Rektor: Perhatian terhadap Lingkungan harus Jadi Kebutuhan Primer

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan, mensinyalir kerusakan lingkungan hidup yang terjadi saat ini adalah tanggung jawab bersama dan menjadi prioritas utama untuk memperbaikinya. Oleh karenanya, perhatian terhadap lingkungan tidak boleh dikesampingkan, alih-alih sudah harus menjadi kebutuhan primer. Hal itu dikemukakan Fauzan ketika secara resmi membuka seminar nasional (Semnas) bertajuk “Biologi, Pembelajaran dan Lingkungan Hidup dalam Perspektif Interdisipliner” yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM, di ruang Teater UMM Dome, Sabtu (26/03). Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan lingkungan hidup tidak boleh hanya dipahami sekedar kehidupan hayati dan hewani saja. Menurutnya, lingkungan sosial adalah bagian dari lingkungan hidup yang juga penting untuk diperhatikan. “Karena kerusakan lingkungan sosial seperti kurangnya kepedulian satu sama lain adalah dasar terjadinya kerusakan lingkungan alam di sekitar kita,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta seminar. Untuk itu, Fauzan berharap Semnas ini dapat menghasilkan gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi kelestarian lingkungan hidup. “Semoga melahirkan gagasan yang mencerahkan dan berkemajuan yang bisa diterapkan di lingkungan sekitar kita,” pungkasnya. Sementara itu, Dekan FKIP UMM, Dr. Poncojari Wahyono, M.Kes, memaparkan dalam keilmuan biologi dipelajari mengenai kehidupan alam dan mahluk hidup serta lingkungannya. Menurutnya, semakin banyak orang yang memperdalam berbagai bidang keilmuan khususnya biologi dan lingkungan seharusnya mempengaruhi keimanannya kepada Sang Khalik. “Harusnya kita semakin paham dan yakin akan kebesaran Yang Maha Kuasa,” terangnya. Ponco menambahkan, keilmuan yang dimiliki seseorang juga harus bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan lingkungan sekitarnya. “Ilmu yang kita miliki sebenarnya adalah alat yang harus digunakan untuk mentranfser kemanfaatannya kepada orang lain dan juga lingkungan,” imbuhnya dihadapan peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa jurusan pendidikan biologi. Dalam seminar ini, ada 173 makalah dari berbagai bidang seperti pendidikan biologi, biofungsi, bioperkembangan, biolingkungan, bioteknologi, biomanajemen dan bioetika yang siap dipanel. Makalah akan dipaparkan di hadapan para peserta dari berbagai kalangan seperti dosen, mahasiswa, peneliti, pemerhati dan praktisi di masing-masing bidang kajian untuk didiskusikan. Adapun para pembicara yang hadir dalam seminar ini yaitu pakar limnologi UGM Prof Dr Suwarno Hadisusanto SU, dosen pacasarjana UNY Prof Dr Zuhdan Kun Prasetyo MEd, kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa SSi Apt MPPM, Direktur Program PPB Kehati Jakarta Dr Teguh Triono dan pakar lingkungan dari Prodi Biologi UMM Dr Sukarsono Msi. Ketua Pelaksana Seminar, Dr Moch Agus Krisno MKes, berharap hasil dari pemaparan pada seminar ini bisa diadaptasi dan dikonstruksi sebagai bahan pembelajaran bersama. Agus menilai, perlu stimulasi pembelajaran biologi yang dapat membentuk kecakapan hidup dan dasar pemikiran serta keilmuan yang kuat dan bertanggung jawab terhadap. “Diharapkan, nantinya akan lahir generasi yang memiliki kompetensi untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan di bidang biologi dan lingkungan hidup,” jelasnya. (gas/nas)
Alumni Teknik Mesin Jadi Kepala Biro Koran Sindo

