Tiga Tokoh Bangsa Hadiri Wisuda, Nasehati Lulusan UMM Agar Majukan Bangsa

GELARAN wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-82 yang berlangsung Sabtu (26/11) di UMM Dome diwarnai hadirnya tiga tokoh bangsa, yaitu Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prof Dr Pratikno MSocSc, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Prof HA Malik Fadjar MSc. Di hadapan 1.111 wisudawan yang hadir, Rektor UMM Fauzan menyematkan jas almamater pada Mensesneg Pratikno sebagai simbol warga kehormatan UMM, didampingi Malik Fadjar dan Muhadjir Effendy yang masing-masing hadir sebagai ketua dan wakil Badan Pembina UMM. Dalam orasi ilmiahnya Pratikno mengucapkan selamat pada UMM yang telah melahirkan banyak sarjana, sekaligus berpesan agar para wisudawan nantinya mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa. “Saya merasa terhormat dikukuhkan sebagai warga kehormatan UMM,” kata mantan rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) ini. Pratikno berharap, kultur UMM sebagai kampus yang mandiri dapat memotivasi para wisudawan untuk berperan penting di kancah global, salah satunya dengan menjadi entrepreneur. “Saya prihatin dengan peringkat kewirausahaan kita yang rendah. Berdasarkan Global Entrepreneurship and Development Index (GEDI) 2016, kita berada di peringkat 90 dunia, bahkan lebih rendah dari enam negara ASEAN,” paparnya. Sekalipun prihatin dengan peringkat kewirausahaan Indonesia, Praktikno tak lupa mengingatkan pentingnya rasa bangsa pada Indonesia, karena dalam konteks kemajemukan, bangsa ini telah sangat siap menghadapi dunia yang kian mengglobal. “Dalam ranah global, kita melihat dunia yang tengah dilanda krisis politik dan kemanusiaan,” ujar peraih gelar doktor dari Flinders University Australia ini. Praktikno mencontohkan konflik di Timur Tengah, sekalipun mereka satu agama, satu etnis, satu bahasa, tapi tetap tak mudah membangun kebersatuan dan perdamaian. Akibatnya, lanjut Pratikno, terjadi eksodus pengungsi yang luar biasa ke daratan Eropa. “Eropa yang semula merasa tenang dan damai, segala kebutuhan hidupnya telah tercukupi, ternyata mulai gelisah dengan efek terorisme yang ditandai serangan bom di Paris dan Brussels,” kata Pratikno yang pernah mengeyam studi master di Birmingham University Inggris ini. Apa yang terjadi di Eropa, menurut Pratikno, menunjukkan kegagapan mereka terhadap kemajemukan suku, agama, ras, dan bahasa. “Di saat Eropa masih gagap dengan kemajemukan, Indonesia telah lama menampilkan ciri kebinekaan yang tenteram dan damai. Ketika nanti dunia kian mengglobal, Indonesia akan menjadi rujukan dunia dalam membangun masyarakat penuh harmoni. Termasuk, Islam Indonesia akan menjadi contoh dunia, sebagai Islam yang menghadirkan kedamaian,” papar menteri kelahiran Bojonegoro Jawa Timur ini. Sementara itu, Mendikbud Muhadjir yang berpidato mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, kelebihan UMM adalah kultur kemandirian yang dimilikinya. “Sejak kelahirannya, UMM selalu bisa menentukan masa depannya tanpa ketergantungan pada negara. Kultur inilah yang perlu dimiliki lulusan UMM,” kata Rektor UMM pada 2000-2015 ini. Sembari berpesan pada wisudawan-wisudawati, Muhadjir mengutip pepatah Arab yang bermakna, apa yang terjadi hari ini adalah mimpi hari kemarin. “Untuk itu, tugas saudara adalah membangun impian untuk masa depan. Persembahkanlah impian Anda untuk kepentingan bangsa yang kita cintai ini.” Tak lupa, Malik Fadjar turut memberi nasehat agar lulusan UMM mengingat petuah pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, yaitu pertama, jadilah ulama atau orang-orang berilmu yang bermanfaat bagi masyarakat. Kedua, jangan berhenti mengikuti kemajuan dan perkembangan zaman. “Dan yang terpenting, jangan merasa lelah mengabdi pada bangsamu,” pesan Malik. Pada gelaran wisuda ini, wisudawan terbaik S1 diraih Rohil Salsabiila dari Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan dengan IPK 3,97 dan terbaik jenjang D3 diraih Elailatul Fitria dari Prodi Keuangan dan Perbankan dengan IPK 3,84. Sementara terbaik S2 adalah A Yusuf Kholil dengan IPK 3,98 dan terbaik S3 diraih lulusan asal Singapura, Mohd Amin bin Kadir dengan nilai disertasi 85,3. (acs/han)

