karena itu, mahasiswa patut menunjukkan bahwa mereka memiliki kompetensi yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. “Konsekuensi logis dari mahasiswa yang ada di desa adalah anggapan sebagai kaum elit dan terpelajar. Oleh karenanya, manfaatkan imej itu untuk mempengaruhi dan memberdayakan masyarakat sesuai program yang kalian usung,” pesan Fauzan sebelum meresmikan pelepasan. Fauzan juga menegaskan pada mahasiswa untuk tidak melakukan perbuatan yang berlawanan dengan misi KKN dengan tetap menjunjung tinggi sopan santun dan adat masyarakat desa. “50 persen keberhasilan KKN kalian ditentukan oleh keberhasilan kalian beradaptasi dengan masyarakat. Adaptasi berhasil, maka program akan berhasil. Sebaliknya jika adaptasi gagal, jangan harap program akan terlaksana dengan baik,” tuturnya. (ich/han)

Universitas Islam Riau Belajar Penjaminan Mutu Akademik di UMM

SEBAGAI salah satu universitas jujukan tata kelola perguruan tinggi yang baik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) banyak mendapat kunjungan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kamis (12/1), UMM kembali mendapat kunjungan dari pimpinan Fakultas Hukum, Universitas Islam Riau (UIR). Rombongan yang terdiri dari dosen dan staf fakultas tersebut dimaksudkan mempelajari tata kelola universitas, khususnya penjaminan mutu akademik. Kepala Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA), Prof. Dr. Noor Harini, MS menyambut baik kedatangan rombongan salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terkemuka tersebut. Dijelaskan Noor, Salah satu aktivitas BKMA UMM ialah audit mutu akademik internal (AMAI) dan evaluasi standar yang saat ini telah memanfaatkan sistem informasi manajemen mutu akademik (SIMUTU), sehingga mampu mengevaluasi serta meningkatkan 13 standar turunan secara online di setiap semester. “Seluruh mekanisme yang dijalankan UMM dalam pengelolaan penjaminan mutu akademik sesuai dengan kaidah Kaizen, yakni continuous quality improvement (peningkatan mutu berkelanjutan, Red.). Hasil audit dan evaluasi dilaporkan secara berkala ke pimpinan universutas,” terang Noor. Di setiap aktivitasnya, lanjut Noor, BKMA didukung gugus kendali mutu akademik yakni Komisi Kendali Mutu Akademik (KKMA) di tingkat Fakultas dan Tim Koordinasi Kegiatan Akademik (TKKA) di tingkat program studi. Lebih jauh Noor menjelaskan, BKMA juga melaksanakan fungsi pelayanan dalam bidang training seperti penyelenggaraan pelatihan Peningkatan Keterampilan Teknik Instruksional (PEKERTI) dan pelatihan Applied Approach (AA), memberikan konsultasi, pendampingan dan kerjasama di bidang kendali mutu akademik di lingkup internal UMM serta dapat beraktivitas di tingkat eksternal atas persetujuan pimpinan universitas. Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Hukum UIR, Prof. Syafrinaldi menerangkan, beberbeda dengan UMM, di UIR tata kelola penjaminan mutu akademik dikonsentrasikan di masing-masing fakultas. “Meski lahir 2 tahun lebih dulu dari UMM, UIR masih butuh banyak belajar dari universitas swasta lainnya seperti UMM dalam pengelolaan perguruan tinggi, khususnya dalam hal penjaminan mutu akademik. Semoga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di UIR, lebih khusus di Fakultas Hukum,” pungkas Syafrinaldi saat menutup lawatannya ke UMM. (can/han)

Haedar Nashir Ingin Mahasiswa UMM Menjadi Manusia Berkemajuan

KETUA Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, M.Si, menyempatkan diri mengisi kajian di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) usai menjenguk mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Ahmad Hasyim Muzadi yang tengah dirawat di salah satu rumah sakit di Malang, Selasa (10/1). Haedar menyampaikan, lulusan perguruan tinggi yang mapan seperti UMM selayaknya mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai di atas rata-rata. Dengan mengutip kriteria dalam buku Indonesia Berkemajuan, Haedar mengurai kriteria yang mutlak dimiliki lulusan UMM, yang kemudian disebutnya sebagai ciri Manusia Indonesia Berkemajuan. Satu di antaranya yakni religiusitas. “Tentu religiusitas yang dipahami Muhammadiyah adalah religiusitas yang dinamis. Artinya, lulusan UMM harus mampu menyebarkan kasalehannya untuk kebermanfaatan lingkungannya,” papar Haedar. Selain religiusitas, karakter lain yang wajib dimiliki Manusia Indonesia Berkemajuan adalah karakter mandiri. “Karakter mandiri yakni karakter yang mampu mengangkat harkat martabat diri dan bangsanya. Juga tidak memposisikan diri sebagai tangan yang berada di bawah,” tegas Haedar. Karakter cerdas berilmu juga patut dimiliki Manusia Indonesia Berkemajuan. Al Quran sendiri, lanjut Haedar, sebenarnya telah jelas menyebut karakter ini dengan istilah “Ulul Albab”. Karakter tersebut bagi Haedar, hanya dimiliki oleh mereka yang terbuka terhadap berbagai pandangan dan pemikiran. “Orang berkarakter ulul albab akan menyeleksi berbagai pandangan dan pemikiran yang menurutnya terbaik,” ungkapnya. Ciri terakhir manusia Indonesia berkemajuan menurut Haedar yakni manusia yang memiliki karakter serta watak solidaritas sosial. Haedar menilai,tradisi gotong royong yang selama ini digadang sebagai ciri manusia Indonesia makin luntur. “Sebaliknya, di tengah banyaknya ujian kehidupan berbangsa dan bernegara kita, watak solidaritas sosial tersebut harus kita junjung,” pungkasnya. Dalam lawatannya tersebut, Haedar juga berpesan agar menjadikan UMM sebagai pusat keunggulan umat dan bangsa. “UMM harus menjadi representasi amal usaha atau perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya dengan memenuhi sejumlah prinsip unggulan, yakni mandiri, profesional, maju, modern dan unggul,” tutup Haedar. (can/han)