EDI Purwanto tidak pernah menyangka bakal menjadi seorang jurnalis. Alumni jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 1995 itu sejak awal hanya ingin menjadi ahli rekayasa mesin yang handal. “Skripsi saya saja kan tentang gaya magnet yang bisa digunakan untuk pengereman kereta api. Eh, sekarang saya dengar Jepang menggunakan teknologi itu,” katanya mengenang. Edi tak pernah menyesal. Naluri sebagai aktivis membawanya harus berjibaku dengan dunia jurnalistik ini. “Banyak perubahan yang bisa dilakukan ketika menjadi wartawan,” kata aktivis Perguruan Silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah ini. Semasa mahasiswa, ia termasuk sering berinteraksi dan ikut dalam aksi-aksi demontrasi melawan rezim Orde Baru tahun 1998. Pekan lalu, Kepala Biro Jawa Timur Koran Sindo ini bertandang ke UMM dan bertemu dengan rektor, Fauzan. Di depan rektor ia bercerita bagaimana karirnya di dunia jurnalistik yang dimulai sejak lulus UMM dan bekerja di Surabaya Post, lalu pindah ke Sindo Jakarta hingga menjadi seorang redaktur. Kenangan dengan sesama aktivis seperti dengan Mantan Menteri Pertahanan Timor Leste, Julio Thomas Pinto dan Sekjen Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Ahmad Rofiq, tak luput dari cerita nostalgia yang menarik. “Saya tidak menyangka, teman seangkatan saya sekarang jadi Sekjed Perindo dan Komisaris Sindo Group, bahkan ada yang pernah jadi menteri,” katanya, mengenang dua teman aktivisnya itu. Selain di Tapak Suci, Edi juga sempat mencicipi pengkaderan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Teknik. Karena itulah sejak masih di Jakarta, ia aktif menggalang kekuatan kelompok jurnalis dari kalangan Muhammadiyah melalaui media sosial dalam bentuk grup Whats App (WA). “Kami memiliki grup yang namanya Jurnalis Merah. Di grup ini saya menemukan banyak sekali alumni UMM yang jadi wartawan di Jakarta,” ungkap pria asli Blitar ini. Rektor UMM, Fauzan, mengungkapkan banyak alumni UMM yang telah sukses di berbagai media di seluruh Indonesia. Mereka perlu dihimpun untuk membangun sinergi membangun dakwah melalui media masing-masing. “Saya sering disapa oleh alumni di berbagai daerah, kebetulan mereka itu wartawan. Alhamdulillah mereka masih peduli dengan almamaternya,” tutur Fauzan. Rektor berharap, para alumni yang telah sukses bisa menjalin komunikasi dengan adik-adiknya di kampus. Sehingga jika ada lulusan yang memerlukan akses di dunia luar segera bisa teratasi. Ia juga minta agar pemberitaan media dapat lebih serius mengangkat karya-karya kampus yang bermanfaat bagi masyarakat luas. “Sering temuan di kampus yang sebetulnya bagus kurang diminati media. Kalau hanya dipublikasikan di jurnal ilmiah saya kira masih kurang. Media massa harus bisa mengambil peran untuk diseminasi hasil kerja kampus ini,” harapnya. Menanggapi hal itu Edi sepakat agar dunia kampus terhubung dengan baik dengan media massa. Untuk itu pihaknya akan selalu memantau temuan-temuan baru UMM yang memiliki nilai manfaat atau komersil di kalangan masyarakat luas. “Ini sinergi yang kami sangat harapkan,” pungkas Edi. (nas)
Hasil Karya Program LeX Akan Dibuat di Jepang

PROGRAM Belajar Cepat (Learning Express, LEx) kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Singapore Polytechnic (SP), Kanazawa Institute of Technology (KIT) Jepang, dan Kanazawa Technical College (KTC) Jepang resmi berakhir Kamis (24/3). Dalam closing ceremony yang digelar di Auditorium UMM, keempat kampus dari tiga negara ini bekolaborasi membuat prototype karya yang akan membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), khususnya di Kota Batu. Ada tiga produk yang dibuat oleh ke-68 peserta program LeX. Menurut Asisten Rektor Bidang Kerjasama, Drs Soeparto MPd, ketiga prototype ini akan dimatangkan konsepnya di Jepang untuk dibuatkan barang jadinya. “Bulan September (prototype) akan dimatangkan di Jepang dan sekaligus mengundang lima mahasiswa kita kesana,” ujar Soeparto. Selama empat hari observasi di Desa Temas, Batu, mahasiswa dari ketiga negara ini menemukan permasalahan di UMKM yang terletak di desa tersebut. Tiga UMKM yang menjadi fokus perhatian para peserta LeX ini yakni usaha pemotongan ayam, pabrik tahu, dan wisata tani. Di unit usaha pemotongan ayam, peserta LeX menemukan permasalahan dalam pengelolaan pembersihan ayam potong. Mereka melihat bahwa ayam yang sudah dipotong dibersihkan bulu dan kotorannya dengan merendam ke dalam air mendidih. Namun karena mengerjakannya hanya menggunakan kayu dan tangan, maka hal tersebut menjadi kurang efektif. Dari kebersihan, keamanan dan kesehatannya menjadi kurang. Sehingga perlu alat untuk