Wisudawan Terbaik Rohil Salsabiila Siap Patenkan Tugas Akhirnya, Selai Lembaran

ROHIL Salsabiila tampaknya benar-benar menikmati masa kuliahnya di program studi Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM. Lulusan terbaik wisuda UMM ke-82 dengan nilai IPK 3,97 ini terlihat memiliki passion yang kuat di bidang yang ia geluti, yaitu teknologi pangan. Selain tampak pada berbagai riset yang dilakukannya, ia juga sangat aktif di organisasi bidang pangan, di antaranya sebagai sekretaris pengurus pusat Ikatan Mahasiswa Peduli Halal (Imapela) sejak tiga tahun lalu. Karenanya, Salsabiila kerap diundang sebagai trainer terkait pangan halal ke berbagai daerah di Indonesia. Ia juga berkesempatan mengikuti simposium internasional Global Halal Forum 2014 di Jakarta bersama pegiat produk halal dari berbagai negara di dunia. Untuk tugas akhir, Salsabiila berinovasi menulis skripsi tentang pembuatan selai berbentuk lembaran, dengan judul “Studi Pembuatan Selai Lembaran Stroberi (Fragaria Sp) dengan Variasi Jenis Gelling Agent dan Konsentrasi Gula”. Riset ini lantas dibuat menjadi produk jadi dan dikomersilkan. Saat ini, kata Salsabiila, produk buatannya sudah ludes terjual. “Kalau keju lembaran kan sudah banyak. Tapi, kalau selai lembaran sejauh ini hanya berbentuk riset saja, belum ada yang dikomersilkan,” jelasnya. Produknya ini kemudian mendapat perhatian dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika (LPPOM). Salsabiila diminta mematenkan karyanya melalui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). “Iya, direkomendasikan untuk dipatenkan di HAKI, lalu dikembangkan jadi wirausaha,” lanjut mahasiswi asal Kediri yang hari ini (26/11) diwisuda di UMM Dome. Proses pembuatan selai lembaran ini menurutnya tak rumit. Hanya saja diperlukan analisis mendalam karena untuk membuat satu produk harus diteliti, apakah layak diproduksi dan aman dikonsumsi. “Makanya, lebih lama analisisnya ketimbang proses produksinya,” kata gadis yang berencana menjadi peneliti LPPOM ini. (ich/han)

