Junjung Prestasi Melalui Rector Cup UMM 2016

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar agenda akbar Rektor Cup 2016. Rektor UMM, Drs Fauzan MPd secara resmi membuka kompetisi yang akan melombakan berbagai bidang olahraga, seni dan penalaran antar mahasiswa se-UMM ini, Sabtu (19/3) di Hall UMM Dome. Dalam sambutannya, Fauzan mengatakan Rector Cup diadakan selain untuk mencari dan mengembangkan potensi bibit-bibit unggul di bidang akademik maupun non akademik, juga sebagai sarana untuk melatih sportifitas para mahasiswa. “Sikap sportif itu sangat penting agar kita mampu berpikir objektif, apa adanya, tanpa kecurangan sekecil apapun,” jelasnya. Oleh karenanya Ia menegaskan perlu adanya manajemen khusus di setiap fakultas untuk menggali potensi para mahasiswa. Rektor Cup 2016 kali ini mengusung tema ‘Kompetisi Menuju Prestasi Lebih Tinggi’. Ketua Panitia Rektor Cup 2016, Drs Warsono MM mengatakan, dengan tema tersebut diharapkan para mahasiswa mampu mengembangkan potensinya dan bisa mengharumkan nama UMM di kejuaraan antar perguruan tinggi tingkat nasional maupun internasional. “Jadi tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri tapi juga berguna bagi lembaga perguruan tinggi,” ujarnya. Kompetisi dalam Rektor Cup 2016 dibagi menjadi empat bidang yakni seni, olahraga, penalaran dan keagamaan. Ada 44 cabang perlombaan yang akan dikomando oleh setiap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di UMM. Kompetisi di bidang seni diantaranya vokal grup, solo pop, dangdut, seriosa, keroncong, festival band, baca puisi, penulisan naskah drama, cerpen dan puisi, drama/teater, lukis, komik strip, desain poster, film fiksi pendek, film dokumenter, tari, fotografi, stand up comedy, master of ceremony (MC), dan announcer. Sementara di bidang olahraga, ada delapan cabang olahraga yang akan dikompetisikan diantaranya pencak silat, bulutangkis, sepak bola, bola voli, taekwondo, karate dan bola basket. Pembuatan progran kreativitas mahasiswa (PKM), debat, pidato dan business plan masuk dalam kompetisi termasuk dalam kategori kompetisi di bidang penalaran. Di bidang keagamaan ada musabaqoh tilawatil Quran (Qori), musabaqoh tartil Quran, musabaqah khatil Quran (Kaligrafi), musabaqoh fahmil Quran (Cerdas cermat), syahril Quran (Da’i), lagu religi/nasyid, dan lomba karya tulis ilmiah Al-Quran. Kompetisi sendiri akan berlangsung mulai dari 19 Maret hingga 30 April 2016. Nantinya setiap fakultas akan memperebutkan piala bergilir. Ada 250 kontingen dari 10 fakultas yang ada di UMM. Tahun 2015 lalu berhasil diraih Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Agenda Rector Cup 2016 resmi dimulai dengan diserahkannya piala bergilir dari juara umum Rector Cup 2015 kepada rektor UMM serta penandatangan nota kesepahaman dan sportifitas dari perwakilan BEM masing-masing fakultas. (gas/nas)
Dahlan Rais: Asrama Mahasiswa harus Lahirkan Kader Muhammadiyah

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dahlan Rais, mengatakan pengelolaan asrama mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah harus bisa melahirkan generasi penerus Muhammadiyah yang tangguh. Asrama mahasiswa juga harus dimanfaatkan sebagai pengembangan Islam, dakwah dan tajdid. Demikian pokok pikiran Dahlan ketika memaparkan keynote speech dalam pembukaan Lokakarya Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa PTM, Jumat (19/3), di hall HOS Cokroaminoto, hotel UMM Inn. Selain Dahlan, hadir dalam pembukaan acara itu, rektor UMM Fauzan, wakil ketua Majlis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, Edi Suandi Hamid, ketua Majlis Tabligh PP Muhammadiyah Anhar Anshori. Lokakarya