Motivasi Para Siswa, SMA PGRI Mojosari Kunjungi UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan dari SMA PGRI Mojosari. Sekitar 60 peserta kunjungan yang terdiri dari guru dan siswa ini disambut langsung kepala Humas UMM, Nasrullah SSos MSi di Ruang Mini Theater, Laboratorium Komunikasi, Sabtu (20/2).       Kepala SMA PGRI Mojosari, Drs Waras Sejati mengatakan, tujuan sekolah melakukan kunjungan ke UMM untuk memberikan motivasi pada anak didiknya agar memilki kemauan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. “Agar anak didik kami ke depannya memiliki wawasan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi seperti di UMM ini,” jelasnya.       Selain itu, tambah Waras, kunjungan ini dilakukan untuk memberikan gambaran kepada para siswa agar tepat memilih perguruan tinggi untuk melanjutkan studinya. “Kami mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang perguruan tinggi yang memiliki akreditasi yang baik, salah satunya UMM,” katanya       Dengan akreditasi yang baik, menurut Waras, nantinya lulusan dari universitas tersebut mampu bersaing di dunia kerja baik secara nasional maupun internasional. “UMM adalah kampus yang memiliki akreditasi A sehingga lulusanya tidak akan diragukan lagi, selain itu suasana di kampus ini juga sangat mendukung proses belajar,” ujarnya.       Tidak hanya memberi pengetahuan tentang kondisi UMM melalui company profile, peserta kunjungan juga diajak berkeliling untuk melihat sarana-sarana yang menunjang pembelajaran mahasiswa. Setelah itu, rombongan langsung diajak mengunjungi Taman Sengkaling UMM, salah satu unit bisnis yang dimiliki UMM. (gas/han)

Magister Psikologi UMM Gelar Konferensi Psikologi Se-ASEAN

MAGISTER Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar 2nd ASEAN Conference on Psychology and Humanity, Jumat-Sabtu (19-20/2). Bertemakan “Optimalizing Human Strength for Productivity and Well Being”, konferensi akan membahas secara pararel 117 makalah hasil penelitian dari para peneliti di bidang psikologi.       Konferensi dihadiri sekitar 150 peserta yang merupakan pakar maupun peminat psikologi dari negara-negara se-Asia Tenggara, di antaranya yaitu Prof. Dr. Mohd. Zahidi H. Hajazi (University of Selangor Malaysia), Mr. Sopon Satornsumritpol (Ramanggala University of Technology Thanyaburi, Thailand), Dr. Iswinarti, M.Si (UMM), Dr. Agnes del Rosario Crisostono (Bulacan State University, Philippines), Dr. Lisnawati Ruhaena (Universitas Muhammadiyah Surakarta), Dr. Syed Muhammad Syed Abdullah (University of Sains, Malaysia), Prof. Dr. Nilar Kyu (University of Yangon, Myanmar) dan Dr. Diah Karmiyati P.Si (UMM).       Ketua Program Magister Psikologi UMM, Dr. Iswinarti, M.Si mengatakan, tema-tema mengenai bidang psikologi dan kemanusian memang sangat dibutuhkan dan penting untuk dibahas secara internasional. “Dengan seminar seperti ini semua yang berkepentingan terhadap kekuatan individu dan masyarakat mampu dioptimalkan,” terangnya.       Ia menuturkan, UMM sebagai kampus dengan akreditasi A yang memiliki banyak kerjasama internasional akan sangat berpengaruh dalam perkembangan dunia psikologi. “Ini merupakan sumbangan yang baik dari UMM pada dunia internasional untuk mengoptimalkannya (psikologi dan kemanusiaan, red),” ujarnya       Sementara itu, Rektor UMM, Drs. Fauzan, M.Pd saat opening speech memaparkan berbagai program kerjasama internasional yang telah terjalin dengan UMM, khususnya di kawasan Asia Tenggara seperti program ASEAN Benchmarking Program yang memiliki tiga fokus pegembangan.       “Pertama untuk mengetahui posisi UMM di antara universitas di ASEAN. Kedua, Untuk mempelajari best practices yang dilakukan oleh universitas-universitas di negara ASEAN, dan ketiga memungkinkan adanya pengembangan kerjasama antar universitas di ASEAN,” paparnya.       Selain itu, Fauzan menambahkan, UMM juga memiliki program kerjasama pertukaran pelajar yang sudah terjalin sangat baik dakam menghadapi ASEAN Community melalui program Learning Express (LeX). “Dalam program ini kami menjalin kerjasama dengan Singapore Polytechnic (SP) dan Kanazawa Institute of Technology,” jelasnya.       Fauzan juga menyambut hangat para peserta yang hadir dalam konfrensi kali ini. Ia mengungkapkan siapapun yang bekerjasama dengan UMM adalah bagian dari keluarga besar UMM. “Bukan hanya sekedar teman, kami sudah menganggap siapapun yang hadir di sini sebagai bagian dari keluarga.” (gas/han)

