Kejar Visi Internasional, UMM Dorong Percepatan Karier Dosen Lewat Aturan Baru JAD

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memacu akselerasi untuk mewujudkan visinya sebagai kampus inovatif, mandiri, berdampak, dan terekognisi di kancah internasional pada tahun 2030 mendatang. Salah satu motor penggerak utama yang kini tengah digenjot adalah percepatan karier dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dosen melalui optimalisasi aturan baru Jabatan Akademik Dosen (JAD). Komitmen tersebut terlihat jelas saat UMM menjadi tuan rumah dalam agenda Sosialisasi Mekanisme Pengusulan Jabatan Akademik dan Perencanaan Karier Dosen bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Jawa Timur, yang digelar di Basement Dome UMM, Kamis (7/5/2026). Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menegaskan bahwa pihak kampus memandang kenaikan kepangkatan lebih dari sekadar pemenuhan syarat administratif. JAD merupakan fondasi utama dalam membangun profesionalisme dan ekosistem kampus yang unggul. ”JAD ini adalah instrumen strategis. Perguruan tinggi di era sekarang tidak cukup hanya mencetak lulusan yang jago secara teori. Kita dituntut untuk mampu melahirkan inovasi-inovasi yang memberikan dampak dan solusi nyata bagi permasalahan di masyarakat,” tegasnya. Langkah strategis UMM ini sejalan dengan angin segar dari pemerintah yang resmi memangkas birokrasi pengusulan JAD. Direktur Sumber Daya Direktorat Jenderal Diktiristek, Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani, S.T., M.T., yang hadir sebagai narasumber utama, memaparkan bahwa perubahan regulasi melalui Permen 52 dan Kemen 39 ditujukan untuk mempercepat eskalasi karier dosen yang selama ini kerap stagnan. Kini, kementerian menyederhanakan mekanisme penilaian dengan menghapus syarat publikasi ilmiah untuk pengangkatan pertama Asisten Ahli, serta memangkas angka kredit pendukung yang dinilai tak lagi relevan. “Regulasi baru ini sengaja dirancang untuk ‘membangunkan’ dosen agar serius merencanakan kariernya sejak awal mengabdi. Kami ingin memastikan tidak ada lagi dosen yang berlama-lama tanpa jabatan akademik,” paparnya. Meski birokrasi telah dipermudah untuk mendukung percepatan tersebut, sivitas akademika tetap diwanti-wanti agar tidak tersandung masalah kelalaian. Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., menyoroti banyaknya pengajuan JAD ke level Lektor Kepala hingga Profesor yang ditolak murni karena persoalan administratif, seperti ketidaklengkapan Beban Kerja Dosen (BKD) hingga data SISTER yang kedaluwarsa. Secara khusus, Dyah juga mengingatkan para dosen yang tengah mengejar eskalasi karier untuk menjaga integritas dan menjauhi godaan jalan pintas. ”Penggunaan jurnal predator bisa berakibat sangat fatal. Dampaknya bukan sekadar pembatalan pengajuan, tetapi bisa berujung pada keharusan mengembalikan dana sertifikasi ke kas negara. Oleh karena itu, kami mendesak para dosen untuk lebih proaktif memahami aturan main dan tidak sepenuhnya menggantungkan nasib pada operator kampus,” pungkasnya. Melalui sinergi antara regulasi kementerian yang kian mudah dan dorongan agresif dari internal kampus, UMM optimis target percepatan kepangkatan dosen dapat tercapai secara bersih dan berkualitas, membawa Kampus Putih melesat menuju panggung internasional di 2030.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bukan Sekadar Unit Bisnis, Bengkel Rinjani UMM Punya Program Diklat Otomotif Gratis hingga Salurkan Lulusan ke Jepang

