Mahasiswa Kreatif Miliki Daya Saing Lebih

SEBAGAI ajang kreasi pelajar dan sekolah terbesar di Malang Raya, M-Teens School Competition 2016 yang berlangsung di Graha Cakrawala, Rabu (02/03) memberi ruang yang luas bagi para siswa kreatif unjuk potensi. Pada event tersebut, International Relation Office (IRO) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut ambil bagian mengenalkan peluang pelajar untuk berkreasi dalam konteks internasional.       Staf IRO UMM, Heru Wibowo mengatakan, UMM memiliki sangat banyak kerjasama internasional yang bisa menjadi motivasi bagi para siswa dalam merancang masa depan pendidikan mereka. “Para siswa kreatif ini pada akhirnya ketika kuliah akan menjadi mahasiswa kreatif. Dalam konteks persaingan internasional, mahasiswa yang kreatif memiliki daya saing lebih,” paparnya.      Heru menjelaskan, UMM membuka peluang bagi mahasiswanya yang memiliki kreativitas atau kemampuan lebih di bidangnya untuk bisa bekerjasama dengan universitas yang ada di luar negeri. “Nanti bisa kita carikan link universitas mana yang bisa diajak kerjasama, misalnya dibidang art (kesenian),” ujarnya.       Apalagi saat ini, lanjut Heru, dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) peluang mengembangkan bisnis di sektor ekonomi kreatif sangat menjanjikan. “Jangan sampai kita menutup diri dengan dunia internasional. Kreatifitas yang kita miliki harus ditunjukan tidak hanya pada level nasional saja, tapi juga internasional.”       Sementara itu, Walikota Malang, Mochamad Anton yang secara resmi membuka acara tersebut mengungkapkan, anak-anak di Indonesia sudah saatnya mampu berbicara banyak di dunia internasional, khususnya bidang kreatif. Melalui ajang ini, ia berharap, lahir anak-anak yang bisa membaca peluang bisnis kreatif dan memunculkan enterpreneur muda yang mampu meningkatkan ekonomi negara.       Oleh karenanya, Abah Anton, sapaan akrabnya menegaskan, pemerintah akan selalu memfasilitasi anak-anak kreatif di Kota Malang. “Pemerintah memiliki kewajiban membuat wadah khusus untuk menyalurkan ide-ide kreatif bagi anak-anak tersebut,” pungkasnya. (gas/han)

Karya Mahasiswa UMM Raih Film Terbaik Anti-Korupsi

SINEAS muda UMM kian menunjukkan prestasinya. Setelah sebelumnya Malang Film Festival menjadi salah satu festival terbaik dalam Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2015, Film ‘Tinuk’ garapan mahasiswa UMM menjadi film terbaik dalam kompetisi Anti Corruption Film Festival (ACFFest) 2015 yang merupakan bagian dari program Bikin Film Bareng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).       Film produksi Mata Mata Project ini disutradarai mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM Aprilingga Dani. Sebelumnya, Apprilingga juga sempat aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sinematografi Kine Klub UMM. Selanjutnya, film fiksi berdurasi 15 menit ini menjadi alat kampanye KPK dalam mempromosikan gerakan anti-korupsi di Indonesia. Film ini menyisihkan sembilan film lainnya yang masuk nominasi.       Aprilingga mengaku mendapatkan ide cerita setelah berkenalan dengan seorang penjaga parkir di salah satu pertokoan di Kota Malang. Dari perkenalan itu, ia terinspirasi untuk mengembangkan idenya menjadi sebuah film yang mengangkat cerita tentang tukang parkir. “Tukang parkir pada umumnya yang saya ketahui kesannya selalu negatif. Kadang setiap kendaraan yang diparkir tidak diberi karcis. Atau kadang tarif parkir tidak sesuai dengan yang tertera di karcis,” ujarnya.       Dari pengalaman itulah Aprilingga tergerak mengubah citra negatif tukang parkir melalui karakter tukang parkir yang jujur dan sederhana bernama Wahono. Film ini menampilkan adegan-adegan bagaimana Tinuk membujuk suaminya, Wahono yang juru parkir untuk dibelikan handphone dengan meminjam uang setoran parkir. Film diperankan Ratih Cahyaningtyas sebagai Tinuk, Wahono diperankan oleh Novan personel group musik Tani Maju dan Maskur ‘sales handphone’ diperankan Leo yang juga personel Tani Maju.       Film Tinuk mencuri perhatian juri dari KPK karena pesan anti-korupsinya tersampaikan dalam dialog Wahono, “Sak elek-eleke aku dadi tukang parkir aku gak katene ngentit (Sejelek-jeleknya saya jadi tukang parkir, saya tidak akan mencuri).”       Selain itu, Aprilingga menyebut, inspirasi adegan-adegan dalam film ini juga berasal dari kejadian-kejadian yang ia alami di rumah. “Masalah terbesar yang dihadapi manusia pada umumnya adalah masalah di dalam keluarga, terutama masalah ekonomi di mana istri dapat berpengaruh dalam tindakan korupsi,” kata Lingga.       Film Tinuk tayang perdana di depan publik di Gedung New Majestic Kota Bandung, 10 Desember 2015 pada gelaran penyerahan penghargaan ACFFest. “Kesan saat film ini diputar yaitu apresiasi yang sangat bagus dari penonton. Mereka senang, tertawa, dan bertepuk tangan. Itu menambah energi dan semangat saya untuk membuat film lagi,” pungkasnya. (lil/han)