Gelaran Budaya Sunda Ramaikan Taman Sengkaling UMM

SEBUAH gawe budaya besar-besaran bakal digelar Paguyuban Pasundan di Taman Sengkaling UMM mulai Jumat-Minggu (19-21/2). Acara ini digelar dalam rangka pelantikan pengurus cabang di Provinsi Jawa Timur sekaligus merayakan hari jadi ke-15 Ikatan Warga Pasundan (IWARPAS). Selain berbagai penampilan seni, juga dibuka bazar Kuliner Khas Sunda di Sengkaling Food Festival (SFF).     Ketua Panitia, Dr. David Hermawan, MP, menerangkan kesenian yang menjadi andalan dalam pagelaran ini adalah pertunjukan Wayang Golek dari Padepokan Giri Harja 3 Bandung pimpinan Dadan Sunandar Sunarya, putra dari dalang kondang senior Asep Sunandar Sunarya pada Sabtu malam. “Ini acara puncak yang akan dihadiri lebih dari 3000 warga Sunda di Jawa Timur,” kata dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM ini.     Untuk melengkapi nuansa budaya, pihak panitia juga menggelar kesenian Sunda lain seperti Degung, Calung dan berbagai tarian khas juga akan memeriahkan acara.  Tidak ketinggalan,  pameran kuliner khas daerah yang terletak di sebelah barat Pulau Jawa ini juga bisa dinikmati dalam pagelaran ini. Ada juga Debus Banten yang dikenal memiliki atraksi menantang itu.     “Insya Allah duta-duta budaya dari berbagai negara yang sedang studi dan mengajar di UMM juga akan hadir. Beberapa diantara mereka bahkan sudah siap menampilkan keseniannya,” tambah David.      Pagelaran akan dibagi menjadi tiga sesi. Di hari pertama, akan dilakukan pembukaan secara resmi festival ini. Di hari kedua acara akan dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian-kesenian khas sekaligus sambutan dari para tokoh PP dan juga pemerintah. Di hari terakhir akan ada acara penutup berupa festival kuliner khas Sunda.      Pagelaran ini juga diselenggarakan guna mendukung program Pemerintah dalam mengembangkan potensi seni budaya dan pariwisata secara nasional. Oleh karenanya, selain Ketua Umum Pengurus Besar PP, Prof. Dr. H.M. Didi Turmuzi, MSi dan Ketua PP Jawa Timur, Sarpin SE yang akan hadir dalam acara ini, banyak tokoh yang rencananya akan hadir dalam acara ini diantaranya Ahmad Heriawan (Gubernur Jawa Barat), Soekarwo (Gubernur Jawa Timur), Letjen (Purn) TB Hasanudin (Ketua Komisi I DPR RI), Irjen Pol. Anton Setiadji (Kapolda Jawa Timur) dan Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Eko Wiratmoko.     “Kita harapkan pegelaran budaya seperti ini akan semakin banyak digelar di berbagai daerah untuk memperkuat ikatan tradisi bangsa kita dengan budaya sendiri. Tentu saja melalui komunitas kedaerahan seperti Sunda ini kita akan menampilkan kesenian Sunda sebagai kebanggaan bangsa Indonesia,” pungkas David seraya mengajak masyarakat Malang dan sekitarnya untuk hadir ke Sengkaling karena tontonan ini gratis untuk umum. (gas/nas)

