PSLK UMM Gandeng KEI Kembangkan Pulau Terpencil

PUSAT Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng Kangean Energy Indonesia (KEI) dalam penyelenggaraan penelitian dan pengabdian masyarakat di kepulauan terpencil di Jawa Timur. Penandatanganan kerjasama dilakukan bersamaan dengan digelarnya kajian interdisipliner di Ruang Sidang Senat (RSS) UMM, Selasa (31/5). Kepala PSLK UMM, Husamah, S.Pd.,M.Pd mengatakan kerjasama ini terjalin untuk mengimplementasikan misi PSLK UMM untuk pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat. Salah satu kerjasama yang akan dilakukan, lanjut Usamah, adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Sapeken, Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep. Usamah menjelaskan mayoritas penduduk Sapeken yang bermata pencaharian nelayan tangkap masih berkutat pada masalah kemiskinan. Padahal Sapeken memiliki potensi perikanan yang besar seperti budidaya rumput laut. “Sayangnya, masih rendahnya pendidikan dan pengetahuan masyarakat, serta minimnya pendampingan menyebabkan potensi yang ada tidak teroptimalkan dan bahkan terjadi kerusakan sumberdaya akibat salah pengelolaan,” terang pria asli Pulau Sapeken ini. Oleh karenanya, dengan kerjasama ini Usamah menjelaskan ada beberapa permasalaha pokok yang menjadi prioritas penanganan di dua desa di Sapeken yakni Desa Pagerungan Kecil dan Desa Sadulang Besar. Kedua desa ini juga merupakan sasaran program CSR KEI . “Kami berikan peningkatan pengetahuan dan keterampilan nelayan Sapeken dalam membudidayakan hasil laut sehingga hasil panennya bisa meningkat, pendapatan meningkat,” paparnya. Sementara itu Vice Presiden Public Relation and General Affair KEI, Is Nugroho memaparkan mengaku senang dengan kerjasama yang terjalin dengan UMM. Menurutnya, UMM adalah salah satu kampus yang terpercaya dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat. “UMM adalah PTS terbaik di Jawa Timur bahkan Indonesia yang memiliki keunggulan serta komitmen tinggi dalam penelitian dan pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Is Nugroho. Is Nugroho memaparkan berbagai pelatihan dan contoh konkrit telah dilakukan KEI dalam mengembangkan masyarakat selama berpuluh-puluh tahun. Dampaknya pun, lanjut Is telah dirasakan begitu besar oleh masyarakat. “Kami melakukan program pengembangan di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, perikanan, ekonomi dan bidang lainnya,” imbuhya. Selain dengan KEI, Dalam acara tersebut PSLK dan Prodi Biologi UMM juga menandatangani kerjasama dengan Kaliandra Sejati Foundation. Hadir Kerjasama ini ditargetkan meliputi penerapan tri dharma perguruan tinggi serta implementasi good governance. Sebelumnya PSLK UMM telah menjalin kemitraan dengan PSLH Universitas Indonesia, LIPI Purwodadi, dan Pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL). Kedepan, PSLK UMM akan melakukan implementasi MoU dalam pengembangan masyarakat, advokasi lingkungan, konservasi, dan pendidikan lingkungan berbasis kampus. (gas/nas)
Prestasi UMM Kebanggaan Mahasiswa dan Alumni

UNTUK kesembilan kalinya, UMM mempertahankan predikatnya sebagai kampus terunggul di Kopertis VII Jawa Timur. Rektor UMM, Fauzan, menerima piala Anugerah Kampus Unggul (AKU) dari koordinator Kopertis VII, Prof Suprapto, disela-sela acara Rakerpim Perguruan Tinggi di hotel JW Marriot Surabaya, Kamis (26/5). Penyerahan secara simbolik piala AKU dilakukan di depan prosesi wisuda ke-80 periode II tahun 2016, hari ini (28/5) di UMM Dome. UMM dinilai sebagai kampus kategori universitas yang berhasil mempertahankan keunggulan-keunggulan dalam empat