Bengkel Rinjani yang bernaung di bawah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan diri bukan sekadar unit bisnis biasa. Melalui Rinjani Skills Development Center (RSDC), bengkel ini menginisiasi program pendidikan dan pelatihan otomotif gratis selama enam bulan bagi pemuda dari keluarga kurang mampu. Menariknya, program ini tidak hanya menyalurkan lulusannya ke jaringan perusahaan otomotif nasional, tetapi juga membuka peluang emas bagi mereka untuk bekerja di Jepang. Kepala RSDC, Eddy Prasetyawan Adisubroto, S.T., menjelaskan bahwa program sosial unggulan ini telah berjalan sejak tahun 2008. Sasarannya adalah para lulusan SMA, SMK, atau MA dari seluruh pelosok Indonesia, baik dari sekolah Muhammadiyah maupun sekolah negeri. Prioritas utama RSDC adalah merangkul para pemuda dengan latar belakang prasejahtera hingga yang berstatus yatim piatu. “Ini adalah murni program sosial. Anak-anak yang tinggal dan belajar di asrama kami, seluruh kebutuhan konsumsi hariannya kami tanggung sepenuhnya. Kami ingin membekali mereka dengan ilmu yang sungguh berguna bagi masa depan mereka nanti,” ungkapnya. Lebih lanjut, Eddy menegaskan bahwa program diklat RSDC ini sangat berbeda dengan Praktik Kerja Industri (Prakerin) reguler yang umumnya diikuti oleh siswa kelas 2 SMK. Jika siswa magang biasa lebih terfokus pada area mesin, peserta diklat RSDC mendapatkan kurikulum yang jauh lebih komprehensif. Selama enam bulan penuh, mereka tidak hanya mengupas mesin otomotif, tetapi juga dilatih secara intensif mengenai perawatan bodi, serta pemeliharaan detail interior dan eksterior mobil. Keseriusan RSDC dalam mengawal masa depan siswanya turut dibuktikan melalui luasnya jaringan kerja sama industri. Ratusan alumni kini telah terserap di berbagai perusahaan rekanan, seperti Denso, Astra Malang, hingga Wira Sejahtera Auto 2000 Jakarta. Penempatan kerja para alumni ini tersebar luas mulai dari wilayah Jabodetabek, Sumatera, Yogyakarta, hingga ke Papua. Tidak berhenti di tingkat nasional, RSDC juga memfasilitasi siswanya untuk meluaskan sayap karier ke kancah internasional. Menjelang akhir masa pendidikan, para siswa diajak mengunjungi Training Center (TC) Vokasi UMM untuk mengenal secara langsung dunia pelatihan kerja ke Jepang. “Kami tidak membatasi lingkup di Indonesia saja. Jika berminat, kami akan salurkan mereka untuk ikut tes. Saat ini, sudah ada sekitar enam anak yang berangkat dan bekerja di Jepang pada sektor yang lebih luas, seperti konstruksi, manufaktur, perikanan, hingga pertanian. Tiga orang lainnya kini masih dalam tahap pendidikan bahasa di TC vokasi,” papar Eddy. Melalui program pendidikan berkelanjutan ini, Eddy berharap kehadiran Bengkel Rinjani dan RSDC mampu menjadi jalan keluar bagi pemuda yang kurang beruntung. “Harapan saya, mereka bisa mengembangkan ilmunya, mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dan membuktikan bahwa mereka bisa menjadi individu yang sukses serta bernilai bagi masyarakat luas,” pungkasnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Raup Ratusan Juta dari Arang Briket, Alumnus UMM Sukses Tembus Pasar Ekspor

Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga berani merintis peluang nyata di lapangan. Hal ini dibuktikan oleh Abdurrahman Sayuti, alumnus Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2020, yang sukses meniti karier sebagai eksportir arang briket dengan jangkauan pasar internasional. Kesuksesan pria yang akrab disapa Sayuti ini tidak diraih dalam semalam. Perjalanannya dimulai dari nol pada tahun 2022, saat ia masih duduk di bangku semester tiga. Menariknya, modal awal bisnis ini bukan berasal dari privilese, melainkan dari hasil keringatnya memutar uang lewat bisnis jual-beli motor bekas dan suku cadang. “Modal pertama saya itu murni dari jual-beli motor dan suku cadang. Dari situ saya mulai menabung dan akhirnya berani banting setir membangun perusahaan arang briket,” ungkap Sayuti. Di tahap awal merintis usaha, Sayuti tak segan turun ke lapangan. Sepulang kuliah, ia menjajakan produknya secara langsung di pasar-pasar tradisional. Pengalaman di tingkat akar rumput ini menjadi kawah candradimuka baginya untuk memahami selera dan dinamika pasar. Kerja kerasnya menemui titik terang saat ia aktif membangun jejaring. Titik balik usahanya terjadi ketika Sayuti mengikuti forum bisnis nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur. Kolaborasi