diikuti 77 peserta dari utusan PTM seluruh Indonesia. Acara ini akan berakhir Minggu (20/3). Dahlan menyebutkan, asrama memiliki nilai sangat strategis, salah satunya untuk mendidik kader-kader persyarikatan. “Untuk itu pengembangannya bisa melalui ideologi yang dipegang teguh oleh Muhammadiyah yakni religiusitas, intelektualitas dan humanitas,” paparnya. Sementara itu Fauzan memandang asrama memiliki dua fungsi sekaligus, yakni untuk penanaman ideologi dan pengkaderan, serta sebagai sumber pendapatan universitas. Seraya mengembangkan program untuk penguatan ideologi, kampus harus dapat menghasilkan dana mandiri dari pengelolaan asrama. “Asrama sebagai salah satu fasilitas yang mendukung bagi kehidupan perkuliahan mahasiswa, juga harus digunakan sebagai sarana mewujudkan tujuan dan cita-cita Muhammadiyah. Selain itu, jika pengelolaannya baik, maka asrama bisa dijadikan sumber penghasilan bagi kampus,” ujar Fauzan. Senada dengan Fauzan, Edi Suwandi Hamid memaparkan Rusunawa atau asrama adalah sebuah aset bagi kampus yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan guna mewujudkan ideologi persyarikatan Muhammadiyah. “Bisa menjadi wadah pengkaderan bagi mahasiswa lulusan PTM,” ujarnya. Selain itu, Ia menambahkan, sesuai hasil dari Muktamar Muhammadiyah yang diselenggarakan Agustus tahun lalu, asrama sebagai salah satu amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah juga bisa dijadikan supporting fund bagi perguruan tinggi. “Jadi dana pengembangan kampus tidak hanya diperoleh dari biaya kuliah yang dibayarkan mahasiswa saja,” jelasnya. Untuk memastikan bahwa asrama memiliki nilai strategis bagi kaderisasi, maka Edi mengusulkan agar ada penelitian komparatif ketika mahasiswa sudah lulus, antara yang tinggal di asrama dengan yang tinggal di luar asrama. Hal ini untuk mengukur sejauhmana efektivitas program pembinaan di asrama. UMM sendiri memiliki dua unit Rusunawa yang merupakan bantuan Menteri Perumahan Rakyat. Keduanya kini dimanfaatkan sebagai asrama temporal maupun permanen. Satu unit digunakan untuk penginapan sementara untuk pelatihan dan mahasiswa asing, sedangkan satu unit lagi disewakan untuk mahasiswi yang tinggal di sana. Pengelolaan Rusunawa UMM pernah meraih penghargaan nasional sebagai perguruan tinggi dengan pengelolaan asrama mahasiswa terbaik se-Indonesia.(gas/nas)
Kerja Paruh Waktu, Pengalaman Berharga Mahasiswa

SEBANYAK 376 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menandatangani kontrak kerja sebagai tenaga paruh waktu atau partimer di lebih dari 114 unit kerja yang ada di UMM. Nantinya mereka akan membantu segala aktifitas pelayanan di unit kerja yang mereka tuju. Kepala Biro Kemahasiswaan Drs Abdullah Masmuh MSi mengatakan, UMM menetapkan kebijakan untuk membuka peluang mahasiswa bisa menjadi tenaga paruh waktu adalah untuk memberikan pengalaman kerja kepada para mahasiswa. “Agar nanti mereka mempunyai bekal untuk menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya,” katanya. Selain itu, lanjut Masmuh, mahasiswa yang menjadi tenaga paruh waktu juga akan mendapatkan upah yang bisa membantu biaya perkuliahannya. “Tapi yang terpenting adalah mereka bisa mengabdi ke kampusnya dan mengaplikasikan ilmunya di unit-unit tersebut,” ujarnya. Mahasiswa yang bisa mendaftar sebagai tenaga paruh waktu adalah mahasiswa tingkat akhir dan maksimal hanya tinggal menempuh dua mata kuliah. Selain itu, mahasiswa juga harus memiliki spesifikasi keilmuan yang dibutuhkan unit-unit kerja tersebut. Oleh karenanya, Masmuh menegaskan segala aktifitas partime ini tidak akan menggangu proses perkuliahan para mahasiswa. “Justru sangat mungkin