Kehutanan UMM Revitalisasi Hutan Lindung Bromo-Tengger-Semeru

PROGRAM Studi (Prodi) Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipercaya dalam revitalisasi hutan lindung di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Luas area yang direvitalisasi tidak tanggung-tanggung, yakni 165 hektar.       Revitalisasi yang dilakukan di Agrowulan dalam kawasan TNBTS ini bekerjasama dengan beberapa lembaga multinasional, seperti PT Toyota Boshoku Indonesia, PT Toyota Boshoku Japan, dan lembaga penyandang dana Japan International Forestry Promotion and Cooperation Center (JIFPRO).       Ketua Prodi Kehutanan, Tatag Muttaqin Shut MSc mengatakan, revitalisasi dilaksanakan secara bertahap. “Saat ini kami telah melakukan penanaman pohon jenis Mentigi dan Cemara Gunung di kawasan Agrowulan TNBTS. Revitalisasi ini dilakukan selama empat hari mulai Sabtu-Selasa (2-5/4) lalu,” ungkapnya.       Kerjasama revitalisasi dengan beberapa lembaga luar negeri, menurut Tatag, akan langsung dirasakan manfaatnya di kawasan yang direvitalisasi. “Kerjasama ini saya harap tidak hanya bermanfaat bagi Prodi Kehutanan UMM dan para mitra yang terlibat, tapi juga berdampak langsung pada lingkungan yang saat ini semakin terdegradasi oleh banyak kerusakan,” ujar Tatag.       Sementara perwakilan dari JIFPRO, Prof Seiici Ohta memandang adanya revitalisasi sebagai langkah maju dibidang pelestarian lingkungan. “Kerjasama ini dilandasi pada kepedulian akan penanganan lingkungan yang saat ini banyak terjadi pembalakan liar dan musnahnya tumbuhan asli diberbagai kawasan. Untuk itu pihak JIFPRO mendukung penuh kerjasama tersebut,” katanya.       Sementara itu Dr Fariana Prabandari SHut MSi, Kepala Bidang II TNBTS mengatakan kawasan hutan lindung memang perlu penanganan khusus. “Semoga kerjasama ini terus berlanjut dan kawasan TNBTS tetap terjaga kelestariannya,” ungkap Fariana. (itg/zul)

SMK Muda Muhammadiyah 2 Ngawi Kunjungi UMM

SEJUMLAH 120 Murid dan 15 guru pendamping dari program Teknik Kelola Jaringan (TKJ) SMK Muhammadiyah 2 (Muda) Ngawi berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kunjungan diterima sekretaris Humas UMM Rina Wahyu Setyaningrum di UMM Dome, Rabu (20/04).       Menurut wakil kepala sekolah SMK Muda, Sumarno, kunjungan ke UMM adalah dalam rangka memperkenalkan lebih jauh tentang Muhammadiyah serta mengkombinasikan disiplin ilmu antara sekolah dengan perguruan tinggi di bidang TKJ. Selain itu, agar siswa-siswi termotivasi untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.       “Kunjungan ini dimaksudkan agar anak-anak tahu tentang UMM, kemudian supaya anak-anak merubah pola pikirnya. Syukur-syukur mau kuliah di sini”, papar Sumarno.       Peserta diajak mengunjungi ruang Labolatorium Informatika untuk mengetahui aktivitas apa saja yang dilakukan setiap hari oleh operator dan mahasiswa IT. Para peserta kunjungan terlihat sangat antusias, terbukti dengan banyaknya peserta yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai web dan jaringan.       Menurut Nita, salah satu siswa kelas 10, kunjungan ke UMM ini adalah studi industri pertama yang menarik. Selain menambah ilmu dan wawasan tentang UMM, juga sebagai bekal jika lulus nanti, sebagai pilihan melanjutkan ke perguruan tinggi atau kerja.       “Kami diajak jalan-jalan ke labolatorium dengan peralatan yang memadai serta penjelasan yang detail. Melihat komputer yang tertata rapi dengan perangkat lunak, jaringan komputer dan beberapa penjelasan tentang game cerdas”, ungkap Nita.       Setelah kunjungan ke UMM, selanjutnya rombongan melakukan kunjungan industri ke Taman Sengkaling UMM. (roh/han)

