BEM Psikologi UMM Dukung Malang Kota Layak Anak

PROGRAM pemerintah Kota Malang untuk menjadikan Malang sebagai Kota Layak Anak menginisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi mengadakan seminar nasional bertajuk “Sex Education for Child: Sudah Siapkah Anak-anak Anda Menghadapi Ancaman Bahaya Kekerasan Seks?”. Kegiatan ini diadakan di Auditorium UMM, Sabtu (14/5). Seminar nasional mengundang beberapa pakar sebagai narasumber, yakni psikolog anak Dr Iswinarti, pakar sosiologi Muhammad Hayat, wakil ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur Winny Isnaeni, serta perwakilan Satreskrim Polres Kota Malang Bripka Evi Andriani dan Bripka Marwida. “Malang punya program untuk menjadi Kota Layak Anak. Selain itu, sekarang sedang marak kasus kekerasan seksual di Indonesia. Seminar ini diadakan untuk memberikan edukasi pada anak sejak dini. Kami bekerja sama juga dengan pihak Pemkot, agar kita bisa terhindar dari peristiwa-peristiwa tersebut,” beber Rifqi Naufal Azri, ketua pelaksana kegiatan. Bripka Marwida mengatakan, kendala yang dihadapi Polres Kota Malang saat ini adalah modus baru para pelaku kejahatan seks. Dalam paparannya, ia membeberkan bahwa pelaku kejahatan seksual dewasa memaanfaatkan anak di bawah 18 tahun untuk melakukan tindak pidana. “Edukasi seks pada anak memang masih menjadi hal yang tabu di Indonesia, padahal sejatinya ini sangat penting. Oleh karena itu, tanamkan hal yang sederhana, misalnya dengan mengajarkan pada anak untuk mencintai tubuhnya sendiri. Katakan pada anak mana bagian tubuh yang boleh disentuh oleh orang lain dan tidak,” urainya. Menurut Winny Isnaeny, kesejahteraan anak wajib dipenuhi. Salah satunya dengan cara tidak memisahkan anak dengan keluarga. “Salah satu anak yang beresiko adalah anak yang terpisah dari keluarganya, misalnya anak yang orangtuanya menjadi TKI. Pendidikan orangtua yang rendah dan kemiskinan menjadi mata rantai yang menyebabkan anak di bawah 18 tahun menjadi pelaku kejahatan seksual,” paparnya. Selain itu, Hayat mengungkapkan, ada empat lembaga yang berperan penting terhadap pembentukan fungsi sosial anak, yakni keluarga, teman bermain, sekolah, dan masyarakat. Saat ini, menurutnya, keempat lembaga tersebut mengalami pelemahan fungsi sosial, sehingga berdampak pada perkembangan sosial anak yang keliru. Sementara itu, Iswinarti mengingatkan, seminar yang sudah banyak digelar harus dibarengi dengan langkah nyata untuk mengajarkan pendidikan seks sejak dini tersebut. “Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum kekerasan seksual menjadi endemik seperti narkoba, mahasiswa psikologi atau siapapun juga, saya rasa sudah bisa melakukan edukasi seksual untuk anak dimulai dengan cara yang sederhana dari orang-orang terdekat,” jelas kepala program studi psikologi Profesi UMM ini. Dalam seminar ini, BEM Fakultas Psikologi juga menyuarakan penuh dukungannya terhadap program Malang Kota Layak Anak dengan dibacakannya deklarasi oleh wakil gubernur mahasiswa, Jainal Ilmi. (ich/han)