mereka mendapatkan ide untuk membuat skripsi atau tugas akhir,” paparnya. UMM mulai memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk bisa menjadi tenaga paruh waktu sejak Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menjabat sebagai rektor UMM. Setiap semesternya UMM menerima lebih dari 300 mahasiswa lebih tenaga paruh waktu. Kasiudin, mahasiswa yang menjadi tenaga paruh waktu di kantor International Relations Officer (IRO) mengungkapkan, dirinya mengajukan diri sebagai tenaga paruh waktu karena tertarik pada bidang kerja di unit tersebut. “Saya juga ingin mengaplikasikan ilmu yang saya dapat di perkuliahan,” jelas mahasiswa program studi (prodi) kesejahteraan sosial ini. (gas/nas)
UMM Selenggarakan Program PPG SM-3T

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapatkan amanah dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk menyelenggarakan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi para alumni Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM-3T). Sebanyak 31 orang SM-3T dari berbagai daerah mulai mengikuti orientasi akademik yang merupakan tahapan awal pelaksanaan PPG, Kamis-Sabtu (17-19/03). Dekan FKIP UMM, Dr. Poncojari Wahyono M.Kes, mengatakan ditunjuknya UMM sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) oleh Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti yang berwenang menyelenggarakan program PPG SM-3T merupakan sebuah amanah sekaligus membanggakan. “Ini program yg prestisius, tidak semua kampus dapat kesempatan, padahal banyak yang memiliki program pendidikan guru ingin menyelenggarakan program ini,” akunya. Tahun 2015 lalu Kemenristek Dikti menunjuk 15 perguruan tinggi sebagai LPTK. Keseluruhan perguruan tinggi tersebut merupakan perguruan tinggi negeri. Tahun ini ada tujuh erguruan tinggi tambahan yang ditunjuk Kemenristek Dikti sebagai lembaga penyelenggara program PPG SM-3T. Tiga perguruan tinggi negeri dan empat perguruan tinggi swasta. Poncojari mengungkapkan, untuk bisa menjadi penyelenggara Program PPG ada beberapa aspek yang harus dilengkapi perguruan tinggi yakni kurikulum pengajaran, penataan rasio dosen serta sarana prasarana penunjang. “FKIP UMM sudah mempersiapkan dan memperhitungkan hal ini dari jauh-jauh hari,” ungkapnya. Lebih lanjut, Ponco memaparkan penyelenggaraan program PPG SM-3T ini akan diselenggarakan selama setahun. program akan dibagi menjadi dua tahapan. Tahapan pertama para peserta harus mengikuti program Subjek Spesifik Pedagogi (SSP) yang akan fokus pada pengembangan sistem pengajaran dan kurikulum. Hasil dari program SSP ini nantinya akan diaplikasikan melalui program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Selain aspek akademik, Ia menambahkan, aspek non akademik yang akan menjadi penilaian seperti kepribadian dan sikap selama mengikuti program PPG. “Jika lulus penilaian-penilaian tersebut para peserta akan mendapatkan sertifikat pendidik profesional yang menjadi salah satu syarat untuk menjadi seorang guru,” lanjutnya. Ponco berharap, dengan adanya program PPG ini semakin banyak lahir guru-guru profesional. “Dengan guru yang profesional tentunya dunia pendidikan akan semakin maju dan berkembang,” pungkasnya. (gas/nas)