bidang. Yakni, pendidikan dan kerjasama; pendidik dan tenaga kependidikan, penelitian dan pengabdian; serta pengajaran dan pembinaan kemahasiswaan. UMM mengungguli Universitas Petra Surabaya dan Universitas Surabaya, yang masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga. Menurut koordinator Kopertis VII, Prof. Soeprapto, kampus swasta harus mampu menunjukkan kualitasnya setelah meraih peringkat secara kuantitatif melebihi kampus negeri. “Saat ini sudah banyak kampus swasta yang lebih unggul dari kampus negeri, termasuk UMM ini,” tuturnya. Prestasi UMM membuat mahasiswa dan alumni ikut bangga. Rohana, mahasiswa asal Kepanjen Malang, mengaku sejak sebelum menjadi mahasiswa sering mendengar perolehan prestasi UMM. “Ternyata bertahan sampai saat ini, alhamdulillah. Selamat ya pak rektor,” kata mahasiswa Komunikasi ini. Hal senada diungkapkan M. Zulfikar Akbar asal Bontang Kalimantan Timur. Lulusan yang ikut diwisuda ini menjadikan prestasi UMM sebagai alat ukur memasuki dunia kerja. “Siapa sih yang tak kenal UMM. Alhamdulillah saya dan teman-teman dulu juga menyumbangkan prestasi prestasi loh,” katanya. Zulfikar pernah meraih Juara I lomba penulisan jurnalistik tingkat nasional di Universitas Indonesia. Selain kampusnya meraih piala AKU, mahasiswa UMM juga sedang panen prestasi. Tim mahasiswa Fakultas Hukum memenangkan kompetisi Debat Konstitusi Nasional di dua tempat sekaligus, yaitu di Universitas Muhammadiyah Yogjakarta dan Universitas Mataram. Sedangkan UKM pecinta alam Dimpa dalam lomba lintas medan di Semarang. Rektor UMM mengaku pencapaian ini sebagai landasan untuk bekerja lebih keras. Pihaknya tak mau terjebak pada indikator administratif sehingga menurunkan produktivitas. “Tidak ada pilihan selain memacu kualitas dan luaran-luaran yang dapat dirasakan masyarakat luas. Intinya hilirisasi menjadi pilihan mutlak bagi kita saat ini,” tegas Fauzan. (nas)
Doktor Pertama PAI UMM Ini Asli Singapura dan Lulus Tercepat
BAGI Nek Mah Binti Batry, studi Doktoral di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah masa yang paling berkesan dalam hidupnya. Bagaimana tidak, wanita asli Singapura ini sempat hampir berhenti di tengah jalan jika saja sang suami, Abu Bakar, tidak menguatkan mentalnya. Justru dengan spirit dari suaminya itulah Nek Mah menyelesaikan Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan masa studi paling cepat, yakni 2,8 tahun. Tak hanya itu, ia juga merupakan lulusan pertama dari Program Doktoral PAI UMM sejak didirikan tiga tahun lalu. “Ketika di pertengahan kuliah S3, ada keinginan untuk berhenti kuliah. Tetapi suami mengatakan begini…lakukan yang terbaik, demi Allah pada saat manusia memerlukan seorang Ustadzah yang dapat membuka pikiran masyarakat mencari kesamaan bukan mencari kesalahan,” kata Nek Mah mengenang masa kuliahnya. Nek Mah menjadi salah seorang dari wisudawan yang dikukuhkan rektor UMM, Fauzan, Sabtu (28/5). Dalam wisuda ini, UMM melepas 1.337 wisudawan yang terdiri dari lulusan Program Diploma III, Sarjana Strata 1, Strata 2 dan Strata 3. “Alhamdulillah, demi agama, bangsa dan negara, dengan menjadi wisudawati pertama di Fakultas Pendidikan Agama Islam di UMM saya dengan rasa senang telah menyatukan UMM dengan negara Singapura. Malahan di Singapura saya merupakan Ustadzah pertama dengan gelar Doktor Pendidikan Agama Islam,” ungkap Nek Mah bangga. Sosok Nek Mah tak asing lagi bagi warga kampus I UMM yang menjadi pusat perkuliahan pascasarjana. Sebab sejak lima tahun terakhir, ia memang menempuh studi di kampus itu. Lulusan S1 di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Johor