Penyalahgunaan Gas N₂O Marak, Dokter Anestesi UMM Ingatkan Ancaman Kesehatan hingga Kematian

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Penggunaan gas dinitrogen oksida (N₂O) di luar keperluan medis dan industri kuliner, khususnya sebagai bahan pembuat whipped cream, menyimpan risiko kesehatan serius yang kerap luput dari perhatian. Dalam dunia kedokteran, N₂O merupakan bagian dari praktik anestesi dengan penggunaan yang sangat ketat dan terkontrol. Namun belakangan, gas ini justru disalahgunakan untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Tanpa pengawasan tenaga medis, paparan N₂O dapat mengganggu proses pertukaran oksigen di paru-paru, memicu hipoksia atau kekurangan oksigen dalam tubuh yang berpotensi berujung pada gangguan pernapasan hingga kematian mendadak. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI., menjelaskan bahwa gas yang terkandung dalam tabung whipped cream sejatinya adalah N₂O, yang dalam dunia medis dikenal sebagai “gas tertawa”. Namun, menurutnya, efek N₂O tidak sesederhana yang dibayangkan masyarakat. “N₂O memicu pelepasan hormon endorfin, hormon yang efeknya menyerupai morfin. Inilah yang menimbulkan sensasi nyaman, rileks, dan euforia ringan. Sensasi tersebut sering kali membuat pengguna merasa aman, padahal justru menutupi risiko fisiologis yang berbahaya bagi sistem pernapasan,” jelasnya saat diwawancarai Tim Humas UMM, 2 Februari lalu. Dokter anestesi dan terapi intensif di Rumah Sakit UMM itu menegaskan bahwa dalam praktik kedokteran, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas tersebut selalu dikombinasikan dengan oksigen dan anestesi lain dalam dosis terukur. Penggunaannya pun dilakukan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien. Fungsi N₂O dalam dunia medis adalah sebagai analgesik untuk meredakan nyeri dan ansiolitik untuk memberikan efek menenangkan, bukan sebagai zat rekreasional. Masalah serius muncul ketika N₂O dihirup dalam kadar 100 persen tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan dokter. Menurut dr. Shonif, N₂O memiliki sifat mudah berdifusi dan cepat mengisi ruang kosong, termasuk di paru-paru. “Saat penggunaan N₂O dihentikan, gas yang telah masuk ke dalam tubuh akan berdifusi keluar dengan cepat dan menumpuk di paru-paru. Kondisi ini membuat oksigen gagal masuk ke aliran darah karena paru-paru sudah dipenuhi N₂O,” paparnya. Akibat terganggunya pertukaran oksigen tersebut, kadar oksigen dalam darah dapat turun drastis atau mengalami desaturasi. Dalam hitungan menit, kondisi ini bisa menyebabkan penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu yang memiliki gangguan jantung laten yang belum terdeteksi sebelumnya. Fenomena penyalahgunaan N₂O juga mencerminkan bagaimana informasi kesehatan kerap tereduksi ketika masuk ke ruang publik dan media sosial. Gas ini kerap dipersepsikan sebagai barang legal dan aman, tanpa pemahaman ilmiah yang memadai mengenai risikonya. Minimnya narasi risiko membuat praktik tersebut tampak tidak berbahaya, padahal dampaknya bisa fatal. Hal ini menunjukkan masih adanya celah besar dalam edukasi kesehatan publik, khususnya terkait zat medis dengan penggunaan yang sangat spesifik. Selain risiko jangka pendek, dr. Shonif juga mengingatkan dampak jangka panjang dari penyalahgunaan N₂O. Paparan berulang dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. “Akibatnya, pengguna berisiko mengalami gangguan neurologis seperti nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan yang terjadi secara perlahan. Dampak ini sering tidak disadari karena muncul dalam jangka panjang dan tidak langsung terasa,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa penggunaan gas medis seperti N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih dengan pengawasan ketat serta dukungan alat bantu pernapasan yang memadai. Gangguan pertukaran oksigen di paru-paru, meski hanya berlangsung beberapa menit—terutama lebih dari empat menit—dapat berakibat fatal, khususnya pada individu dengan gangguan jantung atau pernapasan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Oleh karena itu, fenomena penyalahgunaan gas whipped cream atau whip pink menjadi peringatan penting bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang dapat mengancam keselamatan jiwa. (*)