Hobi Nur Latifa Koleksi Anggrek Hasilkan Bisnis Berbasis Riset

SUNGGUH menyenangkan, jika sesuatu yang kita sukai, yang kita koleksi, menjadi bahan riset yang berguna bagi karir akademik kita. Itulah yang dirasakan oleh Nur Latifa, lulusan terbaik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,91. Kecintaannya pada anggrek membuat Latifa menjadikan bunga yang indah itu sebagai bahan riset hingga tugas akhir. Putri dari pasangan Bapak Husaini dan Ibu Siti Kholifa ini menulis skripsi berjudul “Pengaruh Penambahan Konsentrasi Jus Tomat pada Media Vacin dan Went (VW) terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Dendrobium conanthum secara In Vitro sebagai Sumber Belajar Biologi”. Sewaktu mengerjakan tugas akhir, Ifa menyambi berbisnis anggrek. “Awalnya, saya beli anggrek dewasa yang sudah berbunga. Setelah itu saya selfing (membuatnya kawin dengan dirinya sendiri), sehingga jadi buah. Karena saya belum punya green house , jadi bijinya saya setorkan ke tempat pembudidayaan anggrek, untuk dikultur,” paparnya. Sebelum berbisnis, Latifa memang telah lama menggeluti tanaman Anggrek. Hal ini dibuktikan banyaknya koleksi ragam jenis anggrek di rumahnya di Probolinggo. Diantara jenis yang ia koleksi yaitu phalaenopsis anabilis, dendrobium capra dan dendrium strepsiceros.  Dendrobium disebut Latifa sebagai salah satu genus anggrek yang paling disukai konsumen. Seiring berjalannya waktu, tingkat permintaan anggrek kian meningkat. Untuk memenuhi permintaan tersebut, menurut Latifa, diperlukan tanaman anggrek dalam jumlah besar. Diakuinya, kendala budidaya anggrek adalah pertumbuhan planlet yang cukup lama. “Keberhasilan kultur secara in vitro sangat ditentukan media yang digunakan. Penambahan bahan organik ke dalam media banyak dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman yang dikultur,” terangnya. Diakuinya, penelitiannya tentang anggrek sangat menunjang bisnis yang ia jalani. Itu juga didukung kecakapannya di bidang riset dan sains. Bahkan, bibit itu sudah muncul saat SMP dulu, saat ia masuk lima besar se-Kota Probolinggo pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN). Itu pula yang pada akhirnya membuat Latifa memilih kuliah di jurusan Biologi UMM. Selain sukses di bidang akademik dan bisnis, Latifa juga ternyata cukup jago dalam hal menulis. Ia beberapa kali mengikuti kompetisi kepenulisan. Bahkan, tahun lalu, tulisannya berjudul “Hijrah di Jalan Cinta-Nya” terbit dalam buku antologi cerita mini Matahari. Ia juga banyak membuat prosa yang diunggahnya ke blog pribadinya. (can/han)

Peringati Hari Guru, Ratusan Mahasiswa UMM Nyanyikan Hymne Guru

ATMOSFER keharuan menyeruak di seantero Gedung Kuliah Bersama (GKB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (25/11) pagi. Pasalnya ratusan dosen dan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) secara bersamaan melantunkan hymne guru memperingati Hari Guru Nasional. Ratusan mahasiswa itu memadatiseluruh beranda gedung berlantai 6 tersebut. “Kita memberikan sentuhan kepada seluruh aspek masyarakat bahwa begitu pentingnya peranan guru untuk meningkatkan kualitas bangsa ini. Tanpa ada guru saya yakin tidak ada orang yang pintar. Tidak ada yang bisa menjadi pimpinan yang hebat kalau tidak ada guru yang hebat. Makanya kita harus mencetak guru-guru yang hebat,” terang Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr Poncojari Wahyono MKes saat ditemui usai acara. Disamping mencetak sarjana pendidikan, dijelaskan Poncojari, FKIP UMM juga diberi kesempatan untuk mencetak guru profesional. Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) yang diadakan oleh Program Sertifikasi Guru (PSG) di UMM sebagai Rayon 144. “Selain itu, kita juga membangun komunikasi dengan berbagai sekolah untuk melakukan pembinaan terhadap peningkatan kualitasnya, tidak hanya lewat pendidikan profesi,” terangnya. Di Indonesia, terdapat hanya 15 perguruan tinggi yang memiliki kewenangan menyelenggarakan program sertifikasi tersebut. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr Poncojari Wahyono M.Kes menjelaskan, UMM merupakan satu-satunya perguruan tinggi swasta (PTS) yang dipercaya Kemendikbud mengadakan PLPG. Selain UMM, 14 perguruan tinggi yang dimaksud yaitu Universitas Syah Kuala, Universitas Negeri Medan, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Sebelas Maret, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Jember, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Cendrawasih, dan Universitas Negeri Makasar. Wakil Rektor I Prof Dr Syamsul Arifin MSi juga turut memberikan sambutan. “Saya bisa melihat cakrawala dunia, karena saya bisa berdiri di para pundak-pundak raksasa. Dan para pundak raksasa itu adalah guru-guru kita. Kita yang hadir di sini, di masa yang akan datang, anda akan menjadi guru. Menjadi seorang guru adalah sebagai suatu panggilan, sebagai nurani, tidak ada paksaan. Di atas pundak-pundak kita akan berdiri murid-murid kita untuk melihat dunia,” pungkas Syamsul. (can/han)