membantu mempermudah pekerjaan tersebut. Salah seorang peserta LeX, Adjar Yusrandi Akbar yang juga mahasiswa Biologi UMM menjelaskan, untuk membantu usaha potong ayam tersebut perlu alat tambahan seperti panci berlubang yang memiliki pegangan untuk tangan. “Tempat ini akan dapat menampung ayam beserta kotorannya sehingga kotoran ayam dapat terangkat dan tidak melebur dengan air yang akan digunakan untuk membersihkan ayam berikutnya. Tempat pegangan di panci yang berlubang juga akan memudahkan dalam memutar ayam sehingga tidak perlu memakai kayu lagi,” ujar Adjar. Kelompok lain juga menemukan permasalahan baru di pabrik tahu, desa Temas. Sebenarnya, dari sisi proses produksinya tidak menjadi masalah, namun penduduk sekitar merasakan tidak nyaman dengan asap berwarna hitam yang mengganggu kesehatan dan aktivitas warga di sana. Oleh sebab itu. peserta LEx membuat alat yang dapat membantu mengurangi warna pekat hitam tersebut. “Terdapat dua corong untuk memisahkan uap dan asap. Corong yang pertama digunakan untuk mengalirkan uap air yang mendidih untuk pembuatan tahu. Sementara corong kedua akan digunakan untuk jalannya asap hasil dari pembakaran kayu untuk mendidihkan air. Untuk mengurangi warna hitam makan ditambahkan arang aktif dan serabut kelapa di dalam pipa sehingga asap akan tersaring dan warnanya akan berubah,” ujar Anggita Elma Winda, salah seorang peserta LEx. Hanum Shirotu Nida, mahasiswa Teknik UMM yang juga peserta LeX menjelaskan, lebih menarik jika tanaman ditata rapi dan dibedakan sesuai jenisnya. “Dalam prototype yang kami buat terdapat tanaman hias, sayur-sayuran dan buah-buahan yang dibedakan sesuai dengan lahannya. Di setiap tanaman juga diberi keterangan untuk mengedukasi pengunjung. Kami juga menyediakan tempat yang dapat menjual tanaman organis yang dikelola oleh warga setempat sehingga dapat menjadi pemasukan lebih bagi warga setempat. Terlebih, lokasinya berada di dekat wisata rafting sehingga banyak orang yang akan berkunjung ke kampung wisata ini,” ujarnya. Salah satu mahasiswa SP Wiyata Sadikin mengaku bahwa program ini sangat menarik dan bermanfaat. “Kita bisa belajar satu sama lain. Mahasiswa Jepang orangnya disiplin, mahasiswa Indonesia orangnya fun, dan tidak gampang tersinggung. I feel great di kegiatan ini,” ungkapnya. Sementara itu mahasiswa KIT, Yuki Kano, mengatakan, desa Temas mirip dengan sebuah tempat di Kanazawa, Jepang, namun suasananya lebih indah di sini. ”Meskipun kita terbentur bahasa, penduduk desanya sangat friendly,” katanya. Sebelum acara penutupan berakhir, panitia menyerahkan produk LEx tahun lalu yang sudah berbentuk barang jadi. Penyerahan produk tersebut diberikan langsung pada perwakilan UMKM yang hadir pada acara tersebut disaksikan pejabat Pemerintah Kota Batu. Pemilik usaha budidaya ulat dari Batu, Suardi, yang menjadi salah satu perwakilan UMKM yang dibantu LeX tahun lalu turut hadir untuk menerima alat bantu yang telah dibuat peserta LeX di Jepang. Alat tersebut bernama larvae separator. Suardi mengaku, dia sangat terbantu dalam mempermudah usahanya memisahkan larva dengan ulat. “Terimakasih sudah dibantu,” katanya singkat. (nov/zul/han)
Calon Pembantu Rektor UMM Diajukan ke PP Muhammadiyah

SETELAH sebelumnya Rektor baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode 2016-2020, Fauzan, resmi dilantik pada awal Februari, UMM segera memiliki Pembantu Rektor (PR) I, II dan III yang baru. Saat ini, nama-nama calon PR tengah diajukan ke Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk diputuskan secara resmi. Rapat pemilihan calon PR berlangsung pada Senin (21/3) diikuti 21 anggota senat universitas dan disaksikan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Malang Raya, Badan Pembina UMM, serta fungsionaris mahasiswa dari kalangan BEM Universitas dan Koordinator Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UMM. Ketua PWM Jawa Timur Prof Dr Saad Ibrahim MA mengatakan, agar sebuah organisasi bisa maju maka diperlukan leader dan manager. Leader adalah sang pemimpin yang selalu melihat