Berdayakan PMI Purna di Blitar, Dosen UMM Inisiasi Kelompok Usaha Ecoprint

Liputanjatim.com – Tim Dosen Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) berinisiasi membentuk kelompok usaha batik ecoprint bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) purna dinilai sebagai langkah strategis dalam mendorong kemandirian ekonomi berbasis komunitas. Dosen asal UMM Tutik Sulistyowati ini menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang bukan hanya sebagai pelatihan keterampilan, tetapi sebagai skema pemberdayaan jangka panjang yang berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat desa. Menurut Tutik, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa usaha yang dikelola secara individual sering kali menemui berbagai kendala, mulai dari keterbatasan modal, akses pasar, hingga keberlanjutan produksi. Kondisi inilah yang melatarbelakangi pendekatan berbasis kelompok sebagai model yang lebih berdaya guna. “Oleh karena itu, pendekatan usaha berbasis kelompok akan lebih efektif karena memungkinkan untuk bekerjasama, membagi peran, serta penguatan solidaritas sosial. Jadi, ini akan menjadi ruang untuk saling mendukung dan berkembang bersama,” jelas Tutik di Balai Desa Tapakrejo Blitar, Rabu (4/2/2026). Sebagai langkah antisipatif agar usaha tidak berhenti di tengah jalan, tim pendamping menerapkan sistem belajar kolektif dalam pengelolaan keuangan, pengambilan keputusan, dan perencanaan bisnis jangka panjang. Model ini diharapkan mampu membangun kapasitas anggota kelompok secara berkelanjutan. Pemilihan ecoprint sebagai fokus usaha juga bukan tanpa alasan. Teknik ini dinilai ramah lingkungan, memanfaatkan sumber daya lokal, serta memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai usaha rumahan yang bernilai ekonomi tinggi. “Ecoprint bukan sekadar produk seni, tetapi juga memiliki potensi yang menjanjikan jika dikelola secara kolektif dan berkelanjutan,” ujar Tutik. Dalam praktiknya, anggota kelompok menerapkan sistem produksi bersama dengan pembagian tugas yang lebih terstruktur, mulai dari penyediaan bahan baku, proses pembuatan, hingga strategi pemasaran. Ke depan, program ini akan diperkuat dengan pendampingan lanjutan, pengembangan inovasi produk, serta pemanfaatan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar. “Bagaimana pun, strategi digitalisasi ini menjadi penting agar produk batik ecoprint mampu bersaing dan menjangkau konsumen yang lebih luas,” kata ketua tim tersebut. Pemerintah desa menyambut positif inisiatif ini dan berkomitmen memberikan dukungan agar kelompok usaha dapat berjalan konsisten serta berkontribusi pada peningkatan ekonomi lokal. “Tentunya, dukungan desa menjadi modal sosial yang penting agar kelompok usaha ini tumbuh sebagai penggerak ekonomi lokal. Apabila dikelola dengan pendampingan berkelanjutan, kelompok usaha batik ecoprint dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat desa secara lebih luas. Jadi, tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pendapatan PMI purna saja,” Tutik menerangkan. Tutik menegaskan bahwa pembentukan kelompok usaha dan pelatihan ecoprint merupakan fondasi awal pemberdayaan masyarakat. Keberlanjutan melalui pendampingan, inovasi, dan digitalisasi menjadi kunci agar program ini benar-benar memberikan dampak sosial-ekonomi yang berkelanjutan bagi PMI purna dan masyarakat desa.

