Bedah Disertasi PSIF Kaji Pengaruh Etika Islam bagi Etos Kerja

BEDAH Disertasi Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM seri kelima menghadirkan Pimpinan Redaksi Majalah Matan, Dr Achmad Fatichuddin, mengkaji disertasinya yang berjudul “Islamic Ethics and the Spirit of Industry: Dari Nelayan Tradisional Menjadi Industri“. Kegiatan diadakan di Aula Masjid AR Fachruddin UMM, Kamis (28/4).       Fatichuddin membuktikan bahwa etika atau akhlak Islam mampu menjadi spirit berekonomi dan berbisnis bagi masyarakat Muslim. Nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran dan Al-Hadis, misalnya, shalat berjamaah, saling sapa dengan senyum dan sikap ramah, serta jujur dalam setiap perkataan, ternyata ampuh menjadi “pendobrak” etos kerja masyarakat. Hal itu seperti yang dipraktikkan warga Desa Srowo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, dalam beberapa tahun terakhir.       Menurut Fatichuddin, pada mulanya kehidupan warga Desa Srowo adalah masyarakat nelayan tradisional sebagaimana pada umumnya yang tampak di sejumlah desa di pantai utara Lamongan-Gresik. Mereka bertempat tinggal di hunian yang kurang layak, berpendidikan rendah, dan mengonsumsi makanan yang tidak sehat setiap hari.       Namun, sejak praktik keberagamaan digalakkan pada tahun 2000-an, etos kerja mereka meningkat. Dari masyarakat nelayan tradisional, lalu bergeser menjadi masyarakat industri yang bergerak memproduksi krupuk ikan. “Melalui praktik shalat berjamaah, saling sapa, dan berkelompok dalam pengajian, lalu muncul kesadaran untuk bertindak melakukan transformasi ekonomi yang lebih baik,” ungkapnya.        “Kini pendapatan masyarakat Srowo meningkat lebih baik. Tempat tinggal lebih baik, mengonsumsi makanan bergizi, dan bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampaipergurun tinggi,” jelasnya. Yang tak kalah penting, intensitas mereka dalam beribadah dan perhatiannya terhadap kondisi sosial juga mengalami peningkatan.       Lebih dari itu, Fatichuddin menambahkan, ketika berindustri praktik-praktik etika Islam juga tak ditinggalkan. Misalnya dalam penggajian karyawan, mereka memberi upah tepat waktu. Kemudian, dalam berproduksi krupuk, masyarakat setempat menggunakan bahan-bahan yang halal dan tidak berbahaya untuk dikonsumsi. (naf/han)

