Karakter Kebangsaan Bisa Dibangun Melalui Sastra

SELAIN mengungkap pentingnya bahasa Indonesia sebagai penjaga integritas bangsa, Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia yang digelar oleh Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa-Rabu (15-16/11) di Auditorium UMM juga mengangkat pentingnya sastra untuk membangun karakter kebangsaan. Menurut guru besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Malang (UM) Prof  Dr Djoko Saryono MPd, cipta sastra cukup fungsional sebagai wahana pembelajaran moral dan karakter. Sastra juga dinilainya dapat menjadi pintu masuk dalam memberikan pengalaman etis dan moral bagi para pelajar. Sayangnya, menurut Djoko, mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kurikulum 2013 telah melupakan sastra, setidak-tidaknya meminggirkan sastra. “Sebaliknya, kurikulum itu terlampau memuja-muja teks-teksnon-sastrayang tak mudah dipahami dan tak jelas arahnya,” papar Djoko yang juga pendiri Cafe Pustaka UM ini. Mengamini hal itu, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr Hari Sunaryo MSi mengatakan, dengan mengadaptasi kearifan lokal, pembelajaran sastra dapat mengokohkan jati diri bangsa yang berakar dari nilai-nilai keindonesiaan. Sebagai entitas budaya, menurut Hari, kearifan lokal telah teruji memiliki daya yang bermakna strategis dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan. “Dengan mengadaptasi secara kreatif kearifan lokal ke dalam sistem pembelajaran, hal itu tentunya akan berimbas pada kokohnya nilai-nilai kebangsaan,” jelas Wakil Dekan III FKIP UMM ini. Sementara itu dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Budinuryanta Yohanes menegaskan, pembelajaran bahasa Indonesia tidaklah cukup terpumpun pada pembelajaran kaidah dan kefasihan berbahasa, tetapi harus berorientasi pada pembentukan kepribadian keindonesiaan. Untuk mendukung hal itu, kata Budinuryanta, perlu dikembangkan pembelajaran bahasa interkultural agar siswa memiliki kepekaan dan kesadaran budaya akan kebinekaan Indonesia. “Sekalipun siswa terlahir dan terukir dalam budaya dan masyarakat tertentu, namun ketika belajar bahasa sasaran ia terbuka terhadap keragaman budaya, tanpa meninggalkan budaya asalnya.” Selain seminar yang berbentuk pleno, kegiatan ini juga memuat sesi paralel yang menghadirkan 35 pemakalah dan 150 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Rektor UMM Fauzan berharap, seminar ini mampu menggali pikiran akademisi dalam memanfaatkan bahasa dan sastra Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang lebih beradab. (han)

Bahasa Indonesia Penjaga Integrasi Bangsa

PEMBELAJARAN bahasa Indonesia di sekolah tak bisa hanya bertujuan agar siswa menguasai struktur bahasa. Lebih dari itu, pembelajaran bahasa harus menjadi strategi budaya agar lebih mencintai bangsa ini. Demikian disampaikan guru besar Universitas Negeri Surabaya Prof Dr Setya Yuwana MA pada Seminar Nasional Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan yang digelar selama dua hari (15-16/11) oleh Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM ini berupaya lebih menghidupkan bahasa Indonesia sebagai kekuatan integrasi bagi bangsa ini. Bagi Setya Yuwana, hal ini tak bisa diremehkan, lantaran jika bahasa Indonesia punah, maka negara ini juga bisa ikut punah. Untuk itu, Setya menekankan perlunya mengintegrasikan budaya Indonesia yang multikultural sebagai bagian dari proses pembelajaran. Setya menilai, pembelajaran bahasa harus bisa memanfaatkan keragaman kultural dan kearifan lokal masyarakat agar siswa mampu menciptakan makna berdasarkan apa yang dialaminya sehari-hari. Di sini, bahasa selanjutnya menjadi kekuatan untuk membangun perilaku yang humanis, pluralis, dan demokratis. Sementara itu pakar bahasa Indonesia dari UMM Dr Ekarini Saraswati MPd mengaku prihatin dengan penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari oleh anak muda, terutama kalangan metropolis. “Mereka sering mencampur aduk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan asal-asalan, terutama di media sosial,” kata Ekarini. Rektor UMM Fauzan berharap, seminar ini mampu menggali pikiran akademisi dalam memanfaatkan bahasa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang lebih beradab. “Masyarakat harus bangga dengan bahasa Indonesia. Jangan sampai hilang bahasanya dan tersisa penggunanya saja, lalu jadi kajian situs arkeologis,” kata Fauzan. Selanjutnya, rekomendasi dan paparan para pemakalah dalam seminar ini nantinya akan dibukukan dalam prosiding, untuk kemudian diserahkan ke Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikbud sebagai bahan untuk pengambilan kebijakan. Sejumlah pembicara yang juga turut memaparkan gagasannya pada kegiatan ini yaitu kepala Badan Bahasa Kemendikbud Prof Dr Dadang Sunendar MHum, guru besar Universitas Negeri Malang Prof Dr Djoko Saryono MPd dan Prof A Effendi Kadarisman MA PhD, dosen Unesa Dr Budinuryanta Yohanes MPd, serta beberapa dosen UMM yaitu Dr Ribut Wahyu Eriyanti MSi MPd, Dr Hari Sunaryo MSi, dan Dr Arif Budi Wurianto MSi, juga 35 pemakalah dan 150 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. (ich/han)

