BK Fun Bridge Akrabkan Mahasiswa dengan UPT BK

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bimbingan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperingati Anniversary BK UMM ke-23 dengan menggelar event “BK Fun Bridge”. Kegiatan diadakan di sepanjang Gazebo dan Jembatan GKB I UMM, dihadiri mahasiswa dan dosen UMM, Rabu (25/5). Ketua UPT BK UMM Mohammad Sohib dalam sambutannya mengatakan, kegiatan BK Fun Bridge ini merupakan puncak dari rangkaian acara memperingati 23 tahun BK UMM. Selain itu, ia berharap BK terus bersinergi dengan berbagai pihak di UMM demi kesuksesan karir mahasiswa, dosen dan seluruh civitas akademika. Gelaran ini juga diisi launching layanan baru Lembaga Konseling dan Terapi Psikologi (LKTP) dan launching logo baru BK oleh Wakil Rektor III UMM, Sidik Sunaryo. Kegiatan ini turut didukung tim PR Idea Laboratorium Ilmu Komunikasi UMM. Tema “BK Fun Bridge” digunakan untuk mengubah persepsi mahasiswa tentang BK. Sesuai dengan riset sebelumnya oleh PR Idea bahwa Kebanyakan mahasiswa beranggapan BK adalah tempat yang menakutkan, memalukan, dan identik dengan BK di sekolah yang mirip polisi. Sohib menilai, 23 tahun usia BK UMM merupakan usia yang cukup matang. BK berkembang kian dewasa dan matang. “Semoga hal itu bisa membantu persoalan pengembangan sumber daya manusia di UMM,” papar Sohib. Acara BK Fun Bridge terbagi menjadi tiga sesi, yaitu BK info center, games area dan booth kuliner. Pada BK info center pengunjung bisa melakukan free psikotes dan Konseling on the spot. Di area games terdapat beberapa permainan era 90an seperti dakonan, ular tangga, klompen, engklek dan beberapa permainan kekinian BK challenges dengan mengunggah foto menggunakan tagar yang dikirim ke @upt.bkumm. Salah satu permainan yang digandrungi mahasiswa yaitu permainan lempar balon berhadiah, di mana balon-balon tertata rapi untuk siap dilempar jarum. Di booth makanan pun tak kalah ramainya, di antara yang disajikan yaitu es dung-dung dan kembang gula. Selain itu, ada pula booth free psikotes, konseling on the spot, penampilan akustik dan bubble party. Ketua Pelaksana BK Fun Bridge Sathi’ul Burhan berharap, selepas acara ini mahasiswa tak lagi enggan ke BK, tidak bingung melakukan psikotes di luar kampus. “Harus lebih sering memanfaatkan BK untuk masa depan di bidang psikologi. Seluruh layanan di BK itu gratis. Datang saja ke BK,” tutupnya. (roh/han)
Thailand Festival Tandai Berdirinya Thailand Corner di UMM

SETELAH sebelumnya meluncurkan China Corner, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini secara resmi telah memiliki Thailand Corner. Keberdaan corner-corner itu sekaligus melengkapi American Corner dan Saudi Arabian Corner yang sebelumnya telah berdiri di UMM. Peresmian Thailand Corner yang berlangsung di area Gazebo Perpustakaan Pusat UMM ini ditandai dengan gelaran Thailand Festival yang menampilkan ragam khazanah dan kuliner Thailand. Festival yang berlangsung pada Selasa (24/5) ini diselenggarakan oleh International Relation Officer (IRO) UMM bekerjasama denganunit Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA)UMM. “Ini untuk mengenalkan budaya Thailand di Indonesia, sekaligus launching Thailand Corner yang bertempat di lantai III Perpustakaan Pusat UMM. Ada beberapa booth pada event ini, yaitu makanan, budaya, bahasa, dan souvenir,” terang kepala IRO UMM, Abdul Haris. Terdapat sejumlah stan makanan yang menyediakan bermacam-macam kuliner khas negara Gajah Putih ini. Semuanya dibagikan secara cuma-cuma pada pengunjung. Mereka cukup menukarkan kupon yang didapat saatregistrasi untuk mendapatkan makanan tersebut. Salah satu stan makanan adalah yang terletak di ujung barat halaman perpustakaan. Stan bernama“Kudapan” ini menyediakan empat jenis makanan ringan khas Thailand. “Ada man boan ataumanisan labu, khoa pod buad yaitu jagung rebus yang dimakan dengan santan manis, look chubyang berbentuk bulat dengan isian kacang hijau kupas, seperti kue klepon di Indonesia, ada jugafog hiang, kuning telur yang dikocok dan digoreng,” jelas Pandan, salah satu mahasiswa penerima beasiswa Darmasiswa asal Thailand. Antusiasme mahasiswa tampak dari panjangnya antrean di meja registrasi. Seluruh stan yang disediakan pun berjubel dikunjungi mahasiswa. Rata-rata mahasiswa tertarik untuk mencicipi makanan Thailand. Namun tak sedikit juga yang mengantre untuk membeli souvenir, salah satunya Mie Instan Rasa Tomyam. “Ini sangat luar biasa. Karena dari semua kampus di Malang, hanya UMM yang memiliki Thailand Corner. Semoga