Di UMM, Sosiolog Se-Indonesia Gagas Sinergi Hadapi MEA

DUA puluh pakar sosiologi Indonesia menghadiri pertemuan Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia Indonesia (APSSI) yang berlangsung di Ruang Sidang Senat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (4/2). Melalui pertemuan ini, para sosiolog berdiskusi dengan tema “Pemikiran Sosiolog-Sosiolog Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di Jawa Timur”.       Masing-masing pakar mempresentasikan risetnya terkait perspektif sosiologi MEA. Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Drs Purwanto SU MPhil mengatakan, salah satu persoalan substansi MEA yaitu ideologinya yang berorientasi pada keuntungan. Terlebih, menurutnya Indonesia dipandang sebagai pasar potensial, bukan produsen potensial.       Sementara itu dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Dra Tutik Sulistyawati MSi melalui risetnya tentang ekonomi kreatif menegaskan perlunya peran Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam mendorong terciptanya daya saing. Bagi Tutik, perlu didorong kreativitas UMKM agar menjadi pioner bagi Jawa Timur. “Tugas Sosiolog tak hanya kerja teoritis, tapi juga praktis dalam memberikan dorongan dan energi positif pada UMKM agar memiliki daya saing,” paparnya.       Berkaitan dengan itu, guru besar Universitas Airlangga Prof Dr Emy Susianto MA berusaha memperjuangkan perempuan yang selama ini dinilai berkontribusi di industri mikro. Menurut Emy, MEA akan bermuara pada perkembangan ekonomi. Selaras dengan itu, perempuan selama ini memiliki kontribusi aktif bagi peningkatan ekonomi negara melalui industri rumahan yang mereka ciptakan. Sayangnya, selama ini industri tersebut masih dinilai rentan dan rawan karena belum ada hukum yang melindungi.       Untuk itu, lanjut Emy para sosiolog diharapkan mampu menjembatani melalui sumbangsih pemikiran pada pemerintah untuk membuat perlindungan hukum bagi para perempuan yang bergerak aktif di industri informal. “Sosiolog diharapkan menyumbangkan pemikiran mereka yang pro-perempuan,” ujarnya.       Di sisi lain, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, Dr Asep Nurjaman MSi menyatakan, selama ini perempuan menjadi kekuatan ekonomi di Indonesia. “Mereka tidak tergantung pada perubahan kebijakan makro, walaupun krisis masih tetap eksis,” katanya.       Oleh karena itu, para sosiolog perlu memperhatikan potensi industri rumahan yang berbasis gender itu. Pemerintah diharapkan dapat memberikan kesadaran tentang pentingnya perempuan terkait peranan mereka dalam menghadapi ekonomi global. “Bisa dengan sosialisasi peningkatan kemampuan perempuyan untuk memperkokoh posisi mereka di area ekonomi,” jelasnya.       Asep melanjutkan, sebagai tuan rumah, FISIP UMM terutama prodi Sosiologi dapat menjadi perantara untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran sosiolog dalam menyongsong MEA. Ia berharap, hasil dari diskusi ini dapat memberi pencerahan kepada pemerintah untuk menghadapi MEA dengan membangkitkan potensi gender dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. (lil/han)