dengan pelaku industri profesional di forum tersebut sukses mengantarkannya pada ekspor perdana ke Singapura pada tahun 2023. Kini, skala bisnisnya melesat tajam. Untuk satu kali pengiriman, usahanya mampu memenuhi permintaan pasar ekspor hingga 15 ton arang briket. Angka keuntungan yang diraih pun tidak main-main. “Kalau kita hitung omzet bersih, itu berkisar antara Rp90 juta hingga Rp130 juta untuk sekali transaksi. Angka ini bahkan bisa lebih besar untuk pengiriman dalam skala partai besar,” jelasnya. Di balik deretan angka fantastis tersebut, Sayuti menekankan bahwa relasi atau networking adalah kunci paling krusial untuk bertahan di sektor ekspor. Selain itu, ia mengakui bahwa wawasan akademik yang ia peroleh di UMM khususnya dari mata kuliah Bisnis Internasional memberikan fondasi berpikir yang tajam dalam memetakan peluang pasar global. Sebagai penutup, pengusaha muda ini menitipkan pesan penting bagi kalangan mahasiswa agar berani keluar dari zona nyaman dan tidak hanya terkungkung di ruang kelas. “Sebagai mahasiswa, selain ambisius terhadap nilai akademik, kita juga harus ambisius terhadap pengalaman. Pintar-pintarlah mengambil kesempatan dan memperluas relasi. Dari situlah peluang besar akan terbuka,” pungkasnya.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Cetak Rekor MURI, Guru Besar UMM Kuasai Mimbar Diskusi Islam Internasional

Konsistensi tanpa henti membuahkan prestasi bertaraf dunia. Guru Besar Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si., resmi mencatatkan namanya di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai panelis diskusi daring internasional berkesinambungan terbanyak. Penghargaan bergengsi yang diserahkan pada April lalu menjadi bukti pengakuan atas dedikasi luar biasa. Usai melalui proses verifikasi ketat, ia tercatat telah tampil sebagai panelis sebanyak 97 kali hingga Januari 2026 dalam forum International Deliberation on Islam, dan angka ini masih terus bertambah. International Deliberation on Islam adalah panggung strategis yang mempertemukan ulama, akademisi, dan cendekiawan sejagat. Setiap sesinya menyedot perhatian 400 hingga 500 peserta dari berbagai belahan dunia, yang mayoritas merupakan profesor dan doktor. Di hadapan ratusan cendekiawan inilah, gagasannya terus menggema sejak ia mulai aktif pada 2018. Dalam berbagai diskusinya, ia secara tajam membedah epistemologi Islam. Ia memaparkan tiga paradigma utama studi Islam yakni Bayani (teks), Burhani (logika), dan Irfani (spiritual). Menariknya, ia memberikan penekanan khusus pada pendekatan Irfani yang membumikan praktik spiritual dalam kehidupan sehari-hari. “Pendekatan Irfani ini sering kali terabaikan, padahal ia memiliki kedalaman makna yang sangat krusial dalam memahami Islam secara komprehensif,” tegasnya. Dedikasinya tidak berhenti di podium internasional. Gagasan Irfani ini juga terus ia sebarluaskan kepada mahasiswa, dosen, hingga cendekiawan di tingkat lokal dan nasional. Ketajaman intelektualnya terbukti nyata secara tertulis. Selain menjadi panelis dunia, ia adalah seorang akademisi yang sangat produktif. Sejak tahun 2013, ia telah melahirkan sekitar 100 karya yang tercatat resmi sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Rekam jejak ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai ilmuwan yang berdedikasi penuh pada riset dan pengabdian masyarakat. Melalui kiprahnya di puluhan forum dunia, dosen Fakultas Agama Islam UMM itu mengemban misi besar yakni menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat dan inklusif. Ia berharap ruang-ruang dialog internasional ini terus menjadi mesin penggerak keilmuan bagi umat Islam global. Pencapaian monumental ini sekaligus menegaskan posisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai institusi pendidikan yang tak henti mendorong sivitas akademikanya untuk mendobrak batasan dan memberikan kontribusi nyata di kancah dunia.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kawal Target Pusat Halal Dunia 2026, UMM Buka Jalur Sertifikasi di Negeri Tirai Bambu