Kunjungi UMM, Dubes Tertarik Dirikan Australian Corner

BANYAKNYA kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan kampus-kampus di Australia membuat Duta Besar (Dubes) Australia untuk IndonesiaPaul Grigsontertarik untuk datang mengunjungi UMM, Selasa (22/11). Kegiatan Grigson di UMM meliputi kuliah tamu dengan mahasiswa, dialog dengan jajaran rektorat untuk pengembangan kerjasama, serta mengunjungi perpustakaan UMM. Saat berkunjung ke perpustakaan, khususnya ketika melihat-lihat American Corner, China Corner, Thailand Corner dan Saudi Arabian Corner, Grigsonlantas tertarik untuk mendirikan Australian Corner di UMM. Terlebih, sejak 2007 UMM telah menjalin kemitraan strategis dengan Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies (ACICIS), lembaga konsorsium internasionalberanggotakan 24 universitasternama di Australia. UMM juga saat ini telah memiliki 32 orang dosenlulusan Australia, dan tengah berupaya membentuk forum alumni Australia. Rencana tersebut, menurutAsisten Rektor Bidang Kerjasama Soeparto,dimaksudkan untuk pengembangan dan pemberdayaan alumni Australia. “Sebab, selama ini belum ada organisasi alumni Australia di Indonesia. Kalau alumni Amerika itu sudah ada organisasinya. Dari kedutaannya juga ada supporting untuk kegiatan berupa penelitian, pengabdian masyarakat, pemberdayaan organisasi sertanetworking,” terang Soeparto. Sementara itu pada sesi kuliah tamu, Paul Grigsonbanyak memberikan informasi seputar hubungan Indonesia dan Australia, juga peluang-peluang yang dapat diperoleh mahasiswa Indonesia di Australia. “Penting sekali untuk meningkatkan hubungan antara Australia dan Indonesia, khususnya dibidang pendidikan. Saya ingin mengajak warga Indonesia belajar ke Australia. Kami juga sangat mendukung alumni Australia yang saat ini mengajar di sini,” paparGrigsonyang juga mantan Wakil Sekretaris Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australiaini. Pada Maret 2017 mendatang, UMM akan kembali menjalin kerjasama dengan salah satu universitas ternama di Australia, University of South Australia (UniSA) berupa program internship bagi mahasiswa. (acs/han)