FH Soroti Konflik MA-KY Soal Seleksi Calon Hakim

DINAMIKA hubungan Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Agung (MA) tengah menjadi sorotan, terutama pasca dikeluarkannya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia No. 43/PUU-XII/2015. tentang hilangnya kewenangan KY dalam proses seleksi dan pengangkatan calon hakim di peradilan tinggi pertama.       Mengangkat isu tersebut, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Komisi Yudisial mengadakan seminar hukum, yang berlangsung di UMM (28/4). Seminar menghadirkan Ketua KY Aidul Fitriciada Azhari, Mantan Ketua KY 2005-2010 Busyro Muqoddas, Ketua Dewan Etik Hakim Konstitusi Abdul Mukthie Fadjar, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Syaiful Bakhri, Hakim Tindak Pidana Korupsi Sumali, dan Dosen Fakultas Hukum (FH) UMM Sidik Sunaryo.       Aidul Fitriciada mengakui, dalam satu dasawarsa terakhir, KY dan MA tidak mampu menjalin hubungan kemitraan yang diharapkan. Alih-alih bermitra dalam mewujudkan independensi hakim, menurut Aidul, KY dan MA justru terlibat dalam konflik antar lembaga negara yang saling menegasikan satu sama lain.       Bagi Aidul, situasi konflik yang saling menegasikan ini bisa merugikan masa depan hukum dan peradilan di Indonesia karena pengawasan terhadap hakim oleh KY menjadi tidak efektif karena ada resistensi dari MA. Di lain pihak, kata Aidul, hal itu akan mengurangi transparansi dan akuntabilitas hakim dan peradilan di MA karena minimnya pengawasan dari luar.       “Apabila situasi ini berlanjut, dikhawatirkan akan menyuburkan praktik-praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan dalam dunia peradilan Indonesia,” papar Aidul.       Aidul menyadari, putusan MK No. 43/PUU-XII/2015 telah menghilangkan sebagian peran KY dalam mempersiapkan calon hakim yang berkualitas dan berintegritas. Putusan tersebut menghilangkan kewenangan KY dalam proses seleksi dan pengangkatan calon hakim. Namun, ujar Aidul, KY tetap berpeluang memberdayakan para hakim melalui pembinaan dan etika profesional hakim.       Senada dengan itu, Mukhtie Fadjar mengatakan, putusan MK tersebut telah mengembangkan tiga hal, yaitu kecenderungan eksesifikasi kewenangan, keangkuhan sektoral untuk tak mau berbagi kewenangan, dan keengganan berfikir out of the box.        “Betapapun, putusan MK sudah final dan harus dihormati. Dengan demikian, untuk sementara masa depan KY dalam rekrutmen hakim kembali pada desain konstitusi secara tekstual. Saya berharap, terjadi regenerasi yang menghasilkan hakim konstitusi yang mau menerangan jauh ke depan, mampu menangkap pesan konstitusi dan tidak terpaku pada rumusan kata-kata verbal dalam pasal-pasal konstitusi,” jelas dosen luar biasa FH UMM ini.       Lebih dari itu, Busyro Muqqodas menilai putusan MK tersebut telah mereduksi hak-hak rakyat untuk memperoleh hakim yang jujur, berkompetensi tinggi, dengan rekam jejak yang teruji oleh publik. “Putusan itu tidak membuka ruang untuk mencegah terjadinya praktek KKN yang selama ini terjadi secara masif di sejumlah lembaga kenegaraan yang berujung pada terjadinya sistem yang korup,” tandas ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini. (roh/han)