Siswa SMA Tiongkok Tertarik Kuliah di UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan dari Nanning Overseas Chinese Experimental High School, Tiongkok. Datang mewakili sekolah setingkat SMA tersebut, Director Overseas Student Office, Qiu Zhijian dan Director of Academic Affairs Student Teacher, Lu Jieying diterima langsung Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri, Suparto, Rabu (20/4).       Soeparto mengatakan, kunjungan ini terkait ketertarikan SMA tersebut untuk melanjutkan studinya ke UMM. Ia menjelaskan, ketertarikan tersebut dilatari banyaknya kerjasama UMM dengan Negeri Tirai Bambu tersebut. “UMM membuka peluang di semua fakultas dan prodi untuk mereka kecuali fakultas kedokteran dan fakultas ilmu kesehatan,” ujarnya.       Di UMM, lanjut Soeparto, mahasiswa asing diharuskan untuk belajar berbahasa Indonesia. Menariknya, lanjut Soeparto, di SMA tersebut memiliki pelajaran Bahasa Indonesia sehingga mendukung siswanya untuk masuk ke UMM. Namun begitu, ia menegaskan, tetap akan ada tes Bahasa Indonesia bagi mereka yang ingin kuliah di UMM. “Kita akan adakan tes untuk mereka via tatap muka secara online,” terangnya.       Setelah dinyatakan lolos tes Bahasa Indonesia, kata Soeparto, sebelum masuk, mahasiswa asing tersebut tetap akan dilatih berbahasa Indonesia selama dua bulan oleh unit Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) UMM. “Jadi mereka harus datang dua bulan sebelum tahun ajaran baru di UMM,” pungkasnya.       Hadir juga dalam pertemuan tersebut mahasiswa Tiongkok yang berkuliah di UMM untuk memberikan testimoninya terkait pengalaman aktivitas perkuliahan di UMM. (gas/han)

Mahasiswa UMM yang Open-Minded Pikat Kateryna Poliakova

SEBELUM datang ke Indonesia, Kateryna Poliakova mengaku sempat khawatir kesulitan bergaul dan berkomunikasi dengan mahasiswa UMM karena kendala bahasa dan budaya. Namun, di luar perkiraannya, ternyata mahasiswa UMM diakuinya sangat open-minded dan menyukai pengetahuan baru.       “Ternyata saya salah, mahasiswa di sini sangat terbuka terhadap hal baru. Mereka suka bertanya dan berdiskusi banyak hal tentang kehidupan dan perkembangan media di Ukraina. Saya sangat senang bekerjasama dengan mereka di kelas, saling bertukar pandangan dan gagasan,” cerita peserta program Learn & Teach internship UMM asal Kyiv, Ukraina ini.       Kateryna juga terkesan dengan suasana dan fasilitas di UMM. “Sangat cantik, rapi, dan terawat. Stafnya ramah-ramah, mahasiswanya juga sopan dan cerdas,” kata mahasiswi yang pernah studi jurnalisme di  Zaporizhzhya National University ini.       Sejak lama, Kateryna memang sudah tertarik dengan negara-negara tropis di Asia. Dengan Indonesia, ia terpikat keragaman etnis dan keindahan alamnya yang sangat cerah dan natural.       Selain itu, berdasarkan informasi dari temen-temannya yang pernah ke Indonesia,Kateryna mendengar bahwa kekuatan tradisi negara ini bisa merubah cara berpikir dan gaya hidup orang yang mengunjunginya. “Setelah sampai di sini saya tak heran, keragaman Indonesia memang berakar dari budaya pribumi yang begitu kuat,” akunya.       Karena itulah, selama tinggal di Malang, Kateryna terus menulis blog tentang UMM dan Indonesia. Ia berharap, tulisannya itu bisa bermanfaat bagi teman-temannya yang tertarik belajar dan melakukan pertukaran budaya di sini. “Saya juga nantinya akan menulis serial artikel tentang keindahan dan kekayaan alam Indonesia beserta keunikan-keunikannya,” ujarnya.       Saat ini, Kateryna tengah melanjutkan studi pascasarjana di the Institute of Journalism of Taras Shevchenko National University of Kyiv, Ukraina dan tengah menulis thesis tentang teknologi media interaktif. Dengan pengalaman akademiknya di UMM, ia berharap bisa berkontribusi bagi tesisnya, mengingat ia telah memperluas lingkup risetnya dengan memasukkan pengalaman Indonesia di dalamnya. (han/nas)