UMM dan Kyungdong University Jalin Kerjasama Pengembangan Bahasa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Kyungdong University, Korea Selatan, menggelar partnership meeting. Kedua pihak membahas mengenai kerjasama di bidang pengembangan bahasa. Rektor Kyungdong University, Prof. John Lee disambut Kepala Kantor Internasional, Dr. Abdul Haris dan Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri, Drs. Soeparto, M.Pd di Ruang Rapat Rektor, Kamis (17/03). Kyungdong University menawarkan UMM menjalin program beasiswa untuk mahasiswa yang ingin belajar Bahasa Korea selama tiga hingga enam bulan. “Kami bersedia menanggung semua biaya perkuliahannya,” kata John Lee. Setelah mahasiswa fasih berbahasa Korea, lanjut Lee, Kyungdong University membuka peluang bagi mahasiswa yang ingin memperoleh dua gelar sekaIigus atau joint degree khusus untuk program ekonomi dan bisnis. “Mahasiswa yang telah lancar berbahasa Korea tersebut juga berpeluang disalurkan ke industri-industri yang ada di Korea,” ungkapnya. Soeparto menambahkan, Kyungdong University juga memberikan kesempatan bagi dosen-dosen UMM yang telah bergelar doktor di bidang ekonomi atau bisnis untuk bisa mengajar di sana. “Mereka akan mendapatkan gaji yang cukup besar, berkisar 1000 dolar,” imbuhnya. Sementara itu, dari pihak UMM menawarkan sistem credit transfer bagi mahasiswa Kyungdong University yang ingin belajar disini. Sistem credit transfer ini memungkinkan mahasiswa Kyungdong University yang ingin belajar di UMM membayar biaya kuliah sesuai dengan biaya di kampusnya. Selain credit transfer, kata Soeparto, UMM juga menawarkan program Summer Course bagi mahasiswa Kyungdong University. Program ini adalah program belajar singkat pada bidang keilmuan atau praktis tertentu yang diperuntukan bagi mahasiswa asing seperti belajar bahasa Indonesia, budaya dan masyarakat di Jawa Timur. Kedepan, UMM berharap semakin banyak kerjasama yang bisa terjalin antara kedua universitas sehingga bisa dimanfaatkan para civitas akademiknya. “Kedepan kita juga akan menjajaki kerjasama di bidang penelitian,’ pungkas Soeparto. Sebelumnya, di hari yang sama, UMM juga menerima kunjungan dari Majelis Pengetua Daerah Pasir Gudang, Johor Malaysia. Datang Kepala Majlis Pengetua Daerah Pasir Gudang, Tuan Hj. Halil Bin Abu Bakar dan Pegawai Pendidikan Pengetua Daerah Pasir Gudang, Tuan Hj. Jasrin Bin Omar. Dalam kunjungannya ini, Soeparto menjelaskan, mereka ingin mengetahui sistem penerimaan dan beasiswa mahasiswa asing di UMM. (gas/nas)
Gandeng AUT, UMM Gencarkan Publikasi Internasional

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) dan Auckland University of Technology (AUT) Selandia Baru, kembali sepakat bekerjasama. Kali ini kedua pihak membangun kerjasama bidang publikasi internasional dan ASEAN Studies. Perwakilan dari AUT, Lester Finch disambut oleh Rektor UMM, Fauzan, Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soeparto, dan Kepala Kantor Kerjasama Luar Negeri (KKLN), Abdul Haris di Rektorat UMM, Rabu (16/3). Ditemui usai pertemuan, Soeparto mengatakan AUT akan menyelenggarakan workshop publikasi internasional bagi dosen-dosen di UMM akhir Juli 2016. “Nantinya AUT akan mengirimkan dua ahli di bidang publikasi international untuk memberikan pengarahan dan semangat kepada para peserta,” katanya Workshop tersebut nantinya akan diikuti sekitar 40 dosen UMM yang telah memiliki karya tulis yang menarik untuk dipublikasikan secara internasional. Soeparto berharap, dengan adanya workshop tersebut, semakin banyak dosen UMM yang mampu melahirkan jurnal internasional. “Dari dosen-dosen yang ikut itu diharapkan ada lima sampai sepuluh yang jurnalnya bisa dipublikasikan secara internasional,” imbuhnya. Sementara itu kerjasama di bidang ASEAN Studies akan direlisasikan dalam seminar ASEAN Community. Seminar ini akan diselenggarakan pada akhir Oktober 2016 di UMM. Soparto memaparkan, dalam seminar tersebut nantinya akan ada 10 pembicara dari negara-negara ASEAN. “UMM akan membantu dari segi akomodasi dan transportasi domestik, dan AUT akan mengundang negara-negara ASEAN tersebut,” terangnya. Kerjasama dengan AUT ini melengkapi berbagai kerjasama internasional yang sudah terjalin di UMM. Soeparto berharap, kerjasama ini akan berlanjut dan berkembang lebih luas. “Mudah-mudahan kerjasama bisa berlanjut dan bisa meluas di berbagai bidang pengembangan,” pungkasnya. (gas/zul/nas)
