Dosen UMM Bagikan Pengalaman Ramadan di Taichung, Taiwan

Bulan suci Ramadan selalu dinantikan dengan penuh antusias oleh seluruh umat Muslim di berbagai belahan dunia, khususnya di negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam seperti Indonesia. Sebaliknya, menghabiskan bulan Ramadan di negara minoritas muslim merupakan sebuah tantangan tersendiri. Hal itu pula yang dialami oleh Novendra Setyawan, ST., M.T, selaku dosen prodi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang kini menempuh pendidikan doktor di National Formosa University, yang terletak di kota Taichung, Yunlin County, Taiwan. Novendra menceritakan berbagai pengalaman menarik yang ia alami saat bulan Ramadan di Taichung, Taiwan. Di sana, mayoritas masyarakatnya menganut agama Budha. Maka tentu suasana Ramahan di tempat tinggalnya sama seperti hari-hari biasanya. “Karena Taichung merupakan kota kecil dan masih sangat kental budaya yang ada, sehingga tidak ada masjid di kota ini. Perlu menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam untuk bisa menemukan masjid di kota pusat,” ujarnya. Sulitnya menemukan masjid untuk beribadah membuat Novendra bergabung ke dalam komunitas muslim yang berasal dari beberapa negara. Seperti misalnya mereka dari India, Pakistan, dan Indonesia. Mereka sering berkumpul selama bulan Ramadan untuk berbuka puasa bersama ataupun melaksanakan shalat tarawih berjamaah. “Kami sering memasak untuk menghindari makanan non-halal. Memanfaatkan aplikasi halalin untuk membantu kami menemukan bahan makanan yang dapat dikonsumsi muslim. Tidak banyak toko yang menjual bahan makanan halal di sini karena rata-rata bahan makanan yang masyarakat lokal konsumsi mengandung minyak babi,” katanya. Lebih lanjut, Novendra mengatakan bahwa ia dan teman-teman komunitas muslim tengah bersiap menyelenggarakan sebuah sosialisasi tentang Islam. Ini sebagai cara mengenalkan islam ke masyarakat non-muslim di Taichung. Selama Ramadan, Noven juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan. Di sana ia banyak bertemu dengan para perantau yang sedang menempuh pendidikan di Taiwan. Mereka melaksanakan buka puasa, tarawih, dan kajian bersama. Ia merasa bahagia karena bisa merasakan suasana Ramadhan di luar negeri namun tetap dapat berkumpul sesama umat muslim. Terkait jauhnya masjid, ia mengatakan bahwa perjalanan jauh tidak menjadi halangannya untuk beribadah bersama teman-teman muslim lain. Ia percaya bahwa perjalanannya merupakan bagian ibadah dan dihitung sebagai pahala. “Saya mendengar banyak cerita bahwa mereka yang mendapatkan situasi seperti saya merupakan orang yang istimewa. Maka saya harus menikmatinya dengan baik dan menjalani hari Ramadan dengan bahagia di kota ini,” kelakarnya mengakhiri. (ri/wil)