Ini Tiga Masalah Indonesia Menurut Gus Ipul

WAKIL Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf  mengatakan Muhammadiyah harus masuk ke seluruh instrumen pengambilan keputusan di negeri ini. “Mulai DPR, pemerintah baik pusat, kabupaten, provinsi harus disentuh oleh Muhammadiyah,” ujar Gus Ipul, sapaan akrab Syaifullah Yusuf saat menjadi keynote speaker di Rapat Kerja Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur (Jatim). Selain Gus Ipul, hadir pula Ketua PWM Jatim, Ketua PWM Jatim, Dr Saad Ibrahim MA dan Ketua LHKP PWM Jatim. Menurut Gus Ipul, masuknya Muhammadiyah di berbagai elemen pengambilan keputusan ini agar kebijakan yang dihasilkan masih sejalan dengan visi dan misi Muhammadiyah untuk umat. “Dulu golongan punya wakil di legislatif, namun saat ini sudah tidak ada. Ormas (Organisasi Masyarakat) seperti Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama) harus mulai menyisipkan kader-kadernya melalui partai politik atau organisasi sayap politik masing-masing,” katanya di hadapan seluruh elemen LHKP dan perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se Jawa Timur di Hall Ahmad Dahlan, Hotel UMM Inn, Sabtu (16/4). Dalam penjelasannya lebih lanjut, Indonesia saat ini menghadapi tiga masalah. Pertama, menurut Gus Ipul, adalah persoalan rasio gini. Indonesia, kata Jusuf Kalla (JK) yang dikutip Gus Ipul pernah menyentuh angka 0,43.  “Arab spring ditandai dengan 0,45. Kata Pak JK, bangsa ini sudah lampu kuning. Jika tidak segera diantisipasi, bisa terjadi ledakan yang luar biasa,” tuturnya. Kedua, adalah persoalan Sumber Daya Manusia (SDM). Menurutnya, dari sisi ketenagakerjaan, 65 persen diantaranya adalah orang-orang yang bersekolah selama tujuh tahun. “Artinya, mereka sempat lulus SD, namun tidak lulus SMP,” ungkap Gus Ipul. Ketiga, yaitu persoalan regulasi. Kata Gus Ipul, masih banyak undang-undang yang bertabrakan satu dengan lainnya. Untuk itulah, Presiden Jokowi mengisyaratkan untuk menyederhanakan regulasi yang ada di negeri ini. “Terkadang juga sudah ada undang-undangnya, tapi belum ada perpres (Peraturan Presiden) atau perda (Peraturan Daerah)nya. Terkadang juga sebaliknya,” katanya. Meski demikian, Gus Ipul mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan Muhammadiyah. Melalui amal-amal usahanya, mencoba mengurangi kesenjangan yang terjadi di negeri ini. “Sama dengan lembaga pendidikannya. Dengan banyaknya sekolah yang dibangun oleh Muhammadiyah, sudah cukup membuktikan bahwa Muhammadiyah betul-betul berfokus membantu peningkatan SDM negeri ini,” ujarnya. Ia juga mengungkap kekagumannya dengan UMM yang tetap menjaga kualitas pendidikannya, sembari membangun beberapa amal usaha lain seperti rumah sakit, hotel, bengkel, hingga yang terbaru sebuah taman rekreasi yang sekarang bernama Taman Sengkaling UMM. “Inilah yang menjadi kekuatan umat dan kekuatan bangsa ini untuk menghadapi tantangan globalisasi serta liberalisasi yang mulai merambah seluruh aspek kehidupan kita,” katanya. Sementara Saad Ibrahim dalam sambutan pembukaannya mengatakan, meski Indonesia merupakan negara hukum, namun agama tetap dapat menjadi rujukan dalam pembuatan kebijakan. “Kita tahu bahwa sumber hukum negara kita adalah Pancasila. Tapi banyak orang lupa bahwa sila pertama kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa yang bermakna adalah agama. Jadi agama juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan berbangsa dan bernegara kita,” kata Saad. Ia menambahkan, itulah yang mendasari Muhammadiyah melakukan Jihad Konstitusi hingga pergi ke Jakarta menemui Mahkamah Konstitusi (MK). “Setelah berkonsultasi dengan MK, ternyata yang berwenang adalah MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). Sewaktu-waktu kita akan mengundang pimpinan MPR untuk membahas hal ini,” ujarnya. Selain hari ini, Rapat Kerja LHKP PWM Jatim akan dilaksanakan Minggu (17/4) besok. (zul/nas)

