PGSD Persiapkan Akreditasi Jurnal Elektronik

PROGRAM Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan lokakarya peningkatan kualitas jurnal bertajuk “Menuju Jurnal Terakreditasi” di Hotel UMM Inn, Kamis (25/02). Kegiatan ini untuk mendaklanjuti Peraturan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) No. 1 Tahun 2014 tentang Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah. Berdasarkan aturan tersebut, jurnal yang akan diakreditasi harus berbasis elektronik secara online atau yang dikenal dengan Open Journal System (OJS). OJS bertujuan untuk efisiensi dan efektivitas dalam hal penerbitan dan distribusi jurnal serta menghindari tindakan plagiasi. Kepala Divisi Jurnal dan Publikasi Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM, Novin Farid Setya Wibowo, M.Si yang memberikan materi mengenai “Migrasi Jurnal Elektronik Berbasis OJS” mengatakan, UMM selalu memfasilitasi para dosen yang memiliki jurnal dan ingin mempublikasikannya secara online. “Bagi dosen dan mahasiswa yang memiliki jurnal rencananya nanti kami akan melakukan pelatihan mengenai OJS ini,” ungkapnya. Selain itu, lanjut Novin, UMM juga akan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi jurnal. Untuk itu ia mengungkapkan UMM akan memberikan apresiasi bagi para dosen yang memiliki jurnal dan terdaftar di Dirjen Dikti. “Universitas akan memberikan insentif bagi para penulis jurnal yang telah terindeks dan memiliki reputasi,” terangnya. Ada beberapa keuntungan pada OJS ini. Bagi penulis jurnal, OJS membuat penerimaan keputusan jurnal dari penerbit akan lebih cepat, proses diseminasi lebih cepat dan akan lebih banyak orang yang akan membaca jurnalnya. Untuk penerbit, proses penerbitan OJS akan jauh lebih cepat ketimbang versi cetak. Selain itu biaya penerbitan jauh lebih murah, proses distribusi jurnal pun akan lebih cepat dan mudah. Dalam lokakarya ini, hadir pula pakar publikasi ilmiah Prof. Dr. Ali Saukah, M.A. yang memberikan pedoman tentang akreditasi jurnal elektronik. Ia mengatakan, perkembangan teknologi di bidang jurnal ini akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan keilmuan. “Dengan berkembangnya ilmu pastinya juga akan memberikan kontribusi pada peningkatan mutu kehidupan,” ujarnya. Dalam pemaparannya, Guru Besar di Universitas Negeri Malang (UM) ini menjelaskan cara mendaftarkan jurnal yang telah berbasis elektronik tersebut ke Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk mengakreditasi jurnal secara nasional. Tahapan pertama yang harus dilakukan penulis adalah menyerahkan jurnal tersebut kepada pengelola jurnal dari Perguruan Tinggi Lembaga atau Litbang Organisasi Profesi. Selanjutnya pengelola jurnal akan mendaftarkan jurnal melalui aplikasi website yang telah disediakan Dikti yakni ARJUNA. Setelah itu distributor yang bertugas memploting jurnal tersebut akan menyerahkannya ke Tim Ad Hoc Pakar dari Dikti dan Kemudian jurnal tersebut akan diverifikasi oleh tim asesor. Baru lah Kemenristek Dikti akan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) jurnal berdasarkan hasil verifikasi tim asesor. Menurut Ali Saukah, agar jurnal bisa mendapatkan akreditasi yang baik, selain harus memperhatikan kualitas substansi isi jurnal, penulis juga harus memiliki kemitraan bebestari. “Kemitraan bebestari ini nantinya akan menunjukan kekurangan jurnal dan bisa membantu memperbaikinya,” jelasnya. Sementara itu, ketua pelaksanaa kegiatan lokakarya, Setiya Yunus Saputra.,M.Pd mengatakan dengan diberlakukan peraturan mengenai penerapan sistem akreditasi berbasis elektronik ini PGSD siap melaksanakannya.”Kami sudah mempersiapkan program-program untuk mempersiapkan proses publiukasi dan akreditasi jurnal secara online,” pungkasnya. (gas/han)
KPPA UMM Siapkan Akreditasi Laboratorium