Menapaki Jalan Pengabdian dari Keperawatan ke Militer, Alumnus UMM Berkiprah sebagai Perwira TNI

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Lulusan bidang kesehatan tidak selalu menapaki karier di rumah sakit atau fasilitas layanan medis. Bagi sebagian alumni, bekal keilmuan dan nilai yang diperoleh selama perkuliahan justru mengantarkan mereka pada ruang pengabdian yang lebih luas. Salah satunya adalah Letda Ckm Rizki Hasan Hafizdin, S.Kep., Ns., alumnus Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang memilih jalur pengabdian sebagai Perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) usai menyelesaikan pendidikan profesi pada 2024. Dalam menjalankan perannya sebagai perwira kesehatan, Rizki merasakan bahwa penguasaan soft skill menjadi aspek yang tak kalah penting dibandingkan kompetensi teknis keperawatan. Kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta public speaking yang terasah sejak masa kuliah—baik melalui presentasi akademik maupun kegiatan organisasi—dirasakannya sangat membantu dalam pelaksanaan tugas di lapangan. Menurutnya, kesiapan mental, kondisi fisik yang prima, dan niat yang kuat merupakan fondasi utama bagi mahasiswa yang ingin berkarier di lingkungan militer. Ia menilai bahwa keterampilan teknis dapat terus diasah seiring waktu, namun karakter dasar harus dibangun melalui proses panjang sejak masih berada di bangku perkuliahan. “Kuncinya ada di niat, mental, dan fisik. Kalau itu sudah kuat, hal-hal lain bisa dipelajari. Kampus memberi ruang untuk proses itu, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya,” ujarnya. Rizki juga menegaskan bahwa UMM tidak hanya berperan sebagai institusi akademik, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter yang mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia pengabdian dengan tuntutan disiplin dan ketahanan mental yang tinggi. Ia menilai sistem pembelajaran di Program Studi Keperawatan UMM mampu mengintegrasikan penguasaan akademik dengan pembentukan sikap profesional. Dukungan dosen, lingkungan fakultas yang kondusif, serta kultur akademik yang terjaga dinilainya menjadi fondasi penting selama proses pendidikan. Komitmen UMM dalam menjaga mutu pendidikan pun tercermin dari akreditasi program studi serta pendekatan pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja. “Selama kuliah, kami tidak hanya dituntut memahami teori keperawatan, tetapi juga dibiasakan disiplin, bertanggung jawab, dan tepat waktu. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini sangat terasa manfaatnya ketika saya masuk ke lingkungan TNI,” ungkapnya. Tak hanya di bidang akademik, pengalaman berorganisasi turut membentuk kematangan diri Rizki. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA). Peran tersebut, menurutnya, menjadi sarana penting dalam melatih kepemimpinan, kemampuan komunikasi, serta pengelolaan dinamika tim yang beragam. Melalui aktivitas organisasi, ia belajar berinteraksi dengan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa hingga pimpinan fakultas. Proses berdiskusi, menyelesaikan konflik, membangun kerja sama, serta menjaga etika komunikasi menjadi bekal berharga yang kini relevan dengan tugasnya sebagai perwira kesehatan di lingkungan militer. “Organisasi itu mendewasakan. Kita belajar problem solving, public speaking, dan mengelola emosi. Hal-hal ini sangat terpakai, terutama ketika bekerja dalam sistem yang hierarkis dan penuh tanggung jawab seperti di TNI,” jelasnya. Menutup kisahnya, Rizki berpesan kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu untuk aktif di luar kelas dan menjalani proses pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Ia menilai perpaduan antara prestasi akademik dan pengalaman organisasi menjadi nilai tambah yang membentuk kesiapan lulusan dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan pengabdian. “UMM selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya. Itu yang membuat lulusannya siap bersaing dan berkontribusi di berbagai bidang,” pungkasnya.(*)