Didanai Dikti, 44 Tim PKM Mahasiswa UMM Siap Berkreasi

KEHADIRAN Creativity and Innovation Center (CIC) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diinisiasi sebagai inovasi untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa melalui Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) menuai hasil. Tahun ini, ada 44 tim dari UMM yang proposalnya berhasil mendapatkan kucuran dana dari Dikti.       Proposal-proposal PKM tersebut terdiri dari 8 PKM-Kewirausahaan, 5 PKM-Karsa Cipta, 7 PKM Pengabdian Masyarakat, 23 PKM-Penelitian dan 1 PKM-Penerapan Teknologi. Pembantu Rektor III UMM Dr Diah Karmiyati PSi mengaku bangga atas prestasi tersebut karena menurutnya dari 65.000 lebih proposal PKM yang diajukan, hanya empat ribu saja yang diterima dan didanai.       Diah mengungkapkan, universitas akan terus memfasilitasi baik dari segi material maupun non-material bagi mahasiswa yang akan mengikuti PKM. Hal ini menurutnya akan memotivasi mahasiswa untuk terus melakukan kreasi dan inovasi.       Karena itu, kata Diah, para mahasiswa tidak boleh berhenti sampai proposal PKM dan programnya didanai Dikti saja. Mereka juga harus menyelesaikan programnya hingga bisa masuk ke Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) yang tahun ini akan diselenggarakan di Institut Pertanian Bogor (IPB). “Kita targetkan bisa mendapatkan juara atau setidaknya kita mendapatkan penghargaan di Pimnas,” paparnya saat acara pengarahan PKM bagi tim yang programnya berhasil di biayai Dikti, Selasa (01/03) di Aula BAU UMM.     Senada dengan Diah, Rektor UMM, Drs Fauzan MPd menuturkan, para peserta tidak boleh berpikir hanya sebatas proposal dan programnya berhasil didanai Dikti saja namun harus mampu berbicara banyak di Pimnas. Fauzan menilai, kualitas dan kuantitas PKM mempengaruhi akreditasi perguruan tinggi.    “Kalian adalah representasi dari sebuah perguruan tinggi besar dan ternama, jadi jangan berpikir minimalis, segala sesuatu itu ditentukan seberapa besar semangat yang kita miliki. Kita harus yakin bisa jadi juara Pimnas,” pungkasnya diiringi tepuk tangan peserta yang hadir.       Terkait CIC, Kepala Biro Kemahasiswaan UMM, Drs Abdullah Masmuh MSi mengatakan, tim ini terdiri dari dosen-dosen senior ini bertugas mendampingi dan mengoptimalkan program-program kreativitas yang diajukan mahasiswa. Selain itu, universitas juga akan melibatkan dosen-dosen muda dari setiap jurusan untuk memberikan pelatihan sebagai penggerak PKM bagi mahasiswa. “Nantinya juga tugas-tugas mata kuliah yang ada relevansinya dengan PKM bisa langsung diarahkan ke PKM,” jelasnya.       Tahun 2015 lalu, UMM menempati posisi ketiga di antara perguruan tinggi swasta se-Indonesia menyusul Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai kampus dengan produktivitas PKM tertinggi. (gas/han)