Mempertegas posisinya sebagai kampus Islam kelas dunia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperluas kiprah internasionalnya. Melalui Pusat Studi Pusat Pendampingan dan Pengembangan Halal (PS. P3Halal), Kampus Putih resmi menggandeng Fuyao University of Science and Technology (FYUST) Cina untuk mengembangkan produk halal-thoyyib dan pangan sehat. Penandatanganan kerja sama strategis ini dilaksanakan langsung di kampus megah FYUST, Cina, bersama Dekan sekaligus representasi Yayasan FYUST, Giong Lin, pada Rabu (22/4/2026). Kepala PS. P3Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menjelaskan bahwa langkah ini merupakan respons proaktif atas target Indonesia menjadi pusat kepemimpinan halal dunia pada 2026. Terlebih, potensi industri halal global diproyeksikan melonjak hingga mencapai US$ 9 triliun pada 2030 mendatang. “Kerja sama ini adalah wujud nyata dari semangat Muhammadiyah Berkemajuan. Kami tidak hanya berfokus pada peringkat akademik, tetapi mengimplementasikan konsep ‘Kampus Berdampak’ dari Kemdiktisaintek. UMM hadir melintasi batas negara untuk memberi solusi dan inovasi berkelanjutan, khususnya dalam memperkuat daya saing produk halal lokal di pasar global,” tegasnya. Selain penandatanganan MoU, delegasi UMM juga melakukan peninjauan langsung ke Laboratorium Halal milik FYUST serta fasilitas kantin asrama yang melayani kebutuhan nutrisi ribuan civitas akademika setempat. Sinergi riset menjadi salah satu poin utama dalam kerja sama ini. Saat ini, FYUST tengah mengembangkan produk berbasis polifenol, wortel, umbi-umbian, hingga pengujian deteksi titik kritis kehalalan seperti DNA babi dan etanol. Fokus tersebut rupanya sangat selaras dengan deretan riset unggulan para peneliti UMM. Elfi sapaan akrabnya, saat ini tengah memimpin riset pigmen antosianin dari bunga dan ubi jalar ungu untuk aplikasi suplemen yang mampu mereduksi mikroplastik pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Riset pangan fungsional dan bahan bioaktif sebagai obat herbal juga terus dikembangkan oleh pakar UMM lainnya, seperti Prof. Damat, Prof. Warkoyo, Prof. Ely Purwanti, Dr. dr. Meddy Setiawan, Dr. dr. Sulistyo Mulyo Agustini, dan Dr. Ahmad Shobrun Jamil. Ke depannya, kolaborasi internasional ini tidak akan berhenti di atas meja laboratorium. UMM dan FYUST sepakat untuk memperluas cakupan kerja sama melalui kolaborasi riset dosen dan mahasiswa, pengembangan kosmetik dan obat herbal halal, serta pendampingan sertifikasi bagi perusahaan mitra FYUST di Cina. “Puncaknya, kita juga membidik pembentukan lembaga halal sejenis Lembaga Pemeriksa Halal Luar Negeri (LHLN) di kampus FYUST, sehingga ekosistem halal di sana dapat terstandarisasi sesuai dengan regulasi negara Indonesia,” pungkasnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Diisi para Pakar, Seminar PPG UMM Bongkar Ketimpangan Pendidikan Glob

Menguatnya fragmentasi sosial global sekaligus ketimpangan akses terhadap pengetahuan menempatkan pendidikan pada titik krusial. Ketegangan ini mengemuka dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) bekerja sama dengan Deakin University Australia dan Universitas Sanata Dharma, 5 Mei 2026. Mengusung tema Inklusi Transformatif: Mewujudkan Keadilan Pendidikan di Era Polarisasi Global, forum ini menegaskan bahwa inklusi tidak cukup berhenti sebagai jargon kebijakan, melainkan harus hadir sebagai praktik yang membongkar ketimpangan secara nyata. Perspektif awal disampaikan oleh, Dirjen GTK Kemendidkdasmen RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., yang menjelaskan terkait arah kebijakan makro. Ia menempatkan pendidikan inklusif sebagai keharusan moral sekaligus sistemik di tengah dunia yang kian terpolarisasi. Dapat ditegaskan jika posisi negara dalam memastikan pendidikan sebagai hak fundamental yang harus dijamin secara