Karya Mahasiswa Program LEx Mudahkan Peternak Cacing

PETERNAK cacing Desa Junrejo, Kota Batu, kini telah memiliki teknologi yang memudahkan mereka dalam melakukan budidaya cacing. Jika sebelumnya segala proses peternakan cacing, mulai dari memberi makan, menggemburkan tanah, hingga mengairi lahan harus dilakukan secara manual, kini dengan alat bernama Soil Tilting and Nourishment Machine Worm Farmer peternak bisa melakukannya dengan jauh lebih mudah.       Mesin tersebut merupakan hasil karya program Learning Express (LEx) Singapore Polytechnic (SP) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kolaborasi mahasiswa dari dua negara itu diawali dengan riset di Junrejo yang telah dilakukan setahun sebelumnya, dan berlanjut hingga pembuatan alat yang dilakukan di Singapura.       Kini, alat tersebut sudah bisa dipakai peternak cacing di Junrejo. Serah terima bantuan alat ini dilakukan oleh Pimpinan Proyek, Azharuddin Naseem bersama tim dari mahasiswa SP dan UMM pada peternak cacing desa Junrejo, Sungkono, serta sejumlah warga desa setelah menyaksikan cara kerja alat tersebut, Rabu (27/4) di peternakan cacing Junrejo.  Azharuddin mengatakan, dengan alat tersebut peternak cacing bisa memberi makan cacing dan menggemburkan tanah dalam waktu bersamaan. “Mereka tak perlu lagi capek-capek membawa banyak alat berat ke sana-sini, mereka juga tak perlu mengaduk tanah dengan tangan mereka. Dengan alat ini, pengerjaannya jadi lebih cepat dan mudah,” jelas mahasiswa Singapore Polytechnic yang akrab disapa Azha ini.       Alat tersebut berbentuk seperti troli yang terdiri dari tiga komponen utama. Pertama adalah drum untuk menyimpan makanan cacing. Kedua adalah pipa terletak di kanan dan kiri troli. Pipa ini berfungsi menyalurkan makanan cacing berupa kotoran sapi yang telah difermentasi berbentuk cairan. Ketiga adalah roda bergigi yang terbuat dari stainless steel. “Dengan roda ini, tanah yang sudah disirami makanan cacing tadi bisa diaduk sehingga makanannya bisa terserap sempurna oleh cacing,” terang Azha.       Azha mengungkapkan, pembuatan alat ini memakan waktu sekitar enam bulan. Sejak September 2015, dia bersama tim harus bolak-balik untuk melakukan penelitian serta menyesuaikan kondisi lokasi peternakan cacing dengan alat yang dibuatnya. “Dengan alat ini, saya berharap mereka semakin giat bekerja, penghasilan bertambah dan kesejahteraan mereka jauh lebih baik,” harapnya. Sementara itu, peternak cacing, Sungkono, mengatakan alat ini sangat mempermudah dirinya mengembangkan usaha ternak cacing yang telah dirintisnya sejak 2014 ini. Ia juga akan berupaya agar alat ini dapat bermanfaat bagi warga Junrejo lainnya yang ingin beternak cacing. “Semoga target hasil ternak bisa meningkat, pendapatan bertambah, masyarakat juga merasakan manfaatnya,” ujarnya setelah resmi menerima alat tersebut.       Selain Azharuddin Naseem, mahasiswa yang tergabung dalam proyek ini yaitu Doyle Tan, Cheung Kai Hong, Yong Wei Yaw, dan Muhammad Firman Abdul Wahab. Kelimanya adalah mahasiswa SP jurusan Mechanical and Aeronautical Engineering. Selama riset, mereka bermitra dengan beberapa mahasiswa UMM yang juga tergabung dalam program LEx.       Staf International Relations Office (IRO) UMM, Karina Sari, dua kali setiap tahunnya, yaitu pada Maret dan September, mahasiswa asing yang tergabung dalam program LEx ditempatkan di beberapa desa yang ada di Malang dan Kota Batu selama beberapa hari untuk melakukan kegiatan sosial.       Dengan tinggal di desa, lanjut Karina, mereka bisa mengetahui permasalahan yang ada di desa tersebut dan menemukan solusi yang dibutuhkan. “Mereka diharapkan memiliki sebuah ide untuk bisa menciptakan teknologi tepat guna yang bisa mengatasi permasalahan penduduk setempat,” terangnya.       Selain dibuat di Singapura, beberapa hasil karya program LEx lainnya juga akan dibuat di Jepang, bekerjasama dengan Kanazawa Institute of Technology (KIT) dan Kanazawa Technical College (KTC). Ke depan, Karina berharap semakin banyak inovasi hasil karya peserta program LEx bagi masyarakat desa. “UMM akan terus berkontribusi melalui kegiatan ini untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat desa yang ada di Malang dan sekitarnya,” pungkasnya. (gas/han)