Yudisium FKIP Usung Tema Revolusi Mental

FAKULTAS Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM menggelar yudisium untuk tingkat strata I periode pertama tahun akademik 2015/2016 di Aula BAU, Kamis (18/02). Yudisium diikuti 183 mahasiswa dari enam program studi (prodi) di FKIP yakni Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi, PPKN (Civic Hukum) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).       Mendukung konsep Presiden Joko Widodo tentang revolusi mental, yudisium mengusung tema “Menembus Batas Kesarjanaan dengan Revolusi Mental untuk Mewujudkan Alumni yang Berdaya Saing”. Dekan FKIP UMM, Dr Ponco Jari Wahyono MKes dalam sambutannya mengatakan, revolusi mental perlu dikedepankan untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.       “Kalau dahulu punya mental SMA sekarang harus berevolusi jadi mental sarjana,” ujar Ponco. Menurutnya, Bangsa Indonesia memerlukan revolusi mental guna menciptakan generasi yang memiliki mental kuat dalam menghadapi berbagai macam perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang, tak terkecuali di bidang pendidikan.       “Negara kita sudah banyak tertinggal dari negara lain. Revolusi mental bisa dilakukan dari diri sendiri dan sekeling kita. Dengan perubahan mental secara masif diharapkan bangsa kita bisa menjadi bangsa yang besar,” kata dosen di prodi pendidikan biologi ini.       Ponco menegaskan, FKIP UMM akan terus merevolusi mental alumninya agar siap dalam menghadapi persaingan di bidang pendidikan baik secara nasional maupun internasional. “Kami akan terus mempertimbangkan berbagai kebaikan untuk menyongsong dunia luar, mempertimbangkan benchmarking dengan negara lain, meningkatkan kemampuan belajar mereka dengan dunia luar sehingga mereka memiliki kepercayaan yang tinggi, mental yang kuat untuk menghadapi persaingan,” terangnya.       Ponco berharap, para calon wisudawan/wati nantinya bisa kuat dan mandiri dalam menghadapi era persaingan saat ini. “Mudah-mudahan bisa segera mendapatkan pekerjaan, hidup dengan mandiri, bisa berdiri diatas kainya sendiri dan mampu berjuang, memiliki mental baja, tak kenal menyerah, dan jangan lupa berdoa, inilah yang harus dijadikan pegangan,” pungkasnya       Dalam yudisium tersebut, diumumkan juga lulusan terbaik di tingkat prodi masing-masing maupun tingkat fakultas pada periode ini. Lulusan terbaik di prodi pendidikan matematika diraih Chodijatal Kubro dengan IPK 3,78, pendidikan biologi diraih Choirul Anam dengan IPK 3,87, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia diraih Bungah Wijayanti dengan IPK 3,83.       Solihin Bahari berhasil menjadi lulusan terbaik di prodi Civic Hukum dengan IPK 3,62, prodi bahasa inggris lulusan terbaik diraih Mahsa Livia dengan IPK 3,83 dan lulusan terbaik prodi PGSD diraih Firda Azizah dengan IPK 3,92. Sedangkan lulusan terbaik di tingkat fakultas diraih Firda Azizah. (gas/han)

Cegah Kekerasan Pada Anak, LP3A UMM Gelar Talkshow ‘Rumah Aman’