ke depan dan berpikir melampaui jamannya, sementara manager bertugas mengelola agar pikiran-pikiran itu bisa terlaksana. Dalam konteks ini, PR I, II, dan III adalah para manager yang akan menyokong peran Rektor sebagai sang leader. Sementara itu sekretaris Badan Pembina UMM, Wakidi, menilai tradisi empat tahunan ini sebagai bukti bahwa jabatan itu terbatas. “Jabatan yang nantinya akan diberikan pada pembantu rektor terpilih itu terbatas waktunya, karena itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin, pada posisi masing-masing, untuk mencapai tujuan UMM,” paparnya. Proses penjaringan calon PR berlangsung demokratis karena merupakan gabungan antara prinsip meritokrasi dan usulan fakultas. Ketua panitia pemilihan, Dr Sulardi SH MSi, yang bertugas memimpin rapat pemilihan menjelaskan, semula panitia mendata seluruh dosen UMM yang memenuhi syarat peraturan tata tertib pemilihan PR, yang kemudian ditemukan 91 nama. Selanjutnya, 91 nama tersebut diserahkan ke fakultas-fakultas untuk memilih tiga nama pada masing-masing posisi. Hasilnya, posisi calon PR I masuk 15 nama, calon PR II 18 nama, dan calon PR III 15 nama. Rektor lantas memilih sembilan nama, yaitu tiga nama dari masing-masing posisi untuk diserahkan pada senat universitas. Kemudian, atas kesepakatan rapat senat, nama-nama yang diajukan dipilih lagi oleh senat sebagai bahan pertimbangan bagi PP Muhammadiyah. Adapun hasil pemilihannya yaitu, calon PR I; Prof Dr Syamsul Arifin Msi (19 suara), Dr Ir Damat MP (7 suara) dan Dr Vina Salviana Darvina MSi (5 suara), calon PR II; Dr Nazaruddin Malik MSi (19 suara), Ir Sudarman MT (7 suara), dan Prof Dr Rahayu Hartini SH MSi MHum (5 suara), serta calon PR III; Dr Sidik Sunaryo SH MSi (14 suara), Dr Latipun MKes (13 suara) dan Dr Yus M Cholily MSi (4 suara). Kesembilan calon ini selanjutnya akan diajukan ke PWM Jawa Timur untuk dimintakan rekomendasi dan selanjutnya akan ditetapkan secara resmi oleh PP Muhammadiyah melalui rapat pleno. (han)
Seminar Lingkungan Hidup UMM Angkat Perspektif Interdisipliner

PROGRAM Studi (Prodi) Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) UMM menggelar seminar nasional bertajuk “Biologi, Pembelajaran dan Lingkungan Hidup dalam Perspektif Interdisipliner”, Sabtu (26/03) di Theater UMM Dome. Seminar dihadiri para pakar biologi, pendidikan, dan lingkungan hidup baik dari kalangan akademik maupun pemerintah. Ketua Pelaksana Seminar, Dr Moch Agus Krisno MKes mengatakan, kegiatan ini bertujuan merespon perkembangan sains dan teknologi dalam bidang biologi dan lingkungan hidup yang semakin maju. Menurutnya, perkembangan tersebut dipengaruhi berbagai persoalan seperti etika, moral, psikologi, hukum, sosial, ekonomi, hingga politik dan perundang-undangan. “Oleh karenanya, perlu dilakukan sharing dan diskusi terkait permasalahan ini sekaligus ajang silaturahmi antar pemerhati pendidikan biologi, biosains dan lingkungan hidup,” katanya. Persoalan akibat kemajuan sains, teknologi biologi dan lingkungan hidup ini, lanjut Agus, membutuhkan respon yang perlu diadaptasi dan dikonstruksi untuk kebutuhan pembelajaran. Agus menilai, perlu stimulasi pembelajaran biologi yang dapat membentuk kecakapan hidup dan dasar pemikiran serta keilmuan yang kuat dan bertanggung jawab. “Diharapkan, nantinya akan lahir generasi yang memiliki kompetensi untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan ini,” jelasnya. Dalam seminar ini, ada 173 makalah dari berbagai bidang seperti pendidikan biologi, biofungsi, bioperkembangan, biolingkungan, bioteknologi, biomanajemen dan bioetika yang siap dipanel. Makalah akan dipaparkan di hadapan para peserta dari berbagai kalangan seperti dosen, mahasiswa, peneliti, pemerhati dan praktisi di masing-masing bidang kajian untuk didiskusikan. Sementara itu, Kepala PLSK UMM, Husamah MPd mengatakan, PLSK pusat penelitian, pengkajian, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang lingkungan dan kependudukan merasa sangat peduli dengan segala bentuk perkembangan di bidang sains dan teknologi, khususnya di