UMM-Kasetsart University Perkuat Kerjasama di Bidang Pertanian

KEUNGGULAN Kasetsart University, Thailand, di bidang pendidikan pertanian melatari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meningkatkan kerjasama dengan kampus tersebut. Rektor UMM, Fauzan, mengatakan kerjasama ini semakin memperkuat salah satu konsep pengembangan akademik UMM yakni one faculty one product.       Dengan konsep tersebut, ungkap Fauzan, nantinya setiap fakultas di UMM akan memiliki mitra dari universitas berkualitas di luar negeri. “Mengingat Kasetsart sangat terkenal dan maju di bidang pendidikan pertanian, maka kerjasamanya diarahkan pada bidang tersebut,” ujarnya.       Kerjasama ini ditandai dengan kunjungan Rektor UMM bersama Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Henik Sukorini dan Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soeparto, ke Kasetsart  University, Senin (11/4). Kunjungan dilanjutkan dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) di kampus setempat.       Rencananya, menurut Henik Sukorini, pada September mendatang UMM akan mulai mengirimkan beberapa teknisi bidang pertanian dari FPP UMM untuk diberi pelatihan mengenai pengembangan teknologi pertanian selama satu bulan. “Hasilnya akan diterapkan secara berkala di beberapa daerah di Indonesia yang telah bermitra dengan UMM,” terang Henik. Sementara itu, Soeparto menekankan, UMM kini tidak hanya terfokus menjalin kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi mancanegara. Lebih dari itu, saat ini UMM lebih menitiktekankan pada program intensifikasi dan optimalisasi kerjasama yang telah ada sebelumnya untuk mewujudkan visi one faculty one product. “Karena dari segi kerjasama dengan perguruan tinggi UMM sudah banyak sekali,” ujarnya.       Ke depan, Soeparto mengungkapkan, UMM akan terus memperkuat jalinan kerjasama yang sudah dibangun sebelumnya, khususnya di kawasan Asia Tenggara. “Di Era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) saat ini kerjasama dengan universitas di ASEAN lebih diutamakan,” pungkasnya. (gas/han)

UMM Buka Program Profesi Insinyur

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat mandat dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk membuka Program Profesi Insinyur. Penugasan ini berdasarkan amanat Undang-Undang (UU) No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran.       Dekan Fakultas Teknik (FT) UMM, Ir Sudarman MT, mengatakan pembukaan program profesi ini untuk memenuhi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). “Dengan pembukaan profesi insinyur ini, kita sama-sama berharap akan meningkatkan jumlah dan kualitas insinyur Indonesia,” kata Darman.       Pemilihan UMM sebagai salah satu penerima mandat untuk membuka program profesi didasarkan beberapa kriteria, seperti sudah terakreditasi A atau B, memiliki Fakultas Teknik, Pertanian, dan/atau Matematika dan IPA (MIPA). “Dari hasil seleksi Kementerian itulah, didapatkan 40 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ditunjuk mengawali pembukaan program profesi ini,” ujarnya.       Yang bisa mengikuti program profesi ini, lanjut Darman, bisa dari lulusan sarjana teknik, pertanian, ataupun sains terapan, maupun para pekerja yang berprofesi di bidang keinsinyuran. “Tiap kampus hanya diberi jatah 100 mahasiswa saja tiap angkatan. UMM akan mulai membuka program ini Agustus tahun ini,” katanya.       Penyelenggaraan program ini, kata Darman, akan bekerjasama dengan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM. “Karena lulusan pertanian juga memerlukan sertifikasi profesi insinyur untuk bidang mereka. Pihak universitas akan membawahi langsung program profesi insinyur ini,” ucapnya.       Nantinya, sertifikat profesi diakui di seluruh kawasan Asia. “MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) meskipun sudah dibuka, namun untuk tenaga-tenaga SDM-nya kan baru dibuka 2018. Kita masih punya waktu menyamakan kualitas insinyur kita dengan negara-negara lain, sehingga bisa meningkatkan atau menyamakan salary antara Indonesia dan negara-negara tetangga,” ujar Darman.       Sementara itu Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kemenristek Dikti, Patdono Suwignjo dalam surat penugasan penyelenggaraan Program Profesi Insinyur kepada UMM mengatakan, pertimbangan memilih UMM karena kemampuan dan pengetahuan dalam penyelenggaraan pendidikan tingi yang berkualitas. “Pembukaan program ini untuk menyiapkan sumberdaya manusia yang memiliki pengetahuan yang mencukupi dalam bidang pendidikan tinggi profesi insinyur,” tulisnya.       Pembukaan Program Profesi Insinyur di UMM melengkapi program-program profesi lain yang telah berdiri sebelumnya, seperti Profesi Dokter, Profesi Perawat, Profesi Akuntan, dan lain-lain. (zul/han)