Guna menciptakan lingkungan keluarga harmonis dan mencegah kekerasan seksual yang kerap terjadi pada anak, Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar talkshow bertajuk ‘Rumah Aman Bagi Anak’ di Aula Sidang Senat UMM, Rabu (16/02). Acara ini menghadirkan dua pemateri yakni Direktur Woman Crisis Center Dian Mutiara, Sri Wahyuningsih SH MPd dan pakar psikologi keluarga Dra Siti Suminarti Fasikhah MSi. Rektor UMM, Drs Fauzan MPd dalam sambutannya mengatakan, merujuk pada salah satu ayat dalam al-Quran, ada tiga fokus utama dalam membangun ‘rumah aman’. Pertama yaitu peran penting orang tua dalam membangun keluarga. “Jadi orang tua itu tidak hanya secara fisiknya saja, tapi bagaimana perannya di dalam keluarga,” ujarnya. Yang kedua, kata Fauzan, dinamika berpikir manusia secara tidak sadar telah merubah mindset yang mempengaruhi perhatiannya pada keluarga. “Saat ini orang lebih senang jika dikatakan sebagai orang yang sibuk, karena orang sibuk identik dengan orang kelas menengah ke atas,” ungkapnya. Terakhir, Fauzan memaknai rumah sebagai simbol suasana yang memungkinkan terbentuknya psikologi kepribadian anak. “Suasana batin yang mempengaruhi bagaimana anak berkomunikasi dengan orang tua menjadi sangat penting,” tuturnya. Menurut UU Nomor 23 tahun 2002 jo UU Nomor 35 tahun 2014 yang dimaksud rumah aman bagi anak adalah sarana, peasarana dan ketersediaan sumber daya manusia dalam penyelenggaraan perlindungan anak yang wajib disediakan oleh negara, pemerintah dan pemerintah daerah. Sementara itu, Sri Wahyuningsih memaparkan, rumah aman bisa menampung anak akibat korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian dan kematian orang tua, orang tua yang tidak memiliki rumah sendiri, atau anak yang sedang menghadapi kasus hukum. “Ya intinya negara, pemerintah, baik pemerinta pusat maupun pemerintah daerah berkewajiban mengawasi penyelenggaraan perlindungan anak,” terangnya. Ia menambahkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan suasana dan lingkungan keluarga yang baik. “Orang tua harus memperhatikan tumbuh kembang anak dari sisi kesehatan dan kesejahteraan jiwa raga secara optimal, bagaimana pendidikan anak, bagaimana kedekatan orang tua kakak, adik, serta sahabat, perhatikan kebutuhan rekreasi dan bermain.” Selanjutnya, Siti Suminarti Fasikhah memberikan materi mengenai ‘Menciptakan lingkungan Keluarga yang Aman Sebagai Fondasi Dalam Membentuk Kekuatan Karakter’. Dosen Fakultas Psikologi UMM ini menjelaskan kekuatan karakter merupakan karakter baik yang mengarahkan individu pada pencapaian sifat-sifat positif yang dicerminkan melalui pikiran, perasaan dan tingkah laku. Ia menambahkan, pembentukan karakter pada anak membutuhkan waktu yang panjang. Bimbingan yang terus menerus yang fondasinya adalah lingkungan aman dan keluarga. “Keluarga itu menciptakan lingkungan emosi yang aman dan keluarga khususnya orang tua adalah figur utama dalam memberikan rasa aman bagi anak,” tuturnya. Acara ini dihadiri para pengajar baik dosen, maupun guru SD dan TK. Hadir juga perwakilan dari LSM dan lembaga yang bergerak di bidang perlindungan anak. Kepala LP3A, Dra. Thatit Manon Andini berharap, dengan digelarnya acara ini muncul kesadaran bagi siapapun khususnya orang tua untuk memberikan rasa aman bagi anak. “Setidaknya dari peserta yang hadir disini ada action paling tidak mulai dari rumah tangga dan keluarganya sendiri dalam memberikan jaminan rasa aman bagi anak,” pungkasnya. (gas/han)