GUNA peningkatan mutu laboratorium di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA) UMM menyelengarakan Workshop Implementasi Sistem Manajemen Mutu Laboratorium Terpadu, Kamis-Sabtu (25-27/2). Bertempat di Ruang Sidang Fakultas Ekonomi dan Bisnis, workshop dihadiri 42 kepala laboratorium. Kepala Divisi Akreditasi Laboratorium KPPA UMM, Dr Elfi Anis Saati MP menyebut, ini merupakan upaya peningkatan kemampuan tenaga laboratorium dan kompetensi lulusan UMM ke depan. “Perlu banyak kegiatan pendukung yang mempunyai target dan luaran seperti workshop, sertifikasi, serta uji kompetensi tenaga SDM di laboratorium yang bermuara pada pencapaian akreditasi laboratorium,” tutur Elfi. Untuk mengawali akreditasi ini, KPPA sudah berkonsultasi dengan asesor Komite Akreditasi Nasional (KAN), Dr Saptowo J Pardal dari Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) Bogor. “Dari diskusi dengan beberapa kepala laboratorium, maka diperlukan kegiatan pendampingan pemberkasan pengusulan akreditasi laboratorium untuk laboratorium eksakta, yakni SNI-ISO/IEC 17025:2008,” katanya. Kata Elfi, UMM mempunyai 25 laboratorium eksakta yang akan mulai disiapkan akreditasi laboratorium pada periode ini. Sedangkan 17 laboratorium sosial akan menyusul pada periode selanjutnya. “Kami berharap pada Juni 2016 minimal ada tiga laboratorium yang sudah bisa mendaftarkan usulan akreditasi laboratorium tersebut,” ujar Elfi. Rektor UMM, Fauzan, dalam sambutannya meminta seluruh laboratorium di UMM berbenah diri untuk menyiapkan Laboratorium Terpadu UMM. “Laboratorium ini merupakan pusat pengembangan keunggulan nasional dan regional yang ‘berkarakter’, serta menjadi rujukan dalam bidang laboratorium dan standarisasi,” katanya. UMM, kata Fauzan, ke depan siap membangun gedung Laboratorium Terpadu yang akan menjadi tempat laboratorium-laboratorium di UMM. Masyarakat umum pun dapat memanfaatkan laboratorium tersebut. “Jika masyarakat ingin menguji sampel tertentu, melalui laboratorium terpadu nantinya masyarakat dapat terlayani,” ujarnya. (zul/han)
Bedah Disertasi PSIF Bahas ODHA Hingga LGBT

FENOMENA orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) rupanya sudah ditangkap jauh hari oleh dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Rinekso Kartono MSi. Melalui disertasinya berjudul “Fenomena Perilaku Sakit ODHA di Malang Raya”, Rinekso mengungkap bahwa epidemi HIV/AIDS di Malang Raya terus mengalami peningkatan yang signifikan, dan hal tersebut memiliki keterkaitan dengan eksistensi kalangan LGBT. Hal itu, kata Rinekso, merupakan turunan dari fakta bahwa Indonesia, menurut Joint United Nations Programme on HIV and AIDS atau UNAIDS, merupakan salah satu negara dengan epidemi paling cepat di Asia pada 2010. Sementara di Malang Raya, berdasarkan data yang dikumpulkan Rinekso, sepanjang 2008 terdapat 830 ODHA, 2009 meningkat menjadi 900 orang, dan di 2010 naik mencapai 1636. “Tren kenaikan ini terus terjadi, sampai 2013 terdapat sekitar 2650 orang. Ini menempatkan Malang sebagai daerah nomor dua jumlah ODHA terbanyak di Jawa Timur,” ungkapnya pada kegiatan Bedah Disertasi yang diadakan oleh Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM, Kamis (25/2) di Ruang Sidang Senat UMM. Fenomena ini, lanjutnya, baru merupakan puncak gunung es saja. Selama ini, sebagian besar ODHA ternyata berusaha menyembunyikan identitas barunya agar tidak diketahui orang lain. Rinekso menyebut perilaku ini dengan istilah close status atau non-self disclosure. “Sikap inilah yang akhirnya menjadikan kelompok atau komunitas mereka sebagai hidden population. Mereka berusaha menyembunyikan penyakitnya dari keluarga, saudara, pasangan hidupnya, dan teman-temannya,” kata Rinekso. Penyakit HIV/AIDS, ucap Rinekso, awalnya berkembang di kelompok-kelompok LGBT, pengguna jarum suntik, dan pekerja seks komersial. Kini bahkan sudah menjangkiti ibu-ibu rumah tangga dan