UMI Makassar Belajar Kelola Mutu Kampus di UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi sasaran kunjungan dari kampus lain. Kali ini, giliran Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar berkesempatan belajar dari UMM. Dipimpin Wakil Rektor I UMI Makassar, Prof Dr H Syahnur Said MSi, rombongan yang berjumlah 14 orang diterima Pembantu Rektor I UMM, Prof Dr Bambang Widagdo MA di ruangannya, Rabu (3/2).       Dalam sambutannya, Syahnur Said mengaku senang dapat mengunjungi Kampus Putih ini. “Kami senang bisa datang ke sini, karena akreditasi institusi kampus ini kan sudah ‘A’, kami perlu belajar bagaimana meningkatkan status akreditasi institusi kami yang saat ini masih ‘B’,” katanya.       Selain itu, Syahnur juga membawa rombongan dari Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UMI Makassar yang diketuai oleh Dr Ir H Abd. Karim Hadi MSc. “Banyak sekali ilmu yang kami ambil dari UMM, terutama juga terkait persiapan akreditasi prodi (program studi),” ujar Syahnur.       Sebelum memulai presentasi, Syahnur bahkan sempat memuji kemegahan kampus III UMM. “Oh, ini ya kampus yang sering masuk di iklan televisi,” kagumnya.       Sementara menurut Bambang Widagdo, kunjungan ini selain bisa mempererat tali silaturahim, juga dapat saling belajar antar satu kampus dengan kampus lain.       Kunjungan ini juga dihadiri beberapa unit di UMM, seperti Badan Kendali Mutu Akademik (BKMA), Badan Pengelola Sumber Daya Manusia (BPSDM), Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA), dan juga Unit Pelaksana Teknis (UPT) Humas dan Protokoler UMM. (zul/han)

