Jawab Kebutuhan Industri, UMM Dorong Riset Dosen Berbasis Kekayaan Intelektual

Kebijakan kompetisi hibah penelitian dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristekdikti) mengalami pergeseran paradigma. Hak Kekayaan Intelektual (HKI) kini tidak lagi sekadar berstatus sebagai luaran di akhir penelitian, melainkan telah menjadi syarat mutlak di awal pengajuan proposal, khususnya untuk skema riset terapan dan hilirisasi. Merespons tantangan tata aturan baru tersebut, Sentra HKI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama ASKI PTMA bergerak cepat membekali para akademisi melalui Workshop Kekayaan Intelektual sebagai Strategi Unggulan Meningkatkan Daya Saing Dosen dalam Kompetisi Hibah. Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, Ph.D., menegaskan bahwa kampus kini berfokus pada tindakan nyata untuk mewujudkan target hilirisasi dan komersialisasi. “Paten ternyata tidak menjadi sebatas luaran hibah penelitian, namun menjadi syarat pengajuan penelitian itu sendiri. Riset harus berangkat dari persoalan nyata, dan komunikasi dengan industri harus diperkuat agar melahirkan penelitian yang memecahkan problem praktis, bukan sekadar diam dan tidak ditindaklanjuti,” tegas Salis saat membuka acara. Sementara itu, Ketua Sentra HKI UMM, Nur Putri Hidayah, A.Md., S.H., M.H., membenarkan adanya pengetatan seleksi pada platform BIMA maupun Sinergi baru-baru ini. Menurutnya, untuk skema penelitian terapan di atas Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 3, dosen dituntut memiliki KI di luar hak cipta, seperti desain tata letak sirkuit terpadu, desain industri, paten, maupun paten sederhana. Pakar sekaligus reviewer nasional, Prof. Dr. Ir. Tri Yuni Hendrawati, M.Si., IPM., ASEAN Eng., memaparkan bahwa aturan baru menetapkan standar kualifikasi yang lebih spesifik bagi ketua pengusul hibah terapan. “Syarat mutlaknya saat ini adalah pendidikan S3 atau S2 dengan fungsional minimal Lektor, dan memiliki minimal dua artikel jurnal internasional bereputasi, atau memiliki minimal satu KI relevan di luar Hak Cipta sebagai inventor pertama,” paparnya. Lebih lanjut, Prof. Tri Yuni mendorong para dosen untuk memanfaatkan sisa waktu enam bulan di tahun ini untuk mendaftarkan paten sederhana atau desain industri sebagai amunisi pengajuan hibah tahun 2027. Terlebih, pemerintah menargetkan peluncuran insentif KI berdampak berupa uang tunai bagi inventor pada akhir tahun 2026. Untuk menembus target tersebut, peneliti senior UMM Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., mengingatkan para dosen untuk memiliki insting kebaruan (novelty) dan jeli melihat nilai ekonomi sejak menyusun proposal. Ia juga menyoroti kesalahan taktis yang sering dilakukan peneliti. “Biasakan mendaftarkan patennya terlebih dahulu baru mempublikasikannya. Kalau sudah masuk ranah public domain atau terpublikasi di jurnal, kita tidak bisa lagi mendaftarkan patennya,” pungkasnya. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Relevansi Pekerja Sosial di Era AI, UMM Tegaskan Teknologi Tak Bisa Gantikan Empati Kemanusiaan

Di tengah masyarakat yang kian terfragmentasi dan dunia yang semakin dikendalikan oleh teknologi cerdas, sebuah pertanyaan kritis muncul: masih relevankah profesi pekerja sosial saat ini? Pertanyaan tajam ini menjadi pemantik utama dalam peringatan Hari Pekerja Sosial Internasional yang digelar oleh Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (12/5/2026). Menjawab tantangan tersebut, UMM menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “Co-Building Hope and Harmony: A Harambee Call to Unite a Divided Society” di Aula BAU UMM. Forum strategis ini menghadirkan pakar lintas negara, yakni Dekan FISIP UMM Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., Prof. Madya Dr. Mohd Suhaimi Mohamad dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Ketua Umum DPP IPSPI Dr. Puji Pujiono, MSW, RSW., dan pakar kesejahteraan sosial Lutfi J. Kurniawan. Dekan FISIP UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, menegaskan bahwa pekerja sosial