bayi-bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. “Yang paling berbahaya saat ini adalah penularan melalui transfusi darah yang tidak steril. Semua orang saat ini bahkan berpotensi tertular karena semakin besar jumlah penderita, semakin besar pula resiko orang tertular, terutama melalui transfusi darah,” ujarnya. Ditanya tentang pencegahannya, ia menjelaskan tidak bisa sepenuhnya menghapus sumber-sumber penyakit ini, misalnya menghilangkan lokalisasi. “Yang kita bisa saat ini ya hanya membatasi gerak mereka dan memberikan aturan dalam perbatasan tersebut. Mau menghilangkan seluruhnya ya hampir mustahil karena itu adalah problem sosial yang selalu ada setiap saat,” katanya. Masyarakat juga tidak perlu melakukan upaya diskriminasi terhadap para penderita ODHA. Perlunya pendampingan dan dukungan sosial terutama dari keluarga menjadi saran penting agar memperlakukan ODHA secara manusiawi. “Perlu diambil langkah-langkah untuk mencegah perkembangan HIV/AIDS di Indonesia, dengan cara mengedukasi ODHA untuk terbuka pada pasangan seksualnya, konsisten menggunakan kondom dalam hubungan seks, menjauhi narkoba terutama dalam menggunakan jarum suntik secara bergantian, dan mengontrol tempat-tempat yang berpotensi sebagai sumber-sumber penyakit ini,” tutur Rinekso. (zul/han)
LK UMM Kaji Norma Generasi Internet
GENERASI Internet dan Perubahan Sosial, menjadi topik kajian Multidisipliner Lembaga Kebudayaan UMM, Rabu (24/2). Bertempat di Laboratorium Manajemen, kajian menghadirkan pembicara dosen Ilmu Komunikasi UMM, Frida Kusumastuti, M.Si dan ketua jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya, DR. Bambang D. Prasetyo. Acara diikuti oleh internal UMM meliputi dosen dan karyawan, mahasiswa, pengurus organisasi mahasiswa, para guru PAUD, TK, SD, hingga SMA di Malang Raya, pimpinan maupun anggota PDA dan PCA se Malang Raya. Dalam rilis yang dikirim oleh LK UMM, ketua LK Dr Tri Sulistyoningsih, MSi, mengatakan hari ini kita berada dalam dunia sekaligus; dunia maya dan dunia nyata. Dunia maya membuat kita serba mudah, namun disisi lain juga membuat terasing dari diri sendiri. “Oleh karena itu kita harus menjadikan tehnologi informasi bukan sebagai perusak, namun sebagai pembangun peradaban bangsa,” papar Tri yang juga dosen Ilmu Pemerintahan ini. Frida Kusumastuti yang membawakan materi dengan judul “Generasi Internet; Harapan Kehidupan yang Lebih Baik”, menegaskan bahwa karakter generasi internet tidak terlepas dari karakteristik internet itu sendiri, yaitu serba cepat, interaktif, interkonektif, banyak pilihan, dan fun atau menyenangkan. “Karakter internet menentukan pola interaksi, cara berpikir, cara berkomunikasi para penggunanya atau generasi internet, sehingga terbentuk ‘norma baru’ di kalangan mereka,” ungkapnya mengutip Technology Determinism Theory. Sementara itu, Bambang menyebut Generasi Z identik dengan iGeneration, Generasi Net, atau Generasi Internet yang lahir pada tahun 1995 – 2010. Sedangkan yang terlahir pada periode 1965 hingg 1980 disebut sebagai Generasi X. Generasi Y dilahirkan antara 1981 – 1994. Generasi-generasi ini, menurutnya, merupakan generasi yang bersifat global. Mereka lebih kompetitif, lebih cerdas, lebih gesit, dan lebih toleran terhadap keberagaman dibanding pendahulu mereka, peduli pada keadilan dan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, mudah melibatkan diri pada aktivitas sosial. “Jadi kalau mau libatkan generasi ini harus paham dulu nilai apa yang sedang trend dan cara mengkomunikasikannya kepada mereka,” papar Bambang. Menanggapi pertanyaan salah satu peserta dari Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Malang, N. Muamalah tentang bagaimana menghadapi anak-anak yang mengakses internet secara bebas dan negatif, para pembicara sepakat bahwa tidak mungkin menjauhkan anak-anak dari teknologi baru. “Setiap