Fauzan Dilantik, UMM Siap Masuki Fase Baru

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) kini memiliki rektor baru setelah Drs Fauzan MPd secara resmi dilantik oleh ketua Majelis Dikti dan Litbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr H Lyncolin Arsyad MSc. Fauzan akan menjabat Rektor UMM periode 2016-2020 menggantikan Prof Dr Muhadjir Effendy MAP yang telah memimpin UMM sejak tahun 2000.       Pelantikan yang berlangsung di Aula Biro Administrasi Umum (BAU) UMM, Senin (1/2) ini turut dihadiri ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr H Haedar Nashir MSi, ketua Badan Pembina UMM Prof Dr HA Malik Fadjar MSc, serta para tamu undangan, di antaranya pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), pimpinan Muhammadiyah beserta organisasi otonom, dosen, karyawan, dan aktivis mahasiswa.       Dalam pidato perpisahannya, Muhadjir mengungkapkan kepuasannya karena proses pergantian kepemimpinan di UMM berjalan dengan cantik dan bermartabat. Proses ini, kata Muhadjir, senada dengan tradisi di Muhammadiyah yang selalu menampilkan proses transisi yang elegan.       Muhadjir mengatakan semua prestasi yang telah diraih UMM hingga saat ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen di lingkungan kampus. Ia meyakini Fauzan sebagai salah satu kader terbaik Muhammadiyah mampu mengemban amanah dengan baik. “Tugas selanjutnya adalah menjadikan UMM lebih baik dan makin berjaya,” katanya.       Ia berharap Fauzan akan meneruskan program-programnya yang belum selesai di UMM. “Rektor baru harus menyusun rencana-rencana strategis dan punya visi ke depan agar UMM semakin berkembang di antara perguruan tinggi di Indonesia,” ujarnya.       Dalam jangka pendek ia berharap penerusnya dapat melanjutkan konsep UMM yang ingin mewujudkan edupark. Edupark adalah konsep wisata pendidikan yang dirancang UMM untuk memberi alternatif wisata yang mendidik dan mencerdaskan masyarakat.       Sementara itu rektor terpilih, Fauzan mengatakan, kebesaran kampus ini yang tak lepas dari kepemimpinan para pendahulunya. “Terutama Pak Malik dan Pak Muhadjir yang pemikiran dan tindakannya telah memikat banyak orang. Ketajaman cara pandang mereka membuat UMM menjadi salah satu standar perguruan tinggi di Indonesia,” paparnya.       Untuk itu Fauzan berharap, sekalipun Malik dan Muhadjir tak lagi menjadi rektor, kedua tokoh ini jangan sampai melepaskan diri dari UMM, karena bimbingan, wejangan, dan nasehatnya tetap diperlukan bagi kemajuan kampus ini. “Mereka tidak boleh berhenti menjadi bapak bagi kita semua,” tegasnya.       Lebih dari itu, Fauzan mengakui, untuk bisa terus mengembangkan UMM, berlari saja tidak cukup apalagi berjalan. Karenanya, kedudukan yang ia emban sebagai rektor tidak bisa dipakai untuk duduk-duduk saja, tapi harus dipakai untuk berlari sekencang-kencangnya.       Fauzan juga meyakini, UMM tidak bisa maju tanpa sinergi dari segenap pihak, terutama para dosen, karyawan dan mahasiswa. “Seluruh dosen, karyawan dan mahasiswa harus merapatkan barisan, menuju hari esok yang lebih cerah. Kita lahirkan prestasi dengan segala inovasi dan strategi.”       Ia memandang tantangan yang dihadapi perguruan tinggi, khususnya UMM, semakin kompleks. “UMM tidak hanya sekadar berkompetisi dalam lingkup persaingan perguruan tinggi, tetapi tantangan sebenarnya adalah tantangan perubahan sosial, ekonomi, dan politik,” kata Fauzan.       Lebih jauh, ketua umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berharap, setelah berhasil menjadi perguruan tinggi yang unggul, UMM harus menuju ke fase baru sebagai pemasok pemikiran-pemikiran strategis bagi Muhammadiyah. “Jadilah madrasah pemikiran untuk pergerakan Muhammadiyah ke depan,” kata Haedar.       Menurutnya pelantikan ini mengandung pesan yang mendalam yaitu sebuah proses transformasi gagasan dan inspirasi. UMM sebagai salah satu dari rangkaian perguruan Muhammadiyah diharapkan menjadi penyokong gerakan Muhammadiyah yang tengah berjalan di abad keduanya.       Haedar mengakui, kehadiran UMM bersama sejumlah PTM besar lainnya telah membuat Muhammadiyah optimis dalam menapaki abad keduanya. Karena itu, ia meminta Fauzan sebagai nahkoda UMM yang baru, untuk terus me-manage pikiran-pikiran besar yang lahir dari kampus ini. “UMM adalah modal intelektual bagi pergerakan Muhammadiyah,” imbuhnya.       Senada dengan itu, Malik Fadjar mengatakan, kehadiran UMM beserta seluruh amal usaha Muhammadiyah telah meneguhkan Islam sebagai kekuatan penggerak. Untuk itu, Malik meminta agar seluruh kekuatan ini kompak dalam membawa cita-cita persyarikatan.       Karena itu, baginya UMM dan Muhammadiyah harus terus memperkuat manajemen, karena dengan cara itulah masing-masing bisa saling membantu. Malik juga mengingatkan agar gerakan tersebut dilakukan dengan langkah yang mantap, terprogram dan terencana, bukan gerakan yang dadakan dan tak terarah. (han)