menyeluruh. “Pendidikan inklusif adalah sebuah keharusan moral dan sistemik. Kami mengusung visi pendidikan bermutu untuk semua, dengan penegasan bahwa tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal, apa pun latar belakang sosial, budaya, bahasa, maupun kondisinya,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa transformasi menuju keadilan pendidikan memerlukan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara. Kebijakan afirmatif, penguatan peran guru pendidikan khusus, serta pengembangan ekosistem inklusif menjadi bagian dari strategi nasional yang terus diakselerasi. “Dengan demikian, keadilan pendidikan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi bergerak menjadi praktik nyata yang menjawab tantangan global secara berkelanjutan,” tegasnya. Dr. Junny Ebenhaezer, Ph.D., dari Daekin University Australia yang menyoroti bahwa eksklusi dalam pendidikan kerap bekerja secara laten melalui praktik pedagogi yang tidak sensitif terhadap keberagaman. Karena itu, transformasi pendidikan harus dimulai bagaimana cara mengajar serta penguatan kapasitas guru. Sehingga mampu merespons kebutuhan belajar yang beragam secara kontekstual. “Saya meyakini bahwa keadilan pendidikan harus dimulai dari membuka akses yang setara dan memberdayakan guru sebagai kunci perubahan. Jika kita membekali satu guru dengan kompetensi yang tepat, dampaknya dapat menjangkau ratusan bahkan ribuan siswa,” ujarnya. Menurutnya, dalam pedagogi, perlu kembali pada tiga pilar utama, yaitu purpose, process, dan people. Seorang guru tidak hanya dituntut memahami tujuan pembelajaran, tetapi juga proses yang tepat serta siapa peserta didiknya. Ia menyebutkan pertanyaan mendasar yang harus diajukan adalah, apakah kita benar-benar mengenal siswa kita, latar belakangnya, dan cara mereka belajar? Maka dari itu, inklusi tidak boleh berhenti pada tataran simbolik, melainkan harus bergerak menuju praktik yang substantif dan adaptif. Diferensiasi pembelajaran, asesmen yang responsif, serta pemanfaatan teknologi yang mempertimbangkan kesenjangan akses menjadi kunci. Sementara itu, Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D., dari Universitas Sanata Dharma yang membahas keadilan pendidikan di dunia yang terpolarisasi dengan menyoroti krisis resiliensi dan kebutuhan inovasi. Ia menempatkan pendidikan sebagai sebagai hal yang membangun ketahanan sosial di tengah tekanan global. Menurutnya, tanpa inovasi yang berkelanjutan, pendidikan beresiko tertinggal dalam merespons dinamika zaman. Sementara itu, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M. M. dari UMM menegaskan bahwa capaian pendidikan tidak dapat semata diukur secara kuantitatif, terutama ketika kesenjangan antar wilayah dan kelompok sosial masih tinggi. Realitas global menunjukkan masih jutaan anak belum memperoleh akses pendidikan yang layak, sehingga transformasi kebijakan menjadi kebutuhan mendesak dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. “Pendidikan berkeadilan merupakan inti dari tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs keempat, yang menegaskan pentingnya pendidikan inklusif, berkualitas, dan pembelajaran sepanjang hayat bagi semua,” tegasnya. Pendidikan inklusif yang transformatif harus dimulai dari perubahan paradigma, yakni memandang perbedaan sebagai sumber daya pembelajaran. “Keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, serta masyarakat sipil menjadi prasyarat penting dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berdaya saing global,” ujarnya. Pada akhirnya, pandangan pada standar profesi guru dijelaskan oleh Neneng Haryati, S.Si, M.M., ia menjelaskan jika guru harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Dalam hal ini PPG menjadi bagian integral dari tata kelolah guru secara nasional. Guru dituntut untuk terus mengembangkan diri melalui pelatihan pembelajaran yang berkelanjutan, riset praktik pembelajaran, serta kolaborasi riset lintas pendidikan agar mampu menjawab tantangan global. (vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UKM Karate UMM Sapu Bersih 16 Medali dan Rajai Kejuaraan Nasional 2026