semua negara Asean nantinya memiliki corner di UMM. Sekarang sudah era MEA, ini penting untuk menjadi media pembelajaran mahasiswa tentang negara-negara Asean,” ungkap Imam Basuki Iswanto, mahasiswa Jurusan Sosiologi UMM setelah mengantre di salah stan makanan. “Terget 300 pengunjung. Alhamdulillah melebihi target, sampai ada kupon tambahan. Semoga Thailand Festival ini akan menjadi agenda yang bisa dilakukan setiap tahun,” harap Abdul Haris. Berdirinya Thailand Corner ini menandai semakin kuatnya kerjasama UMM dengan Thailand. Sebelumnya, pada Maret lalu, UMM menjadi kampus pertama yang memelopori lahirnya Indonesian Corner di Thailand, yang terletak di Ayutthaya Technical College. “Kehadiran Thailand Corner juga sangat strategis mengingat semakin banyaknya mahasiswa Thailand yang kuliah di UMM,” kata Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM, Soeparto.Saat ini, jumlah mahasiswa Thailand di UMM sebanyak 70 orang. Mereka tersebar di berbagai program studi di UMM, di antaranya Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, Ilmu Pemerintahan, Akuntansi, dan Hukum Islam. (ich/han)
FISIP Kukuhkan Calon Wisudawan
FAKULTAS Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan kelulusan mahasiswa pada acara yudisium periode II tahun 2016 di Auditorium UMM, Selasa (24/5). Jumlah mahasiswa yang dikukuhkan sebanyak 97 orang dari lima jurusan yakni Ilmu Komunikasi (Ikom), Hubungan Internasional (HI), Ilmu Pemerintahan (IP), Kesejahteraan Sosial (Kesos) dan Sosiologi. Yudisium secara resmi dibuka oleh Dekan FISIP, Asep Nurjaman. Dalam sambutannya, ia memaparkan empat hal yang harus dimiliki dan dipegang teguh oleh para alumni FISIP UMM untuk menghadapi persaingan di dunia luar. Pertama adalah ilmu. “Ilmu adalah modal kehidupan yang paling penting. Kehidupan tanpa ilmu akan sia-sia jadinya. Dengan ilmu kita bisa mendapatkan harta dan bisa menggapai kekuasaan, menuntut ilmu itu hukumnya wajib, maka kalian jangan lelah untuk terus mencarinya,” ujarnya. Kedua, lanjut Asep, mahasiswa harus memiliki kejujuran. Menurutnya, kejujuran adalah hal yang pasti dibutuhkan dalam setiap aspek kehidupan. “Dalam diri kalian harus diteguhkan kejujuran, saat ini tidak banyak orang yang memiliki kejujuran,” katanya. Tidak cukup hanya dengan kejujuran, yang ketiga, mahasiswa harus memiliki jiwa akuntabilitas. Yang dimaksud akuntabilitas, jelas Asep, yakni tanggung jawab terhadap diri sendiri. “Kita harus jadi manusia yang amanah, kita harus bisa menyelesaikan amanah yang sudah diberikan kepada kita, bahkan jika bisa harus lebih baik,” paparnya. Selain itu, yang terakhir, mahasiswa harus bisa membangun jaringan. Menurutnya, di era globalisasi saat ini membangun jaringan menjadi salah satu aspek penting untuk bisa bersaing. “Bangunlah jaringan tidak hanya dengan teman, tapi lingkungan yang lebih luas lagi, dengan begitu kita akan semakin banyak belajar,” pungkasnya. Dalam yudisium kali ini, diumumkan juga mahasiswa lulusan terbaik di tingkat jurusan dan fakultas yang dinilai dari raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Jurusan Ikom Meilia Puspita Sari, dengan IPK 3.96 menjadi wisudawan terbaik jurusan sekaligus fakultas. Ayu Trianggani Abas berhasil meraih IPK tertinggi di jurusan Kesos, yakni 3.78. Sementara itu, di jurusan IP, mahasiswa terbaik jatuh kepada Dewi Miftahul Jannah dengan raihan IPK 3.89. Selanjutnya, di jurusan Sosiologi ada nama Prisma Hastian dengan IPK 3.84. HI menempatkan nama Cyntia Lestari sebagai yang terbaik dengan IPK 3.37. (gas/han)
Kak Seto Ajak Mahasiswa FKIP Pahami Psikologi Anak Didik

BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Seminar Nasional Pendidikan menghadirkan Pakar Pendidikan Anak, Seto Mulyadi, Selasa (24/5) di Theater UMM Dome. Seminar mengangkat tema “Peran Profesionalisme Guru dalam Menjawab Pendidikan Menuju Generasi Emas”. Seto Muyadi mengatakan, guru yang diimpikan oleh murid adalah guru yang memperhatikan dan mengerti dunia anak-anak yang dididik. “Itulah guru yang sukses dan profesional. Itulah guru yang keren, yaitu guru yang memahami psikologi anak didik,” kata tokoh pendidikan yang akrab dipanggil Kak Seto ini. Berbagai kekerasan terhadap anak yang terjadi belakangan ini tak luput dari perhatian Kak Seto. Baginya, fenomena tersebut tak bisa dilepaskan dari didikan guru dan orang tua pada anak saat kecil. Kak Seto mencontohkan stereotype anak nakal yang identik dengan dijewer ibunya, dibentak bapaknya, dan dihukum gurunya. “Nanti kalau sudah jadi guru atau sudah berkeluarga, punya