Bahasa Inggris UMJ Berguru Program Mentoring ke UMM

PROGRAM Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Sabtu (14/5). Kunjungan UMJ ini terkait studi banding mengenai program mentoring yang telah dilakukan Prodi Bahasa Inggris UMM. Rombongan UMJ terdiri dari anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan dosen UMJ, diterima langsung oleh Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM, Dr. Sudiran M.Hum di Aula FKIP, Gedung Kuliah Bersama (GKB) I. Dosen pendidikan Bahasa Inggris UMJ, Mutiarani, M.Pd mengatakan prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMM memiliki banyak sekali program inspiratif yang mendorong mahasiswanya untuk mengembangkan kemampuan mengajar dan berbahasa inggris salah satunya adalah program mentoring. “Makanya kami ke sini untuk mengetahui bagaimana program itu dijalankan dan apakah bisa kami terapkan di prodi kami,” paparnya. Sudiran menjelaskan, program mentoring merupakan program pembelajaran khusus diluar kurikulum yang wajib diikut oleh mahasiswa semester satu dan dua. “Program mentoring ini untuk mendorong dan memotivasi kemampuan dasar serta meningkatkan kemampuan berbahasa inggris para mahasiswa di semester awal dengan cara yang menyenangkan,” jelasnya. Selain itu, lanjut Sudiran mentoring juga berfungsi untuk mempererat jalinan antara mahasiswa senior dan junior. “Karena yang bertugas untuk memberikan pembelajaran adalah mahasiswa tingkat akhir yang duduk di semester enam atau delapan,” imbuhnya. Sudiran menambahkan, mahasiswa yang telah lulus program mentoring ini akan mendapatkan sertifikat yang bisa menambahkan nilai keaktifan mereka selama berkuliah di UMM. “Sertifikat sebagai bukti nilai yang bisa dimasukkan ke surat keterangan pendamping ijazah (SKPI) dan sebagai prasyarat untuk bisa mengikuti beberapa kegiatan seperti ujian skripsi,” pungkasnya. (gas/han)

UMM Jajaki Kerjasama Riset dengan ACER Australia

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) tengah menjajaki kerjasama penelitian dengan Australian Council for Educational Research (ACER). Hal itu terungkap dalam seminar mengenai pendidikan kewarganegaraan di era globalisasi yang digelar oleh International Relations Office (IRO) UMM, Jumat (13/5). Hadir sebagai pembicara, Dr. Rachel Parker mewakili ACER dan dosen Fakultas Hukum UMM, Cekli Setya Pratiwi, SH, LL.M. Kepala Divisi Australia-New Zealand IRO UMM, Rinjani Bonavidi, M.Ed, Ph.D mengatakan, perihal kerjasama telah koordinasikan dengan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM untuk ditindaklanjuti. Terkait seminar, Rinjani menjelaskan, kegiatan ini dihadiri dosen-dosen prodi pendidikan bahasa Inggris untuk memberikan pemahaman bahwa pendidikan kewarganegaraan bisa disampaikan melalui berbagai bidang pendidikan. “Makanya perlu adanya implementasi di setiap pembelajaran tentang pendidikan kewarganegaraan ini,” jelasnya. Sementara itu, Rachel dalam pemaparannya menerangkan dengan pendidikan kewarganegaaran global menciptakan kedamaian global. “Antar negara akan saling menghargai keanekaragaman, mengerti bagaimana seharusnya dunia bekerja, menjadikan dunia ini menjadi tempat yang adil dan aman,” jelasnya. Berdasarkan penelitian yang telah Rachel lakukan. Menurutnya, ada tiga pendidikan kewarganegaraan yang harus dipahami yakni ilmu pengetahuan, sikap dan nilai serta tingkah laku dan kemampuan. “Harus adanya sinergitas antara konten dan konsep pembelajarannya,” terangnya. Sementara, Cekli mengatakan di era globalisasi saat ini semua aspek pendidikan kewarganegaraan itu penting untuk diterapkan secara cerdas dan baik untuk memberdayakan diri sendiri serta mampu menafsirkan, menilai dan menggunakan informasi. Hal ini untuk melahirkan suatu gagasan kreatif yang menentukan sikap seseorang dalam mengambil keputusan dan bertindak di lingkungan sekitarnya. “Era globalisasi ini melahirkan banyak sekali permasalahan, mulai dari politik, sosial, keamanan, lingkungan dan ekonimi. Pendidikan kewarganegaraan akan menuntun masyarakat untuk berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menghadapi era globalisasi kemudian ikut berpartisipasi serta bertanggungjawab dalam bertindak di setiap kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan global,” pungkasnya. (gas/han)