bidang biologi dan lingkungan hidup. Husamah menerangkan, lingkungan hidup harus dipandang dari berbagai bidang keilmuan. Menurutnya, dengan banyaknya keilmuan yang digunakan, maka semakin banyak pula manfaat dan solusi yang bisa diambil. “Kita harus melihat lingkungan hidup secara holistik dan interdisipliner sehingga kompetensi dari beragam profesi bisa memberikan kontribusi,” paparnya. Dengan digelarnya seminar ini, Husamah menuturkan, akan menegaskan UMM sebagai kampus berkonsep green and clean. Ia berharap, seminar ini bisa memberikan banyak masukan pada PSLK UMM terkait pelestarian lingkungan hidup. “Dengan pengalaman dan praktik riil para pakar yang hadir, mudah-mudahan akan banyak informasi yang bisa diperoleh dan diterapkan,” pungkasnya. Adapun para pembicara yang akan hadir dalam seminar ini yaitu pakar limnologi UGM Prof Dr Suwarno Hadisusanto SU, dosen pacasarjana UNY Prof Dr Zuhdan Kun Prasetyo MEd, kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa SSi Apt MPPM, Direktur Program PPB Kehati Jakarta Dr Teguh Triono dan pakar lingkungan dari Prodi Biologi UMM Dr Sukarsono MSi. (gas/han)
UMM-BBPOM Jatim Sinergi Jamin Produk Halal

PERAN Pusat Kajian Makanan Aman dan Halal (PKMAH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam mendorong jaminan produk halal bagi masyarakat semakin sentral. Setelah tahun sebelumnya berhasil melatih auditor halal internal bersama Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI), kini PKMAH bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jawa Timur segera melakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) terkait jaminan produk halal. Melalui rapat tim AdHoc Akreditasi Laboratorium UMM bersama kepala BBPOM Surabaya, I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa, pada Rabu (23/3) di UMM, kedua pihak bersepakat melakukan MoU pada Sabtu (26/3). Ketua PKMAH UMM Dr Ir Elfi Anis Saati MP mengatakan, ruang lingkup kerjasama meliputi penelitian, penyelenggaraan pelatihan, workshop, dan kuliah tamu, serta magang atau praktek kerja terkait manajemen dan pengawasan obat dan makanan. Dikatakan Elfi, MoU sekaligus menjadi penguatan lembaga untuk implementsi UU no 33/2014 tentang jaminan produk halal. “Upaya menjamin produk halal tak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Perlu sinergi yang harmonis terkait kebutuhan pemberdayaan masyarakat serta pemahaman tentang pentingnya sertifikasi produk agar aman dan halal,” terang Elfi. Lebih jauh, PKMAH UMM juga melakukan pendampingan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terkait pengurusan perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). “Pendampingan ini sangat penting, karena UMKM tidak bisa memperoleh sertifikasi halal tanpa adanya izin PIRT,” jelasnya. Diharapkan Elfi, berbagai upaya tersebut dalam memberikan perlindungan konsumen terhadap produk obat dan makanan agar tidak membahayakan serta menyajikan pangan yang bermutu serta menentramkan dan halal jika dikonsumsi. (han)
LK UMM Gelar Audisi Vocal dan Talent Islamic Wedding Song

Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM) meneruskan semangat membumikan dakwah kultural menggelar audisi vocal dan talent Islamic Wedding Song di Laboratorium Hukum, UMM GKB lantai 2, Rabu (23/3). Audisi yang digelar untuk mendapatkan calon vocalist dan pemeran untuk produksi video klip dalam album Islamic Wedding Song ini dikuti oleh 20 peserta dari kalangan mahasiswa UMM. Ketua pelaksana produksi album Islamic Wedding Song, Frida Kusumastuti, mengatakan audisi ini bukan ditentukan dari yang terbaik secara teknis semata. Karakter yang paling sesuai dengan yang dibutuhkan untuk produksi Islamic Wedding Song menjadi pertimbangan utama. “Kami memilih yang sesuai dengan kebutuhan Islamic song dan misi dakwah Lembaga Kebudayaan UMM,” tutur Frida tentang audisi yang merupakan kerjasama LK UMM dan Bumi Yogja Studio ini. Peserta diseleksi oleh tiga juri dari LK UMM. Mereka adalah Kaprodi Sosiologi yang juga seniman, Mohamad Hayat; dosen pendidikan seni tari dan koreografer, Arina