anak-anak yang lucu-lucu, yang hebat-hebat, janji ya gak akan dibentak. Kalau mau jadi pendidik, kita harus kampanye senyum. Ingat, semua berawal dari kekuatan cinta,” papar Kak Seto. Bagi Kak Seto, dunia anak adalah dunia bermain, karena itu cara mendidik anak haruslah dengan cara bermain, bukan dengan cara kekerasan seperti membentak. Dalam kaitan ini, Kak Seto menjelaskan lima ciri utama mendidik anak dengan cara bermain. “Pertama, bermain didorong oleh motivasi dari diri sendiri, sehingga apa akan dilakukan anak memang betul-betul memuaskan dirinya, bukan karena iming-iming hadiah atau karena diperintah orang lain,” urai Kak Seto. Kedua, lanjut Kak Seto, bermain dipilih secara benar sesuai keinginan anak. Ketiga, bermain adalah kegiatan yang menyenangkan. Keempat, bermain tidak selalu harus menggambarkan hal yang sebenarnya. Kelima, bermain senantiasa melibatkan peran serta aktif anak, baik secara fisik, psikologis maupun keduanya sekaligus. Karenanya, untuk bisa mendidik anak dengan bermain, maka seorang guru harus juga menjadi seorang pendongeng, penyanyi, bahkan pesulap. “Mereka bukanlah orang dewasa ukuran mini, dunia mereka adalah dunia bermain. Anak, selain bertumbuh secara fisik ia juga berkembang secara psikologis, ia kreatif dan suka meniru,”, jelas Kak Seto. Selain memahami psikologi anak yang suka bermai, Kak Seto juga menekankan pentingnya melatih dan mengembangkan kemampuan anak. “Sebagai seorang pendidik yang baik pun, kita juga perlu serius melatih dan mengembangkan berbagai kemampuan seperti sikap rendah hati, ramah, sopan santun, kedisiplinan, juga kemampuan berbicara secara jelas, tegas, lancar, menarik, menyanyi, bergerak lincah dan gesit, serta yang paling penting adalah kreatif,” paparnya. Sementara itu Rektor UMM, Fauzan, dalam sambutannya mengatakan, kehadiran Kak Seto merupakan representasi tetesan embun di tengah dahaga masyarakat. Baginya, saat ini perkembangan psikologi pendidikan mengalami sakit agak parah sebab faktor lingkungan. Karenanya kehadiran Kak Seto yang di masa lalu populer dengan karakter yang disukai anak-anak, yaitu Si Komo bisa menjadi pencerahan bagi mahasiswa FKIP UMM. Menurut Fauzan, peran guru tidak hanya di sekolah. Guru adalah perwakilan Tuhan dalam menegakkan norma-norma di masyarakat. “Dulu, guru itu priyayi. Guru memiliki strata sosial ekslusif. Sederhana tapi memiliki kualitas yg tinggi,” kenang Fauzan. Fauzan juga menekankan pengaruh guru yang begitu besar dalam menentukan nilai-nilai di masyarakat. Bagi Fauzan, Indonesia menjadi negara konsumtif karena guru yang selalu memberi contoh pada para siswa dengan kata “membeli”, bukannya “membuat”. “Yang sering jadi cohtoh dari guru yaitu ‘Ibu membeli sayur’, ‘Adik membeli sepatu’. Harusnya ada revolusi, diganti dengan kata-kata semisal ‘Ayah membuat pabrik’ agar secara psikologis terasa lebih gagah,” ujar Fauzan. Selepas memberikan materi, dilakukan prosesi penyematan jas almamater UMM yang dilakukan oleh Pembantu Dekan III FKIP UMM Dr Hari Sunaryo pada Kak Seto. “Ini suatu kehormatan bagi saya mengenakan jas almamater UMM. Serasa jadi mahasiswa FKIP UMM. Tau gitu, kalau dari dulu saya tau UMM, saya masuk FKIP UMM saja,” ucapnya disambut tepuk tangan peserta yang hadir. (roh/han)
Roadshow Film Sundul Gan, Kaskus Motivasi Mahasiswa UMM Jadi Teknopreneur

KASKUS menggelar roadshow film “Sundul Gan: The Story of Kaskus” di Universitas Muhammadiyah Malang, Senin (23/5) di Theater UMM Dome. Film yang akan dirilis serentak di seluruh Indonesia pada 2 Juni 2016 ini mengisahkan perjuangan para pendiri Kaskus hingga sukses menjadi seorang teknopreneur. Roadshow yang sekaligus merayakan ulang tahun Prodi Ilmu Komunikasi UMM ke-30 ini, menghadirkan sang sutradara, Naya Anindita serta CEO Kaskus Ken Dean Lawadinata dan pemeran tokoh pendiri Kaskus Andrew Darwis dalam film tersebut, Albert Halim. Naya Anindita mengatakan, film ini mengangkat perjalanan dua sosok, yaitu Andrew Darwis dan Ken Dean Lawadinata dalam membesarkan forum online terbesar di Indonesia ini. “Saya ingin menampilkan proses yang mereka lalui dalam mengembangkan perusahaan hingga mencapai kesuksesan dengan karakteristik mereka yang menarik,” terangnya pada sesi workshop di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir. Naya melihat Ken dan Andrew sebagai sosok yang sangat menarik. Ia yakin karakter Ken dan Andrew semasa mereka mengembangkan Kaskus dapat membuat mahasiswa termotivasi. “Mereka seperti mahasiswa kebanyakan, kadang malas kuliah, titip absen. Bahkan