Gemar Bikin Aplikasi, Raih Terbaik di FT UMM

ALI Usman boleh berbangga lantaran selain mampu menciptakan hingga 50 aplikasi untuk Playstore Android maupun Apple App Store, juga dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hari ini Ali mengikuti wisuda setelah berhasil menyesaikan studi di Teknik Informatika UMM dengan meraih IPK 3,85. Kegemaran putra dari pasangan Supriyadi dan Suharti dalam menciptakan aplikasi bisa dibilang unik. Bagaimana tidak, ia selalu gemas ketika ada sesuatu yang sulit padahal bisa dibuat mudah. Kegemaran ini sudah dimulai sejak semester lima. “Saya sering menemukan aplikasi yang sulit, padahal bisa dibuat lebih mudah. Makanya saya buat sendiri dan alhamdulillah banyak yang suka dan mengunduhnya,” tutur pria asli Tulung Agung ini. Berkat kegemarannya itu pula, ia sudah memperoleh penghasilan puluhan juta rupiah tiap bulan. Semakin banyak yang mengunduh aplikasi buatannya, semakin mengalir penghasilan buatnya. Misalnya, salah satu aplikasi kamus Bahasa Indonesia – Inggris sudah didownlad lebih dari 150 ribu kali. Selain itu ia juga menciptakan aplikasi untuk kiblat dan jadwal sholat, JNE Ongkos Kirim, Jawa Pos National Network (JPNN), hingga UMM Massanger yang mirip WhatsApp tetapi familier dengan keperluan mahasiswa UMM. Ia juga mengembangkan website brixzen.com sebagai pengembang aplikasi. Usman mengaku kesukaannya pada dunia teknologi informasi diawali sejak sekolah di bangku SMK. Ia ditantang pamannya untuk membuat aplikasi kasir dan dibayar Rp 3 juta. Setelah berhasil, itulah momentum bangkitnya kepercayaan diri hingga berani mencoba banyak hal. Meski demikian, tidak semua aplikasi buatannya selalu laris di pasaran. Ia bercerita, beberapa aplikasi yang semestinya bermanfaat justru tidak mendapat animo besar. “Pernah saya membuat aplikasi tentang informasi obat mulai dari nama obatnya, dosisnya, dan segala macamnya. Semua informasi itu saya dapatkan dari website resmi yang kredibel. Tapi ternyata hanya sedikit sekali yang mengunduh aplikasi tersebut,” kata Usman. Setelah lulus Usman masih ingin melanjutkan hobi yang juga pekerjaannya ini. Ia tetap yakin aplikasi yang dibuatnya memudahkan dan memberi manfaat kepada banyak orang. “Kedepan saya akan kembangkan brixzen.com ini menjadi start-up lokal yang diperhitungkan,” pungkasnya. (rin/nas)