Pengalaman di UMM Antar Robby Aditya Jadi Direktur English First

BERBEKAL pengalaman sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan dosen Language Center (LC) UMM, Robby Aditya kini sukses menjadi direktur English First (EF) Malang. Kesuksesannya ini tak mudah ia gapai, banyak lika-liku perjuangan yang harus ia lalui. Pria yang akrab disapa Mr. Adit oleh para siswanya di EF ini mengawali karirnya dengan tidak mudah. Lulus dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Muhammadiyah di Yogjakarta tahun 1991, ia tidak langsung melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi karena keterbatasan biaya. “Saya harus bekerja di Malaysia selama empat tahun untuk mengumpulkan biaya agar bisa kuliah,” ujar alumni program studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM ini. Setelah merasa cukup, tahun 1995 ia akhirnya memilih UMM untuk melanjutkan pendidikannya. Ia berhasil masuk ke UMM tanpa tes. “Memang waktu itu UMM memberikan kesempatan bagi lulusan dengan nilai ijazah diatas 7.5,” terangnya. Sekalipun memilih jurusan Bahasa Inggris, Adit mengungkapkan, selama di SMA dirinya sama sekali tidak mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa Inggris yang ia dapatkan selama bekerja di Malaysia menjadi dasar yang membuat ia yakin bisa menempuh studinya dengan baik di jurusan tersebut. “Meski bekal bahasa Inggris yang saya dapatkan di Malaysia hanya basic saja, saya merasa itu cukup untuk bisa berkembang,” ujarnya. Selain itu, Adit merasa yakin bisa sukses di jurusan tersebut adalah karena saudara kembarnya. Saat ia mengawali kuliah saudara kembarnya baru saja lulus dari Prodi Bahasa Inggris UMM dan tengah menjadi staf pengajar di LC. “Itu yang membuat saya semakin yakin kalau saya juga bisa sukses di sini,” ungkapnya. Hal tersebut mampu ia buktikan. Di semester pertama, ia mampu meraih indeks prestasi mengagumkan, 3.91. Namun capaian itu tidak membuat dirinya berpuas diri. Ia masih merasa banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Hingga akhirnya, sebelum masa kuliah berakhir, tepatnya di semester delapan, dirinya bisa menyamai capaian saudara kembarnya dengan ditunjuk sebagai staf pengajar di LC. Ia mengajar di LC selama dua tahun. Meski masa studinya sempat terhambat karena mengajar. Ia akhirnya lulus pada 2000. Hebatnya, ia berhasil menyelesaikan skripsinya  hanya dalam waktu satu bulan. Bukan hanya itu, ia juga berhasil menjadi lulusan terbaik di periode tersebut. “Mengajar di LC menjadi bekal yang memudahkan saya dalam mengerjakan skripsi,” paparnya. Setelah lulus, Adit mencoba mencari pengalaman bekerja di tempat lain. Hingga suatu ketika, ia tidak sengaja membaca lowongan pekerjaan di sebuah surat kabar sebagai tenaga pengajar di EF. Ia tidak membuang kesempatan itu dan mengirimkan lamaran ke EF. Saat itu, jelas Adit, ada ratusan orang yang mengajukan lamaran di EF. Dari jumlah tersebut hanya dirinya yang berhasil lolos dan masuk sebagai tenaga pengajar di lembaga tersebut. “Skill dan pengalaman yang saya dapat selama menempuh studi di UMM sangat menunjang hingga saya bergabung di EF,” katanya. Jalan berliku ia tempuh untuk mengembangkan karir di EF. Lika-liku tersebut dijalaninya dengan penuh ketekunan dan semangat pantang menyerah. Banyak kesuksesan yang berhasil Ia raih bersama EF selama 16 tahun bergabung. Hinga saat ini dirinya bisa menjadi seoarang center director di EF Malang. Semua kendali di EF Cabang Malang berada di bawah wewenangnya. Ia mengatakan, memang tidak mudah untuk mencapai kesuksesan. Butuh keyakinan dan konsekuensi dalam menjalani sesuatu yang sudah menjadi pilihan. Menurutnya, hal tersebut bisa mengembangkan kemampuan yang dimillikinya hingga mencapai puncaknya. “Man Jadda Wa Jadda, tidak ada hasil yang menghianati usaha,” jelasnya. Adit yakin, banyak alumni UMM yang memiliki kualifikasi yang sangat baik. Ia berpesan agar mahasiswa UMM tidak hanya mengembangkan diri dari sisi keilmuan saja namun juga membangun jaringan dengan berbagai pihak. “Itulah ilmu yang akan membedakan diri kita dengan orang lain dan yang akan menunjang pengembangan karir kita ke depan ,” pungkasnya. (gas/han)