Bela Hak Perempuan, PP Aisyiyah Didik Warganya Jadi Paralegal

PERHATIAN Aisyiyah terhadap isu perempuan dan anak mendorong Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia(HAM) Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah mengadakan pelatihan paralegal bagi yang diikuti 25 Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) dari 34 provinsi di Indonesia, Jumat-Ahad (11-13/11)di Auditorium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).Kegiatan ini mengambil tema “Penguatan Peran Aisyiyah dalam Pendampingan dan Penyelesaian Persoalan Hukum pada Perempuan dan Anak”. Perwakilan dari tiap-tiap provinsiitu akan dicetak menjadi paralegal, sehingga dapat melakukan pendampingan hukumjika terdapat persoalan terkait pelanggaran hak terhadap perempuan dan anak.Ketua Majelis Hukum dan HAM (MHH) PP AisyiyahDr Atiyatul Ulya MAg mengungkapkan, dalam perjalanan satuabad Aisyiyah, masyarakat sudah banyak mengenal kiprah Aisyiyah, mulai bidang pendidikan, kesehatan, panti asuhan dan bidang-bidang yang lain. Adapun dalam ranah hukum, ibu-ibu Aisyiyah sudah melakukan advokasi berupa pendampingan dalam menyelesaikan berbagai persolan keperempuanan yang terjadi di masyarakat.Inilah yang menurut Atiyatul Ulyaperlu diperkuat. Saat ini Aisyiyah telah memiliki 10 Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang tersebar di seluruh Indonesia. Tiga dari sepuluh LBH ini telah mengantongi akreditasi, yakni LBH Kota Malang, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta. Inilah yang menjadi alasan mengapa kegiatan ini dipusatkan di Malang. “Memasuki abad kedua, kami mendorong agar Aisyiyah lebih banyak berjibaku dalam persoalan hukum yang akhir-akhir ini dialami kaum perempuan. Salah satu upaya kami yaitu melalui pelatihan paralegal ini,” urainya. Sejumlah pakar hukum hadir menjadi pemateri, di antaranya kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM Prof Dr Enny Nurbaningsih SH MHum,Ketua Subkomisi  Pengembangan Sistem Pemulihan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Indri Suparno. KetuaUmumPPAisyiyah Dra Hj Siti Noordjannah Djohantini MM MSi mengatakan, pelatihan yang diadakan di UMM ini adalah bentuk sinergi antarpersyarikatan. UMM punya tagline Dari Muhammadiyah untuk Bangsa, sehingga bagus ketika UMM berjejaring dengan salah satu organisasi otonom Muhammadiyah, yaitu Aisyiyah,” tukasnya. Di mata Noordjannah, dengan manusia memiliki rasa kurang, berarti ada tanda-tanda kemajuan dalam dirinya. Sama halnya dengan Aisyiyah, menyikapi kasus-kasus perempuan dan anak yang kerap diberitakan di media saat ini, Noordjannah mengaku Aisyiyah harus bersikap responsif. Aisyiyah, menurutnyamesti menjadi pemecah masalah dan pencipta solusi. Semangat ini sudah ditanamkan dalam Mars Aisyiyah yang selalu dikumandangkan dalam tiap kegiatan, yakni semangat perempuan berkemajuan. Rektor UMM Fauzan tak lupa mengungkapkan terima kasihnya atas kesediaan PPA memercayai UMM sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan. Ia berharap, pelatihan ini hadir untuk mengemban amanah serta melayani masyarakat.(ich/han)