Dosen UMM Sebut Ramadan Jadi Momen Tepat Sambung Silaturahmi

Bulan puasa menjadi momen yang dipenuhi dengan kebaikan. Tak terkecuali kebaikan untuk menyambung tali silaturahmi yang putus. Zulfikar Yusuf, M.Pd.I. selaku dosen prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan bahwa ini selaras dengan tujuan berpuasa yakni meningkatkan ketakwaan seseorang. Takwa diartikan sebagai melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam Islam, ibadah bukan hanya berdimensi pribadi, namun juga sosial. Maka seluruh aktivitas silaturahmi saat Ramadan maupun di luar Ramadan menjadi hal penting untuk meningkatkan spiritual sosial. Salah satunya dengan melatih dimensi pribadi dan sosial selama bulan suci. “Sebenarnya, silaturahmi tidak hanya dilakukan saat Ramadan saja. Apalagi mengingat bahwa apabila seseorang sedang mengalami emosi yang memuncak, tidak diperkenankan untuk memendam melebihi tiga hari. Jadi, bila terjadi kesalahpahaman antar sesama, segerakan untuk diselesaikan,”urainya. Dalam Islam, pengakhiran atau memutuskan hubungan adalah tindakan yang sangat serius. Islam mengajarkan manusia untuk selalu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki diri. Allah SWT adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan kita sebagai hamba-Nya juga harus mengikuti teladan-Nya. “Hal utama yang perlu dilakukan adalah memperbaiki kualitas dan kematangan pribadi dalam aspek spiritual maupun individual. Karena dengan kematangan diri inilah yang mampu membendung kebencian dan kesalahpahaman. Perlu adanya upaya untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Bukan hanya sekadar nama dan asal saja, tapi juga memahami karakter yang dimiliki orang lain. Dengan mengenal ini, maka potensi kerenggangan akan berkurang karena satu sama lain telah saling memahami,” jelasnya. Lebih lanjut, Zulfikar menuturkan, salah satu langkah penting dalam memperbaiki hubungan yang retak adalah dengan meminta maaf dan menawarkan permohonan maaf yang tulus. Saat meminta maaf, penting untuk berbicara dengan jujur dan tulus. Jelaskan dengan terbuka apa yang telah kita lakukan yang menyebabkan keretakan dalam hubungan. Setelah itu, tawarkan solusi untuk memperbaiki silaturahmi. “Perbedaan adalah hal yang pasti terjadi di masyarakat, keluarga, bahkan pada diri pribadi. Namun setiap perbedaan perlu disikapi dengan baik. Maka saya menyarankan dalam kerangka teori tazkiyyatun Nafs atau teori pembersihan jiwa. Kebencian berasal dari apa yang dilihat dan dipikirkan. Semakin banyak hal negatif yang dilihat, akan memperngaruhi apa yang dipikirkan. Apa yang dipikirkan akan memberikan dampak pada hati. Bila yang masuk adalah negatif, maka pikiran dan hati akan menjadi ternodai. Namun bila yang masuk adalah hal yang positif, maka akan tercerahkan dan bersih hatinya,” tandasnya. Dalam memperbaiki hubungan, komunikasi yang baik menjadi kunci utama. Dengarkan dengan penuh perhatian, sampaikan perasaan dengan jujur dan lembut, serta hindari konflik yang tidak perlu. Memperbaiki hubungan yang retak membawa pahala dan berkah besar di bulan Ramadan, membawa kedamaian batin, kebahagiaan sejati dan kedekatan dengan Allah. (bal/wil)

Semarak Ramadan UMM: Muhammadiyah Organisasi yang Fleksibel

Semarak Ramadhan semakin terasa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkat agenda bertajuk ‘Spirit Islam Wasathiyah untuk Masa Depan Islam yang Berkemajuan’. Acara yang digelar pada 20 Maret 2024 itu dihadiri langsung salah satu ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M.Ag. Ia menegaskan bahwa bahwa Muhammadiyah mempunyai karakter yang fleksibel. Muhammadiyah senantiasa mencoba membantu masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Begitupun dengan tujuannya unutk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, diridai oleh Allah, dan terbentuknya Islam yang sebenar-benarnya. “Banyaknya impian yang dimiliki Muhammadiyah membentuk karakter yang fleksibel. Muhammadiyah bergerak dengan cara menyusun strategi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. mempersiapkan dengan matang dan dapat dirasakan hasilnya hingga saat ini,” ujarnya. Agung juga menjelaskan konsep kesejahteraan dalalm Muhammadiyah. Yakni bagaimana masyarakat dapat sejahtera dalam segi ekonomi maupun sosial. Maka dari itu, Muhammadiyah menyediakan berbagai macam akses, seperti pendidikan, lapangan pekerjaan, kesehatan, dan juga hak asasi manusia. “Muhammadiyah telah membuka berbagai macam akses untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera. Menariknya, itu semua bisa saya lihat di UMM. Pendidikannya jalan, adanya rumah sakit, banyaknya usaha yang dijalankan, dan lainnya,” katanya menjelaskan. Kia juga menegaskan, Muhammadiyah akan terus membuka akses lapangan pekerjaan demi menciptakan transformasi ekonomi. Berbagai usaha mikro, kecil, dna menengah (UMKM) serta unit bisnis harus senantiasa dinaikkan kualitasnya. Dengan begitu perputaran ekonomi masyarakat, utamanya Muhammadiyah bisa terus berputar. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE.,M.Si mengungkapkan bahwa Semarak Ramadhan merupakan budaya yang dilakukan rutin setiap tahun oleh Kampus Putih. Kajian ini dibuat untuk memberikan ideologi yang baik bagi masyarakat, khususnya masyarakat UMM. Sehingga mereka mendapatkan ilmu yang bisa diimplementasikan dalam meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari. “UMM selalu berupaya untuk berkontribusi dan menjadi pelopor di organisasi Muhammadiyah. Utamanya dalam mewujudkan impian melahirkan Islam yang sebenar-benarnya, berdasarkan perkembangan zaman,” jelasnya mengakhiri. (ri/wil)