Malaysia ini melanjutkan studi Magister Ilmu Agama Islam UMM. Tak lama setelah itu ia langsung mendaftar di S3 PAI di kampus yang sama sebagai mahasiswa pertama. Tak hanya gelar Doktor dari UMM, Nek Mah ternyata juga sedang menempuh PhD di UTM. “Insya Allah Juni akan selesai di Fakulti Fiqh dan Sains Teknologi,” aku Nek Mah yang juga pengurus pendidikan di Madrasah aLIVE dan An-Nahdhah Mosque Singapura ini. Ia juga merupakan Dosen di Pusat Pendidikan Tinggi Al Zuhri untuk Mahasiswa Diploma dan S1 Fakulti Pendidikan Islam, serta Psikologi dan Kaunseling Islam. Nek Mah berharap bisa membawa Prodi PAI UMM ini ke Singapura dalam jalinan kerjasama dengan lembaganya. “Karena ini merupakan satu program yang multikural yakni bukan saja di bidang agama tetapi melingkupi psikologi, sosial, budaya, ekonomi dan fenomena kontemporer. Melalui program PAI saya fikir lebih murni di dalam memahami konteks sebagai khalifah. Semoga UMM terus maju…Aamiin.” ungkapnya dalam bahasa Melayu yang khas. Ketua Program Studi Doktoral PAI UMM, Prof. Dr. Tobroni, MSi, menerangkan Prodi Doktor PAI UMM merupakan yang tertua di Malang dan bahkan Indonesia. Pihaknya ikut bangga karena telah melahirkan doktor dengan lulusan tercepat. Prodi ini, katanya, memiliki beberapa mahasiswa asing. Selain dari Singapura, ia juga punya mahasiswa dari Filipina, Thailand, Australia, Saudi Arabiyah, Australia dan Korea Selatan. “Sistem pendidikan di prodi ini kita buat kuliah teori berbasis riset dan fokus pada penulisan disertasi pada semester 1 dan 2. Seminar dan klinik penulisan proposal pada semester 3. Akhir semester 3 ujian pra proposal. Ujian proposal awal semester 4. Seminar hasil penelitian dan ujian tertutup semester 5 dan semester 6 ujian terbuka,” terang Tobroni yang juga pengurus Majlis Dikti Litbang PP Muhammadiyah ini. Selain itu, tambah Tobroni, PAI UMM juga memfasilitasi mahasiswa presentasi pada forum ilmiah internasional dalam wadah Assosiation Muslim Community in ASEAN (AMCA) dan penulisan jurnal internasional. (nas)
Prodi S1 Keperawatan dan Ners Raih Akreditasi B

DUA program studi di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (Fikes UMM) berhasil menaikkan status akreditasinya. Program studi Profesi Ners dan Program Studi Sarjana Keperawatan baru saja meraih hasil yg membanggakan yaitu akreditasi peringkat B (baik). Status ini meningkatkan perolehan akreditasi sebelumnya yaitu C (2009-2014) yang saat itu sebagai prodi baru dan belum meluluskan mahasiswa sebagai alumni. Dekan Fikes UMM, Yoyok Bekti Prasetyo S.Kep., M.Kep., Sp.Kom., mengatakan akreditasi ini diumumkan secara resmi oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAM PTKes). LAM PTKes merupakan lembaga akreditasi mandiri yang merupakan metamorpose BAN PT yang secara khusus melakukan asessment pd program studi dirumpun ilmu kesehatan sejak tahun 2015. Prodi studi sarjana keperawatan terakreditasi B dengan surat no.0568/LAM-PTKes/Akr/Sar/V/2016 sedangkan prodi profesi ners terakreditasi B dengan surat No. 0569/LAM-PTKes/Akr/Pro/V/2016. Akreditasi berlaku dr tahun 2016 – 2021. “Akreditasi B yang diraih 2 prodi ini semakin menunjukkan komitmen UMM untuk menyelenggarakan pendidikan khususnya pendidikan keperawatan dengan baik dan berkualitas. Belum banyak prodi keperawatan di Indonesia yang terakreditasi B, karena sebagian besar pendidikan keperawatan di Indonesia masih terakreditasi C,” kata Yoyok. Ditambahkannya, Fikes UMM merasa bahwa peningkatan status itu tidak lepas dari peran pimpinan UMM, alumni, stakeholder yg telah mendukung atas capaian ini. “Tentu saja ini