Peningkatan Mutu Sekolah Muhammadiyah Digenjot di UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah penyelenggaraan workshop peningkatan mutu sekolah Muhammadiyah se-Indonesia. Acara yang digelar Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini akan berlangsung selama tiga hari mulai Jumat (26/02) di auditorium UMM.       Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Dr. Ponco Jari Wahyono, M.Kes, mengatakan workshop ini diikuti oleh 150 kepala sekolah Muhammadiyah terbaik baik tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK. “Mereka akan digenjot untuk menaikkan peringkat sekolahnya secara nasional dan menjadi sekolah paling bermutu,” kata Dekan FKIP UMM ini.       Materi workshop antara lain tentang kultur berkemajuan dan pemberdayaan sekolah Muhammadiyah, kebijakan kendali mutu sekolah Muhammadiyah maupun standar Kemendikbud, manajemen berbasis sekolah menuju kultur sekolah bermutu, serta akreditasi sekolah. “Workshop ini menggunakan pendekatan partisipatif dan andragogi, sehingga semua peserta terlibat aktif ikut merancang mutu sekolahnya sendiri,” ujar Ponco.       Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP dijadwalkan menjadi salah satu narasumber. Di PP Muhammadiyah, posisi mantan rektor UMM ini membawahi bidang pendidikan, kebudayaan, sumberdaya manusia, seni dan olah raga. Muhadjir akan bicara tentang visi dan kultur pemberdayaan sekolah berkemajuan.       Muhadjir mengatakan saat ini Muhammadiyah memiliki 5.719 unit sekolah dasar sampai sekolah menegah yang tersebar di seluruh Indonesia dengan Jumlah kepala sekolah dan guru sebanyak 60.474. Jumlah itu tentu memerlukan perhatian khusus agar seluruh sekolah Muhammadiyah berdiri sejajar dengan standar mutu yang sama. Sudah banyak sekolah Muhammadiyah yang sudah menjadi unggulan. PP Muhammadiyah melalui Majelis Dikdasmen berkomitmen untuk menjadikan sekolahnya sebagai sekolah lebih bermutu. “Sekolah Muhammadiyah harus menjadi terdepan, mulai dari kualitas sekolah, guru, murid dan juga alumninya, sehingga mampu berdaya saing,” tuturnya.       Selain Muhadjir, pembicara lainnya adalah ketua Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed. Posisi Mu’ti yang juga sekretaris PP Muhammadiyah sangat kompeten dalam bicara tentang standar mutu dan akreditasi sekolah. Pembicara lainnya, Dr. Hamid Muhhammad (Dirjen Didasmen Kemendikbud), Didid Suhardi (Sekjen Kemendikbud), Drs. Purwadi Sutanto, M.Si (Direktorat Pembinaan SMA Kemendikbud), dan Dr. H. Khamim dan Dr. Supriano, M.Ed (Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud).       Ponco menambahkan, selain mengembangkan kualitas pengajaran para guru disekolah, ada beberapa bidang yang akan menjadi fokus pengembangan dalam penyelenggaraan sekolah.“Nanti akan dibahas bagaimana manajemen sekolah seperti pengelolaan keuangan dan administrasi,” terangnya.       Menurutnya dengan terselenggaranya penelolaan yang baik, sekolah-sekolah dibawah naungan Muhammadiyah akan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah negeri maupun dibawah lembaga lainnya. Saat ini, menurutnya, sekolah-sekolah  di bawah naungan Muhammadiyah sudah banyak yang mampu mengungguli sekolah-sekolah negeri. “Tapi masih belum banyak juga yang harus dibenahi,” pungkasnya. (gas/nas)