Bermitra dengan UMM, Kyungdong University Siapkan Dana

PRESIDEN Kyungdong University (KDU), Korea, John Lee, menekankan kerjasamanya dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) agar tak berhenti sampai di tingkat penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) saja. Pihaknya yakin, UMM memiliki kapasitas untuk segera merealisasikan kemitraan dalam bentuk yang lebih kongkrit. Problem pembiayaan yang timbul akibat kerjasama ini, katanya, harus bisa dipecahkan bersama. “Karena tidak ada usaha yang sukses tanpa biaya yang cukup, tetapi juga tidak ada yang sulit jika diselesaikan bersama-sama,” tutur Lee, sesaat sebelum menandatangani MoU UMM-KDU, Rabu (4/5), di kampus Kyungdong Korea. Hadir dalam penandatangan itu, selain presiden KDU dan jajaran rektorat, dari pihak UMM penandatanganan dilakukan oleh Wakil Rektor II, Dr. Nazaruddin Malik, MM. Rombongan UMM terdiri dari perwakilan Senat Universitas, Kantor Internasional dan Humas. Menurut Lee, kerjasama yang sama juga dilakukannya pada kampus-kampus besar Muhammadiyah, seperti Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Dengan UMM sendiri, Lee telah mantap memilih kampus ini setelah sebelumnya telah berkunjung dua kali ke Malang. Dalam pandangan Lee, sebuah universitas harus memiliki tiga keunggulan untuk menjadi kampus berkualitas. Ketiga keunggulan tersebut adalah apa yang disebutnya sebagai good curriculum, good teaching dan good facility. “Ketiganya harus disertai dengan kerjasama yang baik, baik dengan sesama perguruan tinggi maupun dunia industri,” kata mantan seorang direktur di perusahaan elektronik raksasa, Samsung, ini. Lee yakin, UMM akan memilih mahasiswa dan dosen berkualitas untuk memperoleh kesempatan beasiswa ke Korea. Sehingga, kerjasama ini akan berjalan secara baik. “KDU sudah mengalokasikan dana untuk program ini, sehingga siapapun president yang terpilih menggantikan saya kelak tetap akan melanjutkan program ini,” akunya. Wakil Rektor II UMM mengatakan akan segera merealisasikan kerjasama ini dengan skema-skema yang strategis. Untuk itu pihaknya segera membuat rancangan rekrutmen mahasiswa atau dosen yang dikirim ke Korea untuk melakukan teaching partnership maupun credit transfer. “Kedua pihak sudah sepakat melaksanakan secara bersama-sama  kolaborasi akademik secara internasional, pertukaran dosen untuk pengajaran maupun penelitian, seminar dan forum-forum internasional, serta pertukaran mahasiswa. Kita sudah terbiasa dengan program semacam ini jadi tinggal jalan saja,” kata Nazaruddin. Usai penandatanganan MoU, tim UMM diajak berkunjung ke beberapa fasilitas KDU, seperti plaza, perpustakaan, pusat layanan informasi, ruang pangajaran keperawatan serta beberapa laboratorium. Berbagai fasilitas modern itu menginspirasi pihak UMM untuk membuat hal serupa, misalnya, lab fisioterapi yang dibuat transparan sehingga praktikum bisa dilihat oleh pengunjung dari luar ruangan. (nas)    