kini diharamkan bersikap anti-teknologi. Pola pelayanan konvensional sudah saatnya bergeser menuju ekosistem hibrida dan digital yang berbasis data, cepat, dan responsif. “Teknologi itu alat, bukan pengganti manusia. Karena itu, penting membangun smart social service yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dan analisis data. Pekerja sosial kini tidak hanya dituntut memiliki kemampuan pendampingan, tetapi juga keterampilan komunikasi digital, pengelolaan data, hingga asesmen berbasis teknologi,” tegas Fauzik. Untuk merespons hal ini, ia mendorong pembaruan kurikulum pendidikan melalui mata kuliah Digital Social Work. Namun, ia juga memberikan peringatan keras: modernisasi tidak boleh menggerus nilai kemanusiaan. Tantangan terbesar di era digital justru bagaimana menjaga empati dan melindungi privasi data klien di tengah layanan yang serba terotomatisasi. Dari perspektif serumpun, Prof. Madya Dr. Mohd Suhaimi Bin Mohamad menyoroti ketimpangan struktural dalam profesi ini. Ia mengungkapkan bahwa praktik kerja sosial di Malaysia masih menghadapi kendala besar karena ketiadaan undang-undang khusus seperti yang telah dimiliki Indonesia. Akibatnya, baik klien maupun pekerja sosial rentan karena tidak memiliki payung hukum yang kuat. Menurutnya, ini adalah tantangan bersama di kawasan Asia Tenggara yang tengah mengalami pergeseran nilai dari kolektivisme menuju individualisme. “Profesi pekerja sosial membutuhkan pengakuan yang jelas melalui sistem hukum, standardisasi pendidikan, dan legitimasi politik. Mengadaptasi konsep jurisdiksi profesi dari Andrew Abbott, batas ruang kerja dan kewenangan pekerja sosial harus ditegaskan,” paparnya. Pria itu juga menawarkan solusi berlandaskan prinsip ‘Global Standard, Local Practice’ sebuah pendekatan agar praktik kerja sosial berstandar internasional, namun tetap relevan dan peka terhadap budaya lokal. Hal ini wajib didukung dengan kolaborasi lintas negara, standardisasi kurikulum, serta peningkatan jam praktik lapangan. Melalui forum internasional ini, UMM membuktikan bahwa peringatan Hari Pekerja Sosial bukan sekadar seremonial belaka. Acara ini menjadi ruang refleksi tajam mengenai arah masa depan profesi. Kesimpulan utamanya jelas: Sekencang apa pun disrupsi teknologi dan perubahan sosial terjadi, pekerjaan sosial akan selalu relevan karena dunia akan selalu membutuhkan sentuhan empati, solidaritas, dan keberpihakan nyata pada kemanusiaan.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Lewat Program FLSP, UMM Buktikan Komitmen Cetak SDM Berdaya Saing Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di kancah internasional. Komitmen ini dibuktikan secara nyata melalui kelulusan mahasiswa dalam program Foreign Language for Special Purpose (FLSP) yang dirayakan secara meriah pada ajang FLSP FESTAPHORIA X PRIME UMM 2026. Mengusung tema “Fostering Global Minds Through Language and Talent”, selebrasi kelulusan ini dipadati ribuan mahasiswa di Helipad UMM pada Rabu (13/5). Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., memaparkan bahwa pendidikan bahasa asing intensif yang berjalan selama satu tahun tersebut merupakan langkah konkret Kampus Putih dalam membekali mahasiswanya untuk menghadapi dunia kerja. Ia menyebutkan, universitas memiliki target khusus agar setiap lulusan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki senjata ampuh berupa kompetensi 3B. “UMM menginginkan mahasiswanya memiliki kemampuan 3B. B yang pertama adalah penguasaan bahasa asing. B yang kedua adalah penguasaan bahasa program digital yaitu Python, dan B yang ketiga adalah penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai bahasa resmi,” ungkapnya. Senapas dengan hal tersebut, kemampuan bahasa asing yang mumpuni ini dinilai menjadi kunci utama untuk membuka gerbang kesempatan di level dunia. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menekankan bahwa UMM memberikan dukungan penuh bagi mahasiswa untuk mencari pengalaman ke luar negeri. Mulai dari kesempatan beasiswa Erasmus+ untuk kuliah di Eropa, hingga akses diskusi dengan ekspatriat melalui fasilitas American, Aussie, Chinese, dan Japan Corner di perpustakaan. “Sekali lagi Adik-adik semua, sejatinya capaian ini bukan akhir dari kegiatan belajar bahasa asing. Tapi sebenarnya adalah awal dari teman-teman semua untuk bisa terbang lebih tinggi, bukan hanya di kancah Jawa Timur atau Indonesia, namun membangun jejaring dan mendapatkan pengalaman luar negeri yang beragam,” jelasnya. Gemblengan komprehensif dari program FLSP UMM ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para mahasiswa. Risqi Medani Van de Vrie, mahasiswa Program Studi Manajemen 2024 yang sukses dinobatkan sebagai lulusan FLSP terbaik tingkat universitas, menceritakan pengalamannya mendalami bahasa Mandarin. Ia merasa sangat bangga bisa melewati proses belajar yang menantang dan menyadari bahwa iklim kampus yang positif sangat mendukung prestasinya. “Saya mendorong kalian semua untuk menemukan orang-orang yang akan mendorong kalian menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Memilih orang-orang yang positif dan dapat dipercaya untuk berada di sekitar kita, menurut saya, adalah salah satu kunci menuju kesuksesan,” ucapnya. Lewat perayaan kelulusan ini, Kampus Putih berharap para mahasiswa tidak lekas puas diri. Dengan bekal kompetensi bahasa asing dan ekosistem kampus yang berwawasan global, mahasiswa UMM diharapkan berani mengambil peluang internasional dan membuktikan kualitasnya di masa depan.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kantongi Lisensi HKI, PPG UMM Resmi Lahirkan Empat Model Pembelajaran Inovatif

Upaya peningkatan kualitas pendidikan terus dibuktikan melalui dedikasi para calon guru masa depan. Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 berhasil menorehkan prestasi akademik dengan melahirkan empat karya inovatif berupa model pembelajaran. Keempat karya strategis yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini tersebut telah resmi mengantongi lisensi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang ditetapkan secara serentak pada 15 April lalu. Dosen PPG UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa meskipun luaran visual dari karya-karya ini disajikan dalam bentuk desain poster, esensi utama dan bobot keilmuannya terletak pada rancangan model pendekatan pendidikan di baliknya. Terdapat empat model spesifik yang telah diakui oleh HKI. Pertama adalah Model Profiling Kunci Pembelajaran Adaptif dan Inklusif, yang disusun untuk merespons keragaman karakter dan kebutuhan siswa di dalam kelas. Kedua, Model Simfoni Kelas Harmoni melalui Deep Learning, sebuah metode yang bertujuan menyelaraskan iklim belajar secara komprehensif. Ketiga, Model Pendekatan Holistik Pembelajaran E-learning, yang dirancang agar sangat relevan dengan masifnya arus digitalisasi pendidikan saat ini. Terakhir, Model Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2024 dengan Memanusiakan dan Membangun Potensi Siswa, yang menjadi wujud kontribusi nyata terhadap visi besar pendidikan nasional. Lebih lanjut, Arina memaparkan bahwa pengembangan dan perolehan HKI atas keempat model ini dilatarbelakangi oleh visi yang kuat untuk mencetak pendidik profesional dengan kompetensi global. Tujuan utamanya adalah memastikan lulusan program profesi ini siap menghadapi dinamika kelas modern. “Tujuannya karena calon pendidik di program profesi guru itu harus bisa melahirkan kompetensi 4C, yaitu creative (kreatif), collaborative (kolaboratif), communication (komunikasi), dan critical thinking (berpikir kritis),” jelasnya merinci luaran kompetensi yang disasar. Dengan merancang model-model pembelajaran tersebut, para mahasiswa didorong agar tidak sekadar mampu mentransfer ilmu, tetapi juga sanggup menciptakan ekosistem belajar yang adaptif. Pencapaian dari angkatan 2025 ini menjadi bukti bahwa program PPG UMM secara konsisten berhasil menjadi inkubator bagi lahirnya inovator pendidikan yang siap mewujudkan pembelajaran yang memanusiakan siswa.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Gandeng Google, UMM Bekali Puluhan Dosen dengan Sertifikasi Gemini AI

Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem pendidikan tinggi saat ini bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan sebuah kebutuhan esensial untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini ditekankan oleh Arija Rose Wanodya, Google Education Specialist, dalam agenda Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (12/5/2026). Dalam paparannya, Rose sapaan akrabnya menegaskan bahwa AI hadir sebagai katalisator untuk memberdayakan pendidik, bukan untuk menggantikan peran mereka. Melalui pemanfaatan platform Google Workspace for Education, AI generatif berfungsi layaknya asisten kolaboratif tanpa lelah yang mampu mengakselerasi berbagai tugas administratif repetitif. “Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), perancangan kuis, hingga pembuatan rubrik penilaian yang objektif kini dapat dilakukan dengan sangat presisi. Efisiensi ini memberikan ruang waktu berharga bagi pendidik untuk kembali fokus pada aspek esensial: interaksi langsung, bimbingan emosional, dan pengembangan karakter anak didiknya,” jelasnya. Sejalan dengan wawasan tersebut, Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM, Dr. Ir. Suyatno, M.Si., menyatakan bahwa dosen dituntut terus beradaptasi dengan teknologi. Agenda kolaborasi antara Indosat dan Google Education ini secara khusus diikuti oleh 30 dosen muda, sebagai langkah konkret UMM dalam merespons disrupsi digital. Lebih jauh, Suyatno sapaan akrabnya menyoroti fenomena mahasiswa masa kini yang semakin mahir teknologi namun cenderung pasif di ruang kelas. Menurutnya, sejak masifnya penggunaan AI, mahasiswa bisa menggali informasi dengan sangat cepat. “Kalau kita menulis judul di papan tulis, misalnya tentang animal breeding, mereka sudah mencari sendiri di internet. Jika dosen tidak meramu metode mengajar yang lebih cerdas, kita pasti akan tertinggal,” ungkapnya. Ia juga turut mengkritisi pemberian tugas berupa makalah ketik yang tingkat kesamaannya kini bisa mencapai 80 persen. Ia mengingatkan bahwa raga mahasiswa sering kali terlihat ada di kelas, tetapi jiwa dan pikiran mereka sepenuhnya tertuju pada layar gawai pintar masing-masing. “AI ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan sebuah tuntutan nyata kebutuhan zaman. Sama seperti taksi konvensional yang dulu sempat menolak kehadiran transportasi online, jika kita terus bermusuhan dengan AI, maka kita sendiri yang akan kolaps,” tegas Suyatno. Acara pelatihan intensif ini dilanjutkan dengan ujian sertifikasi pada sesi kedua. UMM sangat berharap, melalui sertifikasi Gemini AI ini, para dosen muda mampu menularkan virus positif literasi digital kepada rekan sejawat lainnya. Dengan langkah tersebut, diharapkan tercipta ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif, inovatif, serta senantiasa relevan dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan global.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Cerita Fahmi, Mahasiswa UMM Kalahkan Puluhan Ribu Pesaing Dalam Program Google Stundent Ambasador

Di tengah derasnya arus perkembangan Artificial Intelligence (AI), mahasiswa kini tidak lagi punya kemewahan untuk sekadar duduk manis sebagai penikmat teknologi. Mereka dituntut untuk bisa memahami, mengelola, sekaligus mengedukasi sekitarnya agar teknologi tidak hanya lewat sebagai tren sesaat. Tantangan besar inilah yang kini dipikul oleh Fahmi Daud Ibrahim, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prestasinya tak main-main: ia berhasil terpilih sebagai peserta fully funded inauguration Google Student Ambassador (GSA) 2026. GSA adalah program bergengsi dari Google untuk mencari mahasiswa dengan jiwa kepemimpinan, kecakapan komunikasi, dan visi kuat di bidang teknologi digital. Tingkat persaingannya pun luar biasa ketat. Dari 81.000 pendaftar di seluruh Indonesia, hanya 2.000 peserta yang lolos seleksi awal. Hebatnya, Fahmi menembus daftar 150 mahasiswa elit yang mendapat undangan dibiayai penuh untuk pelantikan di Jakarta, dan menjadi satu-satunya