UMM Pelopori Indonesian Corner di Thailand

UNTUK pertama kalinya, kampus Thailand membuka sebuah pojok bernama “Indonesian Corner”. Uniknya, Indonesian Corner yang dibuka di Ayutthaya Technical College ini justru diinisiasi oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rektor UMM, Fauzan, mengatakan pembukaan Indonesian Corner di kampus Thailand merupakan langkah tindak lanjut dari kerjasama antar universitas di Asean yang sudah dijalin UMM selama ini. Hal ini merupakan pertama kalinya sebuah kampus mendirikan Indonesia Corner di kampus di luar negeri. Ke depan, tak hanya Thailand, di negara lainpun UMM akan membuka Indonesian atau UMM Corner. “Saat ini kita sudah menjajaki dibukanya UMM Corner di Kamboja,” katanya. Indonesian Corner di Ayutthaya Technical College dibuka Selasa (8/3) lalu oleh Soeparto mewakili UMM, serta dihadiri pejabat kampus setempat. “Ini merupakan tanggungjawab moral kami kepada pemerintah yang sudah membantu menginternasionalisasi UMM,” kata Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri ini saat ditemui di ruangannya. Lebih lanjut ia mengatakan, pemerintah telah membantu banyak hal dalam membawa atmosfer internasional ke UMM. Berbagai program seperti Beasiswa Darmasiswa, Beasiswa Unggulan, dan program-program penelitian serta pengabdian baik untuk orang asing ke UMM ataupun dari UMM ke negara lain. “Bahkan UMM saat ini masuk dalam program terbaru yakni KNB (Kemitraan Negara Berkembang), yakni beasiswa untuk S2 selama tiga tahun; setahun pertama belajar bahasa, dua tahun berikutnya untuk kuliah masternya,” tuturnya. Melalui berbagai program-program internasional kepada UMM inilah, UMM, kata Soeparto ingin menasionalisasikan Indonesia di luar negeri dengan membuka Indonesian Corner. “Kita ingin memperkenalkan Indonesia di luar negeri. Ini merupakan bentuk rasa nasionalisme dan rasa terimakasih kami kepada pemerintah yang sudah membantu UMM ke tahap international recognition,” ujarnya. Di dalam Indonesian Corner, tambahnya, sekitar 70 persen akan diisi informasi mengenai Indonesia, diantaranya tempat wisata, sistem pendidikan di Indonesia, budaya, dan lain-lain. Sedangkan 30 persen sisanya informasi seputar UMM. Rencananya, Mei mendatang, Kepala program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, Dr Arif Budi Wurianto MSi, akan membuka kegiatan di Indonesian Corner dengan persentasi mengenai Indonesia. Melalui Indonesian Corner ini, Soeparto berharap kerjasama yang terjalin antara Indonesia dan Thailand dapat semakin erat. “Dalam waktu dekat kami juga akan membuka Indonesian Corner di Kamboja. Saat ini dalam tahap penjajakan,” katanya. (zul/nas)
Mahasiswa Singapura dan Jepang Gabung UMM Bantu UKM di Batu

PROGRAM Belajar Cepat (Learning Express, LEx) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali dimulai pada hari ini, Senin (14/3). Program Kuliah kerja nyata (KKN) bersama ini merupakan kegiatan sosial antar kampus antar negara yang sudah digelar UMM sejak tiga tahun lalu. Setelah sebelumnya berhasil bekerjasama dengan Singapore Politechnic (SP) kali ini UMM memperluas jaringan dengan mengajak Kanazawa Technical College serta Kanazawa Institute of Technology, keduanya kampus Jepang. Keempat universitas ini bersama-sama melakukan LEX di Desa Temas, Batu, dari tanggal 14 Maret sampai 24 Maret 2016 