Muhadjir Effendy: Saya Tumbuh Seiring Berkembangnya UMM

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menilai, keberhasilannya membangun kampus ini bukanlah kesuksesan individu, melainkan kerja kolektif. UMM diyakini Muhadjir memiliki corporate culture, yakni budaya perusahaan yang kuat, di antaranya amanah, kejujuran, integritas, dan komitmen lembaga. Sekalipun tidak tertulis, budaya tersebut berlaku secara massive dan mendalam.       Bagi Muhadjir, kekuatan UMM bukanlah keunggulan orang per orang melainkan kekuatan institusi yang tampak pada kekompakan dan suasana kepemimpinan yang kokoh. Muhadjir mencontohkan, kepemimpinannya yang didukung kuat oleh para middle manager yang muda, kaya ide, serta memiliki kemampuan mengeksekusi kebijakan secara cepat, cermat dan produktif.       Pengakuan tersebut disampaikan Muhadjir dalam Silaturrahim Pimpinan dengan seluruh dosen dan karyawan UMM, pada Jumat (29/1) di Theater UMM Dome. Kegiatan silaturrahim ini sekaligus ramah tamah menjelang dilantiknya rektor baru UMM pada Senin (1/2) besok.       Muhadjir berkisah, selama lebih dari 30 tahun kiprahnya di UMM, baik sebagai ketua bidang penalaran, Pembantu Rektor (PR) III, PR I, hingga menjadi Rektor pada tahun 2000, banyak hal yang telah dilakukan, dan tidak semuanya memiliki kesan yang baik bagi semua orang. “Saya kira memang begitu. Kalau banyak berbuat, maka banyak bener-nya, tapi banyak juga salahnya. Kalau sedikit berbuat, ya salahnya cuma sedikit tapi benarnya juga sedikit. Makanya, kalau tidak mau salah ya jangan pernah berbuat. Tapi ya itu, jadinya gak pernah benar,” ujarnya.       Lebih dari itu, Muhadjir merasa sangat berterima kasih pada UMM karena baginya perkembangan pribadinya tumbuh seiring berkembangnya UMM. “Waktu PR III saya masih Doktorandus, saat PR I saya dapat gelar Master, saat Rektor saya jadi Doktor, dan ketika pensiun saya sudah Professor. UMM sudah menjadi detak jantung saya,” tuturnya.       Ke depan, Muhadjir berharap UMM kian menaikkan bendera supremasi akademiknya. Karena itu, ia mengingatkan pada seluruh dosen agar mejadikan professor sebagai cita-cita tertingginya lantaran melalui cara itulah, determinasi dan wibawa akademik UMM terus terjaga dan berkembang. “Kalau di dunia persilatan yang dilihat siapa pendekarnya, kalau di perguruan tinggi yang dilihat siapa professornya,” paparnya.       Muhadjir juga mengajak para dosen dan karwayan menjadikan UMM sebagai ladang untuk mengabdi dan berjihad. Seraya mengutip surat Ali Imron ayat 142, Muhadjir menyebut bahwa standar masuk surganya orang UMM dan Muhammadiyah tentunya berbeda dengan orang lain. “Dalam ayat itu disebutkan, apakah kamu mengira kamu akan masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. Nah, kita ini di UMM sebagai mujahid-mujahid yang sabar. Gimana gak sabar, dari 1964 kita bangun UMM ini, bata demi bata kita tumpuk, rupiah demi rupiah kita kumpulkan.”       Muhadjir tak lupa mengingatkan pentingnya bersyukur karena menjadi bagian dari UMM. Baginya, dengan bekerja di UMM, selain mendapat imbalan di dunia, para pengabdinya juga ditopang harapan yang penuh keyakinan, sebagai bagian dari ibadah untuk akhirat. “Tidak mudah mencari lembaga yang menjamin dunia akhirat. Jangan sampai gairah ini meredup, jangan sampai niat ini memudar. Insya Allah, mengabdi di UMM, kalau niatnya diasah terus akan terasa nikmat. Saya sudah membuktikannya.” (han)