Kuliah Tamu Dosen UNISA Australia Kaji Kontekstualisasi Bahasa

KEPALA Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris University of South Australia (UniSA), Dr Greg Restall, hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberi kuliah tamu bertajuk ‘Competent Language Use: Teaching the Four Skills in Socio-Cultural Context’ bagi mahasiswa dan dosen Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Kamis (14/4).       Menurut Greg, kemampuan berbahasa yang baik harus bisa menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya di lingkungan sekitar. Ia mencontohkan bahasa Inggris yang digunakan di Australia akan disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya di negara tersebut.       Begitupun ketika diterapkan di Indonesia, kata Greg, juga harus disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya di Indonesia. “Bahasa yang digunakan di suatu konteks tertentu akan berbeda maknanya jika diterapkan pada konteks lainnya,” jelasnya.       Sebagai pengajar Bahasa Inggris, lanjut Greg, baik dosen maupun guru harus memahami apa yang akan dilakukan dan disampaikan terkait kondisi sosial dan budaya muridnya. “Pemakaian bahasa itu harus dipahami sebagai penuntun antar individu satu dengan individu lainnya, kelompok masyarakat satu dengan masyarakat lainnya,” imbuhnya.       Sementara itu, Staf International Relation Office (IRO) UMM, Dr Rinjani Bonavidi MEd mengatakan, sebagai dosen Bahasa Inggris dirinya mengaku mendapatkan pemahaman baru dan juga menguatkan pengalaman yang didapatnya selama dirinya mengajar.       Menurutnya, mengajar Bahasa Inggris memang memerlukan kemampuan khusus agar mudah dimengerti dan dipahami mahasiswa. “Mengajar Bahasa Inggris adalah sebuah tantangan, apalagi menghadapi kondisi sosial dan budaya yang berbeda, makanya pembahasan ini jadi sangat penting,” pungkasnya. (has/han)