Lulus 3,5 Tahun Jadi Wisudawan Terbaik

AKTIF pada seabreg organisasi tak membuat Septa Waspada Hariyono Putra tidak memiliki prestasi akademik yang gemilang. Dalam Wisuda Periode I 2016, lulusan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berhasil meraih predikat wisudawan terbaik universitas dengan IPK 3,99. Pria kelahiran 29 September 1993 ini aktif di beberapa organisasi intra kampus sejak awal kuliah. “Dulu pernah aktif di LSO (Lembaga Semi Otonom) Psycology Club, kemudian sempat menjadi Gubernur BEMFA (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas), dan aktif juga di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Komisariat Psikologi,” kata Septa. Putra dari pasangan Hariyono dan Wihartini Purwaningtyas ini bercerita, masuknya ia ke Fakultas Psikologi merupakan “kecelakaan”. Septa mengungkapkan, awalnya ia ingan jadi Polisi. Namun nasib berkata lain, ia ditolak. Pun ketika mencoba peruntungannya di Fakultas Kedokteran, Septa masih ditolak. “Kemudian ada saudara menyarankan masuk di Psikologi karena lapangan kerjanya yang luas dan bisa masuk di mana-mana. Setelah saya telusuri, akhirnya saya masuk di fakultas ini,” tuturnya. Ditanya kenapa memilih UMM, Septa yang hobi renang dan memelihara kucing Persia ini mengaku terkesan dengan kemegahan UMM. Ia juga melihat review dari beberapa alumni Psikologi UMM yang berada di internet. “Sewaktu browsing di internet, ternyata banyak yang menyarankan UMM karena Psikologinya bagus. Setelah saya buka websitenya, ternyata UMM bagus dan indah banget. Jadi akhirnya pilih masuk UMM,” ujar Septa. Setelah lulus dari UMM, Septa yang menjadi Kakang Embug (Duta Wisata) Situbondo 2009 dan Raka Raki Jawa Timur 2010 ini mengaku ingin melanjutkan pendidikan magister. “Sudah ada kampus yang jadi pilihan, saat ini juga sedang apply beasiswa. Semoga diberikan yang terbaik,” harapnya. Septa menjadi satu di antara ratusan mahasiswa UMM yang berhasil menyelesaikan studi dalam kurun waktu 3,5 tahun. Ia pun diwisuda bersama 1.002 wisudawan pada Sabtu (27/2) di UMM Dome. (zul/nas)

Puan Maharani: UMM Harus Jadi Pelopor Pencipta Teknokrat

MENTERI Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani menyebut, sebanyak 75 persen lulusan di Indonesia berasal dari bidang non-teknik. Dalam orasi ilmiah Wisuda ke-79 Periode I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (27/2), ia mengatakan perlunya mendorong perguruan tinggi mencetak lulusan-lulusan berlatar belakang teknik. “Indonesia lagi giat membangun infrastruktur. Sudah dianggarkan sebesar 5ribu triliun rupiah sampai 10 tahun kedepan untuk pembangunan, tapi kita kekurangan insinyur,” ujar Puan dihadapan 1.002 wisudawan di Hall UMM Dome. Ia kemudian berharap, UMM bisa menjadi salahsatu kampus pelopor di Indonesia yang menghasilkan teknokrat-teknokrat muda dan berkualitas. Para wisudawan ini, pesan Puan, diharapkan bisa bersaing menghadapi tantangan yang sudah menanti di depan mata. Persaingan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah dimulai saat ini sudah harus disiapkan dengan modal keterampilan dan kompetensi yang dimiliki. “Saudara-saudara akan dituntut untuk mengabdikan ilmu dan kemampuan dari apa yang sudah dipelajari selama ini,” kata Menko PMK ini. Ia menambahkan, untuk mendukung majunya kualitas lulusan serta pendidikan tinggi di Indonesia, beberapa program sudah disiapkan oleh pemerintah, seperti beasiswa afirmasi yang sudah dinikmati manfaatnya oleh ribuan mahasiswa, juga menguatkan peran Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dalam proses akreditasi PT. “Kita mengingkan pendidikan tinggi betul-betul menjadi ajang untuk menempa mentalitas, keterampilan, dan keahlian, serta menghasilkan generasi penerus bangsa yang berintegritas, beretos kerja, dan berkepribadian yang berlandaskan gotong royong,” tutur Puan. UMM, menurutnya sudah teruji dalam hal mutu kualitas pendidikan tinggi. “UMM tidak akan pernah mundur, tapi akan selalu maju meningkatkan kualitasnya menjadi lebih baik,” katanya. Ia kemudian meminta mahasiswa untuk menjaga nama baik Muhammadiyah dan almamater UMM. “Bagaimanapun, Muhammadiyah sudah berperan besar dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Jadilah wisudawan yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan, agama, bangsa, dan negara Republik Indonesia ini,” (zul/nas)