adalah nikmat akademik yang harus disyukuri dan sekaligus menjadi spirit untuk menjadi lebih baik,” tutur Yoyok. Prodi profesi Ners maupun Sarjana Keperawatan UMM memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki prodi dikumpul lain. menurut Kepala Prodi (Kaprodi) Profesi Ners, Sunardi, M.Kep, penyelenggaraan pendidikan profesi dilakukan di rumah sakit terbaik di Malang seperti Rumah Sakit Umum dr. Saiful Anwar Malang, RS tingkat 2 dr. Soepraoen Malang, Rumah Sakit Umum Daerah Kepanjen Malang yang telah terakreditasi paripurna, yang lebih penting jejaring dengan RS milik Muhammadiyah RS UMM, RS Muhammadiyah Lamongan, serta RS Ibu dan Anak Muhammadiyah Bojonegoro. Selain itu, tambah Kaprodi Keperawatan, Nurul Aini, M.Kep, para alumni juga terserap di RS ternama di Indonesia seperti Siloam Hospital hingga di luar negeri seperti Jepang. Saat ini kedua prodi dibimbing oleh dosen lulusan LN dan universitas ternama di Indonesia dengan kurikulum terbaru yang menggunakan model active learning yangg memungkinkan mahasiswa mendapat gelar sarjana keperawatan hanya dalam 7 semester. (nas)
Wisudawan Terbaik Akui dapat Bonus Pergaulan Internasional dari UMM

Bagi Meilia Puspita Sari, UMM adalah rumah keduanya. Bagaimana tidak, selama kuliah, lulusan terbaik ini lebih banyak menghabiskan waktunya di kampus daripada pulang ke kos. Aktivitasnya yang seabrek cukup untuk mengisi waktu untuk hal yang lebih produktif. “Di UMM ini saya dapat bonus. Selain lulus cepat dengan nilai sangat memuaskan, juga pengalaman pergaulan internasional,” cetus lulusan Ilmu Komunikasi peraih IPK 3,96 ini. Putri dari pasangan H. Sausa Choiri dan Hj. Sutriwin asal Mojokerto ini pertama kali aktif di organisasi kepemudaan internasional bernama AIESEC. Di kegiatan inilah, Meilia mulai mengenal dunia internasional. “Saya ikut berbagai proyek AIESEC bersama dengan mahasiswa asing baik yang dari UMM maupun mahasiswa anggota AIESEC dari negara lain,” ujar lulusan dari program studi Ilmu Komunikasi ini. Keaktifannya di AIESEC, mengantarkan Meilia sampai pada posisi Vice President of Marketing Communication AIESEC UMM. Diposisi ini, ia punya tanggungjawab mencetak pemimpin-pemimpin baru dan bertugas memperkenalkan AIESEC UMM kepada mahasiswa dan masyarakat. “Sesuai dengan motto AIESEC kanEmpowering young people for Peace and the Fulfilment of Humankind’s Potential.Jadi sudah tugas saya juga memaksimalkan potensi-potensi pemuda agar mampu berguna bagi dirinya dan sekitarnya,” kata Mei, sapaan akrabnya. Selain AIESEC, pengalaman internasional lainnya yakni saat bersama sembilan mahasiswa UMM lainnya terpilih mendapatkan beasiswa dari Temasek Foundation, Singapura, Mei 2015 lalu. Ia masuk sepuluh mahasiswa yang terpilih berangkat ke Singapura. “Di Singapura, kita diajarkan bagaimana respek terhadap orang lain. Itu yang ingin saya terapkan di sekitar saya, bagaimana agar menghargai satu sama lain,” tutur Mei. Tak hanya itu, Mei juga pernah menjadi pendamping dalam kegiatan Indonesian Girl Leading Our World yang diadakan oleh Peace Corps Amerika Serikat. Bersama dengan mahasiswa lain di Malang baik S1 dan S2, ia mendampingi beberapa volunteer dari Amerika Serikat untuk mengabdi di SMAN 1 Pagak pada awal Januari 2016 lalu. Meilia merupakan satu dari sekian banyak mahasiswa UMM yang membuktikan jika pengalaman Internasional yang dimilikinya tidak mengganggu aktivitas akademiknya. “Jangan pernah menyerah dengan apa yang kamu impikan. Lebih baik mencoba lalu gagal daripada tidak mencoba sama sekali. Karena saya percaya, dari 99 persen kegagalan, ada 1 persen kemungkinan keberhasilan,” pungkasnya. (zul/nas)