Mahasiswa FISIP Asal Thailand Penentu Kemenangan atas FAI

SALING berbalas gol di partai final, tim sepakbola Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) akhirnya sukses menjuarai Rector Cup 2016 di cabang ini setelah mengalahkan tim Fakultas Agama Islam (FAI) dengan skor 3-2. Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional asal Thailand, Abu Salman Kulem, berhasil menjadi penentu kemenangan FISIP melalui golnya via tendangan bebas. Bermain di Stadion UMM, Senin (25/4) kedua tim sama-sama bermain terbuka. Namun, di babak pertama FISIP terlihat menguasai jalannya pertandingan. Serangan demi serangan dilancarkan tim asuhan Iman Rajendra ini. Hasilnya, pertandingan baru berjalan 10 menit, pemain nomor punggung 04, M. Dicky berhasil membobol gawang FAI lewat sebuah tendangan bebas keras yang tak mampu dibendung kiper FAI.       Namun, lewat skema serangan balik cepat, pemain FAI berhasil membuat repot pertahanan FISIP. Di menit 21, Tim FAI mendapatkan sebuah tendangan bebas yang berbuah gol penyeimbang. Pemain nomor punggung 4, Latif, berhasil memanfaatkan umpan hasil tendangan bebas tersebut dengan sebuah sundulan terarah. Setelah hasil imbang, tempo permainan semakin tinggi. Di menit 26, terjadi insiden perselisihan yang mengakibatkan pemain FISIP nomor punggung 62, Ahmad Dion mendapatkan kartu merah. Namun, keuntungan jumlah pemain tidak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh FAI. Justru di menit 27, FISIP mampu unggul 2-1 lewat sebuah tendangan first time dari sebelah kiri gawang FAI. Gol tercipta atas nama Ghana.       Baru di penghujung babak pertama, tepatnya di menit 45, tim FAI asuhan Dimas Prayoga kembali bisa menyamakan kedudukan. Lagi-lagi lewat skema serangan balik cepat, pemain depan FAI nomor punggung 9, Tidar, berhasil menerima umpan terobosan dan diselesaikannya dengan sontekan terarah yang mampu mengecoh kiper FISIP. Babak pertama berakhir dengan skor imbang 2-2. Di babak kedua, kedua tim tetap memperlihatkan permainanan menyerang. Namun, mental juara FISIP sangat terlihat di babak ini. Meski bermain dengan sepuluh pemain, mereka tetap bisa mengimbangi permainan. Saling berbalas serangan terus terjadi sepanjang babak ini.       Hingga pada menit ke-58, Abu tampil sebagai pahlawan kemenangan FISIP. Lewat sebuah tendangan bebas yang tidak begitu keras, Abu mampu mengarahkan bola ke tiang jauh di sebelah kiri pojok gawang yang tak mampu dihalau kiper FAI. Setelah gol tersebut, kembali FAI yang rajin melancarkan serangan pada pertahanan FISIP, hingga pada menit ke-73 FAI mendapat peluang dari tendangan bebas yang berhasil dikonversi menjadi gol, namun dianulir wasit karena diklaim terjadi pelanggaran oleh pemain FAI di area kotak pinalti. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 3-2 tetap bertahan, dan FISIP keluar sebagai juara.       Di pertandingan lainnya, tim Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) berhasil merebut juara ketiga setelah mengalahkan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). FPP menang 5-4 lewat drama adu penalti setelah di babak normal kedua tim bermain imbang 2-2. (gas/han)

Komunikasi UMM Kaji Peran Media dalam Kampanye Politik

DALAM rangka memperingati hari jadinya yang ke-30, Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kuliah tamu bertema “Pemanfaatan Media dalam Kampanye Politik” di Auditorium UMM, Senin (25/4). Hadir sebagai pembicara campaign strategist sekaligus direktur utama Sanghika Dayacipta Komunika, Isra Ramli, dan pengamat komunikasi politik, Zen Amirudin.       Isra mengatakan, tren kampanye politik di Indonesia terbagi menjadi tiga. Pertama, tren di mana kampanye politik masih mengandalkan komunikasi sosial. Untuk memperoleh dukungan, para calon masih mengedepankan relasi personal, kekeluargaan, organisasional dan kelembagaan. “Di fase ini, peran media dan konsultan politik belum menentukan,” ujar lulusan Komunikasi UMM angkatan 93 ini.       Kedua, lanjut Isra, adanya transisi tren kampanye yang lebih modern di mana infrastruktur komunikasi sudah mulai berkembang. Kebutuhan media juga mulai dipertimbangkan untuk digunakan. “Ini dicirikan dengan sudah adanya polling popularitas dan mulai digunakannya konfrensi pers sebagai media publikasi,” terang mantan wartawan Tempo ini.       Terakhir, menurut Isra, pada tahapan kampanye politik maju dan modern, seperti yang terjadi saat ini, di mana kampanye sudah menjadi kebutuhan permanen. Penggunaan segala jenis media untuk berinteraksi dan adanya konsultan politik sudah sangat dimanfaatkan. “Pada tren ini, kampanye tidak hanya dilakukan pada saat masa pemilihan, tapi juga untuk mendapatkan, menjalankan dan mempertahankan kekuasaan politiknya,” ungkap pria yang juga pernah menjadi peneliti di Lingkaran Survei Indonesia (LSI) ini.       Sementara itu, Zen Amirudin mengatakan, media massa di Indonesia saat ini tidak menjalankan perannya dalam mencerminkan realitas, tapi justru menafsirkankan realitas. Menurutnya, pemilik media massa yang sudah berafiliasi dengan dunia politik hasil produknya akan menunjukan keberpihakan politik.       Baik media konvensional maupun media sosial, saat ini masih sangat efektif dalam meningkatkan popularitas. “Jadi hanya partai yang mampu mengakses media secara sistematis akan tampil lebih kompetitif dibanding partai yang tak mampu mengakses media,” papar pria yang juga menjabat sebagai Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM.       Kepala Prodi Ilmu Komunikasi UMM, Sugeng Winarno mengatakan, rangkaian HUT ke-30 Ikom UMM akan diisi dengan berbagai kegiatan, baik yang bersifat rekreatif maupun edukatif. Diharapkan, dengan digelarnya kuliah tamu ini para mahasiswa mampu mengambil ilmu dari para praktisi dan akademisi yang juga alumni Ilmu Komunikasi UMM. “Sekaligus motivasi untuk mereka untuk jadi orang yang sukses ke depannya,” pungkasnya. (gas/han)