Industri Hiburan Kian Marak, Sosiolog UMM Pertanyakan Status Malang sebagai Kota Pendidikan

KLIKMU.CO – Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di titik persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial membentuk wajah baru kota yang kian lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota, tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dalam perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Wahyudi Winarjo MSi menilai Malang sejak lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah menjadikan Malang sebagai ruang sosial yang dinamis. Namun, mahasiswa tidak hanya membawa kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Kamis (30/1/2026). Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan oleh logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Ketika kontrol sosial melemah, seseorang akan menilai baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi memang harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal, sementara ruang nonformal untuk mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Kondisi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang ini perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” tambahnya. Dia menegaskan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Kota Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi. (Faqih/AS)

Mahasiswa KKN UMM Sinau Budaya di KBP

Mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 sinau budaya di Kampung Budaya Polowijen, Malang (Foto: RRI/Mey) RRI.CO.ID Malang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 14 kembali melaksanakan kegiatan Sinau Budaya pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran kontekstual mahasiswa dalam mengenali, memahami, dan memaknai kekayaan seni serta budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat. Pada sesi Sinau Budaya siang hari, mahasiswa mendapatkan materi bertema “Mengenal Ragam Kerajinan Tradisional Malang” yang disampaikan oleh Sulaihah, S.Sos., S.Pd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai jenis kerajinan tradisional khas Malang, mulai dari teknik pembuatan, bahan yang digunakan, nilai filosofis, hingga peluang pengembangan kerajinan sebagai produk ekonomi kreatif berbasis budaya. “Ragam kerajinan tradisional di Malang sangat beragam, berakar dari budaya lokal yang kental dan keterampilan tangan pengrajin, meliputi batik, topeng, keramik, gerabah, payung kertas, wayang, kedang hingga anyaman. Dan tersebar di banyak wilayah,” jelasnya. Sulaihah menekankan bahwa kerajinan tradisional tidak sekadar benda estetik, melainkan representasi cara pandang hidup masyarakat. “Setiap kerajinan memiliki cerita, nilai kesabaran, ketekunan, dan filosofi hidup orang Jawa. Jika generasi muda memahami maknanya, maka pelestarian budaya tidak akan berhenti hanya pada bentuk, tetapi juga pada ruhnya,” ungkapnya. Mahasiswa KKN UMM mendapatkan materi dari Sulaihah, S.Sos., S.Pd, terkait ragam budaya kota Malang (Foto: RRI/Mey) Selain menyampaikan materi, Sulaihah juga membagikan kisah inspiratif perjalanan berkesenian yang telah membawanya mempromosikan dan memasarkan karya kerajinan ke berbagai negara. Pengalaman tersebut membuka wawasan mahasiswa bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitasnya. Kegiatan Sinau Budaya ini turut didampingi oleh Mbah Jo, budayawan Kampung Budaya Polowijen, yang memperkaya diskusi dengan perspektif lokal. Ia menegaskan pentingnya proses sinau atau belajar langsung dari pelaku budaya. “Budaya itu tidak cukup dipelajari dari buku. Harus disentuh, dipraktikkan, dan dirasakan bersama masyarakat agar nilai-nilainya benar-benar hidup,” tutur Mbah Jo. Diskusi berlangsung interaktif. Salah satu mahasiswa KKN, Shela Putri, mengajukan pertanyaan terkait strategi pemasaran kerajinan tradisional, khususnya mengenai penentuan target pasar. Ia juga menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan tersebut. “Bu Sulaihah menyampaikan materi dengan sangat menyenangkan dan interaktif. Kami jadi paham bahwa kerajinan tradisional tidak hanya soal seni, tapi juga peluang ekonomi dan identitas budaya,” ujarnya. Selain Sinau Budaya, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 juga memproduksi berbagai konten budaya bertema makanan tradisional. Mahasiswa mendokumentasikan proses pembuatan ketupat, lepet, dan lontong, yang dikaitkan dengan tradisi selametan kupatan. Konten ini dirancang agar dapat digunakan sebagai media edukasi budaya, khususnya menjelang momentum Hari Raya Idulfitri. Tak hanya itu, mahasiswa juga mengangkat pembuatan jajanan tradisional seperti cenil, lemet, serta aneka jajanan pasar lainnya sebagai bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional yang mulai jarang dikenal generasi muda. Konten-konten tersebut diharapkan dapat menjadi arsip digital sekaligus sarana promosi budaya berbasis media kreatif. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan atap dari alang-alang, sebagai bentuk pembelajaran langsung mengenai teknik bangunan tradisional yang ramah lingkungan dan sarat nilai kearifan lokal. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 tidak hanya sinau budaya, tetapi juga memaknai budaya sebagai identitas, pengetahuan, dan potensi masa depan. Dengan pendekatan edukasi dan konten kreatif, mahasiswa berharap dapat turut berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Malang agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi selanjutnya. (Mey)

Dosen UMM Berdayakan Pekerja Migran di Blitar Usaha Batik Ecoprint

DETIK.COM – Blitar – Tim Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berdayakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) purna kembangkan ekonomi kreatif melalui program bertajuk Pembentukan Kelompok Usaha Batik Ecoprint. Pengabdian yang berfokus pada penguatan kemandirian ekonomi masyarakat desa ini dilakukan di Balai Desa Tapakrejo, Blitar, Jawa Timur. Diketuai oleh Dosen Sosiologi UMM Tutik Sulistyowati bersama anggota tim Wehandaka Pancapalaga, pembentukan kelompok usaha Batik Ecoprint menyasar tiga dusun berbeda, yaitu Dusun Sumbermangku, Dusun Mangkurejo dan Dusun Tapakrejo Krajan. Dalam pelaksanaannya, program ini diikuti 15 orang PMI purna yang terbagi dalam tiga kelompok usaha. “Program ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi pekerja migran purna sekaligus sebagai upaya nyata untuk mendorong keberlanjutan ekonomi berbasis potensi lokal, khususnya kaum ibu,” tutur Tutik, Rabu (4/2/2026). Tutik menyebut, agenda tersebut bukan sekadar seremonial semata, melainkan sebagai pintu masuk bagi proses pemberdayaan yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Berdasarkan pengalaman empiris, Tutik menyebut bahwa usaha yang dijalankan secara individu kerap menghadapi keterbatasan, baik dari sisi modal, pemasaran, maupun keberlanjutan produksi. “Oleh karena itu, pendekatan usaha berbasis kelompok akan lebih efektif karena memungkinkan untuk bekerjasama, membagi peran, serta penguatan solidaritas sosial. Jadi, ini akan menjadi ruang untuk saling mendukung dan berkembang bersama,” jelas Tutik. Untuk mengantisipasi dalam merintis usaha agar tidak berhenti di tengah jalan, Tutik bersama timnya menerapkan model kelompok usaha sebagai sarana belajar bersama dalam pengelolaan keuangan, pengambilan keputusan, dan perencanaan usaha jangka panjang. Pemilihan usaha berupa Ecoprint itu sendiri didasari oleh karakternya yang ramah lingkungan, memanfaatkan bahan lokal, serta relatif mudah untuk dikembangkan sebagai usaha skala rumah tangga. “Ecoprint bukan sekadar produk seni, tetapi juga memiliki potensi yang menjanjikan jika dikelola secara kolektif dan berkelanjutan,” ujar Tutik. PMI yang tergabung dalam kelompok usaha ini melaksanakan sistem produksi bersama di mana pembagian tugas akan dapat dilakukan secara lebih efisien, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga pemasaran. Ke depannya, Tutik menjelaskan bahwa pengembangan usaha ini nantinya diarahkan pada pendampingan lanjutan, inovasi produk, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar. “Bagaimana pun, strategi digitalisasi ini menjadi penting agar produk batik ecoprint mampu bersaing dan menjangkau konsumen yang lebih luas,” kata ketua tim tersebut. Program pemberdayaan ini mendapatkan respons positif dari pemerintah desa dengan harapan keberadaan kelompok usaha batik ecoprint ini dapat berjalan secara konsisten dan memberikan dampak nyata. “Tentunya, dukungan desa menjadi modal sosial yang penting agar kelompok usaha ini tumbuh sebagai penggerak ekonomi lokal. Apabila dikelola dengan pendampingan berkelanjutan, kelompok usaha batik ecoprint dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat desa secara lebih luas. Jadi, tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pendapatan PMI purna saja,” Tutik menerangkan. Oleh karena itu, Tutik menegaskan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan kelompok usaha dan pelatihan ecoprint merupakan langkah awal yang strategis. Keberlanjutan program melalui pendampingan, pengembangan usaha, dan digitalisasi menjadi kunci agar tujuan pemberdayaan benar-benar tercapai serta dapat memberikan dampak sosial-ekonomi yang positif bagi PMI purna dan masyarakat desa.