untuk membantu pemberdayaan usaha kecil menengah (UKM). Sejumlah 68 mahasiswa terdiri dari 18 mahasiswa dari Kanazawa Jepang, 25 mahasiswa dari SP, dan 25 mahasiswa dari UMM yang tergabung dalam program LEx ini diajari tentang Design Thinking, yakni cara berfikir untuk menyelesaikan masalah dengan cepat dan menemukan solusi yang unik dan tepat. Mahasiswa juga diajarkan untuk terjun langsung ke desa untuk mengamati permasalahan kemudian mendiskusikan tentang permasalahan dan solusi, baru kemudian membuat prototype sebagai solusi dan dipamerkan. Perwakilan dari Kanazawa Technical College Aki Hiro Tsuda menyatakan LEx sangatlah spesial. “Dalam proses pembelajaran kedepan akan ada perbedaan pendapat, sudut pandang dan opini sehingga mahasiswa akan sangat terlatih dalam menyelesaikan permasalahan bersama,” ucapnya. Senada dengan Tsuda, perwakilan dari SP Mario Ocampolojorca juga mengatakan bahwa program ini bisa dikatakan celebrate differences. Sebab, terdapat empat universitas yang akan digabung dan dipecah menajdi 3 kelompok yang sebelumnya belum tentu saling mengenal sehingga peserta bisa belajar tentang menghormati pendapat satu sama lain. Asisten rektor bidang kerjasama UMM, Soeparto, menyatakan LEx adalah program yang sangat bagus untuk melatih berfikir kreatif. “Berfikir apa yang belum difikirkan oleh orang-orang pada umumnya, mahasiswa dibebaskan mengeluarkan idenya, mahasiswa akan terlatih dan punya keberanian serta tidak takut berbuat kesalahan,” ungkap Soeparto. Dalam LEx ini, lanjut Soeparto, yang diberikan pendidikan bukan hanya para peserta saja namun juga memberdayakan masyarakat desa. Ada setidaknya 3 unit Usaha Kecil & Menengah (UKM) yang akan dijadikan project untuk diselesaikan permasalahannya, yakni perusahaan tahu, tanaman organik dan pemotongan ayam. Output dari LEx adalah membuat solusi berserta prototype–nya. Nantinya, produksi alat yang sesungguhnya akan dibuat di Jepang pada September. setelah diproduksi alat tersebut diberikan kepada unit ukm tersebut. (nov/nas)
UMM Optimalkan Ruh Gerak AIK dalam Kehidupan Kampus

SEBAGAI salah satu amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki tanggung jawab menjadi ruh penggerak Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), khususnya bagi kalangan internal, yaitu dosen dan karyawannya. Internalisasi AIK dipandang amat penting lantaran sangat menentukan pola pikir, cara bersikap, hingga atmosfer kehidupan kampus. Berangkat dari hal itu, melalui Rapat Kerja Pembinaan dan Pengembangan AIK yang berlangsung di UMM Inn, Sabtu (12/3), para pimpinan UMM menggodok strategi internalisasi nilai-nilai AIK dalam kehidupan kampus. Bertajuk ‘Internalisasi Nilai-Nilai Islam ke dalam Kehidupan Kampus’, rapat kerja dibagi dua sesi. Sesi pertama berisi stadium general terkait tema rapat kerja yang disampaikan Pembantu Rektor I Prof Dr Bambang Widagdo MM, Kepala Biro Kemahasiswaan Drs Abdullah Masmuh Msi mewakili Pembantu Rektor (PR) III Dr Diyah Karmiyati PSi. Menurut anggota tim pengarah pembinaan dan pengembangan AIK, Dr Abdul Haris MA, tujuan diadakannya Rapat Kerja ini di antaranya menampung ide, masukan, juga pemikiran untuk mempertegas asas-asas pembinaan dan pengambangan AIK di UMM. Untuk itulah, peserta yang hadir pada raker ini yaitu para pimpinan universitas, seluruh pimpinan fakultas yang diwakili Dekan dan Pembantu Dekan II, serta para pimpinan lembaga dan pusat studi. Haris menambahkan, para peserta yang hadir juga merumuskan materi pembinaan serta strategi pengelolaanya, “Meski ada sejumlah lembaga yang berkaitan dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, tapi dari sejumlah lembaga