Jaga Hubungan Ideologis, UMM Hadirkan Puan Maharani

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM), kembali menggelar prosesi wisuda, di UMM Dome, hari ini (27/02). Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Republik Indonesia, Puan Maharani, hadir di acara wisuda untuk memberikan orasi. Selain Puan, wisuda juga dihadiri Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang juga ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof HA Malik Fadjar, dan ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP, ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, Ketua Bamus MPR RI yang sekaligus ketua Fraksi PDI Perjuangan, Drs. Ahmad Basarah, MH. Rektor UMM, Fauzan, menerangkan kehadiran Puan merupakan salah satu upaya melanjutkan tradisi akademik UMM dengan mendatangkan tokoh sebagai sumber informasi bagi sivitas akademika dan keluarganya. “Kehadiran Ibu Puan penting sekali agar kita memperoleh informasi kebijakan di bidang sumberdaya manusia dan budaya dari tangan pertama,” ujarnya. Selain itu, lanjut rektor, UMM memang selalu menjaga  hubungan ideologis dengan anak keturunan tokoh Muhammadiyah. Seperti diketahui, Puan adalah putri Megawati Sukarno putri yang berarti cucu Proklamator, Sukarno, yang sekaligus tokoh Muhammadiyah pada zamannya. Istri Sukarno, Fatmawati yang juga nenek Puan, adalah tokoh ‘Aisyiyah di Bengkulu. Sedangkan Taufik Kiemas, ayahanda Puan, adalah mantan aktivis Pemuda Muhammadiyah. “Jadi kehadiran beliau di UMM ini sekaligus mengingatkan kepada publik bahwa Muhammadiyah memiliki peran kebangsaan yang sangat besar melalui tokoh-tokohnya,” kata Fauzan. Itulah sebabnya, pada peringatan Milad 50 tahun UMM tahun lalu Almarhum Taufik Kiemas dinobatkan sebagai penerima UMM Award untuk Tokoh Bangsa. Hal senada diungkapkan Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy. Menurutnya, buyut Puan adalah ketua Muhammadiyah Bengkulu yang memiliki anak bernama Fatmawati yang aktif di Aisyiyah. Fatmawati adalah istri Bung Karno yang melahirkan Megawati Sukarnoputri, ibu Puan Maharani. “Ketika ketua Muhammadiyah dipegang mertuanya itulah Bung Karno aktif sebagai Ketua Majelis Pengajaran Muhammadiyah,” terang Muhadjir. Sementara itu, dalam orasinya Puan berharap lulusan UMM sanggup menjadi sarjana yang memberi kontribusi kepada bangsa. Tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), katanya, harus dijawab dengan sumberdaya manusia unggul yang memiliki visi gotong royong. “Saya berulangkali mengatakan yang harus kita tonjolkan adalah semangat gotong-royong. Kata Bung Karno, jika Pancasila kita uraikan lagi maknanya, maka isinya intinya adalah semangat gotong royong itu,” tegas Puan. Usai berorasi, Puan menerima penghargaan sebagai Keluarga Kehormatan UMM. Rektor menyematkan jas almamater merah, dilanjutkan dengan penyematan cincin, dan sebuah lukisan sketsa dirinya. Rombongan Puan juga meninjau RS UMM yang pada tahun 2014 diresmikan oleh Megawati Sukarnoputri. Di RSUMM Puan berfoto di depan prasastri peresmian dan ambulan sumbangan presiden RI ke-5 itu. Dalam setahun UMM melaksanakan wisuda sebanyak empat kali dan kali ini merupakan wisuda ke 79 periode I tahun 2016 dengan jumlah lulusan sebanyak 1.002 orang. Mereka terdiri dari dari 7 lulusan Diploma I; 920 lulusan Sarjana Strata I; 74 lulusan Sarjana Strata II; dan 1 orang Doktor. Perlu kami sampaikan juga bahwa di antara lulusan S1 terdapat satu orang yang berhasil meraih gelar ganda (Twinning Program) dan ada 20 lulusan yang sudah meraih gelar Profesi Dokter. Pada wisuda ini, lulusan terbaik kali ini diraih Septa Waspada Hariyono Putra dari Fakultas Psikologi. (nas)