Muslim College London Gandeng UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) dan The Muslim College London, United Kingdom (UK) dalam waktu dekat mengadakan kerjasama. Hal ini terungkap dalam kuliah tamu yang diadakan Senin (15/2) bersama kepala Muslim College, Dr Mohamed M. Benotman dan koordinator bidang akademik, Dr Faissal Hameed. Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri UMM, Soeparto, mengungkapkan beberapa kerjasama yang akan dibuat antara UMM dan Muslim College, seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga pengurangan biaya kuliah di Muslim College. “Jadi dosen-dosen dari UMM akan diundang untuk mengikuti kuliah tamu mengenai keislaman atau Indonesia di sana. Mahasiswa kita yang ingin melanjutkan studi S2 maupun S3 juga diberi kemudahan kuliah di Muslim College,” ungkapnya. Sementara untuk Muslim College, UMM akan menawarkan beberapa program summer courses yang dimiliki UMM. “Mereka juga bisa diundang untuk menjadi pemateri kuliah tamu di UMM,” ujar Soeparto. Kerjasama ini menurut Soeparto akan mulai berlangsung tahun ini. Sementara itu, Rektor UMM, Fauzan, dalam sambutannya mengatakan, perkembangan Islam di Indonesia dan Inggris itu berbeda. “Islam di Indonesia itu berkembang dari lahir, sedangkan di Inggris Islam berkembang dari dakwah,” ujar Fauzan. Untuk itu, kata Fauzan, peran Muslim College di Inggris diharapkan membuat Islam semakin berkembang di sana. Sementara itu, Mohamed, dalam sambutannya mengungkapkan pada 1971, populasi warga muslim di UK hanya 500 ribu orang dan hanya sekitar 30 masjid saat itu. “Di 2011 lalu, meningkat menjadi 1500 masjid dan 5 juta warga muslim,” ungkap Mohamed. Dalam presentasi Muslim College dihadapan 50 peserta kuliah tamu, Faissal menyebut Muslim College ingin mempelajari Islam dari Indonesia yang merupakan negara penganut Islam di dunia. “Kami juga ingin mempelajari budaya, sejarah, dan lain-lain tentang Indonesia,” katanya. Kehadiran Muslim College sebagai kampus muslim pertama di Inggris juga berperan memahamkan Islam kepada masyarakat. “Di kampus kami tidak hanya orang Islam yang berkuliah, tapi juga beberapa agama seperti Kristen dan Yahudi. Mereka kuliah di Muslim College karena ingin mengerti dan memahami tentang Islam, sehingga akan terjadi toleransi yang baik antar umat beragama di Inggris,” ucap Faissal. Meskipun Islam adalah agama minoritas di UK, namun Islam sudah dihargai di negara tersebut. “Pangeran Charles merupakan sahabat baik Muslim College, ia sering berkunjung ke kampus kami dan berdialog tentang perkembangan Islam di Inggris,” katanya. Ditanya mengenai UMM, baik Mohamed maupun Faissal mengaku kagum dengan kampus ini. “UMM merupakan kampus pertama di Jawa Timur yang kami kunjungi. Saya senang dengan keindahan Jawa Timur dan kampus ini,” ujar Faissal. “I Love UMM,” kata Mohamed mengagumi UMM. (zul/han/nas)

Kunjungi Dua Kampus di Jepang, Perkuat Kemitraan Akademik

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) diwakili anggota senat universitas di bawah pimpinan Prof Dr Muhadjir Effendy MAP dan Pembantu Rektor I Prof Dr Bambang Widagdo MM melakukan lawatan ke Jepang (08/02). Kunjungan ke Negeri Matahari Terbit ini dalam rangka memperkuat jalinan kerjasama dengan dua universitas di negara tersebut, yakni Kanazawa Technical College dan Kanazawa Institute of Technology. Rombongan UMM disambut ketua yayasan, presiden kedua perguruan tinggi, kepala internasional program, serta para ketua jurusan.       Menurut Kepala Divisi Eropa Amerika International Relation Office (IRO) UMM, Jarum MEd, UMM memperkuat dan memperluas kembali kerjasama di berbagai bidang, salah satunya di bidang kurikulum pembelajaran. “Rencananya akan dibuat kurikulum bersama, khususnya di bidang teknologi. Nantinya kurikulum ini bisa diterapkan khusus di UMM, apakah itu (kurikulum, red) akan masuk ke dalam fakultas atau akan dibuat divisi khusus di fakultas teknik,” jelasnya.       Selain di bidang kurikulum, Jarum menambahkan, kerjasama juga disepakati dalam bidang teknik dan industri. Menurutnya, Jepang memiliki banyak sekali industri atau perusahaan yang berdiri di Indonesia, oleh karenanya perlu dilakukan kerjasama untuk mengamankan perusahaan-perusahaan tersebut.       “Perusahaan Jepang akan sangat berkepentingan mempelajari aspek kultur dan sosialnya, seperti kultur kerja orang Indonesia dan bagaimana sistem recruitment di Indonesia. UMM sangat siap mentransfer itu,” ujarnya.       Jarum menuturkan, sebelumnya UMM telah bermitra dengan dua universitas swasta ini melalui pertukaran pelajar dalam program Learning Express (LEx) yang hingga kini terus berlanjut. “Bulan Maret nanti kedua universitas tersebut akan mengirimkan 18 mahasiswanya ke UMM,” ungkap pria yang juga mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM ini.       Jarum menambahkan, UMM memilih bekerjasama dengan kedua universitas ini karena memiliki beberapa kekhususan dan keunikan. Kedua universitas ini memiliki program yang menyatukan kerjasama antara perguruan tinggi, industri dan juga pemerintah.       “Di sana terdapat kantor-kantor untuk industri yang menjadi mitra perguruan tinggi dan orang-orang dari perusaahan tersebut boleh berkantor ke situ. Bahkan, luas lahan yang dijadikan kantor-kantor itu dua kali lebih besar dari luas jumlah ruang kelas yang ada di sana. Jadi ketika mahasiswa atau profesor menemukan sesuatu, industri-industri itu bisa diajak berdiskusi,” paparnya.       Ke depan, Jarum berharap kerjasama yang terjalin antara UMM dan kedua universitas tersebut akan terus terjalin dengan baik. “Mudah-mudahan apa yang kita lakukan bisa terwujud dan bisa lebih luas lagi kerjasama di berbagai bidang,” pungkasnya. (gas/han)