Tahun ke-10 Darmasiswa UMM, BPKLN Kemendikbud Tinjau Aktivitas Mahasiswa Asing

BIRO Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud), Selasa (9/11), mengadakan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program beasiswa Darmasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebanyak 17 mahasiswa asing peserta Darmasiswa diminta mengisi angket yang berisikan sejumlah pertanyaan terkait pelaksanaan Darmasiswa di UMM. Darmasiswa merupakan program beasiswa pemerintah Indonesia bagi mahasiswa asing untuk belajar dan mendalami Budaya dan Bahasa Indonesia. Program tersebut dikelola empat kementerian, yakni Kemendikbud, Kementerian Sekretariat Negara,  Kementrian Luar Negeri, serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pemantauan dilakukan pada bulan ketiga pelaksanaan Darmasiswa. Tiap tahunnya, program Darmasiswa ini diikuti kurang lebih 600-an mahasiswa dari seluruh dunia dan ditempatkan di 54 universitas di Indonesia. Di UMM sendiri, program Darmasiswa sudah memasuki tahun ke-10 sejak pertama kali diadakan pada 2006. Tahun ini, peserta berasal dari sejumlah negara di antaranya Jerman, Chile, Sudan, Korea Selatan, Jepang dan Thailand. Setiap tahunnya, masing-masing peserta Darmasiswa mendapat tunjangan pendidikan 2.5 juta perbulan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagai lembaga pelaksana program, UMM juga mendapat saluran dana. “Berarti pelaksanaannya harus sesuai ketentuan atau undang-undang,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM Dr Arif Budi Wurianto MSi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/11). Monitoring juga untuk memastikan tidak ada masalah selama mahasiswa itu berada di naungan universitas. “Masalah itu mungkin bisa saja terjadi. Apakah masalah pribadi, tidak kerasan lantas pulang, masalah imigrasi, atau bahkan kasus-kasus yang mengharuskan mahasiswa dipulangkan atau dideportasi. Alhamdulillah, selama pelaksanaan Darmasiswa di UMM tidak pernah kejadian permasalahan-permasalahan tersebut,” jelasnya. “Karena melibatkan empat kementerian, berjalan atau tidaknya suatu program itu harus dipantau atau dimonitoring. Kemarin, pemonitornya hanya mengambil beberapa data terkait administrasi pelaksanaan,” terangnya. “Monitoring ini secara menyeluruh bakal menentukan apakah kita bisa lanjut sebagai provider atau tidak. Maka dari itu, UMM harus memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Saya pribadi yakin kami memiliki pelayanan dan program-program yang baik. Maka, ini juga menjadi pertimbangan UMM bakal tetap menjadi provider,” tukasnya. (can/han)