Lewat Lagu Cinta, Mahasiswi Tiongkok Ini Kenalkan Negaranya

TAMPIL menyanyikan lagu asal negaranya di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah melakukan prosesi wisuda, sempat membuat Wu Di, mahasiswi asal Tiongkok, merasa grogi. Maklum saja, sebelumnya ia tak pernah bernyanyi di acara formal dengan penonton sebanyak itu. “Seremoni wisuda di UMM lebih formal daripada di kampus saya, Tongren University. Makanya, saat tampil saya merasa sangat grogi, tangan saya gemetaran saat memegang mic. Untungnya semuanya berjalan lancar, saya tidak melakukan kesalahan dan penampilan saya disukai,” kata Wu Di saat ditemui, Selasa (10/5) di Kantor Kerjasama Luar Negeri UMM. Wu Di merupakan satu di antara 26 mahasiswa Tongren University yang tengah mengikuti kuliah selama satu semester di UMM melalui program credit transfer hasil kerjasama kedua universitas. Pada waktu bersamaan, sebanyak 13 mahasiswa UMM saat ini tengah mengikuti kuliah di Togren melalui skema kerjasama serupa. Wu Di mengaku, sebenarnya dia adalah seorang pelukis. Agak jarang ia tampil bernyanyi di atas panggung. “Beberapa kali saya tampil saat masih sekolah dulu, tapi bukan di acara formal,” papar mahasiswi asal Leshan ini. Bagi Wu Di, lagu bisa menjadi alat untuk mengenal masing-masing budaya. Saat wisuda di UMM, Wu Di bersama rekannya sesama mahasiswi Tongkok, Yang Duo, berduet menyanyikan lagu Tian Mimi dan Wo Zhi Zaihu Ni yang semula dipopulerkan oleh Deng Lijun. “Keduanya adalah lagu cinta klasik asal Tongkok. Sekalipun klasik, lagu cinta tak pernah out of date. Melodinya sukar untuk dilupakan,” jelasnya. Sebelum datang ke Indonesia, Wu Di sempat khawatir karena sejumlah informasi beredar mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang berbahaya. Ia juga mendengar tentang diskriminasi terhadap ras Cina yang sempat terjadi di Indonesia. “Namun saat kuliah di UMM, saat merasa mahasiswa di sini sangat baik hati. Mereka sangat ramah, begitu pula masyarakat sekitar. Saya merasa tenang, tak perlu khawatir lagi,” tutur Wu Di. UMM dinilai Wu di memiliki suasana belajar yang sangat baik, di mana mahasiswanya saling mendukung satu sama lain. Wu Di bercerita, pernah suatu ketika ada teman sekelasnya dari Tiongkok yang tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik, harus tampil di depan kelas untuk membacakan sebuah artikel. “Sebelum ia maju, mahasiswa lainnya turut memberi semangat, dan setelah ia selesai ia mendapat tempuk tangan yang meriah, sekalipun bahasa Inggrisnya tidak begitu baik. Sejak saat itu, saya mendapatkan rasa kebersamaan yang membuat saya lebih nyaman untuk belajar bersama di kampus ini,” kisah Wu Di tentang salah satu pengalamannya di UMM. Terlebih, bagi Wu Di, Malang adalah kota yang jauh lebih sejuk dibanding kota lainnya di Indonesia. “Ini membuat saya betah tinggal di sini,” kata mahasiswa yang di Tongren University mengambil jurusan Art Education ini. (luk/han)

Alumni UMM Diajak Kembangkan Karir di English First

LEMBAGA kursus Bahasa Inggris prestisius English First (EF) mengajak fresh graduate Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk bergabung dengan lembaga ini. Menurut Kepala EF Malang, Robby Aditya, Prodi Bahasa Inggris UMM memiliki standar kualitas yang mumpuni untuk bisa menjadi tenaga pendidik di EF. “Saya yakin Bahasa Inggris UMM memilki program pengajaran yang sangat baik sehingga alumninya pasti memiliki kompetensi yang dibutuhkan EF,” ujar Aditya yang juga alumni UMM ini di sela-sela open recruitment EF yang digelar di Aula Perpusakaan UMM, Rabu (11/5). Sebagai alumni, Aditya mengaku memilki tanggung jawab untuk bisa mengembangkan agar mahasiswa sukses berkarir di dunia pengajaran Bahasa Inggris. “Saya kira EF adalah tempat yang tepat bagi alumni UMM untuk bisa mengembangkan karir ke depan,” imbuhnya. Aditya memaparkan, selain persyaratan administrasi yang diperlukan seperti lulusan universitas, fasih dalam berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan, dan bersedia ditempatkan di 31 cabang EF se-Jawa Timur, Bali, dan Lombok, para tenaga pengajar EF juga harus bisa bekerja secara individu maupun tim. “Harus memiliki motivasi dalam mengajar dan yang paling penting adalah student oriented,” jelasnya. Salah satu mahasiswa tingkat akhir yang mengikuti open recruitment, Lia Yohana mengungkapkan, dirinya tertarik untuk bergabung sebagai tenaga pengajar karena reputasi EF sudah dikenal sangat baik. “EF adalah instansi yang besar dan ternama. Orang jika mendengar nama EF pasti sudah tau,” ujarnya. Selain itu, menurutnya, staf pengajar di EF memiliki kualitas yang tidak hanya berstansar nasional tapi juga internasional. “Berarti, jika saya berhasil bergabung, saya bisa melabeli, bahwa saya memiliki kualitas yang sangat baik,” pungkasnya. (gas/han)

Mahasiswa HI UMM Kembali Luncurkan Delapan Buku

DELAPAN buku kembali diluncurkan oleh mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hal ini melanjutkan produktivitas tahun sebelumnya di mana mahasiswa HI UMM angkatan 2012 berhasil menerbitkan tujuh buku. Kedelapan buku yang kali ini diluncurkan merupakan antologi tulisan mahasiswa HI angkatan 2013 yang mengikuti mata kuliah Komunikasi Intenasional yang diampu dosen Ilmu Komunikasi UMM, Nurudin. Buku-buku tersebut lantas di–launching dan dibedah dalam acara bertema “Dinamika Media Era 2K” di Theater UMM Dome, Selasa (10/5). Terbitnya kedelapan buku tersebut dilatari tugas-tugas kuliah mahasiswa yang dinilai sang dosen memiliki wawasan dan perspektif yang menarik. “Sayang sekali jika keresahan mereka tentang peran media di dunia internasional hanya dijadikan lembaran-lembaran tugas yang tujuannya hanya mendapatkan nilai akademik saja,” ujar Nurudin. Ketika ditawari membuat buku, para mahasiswa mata kuliah tersebut ternyata sangat antusias. Nurudin kemudian menyerahkan sepenuhnya pada mahasiswa terkait tema buku-buku yang akan mereka garap. “Akhirnya ya mereka sepakat untuk membuat buku-buku bertema peran media dalam merespon fenomena-fenomena internasional saat ini,” jelasnya. Delapan buku antologi yang diterbitkan yaitu “Menilik Peran Media Dibalik Fenomena Islamophobia”, karya Abul Nizam Al Zanzami dkk, “Entertainment Temtations” karya Aulia Syahirah dkk, dan “#Hastag” karya Insyira dkk. Kemudian ada buku karya Oktavia Suryani dkk berjudul “Diplomassa”, karya Agni Amiliandani dkk “Gelombang Informasi”, ada juga buku “#generasimerunduk” karya Bagus P. dkk, “What Social Media Did To Change the World” karya Ahmad Fauzan Zaman dkk serta “Human Laundry” karya Dewi Dilla dkk. Di setiap bukunya, ada 15 mahasiswa yang terlibat dalam penggarapannya. Salah satunya adalah Agni Amiliandini. Ia memaparkan, dirinya bersama teman-temannya menerbitkan buku dengan judul “Diplomassa” didasari atas pengamatannya terhadap konflik-konflik yang terjadi di dunia internasional. Lebih lanjut Agni menerangkan, konflik tersebut selama ini diselesaikan dengan dua jalur yakni state actor dan non-state actor (orang-orang profesional). Menurutnya, kedua jalur diplomasi tersebut kurang efektif dalam menyelesaikan konflik. Kemudian ia mengamati muncullah cara baru dalam berdiplomasi yakni melalui media baik itu media massa, cetak, ataupun e-media. “Nah dalam buku ini dipaparkan secara gamblang, bagaimana strategi media dalam mempengaruhi decision maker (pembuat kebijakan) sehingga dapat menjadi pijakan politik luar negeri suatu negara,” terangnya. Hadir dalam acara launching, editor koran harian Radar Malang, Didik Harianto. Dalam pemaparannya, Didik mengatakan, dengan munculnya media saat ini, semua orang bisa membuat media, menjadi wartawan ataupun menjadi penulis bahkan pemilik media. “Yang penting, mereka harus jadi smart user yang mengerti etika dalam menyebarkan informasi melalui media sosial,” ujarnya. (gas/han)

Tes Mahasiswa Baru, UMM Tingkatkan Standar Seleksi

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar seleksi penerimaan mahasiswa baru (PMB) gelombang pertama angkatan 2016/2017, Senin (9/4). Sebanyak 2.713 calon mahasiswa ikut serta dalam tes tulis yang dipusatkan di Kampus III UMM ini. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) PMB UMM, Dr. Ermanu Azizulhakim, MT mengatakan, pada tes seleksi gelombang pertama ini, jumlah peserta mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Fakultas Kedokteran (FK) tetap menjadi pilihan favorit peserta. “Dari jumlah tersebut, sebanyak 1000 peserta memilih FK,” ujarnya. Ermanu menambahkan, untuk tahun ini, UMM akan menerima sekitar 6500 mahasiswa baru (maba). Pada seleksi gelombang pertama ini peserta ujian yang akan diterima menjadi maba sekitar 30 persen dari jumlah kuota tersebut. “Untuk gelombang kedua sekitar 45 hingga 50 persen dan gelombang ketiga sisanya (20-25 persen, red),” imbuhnya. Untuk mengantisipasi terjadinya kecurangan selama proses seleksi berlangsung, sejumlah anggota kepolisian gabungan dari Polres Kabupaten Malang dan Polsek Dau disiagakan untuk menjaga dan melakukan penyisiran di ruangan-ruangan tempat tes berlangsung. “Kita belajar dari tahun-tahun sebelumnya, banyak yang menggunakan jasa joki untuk bisa masuk ke UMM,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Syamsul Arifin mengatakan, tingginya peminat di FK diikuti dengan meningkatnya standar seleksi yang ditetapkan. “Kita ingin menghasilkan dokter-dokter yang yang memiliki kualitas tidak hanya di tingkat nasional saja tapi juga internasional,” ujarnya. Peningkatan standarisasi seleksi, lanjut Syamsul, tidak hanya ditetapkan di FK saja, namun di seluruh fakultas dan prodi yang ada di UMM. Ia menegaskan, proses seleksi PMB ini dilakukan secara transparan dan objektif sesuai dengan hasil tes yang peserta dapatkan. “Kita melaksanakan proses yang baik, mudah-mudahan hasilnya juga akan baik pula,” terangnya. Pelaksanaan tes berlangsung pada pukul 08.00 hingga 11.00. Pada seleksi tes tertulis ada dua bidang yang diujikan yakni IPA dan IPS. Untuk IPA tes meliputi Tes Potensi Akdemik (TPA), Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Biologi, Fisika dan Kimia. Untuk IPS, tes yang diujikan antara lain, TPA, Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sosiologi, Ekonomi, Geografi dan Sejarah. Hasil seleksi tahap ini akan diumumkan pada 13 Mei mendatang. Peserta yang berhasil lolos pada tahap ini masih harus melakukan tes wawancara dan registrasi yang akan dilangsungkan pada 16 hingga 21 Mei. (gas/han)

Kehutanan UMM Ajak Masyarakat Manfaatkan Potensi Hutan

MENYADARI potensi hutan yang bisa dimanfaatkan masyarakat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kehutanan ‘Sylva’ Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan seminar nasional bertajuk ‘Pemanfaatan Jasa Lingkungan Berbasis Konservasi dalam Pengelolaan Hutan’, di Auditorium UMM, Sabtu (7/5). Ketua Pelaksana Semnas, Nofani Nur Husen mengatakan masyarakat Indonesia mayoritas hanya memanfaatkan hutan dari hasil kayunya saja. Menurutnya, banyak potensi jasa lingkungan hutan lain yang bisa dikelola masyarakat seperti wisata, air dan udara. “Masyarakat harus mengerti, potensi hutan masih sangat besar,” jelasnya. Mahasiswa yang akrab disapa Nofani ini mengaku senang sekaligus merasa terhormat Sylva UMM ditunjuk oleh Pengurus Pusat Sylva Indonesia sebagai penyelenggara semnas. Sebab, menurutnya, tidak semua perguruan tinggi yang tergabung dalam Sylva Indonesia bisa menyelenggarakan event yang biasa digelar setiap tahunnya ini. “Hanya jurusan kehutanan dari perguruan tinggi yang berkualitas dan siap yang bisa mengadakan kegiatan ini,” ujarnya. Semntara itu, Kepala Jurusan Kehutanan, Tatag Mutaqin S.Hut, M.Sc mengatakan semnas ini merupakan suatu gebrakan besar untuk memajukan jurusan kehutanan di seluruh Indonesia, khususnya UMM. “UMM saat ini memang sedang gencar melakukan riset yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan ini,” terangnya. Ia berharap, dari hasil semnas ini jurusan kehutanan di Indonesia bisa semakin banyak berkontribusi dalam hal pengelolaan hasil hutan. “Hasil riset dari mahasiswa maupun dosen kehutanan bisa dimanfaatkan masyarakat,” pungkasnya. Hadir dalam seminar ini Delegasi Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutananan (KLHK), Ir. Muhammad Ali Wafa Pujiono MP, Sekertaris Badan Litbang KLKH, Dr. Ir. Bambang Tri Hartono MF serta Kepala Pusat Informasi Kehutanan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Mutiono, S.Hut. Peserta dalam seminar ini merupakan mahasiswa kehutanan Indonesia yang tergabung SYLVA Indonesia. Ada 74 delegasi yang hadir dari 24 perguruan tinggi se-Indonesia. Setelah menggelar semnas, peserta juga akan diajak langsung terjun langsung untuk melakukan penelitian di Taman Nasional Bromo Tenger Semeru (TNBTS). (gas/han)