generasi memiliki ‘hidupnya’ sendiri, atau memiliki kebudayaannya sendiri yang mengikuti trend perkembangan tehnologi, maka sikap kehati-hatian dalam menggunakan tehnologi itu yang penting,” tutur Bambang. Sementara Frida yang pernah mendapatkan penghargaan Bronz Internet Sehat, berpendapat bahwa perhatian yang utama adalah pada konten. Manusia “yang bertanggung jawab” harus belajar lebih familier dengan teknologi internet ini sehingga mampu menyediakan konten yang baik. “Seperti saat ini kita diskusi dua jam tentang dampak negatif internet di ruang ini, bisa jadi di luar sana para manusia tak bertanggung jawab telah mengunggah ratusan tulisan buruk, pornografi, video sampah untuk generasi internet. Oleh karena itu mari kita belajar memproduksi konten yang baik dan kemudian mengunggahnya melalui media internet. Agar generasi internet mendapat pilihan konten yang positif untuk kehidupan yang lebih baik,” ajak Frida. Kajian multidisipliner merupakan kajian rutin dua bulanan yang diselenggarakan Lembaga Kebudayaan. Hingga saat ini telah memasuki putaran ke 8 dan telah menghadirkan 16 pemateri dari dalam maupun dari luar UMM antara lain para pakar dari kalangan penggiat dan pelaku seni budaya, birokrat, pengusaha, para pakar dari UM, UIN, dan UB. (nas)
HI UMM Perkuat Sinergitas dengan Alumni

SEJAK didirikan pada 2005, program studi (Prodi) Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) telah menjadi salah satu prodi unggulan UMM. Hal tersebut dibuktikan dengan passing grade HI sebesar 95 yang nyaris menyamai Prodi Kedokteran dengan passing grade 98. “Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Peluang untuk menunjukkan eksistensi dan kualitas, serta tantangan karena prodi HI di Indonesia semakin banyak sehingga persaingan semakin kompetitif,” papar salah satu perintis dan pendiri HI UMM, Drs Saiman MSi saat ditemui, Rabu (24/2). Saiman mengakui, HI UMM telah melalui perjalanan dan kemajuan yang luar biasa selama lima belas tahun kiprahnya. Bagi prodi yang tergolong muda, tentu saja alumni menjadi aset penting bagi kemajuan almamater. Menyadari hal itu, melalui Gathering dan Temu Alumni yang berlangsung pekan lalu (14/2), HI berupaya membangun sinergi dengan para alumni yang saat ini telah memiliki sebaran yang luas. Berbagai alumni HI UMM telah bekerja di berbagai sektor, seperti menjadi anggota dewan dan birokrat, usahawan muda dengan berbagai bidang usaha, perbankan, akademisi, LSM, bahkan hingga sebagai artis. Terkait dengan itu. Dekan FISIP Dr Asep Nurjaman MSi menegaskan pentingnya sinergitas antara prodi dengan alumninya, terutama di tengah persaingan yang semakin kompetitif. Menurutnya, salah satu kekuatan untuk kemajuan prodi dan universitas adalah ikatan kuat di antara alumni. Apalagi, tambahnya, lulusan HI memiliki lapangan kerja yang luas dan dapat bekerja di semua sektor sehingga komunikasi antar alumni dan juga prodi menjadi kunci untuk memenangkan persaingan dengan lulusan perguruan tinggi ternama lainnya, melalui kekuatan networking. “Mengutip Albert Einstein, tidaklah begitu penting menjadi orang yang sukses jika kita tidak bisa menjadi orang yang bernilai. Bernilai bagi almamater, agama, dan bangsa,” tuturnya. Sementara itu, Ketua Prodi HI Gonda Yumitro MA mengungkapkan, sejak 2013 HI UMM telah berhasil meraih akreditasi A. Konsekuensinya adalah perlu diiringi dengan berbagai kemajuan dan peningkatan. Sebab, menurut Master lulusan India itu, mempertahankan prestasi dan predikat akreditasi A adalah hal yang sulit. Untuk itu, tambahnya, acara ini selain untuk menjaga komunikasi antar keluarga besar HI, juga diharapkan para alumni dapat memberikan masukan bagi pengembangan kualitas pembelajaran dan kurikulum berdasarkan pengalaman para alumni di dunia kerja sekaligus sebagai tracer study. Harapannya, lulusan HI ke depannya dapat memiliki kualitas dan keterampilan untuk memenangkan persaingan di dunia kerja. (naj/han)
Lulusan FISIP Diingatkan Agar Siap Hadapi MEA
FAKULTAS Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Yudisium periode pertama di tahun 2016. Prosesi yang berlangsung di Aula BAU UMM, Rabu (24/2) ini diikuti 136 calon wisudawan dari lima program studi (prodi) yakni Ilmu Komunikasi (Ikom), Hubungan Internasional (HI), Ilmu Pemerintahan (IP), Sosiologi dan Kesejahteraan Sosial (Kesos). Dekan FISIP, Dr. Asep Nurjaman, M.Si mengatakan, alumni haruslah memiliki lima karakter yang ia ambil dari kepanjangan FISIP yakni fisik, intelektual, spiritual, integritas dan pantang menyerah.“Secara fisik harus oke, memiliki intelektual yang baik, spiritualnya bagus, juga memiliki integritas dan prisnsip hidup yang pantang menyerah.” ujarnya. Dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) seperti saat ini, lanjut Asep, alumni FISIP UMM harus memiliki kapasitas dan intelektualitas agar mampu berdaya saing. “Dengan dasar kemampuan untuk memecahkan persoalan-persoalan internasional, ditambah dasar filosofis kehidupan yang harus jadi karakter mereka,” jelasnya Pada yudisium kali ini, diumumkan juga mahasiswa yang menjadi alumni terbaik di tingkat prodi maupun fakultas. Untuk di tingkat prodi, masing-masing mahasiswa yang menjadi alumni terbaik periode ini antara lain Gilang Kartika Sari (Ikom), Heavy Nala Estriani (HI), Desy Pratiwi Irma Suryani (Sosiologi), dan Langgeng Winarno (Kesos). Sementara untuk tingkat fakultas, Desy Pratiwi Irma Suryani (IP) berhasil menjadi alumni terbaik periode ini. (gas/han)
Republika Ajak UMM Kuatkan Sinergi Kampus-Media Massa

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kedatangan tamu dari harian nasional Republika, Selasa (23/2). Rombongan terdiri dari direktur utama Republika Agoosh Yusron, wakil pemimpin redaksi Irfan Junaidi, direktur operasional Arif Hilman, perwakilan Republika Yogyakarta Alfi Arumburi, dan reporter Republika Jawa Timur Christia Ningsih. Rombongan diterima langsung oleh Rektor UMM, Fauzan di Ruang Tamu Rektor, bersama asisten rektor bidang kerjasama, Soeparto dan kepala Humas, Nasrullah. Selain pertemuan terbatas, Republika melalui Irfan Junaidi turut memberikan kuliah tamu bertema “Jurnalisme Masa Kini” bagi sekitar 70 aktivis pers kampus di Ruang Sidang Senat UMM. Di hadapan Republika, Fauzan memaparkan tentang strategi UMM dalam mem-branding kapasitas intelektual para akademisi di UMM. Hal tersebut selaras dengan pentingnya sinergi antara kampus dan media massa yang beritikad memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Fauzan mengungkapkan, identifikasi spesifikasi dan pemetaan keahlian dosen telah menjadi komitmen UMM. “UMM memiliki banyak pusat studi yang tengah kita arahkan agar bisa menjadi basis pemikiran sekaligus rujukan akademik,” ujarnya. Mengamini hal tersebut, Arif Hilman mengatakan, para pakar dari kalangan akademisi sangat diperlukan oleh media massa karena ciri akademisi yang kritis dan obyektif. “Selama ini selalu pakar dari Jakarta yang menghiasi media massa, padahal pakar dari berbagai daerah banyak yang lebih bagus. Karena itu, kami ingin para pakar dari UMM juga turut memberikan pandangannya tentang berbagai persoalan di masyarakat,” tandasnya. Sementara itu, pada sesi kuliah tamu Irfan Junaidi lebih banyak memberikan motivasi dan inspirasi melalui pengalaman-pengalaman yang ia miliki. Pria yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi wartawan ini menuturkan bahwa profesi jurnalis harus benar-benar didasari keyakinan dan rasa cinta terhadap apa yang digelutinya. “Hanya orang yang benar-benar mencintai pekerjaannya saja yang mau menjadi jurnalis. Kalau kita sudah teguh dan yakin, melakukannya dengan perasaan cinta, maka apapun halangan dan rintangan yang akan kita hadapi, kita