Orasi di Wisuda UMM, Kapolri: Manfaatkan Era Digital Native

KEHADIRAN Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin memperkuat relasi ideologis dengan persyarikatan Muhammadiyah. Sebagaimana dikatakan Rektor UMM, Fauzan, Badrodin memiliki hubungan khusus dengan Muhammadiyah karena merupakan putra ulama Muhammadiyah di Jember, Ahmad Haiti. Lawatan Kapolri ke UMM dalam rangka memberi orasi ilmiah di hadapan 1.337 lulusan pada wisuda ke-80 periode 2 tahun 2016, yang berlangsung di Hall UMM Dome, Sabtu (28/5). Selepas orasi, Jenderal Badrodin dikukuhkan sebagai keluarga kehormatan UMM melalui penyematan jas almamater oleh Ketua Badan Pembina UMM, Prof Abdul Malik Fadjar. Badrodin mengakui, UMM telah sukses menjadi kampus unggulan yang disegani secara nasional. “Sebagai kampus swasta, termasuk yang maju pesat. Harus dijaga terus agar tetap menjadi kebanggaan semuanya,” tandasnya. Ia lantas berpesan pada lulusan UMM agar memiliki wawasan yang luas dalam memahami keanekaragaman dan mampu beradaptasi terhadap perubahan situasi sosial. “Kritis itu penting, tapi juga harus mampu memilah informasi yang kita terima,” ujar pria kelahiran Jember ini. Untuk itu, Badrodin mengajak wisudawan untuk bisa berkreasi dan berinovasi di era media sosial. Ia menyebut masyarakat saat ini, khususnya kalangan muda sebagai digital native di mana seluruh elemen hidupnya bersentuhan langsung dengan teknologi. “Masyarakat ini menggeser pre digital age, yakni masyarakat yang hampir sama sekali tidak mengenal teknologi, serta digital immigrant, yakni masyarakat peralihan yang separuh usianya hidup dalam perkembangan teknologi dan mengikutinya,” paparnya. Ia berharap, era ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh kalangan akademisi dengan cara-cara yang positif. Di Indonesia, Badrodin mengungkap, belakangan ini marak bermunculan efek negatif sosial media dalam betuk kejahatan digital atau cyber crime. “Sekarang media sosial sudah mengalahkan televisi dan koran. Masyarakat beralih mendapatkan berita dari portal-portal online. Konten yang dimuat sangat variatif, sedangkan validitasnya juga beragam. Hal ini bisa mengundang kejahatan di dunia maya,” jelasnya. Kapolri berharap, masyarakat memiliki kontrol pribadi yang kuat atas semua informasi yang tersedia. Gelaran wisuda kali ini juga ditandai dengan penandatanganan naskah kerjasama (MoU) dengan tiga pihak serta penyerahan secara simbolis piala penghargaan Anugerah Kampus Unggulan (AKU) oleh Koordinator Kopertis Wilayah VII Prof Suprapto, yang menandai UMM sebagai kampus swasta terbaik di Jawa Timur. UMM selalu meraih piala AKU selama sembilan tahun beruntun, yaitu sejak dirilis pada 2008 hingga 2016. Sementara itu penandatanganan MoU dilakukan UMM dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk program Education USA, Konsul Jenderal China untuk pendirian China Corner di UMM, serta Komandan Lanud Abdurrahman Saleh untuk pengembangan tanaman herbal. “Penandatanganan ini menandai perluasan dan penguatan kemitraan UMM dengan berbagai pihak. Sebelum ini, kita baru saja menjalin kerjasama dengan Kyungdong University Korea, mendirikan UMM Corner di Thailand, menjajaki riset bersama dengan Polandia, dan perluasan kerjasama dengan Uni Eropa,” terang Fauzan. Sedangkan dengan pihak dalam negeri, kerjasama juga dijalin erat dengan beberapa Pemda, perusahaan swasta, asosiasi-asosiasi, serta kampus-kampus lain. Fauzan optimis melalui kerjasama ini UMM akan menjadi kampus yang memiliki jaringan luas di tingkat global. “Kita harus menjadi aktor globalisasi, jangan menjadi obyeknya saja,” tuturnya. (ich/han)