Dosen UMM Jelaskan Penyebab Rendahnya Minat Masyarakat Gunakan PLTS

Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki sumberdaya alam berupa sinar matahari yang tak terbatas. Sayangnya, energi terbarukan satu ini masih belum banyak dimanfaatkan sebagai pilihan ketersediaan listrik masayarakat. Khusnul Hidayat, S.T., M.T. dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa ada beberapa faktor mengapa Pembangkit Listrik tenaga Surya (PLTS) belum banyak digunakan, baik di skala rumahan maupun industri. “Alasan pertama yaitu dari segi biaya, utamanya baterai hang menjadi tempat penyimpanan energi. Harga baterai cukup mahal dan lifetime-nya juga pendek,” ujarnya. Meski ini merupakan kendala utama, Khusnul menyampaikan bahwa hal ini dapat disiasati. Ia menuturkan, dulu pernah ada kebijakan KWH ekspor-impor atau regulasi  penjulan energi dari rumah atau industri yang menggunakan panel surya kepada pihak PLN. “Sayangnya kebijakan tersebut kini dihapus karena dari sudut pandang konsumen, hal itu sangat menguntungkan karena tidak perlu membeli baterai. Namun jika dilihat sari pihak PLN, maka hal itu merugikan. Beberapa hal diantaranya karena PLN mempunyai pembangkit yang jumlahnya banyak. Saat ini PLN juga sudah surplus listrik artinya mempunyai lebih dari cukup energi listrik untuk menyuplai kebutuhan di masyarakat. Maka mengapa harus membayar energi  jika listrik sudah terpenuhi,” jelasnya. Selain itu, jika banyak PLTS yang menjual energi kepada PLN, maka tentu akan menambah pekerjaan PLN untuk menyeimbangkan. Ini karena harus menyeimbangkan antara energi yang dibangkitkan dan energi yang dikonsumsi agar tetap aman. Selain itu juga agar tidak menyebabkan kerusakan pada komponen. Meski demikian, untuk daerah-daerah terpencil yang masih sulit dijangkau oleh PLN, biaya pemasangan PLTS lebih terjangkau dibandingkan dengan memasang instalasi listrik yang membutuhkan biaya lebih besar pada penarikan kabelnya. “Manfaat PLTS banyak, mulai penggunaanya yang tidak mengganggu lingkungan sampai dengan tegangan yang dihasilkan panel surya  yang tidak berbahaya. Ini karena jika menggunakan panel surya dan menggunakan sistem DC house, maka tegangan yang dihasilkan dari arus DC (Direct Current) kurang dari 100 Volt,” jelasnya. Sedangkan tegangan yang dihasilkan dari PLN adalah 220 V dimana sangat berbahaya jika berkontak langsung dengan manusia. Bahkah bisa menyebabkan kematian. Meski begitu, Khusnul memaparkan bahwa panel surya sendiri sudah mulai berkembang sejak 2013 lalu, harga instalasi juga sudah mulai menurun jika dibanding dengan 10 tahun yang lalu. Banyak industri maupun perumahan yang sudah mulai menginstal panel surya saat ini. Adapun sistem atau komponen umum yang ada pada panel surya adalah fotovoltaik (photovoltaic/panel surya), solar inverter yang merubah dari hasil panel surya tegangan DC menjadi AC (Alternating Current) dan baterai sebagai storage atau penyimpanan. “Ke depan, hrapannya  pemerintah lebih bijak dalam meningkatkan kontrak pembangkit listrik yang terbarukan demi menjaga lingkungan. Sebaliknya, untuk pembangkit listrik energi tak terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dari batu bara dan fosil, hendaknya bisa dikurangi agar PLTS bisa lebih berkembang. Selain itu, semoga akan ada kolaborasi penelitian dan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kajian terkait baterai storage,” tutupnya. (dit/wil)