perwakilan UMM. “Kami jadi jembatan antara Google dan kampus. Jadi bukan cuma belajar teknologi, tapi juga mengedukasi mahasiswa lain tentang ekosistem Google, khususnya Gemini,” ujar Fahmi. Selama inagurasi di MGP Space Jakarta, ia tidak hanya mengikuti pelantikan, tetapi juga berkesempatan melakukan office tour ke kantor Google Indonesia, berjejaring, hingga mengikuti talkshow eksklusif membahas masa depan AI. Di balik euforia pencapaiannya, Fahmi memiliki pandangan kritis terhadap tren AI di kalangan mahasiswa. Ia menyoroti fenomena di mana AI kerap disalahgunakan sebatas “mesin penjawab instan”, yang memicu budaya copy-paste tanpa proses analitis. “AI seharusnya menjadi partner diskusi buat riset, brainstorming, atau ngembangin ide. Bukan menggantikan otak sepenuhnya,” tegasnya. Jalan menuju kursi GSA tentu bukan proses instan. Fahmi harus menaklukkan serangkaian seleksi ketat, mulai dari penilaian administrasi, portofolio, wawancara rekaman, hingga wawancara langsung yang membedah pemahamannya soal AI dan kepemimpinan. Sebagai penentu akhir, personal branding digitalnya diuji melalui screening media sosial dan LinkedIn. Untuk tahapan ini, Fahmi mengandalkan rekam jejak profesionalnya sebagai content creator dan tim Marketing Communication di Telkomsel. Bagi Google, rekam jejak digital sangat krusial karena tugas seorang GSA adalah mempengaruhi audiens melalui edukasi yang tepat sasaran. Kini, ia mengemban tanggung jawab besar untuk menyelesaikan misi mingguan seperti membuat konten edukasi tentang fitur mutakhir Google (Gemini Canvas dan Deep Research), serta menginisiasi berbagai acara teknologi di lingkungan kampus. Kunci menyeimbangkan tugas GSA, rutinitas kuliah, dan magang ada pada manajemen waktu. Fahmi rutin menyusun timeline mingguan yang sangat detail untuk memastikan tidak ada tanggung jawab yang terbengkalai. Baginya, capaian ini adalah sebuah pembuktian diri. “Menang dari 81 ribu orang bikin aku sadar kalau nggak ada yang nggak mungkin. Aku pengen mahasiswa lain terutama dari daerah juga percaya kalau kesempatan itu selalu terbuka lebar, asalkan kita berani mulai dan mau belajar hal baru,” pungkas Fahmi penuh inspirasi.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Sukses Daur Ulang 92% Sampah Organik, UMM Buktikan Diri Sebagai Pelopor Kampus Hijau

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan tajinya sebagai kampus inovasi mandiri yang senantiasa memberikan dampak dalam mewujudkan ekosistem berkelanjutan. Melalui tata kelola sirkular yang terintegrasi, Kampus Putih kini sukses menyulap sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijaunya. Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, MT., menegaskan bahwa siklus mandiri ini ibarat peribahasa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, sebuah inovasi berdampak yang menyelesaikan dua masalah besar sekaligus. “Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” tegas Sandi. Sebagai kampus inovasi mandiri, UMM membuktikan bahwa dengan tata kelola melingkar ini, urusan limbah kantin tuntas teratasi, dan di saat yang sama kebutuhan pupuk tanaman kampus pun beres terpenuhi dari dalam kampus itu sendiri. Keberhasilan ekosistem ini dibuktikan dengan angka yang fantastis. Pada tahun 2025, total volume sampah organik yang dihasilkan di seluruh fasilitas UMM tercatat mencapai 438 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 402,9 ton atau setara dengan 92% berhasil diselamatkan dan diolah secara optimal melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. “Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” paparnya. Bagaimana keajaiban ekologis ini bekerja? Siklus ramah lingkungan tersebut bermula langsung dari meja makan mahasiswa. Sampah organik berupa sisa makanan, sayur, dan buah yang terkumpul dari kantin, taman, serta kebun edukasi dipilah secara ketat lalu dicacah hingga berukuran 2–3 sentimeter. Material cacahan ini kemudian memasuki tahap fermentasi, di mana sampah dicampur dengan bahan karbon seperti sekam padi dan diatur kelembapannya pada