Hall Dome menjadi saksi bisu ketangguhan para atlet Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pada kompetisi yang digelar pada Sabtu (02/05/2026) tersebut, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil menunjukkan kelasnya dengan keluar sebagai Juara Umum untuk kategori Mahasiswa. Keberhasilan ini sekaligus mempertegas posisi Kampus Putih sebagai lumbung atlet bela diri berprestasi di Tanah Air berkat dominasinya dalam kejuaraan karate tingkat nasional,. Ketua Umum UKM Karate UMM, Fadil Inayatullah, menyebut pencapaian ini adalah hasil dari komitmen panjang para anggota. Mahasiswa program studi Manajemen angkatan 2023 tersebut menjelaskan bahwa persiapan tim dilakukan secara menyeluruh, mencakup latihan fisik, pendalaman teknik, hingga penguatan mental bertanding. Menurutnya, atmosfer latihan yang suportif namun tetap disiplin menjadi kunci utama kekompakan tim selama masa persiapan hingga hari H pertandingan di Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. “Gelar juara umum ini adalah bukti nyata bahwa kedisiplinan dan kekompakan tim mampu menghasilkan prestasi yang mengharumkan nama UMM di bidang olahraga,” tegas Fadil. Dalam kompetisi bergengsi tersebut, kontingen UMM berhasil mendominasi berbagai kelas pertandingan. Kekuatan tim yang tersebar merata, baik di nomor perorangan maupun beregu, sukses memboyong total 16 medali. Raihan gemilang dari para atlet UKM Karate UMM tersebut terdiri dari 3 medali emas, 5 medali perak, dan 8 medali perunggu. Capaian impresif ini mempertegas keunggulan UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri dalam memfasilitasi minat bakat mahasiswa secara inklusif. Di balik prestasi fisik tersebut, terdapat tantangan besar dalam menyeimbangkan kehidupan kampus. Hal ini ditegaskan oleh Pembina UKM Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso, M.A. Menurutnya, status sebagai mahasiswa sekaligus atlet menuntut kemampuan manajerial waktu yang tinggi. “Tantangan sejauh ini adalah membagi waktu antara tugas akademik dan porsi latihan yang cukup menguras tenaga,” ungkap Havidz. Ia menambahkan bahwa dukungan universitas selama ini sangat berperan dalam memotivasi para atlet. Fasilitas yang memadai serta kemudahan birokrasi bagi mahasiswa berprestasi membuat atmosfer kompetisi di lingkungan UMM tetap sehat dan progresif. Menutup keterangannya, Havidz menekankan bahwa regenerasi atlet melalui seleksi ketat akan terus dilakukan guna menjaga tradisi juara di masa mendatang. “UKM Karate UMM ke depannya akan semakin baik dengan perbaikan manajerial internal dan seleksi yang ketat bagi calon mahasiswa baru yang ingin bergabung,” pungkasnya. Kemenangan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya. UMM terbukti bukan sekadar tempat menimba ilmu di ruang kelas, melainkan juga kawah candradimuka bagi para jawara di ajang olahraga.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dari Jembatan GKB 1, Pohon Harapan UMM Suarakan Kegelisahan Pendidikan Nasional

Di tengah wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru hadir sebagai ruang kritik yang terbuka. Bertempat di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, sivitas akademika diajak menyuarakan argumen, kegelisahan, dan harapan mereka terkait arah pendidikan nasional melalui medium “Pohon Harapan Pendidikan”. Rangkaian acara ini dikemas sarat makna sosial dan intelektual, melampaui sekadar kegiatan seremonial. Dimulai dengan menyanyikan lagu-lagu nasional, penulisan aspirasi, hingga penampilan musikalisasi puisi oleh dosen dan mahasiswa. Semuanya dirancang sebagai medium artikulasi publik kampus yang menggabungkan ekspresi estetis dengan kritik sosial. Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dr. Faizin, M.Pd.,menjelaskan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” dipilih untuk membangun kesadaran kolektif. Ia menegaskan, wacana penghapusan program studi perlu dikritisi lebih jauh, apakah benar berorientasi pada peningkatan kualitas, atau sebatas efisiensi struktural. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan industri. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan yang unggul adalah hasil kerja kolektif lintas sektor, mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, hingga sistem sosial. “Jika tidak disadarkan secara kolektif, capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul. Kebijakan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen,” tegasnya. Dalam kegiatan tersebut, “Pohon Harapan Pendidikan” menjadi titik partisipasi yang paling dinamis. Medium ini dipenuhi berbagai tulisan dari sivitas akademika, yang tidak hanya berisi harapan normatif, tetapi juga kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang dirasa semakin administratif dan kehilangan substansinya. “Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” tulis Erika Firdayanti, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Pesan Erika merepresentasikan penolakan mahasiswa yang tidak ingin hanya menjadi objek kebijakan, melainkan subjek aktif yang menuntut terjaganya esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini membuktikan bahwa kampus masih memegang teguh perannya sebagai arena dialektika yang sehat. Di tengah kuatnya arus pragmatisme dan efisiensi pasar, inisiatif ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus selalu berpijak pada nilai, nalar kritis, dan kesadaran kolektif untuk membangun masa depan bangsa yang berkelanjutan.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Unggul di Sektor Industri dan Riset Berdampak, UMM Sabet Top 15 Nasional THE Asia University Rankings 2026

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan yang mempertegas kualitasnya di kancah pendidikan internasional. Berdasarkan rilis resmi lembaga pemeringkat bergengsi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026 pada 23 April 2026 lalu, Kampus Putih sukses mengamankan posisi yang sangat kompetitif. Keberhasilan UMM dalam meraih posisi elit pada THE AUR 2026 ini menandai raihan International Competitiveness sebagai milestone UMM tahun 2026-2030 Kepala Unit Pelaksana Teknis Akreditasi dan Pemeringkatan UMM, Dr. Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed., menegaskan bahwa pencapaian ini murni merupakan wujud pengakuan pemeringkatan internasional. “Tahun lalu kita di peringkat 1501+, kali ini UMM berhasil menempati kelompok peringkat 801+ di kawasan Asia. Prestasi di tingkat nasional pun tak kalah gemilang, di mana UMM menduduki peringkat ke-15 se-Indonesia secara keseluruhan (PTN dan PTS), serta kukuh di peringkat ke-7 khusus untuk kategori Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah, UMM meraih posisi ketiga. Hebatnya lagi, di antara PTN, UMM menjadi satu-satunya PTS di Jawa Timur dan Malang Raya yang sukses menembus pemeringkatan THE pada tahun ini,” jelasnya di sela peringatan Hardiknas pada tim Humas UMM. Keberhasilan ini tidak lepas dari evaluasi ketat THE melalui 5 indikator utama, yakni Teaching, Research Environment, Research Quality, Industry, dan International Outlook. Keunggulan paling mencolok dari UMM terletak pada sektor Industry Income. Rina sapaan akrabnya menjelaskan bahwa tingginya poin di sektor ini didukung oleh atmosfer kampus yang baik berkat keberadaan unit bisnis, seperti rumah sakit. Fasilitas tersebut dinilai tidak sekadar mendatangkan pendapatan bagi institusi, tetapi juga berperan penting sebagai laboratorium akademis bagi sivitas kampus. Selain itu, melalui pendekatan terapan (applied) yang adaptif terhadap kebutuhan pasar, hubungan antara UMM dan dunia industri pun terbangun dengan sangat kuat. Selain itu, UMM dinilai unggul berkat kualitas risetnya yang berfokus pada impact. Penilaian ini tidak hanya