tidak akan goyah,” ujarnya. Berprofesi sebagai jurnalis, lanjut Irfan, bukanlah hal mudah. Suasana kerja yang begitu keras menuntut sesorang harus memiliki kekuatan mental dan kemampuan beradaptasi. “Di satu waktu, kita meliput kecelakaan yang berdarah-darah, tidak lama kemudian kita juga harus meliput di kegiatan resmi di ruangan ber-AC. Kondisi seperti ini nantinya sering kita hadapi,” ungkapnya. Terkait situasi media saat ini, menurut Irfan, perkembangan teknologi telah menyebabkan revolusi pola komunikasi. Hal ini berdampak pada terjadinya banjir informasi. “Masyarakat jadi kebingungan dalam mengkonsumsi informasi,” jelasnya. Namun Ia meyakini, jika menulis merupakan kegiatan yang menyehatkan bagi tubuh kita baik secara fisik maupun otak. Ia menyebutkan, para tokoh seperti Soekarno dan Buya Hamka, selain memiliki tingkat kecerdasan tinggi, mereka juga memiliki kemampuan menulis yang baik. “Lebih dari itu, dengan menulis kita juga bisa bermanfaat bagi banyak orang,” katannya. Oleh karenanya, Ia mengatakan, media harus memberikan informasi yang benar dan lengkap sehingga tidak menimbulkan efek samping negatif pada para pembaca. “Inilah media yang akan dijadikan pegangan oleh para pembaca nantinya,” pungkasnya. (gas/han)
UMM Jajaki Kerjasama Riset dengan Tiongkok

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menjajaki kerjasama riset dengan Open University Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Open University RRT diwakili tiga delegasi yakni Senior Engineering Manager Pan Hanliang; Presiden Xiamen Runde Yuan Investment Corporation, Wang Xiaoming; dan Direktur Laboratory of Tropical Medical Plants Resource, Tropical Crops Genetic Resource Institute, Chinese Academy of Tropical, Pang Yuxin. Rombongan disambut Rektor UMM, Fauzan; Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM), Prof Dr Ir Sujono MKes; dan beberapa staf DPPM, Senin (22/2) di Ruang Tamu Rektor UMM. Wakil Direktur DPPM UMM, Dr Vina Salviana MSi mengatakan, kunjungan dari Open University ini adalah kedua kalinya setelah sebelumnya mengunjungi UMM tahun lalu. “Pan Hanliang tahun lalu mengunjungi UMM dan kita ajak mengunjungi kampung olahan ikan di Pantai Lekok di Pasuruan. Selain itu, dulu juga tertarik membuka China Corner di Perpustakaan Pusat UMM dan kursus Bahasa Mandarin di UMM,” jelasnya. Dalam kunjungannya kali ini, ia membawa serta akademisi serta pengusaha asal Tiongkok untuk membuka peluang kerjasama riset dan implementasinya. “Mr. Wang punya beberapa perusahaan di bidang obat, sedangkan Mr. Pang membawahi beberapa master dan doktor di bidang herbal,” katanya. Usai diterima Rektor, rombongan diajak melihat-lihat hasil penelitian para dosen di Kantor DPPM. Beberapa peneliti UMM diundang untuk mempresentasikan hasil penelitiannya di hadapan rombongan dari Tiongkok. “Seperti minyak biji jarak, ekstrak bengkoang, pakan ikan, dan lain-lain. Kita pamerkan seluruh hasil penelitian kita, kemudian mereka akan memilih mana yang menarik untuk ditindaklanjuti untuk kerjasama,” tuturnya. Kerjasama yang akan dilakukan, menurut Vina, bisa dalam bentuk joint research ataupun komersialisasi hasil penelitian. “Kemenristek Dikti (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi) memberikan apresiasi tinggi jika penelitian yang dilakukan bekerjasama dengan institusi dari luar negeri, bahkan sampai dikomersilkan,” ucap Vina. Ia berharap, selain bermanfaat untuk masyarakat umum dan menguntungkan negara, kerjasama ini juga diharapkan berpengaruh terhadap akreditasi institusi UMM. “Penelitian tidak boleh diam, namun harus bisa bermanfaat bagi masyarakat dan juga negara,” pungkasnya. Kunjungan dari Open University RRT rencananya berlangsung mulai hari ini (22/2) hingga Jumat (26/2). Mereka akan dibawa ke beberapa pusat studi, riset, dan laboratorium milik UMM. Pada Kamis (25/2) juga direncanakan mengunjungi Walikota Malang dan Walikota Batu. (zul/han)