Dosen UMM: Buku Penugasan Ramadan Berperan Bentuk Karakter Anak

Bagi anak-anak, Ramadan identik dengan buku aktivitas Ramadan. Mulai dari untuk keperluan laporan salat hingga tarawih. Terkait ini, Dr. Erna Yayuk, S.Pd., M.Pd dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan bahwa penugasan buku Ramadan sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Ini menjadi alat self-asessment untuk memantau perkembangan kegiatan keagamaan selama bulan Ramadan. “Melalui buku ini, guru, orang tua, atau wali dapat membimbing anak dalam mengikuti kegiatan Ramadan. Ini juga dapat meningkatkan kecerdasan spiritual anak, memperkuat rasa keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Puasa sebagai salah satu rukun Islam akan membentuk karakter tangguh, sabar, ikhlas dan solidaritas,” ujarnya. Tak hanya itu, Erna juga menuturkan bahwasanya buku aktivitas Ramadan dapat meningkatkan nilai-nilai karakter seperti jujur, tanggung jawab, toleransi dan empati. Anak juga akan mendapatkan pengetahuan agama yang meningkatkan kecerdasan intelektual melalui kajian-kajian pada bulan suci ini.  “Buku penugasan Ramadan menjadi alat efektif karena terdapat jadwal puasa, salat lima waktu dan tarawih yang perlu ditandai dengan tanda centang jika telah dilaksanakan. Ada juga kolom ceramah setelah salat tarawih yang perlu diisi dengan tema ceramah, nama penceramah dan tanda tangan. Biasanya Buku kegiatan Ramadan juga berisi laporan pelaksanaan salat wajib dan salat sunah selama bulan Ramadan,” katanya. Ada juga tadarus Al-Quran dengan menuliskan nama surat dan ayat yang dibaca dan tanda tangan pembimbing. Dengan mengisi buku kegiatan Ramadan dengan baik, anak-anak akan terbiasa menjalankan ibadah dan kegiatan keagamaan secara teratur dan tertib. Tidak hanya itu, buku aktivitas Ramadan juga berisi tugas-tugas yang membantu anak-anak memahami dan mengembangkan disiplin diri serta pengendalian diri. Tugas-tugas ini termasuk menjalankan puasa untuk memahami kesabaran, membuat jadwal harian untuk menghargai waktu dan mengikuti aturan dalam keluarga atau sekolah untuk menghormati otoritas. “Buku Ramadan membantu meningkatkan karakter jujur dan tanggung jawab pada anak-anak. Mengajarkan mereka untuk mempraktikkan nilai-nilai seperti keteladanan dan pembiasaan sejak dini. Selain itu, buku ini juga memupuk sikap peduli melalui puasa, mengajarkan toleransi terhadap orang lain yang sedang berpuasa, serta meningkatkan rasa empati dan simpati terhadap sesama. Melalui pengalaman menahan haus dan lapar, anak-anak belajar menghargai nikmat yang dimiliki dan menjadi lebih peduli terhadap sesama yang kurang mampu, memperkuat sikap sosial dan kemanusiaan mereka,” tandas Erna. Di akhir, Erna mengajak para orang tua untuk turut aktif mendampingi anak-anak selama bulan Ramdan termasuk dalam mengisi buku aktivitas Ramadan anaknya. Buku itu menjadi media penting dalam mendidik individu tentang adat istiadat dan praktik terkait Ramadan serta nilai-nilai karakter dalam Islam. Buku ini juga menyoroti kemampuan anak dalam beradaptasi dengan Ramadan, perannya dalam perubahan sosial dan inovasi budaya, serta pentingnya promosi kepedulian sosial. “Dengan pendampingan orang tua, buku Ramadan berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan, pemahaman, serta mempromosikan keadilan sosial dan ekonomi dalam komunitas anak-anak muslim,” pungkasnya. (bal/wil)