Restian; dan komposer, pengarang lagu, dan budayawan dari Bumi Yogja Studio Sigit Baskara. Sementara itu Kepala LK UMM, DR Tri Sulistyaningsih, M.Si, menuturkan audisi ini merupakan kelanjutan kegiatan LK UMM sebelumnya, yakni Pelatihan dan Penciptaan Lagu Anak-Anak Edukatif dan Islami untuk para Guru PAUD/TK se jawaTimur, dan Lokakarya Islamic Wedding Song. “LK akan meluncurkan produksi pertama dari hasil audisi ini dalam Malam Aksi Seni Budaya (Maksidaya) Mei mendatang di helipad menjelang wisuda sarjana UMM,”kata Tri Sulistyaningsih yang juga Wakil Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Malang ini. Jalannya audisi Nampak menarik karena peserta tampil total dalam hal penghayatan, ekspresi, kostum, dan pengetahuan tentang lagu yang dibawakannya. Beberapa lagu yang dipilih peserta secara bebas ternyata adalahlagu-lagu yang di industri musik dikenal sebagai lagu religius. Di antaranya, lagu Sebatang Pohon yang dibawakan oleh Dyah Ayu Rahmawati (FKIP),lagu Kumohon yang dibawakan peserta nomer 5, Satria Pramadani (FPP), lagu Padamu Aku Bersujud oleh Wulansari Fardana (FIKES), termasuk lagu Rhoma Irama- Ampunilah oleh Yessy Witranti (FIKES). Selain vocal, para juri memberi perhatian dan sekaligus edukasi kepada peserta berkaitan dengan unsur-unsur penunjang di setiap akhir penampilan. “Potensi siswa dan mahasiswa Muhammadiyah itu luar biasa, termasuk yang ikut audisi hari ini. Kita harus mensuport dan bina mereka. Moment audisi seperti ini kesempatan juga untuk pembinaan dengan memberikan komentar-komentar pada mereka, “ papar Sigit Baskara. Peserta audisi mengaku antusias karena merupakan kesempatan baik untuk tampil mengembangkan bakatnya. “Kesempatan ini kan tidak tiap tahun ada, makanya saya ikut, supaya tahu sampai di mana kemampuan saya dalam acting dengan cara dinilai oleh orang-orang yang ahli di bidangnya,” kata Tria, salah satu peserta audisi talent dari FIKES. Hal senada diakui Ilham dari FAI yang mengatakan ingin mencoba lagu religi setelah terbiasa dengan dengan band lagu-lagu barat R & B. (*/fri/nas)
Percepat Internasionalisasi, UMM Gandeng Rusia

RELASI Muhammadiyah dan Rusia yang selama ini telah terjalin dengan baik akan diteruskan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kemitraan akademik. Rektor UMM, Fauzan, mengatakan kerjasama UMM dengan Rusia ini menambah daftar kerjasama luar negeri yang telah dijalin UMM dengan 104 negara lainnya. Perbincangan seputar kerjasama dilakukan Rektor UMM bersama Kepala Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia, Veronika Novoseltseva PhD, serta Koordiantor Pendidikan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Moscow, Rusia, Darmawan Suparno. Pertemuan lantas dilanjutkan dengan seminar bertajuk Indonesia-Rusia Bilateral Relations di Auditorium UMM, Rabu (23/3). Veronika mengungkap, Muhammadiyah dan Rusia telah memiliki kerjasama yang sangat baik. Pada beberapa kesempatan, menurut Veronika, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin diundang untuk berceramah di hadapan Muslim Rusia. “Yang terbaru kami bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk melatih kader-kadernya belajar perkeretaapian. Saat ini sudah ada 50 mahasiswa dari Kaltim yang khusus belajar kereta api di Rusia,” ujarnya. Veronika juga mengaku terkesan dengan UMM. “UMM merupakan kampus yang bagus. Saya secara pribadi mengenal sosok Din Syamsuddin. Saat saya akan ke Malang dan ke UMM, saya bilang ke beliau dan ia sangat senang mendengarnya,” katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih. Sementara itu, Darmawan Suparno menilai bahwa atara antara Indonesia dan Rusia terdapat banyak persamaan. Menurutnya, banyak masyarakat Indonesia tidak mengetahui lebih dalam jika ada persamaan dan kemiripan budaya antara Indonesia dan Rusia. “Indonesia punya banyak budaya, Rusia pun demikian,” ujar Darmawan. Yang tidak banyak orang tahu, menurutnya, adalah jumlah orang muslim di Rusia saat ini sudah sekitar 20-25 juta orang. Banyaknya jumlah penduduk beragama Islam di Rusia membuat negara