Pertukaran Mahasiswa dan Dosen Tandai Kerjasama UMM-Tongren University

MELALUI program Transfer Credit, kerjasama UMM dengan Tongren University, Tiongkok dimulai semester ini. Sebanyak 26 mahasiswa Tongren University akan kuliah di UMM selama satu semester dan 13 mahasiswa UMM akan belajar di Tongren. Selain mahasiswa, UMM juga akan mengirimkan dua dosen untuk mengajar di Tongren, sebaliknya satu dosen Tongren University akan mengajar di UMM. Rombongan dari Tongren telah datang ke UMM, Sabtu (20/2) sementara rombongan dari UMM akan diberangkatkan pada awal Maret. “Jadi mahasiswa UMM bisa kuliah di Tongren University, tapi biaya kuliahnya sesuai dengan biaya di UMM. Yang dari sana pun begitu, mereka bisa kuliah di UMM, tapi bayar kuliahnya sesuai biaya di sana,” terang Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soeparto. Ke depan, lanjut Soeparto, akan dikembangkan lebih banyak lagi kerjasama dengan universitas yang terletak di Provinsi Guizhou tersebut, salah satunya melalui program joint degree. Nantinya, mahasiswa bisa kuliah selama tiga tahun di UMM dan satu tahun di Tongren University, sebaliknya, mahasiswa Tongren University bisa kuliah tiga tahun di sana dan satu tahun di UMM. “Mereka bisa mendapatkan dua gelar sekaligus, dari UMM dan Tongren University,” terangnya. Sementara itu, International Student Advisor Tongren University, Fu Leilei mengungkapkan, UMM adalah kampus yang bertaraf internasional, karena itu, pihaknya sangat senang kerjasama dengan UMM bisa kian solid. “Selain itu, kerjasama ini juga akan memperkuat kemitraan antara Indonesia dan China,” tuturnya. Lantaran sukses membangun kerjasama dengan kampus tersebut, UMM tengah mengajak Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia untuk bisa menjadi bagian dari kemitraan tersebut. Karena itu, pada Senin (22/2) UMM bertemu dengan perwakilan Kantor Urusan Internasional (KUI) PTM se-Indonesia untuk menjajaki kemungkinan kerjasama PTM-PTM tersebut dengan Tongren University. (gas/han)
Kuliah Perdana Praktikum, Lab Komunikasi Hadirkan Praktisi

MENYAMBUT mata kuliah praktikum 2 bagi mahasiswa semester enam di tiga konsentrasi peminatan yakni jurnalistik, public relation (PR) dan audio visual (AV), program studi (prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kuliah perdana di Aula Masjid AR Fachrudin UMM, Sabtu (20/2). Kuliah perdana menghadirkan para pakar di masing-masing konsentrasi. Di bidang jurnalistik yang fokus pada on air journalism, dihadirkan produser program berita I News TV, Solihin Bahari. Untuk peminatan PR, mengingat fokusnya adalah PR event management, dihadirkan Roy Mardiansyah, Manajer Mall Dinoyo City, Malang. Sementara itu, untuk praktikum AV 2 yang fokus pada pembuatan company profile, materi disampaikan pemilik rumah produksi Kata Picture yakni Affan Hakim. Kepala Laboratorium Komunikasi UMM, Jamroji MComm mengatakan, kuliah perdana ini dilakukan untuk memberikan gambaran tentang proses kerja di konsentrasi peminatan yang dipilih mahasiswa. Di bidang Jurnalistik misalnya, ia menjelaskan, mahasiswa harus mengetahui dan memahami tentang proses produksi berita di televisi. “Di bidang PR, mahasiswa harus mengetahui proses menangani event PR. Sedangkan untuk AV, mahasiswa diharapkan mengerti proses produksi iklan mulai dari profil perusahaan. Yang berbicara ini praktisi, jadi mereka punya pengalaman yang tidak mahasiswa dapatkan dari konsep maupun teks,” jelasnya. Jamroji berharap, dengan digelarnya kuliah perdana ini, mahasiswa mampu megukur sejauh mana mereka mempersiapkan praktikum yang akan dijalani nanti. “Mereka punya bayangan seberapa besar volume kerjanya, sehingga mereka bisa megukur volume kerjanya dan mengalokasikan waktu serta motivasi lebih,” pungkasnya. (gas/han)