KBA UMM Gelar Lomba Story Telling SMA Se-Malang Raya

UNIT Pelaksana Teknis (UPT) Kursus Bahasa Asing Universitas Muhammadiyah Malang (KBA UMM) menggandeng prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Arab, dan International Relation Officer (IRO) mengadakan lomba story telling untuk siswa SMA, SMK, dan MA se-Malang Raya, Sabtu (30/1).       Kegiatan yang digelar di Aula Kampus I UMM ini diikuti 142 peserta dari 32 sekolah. Peserta terbagi menjadi beberapa bagian, yakni story telling Bahasa Inggris sebanyak 106 peserta, Bahasa Arab 11 peserta, Perancis 2 peserta, Korea 4 peserta, Mandarin 7 peserta, Jepang 5 peserta, dan Jerman 7 peserta. Meskipun story telling dibawakan dalam berbagai bahasa asing, namun cerita yang dibawakan tetap mengusung cerita rakyat Indonesia.       Kepala KBA UMM Dr Sri Hartiningsih MM menyatakan, ini adalah kali kedua KBA menyelenggarakan lomba story telling. Dibanding tahun lalu, tahun ini peserta terbanyak ada pada story telling Bahasa Inggris. “Tahun lalu lebih merata peserta yang mengikuti story telling di semua bahasa. Tetapi, jumlah peserta tahun ini meningkat dibanding tahun lalu,” ujarnya.       Sri mengungkapkan, latar diadakannya lomba story telling ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa asing untuk menghadapi tantangan global, utamanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).       Pemenang lomba story telling mendapatkan hadiah berupa tropi, uang pembinaan, dan souvenir. Selain juara I, II, dan III, juga ada juara harapan, juara favorit, peserta dengan kostum terbaik, dan peserta dengan ekspresi terbaik. Tak hanya para juara saja yang menerima hadiah, melainkan semua peserta yang lolos hingga grand final.       “Kami hargai semua yang sudah berpartisipasi dalam lomba ini. Untuk tahun mendatang, semoga saja bisa ada hadiah berupa pemenang yang akan diterima di prodi Bahasa Inggris UMM,” terang Sri Hartiningsih.       Ditemui seusai pengumuman, Roni Ramanda, juara I story telling Bahasa Inggris mengaku sangat senang.“Alhamdulillah. Persaingan sangat ketat. Peserta Bahasa Inggris banyak dan terbagi beberapa kelas. Dari tiap kelas diambil yang terbaik lalu grand final. Senang sekali bisa menang. Saya berharap tahun depan kompetisi seperti ini ada terus,” urai siswa kelas X SMK Cendika Bangsa Kepanjen ini.       Ayu Septiana, salah satu guru pembimbing menyatakan, kegiatan lomba story telling ini sangat bagus untuk melatih jiwa kompetisi siswa. Ia berharap, lomba semacam ini akan terus diadakan di tahun-tahun mendatang.       “Siswa jadi tahu bagaimana kemampuan siswa lain di luar sekolah. Siswa akan belajar berkompetisi, karena banyak yang lebih dari mereka. Terima kasih sekali pada UMM yang telah mengadakan lomba story telling ini,” pungkas guru SMK Cendika Bangsa ini mengakhiri. (ich/han)