SMA Asal Thailand Tertarik Pelajari Budaya Indonesia di UMM

FAKULTAS Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kedatangan tamu dari SMA asal Thailand, Latyouwityakhom. Beserta kepala sekolah, staf pengajar, dan beberapa murid, rombongan berjumlah 12 orang ini  menjajaki kerjasama dengan UMM.       Dekan FKIP UMM, Dr Poncojari Wahyono MKes menyebut, kunjungan ini sekaligus menjajaki kerjasama antara fakultas dengan sekolah asal Thailand ini. “Ini sekaligus memperluas kerjasama kita dengan sekolah maupun universitas di luar negeri,” ujar Ponco saat ditemui di kantornya, Jumat (12/2).       Kerjasama dengan sekolah ini juga memberikan peluang lulusan Latyouwityakhom bisa melanjutkan kuliah di UMM, khususnya di FKIP. “Dari UMM sendiri juga dapat mengirimkan mahasiswanya untuk magang di luar negeri yang sampai saat ini sudah dua tahun berjalan,” katanya.       Ia menyebut, FKIP UMM saat ini bekerjasama dengan tiga sekolah yang ada di Malaysia dan Singapura. Kerjasama dengan sekolah asal Thailand akan melengkapi kerjasama yang sudah dimiliki sebelumnya. “Ini kan juga menyiapkan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang sudah berlangsung. Kalau peluang di negara lain lebih besar, ya kenapa tidak. Kita mulai dari negara-negara di Asean dulu,” tutur Ponco.       Selain dihadiri jajaran dekanat, kunjungan ini juga dihadiri staf pengajar dan beberapa siswa dari SMA Negeri 9 Malang. Ponco mengatakan, kehadiran SMA Negeri 9 Malang ini selain karena FKIPUMM sudah bekerjasama dengan sekolah tersebut, juga karena sekolah ini merupakan sister school dari sekolah Latyouwityakhom. “Kedatangan mereka ke Malang saat ini juga melakukan pertukaran dengan siswa SMA Negeri 9,” ujarnya.       Ponco berharap, akan semakin banyak kerjasama-kerjasama yang dibangun dari FKIP baik dari dalam maupun luar negeri. “Ini untuk meningkatkan mutu lulusan kita nanti agar mampu bersaing di era MEA saat ini,” harapnya.       Sementara itu, Kepala Sekolah Latyouwityakhom, Mr Arun Rungraeng menyebut, kunjungannya ke UMM karena kampus ini bagus dalam mengajarkan budaya dan bahasa Indonesia. “Kami ingin belajar budaya, bahasa, dan pendidikan di Indonesia melalui UMM,” ungkapnya.       Ia juga senang dan memuji banyak mahasiswa Thailand yang berkuliah dan berprestasi di UMM. “Mereka sudah fasih berbahasa baik Indonesia maupun Inggris di sini. Ini benar-benar menggembirakan,” kata Arun.       FKIP UMM saat ini memiliki kerjasama di lebih dari 70 sekolah di Malang mulai SD hingga SMA. Selain kerjasama dalam bentuk magang di sekolah-sekolah baik dalam maupun luar negeri, FKIP kerap mengirim dosen-dosennya ke Sekolah Indonesia di luar negeri, seperti Bangkok dan Kuala Lumpur untuk mengajar siswa-siswa disana ataupun guru-gurunya. Beberapa mahasiswa FKIP juga dikirim ke perguruan tinggi di Tiongkok untuk melakukan student exchange. (zul/han)