Konferensi Internasional FEB UMM: Siapkan Inovasi Bisnis di Era Global

UNTUK kedua kalinya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan International Conference on Future Business Environment and Innovation (ICOFBEI). Kegiatan yang berlangsung di UMM Dome, Rabu (9/11) ini diikuti mahasiswa FEB UMM dan sejumlah peserta tamu dari Ukraina, Malaysia, Amerika Serikat, dan China. Rektor UMM Fauzan dalam sambutannya menyatakan, mahasiswa harus memanfaatkan konferensi ini untuk menilai, kekuatan apa yang mesti dikembangkan untuk bisa berkiprah di dunia bisnis internasional nantinya. “Perkembangan bisnis saat ini harus menjadi ‘bacaan’ mahasiswa,” tuturnya. Ada tiga pakar yang menjadi pembicara dalam forum ini yakni Prof Terrill L Frantz dari Peking University China, Prof Mudrajad dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dr Suhal dari Universitas Malaysia Terengganu, dan Dr DJoko Sigit Sayogyo dari UMM. Dekan FEB UMM Dr Idah Zuhroh MM menjelaskan, pertemuan ilmiah ini diharapkan mampu menjadi salah satu ikhtiar menuju internasionalisasi UMM. Selain konferensi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan presentasi paper dosen dan peneliti yang sebelumnya telah terseleksi melalui Call for Paper. “Tujuannya untuk mendapatkan review dari penelitian lain, sehingga mampu memperbaiki hasil penelitian sebelumnya. Lalu, bisa dilanjutkan dengan publikasi internsional dan didiseminasikan menjadi sumber pembelajaran,” jelas Idah Zuhroh. Terkait perkembangan ekonomi dan bisnis di Indonesia, Idah menilai pelaku ekonomi mempunyai daya saing yang setara. Di negara berkembang, SDM rendah berdampak pada kurangnya kesejahteraan perekonomian. Globalisasi adalah hal yang tidak bisa dihindari, oleh karenanya inovasi dalam berbagai bidang harus terus dikembangkan. Peran FEB UMM, lanjut Idah, yakni menghasilkan sumberdaya manusia yang berjiwa entrepreneur, sehingga ketika bekerja di mana-mana akan menggunaan prinsip manajemen agar mampu mengakselerasi tujuan pembangunan, baik di bidang pemerintahan maupun bisnis. Sementara itu menurut Prof Terrill, untuk menjadi pelaku bisnis internasional, yang terpenting selain konsep adalah eksekusi atau pelaksanaan. Eksekusi yang sukses ditandai oleh beberapa perilaku, yakni visi, keuletan, ketabahan, tekad yang kuat, banyak akal, dan siap jelimet. Menurutnya, jika ingin mengembangkan skill, maka lihatlah situasi di sekitar. Dunia bisnis selalu bertransformasi. Transformasi memang hal yang sangat sulit dilakukan, tapi ia memberikan pengaruh sangat besar untuk dunia. Dalam kacamata Terrill, hal yang harus dilakukan Indonesia saat ini adalah mempersiapkan generasi global yang siap melakukan eksekusi dan transformasi. (ich/han)

FKIP Dorong 23 Doktor Baru Perkuat Kepakaran Berbasis Riset

SEBANYAK 23 doktor baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapatkan kesempatan mempresetasikan disertasinya di hadapan peserta International Conference on Lesson Study (ICLS), pekan lalu (5/11) di UMM Dome. Disertasi-disertasi tersebut selanjutnya menjadi hasil riset yang akan dihilirisasi agar bermanfaat bagi dunia pendidikan. Wakil Dekan I FKIP UMM Dr Trisakti Handayani MM menjelaskan, melalui presentasi disertasi yang dikemas dalam acara Education Colloquium (EC) itu diharapkan gagasan dan penelitian para doktor tersebut bisa dipakai oleh pihak-pihak yang memerlukan. Hasil riset tersebut juga digunakan UMM untuk memetakan kepakaran para doktor tersebut. “Publikasi dan hilirisasi hasil disertasi tersebut sekaligus promosi ke masyarakat internasional bahwa UMM memiliki hasil penelitian dan dosen yang memiliki kepakaran di bidang tersebut. Contohnya, ada salah satu doktor dengan disiplin ilmu pendidikan biologi, namun spesifikasinya pada lingkungan. Spesifikasi inilah yang dimanfaatkan untuk masyarakat luas nantinya,” jelas Trisakti. Trisakti menilai, selama ini hasil penelitian tidak selalu bisa dinikmati masyarakat luas karena kurangnya publikasi. Melalui presentasi pada forum ICLS yang dihadiri ratusan peserta dari dalam dan luar negeri, gaung pengetahuan yang dimiliki UMM diharapkan semakin terdengar. Selain mempresentasikan disertasi, 23 doktor baru tersebut juga mendapatkan penghargaan dari UMM karena telah memiliki karya yang menjadi bukti kepakaran mereka. Penyerahan penghargaan dilakukan oleh presiden Asosiasi Lesson Study Indonesia (ALSI) Sumar Hendayana PhD pada penutupan ICLS (5/11). Dekan FKIP UMM Dr Poncojari Wahono menyatakan, penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap pencapaian dosen. Poncojari berharap, para doktor baru ini mampu mempercepat visi UMM menjadi kampus berekognisi internasional. “Tentunya kami berharap dosen itu banyak berkarya, bisa melalui penelitian, penulisan jurnal maupun pengabdian masyarakat, sehingga bisa mendukung UMM menjadi kampus internasional berbasis riset,” ungkapnya. Tindak lanjut dari penghargaan ini, kata Trisakti, para doktor tersebut didorong untuk segera meraih gelar guru besar. “Tidak hanya pihak fakultas saja yang mendorong percepatan guru besar, namun universitas juga terus mendorong fakultas agar para doktor terus produktif. Saat ini, sudah ada 12 jurnal milik dosen FKIP yang tembus publikasi internasional dan akan terus digalangkan agar bertambah banyak,” pungkasnya. (ich/han)