RS UMM Fasilitasi Simulasi Bencana di RSI Aisyiyah

MUHAMMADIYAH Disaster Management Center (MDMC) bersama Rumah Sakit Islam (RSI) Aisyiyah menggelar simulasi penanggulangan bencana rumah sakit, Sabtu (30/1). Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui RS UMM bersama sejumlah stakeholders seperti Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kelurahan Kasin, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Malang, kepolisian, dinas kesehatan, hingga pemadam kebakaran (Damkar) turut serta dalam kegiatan ini.       Wakil Direktur RS UMM, dr Thontowi Djauhari MKes saat ditemui di sela-sela pelaksanaan simulasi mengatakan, RS UMM memberikan bantuan satu unit ambulan dan dua tenaga perawat serta tim medis dari mahasiswa untuk menyukseskan simulasi ini. “Simulasi ini penting sehingga jika ada bencana nantinya antar rumah sakit bisa saling komunikasi,” ujarnya.       Selain kerjasama antar rumah sakit, kata Thontowi, simulasi ini juga untuk mensinergikan baik dengan masyarakat, pemerintah, dan stakeholders terkait untuk bersama-sama membantu jika ada bencara di rumah sakit.       Senada, Ketua MDMC PP Muhammadiyah, H Budi Setiawan menjelaskan, simulasi ini merupakan bentuk program bernama Kesiapsiagaan Rumah Sakit dan Kesiapan Masyarakat dalam Situasi Darurat dan Bencana atau Hospital Preparedness and Community Readiness for Emergency and Disaster (HPCRED).      “Kita bersama di sini ingin menguji dokumen Rencana Kedaruratan Bencana Rumah Sakit (RKB RS) dan Dokumen Rencana Aksi Komunitas (RAK) FPRB Kelurahan Kasin, sehingga tercipta dokumen RPBS yang teruji dan dipahami oleh stakeholders juga jajaran internal serta eksternal RSI Aisyiah,” kata Budi.      Sementara itu, perwakilan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, Charless T Pellham mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara yang resiko bencananya sangat besar. “Kami harap dari kerjasama ini, dapat meningkatkan hubungan baik antara Indonesia dan Australia,” ucap Charless.      Sama halnya yang diucapkan Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ir Medi Herlianto. Ia menyebut, Pulau Jawa merupakan pulau yang memiliki indeks kebencanaan sangat tinggi. “Semua daerah di Pulau Jawa ini punya potensi bencana yang sama tingginya. Karena itu, simulasi ini penting untuk menurunkan resiko bencana tersebut,” katanya. Dalam gelaran ini, RSI Aisyiah disimulasikan mengalami kebakaran di lantai tiga pada pukul 10.00 WIB. Pihak RS kemudian mengevakuasi pasien yang berada di lantai dua dan tiga untuk menuju lantai satu, kemudian pasien yang berada di lantai empat, lima, dan enam dievakuasi ke lantai tujuh atau lantai teratas gedung ini. Bersamaan dengan kebarakan di RSI Aisyiah, terdapat pula kasus kecelakaan yang harus dilarikan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).       Usai simulasi, kegiatan ini akan dievaluasi oleh perwakilan Pengendalian Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Pusdiklat BNPB, dan beberapa mitra MDMC PP Muhammadiyah. (zul/han)

Belajar dari Jepang, UMM-Pemkot Batu Bentuk Lesson Study Club

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Batu membentuk Lesson Study Club. Melalui launching yang dilakukan di Block Office Pemkot Batu, Jumat (29/1), hadir pakar Lesson Study dari Jepang, Ryo Suzuki.       Ketua tim Lesson Study UMM Drs Nur Widodo MKes mengatakan, ini merupakan langkah berani yang ditempuh oleh Disdikbud Kota Batu dengan mencanangkan Lesson Study ini. “Sebelumnya, pada Desember 2015 lalu sudah diawali dengan sosialisasi pada 400 guru IPA dan Matematika SD hingga SMP,” ujar Nur Widodo.       Ia melanjutkan, selain pencanangan Lesson Study Club, diadakan pula workshop Lesson Study yang berlangsung selama dua hari hingga Sabtu (30/1) besok. Menurutnya, Lesson Study diperlukan karena menyadari akan peran dan fungsi strategis guru dalam pembelajaran. “Karena itulah diperlukan pembinaan kompetensi guru yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan melalui Lesson Study,” kata Widodo.       Diundangnya pakar Lesson Study dari Jepang, Ryo Suzuki menurut Widodo karena Jepang merupakan negara asal Lesson Study yang sudah menerapkan metode ini selama kurang lebih seratus tahun. “Inilah yang menjadikan pendidikan di Jepang sangat maju dan berhasil. Kota Batu saya harap dapat mengikuti kesuksesan Lesson Study dari Jepang,” ucapnya.       Sementara itu, Kepala Kadisdikbud Kota Batu, Dra Mistin MPd mengatakan, ada empat sekolah di Batu yang menjadi piloting pelaksanaan Lesson Study ini, yakni SD Negeri Junrejo 1, SD Negeri Ngaglik 1, SMP Negeri 1, dan SMP PGRI Batu. “Kami harapkan nantinya keempat sekolah ini menjadi pionir dan percontohan implementasi Lesson Study yang benar,” kata Mistin. (zul/han)