Lewat Panggung Budaya, LK Populerkan Lagu Pernikahan Islami

LEMBAGA Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Malam Ekspresi Seni dan Budaya (Maksidaya) ke-4 di Helipad UMM, Kamis (26/5) malam. Maksidaya kali ini mengusung tema “Islamic Wedding Song”. Kepala LK UMM, Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si mengatakan tema ini diangkat dilatari keprihatinannya terhadap maraknya pernikahan di masyarakat yang keluar dari konsep Islami meskipun dari lingkungan yang mayoritas muslim. “Karenanya LK UMM lewat gelaran ini memiliki concern untuk selalu melakukan dakwah kultural untuk memperbaikinya,” jelasnya dihadapan ratusan mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut. Lewat gelaran kali ini, lanjut Tri, LK UMM juga ingin memberikan inspirasi kepada mahasiswa UMM yang nantinya akan melalui jenjang pernikahan nantinya. Ia berpesan kepada mahasiswa untuk memahami bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan benar-benar harus direncanakan agar menghasilkan keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. “Lewat keluarga yang samawa, Insya Allah bangsa ini akan menjadi bangsa yang berkemajuan dan berkeberadaban,” ujarnya. Gelaran Maksidaya ini dimeriahkan dengan berbagai penampilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di UMM diantaranya Ikatan Aktivitas Band Mahasiswa (Ikabama), Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gita Surya, Mahasiswa Peminat Fotografi (FOKUS), UKM Seni Sansekerta, UKM Radio UMM FM. Mereka semua menampilkan pertunjukan bertemakan pernikahan. Asisten Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Akademik, Drs. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si yang secara resmi membuka gelaran ini mengatakan lewat Maksidaya, UMM ingin mendidik masyarakat khususnya mahasiswa untuk selalu menghargai dan mengapresiasi segala bentuk kara seni dan budaya yang ada. “Seni dan budaya adalah sesuatu yang harus kita diteruskan ke generasi selanjutnya, maka kita wajib menjaga nilai-nilai luhur yang ada didalamnya, lewat penghargaan seni dan budaya maka suatu bangsa akan maju peradabannya,” pungkasnya. Maksidaya sendiri merupakan gelaran rutin yang diselenggarakan dua kali dalam setahun yakni pada Mei dan September. (Gas/Han)
Pertahankan AKU, UMM Fokus Hilirisasi Hasil Riset

UNTUK kesembilan kalinya, UMM mempertahankan predikatnya sebagai kampus terunggul di Kopertis VII Jawa Timur. Rektor UMM, Fauzan, menerima piala Anugerah Kampus Unggul (AKU) dari koordinator Kopertis VII, Prof Suprapto, disela-sela acara Rakerpim Perguruan Tinggi di hotel JW Marriot Surabaya, Kamis (26/5). UMM dinilai sebagai kampus kategori universitas yang berhasil mempertahankan keunggulan-keunggulan dalam empat bidang. Yakni, pendidikan dan kerjasama, pendidik dan tenaga kependidikan, penelitian dan pengabdian, serta pengajaran dan pembinaan kemahasiswaan. Menurut Suprapto, UMM lebih unggul daripada Universitas Petra Surabaya dan Universitas Surabaya, yang masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga. “Kampus lain skornya semakin membaik, semakin mengejar, pertanda persaingan sangat ketat. UMM harus lebih maju lagi,” katanya. Tantangan ke depan, menurut Suprapto, kampus swasta harus mampu menunjukkan kualitasnya setelah meraih peringkat secara kuantitatif melebihi kampus negeri. “Saat ini sudah banyak kampus swasta yang lebih unggul dari kampus negeri, termasuk UMM ini,” tutur Soeprapto. Rektor UMM mengaku pencapaian ini sebagai landasan untuk bekerja lebih keras. Pihaknya tak mau terjebak pada indikator administratif sehingga menurunkan produktivitas. “Tidak ada pilihan selain memacu kualitas dan luaran-luaran yang dapat dirasakan masyarakat luas. Intinya hilirisasi menjadi pilihan mutlak bagi kita saat ini,” tegas Fauzan. Saat ini beberapa hasil riset UMM yang sudah dirasakan oleh masyarakat sudah cukup banyak. Seperti, riset energi alternatif, ketahanan pangan, dan sebagainya. Untuk itu pihaknya memacu agar terus menjadi inovator yang kemanfaatannya bersentuhan langsung dengan masyarakat luas. “Pengakuan AKU ini harus mengejewantah dalam bentuk keunggulan-keunggulan yang lebih nyata. Untuk itu saya mengajak seluruh komponen universitas untuk tidak jumawa, sebaliknya harus terus menjaga marwah prestasi ini dengan bekerja keras, cerdas dan ikhlas,” pungkas rektor. Anugerah Kampus Unggul (AKU) pertama kali dirilis tahun 2008 oleh Kopertis VII. Berarti kali ini UMM sudah memperoleh AKU sebanyak sembilan kali berturut-turut. Selain kategori universitas, penghargaan juga diberikan kepada institusi dan akademisi, serta sekolah tinggi. (nas)
University of Technology of Compiagne Perancis Sambut Delegasi UMM

SEPULUH dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai fakultas dan jurusan melakukan kunjungan ke University of Technology of Compiagne (UTC), Perancis. Mereka terdiri dari Dr Rinikso Kartono, Dr Masduki, Dr Daroe Iswatiningsih, Dr Iswinarti, Dr Hari Windu Asrini, Dr Listiari Hendriningsih, Dr Agustinus, Dr Ahmad Mohyi dan Dr Pradana Boy ZTF. Rombongan dari UMM diterima oleh Direktur Hubungan Internasional UTC Olivier Schoefs, Direktur Program Akademik Patrick Lanceleur, Penanggung jawab European Projects Stephanie Rossard , Guru Besar bidang Urban System Engineering Jean-Louis Batoz, serta Wakil Direktur bidang Hubungan Internasional UTC Gaelle Dacqmine dan Anne-Sophie Radel. Acara diawali dengan pemaparan singkat tentang UMM oleh Pradana Boy ZTF, kemudian disusul dengan tiga presentasi dari UTC masing-masing oleh Olivier Schofs yang memberikan informasi mendasar tentang UTC. Kemudian dilanjutkan oleh Patrick Lanceleur yang berbicara tentang sistem pendidikan di UTC. Presentasi terakhir dari Stephanie Rossard yang menjelaskan tentang riset di UTC. Dalam presentasinya, koordinator delegasi UMM, Pradana Boy ZTF menyebutkan bahwa sebagai universitas dengan orientasi internasional yang sangat kuat, UMM sangat aktif dalam menjalin kerjasama dengan berbagai universitas di dunia global. “Maka kami berharap, kunjungan ini akan menjadi awal bagi terjalinnya kerjasama antara kedua universitas,” ungkap Pradana. Di sela-sela kunjungan, delegasi UMM diajak berkeliling kampus dan mengunjungi Center for Innovation yang merupakan laboratorium teknik terintegrasi. Kunjungan ke lab memberikan inspirasi yang sangat penting bagi delegasi UMM. “Sangat inspiratif,” komentar Dr Iswinarti di tengah-tengah kunjungan ke lab tersebut. Center for Innovation menyediakan berbagai fasilitas bagi eksperimentasi dan inovasi dalam bidang sains dan teknologi mutakhir. Di dalamnya, dosen dan mahasiswa berkolaborasi dalam merancang temuan-temuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya teknologi. Menariknya, meskipun UTC adalah universitas teknologi, perhatian pada bidang humaniora juga sangat tinggi. Olivier Schoefs menjelaskan, mahasiswa UTC dibekali dengan mata kuliah seperti etika, teknologi dan masyarakat, atau sejarah, agar teknologi yang mereka kuasai tidak terpisah dari masyarakat dan menuju ke arah yang salah. “Semua mahasiswa wajib menempuh mata kuliah humaniora yang jumlah totalnya kira-kira tiga puluh persen dari seluruh mata kuliah,” jelas Olivier. Kedua belah pihak diakhir pertemuan saling menawarkan kemungkinan kerjasama. Menurut Oliver, banyak hal yang bisa dilakukan untuk kerjasama, misalnya pengiriman mahasiswa magang atau dosen untuk studi lanjut di UTC. Olivier berjanji dalam waktu dekat akan melakukan kunjungan balasan ke UMM. “Bulan November kami ada agenda kunjungan ke Indonesia, dan mengunjungi UMM, adalah bagian dari agenda kami,” kata Olivier. (boy/zul/nas)
Hadirkan Gayus Lumbuun, FH UMM dan APPTHI Urai Konsep Kerja Sosial bagi Narapidana

SANKSI kerja sosial merupakan pidana alternatif yang mampu mengurai masalah kelebihan kapasitas warga binaan di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Hal ini disampaikan Hakim Mahkamah Agung RI, Gayus Lumbuun saat menghadiri seminar nasional yang diselenggarakan Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (25/5). Dalam seminar bertajuk “Rekonstruksi Konsep Pembinaan Narapidana Berbasis Kerja Sosial” ini Gayus mengatakan, sanksi kerja sosial merupakan upaya menjunjung prinsip restorative justice. Dengan prinsip tersebut, ia menjelaskan, kepentingan korban dan masyarakat juga dipertimbangkan. “Memaksakan narapidana menghuni Lapas yang sudah dalam keadaan penuh sesak kadang justru membuat narapidana terjerumus dalam bentuk kejahatan baru,” terangnya. Gayus menerangkan, tidak semua hukuman bisa digantikan dengan pidana kerja sosial. Berdasarkan RUU KUHP, hukuman kerja sosial merupakan alternatif terakhir bagi hakim setelah mempertimbangkan jenis pidana lain. “Syarat untuk untuk menjatuhkan hukuman kerja sosial pun tidak gampang, setidaknya hakim wajib mempertimbangkan pengakuan bersalah terdakwa,” imbuhnya. Berdasarkan Pasal 79 ayat 1 RUU KUHP sudah tegas menyebut batasan untuk bisa dikenakan sanksi kerja sosial. Dalam pasal tersebut dijelaskan jika pidana penjara yang akan dijatuhkan tidak lebih dari enam bulan. Senada dengan Gayus, Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham, I Wayan Kusmiantha Dusak sepakat jika pidana kerja sosial dijadikan alternatif dalam penegakan hukum di Indonesia.Ia tidak menampik jika berlebihnya muatan di sebuah Lapas memicu terjadinya tindak kejahatan di dalamnya. “Kerja sosial bisa mengurangi dampak negatif pemenjaraan dan meminimalisir tindak kejahatan di Lapas,” paparnya. Wayan memaparkan ada dua sanksi pidana kerja sosial yang pelaksanaanya diawasi oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas) yakni konvensional dan non-konvensional. “Konvensional contohnya seperti narapidana bekerja menyapu jalan tanpa digaji, kalau yang non-konvensional itu seperti narapidana mantan lawyer misalnya, bisa bekerja di firma hukum dengan digaji, tapi gajinya untuk PHBP negara,” terangnya. Kegiatan seminar dihadiri oleh Dekan Fakultas Hukum (FH) di 142 perguruan tinggi swasta yang tergabung di APPTHI. Ketua Umum APPTHI, Laksanto Utomo mengatakan, semnas ini diselenggarakan atas keprihatinan forum dekan seluruh Indonesia dengan MA. “Kami ingin mengkoreksi lembaga yang agung ini, untuk mengembalikan akuntabilitasnya,” paparnya. Salah satu bentuk keprihatinan tersebut dituangkan dalam buku yang ditulis oleh APPTHI yang berjudul “Akuntabilitas Mahkamah Agung”. Laksanto menerangkan, buku tersebut nantinya akan digunakan APPTHI untuk disampaikan ke forum yang lebih tinggi. “Kami sampaikan ke lembaga-lembaga nasional yang memiliki keinginan untuk membersihkan lembaga hukum agar lebih kredibel,” ungkapnya. Sementara itu, Dekan FH UMM, Sulardi yang mempradonesia (APHI), Ahmad Sudiro dan Pakar Hukum Pidana FH UMM, Sidiq Sunaryo. (gas/han)