Kyungdong University Perkuat Kerjasama dengan UMM

REKTOR Kyungdong University (KDU) Korea Selatan, Prof John Lee, kembali mengunjungi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (13/4). Jika sebelumnya Lee datang ke UMM (17/3) untuk partnership meeting terkait kerjasama pengembangan bahasa, kali ini ia bersama tiga rekannya bertemu langsung mahasiswa UMM untuk menjelaskan tentang pelaksanaan program tersebut.       Lee mengatakan, saat ini bukan zamannya menjadi pemain tunggal dalam menghadapi kompetisi global. “Sekalipun jarak antar negera tetap berjauhan, namun penyebaran informasi sangat cepat. Ini harus dimanfaatkan untuk saling bertukar ide dan gagasan,” kata Lee di Ruang Sidang Senat UMM.       Bagi Lee, Indonesia adalah negara yang memiliki potensi yang luar biasa. Saat ini, KDU tengah membangun kerjasama dengan 21 kampus di Indonesia, di mana 18 di antaranya adalah perguruan tinggi Muhammadiyah. Lee mengaku tertarik dengan cara Muhammadiyah mengembangkan pendidikan di Indonesia.       Melalui kemitraan akademik, Lee yakin pihak-pihak yang bekerjasama akan bisa lebih berperan di kancah internasional. Namun, agar kompetitif Lee memberi prasyarat agar mahasiswa memiliki skill dan spesialisasi yang bisa diandalkan. “Anda bisa pergi ke mana saja, bekerja di mana saja, asalkan Anda punya skill dan spesialisasi,” ungkap Lee.       Lee juga menyebut masa mahasiswa sebagai golden age, karena pada saat inilah seseorang memiliki motivasi yang tinggi untuk membekali diri. Lee juga menyinggung soal masa kuliah empat tahun yang menurutnya lebih dari cukup untuk menjadi seorang spesialis. “Untuk menjadi spesialis dengan gelar MBA (Master of Business Administration) hanya dibutuhkan waktu satu setengah tahun. Harusnya, mahasiswa yang kuliah empat tahun bisa lebih hebat dari seorang spesialis bergelar MBA,” paparnya.       Terkait kerjasama, Lee memberi kesempatan bagi seluruh mahasiswa UMM yang ingin belajar bahasa korea di KDU. Setelah belajar tiga bulan, mahasiswa berkesempatan melanjutkan studi dengan skema joint degree atau bekerja di berbagai sektor industri di Korea, tergantung pada kualifikasi yang dimiliki. “Kuliahnya gratis, mahasiswa hanya menanggung akomodasi dan tiket pulang-pergi,” jelas Lee.       Asisten Rektor UMM Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soeparto, menyebut kerjasama ini sebagai kesempatan bagi mahasiswa UMM untuk meningkatkan kompetensi akademik sekaligus memperluas pergaulan internasional. Terlebih, KDU merupakan kampus dengan employment rate atau penyerapan tenaga kerja tertinggi di Korea Selatan.       Selain skema yang dijelaskan Lee, Soeparto menambahkan, UMM-KDU juga bersepakat mengembangkan program kredit transfer. Sistem serupa sebelumnya telah dijalankan UMM dengan Tongren University, Tiongkok. Saat ini, ada 13 mahasiswa UMM yang tengah belajar di Tongren dan 26 mahasiswa Tongren yang sedang belajar di sini. Melalui kredit trasfer, mahasiswa cukup membayar kuliah sesuai dengan biaya di kampusnya masing-masing. (han)

UMM Bentuk Mahasiswa Relawan Siaga Bencana

DALAM menghadapi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membentuk tim relawan mahasiswa siaga bencana. Tim bernama Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM ini merupakan gabungan dari beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan lembaga-lembaga intra di UMM.       Pembentukan tim relawan merupakan bagian dari rangkaian acara Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana untuk Mewujudkan Kampus Siaga Bencana yang diadakan Sabtu (9/4) lalu. Acara yang dihadiri Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang, serta perwakilan mahasiswa dari UKM dan lembaga intra ini dibuka oleh Wakil Rektor III UMM, Dr Sidik Sunaryo MHum.       Kepala Pusat Studi Kependudukan, Kewilayahan, dan Penanggulangan Bencana (PSK2PB) UMM, Krishno Hadi, mengatakan kampus perlu ambil bagian jika sewaktu-waktu bencana terjadi. “Acara ini sebagai awal dari upaya besar PSK2PB untuk mengembangkan Kampus UMM sebagai Kampus Siaga Bencana,” ujar Krishno.       Ia menambahkan, acara pelatihan ini menjadi awal untuk berbagai program-program lanjutan dari PSK2PB. “Ke depan bisa saja membuat program pengembangan EWS (early warning system) dan pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi civitas akademika UMM bekerjasama dengan BPBD kota serta kabupaten Malang,” katanya.       Sidik Sunaryo dalam sambutannya mengapresiasi mahasiswa yang menjadi relawan siaga bencana. Menurut dia, tidak banyak mahasiswa yang memiliki kesadaran pada kebencanaan. “Saya berharap UMM menjadi kampus yang benar-benar siaga bencana mengingat lokasi kampus ini khususnya kampus tiga yang rawan kena longsor,” ujar Sidik. (zul/han)