Dubes Norwegia Narasumber Pertama Ambassador Lecture UMM

DUTA Besar (Dubes) Norwegia untuk Indonesia, H.E. Stig Traavik, menjadi narasumber pertama Ambassador Lecture di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (10/2). Rektor UMM, Fauzan, mendorong agar acara ini dijadikan tradisi akademik baru di UMM, yakni dengan menghadirkan Dubes dari berbagai negara. “Sebelumnya, kuliah tamu oleh Dubes sudah sering digelar di kampus ini, kali ini saya minta ini dijadikan sebagai agenda rutin,” ujar Fauzan. Dalam pemaparannya, Stig yang telah menjadi dubes di Indonesia sejak 2012 ini banyak bercerita tentang kemitraan Indonesia-Norwegia. “Indonesia dan Norwegia punya hubungan baik. Indonesia banyak mengekspor tekstil, olahan makanan, bahkan sepeda. Kami juga mengekspor Ikan Salmon. Bahkan, 60 persen salmon yang dikonsumsi di Indonesia berasal dari negara kami,” ujarnya. Selain barang, kerjasama yang intens antara Indonesia dan Norwegia juga dalam bidang iklim dan hutan, teknologi pertambangan, dan hak asasi manusia. “Berbeda dengan Norwegia, Indonesia ini mayoritas muslim dengan banyak suku budaya, namun mempunyai toleransi tinggi. Di Norwegia ini sangat homogen. Tapi meskipun saya muslim, tidak ada masalah mengenai toleransi disana,” tutur Stig. Mengenai permasalahan lingkungan, Stig menganggap Indonesia masih belum terlambat untuk merubah kebiasaan yang merusak lingkungan. Ia mengungkapkan, di Norwegia hampir tidak ada yang menggunakan sepeda motor ataupun mobil. Warganya selalu menggunakan sepeda ataupun jalan kaki. “Di kantor kedutaan saya di Jakarta, saya selalu menggunakan sepeda ke kantor. Meskipun masih lebih dominan para pengendara motor dan mobil,” katanya. Menurut dia, UMM menjadi salahsatu kampus pioner yang menggunakan sepeda di areal kampusnya. “Saya senang melihat kampus ini sangat hijau, teduh, dan banyak sepeda yang bisa digunakan,” ujar Stig. Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri, Soeparto, berharap Ambassador Lecture ini dapat membuka visi mahasiswa UMM menuju visi Internasional. Selain kuliah tamu, UMM dan Norwegia sebelumnya sudah menjalin kerjasama dengan mengadakan pelatihan tentang syariah dan hak asasi manusia melalui Pusat Studi Agama dan Multikultural (Pusam) UMM. “Kami harap, Norwegia bisa menjadi tujuan studi mahasiswa UMM yang mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus. Selama ini kan tujuan studinya ke negara lain di Eropa selain Norwegia. Mungkin dengan dukungan dan rekomendasi dari Dubes, kelak mahasiswa kita bisa diberangkatkan ke negara itu,” harap Soeparto. (zul/han/nas)