yang ada, cakupannya terlalu sempit. Karena hakikatnya internalisasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen civitas akademika UMM,” terang Haris yang juga ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang ini. Rumusan Rapat Kerja Pembinaan dan Pengembangan AIK ini nantinya juga akan dijadikan sebagai landasan idiil, organisasional, operasional dan perilaku civitas akademika UMM yang dikemukakan dalam core belief, core values, moral conduct, budaya organisasi, visi-misi, tujuan, sasaran dan target kegiatan pembinaan dan pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyah. Hasil rapat dari masing-masing komisi, yaitu Komisi Konsep Dasar Pembinaan, Komisi Kurikulum, dan Komisi Manajemen Pelaksanaan selanjutnya diplenokan yang selanjutnya menjadi landasan gerak universitas dalam membina dan mengembangkan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah di UMM. (can/han)
GKB IV Implementasikan Gedung Hemat Energi

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) saat ini sedang membangun gedung baru, yaitu Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV. Bangunan yang terletak di sebelah Stadion UMM ini rencananya akan difungsikan sebagai Gedung Pascasarjana UMM. Sebelumnya, UMM telah memiliki tiga GKB yang masing-masing terdiri dari enam lantai. Asisten Rektor Bidang Perencanaan Umum, Ir Ali Saifullah MT menjelaskan, gedung ini nantinya akan mempunyai 10 lantai. Ia merinci, GKB IV akan terdiri dari satu lantai basement dan 9 lantai perkuliahan serta perkantoran, dengan ukuran ruangan kelas 8×9 meter. “Total ruangannya nanti sekitar 80 sampai 100 ruangan dengan kapasitas 30 orang per ruangan,” kata Ali. Gedung yang direncanakan selesai pertengahan 2017 ini dilengkapi dengan aula berkapasitas 250 orang beserta food court di lantai teratas. “Ini supaya jika ada kegiatan di aula tidak menganggu kegiatan belajar mengajar di ruang kelas,” ujarnya. Selain itu, gedung ini dirancang seefisien mungkin dalam hal energi. Pagi hingga sore akan banyak menggunakan sinar matahari atau dengan kata lain, meminimalkan penggunaan lampu di siang hari. “Meskipun menggunakan lampu, yang kita gunakan adalah lampu LED (light-emitting diode) yang hemat energi,” ucap Ali. Dengan tim perencanaan yang seluruhnya merupakan internal UMM, Ali yakin gedung berukuran 64×20 meter ini mampu menampung seluruh mahasiswa Pascasarjana, bahkan beberapa bisa digunakan untuk sejumlah program studi sarjana. “Gedung ini dipersiapkan untuk sekitar 21 prodi, sedangkan saat ini baru 12 prodi (pascasarjana). Jadi sebagian ruangan bisa dipakai untuk beberapa prodi atau fakultas (sarjana) yang kekurangan ruangan,” katanya. Untuk memenuhi kebetuhan air di gedung ini, UMM akan menggunakan sumber-sumber air yang masih banyak tersedia di sekitar gedung tersebut. “Kita akan menggunakan model gravitasi. Jadi air kita pompa ke atas dan dikumpulkan di tandon air khusus di atap, kemudian dengan mengandalkan gaya gravitasi bumi, air itu dengan sendirinya mengalir ke lantai-lantai di bawahnya,” papar Ali. Selain itu, gedung ini juga dilengkapi dua buah panoramic lift yang hampir serupa dengan lift yang ada di GKB I, yang dapat terlihat dari luar. Tak hanya lift, untuk keamanan gedung pun juga disiapkan dengan matang, seperti pencegahan kebakaran. “Di tiap lantai akan dipasang penyemprot air dan hydrant dengan rentang selang ke kiri maupun ke kanan sekitar 30 meter,” jelasnya. Dengan bertambahnya gedung perkuliahan di UMM, ia berharap dapat mengantisipasi naiknya jumlah mahasiswa tiap tahunnya. “Ini juga akan menjadi gedung paling efisien yang pernah dibangun oleh UMM,” pungkasnya. (zul/han)