Ken sampai tidak tamat kuliah. Tapi di balik itu semua mereka mengembangkan sesuatu yang sekarang jadi luar biasa,” ujarnya. Sementara itu Ken mengungkapkan, perkembangan teknologi yang semakin canggih saat ini membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjadi seorang teknopreneur. “Sayang sekali kalau kita tidak mengambil peluang besar ini, modalnya itu ketekunan dan percaya proses,” tuturnya. Ken menceritakan ketika Kaskus mulai berdiri. Saat itu ia percaya produk yang dibuat Andrew tersebut memiliki potensi besar untuk berkembang. “Saat itu belum banyak orang yang menggunakan internet, tapi saya yakin apa yang Andrew buat bisa bermanfaat bagi banyak orang ke depanya, dan itu terbukti sekarang,” paparnya. Sementara itu Kaprodi Ikom UMM, Sugeng Winarno mengatakan para pembesar Kaskus ini menunjukan sesuatu yang kelihatannya tidak mungkin menjadi mungkin. Ia berharap, roadshow ini bisa menginspirasi mahasiswa dalam mengembangkan karya yang mereka buat. “Kaskus mengubah yang maya menjadi nyata, motivasi itu menjadi bekal yang penting,” katanya. Di waktu yang bersamaan, ultah Ikom yang bertajuk “Tiga Dekade, Tiga Dedikasi” ini dimeriahkan dengan Social Media Festival yang diselenggarakan Laboratorium Ilmu Komunikasi di depan Gedung Student Center (SC). Dalam festival ini ditampilkan 157 karya praktikum mahasiswa Ilmu Komunikasi dari tiga konsentrasi, yaitu Audio Visual, Public Relation dan Jurnalistik. Ada 56 karya praktikum Audio Visual, 82 karya praktikum Public Relation dan 19 karya praktikum Jurnalistik. Selain itu, pengunjung yang hadir juga akan diperkenalkan 17 pemilik akun media sosial terpopuler di Kota Malang. Sebagai hiburan, pengunjung juga akan disuguhkan berbagai penampilan menarik seperti dari Ocarinesia, Depapepe, 4wheels, FISIP Dance dan sejumlah penampilan lainnya. Kepala Laboratorium Ilmu Komunikasi, Jamroji mengungkapkan perlu adanya wadah apresiasi bagi mahasiswa agar terus mengembangkan bidang keilmuan yang mereka ambil. “Melalui festival ini kami ingin menghargai semua karya yang mereka buat agar memiliki kebanggaan, keyakinan, evaluasi dan motivasi untuk berkarya lebih baik lagi ke depan,” paparnya. Puncak acara ultah akan dilangsungkan pada Selasa (24/5) mendatang dalam bentuk Awarding Night. Dalam acara yang digelar di salah satu unit bisnis milik UMM, yakni Taman Sengkaling UMM ini, akan dilakukan penyerahan penghargaan pada para pengkarya praktikum terbaik di setiap bidangnya. (gas/han)
LP3A Gencarkan Gerakan Anti-Narkoba dan Kejahatan Seksual pada Anak

LEMBAGA Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Seminar Gerakan Anti Narkoba dan Kejahatan Seksual, Senin (23/5) di Auditorium UMM. Seminar menghadirkan Kanit Sidik IV Satreskrim Polres Malang, Iptu Sutiyo, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang, Basuki Effendi, Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) Kabupaten Malang, Pantjaningsih SR, Kepala LP3A UMM, Thatit Manon Andini. Hadir pula tamu undangan dari Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kota Malang, anak jalanan, serta dosen dan karyawan UMM. Wakil Rektor I UMM Syamsul Arifin dalam sambutannya berharap seminar ini bisa menjadi ruang diseminasi untuk meminimalisir kejahatan seksual dan narkoba di masyarakat. “LP3A berkomitmen untuk bersinergi dengan berbagai pihak untuk mengurangi kejahatan seksual dan narkoba, khususnya di wilayah ini,” kata Syamsul. Sementara itu Kanit Sidik IV Satreskrim Polres Malang, Iptu Sutiyo menyoroti beberapa kasus kekerasan seksual terhadap anak seperti Geng SD di Surabaya cabuli siswi SMP dan kasus Yuyun. Sutiyo juga memberikan penjelasan cara mencegah terjadinya tindak kekerasan seksual terhadap anak. Menurutnya, kita perlu melibatkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintahan dalam mengintervensi perlindungan anak. Ia juga memberi penekanan pada sisi keluarga dan anak. “Keluarga harus membangun mindset agar semakin peka dan ramah pada anak. Di sisi lain, anak juga harus tahu cara membela diri ketika terancam,” papar Sutiyo. Selain itu, Sutiyo juga memberikan sepuluh tips untuk mencegah anak menjadi korban atau pelaku kejahatan seksual. Pertama, kenali anak, teman bergaul, dan lingkungannya. Kedua, jadilah sahabat bagi anak dengan sering berbagi cerita dan berkomunikasi. Ketiga, beri perhatian dengan sering menanyakan kabar kegiatannya. Empat, jangan menuntut terlampau tinggi kepada anak. Lima, ciptakan rumah yang nyaman buat anak dengan membangun komunikasi yang baik. Enam, tanamkan kontrol