Respon MEA dan SNPT, FKIP UMM Revitalisasi Kurikulum

MERESPON Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) yang ditetapkan akhir tahun lalu, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Lokakarya Akademik untuk revitalisasi kurikulum dan standarisasi penjaminan mutu program studi.       Selain merespon perubahan kurikulum berbasis SNPT, menurut Dekan FKIP UMM Dr Ponco Jari Wahyono MKes, kegiatan yang berlangsung pada Kamis-Jumat (28-29/1) di Kusuma Agrowisata Batu ini sekaligus menyiapkan kurikulum baru yang relevan dengan dinamika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).       Ponjo menjelaskan, FKIP UMM sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang berada di Indonesia memiliki kewajiban meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga terdidik dan terampil berpendidikan tinggi yang berkompetensi internasional. “Untuk itu, kita harus sadar akan posisi kita dalam konteks global,” ucapnya.       Persoalannya, kata Ponco, hingga saat ini belum semua LPTK di Indonesia memenuhi standar, sehingga terjadilah disparitas kualitas. Ponco juga menilai sebagian besar LPTK belum memiliki sekolah laboratorium dan sistem kemitraan yang terstandar. “Apalagi, kita juga dihadapkan pada masalah over supply sarjana pendidikan,” tambahnya.       Untuk itu, Ponco meyakini kebijakan revitalisasi kurikulum merupakan langkah mendasar yang harus dilakukan sebagai jalan menuju standarisasi LPTK. “Hal itu harus dimulai dengan kurikulum dan sistem pembelajaran yang berwawasan masa depan. Sistem penjaminan mutunya juga harus khas LPTK,” paparnya.       Selain itu, Ponco juga mengingatkan hal-hal elementer lainnya seperti dukungan sarana prasarana, tata kelola kelembagaan yang modern dan akuntabel, tenaga pendidik yang berkualitas, adanya sekolah laboratorium dan sekolah mitra, serta sistem rekrutmen calon guru yang komprehensif, termasuk seleksi minat dan bakat.       Sementara itu, ketua pelaksana Lokakarya Akademik Dr Bayu Hendro Wicaksono MEd mengatakan, cepatnya perubahan yang terus terjadi menuntut FKIP UMM tak berhenti melakukan revitalisasi dan penyempurnaan. “Baru tahun 2013 ada kebijakan KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia), ternyata akhir tahun lalu ada kebijakan baru, yaitu SNPT. Kalau tidak siap, kita akan sulit bersaing di era MEA,” terangnya.       Ke depan, menurut Bayu, tantangan kurikulum tidak saja menghadirkan lulusan yang pintar, namun lebih pada peran apa yang bisa dilakukannya di era MEA. “Tak hanya apakah dia pintar atau tidak, tapi lebih pada dia bisa apa dan punya peran apa?” ujar peraih gelar doktor dari University of South Australia ini.       Pada kurikulum yang digodok di lokakarya ini, ada beberapa perubahan yang akan terjadi, di antaranya muatan SKS, cara pengajaran, dan metode evaluasi. Ditargetkan, kata Bayu, kurikulum ini sudah mulai berlaku pada semester baru angkatan 2016-2017 di pertengahan tahun ini. (han)