Utamakan Pelayanan, BPSDM Latih Mahasiswa Pekerja Paruh Waktu

PELAYANAN merupakan salah satu dedikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai lembaga pendidikan. Perlu adanya pelayanan yang baik dan disiplin dilakukan oleh setiap karyawan UMM, termasuk mahasiswa pekerja paruh waktu (part time). Untuk itu, melalui pelatihan yang berlangsung di Auditorium UMM (20/11) Badan Pengendali Sumber Daya Manusia (BPSDM) UMM membekali mahasiwa part time tentang pelayanan prima. Wakil Rektor III Dr Sidik Sunaryo MHum menjelaskan, pelatihan pelayanan prima ini merupakan salah satu wujud konkrit tanggung jawab UMM di luar kewajiban memberikan upah. Selain itu, kegiatan ini juga bentuk peduli UMM kepada mahasiswa yang mau bekerja sambil kuliah. “UMM peduli dalam artian UMM membuka ruang untuk memberi pengalaman kerja pada mahasiswanya,” jelas Sidik lebih lanjut. Menurut Sidik, orang bekerja itu memiliki spirit tertentu. Pertama, lanjut Sidik, spirit teologis atau ketuhanan. Semua orang bekerja hakikatnya bukan hanya untuk mencari upah namun bekerja itu adalah bentuk pengabdian manusia terhadap tuhannya. Menurut dosen Fakultas Hukum (FH) UMM tersebut, orang bekerja mempunyai beberapa unsur ketuhanan. “Setiap instansi yang mempekerjakan harus memberikan waktu khusus untuk beribadah seperti sholat dan ibadah lainnya tergantung kepercayaannya,” jelasnya. Selanjutnya, spirit kedua adalah nilai kemanusiaan, karena bekerja hakikatnya adalah memanusiakan manusia dan hakikat dari layanan prima adalah memanusiakan manusia juga. Spirit ketiga yaitu unity, karena satu tempat kerja pasti memiliki satu tujuan yang sama. “Layanan prima ini harus diwujudkan secara bersama-sama. Karyawan part time dan full time harus mendukung dengan mendisiplinkan diri masing-masing,” papar Sidik. Kepala BPSDM UMM Prof Dr Ir Jabal Tarik MSi menyatakan, pelatihan pelayanan prima diadakan untuk mengedukasi karyawan part time. Menurut dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM tersebut, setiap karyawan harus memiliki kemampuan untuk melayani ekternal dan internal instansinya. “Dalam kegiatan ini tenaga part time yang statusnya masih mahasiswa kita bekali dengan berbagai kemampupan soft skill. Selain memang untuk memperbaiki pelayanan di setiap instansi, tenaga part time ini juga bisa menggunakan bekal ini untuk terjun ke dunia kerja nantinya,” jelasnya. (jal/han)

Festival Budaya UMM Apresiasi Kekayaan Nusantara

KEKAYAAN khazanah budaya nusantara menjadi perhatian khusus bagi Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui Festival Seni Budaya Nusantara yang digelar dua hari (18-19/11) di UMM Dome, UMM hendak memberi penegasan, kekayaan seni dan budaya negeri ini semestinya bisa menjadi media memperkuat karakter kebangsaan. Beberapa kegiatan pada festival ini di antaranya apresiasi puisi warisan budaya, apresiasi naskah kuno (heritage), apresiasi wayang potehi, apresiasi fotografi warisan budaya dan apresiasi seni tari tradisional Indonesia. Beberapa lomba juga turut digelar di antaranya lomba fotografi budaya, serta lomba tari dan karawitan. Festival ini juga melibatkan mahasiswa untuk pendirian bazar kebudayaan, Direktorat Jendral (Dirjen) Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Hilmar Farid PhD yang turut hadir dalam festival ini mengatakan, kebudayaan tak hanya tentang menari dan menyanyi, namun bermakna luas sebagai warisan kultural yang harus dilestarikan. “Kebudayaan adalah salah satu wujud praktek pembangunan Indonesia. Bahkan, seharusnya kebudayaan menjadi hulu dari pembangunan negara ini,” jelas sejahrawan dan pengkaji kebudayaan tersebut. Sementara itu Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi mengatakan, festival ini diadakan sekaligus sebagai bentuk partisipasi UMM dalam rangka semarak Milad Muhammadiyah ke-104. Hal itu juga sejalan dengan semangat dakwah kultural Muhammadiyah yang pro-kebudayaan. “Kebudayaan dan seni adalah bagian dari bermuamalah. Itu juga tertera dalam putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah yang menjadikan budaya dan seni sebagai dakwah kultural Muhammadiyah,” jelas dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM ini. Syamsul menyebutkan, UMM sangat terbuka terhadap persoalan kebudayaan. “Kita harus melek budaya, tidak boleh menutup diri, karena Indonesia memiliki khazanah kebudayaan yang sangat luas,” jelas Syamsul. Hingga kini, UMM juga giat menyelenggarakan Malam Apresiasi Seni dan Budaya (Maksidaya) yang rutin diadakan tiga bulan sekali. Senada dengan itu, Kepala LK UMM Dr Tri Sulistyaningsih MSi lebih lanjut menjelaskan, budaya Indonesia saat ini tengah mencari jati dirinya. Karenanya, festival ini hadir untuk memperkuat karakter kebangsaan tersebut. “Dengan rentetan acara yang sudah dikonsep panitia, besar harapan kami LK UMM dapat memperteguh kepribadian budaya Indonesia, khususnya bagi mahasiswa UMM sendiri,” jelasnya. Saat ini, papar Tri, sudah banyak penggiat seni yang mulai bermunculan untuk meneguhkan budaya nusantara. “Kita sangat peduli untuk meningkatkan peradaban melalui kebudayaan. Kehadiran lembaga ini (Lembaga Kebudayaan/LK) merupakan salah satu bentuk kepedulian UMM pada budaya,” jelas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ini. (Humas UMM)