Malik Fadjar: Peningkatan Mutu itu Tiada Akhir, Tiada Batas

JIKA tak ingin terhempas dari persaingan yang kian ketat, pengembangan mutu pendidikan sekolah harus terus berkembang seiring perkembangan zaman. Hal itu disampaikan tokoh Muhammadiyah, Prof Dr HA Malik Fadjar MSc pada gelaran Workshop Peningkatan Mutu Sekolah Muhammadiyah yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jumat (26/02) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).       Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini menjelaskan, peningkatan mutu pendidikan sekolah Muhammadiyah tidak akan bisa dilakukan oleh satu lembaga saja, melainkan harus adanya kemitraan yang baik secara internal maupun eksternal Muhammadiyah. Karena itu, menurut Malik, kegiatan workshop ini merupakan salah satu langkah strategis PP Muhamadiyah untuk meningkatkan mutu sekolah Muhammadiyah agar terus berkembang.       “Peningkatan mutu itu tiada akhir dan tiada batas, karena itu perkembangan mutu haruslah menjadi sesuatu yang menggairahkan, menyenangkan, dan juga mencerdaskan,” terang Rektor UMM 1983-2000 ini.       Kunci dari sekolah bermutu, lanjut Malik, bisa dilihat dari kualitas guru. Oleh karena itu, menurutnya, para guru di sekolah Muhammadiyah haruslah memiliki empat prinsip yang harus dijadikan pedoman yakni niat, pengetahuan, kompetensi dan juga komunikasi yang baik. “Jadilah orang yang tak pernah henti mengembangkan ilmunya baik agama maupun ilmu umum,” paparnya.       Ia menegaskan, Muhammadiyah akan selalu meningkatkan kualitas sekolah-sekolah di bawah naungannya agar mampu bersaing dengan sekolah-sekolah negeri maupun di bawah kelembagaan lainnya agar bisa menjadi terdepan. “Kita harus selalu berupaya agar mutu yang baik bisa terus dikembangkan, dan ini tak akan terpisahkan dari pergerakan Muhammadiyah,” pungkasnya. (gas/han)