kisaran 60–70%. Setelah difermentasi di dalam reaktor tertutup selama 7–14 hari, hasil olahan tersebut dipindahkan ke unit modular. Di sinilah proses vermikompos terjadi, di mana olahan sampah organik tadi disajikan sebagai hidangan utama yang akan diurai dan dimakan oleh cacing tanah jenis Eisenia fetida hingga menjadi pupuk yang kaya nutrisi. Proses masif ini didukung oleh fasilitas dan mesin mutakhir hasil pengembangan kampus, mulai dari mesin pencacah berkapasitas 200 kg/jam, saringan kompos 100 kg/jam, hingga granulator 100 kg/jam yang dikelola oleh staf profesional. Pasca 40–60 hari, kompos organik berkualitas tinggi siap dipanen untuk menyuburkan taman kampus, kebun edukasi, dan lahan pertanian mitra. Tak berhenti pada kompos, limbah spesifik kantin seperti kulit sayur dan buah juga didaur ulang menjadi cairan kaya manfaat, yakni eko-enzim. Melalui program edukatif yang berjalan setiap hari di UMM Edupark, kampus ini sanggup memproduksi lebih dari 5 liter cairan eko-enzim per harinya. Kesuksesan mengolah 92% sampah organik ini menjadi bukti nyata bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan harmonis dengan alam. Sebagai kampus inovasi mandiri yang berdampak lead, capaian ini menegaskan posisi UMM di garda terdepan dalam aksi iklim. Melalui inovasi dan kemandirian ini, UMM tidak sekadar merawat lingkungan kampusnya sendiri, melainkan tengah memimpin dengan membangun cetak biru (blueprint) inspiratif bagi institusi pendidikan lain di Indonesia untuk bersama-sama melangkah menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Rahasia Mental Baja Generasi Z, UMM Bongkar Pentingnya Sikap Asertif dan Social Support

Generasi Z sering kali dilabeli sebagai generasi stroberi. Layaknya buah stroberi yang tampak segar dan memikat di luar, mereka dianggap sangat rentan memar dan hancur ketika mendapat sedikit saja tekanan. Stigma ini seolah menjadi bayang-bayang kelam yang terus mengikuti anak muda di tengah kerasnya arus tuntutan zaman. Menyadari fenomena krisis tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menolak untuk diam. Kampus inovasi ini berupaya menulis ulang narasi itu dengan tekad mencetak mahasiswa yang tangguh secara mental. Pada Jumat (8/5/2026), Fakultas Psikologi UMM secara khusus menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4. Menghadirkan pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Dr. Nasrudin Subhi, forum ini membedah anatomi ketahanan jiwa di era digital. Dalam paparannya, ia menbedah realitas bahwa ancaman bagi mahasiswa saat ini telah bermutasi secara drastis. “Ancaman nyata yang dihadapi generasi muda sekarang bukan lagi sekadar setumpuk tugas makalah atau ujian akhir yang menegangkan. Kalian berhadapan dengan monster siber seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya yang siap menggerus mental,” paparnya. Lebih jauh, ia menyoroti akar masalah yang kerap bermula dari pola asuh keluarga modern yang terlalu memanjakan anak. Akibatnya, saat remaja masuk ke dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian ekstrem, benturan realitas atau culture shock tidak dapat dielakkan. Jika krisis transisi ini dibiarkan tanpa kendali, dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari memicu depresi hingga tindakan agresi. Untuk memutus rantai kerentanan itu, pria itu menawarkan penawar berupa resiliensi mental. Langkah esensial pertama adalah berani membangun sikap asertif di lingkungan pertemanan kampus. “Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri,” tegasnya. Selain regulasi emosi yang proporsional, pertahanan diri ini wajib ditopang oleh jejaring dukungan sosial (social support). “Jangan asal bergaul. Carilah teman yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi kelompok sahabat yang bersedia menemani dan saling menegur di waktu susah,” pesannya. Langkah strategis menghadirkan akademisi mancanegara ini merupakan wujud nyata visi besar kampus. Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar, S.Psi., M.A., menuturkan kolaborasi dengan kampus dari negeri jiran tersebut dirancang agar mahasiswa siap menghadapi realitas zaman. “Mahasiswa saat ini hidup di tengah tantangan yang luar biasa kompleks. Oleh sebab itu, mereka perlu dibekali cara mengenali faktor risiko sekaligus membangun resiliensi agar dapat berkembang secara adaptif,” urainya. Pada akhirnya, UMM membuktikan komitmennya melalui langkah preventif ini. “Melalui forum kolaborasi ini, kami tidak hanya mentransfer pengetahuan teoritis semata, melainkan juga membekali mereka dengan jejaring wawasan global,” pungkasnya.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dinobatkan BRIN Sebagai Kampus Paling Porgresif, UMM Mantap Melangkah Jadi Innovation University

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. Dalam Kuliah Tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM, Sabtu (09/05/2026), ia menyebut Kampus Putih sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, ‘Inovasi Mandiri dan Berdampak’, ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi Innovation University,” tegas Arif di hadapan pimpinan dan puluhan peneliti UMM. Menurutnya, transisi menuju Innovation University menuntut institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced lab. Kampus dituntut untuk memperkuat applied research dan industrial engagement. Langkah agresif UMM dinilai sangat tepat guna menjembatani fenomena Valley of Death (lembah kematian riset), sebuah kondisi di mana banyak hasil inovasi kampus layu sebelum berkembang karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar. Lebih jauh, Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik, dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI dan transisi energi. Merespons hal tersebut, ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama . Ia bahkan secara spesifik menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi operasional UMM yang strategis di Jawa Timur. Merespons tantangan dan apresiasi tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan bahwa Kampus Putih memang tengah mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem Solution Center of Excellence (CoE). Melalui terobosan micro-credential serta keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir. “Kita ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan matching dengan kebutuhan industri. Saat ini, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh karena sangat didominasi sektor konsumsi,” urai Nazaruddin. Ia juga menekankan, jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan, kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi. “Katakanlah kita dorong dan naikkan 1-2% saja menuju struktur ekonomi investment based yang berbasis riset dan inovasi, bangsa ini pasti akan berubah pesat. Ke sanalah UMM melangkah,” pungkasnya. Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN ini diharapkan menjadi akselerator agar riset tidak lagi sekadar menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

​Pakar UMM Ingatkan Masyarakat, Pilih Hewan Kurban Jangan Hanya Terkecoh Ukuran

Menjelang Hari Raya Iduladha, masyarakat mulai disibukkan dengan perburuan hewan kurban. Namun, masyarakat diimbau untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. ​Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. ​Menurutnya, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. ​“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya 7 Mei lalu pada Tim Humas UMM. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. ​Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. ​Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. ​Ia juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. ​Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. ​Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. ​Di akhir penjelasannya, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. ​Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry), sebuah kondisi yang membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. ​Melalui edukasi ini, ia berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmaad Wafir Rahman