UMM Tuan Rumah Olimpiade HI Regional Jawa-Bali-Mataram

PROGRAM Studi (Prodi) Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) kembali dipercaya menjadi tuan rumah olimpiade tahunan, Internasional Relations Olympic Sports (IROS), setelah sebelumnya juga menjadi tuan rumah pada 2009. IROS merupakan kompetisi milik regional VI Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional Indonesia (FKMHII). Untuk tahun ini, kegiatan yang berlangsung pada 17-19 November ini diikuti 7 universitas se-Jawa, Bali dan Mataram, yaitu Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Universitas Udayana Bali, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya, Universitas Negeri Jember (UNJ), Universitas Mataram (Unram), dan tuan rumah UMM. Selepas dibukanya kegiatan ini di Auditorium UMM (17/11) oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Dr Asep Nurjaman MSi, selanjutnya sebanyak 268 peserta dari tujuh kampus tersebut akan melakukan pertandingan di Lapangan Badminton GOR Rajabasa Tidar Malang. Ada tiga cabang yang dilombakan, yaitu bola basket, futsal dan badminton. “Nanti di hari terakhir akan diadakan lomba dayung di danau UMM,” papar ketua pelaksana IROS 2016, Dhiyah Arimbi. Mengangkat tema Expressing Our Solidarity through Fairplay, diharapkan olimpiade ini akan diikuti secara sportif oleh seluruh peserta. Tujuan utamanya, lanjut Dhiyah, bukan mencari musuh tapi untuk mempererat persaudaraan antar mahasiswa HI se-Indonesia. “Ajang ini bukan untuk menentukan juaranya kampus mana, tapi untuk menjalin persahabatan dan membuktikan bahwa mahasiswa HI tidak hanya bisa bernegosiasi namun juga bisa berkompetisi,” ungkap mahasiswi HI UMM tersebut. Asep Nurjaman dalam sambutannya menjelaskan, olahraga merupakan salah satu instrumen paling baik dalam merekatkan perbedaan. “Dengan olahraga, kita melupakan etnis, suku dan agama. Apalagi di sini kan ada yang dari Bali, jadi olahraga bisa menjadi penyatu berbagai etnis ini,” jelas Asep. (jal/han)