Safari Ramadan UMM: Kolaborasi Jadi Kunci Cetak Generasi Unggul

Dalam kehidupan sosial, sering kali muncul perbedaan pendapat dan kesalahpahaman. Hal ini dapat dipicu lantaran adanya perbedaan tingkatan sosial atau perbedaan pemikiran antar satu sama lain. Contoh kecilnya seperti di lingkungan pendidikan, yakni ketika dosen memberikan tugas namun mahasiswa belum memahinya dengan baik. Dibalik hal ini, sebenarnya perbedaan dapat diatasi dengan adanya kolaborasi. Hal itu disampaikan Prof. Dr. Drs. Joko Widodo, M.Si. selaku Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Safari Ramadan UMM 21 Maret lalu. Menurutnya, setiap generasi memiliki budaya dan cara bersosial yang berbeda. Namun, hal ini bukan malah menjadi ajang untuk saling menyalahkan dan membandingkan. Namun, perbedaan ini dapat dijadikan sebuah momen untuk membentuk sikap dan budaya baru yang dinamakan kolaborasi. “Ada yang bilang bahwa setiap generasi itu membawa zamannya sendiri-sendiri. Dengan adanya kolaborasi dan keteladanan, Insyaallah kita dapat bertransformasi ke arah yang lebih baik,” tambahnya. Lebih lanjut, setiap generasi memiliki tantangan model yang berbeda. Contohnya jika pada generasi junior atau gen Z saat ini banyak yang terbawa arus berlebihan, tidak hormat kedua orang tua, memiliki tingkat pengetahuan tinggi, dan mengikuti perkembangan teknologi. Lain halnya dengan generasi senior yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur namun kurang mengerti perkembangan teknologi. Artinya, bukan berarti salah satu generasi lebih unggul di antara lainnya, namun hal ini dapat digunakan sebagai ajang untuk menumbuhkan kultur baru. Terkadang, risiko dalam berkolaborasi ialah karakter setiap orang yang bermacam-macam. Maka sikap saling mengenal bisa meminimalisir gesekan antar orang. Ini menjadi kunci utama dalam membangun relasi. Untuk itu, generasi senior perlu mempersiapkan cara untuk menghadapi generasi muda sesuai zamannya. “Jangan sampai cara yang digunakan itu dapat membelenggu generasi junior untuk mengembangkan potensinya. Sebagai contoh, terkadang orang tua yang protektif dan tidak memperbolehkan anak mengejar impiannya. Jika hal ini diteruskan maka yang ada anak tersebut menjadi tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan dan hanya bergantung pada orang tuanya saja,” katanya. Selain itu, Joko mengatakan, jangan sampai generasi senior mendidik anak muda dengan prinsip transaksional. Maksudnya adalah dengan menerapkan prinsip perhitungan terhadap apa yang telah dilakukan. Sebagai contoh, ketika melakukan kebaikan, kita juga mengharapkan imbalan dari orang yang kita tolong tersebut. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si menyampaikan bahwa Safari Ramadan diharapkan mampu memperkuat tali silaturami antar anggota sivitas UMM. Menjalin silatrahmi demi mencetak generasi unggul berwawasan Islam kemuhammadiyahan. Hal ini akan membawa transformasi UMM yang mengedepankan nilai-nilai keislaman juga teknologi untuk membentuk karakter generasi muda yang unggul. “Terakhir, harapannya Safari Ramadhan ini dapat menjadi pegangan sivitas akademika UMM untuk  melakukan transformasi sehingga mampu mencapai keberhasilan mengelola pendidikan perguruan tinggi,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)