Menghibur, Mahasiswa UMM Ajarkan Bahasa Inggris pada Siswa SD

MELALUI program English for Young Learners (EYL), program studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) intens mengajarkan bahasa Inggris pada siswa-siswi sekolah dasar (SD) dengan cara-cara yang kreatif dan menghibur. Salah satunya, yang dilakukan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UMM pada SD Muhammadiyah 3 Assalaam, Selasa (8/11). Bertempat di area semi terbuka yaitu gazebo perpustakaan UMM, ada 13 siswa kelas 1 yang mengikuti pembelajaran bahasa Inggris bertema part of my body ini. Kepala sekolah SD Assalaam, Syai’in Kodir, mengungkapkan kegiatan ini sebagai salah satu program sekolah untuk membentuk siswaunggul berbahasa asing. Tak hanya itu, Syai’in ingin siswanya tak hanya menguasai bahasa asing secara teori seperti grammar, tapi juga mampu mengaplikasikan secara langsung. “Dalam seminggu, kami biasakan siswa-siswi untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan Arab. Senin sampai Rabu untuk bahasa Inggris dan Kamis sampai Sabtu untuk bahasa Arab. Bekerja sama dengan prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini supaya siswa langsung aplikasi berbahasa Inggris, kebetulan temanya adalah anggota tubuh,” ujarnya. Pembelajaran bersama anak SD membutuhkan cara-cara kreatif untuk menarik perhatian siswa. Oleh karenanya, tim EYL mengemas pembelajaran ini melalui beberapa kegiatan yang menyenangkan. Siswa dibagi menjadi 3 kelompok, lalu secara bergiliran masing-masing kelompok akan belajar dengan 3 mentor yang merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris yang menempuh matakuliah EYL. Kegiatan pertama adalah Simon Says. Di sini, siswa diajak untuk menyanyi dan melakukan instruksi untuk memegang bagian tubuh yang diucapkan dalam bahasa Inggris. Selesai dari Simon Says, siswa diajak membaca buku cerita bergambar dengan mentor lain. Mentor meminta tiap siswa untuk mengulang tiap kosakata mengenai bagian tubuh yang ada dalam cerita tersebut. Selanjutnya, kegiatan yang menyedot antusias siswa adalah membuat roti karakter. Dibimbing mentor, siswa diajak untuk menggambar bentuk wajah dari roti tawar dengan susu kental manis dan permen. Sambil menghias roti tawar, siswa diminta menyebutkan bagian tubuh yang ada di wajah. Terakhir, ada 3 kertas manila yang digelar di lantai kayu gazebo. Tiap perwakilan dari masing-masing kelompok diminta merebahkan diri di atas kertas manila. Lalu, anggota kelompok yang lain menarik garis mengelilingi tubuh dengan pensil warna untuk membentuk gambar tubuh. Siswa lalu diminta menuliskan bagian tubuh apa saja yang telah tergambar tersebut. Salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Intan Dewi yang juga menjadi mentor cerita bergambar menuturkan, mata kuliah EYL telah banyak bekerja sama dengan berbagai SD di kota Malang. Setiap hari Minggu, puluhan siswa dari berbagai SD mulai kelas satu hingga kelas enam mengikuti pembelajaran EYL di UMM. “Ada berbagai program sesuai rancangan pembelajaran yang telah kami susun. Jadi bisa belajar Bahasa Inggris dalam bentuk indoor atau outdoor. Banyak wali murid yang antusias dengan kegiatan ini, karena anak-anak tak hanya menghabiskan waktu liburnya di depan gadget saja, tapi juga produktif dengan belajar Bahasa Inggris” urainya. (ich/han)

Lesson Study Hadirkan Sekolah Berbasis Komunitas

KEGIATAN International Conference on Lesson Study (ICLS) yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama tiga hari akhir pekan lalu (3-4/11) tak lepas dari peranan tiga dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM yang menjadi motor penggerak Lesson Study (LS) di Malang, yaitu Drs Nur Widodo MKes, Dr Roro Eko Susetya Rini MSi dan Dra Sri Wahyuni MKes. Roro Eko menyatakan, LS di UMM berawal dari program hibah Dikti tahun 2010. Di tahun kedua, LS UMM mulai mencari mitra sekolah yang mau bergabung dengan UMM. SMAN 2 Batu menjadi sekolah yang terpilih sebagai sekolah mitra UMM. Dalam hal ini, UMM sebagai Pembina. Ditanya mengenai sekolah berbasis komunitas, Eko menyatakan, saat ini LS UMM tengah menggandeng beberapa sekolah di wilayah Malang dan Batu sebagai sekolah  mitra. Secara kontinyu, dosen UMM bertindak sebagai pendamping dalam. Dosen FKIP yang juga tergabung dalam World Association of Lesson Study (WALS) ini memaparkan, sekolah berbasis komunitas ini dimaksudkan sebagai sekolah yang memiliki kesatuan visi antara komite, kepala sekolah, guru, wali murid, juga masyarakat. “Ada kesatuan visi yang diusung. Yakni salah satunya kolaboratif. Artinya, dalam sebuah kelas, bukan murid yang terbilang pandai saja yang akan menjadi titik perhatian guru dan makin dikembangkan, tetapi murid yang memiliki kepandaian lebih ini yang juga akan menggandeng dan mengajari teman di kelasnya. Prinsip ini sama dengan prinsip tutor sebaya,” jelasnya. Sehingga, lanjut Eko, tak hanya guru saja yang berperan dalam pengembangan murid, melainkan seluruh elemen yang terkait dengan kemajuan siswa. Semangat inilah yang kini tengah dibagikan sekolah berbasis komunitas pada sekolah yang belum bervisi sama. “UMM siap mendampingi dan membina sekolah untuk terwujudnya LS di sekkolah-sekolah,” tutur Eko. Sedikit mengungkap sejarah, Eko berkisah Prodi Pendidikan Biologi dan Pendidikan Matematika terpilih untuk melaksanakan LS di masa awal hibahnya. Tahun pertama hanya dipilih 1 mata kuliah. Proses dilanjutkan dengan sosialisasi terkait LS, workshop, lalu implementasi di mata kuliah di biologi dan matematika. Memasuki tahun ke-2, LS mulai melakukan diseminasi ke program studi lain di FKIP, yakni PGSD dan Bahasa Indonesia. Tahun inilah, Di tahun terakhir penyelenggaraan program, yakni tahun ke-3, diseminasi terus dilakukan ke prodi Bahasa Inggris dan PPKn. Sehingga, saat ini semua prodi di FKIP sudah pernah melaksanakan minimal sekali LS. Di jurusan biologi, meski proyek telah rampung digelar 3 tahun silam, tapi pelaksanaan LS masih berlangsung hingga saat ini. (ich/han)

Peserta Konferensi ICLS Kunjungi Sekolah Pantau Lesson Study

KEGIATAN International Conference on Lesson Study (ICLS) dan Education Colloquium (EC) yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama tiga hari (3-5/11) tidak hanya berupa seminar dan dialog, namun juga diiringi kunjungan ke tiga sekolah di Malang (school visit) yaitu SD Anak Saleh, SD Negeri Kauman 1 dan MTs Muhammadiyah 1 Tlogomas yang berlangsung pada hari kedua, Jumat (4/11). Peserta kegiatan ini tidak hanya berasal dari Indonesia tapi juga dari Jepang, Singapura, Thailand, Rumania, Amerika, Malaysia, dan Filipina. Mereka pun turut terlibat dalam kunjungan ke tiga sekolah tersebut, agar dapat melihat best practice pelaksanaan lesson study, yaitu sejauh mana model pembelajaran ini berdampak bagi siswa. Penggagas ICLS dari Gakusyuin University Jepang Prof Manabu Sato yang turut serta dalam kunjungan sekolah ini menilai, ICLS akan membawa peningkatan kualitas pendidikan bagi UMM. ICLS berkomitmen pada UMM karena kampus ini dipandang mampu mendampingi sekolah-sekolah untuk pelaksanaan lesson study. Sementara itu, pengurus pusat Asosiasi Lesson Study Indonesia (ALSI) Drs Nur Widodo MKes menyatakan, ketiga sekolah yang dipilih merupakan sekolah yang sudah terbiasa menggunakan sistem lesson study di setiap pembelajarannya. “Lesson study sendiri merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada murid, bukan guru,” ujar dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM tersebut. Menurut Nur Widodo, murid lebih banyak aktif dalam model pembelajaran ini. Dengan pembelajaran yang terfokus pada murid, lanjutnya, maka murid akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dengan cara ini pula, maka apa yang didapatkan murid memiliki efek jangka panjang, tak sekadar pemenuhan untuk untuk mendapatkan nilai saja. “Dengan diterapkannya lesson study di sekolah, siswa tak hanya mendapat nilai yang bagus, tapi kualitas siswa tersebut juga akan jelas terlihat,” terang Nur Widodo. Kepala sekolah SD Anak Saleh, Nurdiah Rachmawati menjelaskan, adanya model pembelajaran lesson study di sekolah merupakan tindak lanjut dari pembelajaran berbasis komunitas yang sudah dijalankan oleh guru di SD tersebut. “Dengan adanya lesson study ini kami sangat terbantu karena siswa dapat dengan mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru,” jelas Nurdiah. Selain itu, lanjut Nurdiah, guru dipermudah dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Keunggulan darilesson study ini diantaranya langkah-langkah pembelajaran yang dikemas dalam bentuk mind-mapping. Tampilan dari rancangan pembelajaran sengaja dibuat sesuai dengan yang dipikirkan guru. “Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sangat mudah dicerna sehingga siswa pun mudah memahami dengan cepat.” Nurdiah mencontohkan pelajaran Matematika yang notabene sangat susah. “Dengan model pembelajaranlesson study, Matematika dapat dengan mudah dipahami karena murid diberikan banyak waktu untuk berdiskusi guna memecahkan hitung-hitungan matematika tersebut,” papar Nurdiah. Ke depan, pihak sekolah berharap ada tindak lanjut dari kunjungan sekolah tersebut. “Kerjasama antara sekolah dan UMM ini tentunya akan memperkuat model pembelajaran lesson study ini di setiap sekolah,” ujar Nurdiah. (jal/han)