diri pada anak dengan informasi yang cukup tentang seksualitas. Tujuh, batasi dan awasi penggunaan gadget pada anak. Delapan, letakkan komputer berakses internet dan TV di ruang keluarga sehingga penggunaanya bisa dipantau. Sembilan, bekali anak dengan ketrampilan beladiri. Sepuluh, edukasi anak terkait tindak pelecehan dan kekerasan agar lebih hati-hati dan melaporkan jika mendapat perlakuan pelecehan dan kekerasan. Selanjutnya, Pantjaningsih menjelaskan tentang Gerakan Nasional Antikejahatan Seksual Terhadap Anak (GN-AKSA) yang dicanangkan pemerintah pusat melalui Inpres No. 5 tahun 2014. Pantjaningsih mengatakan, pemerintah telah mengajak semua pihak yang berkepentingan untuk menyatukan upaya, tekad dan semangat dalam memerangi kejahatan seksual terhadap anak. Baginya, GN-AKSA diperlukan karea kejahatan seksual anak termasuk ekstra ordinary crime atau kejahatan luar biasah dan jumlah terus meningkat. “GN-AKSA sebagai gerakan nasional akan memperkuat berbagai upaya demi perlindungan dan pemberdayaan terhadap anak,” ujarnya. Di sisi lain, Basuki Efendi menjelaskan tentang Narkoba. Baginya, Narkoba adalah zat atau obat dari alam atau tanaman yang dapat menimbulkan gangguan kesadaran, ketergantungan dan mengganggu daya pikir, daya ingat konsentrasi sertra persepsi perasaan perilaku. Ia mengatakan, untuk mencegah penyalahgunaan narkoba maka perlu dimiliki prinsip hidup sehat, memperkuat keimanan, memilih lingkungan yang sehat, memilih kegiatan yang bermanfaat, serta melakukan komunikasi yang baik. Sementara itu, Thatit Manon memaparkan tentang parenting sebagai proses membesarkan dan mendukung perkembangan fisik dan mental yang juga meliputi emosional, sosial, spiritual dan intelektual anak dari bayi hingga dewasa sampai anak bisa mandiri. Ia juga menekankan fungsi keluarga dalam mendidik agar anak siap hidup bermasyarakat hingga bagaimana memilih gaya pengasuhan yang sesuai. “Pengasuhan anak bukan tanggung jawab orang tua saja, tetapi juga tanggung jawab masyarakat sekitarnya,” kata Thatit. (roh/han)
UMM dan Polri Dialogkan Revisi UU Terorisme

FAKULTAS Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan PP Muhammadiyah bekerjasama dengan Kepolisian RI (Polri) menggelar focus group discussion (FGD) kajian hukum di Ruang Sidang Senat UMM, Senin (23/5). Kajian membahas revisi UU yang mengatur tentang pemberantasan tindak pidana terorisme dan perlindungan HAM. UU yang dimaksud yakni UU No.15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Ada tujuh muatan UU yang akan direvisi yaitu pertama, kriminalisasi dan penalisasi terhadap berbagai modus baru tindak pidana terorisme. Kedua, pemberantasan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana terorisme, baik percobaan, maupun permufakatan jahat dan pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme. Ketiga, perluasan sanksi pidana terhadap korporasi yang dikenakan pada pendiri, pemimpin, pengurus, atau yang mengarahkan kegiatan korporasi. Keempat, penjatuhan pidana tambahan berupa pencabutan paspor dan pencabutan kewarganegaraan Indonesia yang oleh pejabat yang berwenang sesuai ketentuan perundang-undangan. Kelima, di luar proses pengadilan, pejabat yang berwenang dapat mencabut paspor dan mencabut kewarganegaraan RI pada setiap warga negara Indonesia yang melakukan pelatihan militer, paramiliter dan pelatihan lainnya dan/atau ikut perang di luar negeri untuk tindak pidana terorisme. Keenam, kekuhususan terhadap hukum acara pidana (lex specialis) seperti penambahan waktu penangkapan, penahanan, dan perpanjangan penahanan untuk kepentingan penyidik dan penuntut umum serta penelitian berkas perkara tindak pidana terorisme oleh penunut umum. Ketujuh, penanggulangan tindak pidana terorisme dilaksanakan oleh instansi sesuai dengan fungsi dan kewenanangan masing-masing yang dikoordinasikan oleh lembaga pemerintah non-kementrian yang menyelenggarakan penanggulangan terorisme. Dalam diskusi ini hadir Wakil Ketua Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syaiful Bakhri, Kepala Divisi Hukum Mabes Polri Setyo Wasisto, Pakar Hukum Pidana FH UMM Sidik Sunaryo dan Komisioner Komisi Nasional HAM, Siane Indriani. Dalam paparannya, Setyo Wasisto mengatakan, perubahan atas UU tersebut perlu dilakukan untuk memberikan landasan hukum yang lebih kokoh untuk menjamin perlindungan dan kepastian hukum dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme. Selain itu, juga untuk memenuhi kebutuhan perkembangan hukum masyarakat. “Makanya, perlu dilakukan perubahan secara proporsional dengan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan penegakan hukum, perlindungan hak asasi manusia serta kondisi sosial politik di Indonesia,” jelasnya. Sementara itu, Syaiful Bakhri mengatakan, terorisme merupakan kejahatan luar biasa yang membutuhkan pola penanganan dengan cara-cara yang luar biasa juga. Maka menurutnya, pemberantasan masalah terorisme tidak dapat menggunakan cara-cara yang biasa dilakukan seperti menangani tindak pidana umum lainya. “Korban dari tindak pidana terorisme tidak hanya sebatas pada korban jiwa saja, tapi juga perusakan bahkan penghancuran dan pemusnahan harta benda, lingkungan hidup, sumber ekonomi, bahkan kegoncangan yang kuat dalam bidang politik, sosial dan ekonomi,” paparnya. Ia menambahkan, perlu pemahaman mengenai karakter kejahatan terorisme. Kejahatan terorisme, Syaiful menjelaskan, terletak pada ideologi politik yang ada dalam pola pikir pelaku atau aktor yang mempengaruhinya. “Di sinilah perlu adanya formulasi yang tepat dalam menilai dan menangani konsepsi kejahatan ini,” terangnya. Sementara itu Sidiq Sunaryo menjelaskan keterkaitan konstitusi dengan pencegahan dan pemberantasan terorisme. Ia menilai, dalam UUD 1945 tergambar bagaimana penanganan terorisme seperti humanitas, keberadaban, sentripetal, keseimbangan dan sentrifugal. “Perlu adanya tindakan persuasi dan deradikalisasi dalam upaya penanganan non-penal terhadap kasus terorisme,” jelasnya. Di sisi HAM, Siane Indriani memaparkan, dalam penanganan tindak pidana terorisme banyak fakta didapat bahwa sering terjadi penyimpangan yang dilakukan aparat kepolisian. Merujuk kasus Siono yang terjadi beberapa waktu lalu, Ia menjelaskan sudah ada regulasi yang melandasi tugas Densus 88 di Polri dalam penggunaan upaya paksa pada tahap penangkapan tersangka teroris. Aturan tersebut termaktub dalam Peraturan Kapolri (Perkap) No 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian serta Perkap No. 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM. “Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian diatur secara rinci, setiap tindakan polisi dalam melaksanakan tugasnya wajib menghormati HAM,” tegasnya. Dekan FH Hukum UMM, Sulardi berharap pembahasan dalam diskusi ini dapat menghasilkan aturan yang jelas dalam hal penangananan tindak pidana terorisme baik dari sisi penegakan hukum maupun perlindungan HAM. “Dengan aturan ini, diharapkan bisa memberikan keleluasaan yang jelas dan tegas bagi penegak hukum dalam menangani terorisme dan tidak terjadi pelangaran HAM dalam penegakannya,” pungkasnya. Dalam acara yang dihadiri Dekan FH Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia ini, hadir pula Direktur Harmonisasi Ditjen PP Kemenkumham, Deputi Penindakan dan Pembinaan Badan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Direktur Program The Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial), dan LSM Kontras. (gas/han)
Pimpinan UMM Gelar Pertemuan Orang Tua Wali

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pertemuan dengan orang tua wali mahasiswa baru tahun akademik 2016/2017 di hall UMM Dome, Ahad (22/5). Pertemuan ini dalam rangka silaturahmi pimpinan UMM sekaligus melakukan dialog dengan para orang tua mahasiswa baru yang berhasil lolos tes seleksi penerimaan mahasiswa baru (PMB) gelombang pertama. Dalam pertemuan tersebut, hadir seluruh pejabat struktural UMM. Mulai dari Rektor UMM, Fauzan, didampingi jajaran Wakil Rektor (Warek) I,II dan III, Syamsul Arifin, Nazarudin Malik dan Sidik Sunaryo, serta jajaran dekanat tiap fakultas hingga kepala biro yang ada di UMM. Rektor UMM, Fauzan, mengatakan pertemuan yang rutin dilakukan UMM setiap masa penerimaan mahasiswa baru ini dilakukan untuk memperkenalkan kepada para orang tua maba segala sesuatu tentang UMM. “Sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak, maka sudah sewajarnya bapak ibu mengenal UMM,” jelasnya di hadapan ribuan orang tua maba. Tidak hanya kampus secara fisik, lanjut Fauzan, para orang tua juga harus mengetahui tenaga pendidiknya, model pembelajarannya hingga segala program yang akan diterima anak mereka selama menempuh studi di ‘Kampus Putih’. “Ini semua perlu kontrol bapak dan ibu semua demi kelancaran proses pendidikan anak-anak kalian,” ujarnya. Fauzan berharap, melalui pertemuan ini segala bentuk perhatian dan tanggung jawab para orang tua dapat menjadikan anak-anak mereka dapat menjalankan proses pendidikan dengan baik. “Insya Allah dari mulai mendaftar hingga nanti diwisuda anak-anak ibu dan bapak bisa menjaga amanah dengan baik serta menjadi kebanggaan orang tua, bangsa dan negara,” harapnya. Selain dikenalkan dengan pejabat struktural di tingkat universitas dan fakultas, para orang tua camaba juga diberitahu seluruh program kegiatan, aturan hingga unit bisnis yang dimiliki UMM saat ini. Acara dimulai dengan pemberian beasiswa kepada maba yang berhasil mempeoleh nilai tertinggi di setiap fakultas yang ada di UMM pada seleksi pmb gelombang pertama serta penandatangan surat pernyataan sebagai maba UMM secara simbolik oleh perwakilan maba. Sementara itu, Totok Hari Santoso, salah satu orang tua wali yang hadir dalam pertemuan tersebut mengungkapkan, dirinya merasa sangat senang dengan pertemuan ini. Menurutnya, dengan adanya pertemuan ini, seluruh orang tua camaba bisa memperoleh informasi lebih terkait UMM. “Kami jadi tau apa yang harus kami perbuat sebagai orang tua, jadi kami bisa mengontrol anak-anak kami,” ungkap Totok yang putranya berhasil diterima di Fakultas Teknik ini. (gas/han)
Rektor UMM: Jangan Takut Globalisasi, Jadilah Aktor di Dalamnya

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs. H Fauzan, MPd, mengatakan mensinyalir masih banyak kalangan masyarakat yang menganggap globalisasi sebagai momok yang mengkhawatirkan. Mereka itu, katanya, hanya memposisikan dirinya sebagai objek di setiap perkembangan era ini. “Globalisasi adalah suatu keniscayaan yang kita hadapi, kita harus bisa menjadi pelaku di dalamnya bukan menjadi objek,” ujar Fauzan, ketika memberi sambutan dalam pameran pendidikan internasional di taman Gazebo Perpustakaan UMM, Sabtu (21/5). Fauzan berharap dengan dengan adanya pameran ini mahasiswa UMM dapat mendapatkan banyak informasi dan memanfaatkan segala bentuk kerjasama yang dijalin UMM khususnya dengan beasiswa Erasmus+ yang dahulu bernama Erasmus Mundus. “Mahasiswa UMM harus jadi mahasiswa yang unggul, menjadi pelaku di era globalisasi, banyak mahasiswa UMM yang telah berhasil memperoleh beasiswa internasional termasuk Erasmus+ ini,” tuturnya. Acara yang bergandengan dengan UMM Gazebo Forum ini digelar Internasional Relations Office (IRO). Selain pameran, juga dirangkai dengan presentasi informasi beasiswa yang telah terjalin antara UMM dan negara-negara Uni Eropa. Dalam acara bertajuk Erasmus Vision Education, Network and Training (EVENT) ini diisi perwakilan dari negara-negara seperti dari Inggris, Jerman, Perancis, Belanda dan Swedia. Mereka memberikan presentasi mengenai peluang beasiswa di masing-masing negaranya. Pengunjung yang ingin mendapatkan informasi lebih lengkap juga bisa datang ke stan-stan yang telah disediakan. Ketua Pelaksana Pameran, Muhammad Isnaini mengatakan acara ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi civitas akademika UMM untuk mendapatkan informasi terkait beasiswa dan kesempatan studi di luar negeri. “UMM telah menjalin berbagai program beasiswa dengan berbagai benua khususnya di Eropa bersama program Erasmus+ ini, makanya mahasiswa wajib untuk memanfaatkan peluang ini,” jelasnya. Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Krisna menambahkan acara ini juga diharapkan mampu merealisasikan visi UMM sebagai universitas kelas dunia yang telah menjalin berbagai kerjasama mancanegara. “UMM akan terus merangkul perguruan tinggi dunia agar kualitas pendidikan yang dihasilkan civitas akademik UMM berstandar internasional,” paparnya. UMM merupakan salah satu kampus yang sukses bermitra dengan Erasmus Mundus yang dibiayai Komisi Uni Eropa ini. Salah seorang mahasiswa UMM yang alumni beasiswa Erasmus Mundus, Faikha Fairuz Firdausi, memberikan testimoni menarik. Ia berbagi pengalamannya ketika dirinya berhasil memperoleh beasiswa Erasmus Mundus di University Of Latvia Bachelor. “Selain ke negara tempat saya mendapatkan beasiswa full servis, saya juga bisa mengunjungi beberapa negara lainnya seperti Perancis, Belanda, Jerman dan beberapa negara lain lainnya,” ungkap alumni Prodi Hubungan Internasional (HI) UMM ini. Alumni terbaik UMM angkatan 2014 ini pun memberikan motivasi kepada mahasiswa yang ingin memperoleh beasiswa internasional. Ia berpesan agar mahasiswa jangan pernah putus asa untuk mencari dan mendaftar beasiswa baik lokal maupun internasional. “Siapapun bisa asalkan mereka punya mimpi dan mau berusaha,” ujarnya. Nur Fatonah, salah satu mahasiswa yang hadir dalam pameran ini mengatakan amat senang dengan pameran yang digelar kali ini. “Selain mendapatkan banyak informasi, saya juga semakin termotivasi untuk mencari dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri,” ujar mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang berkeinginan melanjutkan studinya ke Perancis ini. (gas/nas)
Komunikasi UMM Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Media Sosial

LABORATORIUM Prodi Ilmu Komunikasi (Ikom) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Social Media Festival di Auditorium UMM, Jumat (20/5). Acara ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dihelat Ilmu Komunikasi UMM dalam rangka ultahnya yang ke-30. Dalam acara bertajuk “Society Now” ini hadir sebagai pembicara Account Executive SMB East Java Smartfrend Wiwit, Mulia; Founder Acara Media Network, Diva; Kontributor Trans TV, Abdul Malik; serta Pendiri Erigo Store Putra, Agung dan Dimas Agung. Mereka berbagi pengalaman pada ratusan mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut. Ketua Pelaksana Festival, Maharina Novia Zahro mengatakan acara ini bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya mahasiswa bagaimana seharusnya menggunakan media sosial. “Banyak sekali masyarakat dari berbagai kalangan saat ini telah memiliki berbagai sosial media tapi masih banyak yang belum tahu bagaimana menggunakannya dengan bijak,” jelasnya. Mahasiswi yang akrab disapa Rina ini menambahkan, banyak masyarakat yang saat ini menggunakan media sosial hanya untuk memposting status dan gambar untuk sekedar eksis dan narsis saja. Bahkan menurutnya lewat postingannya tersebut terkadang sering menimbulkan permasalahan. “Media sosial memiliki kegunaan dan kekuatan yang luar biasa, makanya kita harus manfaatkannya untuk kepentingan yang lebih besar seperti bisnis atau kegiatan sosial,” paparnya. Sementara itu, Dekan FISIP, Asep Nurjaman yang secara resmi membuka acara ini juga menegaskan agar mahasiswa Komunikasi UMM bisa menjadi agen of change dalam pengunaan media sosial. “Mulai dari diri sendiri, media sosial harus bisa jadi sesuatu yang lebih bernilai dan menghasilkan sesuatu untuk hidup kita,” terangnya. Asep juga mengingatkan kepada mahasiswa agar berhati-hati dalam menggunakan segala jenis media sosial. “Apa yang kita posting di media sosial sangat cepat tersebar ke berbagai lini massa, makanya harus hati-hati apalagi sudah ada undang-undang yang mengatur tentang penyebaran informasi di media sosial,” ujarnya. Acara Social Media Festival ini juga akan dilanjutkan pada Senin (23/5) mendatang di depan Gedung Student Center (SC). Nantinya, acara yang diselenggarakan di luar ruangan ini akan menampilkan 157 karya praktikum mahasiswa Ikom dari tiga konsentrasi yaitu Audio Visual, Public Relation dan Jurnalistik. Ada 56 karya praktikum Audio Visual, 82 karya praktikum Public Relation dan 19 karya praktikum Jurnalistik. Selain itu pengunjung yang hadir juga akan diperkenalkan 17 orang pemilik akun media sosial terpopuler di Kota Malang. Sebagai hiburan, pengunjung juga akan disuguhkan berbagai penampilan menarik seperti dari Ocarinesia, Depapepe, 4wheels, FISIP Dance dan masih banyak lainnya. Sebelumnya, dalam ultah yang bertajuk “Tiga Dekade Tiga Dedikasi” prodi Ikom telah menggelar berbagai kegiatan seperti kuliah tamu pemanfaatan media dalam kampanye politik dan roadshow kompetisi film dokumenter Eagle Award. Pada Senin (23/5) mendatang ultah akan semakin meriah karena ada Kaskus Goes To Campus. Dalam acara talkshow yang bertajuk “SUNDUL GAN” tersebut akan dihadiri oleh CEO Kaskus Dean Lawadinata, Founder Kaskus Andrew Darwis, Sutradara film “SUNDUL GAN” Naya Anindita, dan yang paling dinanti adalah meet and great dengan aktor tampan Dion Wiyoko dan Albert Halim. Puncak acara ultah akan dilangsungkan pada Selasa (24/5) mendatang dalam bentuk Awarding Night. Dalam acara yang digelar di salah satu unit bisnis milik UMM yakni Taman Sengkaling UMM ini merupakan pemberian penghargaan kepada para pengkarya praktikum terbaik di setiap bidangnya. Kepala Laboratorium Ilmu Komunikasi, Jamroji, M.Comm mengungkapkan perlu adanya wadah apresiasi bagi mahasiswa agar terus mengembangkan bidang keilmuan yang mereka ambil. “Melalui festifal ini kami ingin menghargai semua karya yang mereka buat agar memiliki kebanggaan, keyakinan, evaluasi dan motivasi untuk berkarya lebih baik lagi kedepannya,” paparnya. Sementara itu, Kepala Prodi Ilmu Komunikasi UMM, Sugeng Winarno menerangkan rangkaian kegiatan ultah ini selalu diisi dengan acara yang bersifat kreatif dan rekreatif. “Semuanya dirangkai untuk lebih menguatkan branding Komunikasi UMM sebagai prodi yang kreatif dan peduli terhadap literasi media,” ungkap Sugeng. (gas/han)