War Takjil Tanda Toleransi? Ini Penjelasan Dosen UMM

Akhir-akhir ini sosial media dipenuhi dengan konten yang disebut dengan ‘War Takjil’. Dari konten tersebut, kita tahu bahwa takjil tidak hanya digemari oleh masyarakat muslim yang berpuasa. Namun juga populer dan digemari oleh masyarakat non-muslim. Hal ini, membuat suasana Ramadan menjadi lebih cair dan ceria. Di lain sisi, peringatan hari besar agama lain cenderung tidak seceria bulan Ramadan. Bahkan sering muncul pertanyaan dan pernyataan provokatif, milsanya terkait pengucapan selamat natal. Apakah ini termasuk intoleran? Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D. selaku dosen program studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa takjil tidak berdimensi agama ritual, namun lebih ke kedermawaan sosial. Sehingga, kelompok non Islam pun bisa masuk dan tidak ada beban untuk menikmatinya. “Jika masalah ucapan hari raya natal ini tergantung individunya. Cukup hormati dan hargai perayaan agama lain dengan tidak mengecamnya,” ucapnya. Lalu bagaimana agar hari perayaan agama itu bisa sama-sama dinikmati oleh agama lain? Menurut Rachmad, agama lain harus membuka ruang publik sehingga semua agama bisa turut terlibat dalam suasana saling menghormati dan penuh kegembiraan. Tetapi pemerintah memang butuh tindakan yang hati-hati, agar tidak masuk wilayah keyakinan personal. Kemudian, perlu ide pemerintah untuk membangun inklusivitas. Pemerintah bisa menyediakan  kelembagaan yang bernama rumah bersama antar umat beragama. Forum tersebut harus produktif, menghasilkan kerja-kerja kolektif yang inklusif. Sehingga, semua kelompok bisa terlibat tanpa menyentuh aspek-aspek asasian atau aspek personal agama tersebut. Jika rutin bertemu, tidak akan muncul kecemburuan, superioritas, dan merasa agama yang paling bagus. “Jika telah mengalami kelembagaan, kelak akan cair dengan sendirinya. Kalau kita tidak pernah bertemu dengan penganut agama lain dan memiliki tafsir tersendiri terhadap mereka, nanti akan mudah terprovokasi,” jelasnya. Sejak kecil, anak jangan di sosialisasikan seakan-akan agamanya lebih bagus dan dikomparasikan dengan agama lain. Jika dibandingkan, maka bisa memicu permusuhan. Konstruksi sosial mengenai agama perlu di bangun sejak kecil dan dimulai dari lembaga keluarga. Dengan itu, Rachmad berharap tidak akan ada keluarga yang mengalami disorganisasi atau fungsi fungsi yang hilang antar hubungan orang tua dengan anak. Contohnya, orang tua terlalu sibuk bekerja sehingga dititipkan kepada orang lain. Jika seperti itu, maka mereka tidak bisa mengontrol sang anak dengan baik. Padahal keluarga menjadi tempat pertama dalam mengajarkan toleransi. (dev/wil)

Cerita Alumnus UMM Berpuasa di Hungaria

Tidak nikmat jika berpuasa tak ditemani dengan cuaca terik panas di siang hari. Apalagi, berburu takjil kala sore menjadi pilihan utama untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman. Tapi berbeda dengan suasana bulan puasa di negara lain. Mulai dari perbedaan budaya, kebiasaan, hingga cara menjalankan ibadah suci di bulan Ramadan ini. Sama seperti yang dirasakan oleh Hesti Miranda, alumnus Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tengah menjalani bulan Ramadan di Eropa Tengah yaitu Hungaria. Sebagai informasi, saat ini ia merupakan mahasiswa doktoral tingkat akhir di University of Debrecen, Hungaria dengan mengambil jurusan Educational Science. Hesti menyampaikan, bahwa perbedaan yang sangat kentara saat bulan Ramadan ini adalah dari sisi musim, waktu, makanan, ibadah. “Kebetulan saat ini sedang musim semi, jadi puasa lebih nyaman dan tidak terlalu panas. Berkat musim ini pula, durasi puasanya juga tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Sayangnya, di sini tentu tentu tidak ada takjil sebagaimana di Indonesia. Jadi kalau ingin makan gorengan, mau tidak mau harus bikin sendiri,” katanya. Uniknya, dalam menjalani ibadah puasa faktor yang paling mendukung adalah cuaca. Jika di Indonesia musim yang paling cocok adalah musim panas, namun di Hungaria musim yang paling cocok adalah musim dingin dan musim semi. Karena pada saat itu suhu masih terbilang dingin, sehingga panas matahari tidak terlalu terik dan aktivitas menjadi lebih fleksibel. Selain itu, perbedaan mencolok lainnya adalah tidak adanya penjual di pinggir jalan yang menjajakan takjil mereka. Maka dari itu, Hesti menyiasati jika ingin memakan takjil ia harus harus usaha lebih untuk membuat takjil sendiri. Sementara untuk tempat ibadah, Hungaria memiliki masjid namun tidak menyelenggarakan ibadah tarawih. Sehingga, ketika akan melaksanakan tarawih, Hesti biasanya mengikuti sholat tarawih yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) atau dengan sholat di rumah salah satu teman Indonesianya. “Sebenarnya tak jauh beda dengan di Indonesia, namun disini hanya cuacanya saja yang mendukung kami para muslim untuk berpuasa,” tambahnya. Walaupun suhu udara saat di Hungaria saat ini kurang lebih 5 derajat celcius, namun Hesti merasakan kehangatan dari teman sekelasnya. Hal ini terjadi karena teman sekelas Hesti yang beragama non-muslim terkadang memberinya makanan asli Hungaria untuk berbuka puasa. Selain itu, hal menarik lainnya adalah tingginya toleransi yang ia rasakan, paling tidak di lingkungannya. Misalnya saat teman-temannya berusaha untuk tidak makan di depannya dan tidak lagi mengajaknya makan di siang hari karena tahu bahwa ia sedang berpuasa. (tri/wil)