Mutu Sekolah Muhammadiyah Berkontribusi Majukan Pendidikan Bangsa

PROGRAM pemerintah untuk mendirikan sekolah-sekolah di daerah prioritas 3T yaitu terluar, terpencil, dan tertinggal akan sulit berjalan maksimal tanpa dukungan organisasi kemasyarakatan. Dalam konteks ini, Muhammadiyah memiliki peran penting membantu kerja pemerintah memberikan pendidikan yang bermutu untuk masyarakat sebagaimana amanat UU Sisdiknas.       Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Abdul Mu`ti MEd mengatakan, peningkatan mutu sekolah merupakan wujud pemenuhan hak asasi manusia di bidang pendidikan. “Negara tidak bisa mengambil alih seluruh kegiatan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat. Kontribusi Muhammadiyah akan sangat berharga,” paparnya pada pembukaan Workshop Peningkatan Mutu Sekolah Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (26/2).       Lebih dari itu, Mu’ti menambahkan, dalam peningkatan mutu sekolah Muhammadiyah, peran kampus seperti UMM sangat diperlukan sebagai basis pengembangan sekolah Muhammadiyah di daerah. “Ada beberapa PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) yang memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) seperti UMM ini harus bisa mendorong peningkatan mutu pendidikan sekolah Muhammadiyah di sekitarnya,” kata Mu’ti.       Kegiatan Workshop yang berlangsung selama tiga hari hingga Ahad (28/2) ini mengundang sekitar 150 sekolah terbaik Muhammadiyah dari jenjang SD hingga SMA. Kegiatan dibuka oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, didampingi Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah, Prof Dr Baedhowi MSi; serta Pembantu Rektor I UMM, Prof Dr Bambang Widagdo MSi.       Senada dengan Mu’ti, Muhadjir Effendy mengungkapkan, sekolah-sekolah terbaik Muhammadiyah juga seharusnya menularkan prestasinya dan mutu sekolahnya kepada sekolah-sekolah Muhammadiyah lainnya. “Jadi sekolah yang perlu ditingkatkan mutunya dibantu bersama-sama ditingkatkan, yang sudah baik mutunya ditingkatkan supaya makin baik,” ujar mantan Rektor UMM ini.       Ia juga mendorong lulusan terbaik dari sekolah Muhammadiyah ini untuk mau diterjunkan ke pedalaman, agar mampu menyamakan kualitas pendidikan di Indonesia. “Kalau perlu kita danai sampai mereka betah dan tidak mau pulang dari pedalaman,” katanya.       Sementara Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Dr Poncojari Wahyono MKes menyebut, dalam workshop ini selain mengembangkan kualitas pengajaran para guru di sekolah, ada beberapa bidang yang akan menjadi fokus pengembangan dalam penyelenggaraan sekolah.“Nanti akan dibahas bagaimana manajemen sekolah seperti pengelolaan keuangan dan administrasi,” terangnya.       Menurutnya dengan terselenggaranya pengelolaan yang baik, sekolah­-sekolah di bawah naungan Muhammadiyah akan mampu bersaing dengan sekolah­-sekolah negeri maupun di bawah lembaga lainnya. Saat ini, menurutnya, sekolah-­sekolah di bawah naungan Muhammadiyah sudah banyak yang mampu mengungguli sekolah­-sekolah negeri. “Tapi masih belum banyak juga yang harus dibenahi,” pungkasnya. (zul/han)

Teken MoU, UMM Segera Kirim Peneliti ke Tiongkok

KUNJUNGAN Open University Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ke Universitas Muhammadiyah Malang selama sepekan berakhir Jumat (26/01). Kedua belah pihak sepakat meneken nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Rektor UMM, Fauzan menandatangani langsung MoU tersebut didampingi Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM, Prof Sujono MKes. Sedangkan dari pihak Open University RRT, penandatanganan dilakukan oleh President Xiamen Runde Yuan Investment Corporation, Wang Xioming dan Direktor Laboratory of Tropical Medical Plants Resource, Tropical Crops Genetic Resource Institute, Chinese Academy of Tropical, Pang Yuxin didampingi Senior Engineering Manager Open University RRT, Pan Hanliang. Rektor UMM, Fauzan, menerangkan poin kerjasama yang disepakati kedua belah pihak, diantaranya pengiriman dosen ke beberapa perusahaan di Tiongkok milih Xiamen Runde Yuan Investment Corporation untuk belajar pembudidayaan kentang hitam, jamur, dan blueberry. “Hasil belajar dan riset bersama di Tiongkok akan diaplikasikan di Malang dan Batu,” katanya. Dijelaskan Direktur DPPM UMM, Prof Sujono Mkes, pihak Tiongkok tertarik untuk membuat beberapa tanaman tropis ini menjadi obat herbal. “Indonesia ini kan penuh dengan tanaman tropis, dan pihak dari Tiongkok sudah mengetahui tanaman apa saja yang bisa dijadikan obat. “Kedepan juga akan dibangun perusahaan obat herbal itu di Malang, yang menghasilkan produk hasil riset bersama antara UMM dan Tiongkok,” ujarnya. Sujono berharap, kerjasama ini dapat meningkatkan mutu dosen dan penelitian UMM. Kerjasama ini juga diharapkan meningkatkan poin akreditasi institusi dibidang penelitian dan pengabdian masyarakat. “Kerjasama internasional kan masuk dalam poin akreditasi, tentu sangat berpengaruh,” ucapnya. Rombongan dari Tiongkok ini sudah berada di UMM sejak Senin (22/2). Mereka kemudian diajak berkeliling di beberapa pusat studi dan laboratorium yang dimiliki UMM. Mereka juga dipamerkan beberapa hasil riset yang dimiliki UMM. (zul/nas)