tersebut saat ini menjadi observer di Organisasi Kerjasama Islam (OKI). “Jumlah ini malah mendekati atau sama dengan jumlah penduduk Saudi sendiri,” katanya. Di bidang kerjasama pendidikan, melalui Beasiswa Darmasiswa, Rusia telah mengirim banyak mahasiswanya untuk belajar budaya dan bahasa Indonesia di berbagai kampus di Indonesia, termasuk di UMM. “Namun mahasiswa Indonesia yang belajar ke Rusia jumlahnya masih sangat sedikit, hanya sekitar 224 orang saja. Padahal Malaysia saja bisa sampai tiga ribu mahasiswa yang dikirim ke Rusia,” ungkap Darmawan. Fauzan menambahkan, berbagai kerjasama yang dilakukan UMM ini ditujukan untuk mempercepat proses internasionalisasi di UMM. “Beberapa waktu lalu UMM sudah membuka Indonesian Corner di Thailand sebagai wujud konkrit kerjasama di tingkat ASEAN. Ke depan kita harap di Rusia bisa dilakukan hal serupa,” ucapnya di hadapan lebih dari 300 mahasiswa Hubungan Internasional (HI) UMM. Dalam sambutannya, Fauzan mengatakan kedatangan perwakilan Rusia di UMM akan membuka wawasan dan kerjasama dengan Rusia. “Kita sudah mencanangkan di 2016 ini akan banyak kerjasama yang akan kita buat, saya harap Rusia menjadi salahsatu yang akan bekerjasama dengan UMM,” ujarnya. (zul/han)
FPP UMM Jadi Penyelenggara Uji Kompetensi Profesi Pertanian

FAKULTAS Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk menyelenggarakan uji kompetensi sertifikasi bidang pertanian. UMM menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Jawa Timur yang berhak menyelenggarakan program tersebut. Penunjukan tersebut ditandai dengan penyerahan sertifikat profesi dan sertifikat penunjukan UMM sebagai tempat uji kompetensi dari Direktur LSP Bidang Pertanian, Drs. Surini Santoso, M.Si pada Dekan FPP, Dr. Ir. Damat, MP serta perwakilan mahasiswa yang telah lulus uji kompetensi di Hall Dome UMM, Rabu (23/03). Setelah prosesi peresmian, acara dilanjutkan dengan kuliah umum bertajuk “Strategi Peningkatan Daya Saing Lulusan dalam Menghadapi MEA Melalui Sertifikasi Prosesi” di hadapan ratusan mahasiswa FPP. Dekan FPP Damat mengungkapkan, ditunjuknya FPP UMM sebagai penyelenggara program uji kompetensi merupakan sebuah kebanggan. UMM sendiri, lanjut Damat, telah mempersiapkan segala sesuatunya, baik sarana maupun prasarananya untuk menunjang penyelenggaraan uji kompetensi. “UMM saat ini telah menjadi salah satu leader dalam uji kompetensi bidang pertanian dan peternakan,” ujarnya. Damat mengatakan, selain memiliki sarana yang lengkap, saat ini FPP UMM juga memiliki delapan assessor kompetensi. Selain itu, 120 mahasiswa tercatat telah berhasil lulus uji kompetensi. Terkait kepentingan memiliki sertifikasi profesi di era MEA, Damat menilai, hal tersebut sangat dibutuhkan untuk bisa bersaing dengan tenaga kerja asing, tak terkecuali di bidang pertanian dan peternakan. “Akan terjadi arus tenaga kerja dan barang secara besar-besaran antar negara-negara ASEAN, jadi saat ini tidak cukup hanya berbekal ijazah dan keahlian, tapi juga ada sertifikat profesi,” jelasnya. Ia menjelaskan, sertifikasi profesi ini penting tidak hanya bagi para pencari kerja namun juga bagi penyedia lapangan kerja. Hal ini diperlukan agar barang yang diproduksi tidak hanya bisa diterima secara lokal maupun nasional tapi juga secara internasional. “Saat ini Indonesia hanya memiliki 1,7 persen tenaga kerja yang memiliki sertifikasi profesi,” paparnya. Oleh karenanya, Damat berharap, dengan ditunjuknya UMM sebagai penyelenggara uji kompetensi, mahasiswa bisa mengasah kemampuan dan semakin banyak mahasiswa FPP UMM yang memiliki sertifikasi profesi. “Mudah-mudahan ini bisa menjadi motivasi dan semangat untuk bisa bersaing di era MEA,” harapnya. Surini Santoso mengatakan, meningkatnya persaingan kompetensi pada pasar kerja akibat globalisasi dan pasar bebas mengharuskan tenaga kerja saat ini harus memiliki sertifikasi profesi. “Tuntutan kebutuhan tenaga kerja berkualitas dan produktif di pasar kerja nasional dan global terus meningkat,” katanya. Ia menerangkan, di dunia industri saat ini sertifikasi profesi sangat dibutuhkan. Nantinya sertifikasi ini akan membantu meyakinkan kepada industri jika ia memiliki kompetensi dalam bekerja dan menghasilkan produk atau jasa. “Dengan sertifikat profesi ini juga akan meningkatkan kepercayaan diri sebagai seorang profesional,” pungkasnya. (gas/han)
Semnas Lahirkan Standar Pengelolaan Asrama PTM

SEMINAR dan Lokakarya (Semiloka) Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Aisyiah (PTA) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama tiga hari resmi ditutup, Ahad (20/3). Acara yang berlangsung sejak Jumat (18/3) ini ditutup oleh Pembantu Rektor III UMM, Dr Diah Karmiyati Psi dan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Prof Sudarnoto Abdul Hakim MA. Ketua Asosiasi Pengelola Asrama Mahasiswa PTM dan PTA, Ghoffar Ismail SAg MA, mengatakan seusai kegiatan Semiloka, dalam acara selama tiga hari ini telah lahir lima kesepakatan dan rekomendasi. “Yang pertama yaitu memberbaiki dan men-SK-kan standar pengelolaan asrama dan model-model yang diunggulkan di masing-masing PT. Kedua, pembentukan asosiasi pengelola asrama mahasiswa PTM dan PTA, dan membentuk atau menyusun profil asrama mahasiswa PTM dan PTA,” tuturnya. Kemudian yang keempat, lanjut Ghoffar, adalah membuat kegiatan-kegiatan pengembangan asrama mahasiswa PTM dan PTA. Kegiatan-kegiatan, katanya, bisa berupa kompetisi antar pengelola asrama agar terus terjadi inovasi yang dibuat di asrama mahasiswa tersebut. Yang terakhir yaitu melakukan evaluasi untuk selanjutnya dibuat peringkat dan akreditasi asrama mahasiswa,” jelas pria yang juga Ketua University Residence (Unires) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini. Ghoffar yakin, dari Semiloka ini para pengelola asrama mahasiswa dapat lebih memaksimalkan fungsi dari asrama mahasiswa PTM dan PTA. “Asrama tidak hanya digunakan sebagai tempat menginap saja, namun juga mencetak kader-kader Muhammadiyah dan alumni yang punya kompetensi dan nilai tambah dari disiplin ilmu yang mereka ambil,” katanya. Sementara Sudarnanto menyebut, Semiloka ini menjadi ajang bagi PTM dan PTA untuk saling berkonsolidasi dan menguatkan barisan untuk melahirkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa. “Ini merupakan momentum penting supaya gaung kita terdengar hingga kemana-mana dan bermanfaat bagi bangsa. Dari Muhammadiyah untuk Bangsa,” ucap Sudarnanto sembari mengutip motto UMM. Diah Karmiyati mewakili UMM sebagai tuan rumah mengucapkan terimakasih atas kepercayaan PP Muhammadiyah menyelenggarakan Semiloka ini. “Semoga dari Semiloka ini kita dapat lebih serius dan optimis dalam mengelola asrama mahasiswa guna menciptakan putra putri yang berkualitas,” pungkasnya. Peserta dalam Semiloka yang merupakan perwakilan dari kampus-kampus PTM dan PTA se-Indonesia mendapatkan banyak pembelajaran terkait pengelolaan asrama di kampusnya masing-masing. Salah satunya seperti yang diungkapkan Nurul Hidayah. Perwakilan dari Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya ini mengatakan, dalam semiloka dihasilkan sebuah standart pengelolaan asrama PTM dan PTA se-Indonesia. Kemudian Ia memaparkan, standart tersebut nantinya akan diterapkan dan disuaikan dengan kondisi pengelolaan arama di kampusnya. “Kami akan merancang standart seperti placement test bagi mahasiswa yang akan diasramakan, manajemen pengelolaannya akan lebih kita perhatikan, dan kami juga akan membuat program-program yang mendukung tujuan persyarikatan,” paparnya. Lain halnya yang disampaikan Ibnu Syarif Hidayat, perwakilan pengelola asrama dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Cilacap. Ia mengungkapkan jika kampusnya saat ini sedang merintis berdirinya asrama bagi mahasiswa. Oleh karenanya, Ia berharap, dengan dibuatnya standart pengelolaan serta terbentuknya Asosiasi Pengelola Asrama PTM dan PTA se-Indonesia, perguruan tinggi yang telah memiliki kualitas baik dalam hal pengelolaan asrama dapat memberikan informasi. “Sehingga bisa dijadikan acuan kampus kami untuk mendirikan dan mengelola asrama nantinya,” pungkasnya. (gas/zul/nas)