UMM Siapkan Pekerja Sosial Atasi Masalah Sosial di Malang

MASALAH sosial di Kota Malang terbilang cukup pelik. Jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) meliputi gelandangan, pengemis, anak jalanan, kekerasan anak, kekerasan seksual, kemiskinan, pendidikan, dan ekonomi. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang Dr Sri Wahyuningtyas MSi mengatakan, anak jalanan di Malang meningkat jumlahnya dan berasal tak hanya dari Malang, melainkan dari berbagai daerah. Berdasarkan data Dinsos, jumlah fakir miskin di Kota Malang mencapai 36.000, juga terdapat 227 anak jalanan, 1800 gelandangan dan pengemis, dan 5 korban bencana alam. Hal ini disampaikan Sri Wahyuningtyas pada kuliah tamu program studi (Prodi) Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertema “Potret Masalah Sosial di Kota Malang” yang digelar di Theater UMM Dome, Kamis (17/11). Sayangnya, lanjut Sri, saat ini Dinsos hanya memiliki 5 pekerja sosial. Dibandingkan permasalahan yang ada, jumlah ini tak sebanding. Karenanya, Yuyun berharap Prodi IKS UMM bisa menjadi pendamping masyarakat dalam melaksanakan program yang telah dirancang oleh Dinsos maupun Kementerian Sosial. Program tersebut di antaranya perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Program Keluarga Harapan (PKH), Kelompok Usaha Bersama (Kube), demikian pula menambah sarana prasarana lingkungan. “Beberapa tugas pendamping misalnya sebagai pengontrol kesehatan ibu hamil untuk rutin memeriksakan kandungan ke puskesmas. Jika ada keluarga yang memiliki anak sekolah, apakah anak sudah sekolah aktif. Lalu untuk program Kube, juga pendampingan apakah dana yang diturunkan Kemensos terpakai dengan tepat. Sukses tidaknya program Dinsos dan Kemensos juga tergantung pada tingkat pendampingan yang dilakukan,” tukas Yuyun. Menanggap hal ini, ketua Prodi IKS UMM, Dr Oman Sukmana MSi menguraikan mahasiswa IKS akan difokuskan untuk terjun menangani permasalahan sosial di Malang Raya. Mahasiswa yang akan melakukan praktikum, penelitian, dan skripsi akan diarahkan di Malang Raya. Sampai saat ini, alumni Prodi IKS UMM sudah ada yang bekerja di Dinsos dan Kemensos. “Orientasinya pada 5 hal. Mahasiswa akan disiapkan menjadi analis kebijakan sosial, pekerja sosial masyarakat/ komunitas, manajer lembaga pelayanan sosial, konselor psikososial, dan  peneliti sosial. Tak hanya menggarap lingkungan fisik, tapi lulusan IKS juga akan menggarap lingkungan non fisik, perilaku, kehidupan sosial, dan ekonomi masyarakat,” pungkas Oman. (ich/han)

Jodipan Kian Menginspirasi, Guys Pro UMM Tampil di Kick Andy

KESUKSESAN delapan mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi inisiator Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ) mendapatkan apresasi dari banyak pihak. Selain meraih sejumlah penghargaan, KWJ juga mendapat perhatian khusus dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi ketika mengunjungi kota Malang. Tak heran, kesuksesan itu lantas menarik minat stasiun televisi swasta Metro TV mengundang tim Guys Pro UMM untuk tampil berbagi inspirasi di acara talkshow “Kick Andy”. Talkshow tersebut akan ditayangkan pada Jumat, 18 November 2016 pukul 20.00 dan disiarkan ulang esoknya pukul 13.05. Koordinator tim Guys Pro UMM Nabila Firdausiyah menceritakan, ketika pertama kali dihubungi pihak Metro TV ia mengaku sempat tidak percaya. “Tanggal 24 Oktober 2016 pagi saya dihubungi pihak Metro TV untuk dijadikan opsi narasumber di acara Kick Andy, kemudian sore harinya langsung dikabari kalau akan diundang ke Jakarta untuk berbagi inspirasi pada talkshow tersebut,” tutur mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM ini. Di acara tersebut, Nabila banyak bercerita pada host Kick Andy, Andy Flores Noya, tentang asal-muasal KWJ, mulai dari kampung kumuh hingga menjadi destinasi wisata yang ikonik di kota Malang. KWJ inilah yang lantas menginspirasi pemerintah kota Malang untuk membangun 76 kampung tematik agar pengembangan kota lebih terarah. Terkait kesuksesan tersebut, dosen pembimbing Tim Guys Pro UMM Jamroji mengatakan, hal itu sepenuhnya didukung oleh pihak kampus. “Kita sangat bersyukur. UMM mendukung penuh, terlebih ini merupakan hasil praktikum Public Relation yang memang menjadi bagian dari tugas kuliah,” ujar dosen Ilmu Komunikasi UMM ini. Adapun beberapa penghargaan yang sebelumnya telah diterima tim Guys Pro UMM di antaranya penghargaan dari Walikota Malang sebagai penggagas KWJ, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Malang sebagai pemuda peduli lingkungan, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Malang dalam awarding Bhumi Arema sebagai penggagas KWJ dan juga dari Hasta Komunika dalam acara Hasta Komunika Award sebagai tokoh muda bidang peduli lingkungan dan sejumlah penghargaan lainnya. (jal/han)