Ramadan Ceria UMM, Ajak Komunitas Difabel Sahur Bersama

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melangsungkan program Ramadan Ceria. Kali ini, tim UMM bersama Hotel Kapal Garden Hotel menyambangi dan mengajak sahur bersama teman-teman difabel di Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin). Selain itu, agenda yang dilaksanakan pada 21 Maret di daerah Soekarno Harra itu juga menyediakan games-games asyik, materi tentang kebencanaan dari mahasiswa relawan siaga bencana (Maharesigana) UMM, hingga pembuatan konten bersama. Ketua Komunitas Tuli Mendongeng & Gerkatin Kota Malang Muhammad Hasanuddin, S.Par. merasa senang karena sudah dikunjungi dan diperhatikan oleh Kampus Putih UMM. Ia juga mengapresiasi materi tentang kebencanaan yang diberikan. Hal itu tak lepas dari bingungnya teman-teman difabel saat terjadi bencana, misalnya gempa bumi. Ia juga kesulitan untuk memberi tahu teman-teman difabel untuk segera mencari tempat aman jika gempa terjadi. Maka, kehadiran UMM memberikan wawasan baru yang bermanfaat. “Kami juga akhirnya tahu bahwa sangat penting untuk menyepakati titik kumpul ketika bencana terjadi. Sehingga teman-teman juga bisa langsung bergerak tanpa kebingungan,” jelasnya. Lebih lanjut, ia juga senang melihat teman-teman difabel antusias mengikuti berbagai permainan asyik dari UMM. Ia berharap agar silaturahmi yang dibangun bisa terus terjalin. Tidak hanya berhenti di sahur bersama saja, tapi juga dengan berbagai kegiatan lain. Di sisi lain, koordinator dari UMM Silvia Ramadhani mengatakan bahwa Ramadan Ceria melalui sahur bersama sudah terlaksana sejak awal Ramadan di beberapa titik di Malang. Kegiatan ini juga akan terus dilaksanakan sampai bulan suci berakhir. “Kemarin kami sudah berkunjung dan sahur bersama warga Kampung Warna Warni Jodipan, berkolaborasi dengan seniman jalanan dan berbuka di daerah Blimbing, dan lainnya. Semoga hal ini bisa memberikan manfaat dna juga menjadi syiar ke masyarakat luas,” tambahnya. Selain itu, ada sederet menu yang juga disajikan oleh Hotel Kapal Garden UMM dalam kegiatan itu. Mulai dari kari ayam, sayuran, lauk-pauk, dan lainnya. Begitupun dengan games dan sesi cerita menarik dengan bahasa isyarat. Adapun kegiatan ini juga sejalan dengan penjelasan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si yang menekankan pada kesalehan sosial dan kesalehan lingkungan. Yakni bagaimana seseorang bisa memaksimalkan potensi untuk berbagi dan menebar manfaat ke sesama. Hal itu juga yang dilaksanakan Kampus Putih UMM melalui berbagai program dan dilakukan di banyak lokasi. (wil)

Datangkan Ahli Filsafat Kondang, Tabligh Akbar UMM Beri Tips Raih Level Tertinggi Manusia

Hidup manusia itu dikendalikan oleh dua hal, yang pertama adalah nafsu dan kedua adalah pikiran. Ketika nafsu dan pikiran tidak dapat di tahan, maka kehidupan seseorang akan hancur. Hal ini yang disampaikan oleh Dr. H Fahruddin Faiz, M.Ag selaku ahli filsafat dan dosen Fakultas Ushuludin serta Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia hadir dan menjadi pembicara pada acara Tabligh Akbar Semarak Ramadhan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 19 Maret 2024 lalu. Dalam kajian yang bertema ‘Konsep Beramal dan Berjuang untuk Perdamaian dan Kesejahteraan Umat’ itu, ia mengatakan ada tiga penggolongan kategori manusia dalam menjalani kehidupan. Tiga golongan tersebut dibagi menjadi nafsu dari perut ke bawah, nafsu dari dada hingga leher, dan nafsu pada akal. Pertama adalah nafsu bagian perut kebawah. Ciri orang seperti ini biasanya mencari kesenangan dan kebutuhan ‘enak’ saja. Orang dengan kebutuhan seperti ini hanya mengejar kebutuhan perut ke bawah saja. “Orang dengan tipe seperti ini biasanya hanya mengejar kesenangan dan kenyamanan. Ketika mereka tidak bisa mengontrol hal tersebut, maka yang ada hanya rasa lelahnya saja,” ucap ahli filsafat itu. Golongan kedua adalah kategori manusia yang memiliki nafsu di bagian dada hingga leher. Menurut Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin, golongan ini biasanya memiliki ambisi yang kuat untuk mengejar cita-cita atau kuasa. Kekurangannya, orang yang memiliki nafsu ini sangat ingin unggul dari orang lain. Mereka akan mengandalkan ambisinya untuk mencapai kedudukan puncak dengan menghalalkan cara apapun. Golongan ketiga yaitu nafsu yang dipengaruhi akal. Menurut Fahrudin, akal merupakan bagian paling canggih yang Allah SWT ciptakan. Akal memiliki kendali untuk memutuskan benar dan salah. “Akal itu dapat menjadi kendaraan, jika kendaraan tersebut digunakan untuk hal positif maka akan menjadi positif. Berlaku juga sebaliknya, jika kendaraan tersebut digunakan untuk hal negatif, maka kendaraan terebut menjadi negatif juga,” tambahnya. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa level tertinggi menjadi seorang manusia adalah ketika memiliki cinta tanpa syarat. Maksudnya adalah, ketika kita mencintai seseorang, maka kita tidak akan membiarkan perilaku buruk menimpa orang yang kita cintai. Untuk itu, penting agar manusia mengontrol nafsu yang ada pada dirinya. Ada beberapa cara yang diajarkan oleh Imam Ghozali untuk mengontrol setiap nafsu. Di antaranya yakni dengan iffah atau menjaga kehormatan untuk menjaga nafsu perut kebawah, sajja’ah atau tidak ikut-ikutan untuk menjaga nafsu dada hingga leher, dan hikmah atau memberi makna pada setiap hal yang dilakukan untuk menjaga nafsu pada akal. Terakhir, Fahrudin memberi wejangan kepada jamaah terkait tiga kunci utama untuk menjadi manusia yang memiliki kesehatan berpikir demi perdamaian dan kesejahteraan sosial. Tiga tipsnya adalah dengan dengan jihad, mujahadah, dan ijtihad. “Jihad yaitu dengan kerja keras, ijtihad dengan kerja cerdas, dan mujahadah yaitu bermunajat kepada Allah SWT. Ketika ketiga kunci itu diamalkan, maka Insya Allah akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya dan orang di sekitarnya,” tegasnya mengakhiri. (tri/wil)