Donasi Kanker Warnai Perayaan Kartini Lab Komunikasi UMM

LABORATORIUM Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki cara yang khas untuk memperingati hari Kartini. Memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) di Jalan Ijen Kota Malang, Lab Komunikasi UMM mengadakan kegiatan bertema Let’s Colour and Celebrate Kartini Day, Ahad (24/4).       Kegiatan yang merupakan rangkaian acara menjelang gelaran Kommunikasi UMM Beraksi (KommAksi) ini merayakan momen Kartini dengan mengajak para pejalan kaki mewarnai banner batik bergambar Kartini di salah satu area CFD. Selain mewarnai batik, panitia juga menjual stiker bertema donasi kanker yang hasil penjualannya didonasikan bagi penderita kanker di Malang.       KommAKsi itu sendiri merupakan event tahunan yang akan digelar pada 20 dan 21 Mei mendatang, sebagai ajang apresiasi karya praktikum mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, yang terdiri dari konsentrasi jurnalistik, audio visual, dan public relations.  KommAKsi tahun ini lebih istimewa sekaligus menjadi bagian dari rangkaian acara ulang tahun ke-30 Prodi Ilmu Komunikasi UMM.       Ketua divisi Public Relations KommAksi, Arul Ivansyah, mengungkapkan bahwa rangkaian awal kegiatan yang diadakan di CFD ini selain lebih memasayarakatkan batik yang khas Indonesia, juga mengangkat kembali semangat Kartini sebagai pejuang hak wanita Indonesia. “Semangat itulah yang membuat kaum wanita memiliki hak yang sama dalam mengenyam pendidikan,” Ungkapnya.       Kegitan ini mendapat respon positif masyarakat Malang. Mulai dari anak-anak, muda-mudi hingga orang tua menyempatkan diri untuk ikut mewarnai batik Kartini dan berdonasi. Penggalangan donasi ini, kata Arul, tidak berhenti hanya di perayaan hari Kartini saja, namun juga dalam seluruh rangkaian kegiatan KommAksi yang lain.       Salah seorang pengunjung CFD, Gilang Cahyo Utomo, mengakui dirinya cukup terkesan dengan kegiatan ini karena semangat dan perjuangan Kartini dirayakan dengan aksi penggalangan dana untuk penderita kanker. “Semoga dana yang terkumpul dapat membantu kebutuhan penderita kanker di Malang,” tutupnya. (nov/han)

UMM Rujukan Kampus Ramah Lingkungan

UNIT Kegiatan Mahasiswa (UKM) Divisi Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Malang (DIMPA UMM) membentangkan spanduk besar bertuliskan “UMM Green, Clean & Comfortable” di atas Gedung Kuliah Bersama (GKB) I UMM. Atraksi ini dilakukan dalam rangka memperingati hari bumi yang jatuh pada hari ini, Sabtu (22/4).       Rektor UMM, Fauzan mengungkapkan, refleksi tersebut memperkuat UMM sebagai kampus ramah lingkungan. Ia menegaskan, dengan gerakan yang dicanangkan sejak 2013, seluruh civitas akademik di UMM berkomitmen untuk berkontribusi nyata dalam pelestarian lingkungan. “Kita bisa mulai dari skala yang kecil, yakni lingkungan kampus,“ kata Fauzan.       Meski begitu, lanjut Fauzan, gerakan ini ia yakini akan semakin besar mengingat UMM adalah kampus rujukan banyak pihak. Selain itu, UMM juga memiliki puluhan ribu mahasiswa yang berasal dari berbagai penjuru nusantara bahkan mancanegara. “Pengalaman gerakan lingkungan di UMM tentu akan menjadi bekal yang dapat ditularkan atau dikembangkan mahasiswa jika kembali ke daerahnya masing-masing,” imbuhnya.       Sementara itu, Ketua DIMPA Trio Yuda mengatakan, momentum peringatan hari bumi harus dijadikan ajang refleksi dan perubahan sikap atau pola hidup sebagai upaya bersama menyelamatkan bumi. “Harus ada tanggung jawab bersama dalam perlindungan dan pengelolaan bumi agar terjaga kelestariannya,” ujarnya.       Lebih lanjut, Yuda mengatakan, DIMPA akan terus berkomitmen menjaga aset bumi yang terus berkurang. “Kami akan terus menggelorakan komitmen pelestarian lingkungan sebagai kebiasaan yang nantinya bisa menjadi gaya hidup,” imbuhnya.       Kegiatan ini juga hasil kolaborasi DIMPA dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM. Kepala PSLK UMM, Husamah memaparkan, pelestarian lingkungan juga dapat dilakukan melalui kegiatan akademik.    Sebagai contoh, kata Husamah, PSLK UMM beberapa waktu lalu menyelenggarakan seminar nasional bertema lingkungan hidup. “Kegiatan ini dihadiri 200 orang pemakalah dari seluruh Indonesia untuk membahas berbagai pemecahan permasalahan lingkungan,” pungkasnya.       Peringatan ini ditandai dengan penandatangan bingkai pesan untuk bumi oleh Fauzan dan manajemen Arema Cronus serta Direktur Radar Malang, Kurniawan Muhammad. (gas/han)

UMM dan Arema Punya Sejarah Tak Terlupakan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar diskusi multidisipliner “UMM Gazebo Forum” yang dikemas santai di Gazebo Perpustakaan UMM, Sabtu (23/4). Diskusi yang mengambil tema “Arema: Identitas Kultural, Bisnis dan Ideologi” ini menghadirkan petinggi Arema Cronus di antaranya Manajer Bisnis, Muhammad Yusrinal Fitriandi, Manajer Media Officer, Sudarmaji dan Manajer International Affair Fuad Ardiansyah. Selain itu hadir dalam diskusi tersebut, Direktur Radar Malang, Kurniawan Muhammad.       Rektor UMM, Fauzan, yang secara langsung meresmikan diskusi perdana ini mengatakan, pengetahuan dan informasi mendalam bisa didapat bukan hanya melalui forum diskusi formal. “Kita bisa memperoleh informasi, bahkan mengurai dan menyelesaikan persoalan melalui forum yang santai seperti ini,” ujarnya.       Ia berharap, diskusi yang dihadiri pejabat struktural, dosen, dan mahasiswa ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh civitas akademik di UMM. Setelah memberikan sambutan, Fauzan kemudian menyematkan pin lambang “UMM Gazebo Forum” pada para pembicara. Pihak Arema pun membalasnya dengan memberikan jersey Arema bernomor punggung satu dengan nama UMM.       Sudarmaji mengungkapkan, Arema memiliki hubungan sejarah yang berkesan dengan UMM. Ia menceritakan saat itu Arema akan menghadapi pertandingan delapan besar dalam sebuah kompetisi di Jakarta namun masih terkendala sponsor. “Di menit-menit akhir, UMM mau menjadi sponsor Arema sehingga kami bisa berangkat ke Jakarta,” ungkapnya.       Ia menjelaskan, saat ini memang sepak bola tidak terlepas dari berbagai kepentingan. Arema yang sudah menjadi identitas Malang bisa dimanfaatkan di sektor sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik. Di bidang sosial, Arema telah menjelma menjadi ikon yang bisa menyatukan berbagai kalangan.       Di sektor budaya, lanjut Darmaji, Arema bahkan sudah tidak bisa dilepaskan dengan kekuatan kultural di Malang. Dampak bisnis, baik dari sepak bola maupun di luar sepak bola pun sangat besar. Di dunia politik, nama besar Arema selalu menjadi topik utama yang diangkat. “Saat kampanye, tagline ‘Salam Satu Jiwa’ selalu dielu-elukan oleh para politisi untuk mendulang suara,” terangnya.       Sementara itu, Kurniawan Muhammad memaparkan, perjalanan Arema menjadi salah satu klub terbesar di Indonesia sangat panjang. Ia melihat klub yang berdiri 11 Agustus 1987 tersebut dari tiga sisi, yakni ideologi, brand dan identitas.       Menurut pria yang akrab disapa Kum ini, Arema lebih dari sekedar klub sepak bola, namun telah dijadikan sebuah pandangan hidup. “Jadi apapun yang dilakukan masyarakat Malang pasti tidak terlepas dari Arema,” paparnya.       Dari ideologi tersebut, lanjut Kum, lahir identitas yang sangat kuat sehingga muncul loyalitas suporter yang luar biasa. “Jadi Arema adalah sebuah brand yang ikonik, bisa dijual dan pemasarannya akan luar biasa, makanya Arema tidak akan sulit mencari sponsor besar,” pungkasnya. Kegiatan “UMM Gazebo Forum” ini rencananya akan diselenggarakan rutin setiap bulan dengan mengangkat topik yang berbeda. (gas/han)

LK Tekankan Sinergi Sekolah dan Keluarga bagi Pendidikan Anak

SINERGI pendidikan sekolah dan keluarga bagi anak usia dini dipandang sangat krusial dalam menentukan masa depan mereka. Melalui Kajian Multidisipliner bertema “Optimalisasi Peran Pendidikan dan Keluarga Menuju Generasi Madani” Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM) mengangkat isu tersebut.       Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (20/4) ini dilatari pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai fondasi bagi pendidikan anak. Dua pemateri yang dihadirkan pada kajian ini yaitu dosen Fakultas Psikologi, Sadiah Mewar, dan ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Malang, Rukmini Fadlan.       “Peran pendidikan dan keluarga belum bersinergi dalam pengupayaan pencapaian tujuan pendidikan anak, yaitu terwujudnya generasi penerus yang bertanggung jawab bagi diri anak, masyarakat, agama, dan bangsa sesuai dengan harapan orang tua,” ungkap Sadiah.       Prinsip Tripusat Pendidikan menjadi sentral pembahasan kajian ini. Tripusat Pendidikan yang dimaksud, menurut Sadiah, yaitu pendidikan dalam keluarga, masyarakat, dan sekolah. Pendidikan dalam keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan terpenting. Posisi ibu sebagai guru pertama bagi anak dalam kehidupannya, dapat diibaratkan sebagai alat penyemai benih-benih calon pemimpin peradaban di masa mendatang, dan ayah sebagai kepala sekolah dalam keluarga.       Masyarakat juga dinilai Sadiah memiliki keterkaitan dengan pendidikan. Sebagai makhluk sosial, seorang anak dilahirkan di dalam tatanan keluarga sebagai anggota masyarakat. Anak yang telah memasuki tahap remaja maupun dewasa memiliki peran signifikan dalam masyarakat. Melalui masyarakat, para pemuda membentuk komunitas gerakan yang menunjukkan bukti eksistensi diri. “Inilah yang dikatakan masyarakat sebagai pusat pendidikan,” papar Sadiah.       Selain itu, kata Sadiah, lembaga sekolah juga berperan penting untuk pengembangan intelektual anak serta aspek-aspek perkembangan lain seperti pengembangan moral, emosional, jasmani, dan pendidikan agama. “Khusus pendidikan agama, keluarga merupakan tiang utama dalam pusat pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pendidikan agama yang diadakan di sekolah hanya sebagai pelengkap saja,” jelasnya.       Pemahaman makna dari prinsip Tripusat Pendidikan akan membawa konsep berpikir kita ke dalam ranah masa lalu sejarah pendidikan Indonesia, sehingga bersinergi dalam pengupayaan pencapaian tujuan pendidikan anak, yaitu terwujudnya generasi penerus yang bertanggung jawab bagi dirinya, masyarakat, agama, dan bangsa.       Senada dengan itu, Rukmini meyakini, sinergi antarlembaga sekolah dan keluarga akan membantu anak berkembang secara optimal. Kolaborasi yang komunikatif antardua pusat pendidikan tersebut memiliki dampak yang sangat baik terhadap anak dalam berinteraksi dan mengembangkan aktualisasi diri dengan lingkungan sekitar.       “Setiap anak itu unik. Setiap anak memiliki bakat sebagai genius. Namun, orang tua dan pendidik sering memusnahkan potensi tersebut. Di sinilah peran kolaborasi berbagai pihak sangat penting untuk mengembangkan potensi anak,” papar Bu Rukmini. (*/han)

Peringati Hari Kartini, FOCUS Pamerkan Foto Karya Perempuan

Banyak cara untuk memperingati perjuangan R.A Kartini. Salah satunya melalui karya fotografi. Seperti yang dilakukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FOCUS Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelompok mahasiswa peminat fotografi ini menggelar pameran foto bertajuk “Saatnya Wanita Berkarya” di Pelataran Kantin Lantai 3.5 UMM, Kamis (21/4). Ketua Pelaksana Pameran, Muhammad Ikmal mengatakan dengan tema tersebut, FOCUS UMM sangat menghargai karya wanita yang bergelut di dunia fotografi. Oleh karenanya, Ia menjelaskan semua karya yang ditampilkan dalam pameran adalah hasil karya jepretan pengurus perempuan yang ada di FOCUS UMM. “Kami ingin menunjukan bahwa hasil karya mereka tidak kalah bagus dengan anggota kami yang laki-laki,” ujarnya. Ada sebanyak 104 foto yang dipajang dari 18 pengkarya wanita dalam pameran tersebut. Salah satu yang dipajang adalah hasil karya dari Ekki Ventinila Manandi. Ia mengabadikan foto dari seorang ibu yang bekerja sebagai seorang penambal ban truk di kawasan Bululawang, Kabupaten Malang. Lewat foto yang diberi judul “Perempuan Pekerja Keras” itu, mahasiswi semester empat jurusan ilmu komunikasi tersebut ingin memberi gambaran jika wanita adalah sosok yang tangguh. “Ia sebagai seorang wanita, tapi dia berani mengambil pekerjaan yang biasanya dikerjakan laki-laki demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya,” ungkapnya semangat. Selain itu, lewat karyanya tersebut, Ekky juga ingin memberitahi jika saat ini perempuan sudah bisa disetarakan dengan laki-laki di segala bidang. Namun Ia menegaskan, perempuan juga harus ingat kodratnya sebagai wanita. “Kita sebagai wanita juga harus tau batasan, seperti tetap menghargai laki-laki,” imbuhnya. Pembina FOCUS UMM, Nasrullah, mengatakan banyak sekali tokoh perempuan di Indonesia yang bisa dijadikan panutan dalam memperjuangkan hak-hak wanita seperti istri dari pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, Nyai Walidah. Ada juga pejuang wanita asal Aceh, Cut Nyak Dien dan tokoh pendidikan dan jurnalis sekaligus pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia yaitu Siti Roehana Koeddoes. “Mereka semua adalah tokoh perempuan yang memiliki semangat luar biasa pendidikan dan pencerahan bagi bangsa Indonesia,” ujarnya. Oleh karenanya Nasrullah berharap, lewat peringatan ini mahasiswi di UMM agar memiliki mental, semangat dan pemikiran yang kuat untuk membangun bangsa. “Mahasiswi di UMM harus menjadi perempuan yang berkemajuan dengan terus berkarya,” pungkasnya. Pameran foto ini diselenggarakan selama tiga hari mulai 19 April lalu. Tidak hanya pameran foto, gelaran ini juga diramaikan dengan penampilan UKM Ikatan Band Mahasiswa (IKABAMA)  yang kesemua personil bandnya adalah perempuan. Tak ketinggalan pajangan karya dari UKM Seni Lentera juga menghiasi pameran tersebut. (gas/nas)