Raker LP3A Angkat Isu Perempuan, Anak dan Gender

LEMBAGA Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Rapat Kerja (Raker) bertema “Membangun Sumber Daya Manusia Menuju Terwujudnya Kesetaraan Gender, Kemandirian Ekonomi dan Terpenuhinya Hak Anak.” Kegiatan berlangsung pada Rabu (27/1) di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM.       Kepala LP3A UMM Dra Thathit Manon Andini MHum mengatakan, dengan adanya Raker ini diharapkan LP3A dapat menjadi pusat pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak bagi kalangan masyarakat terpinggirkan, baik secara ekonomi, politik, sosial, hukum dan budaya.       “Untuk program ke depan, kami akan menguatkan pendampingan, pelatihan, riset, dan publikasi yang berkaitan dengan visi dan misi LP3A,” jelas Thathit.       Sebelum Raker, para peserta diberi pengayaan yang disampaikan oleh Dr Trisakti Handayani MSi tentang “Penguatan Lembaga LP3A” dan Dra Nurul Asfiah MM tentang “Membangun Jaringan Keluar”. Selepas pengayaan materi, para peserta Raker dibagi dalam tiga divisi, yaitu divisi pemberdayaan perempuan, divisi perlindungan anak dan pemberdayaan masyarakat, serta divisi pendidikan, penelitian, pengabdian, dan jurnal.       Dalam paparannya, Trisakti menjelaskan, LP3A perlu fokus pada tiga isu, yaitu perempuan, anak, dan gender. Untuk perempuan, yang menjadi topik penting yaitu kekerasan pada perempuan, marginalisasi perempuan serta ketidakadilan perempuan dalam hal pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik.       Selanjutnya, kata Trisakti, yang perlu menjadi perhatian adalah pendidikan anak usia dini, lantaran banyak anak yang membantu orang tuanya bekerja di saat jam belajar atau yang disebut eksploitasi pada anak. “Anak harus dilindungi karena mereka adalah penerus bangsa. Jika tidak, masa remajanya tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik,” jelasnya.       Sedangkan yang dimaksud dengan kesetaraan gender, lanjut Trisakti, yaitu secara sosial tidak membedakan kesempatan dan hak-hak antara perempuan dan laki-laki sehingga terjadi hubungan harmonis antara keduanya. (lil/han)

FDI Buka Peluang Siswa SMA Lombakan Karya Tulisnya

UNIT Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forum Diskusi Ilmiah (FDI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan mengadakan Pekan Prestasi dan Kompetisi Ilmiah Nasional (Prediksi) 2016 pada 29 April-1 Mei. Untuk itu, FDI membuka kesempatan bagi siswa SMA/SMK sederajat di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi mengirimkan karya tulis ilmiah.       Untuk pendaftarannya, menurut ketua pelaksana Prediksi 2016 Afif Zainuri Wafiq, dibuka sejak awal Januari ini hingga 24 Maret mendatang. Selanjutnya peserta yang lolos diumumkan pada 9 April. Para peserta tersebut sekaligus menjadi finalis di ajang ini yang diharuskan mengikuti technical meeting pada 29 April serta acara inti pada 30 April dan 1 Mei 2016.       Afif menambahkan, para siswa yang berminat dapat mengirimkan karyanya melalui form online yang bisa didapat pada link http://fdiceria.wordpress.com. Satu tim masing-masing terdiri dari tiga orang siswa aktif, dan dapat mengirimkan lebih dari satu karya. Tiap tim membayar biaya pendaftaran sebesar 30 ribu rupiah. Bagi tim yang berhasil menjadi juara berhak mendapatkan sertifikat, piala dan uang penghargaan.       Tema yang diangkat pada ajang ini yaitu “Pemanfaatan Sumber Daya Alam Indonesia Melalui Inovasi Generasi Muda”. Diangkatnya tema ini, ujar Afif, didasari banyaknya kekayaan sumber daya alam Indonesia, namun pengembangan dan pemanfaatannya masih jauh dari maksimal.       “Jika kekayaan alam Indonesia yang melimpah sudah dikelola dengan baik dan penuh tanggung jawab, mestinya penduduk bangsa ini menjadi maju. Kenyataannya, kekayaan alam kita belum bisa dinikmati oleh rakyatnya sendiri, sehingga perlu peran generasi muda dalam memanfaatannya. Inilah landasan kami memilih tema tersebut,” ungkap Afif.       Untuk informasi lebih lanjut, para siswa dapat menghubungi langsung pihak panitia melalui narahubung; Wildan (085815302187) atau Atidati (085748803236). Peserta juga dapat melihat informasi dan perkembangan ajang ini melalui akun twitter @fdiUMM atau instagram @FDIceria. (nov/han)