Hadir di UMM, Para Pakar Internasional Kembangkan Lesson Study

INTERNATIONAL Conference on Lesson Study (ICLS) dan Education Colloquium (EC) resmi dibuka Kamis (3/11) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berbagai negara turut hadir dalam event prestisius ini, di antaranya Jepang, Singapura, Thailand, Rumania, Amerika, Malaysia, dan Filipina. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM Dr Poncojari Wahyono, dalam sambutannya menyatakan, ICLS adalah media bagi para peneliti, akademisi, dan pendidik profesional untuk saling bertukar ilmu mengenai lesson study (LS). Pendiri sekaligus presiden Asosiasi Lesson Study Indonesia (ALSI), Sumar Hendayana PhD memaparkan bahwa LS adalah sarana untuk mempromosikan pembelajaran secara terus-menerus melalui perbaikan dan pemberdayaan komunitas sekolah. Menurutnya, dampak positif dari penyelenggaraan komunitas belajar ini adalah terjaringnya talenta-talenta. ICLS adalah konferensi internasional dengan ciri khas school visit ke sekolah yang sudah berhasil menjalankan LS. Dari sini, peserta school visit dapat melihat best practice pelaksanaan LS. Prof Manabu Sato yang merupakan ICLS Founder dari Gakusyuin University Jepang, dalam paparannya menyampaikan, karakteristik masa depan sekolah sebagai komunitas belajar atau School as Learning Community (SLC) bukanlah resep, teknik, atau formula, melainkan serangkaian visi, filosofi, dan aktivitas yang terangkum dalam sebuah sistem. SLC juga tidak terbentuk melalui pendekatan pribadi, melainkan praktek yang terintegrasi untuk aktif, kolaboratif, pembelajaran reflektif, pembelajaran yang berpusat pada LS, professional kolegial, otonomi sekolah, dan sekolah yang demokratis. Tak hanya itu, SLC juga bergantung pada ‘kemampuan mendengarkan’. Kemampuan mendengarkan dimaksudkan sebagai poin awal dalam pembelajaran karena akan menciptakan komunikasi dialogis, dimana dialog akan memunculkan kemungkinan untuk bergaul dengan rekan sejawat. Kini, semua anggota ALSI giat mengembangkan pembelajaran berbasis LS di sekolah mitra di daerah masing-masing. UMM, dengan menjadi tuan rumah penyelenggara ICLS ketujuh mulai bergerak membina sekolah di Batu dengan membentuk LS Community. “ICLS akan membawa peningkatan kualitas pendidikan bagi UMM. ICLS dan EC berkomitmen pada UMM sebagai institusi yang diyakini akan menjadi universitas kelas dunia,” kata Manabu Sato. (ich/han)