Solar Powered Automatic Irrigation: Solusi Cerdas Mahasiswa UMM untuk Pertanian Masa Depan

Solar Powered Automatic Irrigation System Sketsamalang.com – Kepekaan terhadap persoalan lingkungan menjadi pemantik lahirnya inovasi di lingkungan kampus. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan Solar Powered Automatic Irrigation System, sebuah alat irigasi tetes otomatis berbasis energi surya. Inovasi yang lahir dari mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) ini dirancang untuk mendukung efisiensi pertanian skala kecil sekaligus mewujudkan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Ketua tim pengembang, Isti Rohmania menjelaskan, inovasi ini berawal dari kegelisahan terhadap metode penyiraman manual yang masih dominan di kalangan petani Indonesia. Menurut mahasiswa angkatan 2023 tersebut, penyiraman manual tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga rentan terhadap pemborosan air. “Sistem ini bekerja secara cerdas dan hemat energi. Kami memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik utama yang disimpan dalam baterai untuk mengoperasikan sistem berbasis Arduino,” ujar Isti. Cara Kerja dan Keunggulan Sistem ini mengandalkan sensor kelembapan tanah sebagai komponen kunci. Sensor tersebut mendeteksi kadar air secara real-time, sehingga penyiraman hanya akan dilakukan saat tanaman benar-benar membutuhkannya. “Melalui sensor ini, penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, melainkan menyesuaikan kondisi tanah secara otomatis. Hal ini memastikan penggunaan air menjadi sangat presisi,” tambah Isti. Meski saat ini masih dalam bentuk prototipe pembelajaran, konsep alat ini dirancang fleksibel untuk berbagai jenis tanaman dan kondisi lahan. Penggunaan energi surya menjadi nilai tambah karena mampu menekan biaya operasional petani serta mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional. Ke depannya, sistem ini diproyeksikan tidak hanya menyalurkan air, tetapi juga terintegrasi dengan pemberian pupuk cair, nutrisi, dan vitamin tanaman secara otomatis. Pembelajaran Berbasis Proyek Dosen pembimbing, Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi tinggi terhadap karya mahasiswanya. Ia menilai proyek ini merupakan wujud nyata pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) yang mendorong mahasiswa mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dalam sistem irigasi presisi. “Proyek ini melatih kemampuan pemecahan masalah, desain sistem, dan pengambilan keputusan berbasis data. Inovasi ini membuktikan mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” ungkap Amelia. Karya ini sebelumnya telah dipamerkan dalam Industrial Engineering Expo 2026 UMM. Kehadiran alat ini menegaskan komitmen Teknik Industri UMM dalam mencetak lulusan yang mampu menciptakan teknologi tepat guna bagi masyarakat.