menghitung jumlah artikel yang dipublikasikan dosen, melainkan pada tingginya angka sitasi dari peneliti lain. Meski meraih posisi mentereng, UMM tetap objektif melakukan evaluasi. Jika disandingkan dengan perguruan tinggi negeri ternama, skala publikasi secara kuantitas serta indikator riset dan sitasi masih menjadi area yang terus didorong perkembangannya. Terakhir, ia menerangkan bahwa pemeringkatan ini adalah bentuk nyata rekognisi internasional atas dedikasi kinerja akademik UMM. Diharapkan, momentum kebanggaan ini tidak sekadar menjadi selebrasi, melainkan menjadi pemicu untuk terus meningkatkan kualitas pada kelima indikator aktivitas akademik kampus putih di masa mendatang.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bangun Kecerdasan Fisik dan Mental di Momen Hardiknas, UMM Gelar Kejuaraan Karate Nasional

Gemuruh suara teriakan dan dentuman langkah kaki di atas matras memenuhi atmosfer kemegahan Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 02 Mei 2026. Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, Kampus Putih secara resmi menggelar perhelatan bergengsi bertajuk “Kejuaraan Karate Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026” yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., dalam sambutannya menekankan signifikansi penyelenggaraan acara ini yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Menurutnya, olahraga bela diri adalah elemen penting dalam memajukan kualitas manusia di masa depan. “Hari ini kita mengenang jasa para pahlawan pendidikan. Semangat itu kami manifestasikan melalui olahraga. Kami berharap dari Dome UMM ini akan lahir bibit-bibit talenta baru yang nantinya tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di kancah nasional, tetapi juga di panggung internasional,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pengurus Besar (PB) FORKI yang telah memberikan restu atas terselenggaranya ajang ini. UMM berkomitmen menjadikan Rektor Cup Karate Championship sebagai agenda tahunan yang dinanti oleh para atlet Karate-Do di seluruh Indonesia. “Event ini menjadi sarana penting bagi para atlet untuk mengukur kualifikasi mereka. Kami memohon maaf jika masih ada kekurangan dalam teknis penyelenggaraan, namun kami bertekad untuk terus memperbaiki kualitas agar kejuaraan ini menjadi kalender tetap karate di tingkat nasional,” tambahnya. Ajang ini bukan sekadar kompetisi fisik, melainkan menjadi panggung pembuktian bagi ratusan atlet muda untuk menunjukkan hasil latihan keras mereka. Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelaksana, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa kejuaraan ini dirancang sebagai sistem pembinaan yang berkesinambungan. “Tujuan utama kami adalah menciptakan tolak ukur pembinaan karate yang terstruktur. Kami ingin memberikan kontribusi positif dalam mengembangkan tidak hanya kecerdasan fisik, tetapi juga intelektual, mental, dan spiritual generasi muda Indonesia,” ujarnya. Antusiasme peserta pada edisi kali ini tergolong luar biasa. Tercatat sebanyak 825 atlet dari 63 kontingen turut berpartisipasi. Mereka memperebutkan medali di 974 kelas pertandingan yang terbagi dalam berbagai kategori, mulai dari usia dini, pra-pemula, pemula, cadet, junior, under-21, hingga kategori senior. Tak hanya dari Jawa Timur, para peserta berasal dari lintas provinsi, meliputi Bali, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, yang mewakili dojo, klub, hingga pengurus cabang FORKI. Melalui perhelatan akbar ini, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung kemajuan olahraga nasional. Kejuaraan Karate Piala Rektor 2026 diharapkan mampu menjadi kawah candradimuka yang melahirkan atlet-atlet profesional bermental juara. Pada akhirnya, tempaan fisik dan mental di atas matras ini akan menjadi bekal berharga bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan, baik di kancah nasional maupun global.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman